CHRISTMAS EVE

 

tumblr_oh8silg8f61vsn5cqo1_1280

CHRISTMAS EVE, From Christmas Until Christmas

Cinta adalah cinta, tidak ada kata terimakasih, tidak ada kata minta maaf

Author : Santi Fronika Lumban Gaol

Cast : Kim So Eun, Kim Sang Bum, Baek Suzy

Genre : Drama Romance

Type : OS

Disclaimer : Namanya juga FF sudah pasti fiksi, sudah pasti nama tokoh hanya sebagai pendukung cerita. Dinikmati saja jalan ceritanya dan semoga bermanfaat. Salam kenal.

# HAPPY READING #

25 Desember 2016

Setelah cukup lama Korea Selatan tidak terlalu terusik dengan yang namanya suhu dingin dan salju, dan setelah cukup lama merasakan udara hangat tiap harinya, akhirnya kedinginan itu kembali melusuti. Lelehan-lelehan salju yang mulai berjatuhan dari langit kian dingin saat mengenai kulit. Para pejalan kaki yang berlalu lalang di sepanjang jalan juga semakin mempertebal coat untuk menghangatkan tubuh masing-masing. Meski mereka semakin kerepotan dengan kedatangan bulan Desember, tapi bulan itu adalah salah satu bulan yang paling mereka tunggu-tunggu, aluan musik orkestra semakin sering diperdengarkan, nada-nada lagu natal semakin sering berkumandang. Masyarakat Korea tidak akan bisa menutupi keantusiasan mereka dengan kedatangan natal, lelampuan disko sudah mulai kerlap-kerlip di seputaran jalan. Ornamen-ornamen natal, seperti pohon natal, lilin, boneka suntaclaus, permen lollipop, kaus kaki sudah mulai memenuhi setiap rumah bahkan juga jalan-jalan di Korea, memeriahkan hati para penikmat jalan.
Hampir semua sisi jalan didominasi warna merah, hijau dan putih. Warna khas natal. Lonceng-lonceng gereja juga semakin sering mengalun, semakin syahdu bagi yang merasakan. Senyum semakin sering terpancar bagi para mereka yang merayakan. Memperingati kelahiran sosok yang mereka anggap sebagai juruslamat adalah momentum yang paling meriah. Deret kursi gereja akan semakin dipenuhi para jemaat, dan mereka akan menyatakan doa masing-masing dengan senyum kebahagiaan. Ada kesan tertentu bagi mereka yang tidak bisa mereka jelaskan dalam bentuk kata-kata saat merasakan kedamaian gereja yang dipenuhi dengan hiasan lelampuan dan pohon natal, temasuk segala ornamen natal di sana.

Termasuk pria itu, duduk sendiri di dalam rumahnya dan menatapi pohon buatan manusia yang bertengger di sudut rumanya. Mata itu terus menyusuri hingga kelampu disko yang menempel di sana, mengingatkannya pada banyak kenangan yang sangat membekas baginya. Hingga kapas-kapas putih yang ditempelkan di antara daun-daun tajam pohon juga mengingatkannya pada salju-salju dingin sebagai saksi kisah hidupnya. Tangannya memutar-mutar pelan cincin yang berada pada jari manisnya.

Kim Bum Prov

Terkadang dalam menjalani kehidupan sering kali kita di hadapkan oleh situasi yang kadang membuat kita patah semangat, dan seakan hidup ini sudah tidak ada lagi artinya. Hidup mengajarkaanku bagaimana untuk mencintai, menunggu, bersabar, bersyukur dan bertahan. Kini aku pahami jika dunia ini adalah sebuah tempat yang berbahaya untuk didiami, bukan karena orang-orangnya jahat, tapi karena orang-orangnya tak perduli. Manusia-manusia menggunakan kepercayaan yang lain demi kepentingan sendiri. Seharusnya manusia tau, jika kita tidak di sini untuk mencoba mendapatkan dunia untuk menjadi seperti yang kita inginkan. Kita di bumi ini untuk menciptakan dunia di sekitar kita, yang kita pilih.
Dan jangan pernah berharap jika malaikat akan jatuh dari langit dan merubah garis tangan kita, tidak ada yang lebih bisa mengubah itu selain kita sendiri, menggoreskan tangan sendiri dan menentukan sendiri akan seperti apa hidup yang kita akan jalani. Kita adalah satu-satunya yang menciptakan realitas kita. Hidup juga tidak akan menempatkan aku dan anda pada sebuah hubungan yang tidak cocok, karena suatu hubungan hanya akan terikat jika keduanya merasakan kata saling dalam hal ketertarikan. Satu hal dalam ketertarikan adalah, ketertarikan tidak akan menempatkan kita di ruang yang sama bersama-sama seseorang jika dia dan kita berada pada frekuensi yang tidak cocok.
Akan ku ceritakan padamu bagaimana aku menjalani kehidupanku, bagaimana aku menjadi seperti sekarang, dan bagaimana aku terjebak pada satu lubang yang diciptakan manusia lain yang meraup keuntungan dari kepercayaan atau malah kebodohanku. Kisah cintaku dari natal, hingga natal. Selagi ada cinta, tidak perlu ada lagi pertanyaan. Kalimat itu akan menjadi jawaban dari segala pertanyaan tidak mungkin dari anda
Desember 2012
Diantara ketinggian gedung yang seolah menyeret jantung serta darahnya untuk melompat dari sana. Teriakan demi teriakan di lontarkannya untuk sesuatu di tangannya. Air mata pria itu telah membasahi nyaris semua selembar kertas malang itu. Hasil laboratorium dari gadis tercintanya yang terakhir ini berhasil membuatnya menyerah. Dari sekian puluh kali pemeriksaan, hasil itu sama sekali tidak pernah sampai seperti ini. Bagaimana bisa keputusan seperti ini sama sekali dia tidak tau? Bagaimana bisa Suzy mengambil keputusan sediri seperti ini?

Tidak!!! Kim Sang Bum jangan menyerah. Kau perlu untuk bertahan kembali. Jangan biarkan kekasihmu itu berlagak baik, namun justru menyakiti dan bahkan berpotensi untuk mengakhiri hubungan kalian. Tidakkah kau merasa jika usahamu dan Suzy selama ini terlalu jauh untuk kalian tinggalkan dengan begini?

“Tidak!!! Kau pun tidak berhak untuk menyumbang apapun dari tubuhmu kepada gadis sialan itu” Kepalan kertas yang sudah tidak berbentuk mengguling keras saat telah dilemparnya dengan begitu kasar. Marah dan sedihnya berbaur menjadi satu. Marah pada sang kekasih yang mendadak seperti malaikat tanpa sayap yang ingin menyelamatkan nyawa gadis yang disebutnya sebagai sepupu yang sering berlaku tidak sepantasnya pada Suzy.

Kecelakaan maut yang beberapa bulan lalu terjadi telah meraup habis kesehatan dari Suzy demi menyelamatkan sang sepupu. Sang sepupu yang berkelimang gemerlap dan cahaya lampu diskotik adalah dunianya. Alkohol merupakan konsumi yang paling digemarinya. Dunia bebas menjadi alasan mengapa kehidupannya tidak tertata dan tidak juga berguna. Pergaulan terlalu bebas, dunia malam, mabuk-mabukan itulah dia. Sang sepupu Suzy yang bernama Kim So Eun.

Gadis yang tidak peduli pada diri sendiri, gadis yang pemarah. Pemarah bahkan kepada Suzy, satu-satunya manusia yang mau bertahan sabar menghadapinya saat semua orang asik untuk menjauhinya. Perlakukan tidak baik, pelampiasan kemarahan dan ketidak pedulian adalah hal yang selalu didapatkan Suzy selama tinggal bersama dan mengurus So Eun.

Kecelakaan maut saat dimana Suzy menjemput So Eun di salah satu Club malam. Kecelakaan yang merusak seluruh tulang kakinya, bahkan mendapatkan kelumpuhan. Benturan keras di kepalanya membuat tengkoraknya retak dan kebutaan pada kedua matanya.

Yang lebih fatal adalah kerusakan otak yang membuat Kim Bum patah arang saat mendengarnya. Kekasih tercintanya dinyatakan Dokter tidak akan bertahan lama. Dan setelah dua bulan lebih dirawat dan kritis, Suzy belumlah pernah membuka mata hingga keajaiban saat pagi tadi gadis itu membuka mata yang justru membuat Kim Bum kian patah dengan permintaan bodohnya. Yaitu mendonorkan segala organ miliknya kepada sang sepupu. Gadis yang bahkan tidak pernah datang untuk menjenguknya, namun masih saja Suzy mengorbankan kehidupan kepada gadis tidak berguna itu.

Pertanyaanya, untuk apa Suzy mendonorkan itu? Yang Kim Bum tau, So Eun bahkan sangat sehat dan bahkan selalu menghabiskan kehidupan dengan alkohol dan dunia malam. Jadi akan diapakan gadis itu organ tubuh itu? Oh lupakan tentang itu, Kim Bum sama sekali tidak peduli. Pria itu justru membenci, karena jelas alasan Suzy untuk menyerah pada kehidupannya selain sedikit harapan hidup dari medis adalah So Eun. Mungkin Suzy lelah menghadapi gadis itu.

Jika sempat dia kehilangan Suzy sudah pasti yang disalahkannya adalah Kim So Eun. Gadis yang sebenarnya belumlah pernah dilihatnya selama 6 bulan gadis itu kembali dari Atalanta, Georgia, Amerika Serikat. dan mendadak sang kekasih merengek dan meminta pindah ke apartemen So Eun.

Kim Bum.
Pria itu menghapus kembali air matanya, berjalan tegas untuk kembali keruang intensiv Suzy. Tidak akan dibiarkannya Suzy meninggalkannya. Akan disadarkannya kembali Suzy betapa seharusnya dirinya tidak sebaik itu pada So Eun. Dan betapa seharusnya Suzy memikirkannya yang akan sendiri jika Suzy meninggalkannya. Akan disadarkannya Suzy yang seharusnya tidak hanya memikirkan nasip So Eun dan justru mengabaikan nasip Kim Bum.

Pelan didorongnya pintu di hadapannya, hati itu kembali teriris saat untuk menggerakkan kepala saja Suzy sudah tak sanggup. Tatapan kosong Suzy lantaran kebutaan membuat Kim Bum menjatuhkan air mata sepuasnya.

“Kau tidak bisa memperlakukan aku seperti ini” Protesnya pada Suzy yang juga sudah menangis sejak membuka mata pagi tadi. Suara mereka sudah sama-sama sangat dan terlalu serak.

“Oppa, akan tiba suatu masa dimana kebahagiaan pribadi tidak berarti banyak”

“Jika kita tidak bahagia, kita sendiri tidak akan pernah bisa membahagiakan orang lain Suzy ”

“Aku sangat bahagia Oppa. Demi Tuhan, aku sangat bahagia jika bisa membantunya” Lagi dan lagi Kim Bum mengeluarkan erangan keras, dia benar-benar muak mendengar kata bantu untuk So Eun dari Suzy.

“Cukup Suzy!!! Cukup!!!! Kau bahagia meninggalkan aku demi membuatnya bahagia? Kau pembohong”

Kau tidak pernah mendengar berbohong demi kebaikan?

Kebahagiaan tidak akan bersemi di dalam suatu kebohongan Tekan Kim Bum keras, mengingatkan gadis itu tentang teori hidup yang dirinya tau. Kata-kata yang juga membuat Suzy mendesah tidak setuju, bukan pada pernyataan pria itu, tapi pada ketidakan Kim Bum untuk membantu So Eun.

“Oppa, dia sama sekali tidak akan bahagia meski aku memberinya jantung serta liverku”

“Aku tidak peduli soal dia bahagia atau tidak, yang ku peduli hanya tentang kau dan kau”

“Tapi yang ku pedulikan adalah tentang dia dan dia. Bukan tentang aku Oppa” Suara Suzy terdengar lebih tegas, arti kalimat yang kembali membuat Kim Bum kecewa.

“Dan tentang aku tidak?” Hardik Kim Bum dengan kemarahan yang meletup. Pertanyaan yang mendiamkan Suzy, mengalihkan perhatian dengan menghapus air matanya. Sesuatu yang membludak itu ingin dikeluarkannya, namun dirinya terlalu takut.

“Suzy, apa kau tidak memikirkan nasipku jika kau pergi seperti ini?” Teriak Kim Bum kesekian kalinya. Kamar yang menjadi mengharu biru dengan aura marah dan juga kesedihan. Pengorbanan berulang dan berulang. Dan terkadang pengorbanan sang Suzy hanya dibalas So Eun dengan basa basi menyesatkan. Entah bagaimana tangis Suzy kian meledak-ledak saat Kim Bum menyuarakan kata terakhir itu. Kebahagiaan pria itu?

“Aku membencimu menangis, bukan berarti aku akan pergi dengan kenihilan yang sama

Aku sedang tidak menggunakan air mata sebagai alat untuk berlobi Oppa

Untuk itu, berhentilah berlagak seperti malaikat tanpa sayap. Kita permudah yang kau persulit dengan mengikuti apa yang diingini oleh hatimu, bukan apa yang diingini oleh tanggung jawab atau pikiranmu Berubah sudah, kini giliran Suzy yang mendesah kecewa dengan kedangkalan pria itu mengenali serta membaca apa yang diinginkan oleh hatinya.

Jika aku menyuarakan apa yang diinginkan oleh hatiku, apa kau pikir itu akan merubah keadaan kita? Nada suara Suzy yang sudah mulai meninggi, merasa berhak untuk marah dengan ketidakan pria di depannya untuk keputusannya. Dirinya tidak sadar jika pria itu kembali menelan pil pahit kekecewaan dengan arti katanya barusan yang seolah menyerah pada kehidupannya.

TIDAK! Karena aku yang membuat keputusan untuk diriku sendiri. Tidak kau dan juga tidak dokter itu, kau paham!!! Lanjut Suzy.

Dan aku juga yang memutuskan keputusanku sendiri untuk melakukan apapun menghalangi keputusan bodohmu

Kau tidak akan mengatakan ini bodoh jika kau yang menjadi aku

Faktanya keputusanmu memang bodoh, masalahnya aku bukan kau, dan solusinya

TIDAK!!!! TIDAK! KIM BUM. Kau sama sekali tidak ku ijinkan mengubah keputusanku dengan solusi apapun yaang kini ada di otakmu. Ini tubuhku, ini hidupku, ini jantungku, dan ini liverku. Kepingan hati yang sebenarnya telah pecah sejak tadi bertambah hancur, sekat dan kotak-kotak yang baru saja diciptakan seorang Suzy pada kalimatnya jelas bertujuan untuk mengatakan jika pria di depannya tidak memiliki hak atas tubuhnya. Dan kalimat itu akan sangat salah dan akan sangat menyakitkan jika dari sudut pandang Kim Bum. Dengan energinya yang masih tersisa dan dengan harapan yang hanya sedikit, Kim Bum masih betah untuk mencoba dan mencoba meyakinkan Suzy, jika pilihannya tidak seharusnya demikian. Berlalu beberapa menit mereka saling diam, sebelum Suzy kembali meluruskan pembicaraan mereka, bujukan demi bujukan dan semoga Kim Bum menerima alasannya. Oh kau bodoh jika berpikir Kim Bum akan mengatakan Baiklah Suzy, donorkanlah jantungmu, livermu dan kemudian tinggalkanlah aku. Kau memang sangat baik. Semua manusia seharusnya berhati sepertimu OMONG KOSONG!!

Ku pikir ada masalah dengan So Eun

Bukankah selalu begitu?

Tidakkah seharusnya kau bertanya, mengapa aku harus memberi jantungku untuk So Eun?

Tidak

Oppa

Tidak, kau ingin aku mengulanginya seratus kali lagi untukmu?

Oppa, ijinkan aku bertanggung jawab akan kehidupanya hingga akhir

Dia yang bertanggung jawab atas akan kehidupannya sendiri, tidak ada yang menyuruhnya merusak seluruh tubuhnya dengan mengkonsumsi alkohol dan merusak jantungnya. Dan bahkan ku pikir dia pantas mendapatkannya setelah apa yang dilakukannya selama ini padamu. Apa gunanya dia hidup jika hanya untuk menyusahkan orang lain dan tidak memiliki kegunaan sama sekali Hebat!!! Kalimat kasar Kim Bum berhasil membangkitkan amarah Suzy

Jaga mulutmu, jangan pernah mengatakan hal semacam itu tentang So Eun, dia harus tetap hidup bagaimanapun caranya. Aku bertanggung jawab untuk itu

Semoga kau tidak lupa jika sebenarnya kau telah buta dan tidak bisa berjalan, bayangkan saja apa yang bisa ku lakukan untuk menghalangi keputusanmu dengan menggunakan kekuranganmu. Kau tidak selalu bisa melihat apa yang akan ku lakukan, dan kaupun tidak akan bisa menghalangi serta melakukan apapun ketika aku membatalkan pendonoran sialan ini Angkuh Kim Bum yang sebenarnya peduli, marah demi suatu kebaikan. Hanya saja, tidak akan ada yang bisa dibiarkan Suzy untuk mengagalkan rencananya.

Berhentilah menjadi manusia yang berpura-pura tidak mencintai dan berpura-pura mencintai Bagaikan tamparan keras deret suara Suzy untuk Kim Bum, mulutnya terkunci otomatis untuk itu. Meski tidak dilihat Suzy, gadis itu tau jika Kim Bum ketakutan.

Akupun tidak ingin menyakiti diri sendiri dengan mengungkit jika yang kurasakan selama ini hanya setengah hati darimu. Aku benar-benar muak melihatmu bertingkah seolah aku sangat berarti, seolah aku sangat kau cintai. Cukuplah Oppa, kau menyakiti dirimu sendiri dengan menempatkan dirimu demikian. Marah mereka kembali berubah menjadi deru air mata dari Suzy. Tangannya kembali meraba-raba sisinya, mencari kelima jari pria itu untuk digenggamnya erat.

Oppa ku mohon, jadikan pengorbananku berarti, biarkan aku pernah sekali berguna untuk dirinya, aku selama ini sudah sangat menyakitinya. Biarkan aku melakukan apa yang ingin ku lakukan, aku tidak memintamu membantuku, ataupun mengurusnya ketika aku sudah tidak ada. Aku hanya meminta kau diam dan terima sajalah keputusanku. Tolong, biarkan saat terakhir kita menjadi kenangan manis untuk ku bawa. Buat aku tertawa. Dan biarkan hembusan nafas terakhirku terjadi di masa kau memelukku

Sejak sekarang aku tidak akan memelukmu, akupun tidak akan mau bertahan saat kau lebih peduli kepada gadis itu dari pada aku. Lakukan yang menurutmu benar. Aku pergi Kim Bum meninggalkan Suzy dengan langkah berat, air matanya berjatuhan dan perlahan kakinya berhenti berharap terjadi sesuatu.

Kali ini aku tidak akan menahanmu Dan lagi hatinya kian kecewa saat ternyata Suzy menanggapi kemarahannya dengan kalimat itu, hatinya yang berharap Suzy akan menahannya terpatahkan kembali. Dengan panas hati ditariknya pintu itu sangat keras, kepakan yang bahkan menarik jantung Suzy dan meledakkan tangis bersama memukul-mukul dadanya.

************

“Kau selalu saja mengganggu kesenanganku”

“Kau minum lagi?” Pernyataan yang ditangapi dengan sebuah pertanyaan tidak habis pikir. Pertanyaan Suzy yang menarik sudut bibir gadis yang melipat kaki angkuh di sisi ranjang pesakitannya. Matanya menyerang dan cenderung mengejek.

“Sejak kapan itu menjadi urusanmu? Pastikan kau akan mengatakan hal penting sampai harus menganggu kesenanganku”

“Tentu saja urusanku, aku peduli dengan segala hal tentangmu Sso”

“Aku tidak merasa pernah dipedulikan olehmu” Suzy kembali harus menelan kata-kata di ujung bibirnya mendengar pernyataan So Eun. Ruangan yang seolah tercekik, hening dan kehampaan kembali melusuti setiap mereka. Seorang terangkuh diantara mereka mengangkat kepala kembali.

“Katakan sesuatu yang menyenangkan, dan pastikan pembicaraanmu menarik, jika tidak, aku benar akan mengangkat kaki dari tempat menyedihkan ini” Hardik So Eun kembali.

“Sso kau tau, aku tak lagi bisa seperti dulu. Yang selalu bisa mengawasi apapun yang kau lakukan. Menjemputmu ketika kau mabuk. Dan mengurusimu di rumah. Aku sudah tidak sesehat itu”

“Jadi?” Jadi? Pertanyaan itukah yang pantas dikeluarkan So Eun saat mendengar ketidak baikan kesehatan Suzy? Begitukah reaksi yang pantas dikeluarkannya setelah begitu banyak kepedulian yang didapatkannya? Oh lupakan bagian itu, Suzypun sudah kebal dan bahkan tidak lagi merasa perlu menjadikan itu sumber beban pikiran yang baru untuknya.

“Tidak bisakah kau menjaga kesehatanmu? Tidak bisakah kau tidak menginjak Club sialan itu? Tidak bisakah kau menemaniku menghabiskan waktu bersama disini?” Mohon Suzy, matanya menegadah kedepan, jelas tidak bisa melihat ekspresi-ekspresi nyaris muntah dari So Eun.

“Kenapa aku harus melakukan itu, dan kenapa aku harus menemanimu. Dan apa yang ku dapat jika aku melakukan semua itu untukmu” Nada suara So Eun yang terlalu dibuat-buatnya. Memperhalus, namun sengaja akan diledakkannya pada satu titik.

“Kita tidak selalu memiliki waktu untuk bersama Sso” Dan mulut itu ingin melanjutkan, karna aku akan pergi jauh, jauh ke tempat dimana kau tidak bisa pergi.

“Kau pikir menghabiskan waktu bersamamu penting untukku? Jangan bercanda” Meski bukan lagi yang pertama di dengar Suzy, tapi kalimat So Eun masih saja terasa sakit. Maka akan diluruskannya kembali.

“Setidaknya, sejak sekarang mulailah untuk menjaga kesehatanmu. Berhenti merusak livermu dengan alkohol itu. Kau berbeda dari yang lain, sayangi jantungmu Sso” Deret perhatian selembut embun pagi justru ditanggapi dengan luap tatap kemarahan. Memancing yang lama terkubur, terbakar kembali.

“Cukup!”

“Sso, aku tida”

“Hentikan!” So Eun memotong kalimat Suzy dengan suara keras yang mendiamkan gadis itu beberapa menit sebelum dilanjutkannya dengan kalimat yang baru

“Sso, aku tidak memaksamu untuk…”

“Memang tidak seorangpun bisa memaksaku, termasuk kau!” Dengan kasarnya jari telunjuk itu menunjuk Suzy yang tidak disadarinya sudah tak bisa melihat itu.

“Dengar baik-baik! Jangan lagi pernah menyentuh hidupku. Bagaimana aku, itu urusanku. Dan bagimana kau, itu urusanmu. Mari kita akhiri kesia-siaan ini” Ungkap So Eun dan menarik pelan tangannya saat Suzy tidak memberinya respon apapun.

“Ku pikir aku sudah melakukan perpisahan yang layak. Mari kita jalani kehidupan kita masing-masing” Putusnya sebelum mulai melangkah angkuh kembali, nyaris meninggalkan ruang intensiv Suzy.

“Kim So Eun!” Panggilan nama lengkap dari Suzy berhasil menghentikan kaki So Eun. Meski tidak berbalik tapi setidaknya dirinya bisa mendengar.

“Tidakkah seharusnya kau bertanya bagaimana keadaanku sekarang?”

“Jangan mengeluarkan pertanyaan, jika sudah tau jawabanya akan menyakitimu”

“Sso, tidak bisakah kau berpura-pura peduli padaku? Tidak bisakah kau berakting dan mengarang kalimat seolah aku berharga untukmu?”

“Tidakkah pertanyaanmu sama dengan satu di tambah satu, tiga ditambah tiga
Sementara kita sudah berada pada hitungan tiga ribu empat ratus tiga?

Berhenti menyakiti dirimu sendiri dengan mengharapkan hal sialan seperti itu dariku. Karena kau tidak sepantas itu untuk mendapatkannya” Tambah So Eun. Sudah kian terasa sakitnya, mata itu akhirnya menangis. Suzy merasa seharusnya saat seperti ini dirinya memiliki seseorang untuk disandarinya. Dari Kim Bum sekarang So Eun melakukan hal yang sama.

Tapi seharusnya kau paham Suzy, hal itu sudah tidak mengejutkan untukmu. Kau yang menggali kuburanmu sendiri dengan memintanya kemari. Pengorbananmu tidak akan terhitung selama dirinya bertahan pada kebencian. Kebaikanmu mendonorkan organ pentingmu tidak berarti apa-apa jika dia telah mendoktrin otak jika semua yang kau lakukan adalah kesalahan. Dan lagi, air matamu saat ini sudah seperti lelucon untuknya. Lawak-lawak yang sengaja kau mainkan untuk membuatnya merasa simpati atapun merasa bersalah telah memperlakukanmu demikian.

Demikian? Kau berharap So Eun akan menangisimu dan memelukmu, kemudian berkata “Suzy maafkan aku. Jangan meninggalkan aku seperti ini. Mari kita perbaiki hubungan kita yang rusak” Begitu? Kau berharap dia akan mengatakan itu? Bangunlah, sudah saatnya kau melihat pagi. Kau sudah terlalu bermimpi jika mengharapkan itu.

Meski tidak melihat apapun, mata Suzy merasakan jika produksi air dari sana kian deras. Disentuhnya dadanya yang seolah tertikam. Meski tidak dilihatnya, Suzy sadar jika So Eun sudah tak lagi sudi untuk berbalik dan memeluknya kemudian mengatakan kata-kata perpisahan yang diharapkan hatinya. Maka jika ini memang merupakan kesan terakhirnya, biarkan mereka selesaikan dan akhiri dengan layak.

“Waktuku sudah tak lama Sso” Dan itu kejutan, tapi reaksi So Eun tetap sama. Reaksi tidak peduli dan tidak mau tau. Hanya saja bedanya kakinya tidak melanjutkan rencananya untuk membawanya dari sana.

“Bisa kita hentikan drama ini?” Seharusnya kau menangis mendengar itu So Eun, bukan justru memberi respon semacam ini.

“Aku bersungguh-sungguh”

“Lalu” Dengan nada bermain-main, So Eun memutar kaki kembali. Mendekati Suzy untuk memuaskan kepalan keras di hatinya.

“Lalu jagalah kesehatanmu sendiri sejak sekarang”

“Apa kau pikir aku akan menangisimu setelah kau mengatakan umurmu sudah di ujung tanduk?” Oh kejam sekali So Eun.

“Tidak! Aku bahkan tidak peduli” Lanjut So Eun. Tidak dipedulikannya derasan air mata Suzy yang kian berloba. Seguk tangis menyedihkan yang seharusnya bisa meluluhkan hatinya.

“Aku mengatakan ini bukan untuk menarik empati darimu, karena aku sangat tau jika kau tidak akan pernah peduli tentangku. Jika kau pikir semua perhatian yang ku berikan adalah kebohongan, itu urusanmu. Tapi percaya atau tidak, saat ini kesehatanmu adalah prioritasku. Selama ini aku tidak pernah meminta apapun padamu. Tapi tolong untuk kali ini, kabulkan keinginaku” Kisah sakitnya dikeluarkan Suzy ditemani dengan air matanya yang tidak mau berhenti. Harapan-harapannya tidak bisa diluapkannya dengan tatapan membujuk pada So Eun. Tentu saja, tatapan seperti apa yang bisa diberikannya. Bukankah kedua matanya tidak lagi berfungsi?

“Tolong kasihani tubuhmu, berhenti menyiksa tubuhmu dan jaga kesehatnmu dengan benar saat aku tak ada.” Sedikit banyak kalimat itu, setidaknya berhasil membuat So Eun tidak lagi menatap Suzy dengan kedengkian, tatapan itu sedikit luluh. Bukan menerima, hanya saja mengasihani diri mereka berdua secara bersamaan.

“Haruskah aku mengulangi kali keseribu jika kau sama sekali tidak bisa memaksaku? Dan lagi, apa kau pikir kau masih pantas menyuarakan harapan dan permintaanmu padaku?” Tanya So Eun dengan nada yang lebih rendah. Mungkin berniat menyelesaikan apa yang saling mengganjal di hati mereka. Kata bagai silet yang lumayan tajam dirasakan Suzy mendengar penuturan So Eun. Dibuangnya nafas panjang untuk benar-benar menyelesaikan segala perkara mereka.

“Sso, Aku hanya ingin kau tau, jika tidak ada waktu yang ku lewati tanpa menyesali semua yang terjadi. Apakah tidak ada ruang yang tersisa di hatimu untuk memaafkan aku?” Menyakitkan suara itu, namun terdengar tidak untuk So Eun yang mendengar.

“Seribu kata-kata minta maaf dari mulutmu tidak akan pernah mengobati sedikit pun luka di hati ku” Oh hebat! Kita koreksi kalimat So Eun. Jadi apakah Suzy pernah melakukan kesalahan pada So Eun hingga membuat gadis itu sungguh dendam dan berlarut sampai saat ini? Sesalah apakah sehingga dirinya tidak diberi So Eun maaf sama sekali. Seterluka apakah So Eun hingga selalu memperlakukan Suzy sangat buruk?

Dan lagi, tidakkah lebih baik memaafkan seburuk apapun suatu kesalahan selama masih bisa diperbaiki? Siapapun setuju memafkan tidak akan membuat kita rendah dan terlihat bodoh. Memaafkan menunjukkan kita dewasa dan lebih bijak dari yang meminta maaf dan yang melakukan kesalahan. Hanya saja So Eun dan kita adalah manusia. Terkadang bertindak pada sebuah kalimat bijak tidak segampang saat mulut mengutarakannya.

“Saat aku mengatakan akan pergi selamanya, kau tidak berniat mengasihaniku dengan memberi sedikit maaf untukku?”

“Tidak sama sekali” Kokohnya benteng yang dibangun So Eun. Tolakan demi tolakan yang melemahkan nadi Suzy terus berlomba. Dirinya tidak memberi sedikit celahpun untuk mengasihani Suzy.

“Kenapa tidak sama sekali Sso? Kau tidak ingin melihatku pergi dengan tenang? Tolong kasihani aku Sso”

“Mengasihanimu? Lalu apa dulu kau mengasihaniku? Apa dulu kau mendengarkan aku? Lalu untuk apa saat ini aku mendengarkan permohonan bodohmu”

“Tapi Sso, dengarkan aku. Bukankah permintaanku untuk kebaikanmu? Untuk kesehatanmu?”

“Tidak, saat dulu aku berjuang untuk sehat, apa juangku kau hargai? Kau justru menggunakan itu untuk kepentinganmu sendiri. Tidakkah seharusnya kau senang melihat aku seperti sekarang? Bukankah dulu itu obsesi utamamu?” Hardik So Eun kembali. Dia kian meladeni Suzy.

“Setelah aku kehilangan segalanya, dengan mudahnya kau datang dan memohon maaf. Lalu kau pikir aku akan mengatakan baiklah Suzy, aku memaafkanmu. Aku sangat mengerti perasaanmu, begitu?” So Eun terkekeh melecehkan di depan Suzy. Kemudian memasang wajah menusuk dan angkuhnya kembali

“Hati ku bukan seperti sampah, yang bisa dipermainkan kemudian dibuang begitu saja!” Hardiknya kembali.

“Terkadang kau seperti malaikat, tapi lihat, kaulah iblis itu sendiri” Tambah So Eun

“Mulutmu terlalu lancang mengatakan hal semacam itu pada kekasihku” Dan kembali kejutan itu hadir. Pria yang beberapa hari lalu mengatakan tidak peduli rupanya kembali kesana. Dirinya tidak benar-benar bisa mengabaikan Suzy. Bagaimanapun 2 hari cukup baginya menyesali kemarahannya pada Suzy yang seharusnya di berinya kekuatan untuk berjuang. Kecuali dalam bagian pendonoran itu. Langkah besar, serta wajah kakunya kian dekat pada So Eun yang memasang wajah mengejek dan tidak peduli. Tangan gadis itu masih betah melipat dan kini menghadap Kim Bum menantang.

“Haruskah aku mengatakan jika kekasihmu malaikat tanpa sayap? Sepertinya dia tidak selayak itu menyandangnya. Dia lebih cocok sebagai gadis lemah yang berlindung pada pria tidak bertanggung jawab sepertimu” Masih betah So Eun bermain-main dengan kehadiran Kim Bum. Tidakkah dirinya sadar jika Kim Bum sudah muak dengan dramanya dan Suzy?

“Pantaskah kau mengatakan kalimat seperti itu pada sepupumu yang diambang kematian? Apakah hatimu tidak berfungsi sama sekali?”

“Kau ingin aku mengatakan apa? Dan urusan apa kau soal hatiku?”

“Kau rupanya tidak sepantas itu untuk dibantu dan….” Kim Bum langsung menelan kembali kata-katanya yang berhasil membuat Suzy bergetar. Jangan sampai pria itu membongkar mengenai rencana pendonorannya. Jika sempat So Eun tahu menahu soal itu, sudah dipastikan So Eun tidak akan mau menerima jantung serta liver miliknya. Jangankan menerima, So Eun pastilah dioperasi tanpa sepengetahuan dirinya sendiri. Tergantung bagaimana pintarnya mereka saling bermain peran dengan dokter yang akan menangani.
Pertanyaanya, jika pengorbanan Suzy sudah sejauh itu, lalu sebesar apakah kesalahannya hingga sudah se jauh ini So Eun tidak mau menerima permintaanya.

“Dibantu? Siapa yang membantuku?” Tanya So Eun.

“Sso, tidak bisakah kita membahas tentang kita sekarang?” Suzy mengambil alih percakapan, melarikan topik yang harus membuat Kim Bum mengerang tidak habis pikir. Kau hanya tidak tau apa yang terjadi antara mereka di masa lalu Kim Bum.

“Kita? Bukankah kau akan pergi selamanya? Haruskah aku menangisimu agar drama kita terlihat mengharukan?”

“Hentikan omong kosongmu. Suzy tidak akan kemana-mana” Suara Kim Bum menyambut permainan So Eun. Kini justru mereka yang saling memandang sengit.

“Faktanya dia akan mati. Jadi sebagai kekasih yang baik, kau berniat ikut dengannya? Ku lihat kau dan dia sama tidak bergunanya”

“Kau pikir kau akan hidup hingga sekarang tanpa…”

“OPPA!!!” Teriak Suzy, suara kerasnya memerintah Kim Bum untuk menghentikan kalimatnya. Jangan sampai So Eun menduga-duga apa tujuan kalimat Kim Bum. Dan beruntung Kim Bum menahan ledakan itu serta So Eun yang terkekeh mengejek pada kedua orang itu. Bibirnya tersungging, dan mulutnya berdecak untuk menghina kedua orang itu.

“Kau kekasihnya atau pembantunya? Disuruh ini, disuruh itu, dilarang ini, dilarang itu, kau terima-terima saja” Bagus, sepertinya So Eun juga sudah menjadikan Kim Bum sebagai sasaran baru untuk dihantamnya. Mulutnya bersuara bertujuan mengomentari Kim Bum yang langsung diam saat Suzy hanya memanggilnya.

“Tidak bisakah kau bedakan mana diam karena sayang, atau diam karena disuarai keras?

Tentu saja tidak, kau dibesarkan tanpa cinta. Jadi kau tidak akan mengerti isyarat kaum pecinta seperti kami” Jawab Kim Bum pada pertanyaanya sendiri, dan lihat mata So Eun yang langsung memerah, darahnya menyeruak panas dengan ketersinggungan. Sialan batinnya.

“Kenapa? Aku benarkan? Jadi berhenti bergaya seolah kau sangat dibutuhkan, dan seolah kau ratu yang dimana Suzy harus mengemis padamu. Ingat! Kau tidak sepenting itu”

“Oppa hentikan!!” Justru Suzy yang bersuara karena So Eun mendadak hanya diam. Diam karena marah atau diam karena benar. Tidak ada yang tau. Kim Bum menolak raihan dari Suzy, kemarahannya pecah sudah dengan kelakukan So Eun.

“Saat terjadi sesuatu pada Suzy, kau orang pertama yang akan ku jadi penanggung jawab atas rasa sakit yang ku terima jika kehilangannya”

“Oppa!!! Hentikan” Suzy kian histeris, ingin bergerak namun tubuhnya sudah tidak sekuat itu.

“Sso, jangan dengarkan” Suzy beralih pada So Eun, bersuara membujuk, bermimpi jika So Eun akan berkenan mendengarnya.

“Kenapa maafnya harus penting untukmu? Kenapa kau mengemis kepada manusia tidak punya perasaan sepertinya. Kau manusia bukan binatang sehingga dia memperlakukanmu demikian” Tanya Kim Bum sambil menguncang tubuh Suzy yang mengeleng-geleng memohon untuk Kim Bum berhenti mengatakan hal-hal seperti itu pada So Eun, namun pria itu enggan melakukannya. Pria itu juga tidak peduli dengan raut kaku dari So Eun. Yang dilakukannya justru menunjuk wajah itu tiba-tiba.

“Untukmu! Kau akan sangat menyesal memperlakukannya demikian. Kau pikir maafmu akan berguna saat aku memutuskan untuk menjauhkannya darimu? Kau sama saja dengan sampah jika tidak bisa berguna untuk orang lain” Kasar!

Kalimat Kim Bum yang teramat kasar akhirnya membuat So Eun pecah. Diamnya sedari tadi lantaran terkejut dengan kalimat pedas dan suara keras Kim Bum. Tangannya mengepal keras menyalurkan rasa sesak di dadanya, serta sakit pada jantungnya. Dia tidak ingin terlihat menyedihkan di hadapan kedua manusia itu.

“Aku tidak akan memiliki penyesalan, sekalipun aku bisa menerima ini, aku tidak akan merubah apapun di masa lalu yang berlaku tidak adil padaku. Mata harus dibayar dengan mata. Tangan dengan tangan. Dan tangis dengan tangis. Benar atau salah, aku tidak peduli. Aku hanya akan melakukan yang diingankan oleh hatiku” Jawab So Eun dengan kesinisan yang sama. Memandang dengki Kim Bum yang menarik ulur nafas penuh kemarahan. Mereka yang mengadu suara, tapi Suzy yang menangis histeris.

“Ku mohon hentikan” Mohonnya, tapi tak satupun diantara So Eun dan Kim Bum yang berkenan untuk mengalah.

“Entah kau manusia apa, entah dari mana kau tercipta. Kau tak memiliki rasa terimakasih setelah dia mengurusimu. Kau bahkan mengutuknya saat dirinya sekarat seperti saat ini. Kau pastilah kehilangan rasa peduli dari dirimu”

“Memang aku tidak peduli. Kau pikir aku akan sakit hati saat kau mengatakan itu? Faktanya aku memang tidak peduli dengan dia hidup atau akan mati. Kau paham?” Jawab So Eun

“Baik. Berarti aku juga bisa tidak peduli dengan kau akan hidup atau mati. Aku akan melakukan apapun yang ingin ku lakukan”

Sudah pasti aku hidup dan mati tidak ada hubungannya denganmu Jawab So Eun lagi.

“Selama itu tidak menganggu kesehantannya Oppa. Kau sama sekali tidak berhak untuk ikut campur pada kesehatannya” Suzy kembali angkat bicara, dua reaksi berbeda sekaligus dari yang mendengar. Ada yang marah dan ada yang tertawa mengejek.

“Oh malaikat yang baik hati. Tapi aku tidak butuh pembelaanmu” Jawab So Eun. Dan Kim Bum sangat benar mengatakan jika memang tidak deharusnya Suzy berkorban sebanyak itu untuknya.

So Eun mengeluarkan tawa dibuat-buat dan menyentuh tangan Suzy dingin.

“Atau kau tidak ingin seperti drama yang menyatukan tangan kami dan memintanya menjagaku? Kemudian kami akan jatuh cinta dan bahagia selamanya? Tidakkah itu drama yang cukup menarik?” Masih betah So Eun bermain-main. Diabaikannya tatapan Kim Bum.

“Bagaimana kau tertarik? Bukankah kau malaikat tanpa sayap? Kau pasti akan sangat senang jika dia bahagia. Benarkan?” Lanjutnya, Kim Bum justru terkekeh muak. Kata permainan dari So Eun jelas nyaris membuatnya muntah.

“Atau kau ingin aku memegang tangannya untukmu? Atau menciumnya? Memeluknya? Agar kisah ini berakhir happy ending seperti harapanmu”

“Kim So Eun, apakah mempermainkan kami dengan kata seperti itu akan menguntungkan untukmu?” Tanya Suzy pelan.

“Sebenarnya tidak. Tapi aku senang membuatmu marah. Apalagi jika kau harus tidur di atas ranjang pesakitan ini. Ini terlihat menyenangkan.” Dan lagi So Eun. So Eun tersenyum mengejek, tidak peduli dengan kemarahan Kim Bum di dekatnya

“Sayangnya kau dan dia sama gilanya. Dia bukan pria yg berada pada daftarku. Membosankan dan menyebalkan” So Eun mematahkan kata-katanya itu sendiri. Tidak disadarinya Kim Bum yang telah mengancang-ancang kata yang pasti akan membuatnya kalah

“Dia seperti ini karena ulahmu”

“Apa aku pernah memintanya melakukan itu untukku? Aku bahkan benci saat dimana kekasihmu ini berlagak peduli padaku”

“Tidak tau terimakasih sama sekali” kemarahan Kim Bum dipuncak sudah. Semoga tidak pecah dan justru bertindak kasar.

“Kau tau? Aku bahkan senang jika dia pergi selamanya. Tidak akan ada manusia yang menganggu kesenangnku” Oh Tuhan Sso!! Meski demikian kau tidak seharusnya menyuarakan dalam bentuk kata-kata. Kau menyakiti Suzy dan kau berhasil memecahkan amarah pria itu.

“KIM SO EUN! KAU!…”

“KECILKAN SUARAMU KIM SANG BUM!!!!” Potong So Eun dengan membalas balik jari tunjuk Kim Bum padanya. Dia tidak peduli dengan kemarahan Kim Bum yang baru saja menunjuk wajahnya. Suara keras Kim Bum tidak membuatnya gentar, kecuali alasan jantung sialannya yang mulai kontraksi kembali. Bersama dengan wajahnya yang memucat pasi, So Eun menaikkan kepala kembali. Menantang Kim Bum setelah pria itu menunjuk serta menaikkan nada suara padanya. So Eun merasa jika Kim Bum tidak selayak itu bersuara keras padanya.

Suara kerasnya yang bahkan ikut mendiamkan Suzy, meski sering marah dirinya tau jika So Eun tidak akan bernada setinggi itu.

“Jangan pernah bernada setinggi itu padaku. Kau paham!!!” Peringatan kearah ancaman yang membuat Kim Bum tersentak kaget. Gadis pertama yang berani menunjuk wajahnya dengan raut berapi-api. Dan gadis pertama yang berani menyambut perangnya dengan senang hati.

“Jangan menaikkan nada suaramu. Tingkatkan argumenmu” Lanjut So Eun. Jika ingin terlihat hebat, nada suara dan ketinggian suara tidak bisa sebagai ukuran milik kita lebih hebat atau argumen kita lebih baik. Yang benar adalah argumen yang perlu di tingkatkan. Kulitas kata-kata yang kita keluarkan yang perlu, bukan besar suara atau nada tinggi.

“Ini peringatan untukmu dan untukmu” Tunjuk So Eun kepada kedua orang itu.

“Jangan pernah mengusik kehidupanku. Ataupun mencobah masuk dan merubahnya. Jikapun aku harus mati, jangan pernah mencoba untuk menyentuh hidupku. Kalian urusi kehidupan kalian, urusi kehidupanmu yang tak lama lagi. Dan juga urusi kisah Romeo dan Juliet menjijikkan kalian. Kau ingin seperti ini, atau kau ingin apapun itu lakukan saja. Mati? Silahkan. Jangan pernah mengaitkannya padaku.”

“Kau pikir kau sepe..”

“Kau diam” Jawab So Eun kembali saat Kim Bum mencoba menginterupsi kata-katanya. Dengan kemarahannya yang masih meletup-letup, So Eun keluar dengan langkah kasar. Tidak peduli dengan jerit panggil dari Suzy untuknya. Tidak juga dipedulikannya Kim Bum yang setengah mati menahan dan menenangkan Suzy. Wajah angkuhnya tidak berubah sama sekali hingga keluar dari pintu. Tapi lihat di belakangnya. Dia menangis.

Terkadang, lebih mudah berpura-pura terlihat bahagia daripada harus menjelaskan mengapa seseorang bersedih. Terkadang juga seseorang lebih memilih untuk tersenyum, marah, hanya karena tak ingin menjelaskan mengapa dia bersedih. Terkadang So Eun harus memasang wajah iblis untuk menutupi luka hatinya yang tak bisa dijelaskannya. Melampiaskan kemarahan pada Suzy dan juga minuman, termasuk menyiksa livernya dengan alkohol sialan itu. Dia sama sekali tidak akan menunjukkan air mata di depan orang-orang itu. Siapapun tidak bisa tau jika sebenarnya dirinya terlukan menjadi So Eun yang menyedihkan, So Eun yang arogan dan So Eun yang kasar. Tapi apa yang bisa dikatakannya, keadaan membuatnya bersikap manusiawi yang akan dendam jika seseorang menyakitinya terlalu dalam.

Lihat So Eun, lihat tangannya yang menekan-nekan dadanya yang meronta-ronta. Jantungnya kembali terasa diremas hebat hingga dirinya kesusahan untuk bernafas. Rasa sakit itu ditahannya sejak tadi hanya lantaran harga dirinya tidak boleh jatuh di hadapan kedua manusia itu. So Eun menggigit keras bibirnya, meraung pelan saat dirinya merasakan sesak yang teramat. Dilepasnya jaket untuk menutup wajah, menghindari orang akan mengenalinya di rumah sakit itu. Berjalan tertatih bersama dengan air mata terlukanya.

Meski tidak dikatakannya, kalimat dibesarkan tanpa cinta dari Kim Bum nyaris memutus urat syarafnya. Hingga kaki terseot itu berhasil membawanya hingga ke dalam mobil. Ganda sudah segalanya, dari rasa benci hingga rasa sakit menjadi So Eun yang menyedihkan. Diapun tidak mau peduli soal Kim Bum dan Suzy yang sebenarnya berdebat hebat kembali. Tentu saja Suzy yang menjadi team pembelanya. Dan Kim Bum yang menolak rencana donor itu. Lagi dan lagi ribut dan ribut.

**********
Tidak ada orang yang benar-benar sangat kuat dalam hidup ini. Setiap orang merasakan kesedihan, tetapi sebagian manusia lebih memilih berpura-pura tersenyum, berpura-pura hebat dan berpura-pura sangat kuat dan berpura-pura sangat kejam, salah satu diantara manusia itu adalah So Eun. Dia memilih untuk tampak kejam karena tidak ingin menjelaskan mengapa dia sedih kepada mereka yang bahkan tidak bisa mengerti. Amarah yang mengebu-gebu menancapkan luka pada satu titik hatinya hingga berujung pada sebuah dendam yang teramat kepada Suzy. Jika Suzy mengatakan kebiasaannya yang cinta dunia malam dan juga minum-minuman adalah kebiasaan buruk dan harus diubah, semua itu sangat salah jika dilihat dari sudut pandang So Eun. Alasannya?

Dengan hal apa lagi dirinya bisa melampiaskan kelelahannya dengan hidup ini. Dengan apa lagi dirinya memuaskan sesuatu yang selalu menyiksanya. Siapa lagi yang bisa mengerti dan siapa lagi yang bisa mendengar bagaimana dirinya sangat terluka dan menderita. Kepada Suzy? Tentu tokoh itu akan menjadi antagonis jika menurut So Eun.

Kekasih? Oh dia tidak memilikinya, dirinya terlalu sibuk dengan kebencian dan dunia malamnya. Meski ada yang mendekat, jelas So Eun tidak merasa memerlukan manusia bernama pria untuk hidupnya.

Kepada otang tua? Gadis itu kehilangannya bahkan ketika dirinya masih berusia 7 tahun. Orang tuanya meninggalkannya dengan penyakit yang sama. Frustasi dan lelah untuk berjuang, hingga diputuskannya untuk menjalani hidup yang seperti sekarang.

Pertanyaanya, alasan apa dirinya harus memilih menyia-nyiakan hidup dengan hal tidak berguna seperti itu?
Saat tak memiliki siapaun di dunia ini untuk tempatnya pulang, dirinya diberi hadiah yang sangat luar biasa. Yaitu penyakit jantung sialannya. Dan malangnya, tidak ada manusia yang akan dengan senang hati memberi miliknya untuk So Eun. Tentu saja, siapa yang akan mau mati demi orang lain. Sakit fisik itu masih nomor sekian untuknya. Sakit hati adalah alasan paling tepat mengapa dirinya seperti sekarang. Sakit seperti apa? Biarlah menjadi rahasia hatinya sendiri.

Dengan kakinya yang terseot-seot, gadis itu berjalan sangat pelan menuju lift. Tangannya menekan-nekan dadanya yang sesak. Sesekali digigitnya bibir sendiri dan menahan air matanya. Dia sama sekali tidak berniat menjadi tontonan gratis di sana. Beruntung atau sialnya, lift terbuka dan kosong. Dibuangnya nafas pelan dan menekan tombol 5 disana. Dengan tertatih So Eun memasuki apartemennya, dan bahkan tidak lagi berniat mengunci saat dirinya sibuk untuk menahan rasa sakit.

“AA….A!!!” Erangannya mulai terdengar pilu saat dirinya menjatuhkan tubuh dan duduk bersandar di dinding apartemennya Tangannya menutup mulutnya untuk mengurangi suara erang kesakitannya. Air mata yang tadi ditahannya kalah sudah. Kini tetes air itu sudah mulai berlomba dan membasahi kain sifon di tubuhnya.

“Sakit!!!!” Erangnya berulang kali, sesekali nafas itu tersendat hingga terdengar dorongan kasar dari pintu masuknya. Tapi mengangkat kaki itupun dirinya sudah terlalu lelah, langkah-langkah besar kian dekat menujunya. Ditahannya erangan itu saat menyadari sepatu yang kini bisa dilihatnya mendekat. Sepatu yang sama dengan pria yang menjadi lawan debatnya saat di rumah sakit.

So Eun tidak akan membiarkan penderitaannya dengan rasa sakit ini menjadi lelucon untuk Kim Bum. Nafasnya naik turun dan tangannya melap kasar keringatnya yang bercucuran, hanya saja terlambat untuk dirinya bangun untuk mendirikan benteng pertahan melawan argumen apapun yang hendak direncanakan pria itu untuknya.

“Lebih cepat dari dugaan, jadi apakah kita sepakat untuk bergandengan setelah kekasihmu tiada?” Masih saja So Eun berpura-pura jika pria itu tidak bisa melihat betapa wajahnya menyedihkan. Begitulah juga pria itu, dia tidak berniat sama sekali meladeni omong kosong semacam itu, termasuk tidak mau mengambil pusing tentang bagaimana bisa So Eun hanya terduduk lemas dan memancingnya dengan sindiran-sindiran tidak penting. Satu yang pasti jika tujuannya kemari harus terpenuhi.

“Inikah balasanmu atas apa yang pernah dikorbankannya untukmu? Tidak bisakah kau berbalas budi sedikit saja padanya?” Dengan begitu dingin Kim Bum bersuara yang justru membuat So Eun terkekeh sambil menekan-nekan pelan dadanya. Kembali harus menutupi rasa sakit di depan pria itu.

“Orang baik itu tidak akan mengaku jika dia baik

Jadi pria itu jangan terlalu lugu, jangan terlalu polos, jangan terlalu suci, jika tidak ingin kau mudah dipermainkan oleh wanita” Lanjut So Eun mengejek Kim Bum

“Biar kita luruskan, tidak ada yang dipermainkan sama sekali nona So Eun. Kau hanya tidak memahami pengorbanan yang justru kau cap sebagai kata dipermainkan”

“Jika tidak? Lalu mengapa dia sama sekali tidak paham apa yang kau inginkan, justru selalu menyatakan apa yang dirinya inginkan?”

“Kenali lebih dahulu, baru kau mengkritik.”

“Aku mengkritik apa yang kulihat” Jawab So Eun kembali. Mata So Eun menyelidik Kim Bum dan memasang senyum dibuat-buat

Apa yang kau harapkan dari gadis yang akan mati? Tidakkah lebih baik kau mencari kesenangan lain?

Aku dan Suzy selalu memiliki harapan, dan aku tidak akan membiarkan omong kosongmu mematahkan harapan hidupnya Tekan Kim Bum, kalimat yang kian membuat So Eun terkekeh

Harapan sepertinya sudah seperti makanan untukmu So Eun melepas tawa mengejek

Makananamu harapan? Makan nasi Dokter Kim, Kau kenyang. Jika memang takdirnya akan mati, kau tidak akan bisa menghentikan dengan kata ajaib harapanmu. Dasar bodoh! Lanjut So Eun. Dan Kim Bum muak mendengar itu. Kim Bum menyadari jika dirinya membuang waktu jika terus meladeni omong kosong So Eun. Jadi akan lebih baik dirinya menyuarakan keinginanya

“Kita persingkat pertemuan memuakkan ini. Kau tidak menyukai kekasihku, sama dengan aku yang tidak menyukaimu. Jadi bagaimana jika kita melakukan sesuatu yang menguntungkan kedua pihak?” Suara lobi dari Kim Bum yang berhasil menaikkan kepala So Eun, menatap pria itu dengan selidik curiga.

“Tergantung apakah lobimu banyak menguntungkanku atau tidak”

“Kau ingin Suzy jauh darimu bukan? Bagaimana jika kau yang pergi menjauhinya? Kau pergi ke suatu tempat dimana dia tidak akan menemukanmu, dia tidak akan mengganggu kesenanganmu dengan minumanmu. Dan kau bisa melakukan apapun keinginanmu tanpa harus ada Suzy. Bagaimana? Kau tertarik?” Rencana hebat Kim Bum. Kau hebat mempergunakan peluang. Dengan So Eun pergi, maka tidak akan ada yang donor mendonorkan. Tapi apa kau pikir So Eun akan begitu saja menerima keinginanmu? Bukankah dia benci harapanmu?

“Itu terdengar menggiurkan”

“Lalu?”

“Lalu keluar dari apartemenku dan bawa omong kosongmu ini bersamamu” Ungkap So Eun tiba-tiba. Tolakan mengejutkan setelah memberi respon seolah dirinya tertarik dengan tawaran Kim Bum.

“Ku pikir tadi kau mengatakan jika ini menggiurkan”

“Dengar…. A!!!” Kata-kata So Eun terpotong saat mulut itu meringis dengan rasa sakit di dadanya. Di tutupnya lama mata itu dan menelan saliva sebelum dibukanya kembali mata itu.

“Tidakkah akan lebih baik jika kau yang membawanya pergi jauh dariku? Kenanganku disini jelas lebih berharga bagiku dibanding harus membuang waktu menjauhi kekasihmu, bagiku kekasihmu bukan alasan yang kuat untuk menguras tenagaku untuk pergi kesuatu tempat, sedekat apapun itu”

“Harus ada alasan mengapa kau sangat membencinya”

“Dan jangan pernah coba untuk mencari tau” Jawab So Eun, tatapan saling menyerang antara mereka menjadi pemanas apartemen So Eun. So Eun yang duduk bersandar pada dinding, dan Kim Bum yang berdiri mengantongi tangan satu langkah di hadapannya. Menatap ke bawah, lebih tepatnya pada So Eun. Ruang gelap yang hanya dicahayai sinar bulan dari kaca besar So Eun yang gordennya tersibak.

“Kesimpulannya?

“Aku menolak tawaranmu, dan pergilah. Aku akan sangat menghargai jika kau yang berinisiatif membawanya jauh dariku, bukan justru meminta aku yang pergi”

“Kau taukan jika aku tidak akan semudah itu menerima ketika keinginanku ditolak?” Dengan aura sombong Kim Bum memberi tanda pada So Eun jika dirinya tidak menerima penolakan itu. Tentu saja, dia tidak akan pernah membiarkan Suzy mendonorkan jantung dan livernya untuk So Eun.

Aku akan melakukan sesuatu untuk ini So Eun Tambah Kim Bum

You can do anything, but not everything Mr.Kim Jawab So Eun tidak kalah sinisnya

“Seperti halnya aku yang memiliki alasan mengapa sangat membenci gadismu, tentu kau juga harus memiliki alasan mengapa kau begitu terobsesi memintaku pergi jauh” So Eun kembali melanjutkan kata-katanya, sengaja memancing Kim Bum, tersenyum miring untuk membakar lebih lagi amarah Kim Bum. Dan lihat bagaimana reaksi berlebihan Kim Bum yang mendadak pucat

“Bagaimana? Kau tertantang bertukar alasan denganku? Aku akan memberitahumu alasanku membencinya, setelah kau memberitahu alasanmu memintaku pergi” Lanjut So Eun, sudahlah Kim Bum, kau tidak akan bisa menang jika melawannya dalam kata-kata. Kau sudah tau jika sebenarnya kedatanganmu kemari akan sia-sia, tapi masih saja kau lakukan. Bukankah kau sangat paham jika So Eun tidak akan mau dirugikan sedikitpun terutama jika itu berhubungan dengan Suzy.

Mereka saling memandang dalam waktu lama, sengit dan saling menantang. Sebelum kesialan salah satu mereka menyapa. Tatapan mereka terinterupsi saat So Eun merasakan jantung sialannya berulah kembali. Nafasnya tersesak-sesak dan keringatnya kembali berjatuhan.

“A….A…” Pekik So Eun, tanganya digunakannya menutup mulut berharap Kim Bum tidak akan menyadarinya. Tangan kirinya merogoh-rogoh tas mencari sesuatu namun tidak ditemukannya. Kim Bum bukan tidak menyadari, dia hanya ingin menonton dan membuat So Eun sadar jika pria itu sangat tau kelemahannya. Dan agar So Eun sadar jika dia bisa sangat tidak peduli untuk membantunya jika So Eun selalu bersikap buruk pada Suzy.

Dipuncak kesakitannya masih saja So Eun menahan dan tidak mengeluarkan kata tolong pada Kim Bum yang bermain-main padanya dengan hanya menontonnya. Jelaslah pria itu sedang mengoloknya. Puas hanya menonton So Eun yang meraung-raung dengan sakit di dadanya, pria itu kembali memutar kaki tanpa berkeinginan untuk melakukan sesuatu untuk So Eun.

“AA!!!!! SAKIT!!!” Akhirnya raungan itu lepas sudah, remasan So Eun kian kuat pada sifon pink di dadanya. Keringatnya telah membasahi seluruh pakaian tipisnya dan wajah itu telah seperti mayat yang memutih.

“A…..” Suaranya kian melemah, namun tidak mendapat pertolongan dari satu-satunya manusia selain dirinya di sana. Tapi suara lemah itu berhasil menghentikan langkah Kim Bum, jadi apakah hati nurani pria itu berfungsi dan hendak menolong So Eun?

Pria itu mengepal tangan kananya sangat keras, wajahnya mengeras dan begitu sanggupnya melanjutkan langkah kembali. Meninggalkan manusia yang membutuhkan bantuan yang meraung-raung dan nyaris mati. Pria itu benar-benar mempraktekkan ketidak pedulian yang sama seperti yang dilakukan So Eun. Well, dia banyak belajar dari So Eun bagaimana tidak peduli pada orang lain.

Tapi tidakkah kelakuannya itu terlalu tidak manusiawi? Bagaimana bisa dirinya meninggalkan So Eun yang meronta-ronta kesakitan. Bagaimana bisa dia membiarkan gadis itu menahan sakit di sana dan sendirian? Jadi apakah Kim Bum tidak peduli jika So Eun justru mengalami hal yang besar di sana?

Oh tentu saja tidak, justru mungkin itu menguntungkan untuknya. So Eun lewat, maka tidak akan ada lagi alasan bagi Suzy untuk berbagi jantung dan liver. Hebat. Pemikiran yang sangat cerdas dan luar biasa Kim Bum. Tapi juga sangat kejam dan tidak punya perasaan. Kau bangga dengan rencana bodoh seperti itu? Lalu apa bedanya dirimu dengan So Eun?

Jangan pergi……….
So Eun menjeritkan itu dalam hati? Mulutnya terlalu pahit untuk mengeluarkan dalam bentuk kata-kata, dan harga dirinya terlalu tinggi untuk meminta tolong pada pria itu. Entah itu beruntung, Kim Bum kembali menghentikan kakinya saat kata itu di jeritkannya meski dalam hati. Sempat membuang nafas dan menelan kembali. Apa yang ditelan So Eun? Kekecewaan. Karena pria itu lebih memilih untuk melanjutkan langkahnya.

Entah bagaimana sakit di dadanya bisa bersaing dengan yang di sana, di dalam hatinya. Sakit hati berhasil membuatnya berdiri kembali dan berganti sudah air matanya dari air mata untuk sakit fisik ke air mata sakit hati. Di kepalnya sangat kuat sesuatu di tangannya, menyalurkan rasa sakit hatinya.

“Tuhan, sakit yang ini jauh lebih sakit dari pada yang berada pada tubuhku” Keluhnya sambil menangis sesegukan, membuang waktunya untuk menangis di tempat tersembunyi, dimana tak ada yang melihatnya, namun terlihat sangat kuat dan hebat jika di depan orang lain.

Sebenarnya hati itu lemah. Perasaan itu tidak sekuat yang terlihat. Yang ada adalah So Eun yang rapuh dan So Eun yang kesepian.

***********

“Dokter Kim, kami telah berusaha. Tapi kali ini dia benar-benar telah pergi” Hanya di tinggalkan beberapa jam dan sekarang kabar apa yang didengarnya. Pergi? Suzy meninggalkannya? Jadi setelah segala yang diperjuangkannya gadis itu tetap pergi begitu saja? Tanpa kata dan justru saat mereka usai berdebat dan berdebat?

“Kau bercanda” Ungkapnya tanpa nada dan juga tanpa ekspresi, di tariknya senyum sangat terpaksa berusaha menyangkal apa yang didengarnya.

“Andai kami bercanda Dokter” Ulang pria yang berjas putih sama dengannya. Kakinya yang tadi begitu antusias memasuki rumah sakit kini melemah tanpa kekuatan, menyeret kakinya untuk memasuki ruang intensiv dimana tadi Suzy ditinggalkannya dan tadi juga masih bernafas.

Tangannya begitu gemetar saat dilihatnya wajah putih pasi itu. Menutup mata dan kedua tangan yang sudah melipat di atas perutnya. Segala alat bantu kesehatannya telah dilepas para rekannya. Air matanya bahkan tak lagi bisa jatuh dengan fakta ketika tangan itu menyentuh pergelangan tangan Suzy. Tanpa detak dan tanpa kehidupan. Kini dirinya juga memastikan jika Suzy telah pergi.

“Nona berpesan…”

“Jangan mengatakan apaun jika itu berhubungan dengan pendonoran sialan itu” Kalimat yang dikeluarkannya dengan nada menakutkan, rekan dokternya bahkan takut-takut untuk menanggapi kata-katanya.

“Tapi Dokter Kim, dia mengatakan jadikan pengorbananya berarti” Kali kedua kalimat disuarakan sang dokter, yang memancing Kim Bum memandangnya dengan raut menyeramkan.

“Ku pikir kau sudah lebih paham arti kata-katanya dibanding aku” Lanjut Dokter itu.

“Sekali lagi kau membahasnya, akan ku jadikan kau sama sepertinya. Tidak bernafas dan tidak hidup” Teriak Kim Bum tiba-tiba yang langsung mengejutkan penjuru ruangan. Melangkah mundur untuk memberi waktu bagi Kim Bum menikmati pilu kehilangannya.

“Aku bahkan baru memulai dan kau mengakhiri sesuai dengan rencanamu Suzy. Ini tidak adil untukku” Kini Kim Bum kembali berfokus pada Suzy, digoyang-goyangkannya tangan itu, berlagak bodoh yang sebenarnya dirinya tau jika itu tidak akan lagi bergerak kecuali digerakkan manusia lain.

“Bagun Suzy, Bangun!!! Kau tidak bisa seperti ini padaku” Teriaknya dengan air mata yang mulai menitik. Kematian tidak akan ada yang bisa menghindari. Jadilah kuat Dokter Kim dan ingat alasan apa dia demikian, termasuk ingat keinginan apa yang diinginkannya.

“Tidak!!! Kau sangat salah meninggalkanku seperti ini. Kau menunjukkan jika kau tidak selayak itu untuk ku tangisi” Mulut Kim Bum mengatakan itu tapi lain yang dilakukannya. Dia menguncangi tubuh itu dengan teriakan-teriakan. Meneriaki nama Suzy hingga memancing para dokter dan perawat menghentikan aksinya. Yang terakhir bisa dilakukannya hanyalah tertunduk lemas di lantai sambil memukul-mukul dadanya. Mengutuk diri sendiri yang justru pergi berlobi pada So Eun, meski itu untuk hubungannya dengan Suzy. Dan justru meninggalkan Suzy di rumah sakit. Kembali dipukulnya dada itu ketika mengingat permintaan gadis itu yang ingin menghembuskan nafas terakhir kalinya di pelukannya. Tapi itupun tak bisa dipenuhinya.

Berlalu hingga gadis itu disemayamkan, Kim Bum sama sekali tidak mengeluarkan sepatah katapun dan kepada siapun. Dirinya hanya terus diam memandangi rumah baru Suzy yang tak bisa diikutinya. Sangat sakit, tapi dia bukan Tuhan yang bisa menghidupkan kembali manusia, dia juga tidak mungkin menyia-nyiakan hidup untuk mati bersama Suzy. Itu ekspektasi yang terlau drama dan dibuat-buat.

Merasa semua sudah sangat mencekiknya, saat dirinya tak lagi mampu mengeluarkan air mata sebagai tanda sakit hatinya, pria itu memilih untuk ke sana. Tempat yang sama sekali tidak pernah dijamahnya. Sebuah bar mewah bernama The A. Melampiaskan kepenatan dan juga bebannya dengan alkohol dan rokok. Dia seorang dokter, tapi dia sedang tidak ingin peduli soal kesehatan saat ini. Hatinya lebih butuh alkohol dan rokok sebagai obat penenang dari pada air lemon penambah vitamin C dalam tubuhnya. Diteguknya hingga gelas kesekian tanpa jeda yang terlalu lama. Jas putihnya bahkan tidak ditukarnya, menambah sejuta pertanyaan dan juga ejekan dari setiap orang yang membuang waktu untuk melihatnya. Tapi apakah dia peduli soal penilaian orang saat hatinya terfokus untuk meluapkan tekanan di hatinya? Jawabannya tidak.

Tapi jangan besedih dengan menghukum dirimu sendiri Kim Bum, jangan meratap terlalu lama hingga kau mengabaikan dirimu dan sekelilingmu. Karena Tuhan selalu memiliki sesuatu di balik air matamu. Dan percayalah apa yang saat ini tampaknya kau lihat sebagai percobaan pahit sering menjadi berkah yang terselubung. Ketika seseorang melukaimu dan meninggalkanmu, jangan terlalu larut untuk bersedih. Tuhan memiliki seseorang sebagai penyembuhnya.

“Ini kartu namaku, aku akan sangat senang jika kau memberiku seperti ini, tetapi kartu nama atas nama dirimu” Sama-samar suara itu didengarnya. Kepalanya sudah mulai berputar dan juga perutnya yang mulai mual saat mengkonsumsi alkohol lebih dari dosisnya.

“Aku juga akan sangat senang jika kau pergi dan tidak mengangguku” Dan Kim Bum merasa mengenali suara itu. Gadis yang menjadi salah satu alasan terbesar dirinya semenyedihkan ini. Gadis yang bahkan tidak datang saat Suzy disemayamkan. Gadis yang tak tau terimakasih sama sekali.

Matanya yang malu-malu terbuka lantaran mabuk yang telah meraja lela, melihat So Eun yang tersenyum kaku kepada pria yang tadi menawarkan kartu nama padanya. Gadis itu sesekali meneguk isi gelas kristal di tangannya. Lampu disko memantulkan cahaya ke kulit putihnya yang hanya menggunakan mini dress tanpa lengan. Dilihatnya gadis itu tidak tertarik sama sekali pada pria di depannya. Hingga Kim Bum tercuri pandang, matanya terpergok memandangi So Eun dengan kedengkian yang bahkan berdosi lebih dari yang sebelumnya. So Eun jelas telah dicap Kim Bum sebagai tersangka atas kematian Suzy.

“Kejutan!!! Jadi apakah yang sedang dilalukan dokter kita yang baik hati dan tidak sombong di tempat seperti ini” Sapa So Eun dengan senyum yang entah bertujuan untuk apa. Kakinya mendekat pada Kim Bum yang setengah sadar, yang pasti mendesahkan nafas dari pria yang sedari tadi mendekatinya.

“Seperti apa yang dirimu lakukan” Jawab Kim Bum dan meneguk kembali isi dari gelasnya, masih meladeni main-main dari So Eun. Sebelum unek-unek itu nanti dikeluarkannya.

“Aku sedang bersenang-senang, jadi apa kau juga bersenang-senang?”

“Tentu saja, kau ingin bersenang-senang denganku?” Tanya Kim Bum dengan nada yang dibuat-buatnya. Mendekat lebih lagi pada So Eun yang melipat tangan kasihan dibuat-buat padanya.

“Kau ingin bersenang-senang yang seperti apa?” Bagus!!!! So Eun juga meladeni Kim Bum. Bukan dia bodoh, tapi sedang menghadapi permainan Kim Bum.

“Kamar hotel?”

“Tidak buruk, atau kau ingin kita pemanasan seperti ciuman dahulu dan kesana?” Jawaban sekaligus pertanyaan So Eun yang diluar ekspektasi Kim Bum. Muak berakting, pria itu tiba-tiba saja menekan lengan So Eun dengan kembalinya aura kemarahannya yang sudah dilampiaskannya melalui minuman.

“Berhenti melempar balik umpan So Eun Dan So Eun tidak menanggapi

Jadi beginikah caramu bersenang-senang setelah keinginanmu untuk menyingkirkan Suzy dari sisimu terwujud?” Tidak lagi mengejutkan reaksi Kim Bum untuk So Eun, sejak mata itu melihat Kim Bum tadi, sudah bisa diprediksinya jika pria itu akan selalu menuntut sesuatu padanya. Dan soal Suzy? Mari tidak membahas itu meski dirinya sudah tau. Meski terlihat selalu membenci, tapi tidak ada yang benar-benar tau isi hati yang paling jujur dari So Eun.

“Dan berhenti jugalah mencari kambing hitam atas rasa sakit yang kau dapat. Kematian kekasihmu jelas tidak ada hubungannya dengan aku”

“Orang idiot mana yang tidak tau jika dia sekarat hanya karena menjemput tubuh sialanmu yang sedang berpesta pora di tempat ini” Jawab Kim Bum tidak kalah sengitnya.

“Meskipun ada, kau pikir aku akan mengakui itu? Atau apa kau pikir aku akan berlutut dan menangisi kematian kekasihmu?” So Eun kemudian berdecak dan meneguk isi gelasnya. Menatap Kim Bum dengan sebuah ejekan.

“Kadang-kadang kau memang terlalu naif” Lanjut So Eun dan meletakkan kembali gelasnya. Bisa dilihatnya wajah tertekan dan mata kelelahan dari pria itu yang kembali berair. Dia sadar jika Kim Bum kembali menangis. Tangannya mengepal keras, dan berlagak sombong

“Prihatin sebenarnya kepada manusia yang ditinggalkan saat sedang sayang-sayangnya” Ejek So Eun kembali, mulutnya kian tersungging saat pria itu menatapnya dengan air mata dan juga raut mabuknya.

“Meratapi kekasihmu? Agar orang-orang tau kau memiliki kekasih? Ku pikir tidak harus demikian. Hidupmu terlalu drama” Setega itu So Eun memainkan peran untuk Kim Bum yang sebenarnya saat ini sedang tidak memiliki kekuatan untuk membalasnya dengan kesinisan yang sama. Hatinya masih terlalu lelah meratapi Suzy.

“Apa kau tidak pernah mencintai?” Pertanyaan yang menarik untuk So Eun menatapnya kembali.

“Pantaskah kau mengatakan kalimat seperti itu saat kau melihat seseorang terpuruk karena cinta?” Lanjut Kim Bum.

“Apakah perasaan cinta seseorang merupan lelucon untukmu? Aku tidak memintamu menangisinya, tapi setidaknya untuk saat ini kau jangan terang-terangan mengubar kebencian bahkan saat dirinya sudah tak ada” Nada rendah dari Kim Bum sukses membuat hati So Eun tercubit. Dia terdiam dan menatap pria itu lama. Batinya mengatakan, kau tidak mengerti apa-apa Kim Bum.

“Tidak ada yang lebih menyakitkan dari kepedihan yang tidak bisa ditangiskan” Beruntungnya So Eun saat pria itu jelas tidak lagi bisa mengartikan arti katanya. Ketika mulut itu usai mengucap, So Eun bisa melihat bagaimana Kim Bum yang saat ini menundukkan kepala di atas meja dengan bahu yang naik turun. Diciptakannya sebuah langkah meningalkan Kim Bum, berniat melanjukan kegiatanya di lantai disko. Namun kaki itu berhenti mengingat ekspresi bartender padanya beberapa saat lalu jika pria itu sudah melewati batasannya. Ingin dibiarkannya, tapi sepertinya rasa kasihan itu ada saat tadi mendengar penuturan pria itu.

“Kau dan aku sebenarnya sudah sama-sama terlalu sakit” Ungkap So Eun pelan dan melap sisa-sisa alkohol di sekitar mulut Kim Bum.

“Kau terlalu sombong atau kau terlalu bodoh menggunakan jas kedokteranmu ke tempat seperti ini. Kau pikir menjadi dokter masih merupakan kesombongan pada jaman 2012 yang akan berakhir ini?” Decaknya sendiri, dipapahnya Kim Bum yang seolah tak bertenaga, mulutnya masih saja mengumpat lagi dan lagi.

“Terkadang aku iri dengan kebodohanmu” So Eun bicara sendiri hingga pria itu berhasil dimasukkanya ke dalam mobil. Ada apa denganmu So Eun, apa kau sama sekali tidak mengingat bagaimana dia meninggalkan mu saat kau meronta kesakitan dengan jantungmu? Jadi mengapa kau harus mengeluarkannya dari dalam sana?

********
Entah bagaimana bisa So Eun menunggu pria itu untuk sadar kembali, jas Kim Bum yang sudah dilepasnya dan dasi yang dilonggarkannya. So Eun menunggu sambil menikmati sampanye kesukaanya di tengah malam yang kian dingin dan bersalju itu. Entah berapa lama dirinya duduk di dalam mobil itu hingga sang tokoh utama menggeliat pelan. Pelan-pelan kesadarannya kembali dan memandang aneh sekelilinya yang sedikit asing. Saat kesadaran itu terkumpul penuh, barulah Kim Bum menyadari jika ada So Eun yang duduk di kemudi.

“Apa yang kau lakukan padaku?” Tanya Kim Bum yang sedikit mengejutkan So Eun. Menyentuh dadanya yang terasa nyeri dengan suara tiba-tiba Kim Bum. Ditutupinya dengan memasang senyum sangat tidak tulus ke arah belakang, lebih tepatnya pada Kim Bum.

“Yang pasti aku tidak memperkosamu” Jawabnya.

“Leluconmu tak lucu sama sekali”

“Jadi apa yang harus ku katakan. 5 jam yang lalu aku seperti melihat drama kekasih yang tak dianggap atau kekasih yang tercampakkan. Oh hatiku sedikit tersentuh, kemudian aku ingin membuat happy ending seperti keinginanku dan kemudian mengantarmu” Masih disempatkan So Eun untuk menyindir Kim Bum dengan kalimatnya, tersenyum melecehkan meski sudah dilihatnya wajah mengeras dari Kim Bum.

“Kau tidak akan pernah merasakan akhir yang bahagia jika kau tidak pernah bisa merubah mentalitasmu. Ku pikir norma di negara ini sudah memantul dari hidupmu, tidak teraplikasi dan juga tidak bernilai. Karena karakter manusia sepertimu sangat merusak” Dengar bagaimana permainan So Eun justru mendapat siraman pedas dari Kim Bum yang baru bangun dan langsung dihadiahi ejekan So Eun.

“Saat orang lain begitu peduli, kau mengabaikan. Saat orang lain berkorban dan tidak kau hargai. Jadi masih adakah guna manusia seperti kau untuk hidup?” Oh tepat sekali Kim Bum. Tepat, tetapi juga kasar diakhir kalimatmu. Lihat So Eun yang bahkan tidak bersuara dengan ketepatan kalimatmu.

“Suzy meninggal dan kau justru berpesra pora, sampah saja masih ada manfaat nya, dan lihat dirimu. Apa kau memiliki manfaat?” Pria itu kembali melanjutkan kalimatnya.

“Tidak sama sekali. Suzy memang telah tiada, tapi dia tetap hidup di hati orang lain dengan meninggalkan cinta. Sementara kau? Kau hidup tapi sebenarnya mati. Mati saat kau menyia-nyiakan hidupmu dengan cara seperti ini. Bukankah lebih baik jika kau mati saja seperti hatimu yang mati?” Dan kalimat itu sangat menyakitkan, So Eun bahkan membuka kecil mulutnya meski diam. Dengan kasar Kim Bum melepas safetybelt yang dipasang So Eun. Menutup pintu mobil itu keras dan mengepal tangannya keras sebelum dilihatnya di mana dirinya berpijak. Di depan rumahnya? So Eun tau rumahnya?

Apa pertanyaan itu penting Dokter Kim? Seharusnya yang perlu kau tau adalah dia yang menunggumu hingga lima jam di mobil. Dan kau justru menyiramnya dengan kalimat kasar meski itu merupakan sebuah kebenaran. Tapi apa yang bisa disalahkan dari Kim Bum, tentu saja dirinya tidak memiliki kesalahan saat mengatakan itu. Karena itu fakta dan kebenaran. Meski sakit tapi harus diterima. Karena terkadang kebenaran akan selalu terasa pahit.

Dilihat So Eun dari kaca mobilnya, Kim Bum yang sempat berdiri sebelum melanjutkan langkah menjauh dari mobilnya, bersama dengan langkah pria itu, So Eun menjatuhkan air matanya kembali. Setiap deret kata pria itu melintas kembali. Mencabik-cabik hatinya hingga hancur. Hujan adalah penolong So Eun sebagai pengabur suara tangisnya agar tidak didengar orang lain. Kata kau hidup tapi sebenarnya mati dari Kim Bum yang sangat menamparnya. Gadis itu selalu seperti itu, menangis saat sudah sendiri. Itu menyakitkan. So Eun kini percaya manusia dirancang untuk terluka.

Jadi inikah aplikasi kata-katanya pada Kim Bum yang mengatakan tidak ada yang lebih menyakitkan dari pada kepedihan yang tak bisa ditangiskan? Kepedihannya yang tidak bisa ditangiskannya saat di depan orang lain?

Cukup lama So Eun menangis di sana, memukul pelan dadanya yang terasa sesak dan mata yang membengkak. Dan pria itu hanya menonton mobilnya yang tak kunjung bergerak setelah 1 jam dirinya keluar dari sana, Kim Bum menatapnya dari lantai dua rumahnya.

*********
Dia menitipkan ini, Dia mengatakan jika benda ini sangat berharga untukmu

Kata itu terus mengiang di kepala Kim Bum, kotak cincin yang tadi diberikan rekannya adalah alasannya. Suzy masih sempat mengembalikan cincinya?

Sialan!!! Mengapa semua semakin bertubi-tubi? Tidak lagi bisa melampiaskan amarahnya, Kim Bum melepar cincin itu di dalam mobilnya. Mengemudi dengan kecepatan tinggi hingga membawanya ke sana. Lalu untuk apa dia ke sana. Atas dasar apa dia kesana. Mengapa dia selalu menjadikan alasan Suzy untuk menekan gadis itu. Diantara gelapnya malam serta petir yang menyambar-nyambar Kim Bum tetap menerobos hujan. Dia bahkan berlari hingga mengetuk kasar pintu itu setelah dirinya sampai.

Hingga pintu itu terbuka pelan, menampakkan sosok So Eun yang juga berwajah lelah sepertinya. Untuk pertama kalinya dilihatnya So Eun yang tidak memandangnya dengan kedengkian. Mereka saling menatap beberapa saat sebelum pria itu menerobos kasar pintu itu. So Eun tidak mengatakan apapun selain berbalik dan melihat saja apa yang ingin dilakukan pria itu.

“Sudah malam, sebaiknya kau pulang, mencuci kaki kemudian berdoa, dan minta jodoh kepada Tuhan. Kemudian tidur” Sapa So Eun, memulai percakapan seperti biasa bertujuan untuk mengejek namun dengan nada yang sudah berbeda. Yaitu suara lemah dan dipaksakan. Dia bahkan hanya melihat Kim Bum samar-samar. Jari-jarinya bergerak-gerak pelan serta keringatnya yang memenuhi keningnya. Dia tidak lagi menyadari jika Kim Bum berhenti dari langkahnya saat mendengar suaranya.

“Jangan lupa, mintalah jodoh yang tidak akan mati seperti yang sebelumnya” Lanjut So Eun, berjalan pelan untuk menghindari Kim Bum menyadari jika dirinya kesakitan. Sebenarnya itulah kelemahanmu So Eun, harga dirimu yang terlalu tinggi dan juga mulutmu yang tidak bisa kau kuasai saat bahkan kau sakit-sakitan. Dan lagi kalimatmu terakhir. Jodoh yang tidak akan mati? Kau berniat mengatakan Kim Bum mencari jodoh yang bukan manusia? Karena jelas semua manusia pasti mati. Terutama dirimu yang sudah sekarat.

“Jodoh? Kau bicara soal jodohku?” Hardik Kim Bum dengan mata tajam, dan So Eun hanya mengangguk, berjalan pelan membelakanginya hingga mendapatkan sebuah gelas berisi sampanye. Oh, apalah yang bisa dilakukan So Eun untuk menyalurkan rasa sakitnya selain berlagak kuat dan mengkonsumsi alkohol.

Sebenarnya tidak diminumnya, hanya saja digunakannya gelas itu untuk digenggamnya keras dan menyalurkan rasa sakitnya tanpa harus mengeluarkan rintihan dari mulutnya di depan Kim Bum.

“Bagaimana jika aku menjadikanmu jodohku” Pertanyaan yang tidak ditanggapi So Eun, sudah pasti pria itu masih akan melanjutkan kata-kata yang bertujuan untuk menghinanya.

“Agar kau merasakan seperti yang dirasakan Suzy saat kau selalu menyakitinya” Ujung-ujungnya dendam dan ujung-ujungnya demi Suzy.

“Kau memintaku menjadi jodohmu untuk kau sakiti seperti yang ku lakukan pada Suzy?”

“Itu bahkan hukuman yang terlalu kecil, dan tidak sepadan dengan yang kau lakukan”

“Bagaimana jika aku menolak? Karena aku bukan tipe gadis yang mau dipermainkan”

“Tapi aku akan memaksamu”

“Saat kau paksa, menurutmu aku akan menerima paksaanmu?” Oh meski percakapan mereka sangat rawan, tapi sebenarnya itu sudah asal bunyi dari mulut So Eun. Dia bahkan betah membelakangi Kim Bum untuk menutupi dirinya yang telah sesak nafas dan tangan kirinya yang menekan dada pelan, serta tangan kanan yang menggengam keras gelas.

“Kau terima atau tidak, kau mau atau tidak tapi semua harus sesuai dengan keinginanku” Langkah besar Kim Bum mendekatinya, menarik pinggangnya kasar, dan beberapa kali mencium leher gadis itu dengan paksa. Masalahnya So Eun bahkan tidak melakukan perlawanan. Entah bagian mana yang ingin dicium kasar pria itu saat membalikkan tubuh So Eun.

Dan hebat!!!! Saat justru dia juga terkejut ketika gelas yang di tangan So Eun jatuh dan pecah berkeping-keping. Tubuhnya yang bahkan terkapar begitu saja di atas keramik saat tangan Kim Bum tidak siap untuk menangkapnya. Matanya enggan untuk terbuka dan wajah So Eun yang telah memutih serta bibir yang membiru.

Tentu saja demikian Dokter Kim, kau mungkin berpura-pura lupa jika dia sakit jantung dan liver. Kau pasti sangat mengejutkannya tadi ketika menariknya kasar dan menciumnya yang bahkan asik dengan rasa sakitnya. Kau seorang dokter, tentu kau paham apa yang membuat dirinya tak berdaya saat ini. Alasan paling utama selain memang telah dirasakannya sakit sejak tadi adalah kau.

Pantaskah kau menjadikannya kambing hitam atas rasa sakit saat Suzy meninggalkanmu? Pantaskah kau menggunakan nama Suzy untuk menciumnya sementara kau ingin melakukannya memang atas dasar kau pria dewasa? Kau tak akan bisa mendapatkan yang kau inginkan jika kau terlalu sibuk mengeluhkan apa yang telah kau miliki!!!!!

Dan lagi, pantaskah kau hanya melihatnya yang tergelatak tanpa melakukan apapun sementara kau seorang dokter?
Pecundang!!!! Sebelum pergi dari apartemen itu, ambillah satu rok milik So Eun dari lemari. Dan mulai besok kau sudah bisa menggunakan itu pecundang!!!!

Kim Bum hanya diam menyaksikan So Eun yang tak berdaya, kakinya sebenarnya bergetar ketika otaknya mengatakan So Eun demikian lantaran kekasarannya. Dan maki demi makian sepertinya tidak berarti banyak untuknya ketika kaki itu kembali membawanya pergi seperti semula. Dan kedua kalinya pria itu membiarkan So Eun seperti itu? Kejam sekali.

“Tolong aku” Sangat pelan suara itu dikeluarkan So Eun. Suara serak dan lemah. Akhirnya mulut itu menjatuhkan harga dirinya yang terlalu tinggi dengan meminta pertolongan pada pria yang juga berhenti saat mendengar permohonanya.

“Kau pikir kau masih pantas mengatakan itu setelah apa yang kau lakukan padaku?” Dengan kejamnya mulut itu menjawab So Eun. Tetap dilanjutkannya langkah meski mendengar jerit kesakitan dari So Eun.

“Eomma, Appa tolong aku. Ini sangat sakit” So Eun bergerak-gerak pelan di lantai itu. Mengangkat tangan yang terlalu berat untuk menekan dadanya. Nafasnya berada di ujung dan matanya yang telah mengabur sejak tadi. Diapun tak lagi berharap akan dibantu Kim Bum setelah dirinya tak lagi mendengar suara kaki Kim Bum. Gadis itu menangis sesegukan, sakit sendiri dan menderita sendiri. Menyeret tubuh itu untuk mendapatkan ponsel, namun tubuhnya tidak lagi sekuat itu.

“AAA!!!!!” Jeritnya lagi, manyedihkan So Eun demikian. Tidak ada yang peduli dan tidak ada yang menangisinya saat seperti ini.

“Kau sudah sangat menyakitiku tanpa kau harus bertindak sekasar tadi padaku Kim Bum” Paraunya. Begitulah dia, meraung-raung seperti akan mati namun tanpa bantuan siapaun. Tangannya terus mengepal-ngepal sambil mulut itu menjerit kesakitan.

Sementara pria pecundang itu justru mempercepat lari saat tadi dirinya masih sempat mendengar jerit kesakitan dari So Eun. Memasuki mobil dan mempercepat laju untuk secepatnya keluar dari arena parkir apartemen itu. Tangannya mengepal keras strinya, antara amarah, dan kemanusiaan. Dia sudah pasti dilema. Kepalanya memutar memory saat sekali gadis itu pernah membawanya dari club dan menunggunya sadar di dalam mobil selama lima jam lamanya, termasuk saat mobil itu masih di sana meski satu jam sudah dirinya memasuki rumah.

Ayolah, atas dasar kemanusiaan seharusnya kau kembali, sejak kapan kau menjadi manusia yang sekejam itu. Dulu kau adalah pria yang menjung-jung tinggi cinta kasih. Lalu bagaimana kata itu tidak berarti dan terjadi pengecualian untuk So Eun. Jika kau seperti ini, lalu untuk apa kau menuntut pada So Eun, tidakkah yang kau lakukan saat ini padanya jauh lebih buruk dari yang dilakukannya pada Suzy? Hidupmu akan lebih hidup jika kau tidak hanya memaafkan Kim Bum, tetapi akan lebih hidup jika kau berguna bagi orang lain, terutama jika kau bisa berguna bagi orang yang sudah tak layak kau bantu. Kau dikatakan bijak saat kau bisa membagi cinta kasih kepada orang yang bahkan tidak pantas mendapatkannya. Ayolah Dokter Kim, Kau seorang yang baik hati. Tolonglah gadis itu

“Sialan!!!!!!”Erangnya. Beruntung masih tak terlalu jauh, pria itu melakukan rem keras pada mobilnya. Membawa tas kerjanya, pria itu meninggalkan mobil tanpa parkir dengan benar, hujan deras dan petir yang menyambar diterobosnya. Hingga pakaian itu basah, nafasnya naik turun untuk secepatnya sampai di mana So Eun ditinggalkannya. Kepalanya menyangkal kemungkinan buruk yang bisa terjadi pada So Eun, hingga beberapa kali dirinya menekan tidak sabar lift. Berulang kali dibuang nafasnya, kakinya mengetuk tak sabar sebelum menjadi kaku ketika lift itu terbuka lebar dan memberinya sebuah pemandangan hebat yang kian membuatnya mengutuk dan bahkan ingin mencekik diri sendiri.

Pemandangan apa? Itulah pemandangan dimana So Eun bersandar lemah pada dinding di samping pintu lift, bisa didengarnya tangis pilu kesakitan dari So Eun sambil menekan-nekan dada. Beberapa saat lalu gadis itu menyeret tubuh kesakitanya di lantai hingga menuju lift, bersandar pada dinding menunggu lift itu terbuka, berniat meminta pertolongan kepada siapapun yang mungkin melihatnya dan berkenan membawanya ke rumah sakit. Nafas beratnya terputu- putus lantar seguk tangisnya yang membuat Kim Bum tertampar hebat. Tentu saja Kim Bum! Caramu meninggalkanya tadi terlalu kejam.

Pria itu berjongkok dan melepas pelan tangan So Eun yang menekan dadanya, dirinya yang hadir langsung saja menunjukkan banyak harapan lebih baik dari So Eun. Meski berhubungan buruk, setidaknya dokter itu paham bagaimana membantunya. Dia sedang tidak ingin bertanya alasan apa pria itu kembali meski tadi telah mengatakan jika dirinya tidak layak dibantu.

“Kita lupakan tentang kita, sekarang kita pikirkan kesehatanmu” Tentu saja pria itu gugup mengatakannya, terutama saat begitu cepatnya kepala So Eun mengangguk, sementara biasanya selalu mendebat apapun yang keluar dari mulut Kim Bum.

“Tarik dan buang nafasmu perlahan” Bujuknya dengan suara yang lebih rendah, tangannya cepat melonggarkan pakaian So Eun meski harus beberapa kali membuang nafas ketika tangan itu membuka satu persatu kancing baju gadis itu, dilogarkannya agar jalan oksigen di paru-paru gadis itu berjalan lancar. Barulah diangkatnya So Eun yang masih merintih kesakitan memasuki apartemen gadis itu kembali.

Didudukkannya So Eun dan dipastikannya So Eun dapat bersandar sehingga tidak perlu menyangga beban tubuhnya sendiri, sehingga jalan napasnya tidak terganggu. Tangan Kim Bum refleks menghapus peluh keringat dingin So Eun yang bercucuran

“Dimana obatmu? Resep dokter?” Tanyanya pelan, gadis itu hanya menunjuk-nujuk tasnya di sisi sofa yang disandarinya. Dengan pelan pria itu melepas tangannya yang tadi begitu erat menggenggam tangan So Eun, cepat mengubek isi tas itu dan sedikit mengerang mendapati beberapa botol kecil alkohol di sana. Tidak menemukan juga hingga ditumpahkannya semua isi tas dan barulah matanya menemukan aspira kunyah milik So Eun yang bertengger di samping kotak cincin dari tas So Eun.

Perlahan dibantunya So Eun untuk meminum obat, dan dokter itu menunggu tidak tenang hingga tiga menit. Dan terlihat gadis itu tidak memberi reaksi seperti yang diharapkannya. Yang kemudian dilakukannya adalah Cardio Pulmonary Resuscitation untuk menyadarkan kembali So Eun. Tidak berpikir panjang untuk dirinya saat meniup nafas dari dirinya untuk So Eun. Memiringkan kepala So Eun ke belakang dan mendengar apakah So Eun masih bernafas. Dan faktanya So Eun tidak bernafas dengan normal. Barulah ditekannya lubang hidung So Eun dan memberikan 2 tiupan nafas mulut ke mulut. Setiap tiupan nafas dilakukannya selama 2 detik. Kemudian Kim Bum beralih menekan dada So Eun belasan kali dalam waktu 2 kali dalam 1 detik. Pertolongan itu berulang kali dilakukan Kim Bum, dilupakannya kebencian dan kemarahan. Begitu asiknya dirinya menarik ulur nafas dari mulut So Eun tanpa rasa segan sama sekali. Well, dia dokter propesional.

Hingga pada ke tujuh kalinya gadis itu terbatuk dan membuka mata. Nafasnya berjalan lebih baik dari sebelumnya dan detak jantungnya yang kemudian lebih teratur. Saat mata itu terbuka masih dilihatnya mata Kim Bum yang dekat dan juga bibir mereka yang masih bersentuhan. Saling memandang sebelum Kim Bum tarik diri setelah membuang nafas pelan.

“Ku ambilkan minum untukmu” Suara Kim Bum membuka kembali percakapan mereka, tangannya melepas jemari So Eun yang tadi masih di genggamnya. Nyaris lepas, hal yang sangat mengejutkan Kim Bum adalah ketika gadis itu menahan jarinya untuk tidak lepas, menggengam ulang tangannya dengan lembut dan berkesan sesuatu. Mata gadis itu kembali menatap mata milik Kim Bum.

“Jangan tinggalkan aku lagi, tolong” Itulah yang dikatakan So Eun.

“Tidak, aku akan menemanimu sampai kau lebih baik”

“Setelah lebih baik? Lalu apa selanjutnya” Tanya So Eun yang membuat Kim Bum harus berpikir keras. Dilepasnya pelan tangan itu dan berjalan menuju dapur sambil menarik ulur nafasnya. Mengepal tangan sendiri. Dia tidak tau jika So Eun menangis lagi. Oh hoby gadis itu adalah menangis diam-diam. Tapi apa yang membuatnya menangis?

Tidak sampai lima belas menit pria itu kembali, So Eun sudah saja menggengam botol kecil yang Kim Bum tau isinya adalah alkohol. Astaga gadis itu baru saja hampir mati dan dia mau memperburuk hidup dengan itu. Entah bagaimana Kim Bum merasa sangat perlu untuk marah. Langkah besarnya mendekati So Eun dan dengan kasar merampas botol itu dan membantingnya keras di atas keramik. Botol yang menjadi pecahan tak berbentuk di sekitar kaki mereka.

“Kau punya masalah, kau punya penyakit, seharusnya itu kau jadikan alasan jika kau butuh dua kali lipat tenaga dari yang sebelumnya untuk berjuang, bukan dengan mempercepat kematian dan saat akan terjadi kau justru meminta tolong”

“Jangan menghakimi seseorang sebelum mengenal dirinya lebih dalam!” Jawab So Eun enteng

“Tidak perlu lama untuk aku mengenalmu lebih dalam. Dalam dua jam ini aku melihatmu, aku sudah tau jika kau gadis kesepian dan gadis sombong yang terlalu malu untuk menyatakan jika kau butuh orang lain untuk mendengarkan suara hatimu”

“Jangan terlalu cepat mempercayai apa yang kau lihat dan dengar, karena kebohongan selalu menyebar lebih cepat dari kebenaran”

“Kebohongan seperti apa? Apa wajah pucatmu adalah kebohongan? Apa detak jantungmu yang tidak beraturan adalah kebohongan? Apa jerit kesakitanmu adalah kebohongan? Aku seorang dokter yang paham soal itu” Tekan Kim Bum, kesabarannya kembali harus diuji saat So Eun mengabaikan kata-katanya dan mengambil botol kecil yang lain dari mejanya.

“Aku sudah memperingatimu” Pelan suara Kim Bum, namun matanya menusuk-nusuk, hanya saja diabaikan So Eun. Terus dilanjutkannya aksinya

“Buang botol sialan itu” Ulangnya namun tidak diindahkan So Eun

“BUANG!!!!” Teriaknya kembali, merampas botol itu dan memecahkannya kedua kalinya.

“Jika kau tidak ingin aku terus berteriak dan bernada tinggi, jadi berhenti melakukan sesuatu yang tidak ku sukai” Bentak Kim Bum yang berhasil membungkam mulut So Eun, gadis itu menatapnya sakit meski tanpa air mata.

Kim Bum menenangkan pikiran sebentar dan menutup mata menyesal selalu bernada tinggi pada So Eun, meski telah diperingatkan jangan bernada tinggi tapi argumen yang perlu ditingkatkan. Dorongan dari mana saat Kim Bum meraih kedua lengan So Eun.

“Kadang kau menyakiti dirimu sendiri lebih dari siapapun yang mungkin bisa menyakitimu, karena kau tak jujur dengan perasaanmu” Suaranya lebih rendah dan tatapan yang mengunci pandangan So Eun.

“Aku pernah sangat jujur dengan perasaanku, tapi ada manusia menggunakan kepercayaan ku itu untuk keuntungannya. Simpulkan satu kalimat yang mewakili tindakan apa yang kemudian ku lakukan setelah tau semua itu”

“Ini realita So Eun, dimana kau harus berjuang jika menginginkan suatu hal. Jika yang kau lakukan hanya mengeluh dan berputus asa kemudian menyerah, monyet juga bisa melakukannya. Tidak ada yang datang begitu saja di hadapanmu tanpa kau upayakan”

Teori tidak selalu sama dengan fakta

Jika teori tidak sama dengan fakta, rubah teorinya

“Aku tidak akan merubah teori apapun, karena hidup ini sudah terlalu kejam padaku”

“Hidup ini kejam jika kau beranggapan demikian padanya So Eun!!” Suara Kim Bum kembali mengeras dan menarik nafas kembali.

“So Eun berhentilah seperti ikan di dalam kolam, yang mencari-cari air sementara dia hidup di dalamnya. Buka matamu dan hiduplah seperti seharusnya”

“Aku hanya ingin bahagia, tapi aku tak pernah mendapatkannya. Hanya itu. Aku tidak pernah meminta lebih dari itu”

“Kebahagiaan akan datang kepada orang-orang yang menunggunya , tetapi hal- hal yang lebih membahagiakan akan datang kepada mereka yang pergi keluar dan menjemput kebahagiaan itu So Eun!” Lagi dan lagi So Eun harus kalah dengat argumen Kim Bum, setidaknya ungkapan pria itu berhasil menguncang hatinya yang telah mendoktrin jika manusia itu memang dirancang untuk terluka. Bukan saja Kim Bum yang mendadak kaget saat So Eun menatapnya penuh damba, mata So Eun yang bahkan tidak pernah lepas dari kedua belah wajahnya. Matanya tak bekedip saat perlahan tangan So Eun tak terduga terangkat pelan dan menyentuh kedua belah pipinya, tanganya menyusuri setiap inci wajah Kim Bum dengan mata sangat terluka, dari merapikan helaian rambut Kim Bum, turun hingga hidung pria itu. Pelan tangan itu menyusuri hingga berakhir di bibir Kim Bum, lama dipandanginya sebelum ditariknya kembali tangan itu dan menunduk bodoh. Hal yang kian menggandai kebingungan Kim Bum yang sebenarnya juga berdebar, entah apa yang terjadi.

Dan lagi, gadis itu nyaris meraih botol kesekian, dan untuk kali ini Kim Bum mendahuluinya.

“Tolong berikan aku sedikit saja. Aku butuh untuk menenangkan pikiranku”

“Tenangkan pikiranmu dengan istirahat, tidak dengan alkohol”

“Aku tidak bisa melakukannya. Kembalikan” Paksa So Eun, memaksa tangannya meraih botol ditangan Kim Bum. Jadilah mereka saling merebut. Kim Bum menyingkirkan botol dan menagkap kedua tangan So Eun.

“KIM SO EUN…. SO EUN. So Eun dengarkan!!!!!! Kau bisa memilih untuk bersedih atas apa yang hilang dalam hidupmu atau bahagia atas apa yang kau miliki

Jika pilihanmu adalah yang pertama, ku pikir tak ada gunanya aku di sini. Maka kau bebas melakukan apapun yang ingin kau lakukan” Tambah Kim Bum, nafas mereka saling memburu dan tangan Kim Bum mulai melonggar untuk dilepas, tapi justru So Eun yang menggeleng. Mungkin maksudnya jangan lepaskan genggamanmu. Mungkin ya, tapi mungkin tidak. Tapi semoga ya.

“Tapi jika pilihanmu adalah yang kedua, kau tak bisa kembali ke masa lalu dan mengubah sebuah awal yang buruk. Tetapi kau bisa membuat akhir yang indah dari saat ini” Pria itu menyatukan tangan mereka di depan dada dan menatap membujuk pada So Eun.

“Dalam hidup, jangan lakukan sesuatu yang menyenangkan tetapi membuatmu sedih pada akhirnya So Eun

Tolong, akhiri semua ini So Eun. Jadikan pengorbanan Suzy berarti untuk tubuhmu. Tinggalkan alkohol sialan ini” Saat nama itu disebut, So Eun menarik tangan dari Kim Bum pelan. Raut wajahnya berubah seketika dan kakinya langsung berkekuatan untuk membawa kakinya menuju kamar tidurnya. Berbaring pelan di sana.

Cemburu adalah tanda bahwa cinta harus saling memiliki, right? dan cemburu sudah pasti mematahkan teori yang mengatakan cinta tidak harus saling memiliki. Saat yang ku cintai mencintai yang lain, aku harus sanggup tersenyum dan mengatakan aku bahagia untukmu. Masih mau dimanjakan dengan kalimat seperti itu? Kalimat itu tentu saja dipergunakan untuk memanjakan kaum pecinta dan membuat mereka tidak benar-benar berjuang dan justru diam dan menerima lapang dada.

“Sorry” Suara pria itu begitu saja mengalun, So Eun bahkan bisa merasakan nafas pria itu di belakang telinganya. Entah dasar apa Kim Bum menaiki ranjangnya dan justru memeluk tubuhnya dari belakang dengan sangat erat. Kedua tangan Kim Bum menyatu di atas perut So Eun, kepala pria itu diletakkannya di leher So Eun degan dadanya yang menempel pada punggung gadis itu. Saat dirasakan So Eun jika Kim Bum mencium beberpa kali lehernya dan juga basah pada permikaan kulitnya menyadarkan So Eun jika Kim Bum menangis. Pria itu menagisinya atau menangisi Suzy.

So Eun tidak melakukan perlawanan atau justru melepas tangan pria itu, hanya saja di betah membelakangi Kim Bum, pelukan dan ciuman pria itu membuatnya mengepal keras spray dan lagi diam-diam menangis. Dan kali ini Kim Bum sangat tau jika So Eun menangis bukan sakit fisik tapi di hatinya.

Tapi seandainya bisa dikatakan Kim Bum mengenai sesuatu yang membuatnya bingung, sesuatu yang selalu membuatnya bertanya-tanya, sesuatu yang membuatnya seperti bukan dirinya. Sudah pasti dikatakanya pada So Eun, karena terkadang seseorang yang memberi kebahagiaan yang tak dapat di jelaskan akan selalu menjadi alasan atas kesedihan yag tidak bisa di jelaskan. Begitu juga Kim Bum pada So Eun.

“So Eun, tidakkah kau sakit jika selalu memendam apapun yang kau rasakan?” Tanya Kim Bum pelan tanpa melepas dekapannya, dia sabar menunggu meski So Eun menjawabnya 30 detik kemudian.

“Aku selalu sendirian, seperti yang pernah kau katakan, aku besar tanpa cinta, dan itu benar. Tidak ada yang mendengarkan meski aku ingin berbicara”

“Dulu ada Suzy yang sangat ingin mendengar” Dan Suzy lagi

Menyedihkan rasanya saat aku bersama orang lain tapi aku tetap merasa sendirian

Tidak So Eun, aku bahkan bosan mendengar namamu saat dia sedang bersamaku, dia mengabaikanku jika sudah membahasmu

“Kau pikir dia mengerti? Kau pikir….” So Eun mendesah membuang nafas, benci membahas gadis itu.

“Sudahlah, lupakan saja. Aku ingin tidur” Lanjut So Eun, melap air mata tanpa suaranya.

“Sendirian bukan berarti kesepian, dan kesepian bukan berarti kau sendirian” Kim Bum bersuara dan mengeratkan tangan di perut itu. Ada aku, ingin dikatakannya. Sebenarnya nasib mereka sama, hanya saja luka So Eun kelihatan, dan luka Kim Bum tidak kelihatan

“Tidurlah, aku akan menjagamu. Jika terasa sakit kembali katakan padaku, aku akan mengambilkan obatmu”

“Kau tidak perlu kemana-mana. Kau disini saja menjadi obatku Mereka melanjutkan tidur, dan So Eun tidak akan benar-benar tidur. Yang dilakukannya hanya menutup mata namun tidak dengan hatinya. Tangan di perutnya disambutnya saat merasa jika pria itu telah tidur. Di usapnya berulang kali tangan itu sangat lembut dan menangis, pelan-pelan So Eun memutar tubuh untuk menatap pria itu, menatap Kim Bum sangat dalam, hidung mereka yang bersentuhan membuat So Eun sadar jika dirinya bisa membangunkan Kim Bum. Digerakkanya tangannya kembali menyentuh wajah itu dengan sendu, mengulangi seperti yang beberapa jam lalu dilakukannya. Dan selalu berakhir lama di bibir itu, tangannya mengusap pelan bibir itu sebelum menahan air mata dan melapnya dengan tangannya yang bebas dan berakhir untuk mencium lama bibir itu.

Dihindarinya untuk tidak membangunkan Kim Bum dengan kesan basah dari air matanya, tapi tak bisa ditahannya. Air mata itu tetap jatuh dan mengenai kulit Kim Bum, meski pria itu tidak menunjukkan reaksi jika dirinya terganggu dalam mimpi indahnya.

“Later I am not the one who you miss. But my heart, the best safety home which lived by your love in the past” Sangat pelan suara So Eun setelah melepas ciumannya. Tangannya masih di wajah itu dan terseyum sakit.

“I never thought that love could feel like this” Tambah So Eun, tidak akan pernah ada memang yang tau jika rasa cinta itu akan seperti apa So Eun. Stay strong!!!

Tangisnya pecah sudah, segukannya sudah pasti membangunkan Kim Bum. Oh tidak lagi membangunkan, pria itu mendengar semuanya dan dia juga tidak pernah tidur sejak tadi.

“Benar, teruslah tutup matamu. Anggap saja kau sedang bermimpi dan berpura-pura tidak merasakan dan mendengarnya” Dan So Eun juga telah sadar jika pria itu hanya berpura-pura tidur. Ingin dibuka Kim Bum kedua matanya, hanya saja tangan So Eun terlalu sigap untuk kembali menutupnya.

“Jika kau tidak ingin merasakan sakit, maka tutuplah matamu, biarkan aku yang merasakannya” Tangan Kim Bum yang nyaris melepas tangan So Eun dari matanya melonggar, menutup mata itu terus hingga So Eun melepas tangannya.

“I’m Sorry, I Love You” Kata cinta dari So Eun ditemani seguk tangis tak terkendali. Termasuk Kim Bum yang juga menjatuhkan air mata yang sama. Jika benar, sudah pasti itu terlalu cepat. Tapi selalu ada kemungkinan lain mengapa So Eun harus mengatakan itu saat dirinya harus menutup mata dan tidak membiarkannya meminta penjelasan.

“Sorry, Sorry”

*********
Saat mentari itu menyapa, cahaya sang matahari telah mengintip dari celah gorden kamar milik gadis itu. Matanya yang membengkak terbuka pelan merasa terganggu dengan silauan itu. Terkadang terasa dan terkadang tidak. Saat baru disadarinya pria yang tadi malam memeluknya sangat erat sedang duduk manis di sisinya dengan senyum pertama setelah sekian lama. Tangan pria itu dengan sengaja membuka serta menutup berulang kali belah cahaya itu. Bermain-main cahaya di permukaan kulit So Eun.

“Kau bangun?” Tanyanya saat So Eun hanya diam, tangannya merapikan rambut So Eun dan kembali tersenyum. Entah apa yang mendadak merasukinya

“Kau keberatan jika aku ke rumah sakit sebentar? Aku akan mendapatkan alat-alat kesehatanku untukmu. Aku tau kau benci rumah sakit. Jadi akan lebih baik jika aku mengurusmu di sini” So Eun sama sekali tidak menjawab, dan disimpulkan Kim Bum jika gadis itu setuju

“Baiklah, aku sudah menyimpan nomor ponselku di ponselmu. Hubungi aku jika terjadi sesuatu” Kim Bum melepas pelan tangannya dari rambut So Eun, berencana bergegas dan mendapatkan kunci mobilnya.

Terulang kembali, saat tangan So Eun tiba-tiba meraih tangannya kembali. Mereka tidak mengatakan apapun, mereka hanya saling memandang beberapa saat seperti sebelumnya, menyampaikan sejuta rasa yang tak bisa dijelaskan Kim Bum dengan metafisikanya. Bedanya kali ini, tangan Kim Bum yang mengeratkan genggaman di tangan So Eun. Dan lagi-lagi mengejutkan saat pria itu menunduk dan berbagi rasa manis melalui sebuah ciuman untuk So Eun. Gadis yang diciumnya kaku, sensasi luar bias untuk pertama kalinya dirasakan pria itu. Mata gadis itu masih terbuka ketika rasa manis itu menyentuh bibirnya. Masih dilihatnya bagaimana Kim Bum menutup mata dan menikmati rasa manisnya sendiri, sebelum ditutupnya dan terjun kedunia dimana hanya ada mereka berdua di sana. Tanpa Suzy dan juga tanpa penyakit sialannya.

“Tidak akan lebih dari dua jam. Aku berjanji” Bujuk Kim Bum setelah dilepasnya tautannya, sebelum benar-benar pergi, disempatkan pria itu mencium keningnya dan tersenyum.

***********
Kim Bum berjalan cepat di dalam rumah sakit, meminta seseorang untuk mengantar peralatan medisnya ke apartemen So Eun sebelum mencari-cari seseorang yang merupakan tujuan utamanya mendatamgi rumah sakit. Dilihatnya dokter itu berjalan pelan kearahnya dan menyapanya dengan sebuah senyum.

“Wajahmu terlihat sangat buruk Dokter Kim, apa terjadi sesuatu dengannya?”

“Dengannya? Siapa?” Tanya Kim Bum, yang menciptakan senyum dari Dokter Lee sang rekan kerja yang sudah lebih senior darinya.

“Ada yang melihat dia membawamu beberapa hari lalu dari club? Jadi kemanakah kalian pergi hingga wajahmu terlihat kurang tidur?” Goda Dokter Lee yang sebenarnya bertujuan menghibur Kim Bum. Yang pasti ditanggapi Kim Bum dengan decakan dan pukukan pelan ditangannya

“Yang pasti tidak melakukan seperti yang ada dipikiran mesummu” Jawab Kim Bum, namun masih saja mata dokter itu meledeknya hingga membuatnya membuang nafas menyerah.

“Kita mulai dengan membicarakan hal yang telah berlalu atau kita mulai membicarakan hal yang sangat penting?”

“Telah berlalu? Jadi benarkah kalian telah melakukannya?”

“Astaga Tuhan!!! Melakukan apa?” Erang Kim Bum, namun mata dokter itu selalu menyelidik yang pasti diputuskan Kim Bum untuk mengatakan pada diri sendiri. Katakan apa yang ingin didengarnya.

“Baiklah, jika kata itu sangat ingin kau dengar. Aku akan mengatakanya untukmu. Ya!!! Kami melakukan seperti yang ada di otak mesummu” Pasrah Kim Bum yang justru meledakkan tawa Dokter Lee, dan memukul bahunya pelan

“Aku bercanda, sudah lama aku tidak melihatmu seperti ini setelah….” Dokter Lee menelan kembali kata-katanya, sadar jika dirinya salah bicara yang merubah raut Kim Bum.

“Bagaimana jantung dan liver itu?” Pertanyaan yang sangat mengejutkan Dokter Lee.

“Terakhir kali aku mendengar jika kau akan membuatku tidak bernafas jika aku membahasnya”

“Aku berubah pikiran”

“Secepat itu?”

“Entahlah, aku tidak tau apa yang terjadi padaku” Jawab Kim Bum, mengangkat bahu yang justru melepas sebuah senyum tulus dari Dokter Lee.

“Aku mengerti. Saat terakhir kali aku ingin membahasnya, aku ingin membertitahu jika kami melakukan operasi jantung nona Suzy untuk orang lain, dia sendiri yang memintanya. Beliau bertemu dengan seorang yang berpenderitaan yang sama dengannya, entah dari mana asalnya mereka bisa sepakat jika nona Suzy akan mendonorkan lebih dulu miliknya. Dan mengatakan jika nona So Eun sudah pasti tidak akan mempermasalahkan pendonoran ini selama jantung dan liver itu bukan milik nona Suzy”

Meski bukan secara langsung milik Suzy, bukankah tetap saja konteksnya Suzy yang mendonorkan?

Selama nona So Eun tidak tau, ku pikir itu tidak akan menjadi masalah

Sudah kalian pastikan pendonor berikutnya sehat dan cocok

Semua sudah kami selesaikan, hanya saja pendonornya sepertinya akan lama mati Bisik dokter Lee, yang membesarkan mata Kim Bum

YA!!! Kau mendoakan agar dia scepatnya mati?

Secara propesional tidak, tapi pertemanan. Nyawa nona So Eun sudah pasti lebih berharga bagiku dari pada dirinya Kim Bum mengangguk dan tersenyum singkat padanya

“Jadi kapan operasi kita laksanakan”

“Lebih cepat lebih baik” Kim Bum mengangguk dan menerima map kuning dari Dokter Lee.

“Ini data laboratorium terakhir milik nona So Eun, bacalah lebih dulu. Mungkin lebih baik jika dia sudah mulai puasa hari ini” Kim Bum mengangguk dan menerima map itu, tersenyum sebelum mengingat sesuatu.

“Dia tidak boleh tau mengenai identitas pendonor. Setidaknya sampai operasi usai. Hal lain biarkan aku yang menangani” Kini giliran Dokter Lee yang mengangguk. Dokter Lee tersenyum sebelum menepuk pelan pundak Kim Bum dan berjalan pelan meninggalkannya.

“Dokter Lee!!! Tunggu!!” Teriak Kim Bum tiba-tiba. Mulutnya memanggil namun matanya terus menatap map itu dengan tatapan tidak percaya. Kakinya kaku dan bahkan tidak berani menduga-duga. Lembar pertama yang merupakan data pribadi pasien yang merupakan So Eun, itu yang membuatnya demikian.

“Dokter Kim So Eun?” Pekiknya tidak percaya. Matanya berulang-ulang membaca itu.

“Jelaskan padaku apa maksud semua ini” paksa Kim Bum saat telah mendekat pada Dokter Lee. Yang dilakukan Dokter Lee adalah membuang nafas

“Dulu dia dokter yang disenangi disini, bahkan saat dirinya juga harus mengobati dirinya sendiri pada sakit jantungnya. Dulu dia seorang yang sangat ramah dan kau juga tau itu.” Oh baik, semua informasi itu penting, tapi yang lebih unik adalah kalimat dan kau tau itu. Dia tidak tau, apa yang ditaunya?

“Bertahun berlalu, sudah pasti banyak yang berubah, dan kami juga tak paham apa yang berikutnya terjadi saat dia pergi ke Atalanta dan kembali ditambah dengan liver yang bermasalah. Kaupun tiba-tiba membawa seseorang yang kecelakaan dan kau sebut sebagai kekasihmu” Lagi dan lagi Kim Bum harus dikejutkan dengan kalimat terakhir Dokter Lee yang sudah berlari saat dipanggil memasuki UGD.

Dan kaupun tiba-tiba membawa seseorang yang kecelakaan dan kau sebut sebagai kekasihmu. Cetak tebal bagian itu, mengapa itu dihubungkan dengan dirinya yang membawa Suzy beberapa bulan yang lalu. Kian banyak yang membingungkan Kim Bum yang justru terasa memukul-mukul kepalanya. Dari So Eun yang rupanya dokter lama di rumah sakit itu, dan kalimat sang Dokter Lee yang seolah mengatakan jika dia juga dulu mengenal So Eun sangat baik.

OH JESUS!! WHAT’S GOING ON!!!!

Jantungnya berdetak hebat saat menduga-duga apa sebenarnya yang dirinya tidak tau, atau apa sebenarnya yang dirinya lupakan. Oh jangan sampai sesuatu yang terlalu jahat atau sesuatu yang membuatnya menyesal seumur hidup. Langkahnya tidak beraturan untuk segera sampai menuju mobil. Memasuki dan seperti orang kesetanan mencari-cari sesuatu yang pernah dibuangnya di sana. Cincin itu.

Rasa takutnya tidak diketahuinya berasal dari mana, membuat jari-jarinya bergetar setelah mendapatkan kotak itu di bawah pijakan kakinya. Kotak yang bahkan tidak dibukanya ketika Dokter Lee memberikan padanya. Kotak yang yang langsung dilemparkannya di dalam mobil sebelum memeriksa dengan benar isi kotak itu.

Matanya ditutupnya lama sebelum dikeluarkannya cincin itu dari sana. Lihat bagaimana dokter itu terlihat jantungan seperti So Eun, tangan itu tidak berhenti bergetar ketika melihat jika cincin itu berbeda dengan apa yang pernah diberinya pada Suzy. Dan hebat!!!! Cincin itu justru bertuliskan nama KIM SO EUN.

Oh apa lagi itu.
Jadi dari mana Suzy mendapatkan cincin itu, alasan apa Suzy memberinya cincin milik So Eun. Lagi dan lagi teringat kata-kata Dokter Lee saat memberi kotak itu ‘ nona Suzy mengatkan benda ini sejak dulu sangat berharga untukmu’
Tuhan, sebenarnya apa yang dirinya tidak tau.

Kaki pria itu kaku saat di sana, dia tidak lagi bisa mengutarakan kebingunan yang menyakitinya. Air matanya jatuh kembali. Menutup pelan pintu mobil sebelum dering ponselnya berbunyi. Tangannya meraih ponsel dan menerima panggilan dari Linenya. Aplikasi yang disadarinya tidak pernah digunakannya. Lalu panggilan dari siapa itu. Dia bahkan merasa tidak pernah mendaftar akun line, dia hanya menggunakan pesan manual dan panggilan manual dari ponsel selama ini. Dan dia juga bukan tipe pria yang senang menggunakan gadget, hanya digunakannya untuk menghubungi tanpa harus membuka aplikasi yang tidak perlu. Termasuk Suzy dulu melarangnya menggunakan itu. Meski pernah ribut saat gadis itu berniat menghapus segala aplikasi yang berbau media sosial dari ponselnya.

Ponsel itu jatuh dari tangannya saat melihat nama pemanggil. Sayang.
SAYANG?
Siapa sayangnya?
Dan lagi foto itu yang nyaris membuatnya gantung diri. Dia sama sekali tidak pernah merasa berfoto berdua dengan gadis itu, dan Kim Bum tau jika background foto itu adalah kamar miliknya sendiri. Mereka tidak pernah sedekat itu, dan Kim Bum merasa jika dulu bahkan mereka saling membenci.

Tangannya bergetar ganda, tubuh Kim Bum bersandar pada mobilnya dengan posisi duduk lemah. Kepalanya berdentum hebat ketika mata itu kembali melihat foto itu, ponselmya bergetar-getar memintanya untuk mengangkat. Lagi lagi id itu. Sayang?
Siapa sayangnya?
Kim So Eun?
Oh Tuhan, apa yang dilakukan para penghuni alammu ini pada dokter malang itu.
Ponsel itu memberikan sesuatu yang tersisa sebelumnya di kehidupan Kim Bum. Diangkatnya ponsel itu kembali, suara tangisnya ditahan saat terdengar suara pemilik id sayang itu.

“Aku pergi ke suatu tempat, jika kau ingin ke apartemen, aku akan mengirimu passwordnya” Kim Bum tidak menjawab bahkan ketika terdengar bunyi ponselnya yang telah putus sambung dari pemilik id sayang.

“Tidak!!!” Teriak Kim Bum menarik rambutnya, air matanya berjatuhan. Kepalanya terus menggeleng dan rasa sakit di sana kian mengganda. Sakit hingga berulang kali dibenturkannya pada sisi mobilnya. Mulutnya meraung sakit pada kepalanya, kian sakit saat lembaran-lembaran itu kembali tersusun.

***Perkenalkan, dia dokter baru pindahan dari Irlandia

**Hai, So Eun. Kim So Eun, panggil saya So Eun atau apapun yang anda ingin panggil selama tidak menggunakan nama hewan.

*Kim Bum, saya lebih suka dipanggil sayang, jika anda yang memanggilnya

**Tidak buruk, SA-YA-NG

*Terdengar menyenangkan

******
**Ada yang salah dengan wajahku Dokter Kim?

*Tidak, Wajahmu banyak cerita

**Seperti?

*Entahlah, kau terlihat lebih cantik dari semua gadis yang ku lihat

**Benarkah? Apa yang kau lihat dariku

*Masa depanku dan sisa hidupku

*****
*Aku tidak tau sejak kapan kau ada dalam hatiku, sejak kapan aku hanya terus memikirkanmu dan juga tidak tau sejak kapan aku sangat mencintaimu

**Kau menakutkan Dokter Kim, kau lupa meminum obatmu?

*Aku bercanda

**Bercanda? Mata adalah kebenaran sesungguhnya

*Tadi aku mengatakan kebenaran jika aku mencintaimu, tapi kau justru mengejekku.

**Jadi apakah kali ini kau juga bercanda?

*Tidak, Aku memang mencintaimu Kim So Eun

********
*Katakan sepuluh kali kau mencintaiku

**Jangan pernah tinggalkan aku, berani kau melakukannya aku akan memukul kepalamu

*Kau mau menikah denganku?

**Kau akan menikahi gadis penyakitan sepertiku?

*Aku mencintai seluruh kehidupanmu. Hidup, mari kita hidup bersama. Jika harus mati, kita harus mati bersama

**Jantungku sayang

*Kita cari penyembuhan kemanapun itu

********
***Aku bisa beri milikku, dengan syarat tinggalkan dia. Sejak ada dirimu, aku seolah menjadi sepupu yang tak berguna untuknya

**Aku tidak bisa

***Kau bisa, kata tidak bisa kau gunakan jika kau siap melihatnya mati karena keegoisanmu

***Aku akan membawanya ke Atalanta, Georgia.

*********
**Sayang, kau baik-baik saja?

*Aku tidak bisa melanjutkan ini So Eun. Aku jenuh padah hubungan yang tidak ada masa depannya

**Kita sepakat untuk

*Hidup dan mati bersama? Kau bercanda. Ini tahun 2012. Masih ada sajak seperti itu?

*Bisa aku mendengar alasannya?

**Aku bosan dengan kejadian yang sama setiap harinya, bosan harus memajang senyum seharian untukmu, bosan mengurusi orang sakit. Tidak di rumah sakit tapi juga harus mengurusimu. Aku bosan. Dan bosan.

*Itu kata lain dari kita berakhir?

**Menurutmu?

*Kau ada wanita lain?

**Benar

*Tidak mungin

**Itulah faktanya

*Menyedihkan! ketika kau yang ku cintai pergi meninggalkanku begitu mudah, seperti aku tak pernah berarti apa-apa bagimu

*************
“A…!!!!” Teriak Kim Bum saat semakin banyak lembaran itu terkumpul, kepergian So Eun, kecelakaanya dan ketika mata itu terbuka. Suzy, gadis itu bertanggung jawab pada semua kebohongan ini. Satu persatu juga keanehan seharunya di gabungkannya. Pertama ketika gadis itu mengantarnya, tentu aneh seharusnya, So Eun mengetahui alamat rumahnya tanpa diberitahunya. Yang Kedua kotak cin-cin yang pernah dikeluarkannya dari tas So Eun saat mencari obat gadis itu dari sana. Bagus kotak cincin itu. Pria itu menancap gas kembali ke apartemen itu, tanpa melihat pesan So Eun, dia begitu lihai memainkan jari di tombol apartemen itu. Terjadi lagi, diapun tidak paham bagaimana dia bisa tau password apartemen itu. Hatinya berdegup mencari kotak itu dan masih di sana, di bukanya dengan menutup mata, semoga hasil tidak mengecewakannya kesekian kalinya.

Dan lagi-lagi hebat, isi kotak cincin itu memiliki ciri yang sama dengan yang tadi di temukannya dalam mobil. Dan tercetaknya nama dirinya di sana adalah jawaban atas segala pertanyaanya. KIM SANG BUM. Nama itu terukir indah di cincin milik So Eun. Kepingan-kepingan itu kian menyatu bersama kalimat So Eun malam lalu yang baru sangat dipahaminya.

Later I am not the one who you miss. But my heart, the best safety home which lived by your love in the past.

“Kim So Eun” Nafasnya naik turun menyadari menyakiti gadis itu terlalu banyak. Kian kentara saat mengingat dirinya yang belakangan ini bicara dengan nada tinggi dan paling fatal adalah saat dengan kejam dia meninggalkan So Eun yang meraung-raung kesakitan beberapa waktu lalu. Dikutukinya berulang kali diri sendiri, bagaimana jika saat itu terjadi sesuatu?

“Maafkan aku sayang” Oh pria itu kembali.

**************
Angin pagi yang menyejukkan hati So Eun, berjalan pelan menuju salah satu tempat favoritnya dulu. Sulit untuk mengulas senyum meski ornamen natal telah menyapanya di setiap sudut jalan yang dilewatinya. Digunakannya payung hitam gelap untuk menghalangi jatuhan salju di kepalanya, hanya saja dirinya tidak menggunakan jaket dengan alasan tidak ada yang sedingin hatinya saat ini. Lonceng gereja semakin memangil-manggilnya, lonceng di mana para jemaat gereja telah mengambil langkah untuk pulang setelah melakukan ibadah penyambutan natal.

Kaki itu berhenti di depan gereja, menatap lurus ke depan, lebih tepatnya ke arah salib besar yang berada di pusat penglihatannya. Menutup mata lama setelah membuang nafasnya panjang, merasa tidak lagi layak untuk menginjakkan kaki di sana setelah apa yang dilakukannya untuk menyiksa dirinya sendiri.

Lirik-lirik lagu O Holy Night mulai didengar indranya, aura menenangkan dalam gereja membuatnya berjalan sambil menutup mata hingga sampai di deret kursi paling depan. Disentuhnya dadanya yang masih terasa sedikit nyeri, berdiri tegap di tengah panggung depan gereja.

Ketika mata itu mendongkak ke atas, mulai lagi air mata itu kembali jatuh. Menatap penuh harap pada salib itu akan doa yang disampaikannya. Ditutupnya kembali mata itu, dilipatnya kedua tangannya di dedepan dada, ditundukkanya kepala dan mulai menyuarakan hatinya. Entah apa yang dimintanya hingga dibukannya kembali mata itu dan duduk di deret kursi paling depan. Tangannya masih melipat di depan kakinya dan terus menatap salib itu.

“Aku hanya ingin bahagia, sesederhana itu Tuhan” Ungkapnya, sambil air mata itu bercucuran.

“Segala yang terbaik dan terburuk telah ku lakukan, untuk hasil akhir ku serahkan padaMu. Tapi ku mohon Yesus, hargai kerja kerasku” Tuhan menyediakan yang kau butuhkan So Eun, bukan yang kau inginkan.

Tangan gadis itu memilin-milin dalam diamnya, sesekali juga jemari itu menghapus air matanya sendiri. Sekali lagi dirinya berdoa, menyatakan harapan kemudian diakhirnya dengan kata-kata yang sebelumnya tidak dikatakannya

Karena Engkau yang mempunyai kerajaan, dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin Sekali lagi cinta dan doa menunjukkan kekuatannya ketika mulut itu menyuarakan kata amin. Pintu gereja itu terbuka dan menampakkan sosok pria yang memenuhi deret doanya sejak tadi. Suara kakinya perlahan membuat So Eun menoleh dan dengan jelas melihat Kim Bum berjalan tegas ke arahnya, menggengam sesuatu dengan raut wajah yang pasti tidak diinginkan So Eun. Masih dengan jas putih, namun dasinya sudah tidak mengikat leher pria itu, satu yang menjadi pertanyaan So Eun, mengapa pria itu menangis.

So Eun masih betah untuk duduk menunggu Kim Bum tiba di hadapannya, kejutan kedua adalah ketika pria itu tiba di hadapannya langsung saja tersungkur dekat dengan kakinya, menangis tersedu-sedu yang menggandai pertayaan ada apa di kepala So Eun. Kim Bum bahkan memeluk kakinya yang lantas membuat So Eun terkejut dan menjauhkan sedikit pria itu dari kakinya, meski menjadi arogan, So Eun sama sekali tidak pernah berpikir jika seseorang akan menjadi sehina apapun di hadapannya. Dia bukan tipe manusia yang senang di eluh-eluhkan.

Whats wrong with you? Tanyanya pelan saat Kim Bum kembali memeluk kakinya yang masih betah duduk di atas kursi, pria itu duduk di lantai itu dengan suara tangis menyedihkan. Kim Bum terus menggeleng tidak bisa berkata-kata.

Is it too late now to say sorry? Maaf? Kesalahan apa yang dilkukan pria itu? Dan sejak kapan pria itu merasa perlu meminta maaf pada So Eun? Astaga!!! Apakah arwah raja Joseon merasukinya?

For?

Everything

Beritahu aku, aku bingung memberi reaksi jika kau seperti ini? Bujuk So Eun, berusaha melepas tangan Kim Bum yang berada pada kakinya.

Apa alasan kau sangat mencintaiku? Tangan So Eun refleks lepas dari tangan Kim Bum di kakinya. Pertanyaan yang berada di luar prediksinya.

Aku tidak tau

Apakah perasaan itu masih sama? Dulu, sekarang dan nanti? Lagi dan lagi pria itu melontarkan tanya yang kian membuat So Eun was-was.Memaafkan itu masalah hati. Tapi melupakan itu masalah memori

Jangan memberiku pertanyaan yang jawabannya tidak ingin ku ungkapkan

Jadi apakah cintamau lebih besar dari sesalku? Apakah cintamu akan mengalahkan amarahmu setelah apa yang ku lakukan?

Oh ayolah dokter, aku semakin bingun dengan kata-katamu. Bukankah biasanya kau lebih senang membuat debat? Apakah malaikat di dalam gereja ini merasukimu tiba-tiba?

Aku mencintaimu Dan kejutan ketiga yang diterima So Eun, masih terkejut hingga tak bisa mengatakan apa-apa akan kejujuran Kim Bum, dia bingung tentunya.

Dia mungkin bisa menghapus ingatan. Tapi dia tak bisa menghapus perasaan Yang kesekian kalinya pria itu mengejutkannya, dia tahu?

Maafkan aku sayang, maaf, maaf. Kau menyia-nyiakan hidupmu hanya demi meratapi pria sepertiku. Kau menangisi ku diam-diam, terimakasih untuk tetap tinggal di sini meski kau harus melihat manusia bodoh sepertiku menyia-nyiakan hidup dengan Suzy Akhirnya.

So Eun belum memberi respon apapun dengan yang didengarnya, mereka hanya sama-sama menangis dengan Kim Bum yang tetap berlutut di sana. Memohon-mohon maaf darinya, maaf atas dasar apa? Tentu itu pertanyaanya.

Kim Bum terlalu takut mendengar jawaban tidak dari So Eun saat gadis itu sangat lama merespon kata-katanya, gadis itu hanya melihat wajahnya dengan tangis. Dan yang melegakan dada Kim Bum dan justru menjadi pecahan tangis yang kian kuat adalah So Eun yang menunduk pelan dan memeluk kepalanya, gadi itu menngangguk dan menciumi puncak kepalanya.

Aku masih ditempat yang sama di mana kau pergi dan meninggalkan aku. Terimakasih untuk kembali Oh kau luar biasa So Eun, begitu bijak dalam hal-hal tertentu. Bagaimana bisa semudah itu kau menerima saat kau sudah disakiti terlalu dalam.

Kata itu lagi dan lagi membuat Kim Bum histeris dan beralih memeluk perut So Eun, dirasakannya So Eun yang mengelus halus rambutnya dan tetes air mata gadis itu yang terus mengenai kulitnya.

Maafkan aku sayang, aku pasti sudah sangat menyakitimu Sudah tau, masih saja diungkapkan!! Dan lihat bagaimana lagi So Eun menggeleng, menolak kata-kata pria itu. Jadi maksudnya pria itu tidak menyakitinya? DAEBAK!!! Kau pasti malaikat So Eun

Kau melakukannya karena kau tidak tau apa-apa

Lebih baik aku mengetahui dan dikecewakan daripada tak pernah tahu dan selalu
bertanya-tanya

Tidak Kim Bum, konteksnya berbeda dengan apa yang terjadi padamu

Hubungan kita mendapatkan masalah karena kita tidak mengungkapkan perasaan kita. Pura-pura membenci dan pura-pura mencintai Lanjutnya, oh tentu saja So Eun. Kim Bum yang berpura-pura sangat mencintai, dan juga kau dan dia yang berpura-pura membenci.

So Eun membantu Kim Bum untuk kembali berdiri, berdiri di tengah gereja ditemani lagu-lagu natal yang berkumandang, tangannya melapi setiap tetesan di wajah Kim Bum dan tersenyum.

Dan satu hal yang perlu kau tau, cinta adalah cinta! Tidak ada minta maaf, tidak ada terimakasih Kim Bum tidak lagi bisa memberi kata-kata, dia tidak lagi bisa mengungkapkan perasaan dan tidak lagi bisa minta maaf dan mengucapkan terimakasih.

Ku pikir sekarang kau tau alasan aku sangat membencinya, dia merampasmu dariku, jelas aku tidak bisa menerima itu, aku tidak bisa memaafkan itu, meski dia tiada sekalipun

Memaafkan itu masalah hati. Tapi melupakan itu masalah memori sayang Kim Bum sepertinya mulai mencari pembenaran untu dirinya, seolah menyalahkan Suzy yang merubah garis tangannya.

Kepalamu hanya terbentur dan kau bisa melupakan aku, tapi saat aku hampir mati karena jantung dan liver ini, kenapa aku bahkan tidak bisa membencimu saat kau meninggalkanku?

Aku tidak memiliki jawaban untuk itu Kim Bum kembali melihatnya.

Tapi mengapa kau tidak memberi tahu aku, mengapa kau justru membiarkaan aku dengannya, mengapa kau membiarkan aku menyakitimu? Mengapa…

Aku tak ingin kau mendengar bahwa aku mencintaimu, aku ingin kau merasakannya tanpa aku harus mengatakan Potong So Eun yang mendiamkan Kim Bum. Membuat pria itu mengangguk menyesal

Aku memang telah kehilangan hak untuk membela diri, tapi satu kebenaran yang kupunya adalah jika aku sangat mencintaimu Satu kalimat yang membuat So Eun kembali diam dan menangis, memeluk pria itu di sana dan mengangguk cepat

Aku juga mencintaimu Jawab So Eun melepas pelan pelukannya, tersenyum, sudah kembali menjadi So Eun yang penyanyang dan perhatian.

Katakan kau mencintaiku sepulu kali Pinta So Eun

Aku mencintaimu So Eun Pria itu menuruti keinginanya, sepertinya dirinya akan mendapat hadiah dengan mengatakan itu saat So Eun mendekatkan wajah sekali dirinya menyatakannya

Aku mencintaimu Ulangnya, dan gadis itu kian dekat

Aku mencintaimu Mendekat

Aku mencintaimu Untuk terakhir kalinya hidung mereka telah bersentuhan.

Astaga, ini tidak bisa kita lakukan di dalam gereja So Eun terkekeh setelah mengatakannya, sadar jika pria itu berdecak kesal dengan ulahnya yang mengerjai Kim Bum. Matanya membesar saat justru pria itu yang menariknya dan menciumnya di sana, di tempat yang sama dimana gadis itu memanjatkan doa untuk Tuhan. Sederhana tadi doanya sebelum Kim Bum datang, yaitu agar Tuhan mengembalikan senyum Kim Bum. Oh kekuatan cinta mengatakan jika dialah senyum Kim Bum, dan hebat!!!! Saat amin disuarakannya pria itu hadir seketika.

Kurangi kebiasaanmu yang suka melakukan hal mengejutkan, kau tidak lupakan jika jantungku tidak sekuat milikmu? Canda So Eun setelah melepas tautannya.

Kurangi juga kebiasaanmu yang menangis diam-diam sayang, aku tidak melarangmu sedih ataupun menagis, tapi menangislah saat kau berada dihadapanku. Maka aku pasti memiliki kekuatan baru untuk selalu membuatmu tersenyum. Kita berbagi tangis yang sama

Selama kau tidak lagi meninggalkanku

Aku tidak pernah meninggalkanmu, percayalah jika aku adalah nadi dan kau adalah jantung, meski terpisah tempat, kita tidak hilang sambung.

Aku pernah pergi bukan keinginanku. Aku pergi untuk kembali sayang Lanjut Kim Bum, So Eun tersenyum menanggapi Kim Bum, tangan mereka bertautan di depan setiap cahaya lampu yang kerlap-kerlip di setiap sudut gereja, cahaya lilin menghias senyum mereka dan natal itu menjadi saksi yang pergi akan kembali jika itu adalah pemiliknya.

**********************
Cinta itu sebuah permainan yang dimainkan oleh dua orang dan dimenangkan oleh
dua orang tersebut. Tidak akan ada yang tau apa yang ada di depan mereka, tidak juga ada yang tau sebesar apa dan sekuat apa cinta itu di antara mereka tanpa ada Suzy sebagai mahluk penguji, jika yang dibahas adalah mengenai kemanusiaan, jelas semua orang akan mengatakan Suzy sebagai antagonis yang merusak hubungan kedua pencinta itu. Tapi dari segi realitas dan juga manusiawi tentu saja apa yang dilakukan Suzy sesuatu yang setiap manusia akan lakukan. Dia memperjuangkan sesuatu yang berharga untuknya, tujuan dirinya baik, yaitu untuk membahagiakan dirinya sendiri, hanya mungkin dirinya sempat melakukannya dengan cara yang salah. Dia pernah salah, tapi jelas dia bertanggung jawab atas kesalahan yang dilakukannya, dia bahkan menyediakan hidup baru bagi So Eun. Hanya saja mungkin So Eun tidak semudah itu menerima miliknya.

So Eun dan Kim Bum menikmati sang surya yang mengintip di taman rumah pria itu. So Eun tidur bersandar di kedua kaki Kim Bum yang duduk nyaman di atas kursi, tangannya merapikan setiap helai rambut So Eun, serta tangan kirinya yang mengelus-elus pelan wajah So Eun. Banyak cerita yang ingin disampaikan, tapi ada sebuah alasan yang paling besar mengapa mereka lebih memilih diam dan tidak membahasnya. Waktu berlalu sudah pasti kesehatan So Eun kian memburuk, dirinya kian sering tidak sadarkan diri dan juga Kim Bum yang harus histeris memohon padanya, memohon untuk bersenang hati melakukan operasi yang mungkin bisa menyelamatkan nyawanya. Dan So Eun betah untuk mengatakan tidak. Tidak jika itu dihubungkan dengan Suzy.

Mau melakukan permainan?

Tentu saja selama itu tidak meganggu kesehatanmu sayang Jawab Kim Bum setelah tersenyum dan mengecup kening gadis yang tidur di kedua pahanya itu.

Kita membuat pertanyaan dan harus dijawab dengan jujur, siapa yang menangis saat menjawab berarti dia kalah Mendengar itu sudah saja membuat Kim Bum was-was. Dirinya lelah untuk terus menduga-duga setiap kejadian buruk yang bisa saja datang pada So Eun. Ingin ditolaknya, hanya saja dia telah mengatakan setuju sebelumnya.

Tidak semua pertanyaan bisa dijawab sayang Kim Bum mencoba mencari cara mengagalkan permainan yang potensial menyakitinya itu.

Setidaknya menangis tidaknya yang menetukan pemenenangnya Jawab So Eun sambil tersenyum, dia tau apa yang dipikirkan Kim Bum, hanya saling berpura-pura tidak tau. Bibir pucatnya banyak senyum, hanya untuk membuat Kim Bum merasa jika dirinya baik-baik saja. Dia seorang dokter So Eun, bagaimana bisa dirinya tidak tau jika kau sudah sangat sekarat.

Jika aku pergi, apa yang akan kau lakukan? Tanya So Eun pelan, belum apa-apa Kim Bum sudah menahan sesak ingin menjatuhkan air mata dengan pertanyaan itu. Terlalu lama untuk menjawab menyadarkan So Eun jika pria itu tidak akan menjawab pertanyaanya.

Jika kau yang pergi, sudah pasti aku kan mencari penggantimu, dan sudah pasti aku akan jatuh cinta kembali Tentu saja kau mengatakan itu So Eun, caramu sudah terlalu pasaran untuk membuaat pria itu berbesar hati melepasmu. Caramu mempengaruhinya sama sekali tidak berfungsi ketika Kim Bum telah menetapkan hati untuk tetap tidak pada keputusanmu. Tidakkah kau lihat jika dia sama sekali tidak berniat menanggapi pernyataanmu? Itu tanda dia tidak terpengaruh, hanya mungkin sakit yang dirasakannya saat kau harus berpura-pura kuat dan berpura-pura segampang itu untuk melupakan dirinya seandainya dirinya yang akan pergi.

Sadar jika usahanya gagal, So Eun menggerakkan badan sulit untuk berposisi duduk seperti Kim Bum, tangannya kembali menyentuh kedua belah pipi Kim Bum, memaksa senyum pada bibir pucat dan wajahnya yang memutih.

Jangan menjadi pria bodoh yang menyia-nyiakan hidup untuk meratapi gadis seperti aku, percayalah jika yang pergi akan terganti, karena itulah siklusnya. Kau harus tetap melanjutkan hidup tanpa harus aku ada Sudah langsung Kim Bum kalah, karena jelas pria itu sudah memompa air mata dan meleleh di permukaan kulit wajahnya.

Lihat, aku menang. Dan kau kalah Canda So Eun, menahan tangis sambil menghapusi air mata Kim Bum yang tidak mengatakan apa-apa. Mengutarakan seluruh isi hatinya dengan tatapan dan air matanya.

Apa hukuman yang kau inginkan? Masih digunakan So Eun canda untuk mereka, mencubit pelan hidung Kim Bum, dan tangan yang satu tidak pernah lepas dari sana. Merasa sangat rugi jika sedetik saja dilewatkannya tidak melihat wajah itu.

Aku ingin kau berbagi hukuman denganku, aku ingin kau menangis bersamaku tanpa harus berpura-pura jika kau sangat kuat Tangan So Eun berhenti setelah pria itu mengeluarkan suara. Seperti keinginan pria itu, diapun menangis, tangan Kim Bum menyambut tangan So Eun di wajahnya, menggengamnya di sana, menatapnya dalam.

Jika kau pergi apa yang akan aku lakukan? Diperjelasnya pertanyaan So Eun, mengeratkan tangan So Eun di wajahnya.

Tentu saja menunggumu kembali Oh Tuhan menyedihkan sekali mereka. Menunggu? Kau menunggu seorang yang akan…. kau hebat jika menyia-nyiakan hidup pada hal yang sudah pasti jawabanya tidak kembali Kim Bum.

Kini justru tangan Kim Bum yang meraih kedua pipi So Eun, hidung mereka saling bersentuhan, kepala mereka menempel, seguk tangis mereka melebur menjadi satu.

Sayang dengarkan aku, harapan hilang saat kita berhenti percaya. Dan cinta gagal saat kita berhenti peduli

Jadi jangan memintaku melakukan sesuatu hal yang tidak bisa ku lakukan seperti melepasmu dengan begitu mudahnya. Dan tentu saja cinta kita gagal jika kau memintaku berhenti peduli untuk selalu mencari pengobatan terbaik untukmu Lanjut Kim Bum

Pengobatan terbaik seperti apa? Terbaik saat aku semakin sering tidak sadarkan diri? Saat aku selalu menyusahkanmu? Saat aku selalu tergantung padamu? Atau saat aku melihatmu tersenyum dan diam-diam menangisiku dibelakangku? Itu yang kau sebut terbaik? Nada bicara So Eun kembali naik.

Cinta harus saling memiliki, cinta harus bersama. Cinta itu hidup berbagi, hidup bersama, jika kau mati, mari mati bersama. Aku tidak peduli dengan pernyataan yang mengatakan jika cinta tidak harus saling memiliki, aku yang menciptakan teoriku sendiri, aku yang mengartikan cintaku sendiri Tekan Kim Bum, So Eun mendesah dengan teori baru Kim Bum. Tidak habis pikir dengan kebebalan pria itu. Menatap heran sekaligus memohon pada Kim Bum yang justru ditanggapi pria itu dengan tolakannya.

Kau tidak setuju? Aku tidak peduli Tambah Kim Bum, membuang muka ke arah lain. Sesekali mengigit bibirnya menahan sakit hatinya. Sebelum dirasakannya gadis itu meraih kembali wajahnya untuk menghadap pada gadis itu kembali. So Eun tau jika memang Kim Bum tidak akan semudah itu melepasnya.

Kau sangat takut kehilanganku? Itu pertanyaan orang idiot So Eun!!!

Dibanding rasa takutku ketika itu, rasa takutku kali ini seribu kali lipat lebih Dengar So Eun, kau menyakitinya terlalu dalam jika memintanya melupakanmu.

Kau tau? Kau pria pling keras kepala yang pernah ku temui. Tapi mungkin karena itu aku sangat mencintaimu

Bukan berarti aku melepasmu begitu saja So Eun, ingat itu

Kau pergi, jangan pikir aku tidak akan mengikutimu Tambah Kim Bum, sudah pasti arti kata pergi adalah mati. So Eun hanya tersenyum paksa, tangannya pada wajah Kim Bum sudah bergerak-gerak pelan, dia sudah juga merasakan nyeri pada dadanya sejak tadi. Rasa mual termasuk detak jantungnya yang tidak beraturan, serta nafas yang mulai tersendat. Dan Kim Bum sangat tau itu, tangisnya pecah saat So Eun mengecup sangat sayang keningnya

Keningmu Gadis itu beralih untuk mencium pada kedua pipinya

Wajahmu Kemudian pada hidungnya

Hidung Diciumnya hidung Kim Bum hingga berakhir pada bibirnya. Di kecup gadis itu lama sambil tersenyum dan air mata yang bercucuran.

Dan bibirmu, semuanya. Aku jatuh cinta pada semua hal yang ada pada dirimu. Entah bagaimana Tuhan menciptakan manusia setampan dirimu Suaranya terpotong-potong saat mengatakannya.

SO EUN!!! Mata So Eun sudah setengah redup, wajah Kim Bum tidak lagi sepenuhnya bisa dilihatnya. Dan air mata serta teriakan pra itu memanggilnya kembali, rasa sakit di tubuhnya kalah sudah dengan rasa sakit melihat Kim Bum semenderita itu menangisi serta meneriaki namanya. Tangannya mengepal keras tangan Kim Bum

I love you, you are my only reason to stay alive Dan mata itu tertutup, tidak lagi dirasakannya Kim Bum yang menjerit memanggil namanya, memeluk keras tubuhnya dan tangis pilu pria itu. Kau mengatakan dia adalah alasanmu untuk tetap hidup So Eun, bagaimana bisa kau mengingkari itu. Kau justru lebih kejam dari Suzy.

THE END* Eh….enggak deng. Disantet langsung sama readers

*********
Desember 2016-12-25

Kembali pada pria yang duduk menatap pohon natal itu, masih betah memuta-mutar cincin di jari manisnya, air matanya jatuh mengingat kisah manis dan menyakitkan itu. Matanya beralih pada foto besar yang sengaja dipajangnya di ruang tamu rumahnya. Senyum bahagia So Eun yang tidak akan pernah bisa dilupakannya.

Daddy help me!!! Suara bocah kecil menariknya kesadarannya kembali, mengganti air mata tadi dengan senyum bahagianya.

Astaga, apa yang bisa daddy lakukan untukmu sayang? Kim Bum mendekati buah hatinya yang merengek dan kemudian menggendongnya.

Bisa daddy jauhkan segala hal berbau wanita dariku?

Tentu saja, tapi kau hanya tidak tau sayang, betapa menyenangkan menggoda wanita

Oh terserah, aku benci wanita Kesal anaknya, yang meluncurkan tawa darinya

Apakah teman wanitamu di tetangga sebelah membuatmu marah?

Mengapa daddy membahasnya, haiss!!! Aku membencinya!!

Astaga!!! Jagoan daddy pemarah sekali

Jika tidak ingin aku marah, maka lakukan keinginanku untuk menjauhkan para wanita dariku, termasuk para gadis-gadis yang sering kemari dan tebar pesona padamu. Mereka menyebalkan Kim Bum kembali tertawa dan mencubit pelan buah hatinya

Termasuk Mommy Tekan anak itu. Mommy? Oh yang benar saja bocah!!

Oh yang satu itu, daddy tidak bisa janji sayang

Jangan menjadi menyebalkan seperti mommy, Dad!!! Keluh anak itu saat Kim Bum tidak memenui keinginanya menjauhi sang ibu. Tentu saja, ayah mana yang akan menuruti permintaan semacam itu.

Astaga, monster kecil ini!! Kau ingin aku menciummu seribu kali lagi? Suara yang tadi mereka sebut sebagai mommy menyapa, seorang wanita dengan rambut panjang berwarna kecoklatan. Badan yang gempal dan sudah pasti membawa perut buncit kemana-mana. Sosok mommy mereka yang sangat cantik, mendekat dan sudah pasti Aaron Kim anaknya memohon kepada sang ayah untuk menghindar. Wanita yang sama dengan yang berada pada foto besar yang tadi dipandangi Kim Bum.

Kim Bum justru tertawa melihat anaknya itu serta sang istri yang selalu berdebat, dari istrinya yang selalu menganggu kesenagan sang anak, termasuk gemar mencium anaknya itu tiba-tiba. Hingga kedua manusia yang sering memperebutkan Kim Bum, jika tidak Aaron yang menangis sudah pasti sang istri yang merajuk seperti anak kecil.

Bagaimana jika aku yang kau cium seribu kali sayang Goda Kim Bum yang justru melototkan mata padanya.

Aku sedang tidak tertarik pada pria tua

Ya!!! 29 tahun dan kau mengatakan aku tua?

Lihat dari segi lain, kau akan memiliki dua anak Dokter Kim

OH, jadi sekarang kau bosan padaku?

Tentu saja

YA!! KIM SO EUN Pekik pria itu, yang dipanggilnya hanya mengangkat bahu.

Aku lebih tergiur pada anakmu yang nakal ini Jawab sang istri. Tangan So Eun mendekati Aaron, sudah pasti Aaron menjauhkan tangannya dengan wajah sebal.

Aku tidak tertarik pada wanita seperti mommy, dan perutnya buncit Kesalnya, yang membuat So Eun beraut sedih dibuat-buat. Berjalan menjauhi mereka.

Mommymu menangis bisik Kim Bum pada bocah itu yang mulai mengintip pada So Eun, apakah benar ibunya itu menangis

Benarkah?

Tentu saja, itu karena kau memarahinya. Adik kecilmu yang di dalam perutnya pasti menangis juga sepertinya

Dia bisa menangis di perut mommy? Tapi mengapa aku tidak mendengarnya?

Dengarlah lebih dekat, tempelkan telingamu di sana Kim Bum berakal-akal hebat kepada sang anak, dan usahanya berhasil untuk membuat anak itu berbaikan dengan sang istri.

Mommy, Mommy.. Apakah mommy mendengar suaranya? So Eun sudah pasti kebingungan saat tiba-tiba anaknya itu memeluk perut besarnya dan menempelkan telinga di sana. Kim Bum mengedipkan mata padanya dan barulah dirinya paham. Mulailah dirinya seperti sutradara, melebih-lebihkan keadaan hingga berhasil membuat anaknya itu mencium perutnya, bahkan anaknya itu mencium bibir miliknya.

Ini untuk mommy, Mommy baik sekali mau membawa adikku kemana-mana di dalam sana So Eun dan Kim Bum tersenyum dengan ke polosan sang anak.

Kau juga dulu berada di dalam sana sayang Ucap Kim Bum, yang membesarkan mata Aaron

Benarkah? Tapi aku tak suka tempat gelap. Daddy pasti membohongiku

Tidak, daddy dan mommy dulu sering menciummu seperti ini Kim Bum mencium perut besar So Eun, dan mengelusnya lembut, dan beralih mencium kening sang istri.

Itu artinya kalian mesum daddy Mata Kim Bum langsung membesar mendengar kata mesum itu, dari mana anaknya tau bahasa itu

Ya!!!! Dari mana kau mempelajari kalimat itu

Mommy yang mengatakannya padaku Kini mata Kim Bum beralih pada So Eun yang menggeleng, menyangkal meski telah tertangkap basah.

Aku tidak mengatakannya So Eun berjalan pelan untuk melarikan diri

Kau pikir kau bisa lari jauh dengan perut sebesar itu? Ancam Kim Bum, dan mulai membisikkan sesuatu pada Aaron. Kakinya melangkah mendapatkan So Eun dari sisi kiri dan anaknya itu dari sisi kanan pohon natal mereka. Kedua pria dalam ukuran berbeda itu mengejar So Eun dengan tawa dan mendapatkannya di tengah, apalah yang bisa dilakukan wanita buncit seperti So Eun. Tentu saja menangkap bukan untuk diadili, yang justru dilakukaan kedua pria itu adalah memeluknya dengan tawa, Kim Bum memeluk dari sisi kiri dan sang anak dari sisi kanan, secara bersamaan mencium wajah wanita yang kelelahan tertawa itu, wanita yang mereka panggil dengan sebutan mommy, yaitu Kim So Eun.

Wanita yang memenuhi janjinya untuk tetap bertahan hidup dengannya setelah membuat Kim Bum menjerit kesetanan mengira wanita itu sungguh meninggalkannya. Mungkin itulah yang namanya keajaiban dan mukzyzat, So Eun terbatuk kembali setelah jeritan pria itu, tangis Kim Bum membawanya ke alam sadar, dan janjinya yang mengatakan jika Kim Bum adalah alasan mengapa dia bertahan hidup dipenuhinya dengan menerima pencangkokan itu. Gadis yang menjadi istrinya tepat pada 25 desember, gadis yang pernah di tinggalkannya pada malam natal, dan kembali ke pelukannya di malam yang sama, namun pada tahun yang berbeda. Gadis natal yang menjadi sumber kehidupannya dan anak anak-anaknya. Kim So Eun, Christmas eve dari Korea selatan yang memenangkan hatinya

***********

Cinta itu bukan bagaimana kita melupakan , melainkan bagaimana kita memaafkan. Masa lalu itu membuat Kim Bum dan So Eun memahami cinta itu bukan apa yang kita lihat, melainkan apa yang kita mengerti. Dan cinta itu bukan apa yang kita ingat, melainkan apa yang kita rasakan. Kim Bum dan So Eun tidaklah sempurna, mereka tahu itu. Mereka sama-sama membuat banyak kesalahan, Ya! mereka tahu jika mereka melakukannya. Tetapi yang paling penting adalah mereka benar-benar tahu bahwa mereka sangat saling mencintai dan saling membutuhkan. Meski dengan masa lalu yang menyakitkan, mereka tetap melihat kebelakang dengan kebahagiaan, karena jika tanpa masa lalu mereka, mereka bukanlah Kim Bum dan So Eun pada hari ini.

Di akhir sebuah drama kehidupan, entah bagaimana keajaiban sebuah harapan, perjuangan, tangis, pengorbanan dan cinta bisa membuat banyak perbedaan yang mengubah kehidupan mereka, memang tidak seorangpun yang punya kemampuan melakukan sesuatu yang sempurna untuk puncak suatu kebahagiaan, tetapi mereka meyakini, bila ingin bahagia, buatlah tujuan yang bisa mengendalikan pikiran, melepaskan tenaga, serta mengilhami harapan. Karena setiap orang diberi banyak kesempatan untuk melakukan sesuatu yang benar. Dan seperti kata-kata bijak yang mengatakan, hidup itu susah tidaknya harus dinikmati, namun pada faktanya tidak semudah itu untuk menikmatinya, karena siapapun setuju dalam hidup rasa sakit selalu berdampingan saat mendapat kebahagiaan.

Termasuk berhentilah berandai-andai jika hidupmu akan berjalan seperti ekspektasi di dalam mimpimu, mimpi itu diupayakan tidak dilanjukan dengan tidur panjang. Berhentilah menjadi manusia yang gemar berandai-andai, karena hidup tidak seindah berandai-andai. Kim Bum, So Eun dan kita pasti tak ingin menjadi seorang yang sepanjang hidup menyesali sesuatu yang telah terjadi dengan hanya mengatakan seandainya. Seandainyaa dulu aku seperti ini, seandainya dulu kau tidak melakukan ini, seandainya aku menjadi, atau seandainya aku bisa seperti, hidup ini terlalu keras jika terus mengandalkan kata seandainya. Jika hanya berandai-andai, sudah pasti monyetpun bisa melakukannya seandainya dia bisa bicara, oh dan seandainya kembali.

Kita bisa seperti So Eun yang memilih berjuang dan melanjutkan kisah cintanya dengan Kim Bum, atau seperti Kim Bum yang tidak penah menyerah untuk memperjuangkan sesuatu yang dianggapnya benar, atapun Suzy yang berbuat kesalahan namun tau untuk bertanggung jawab. Yakinilah di mana ada cinta dan inspirasi, maka kita tak akan salah jalan dan sudah pasti bisa menemukan jawaban atas semua pertanyaan. Kita sebagai manusia harus membiasakan diri dengan luka, terbiasa dengan kecurangan seperti So Eun. Tapi bagaimana kita tidak hanya penunggu waktu untuk menyembuhkan luka dan keluar sebagai pemenang itulah yang diperlukan. Merubah sendiri garis tangan, dan tidak mau menjadi seonggok daging yang hanya punya nama pada kata ajaib yang bernama takdir.
Adanya rasa cemburu menjelaskan jika sebenarnya cinta itu harus memiliki-Kim Bum

Cinta adalah cinta, tidak ada kata terimakasih, tidak ada kata minta maaf-Kim So Eun
THE END-

Posted on Desember 1, 2016, in Uncategorized. Bookmark the permalink. 22 Komentar.

  1. kalimat so eun sama kyak kata2 yg ada di drakor love rain yoona sama geun suk. tapi over all ffnya bagus kok lanjut eonni…

  2. nangis bacanya sampai begitu perjuangan cinta mereka ditunggu kak karya selanjutnya

  3. mengharukaaaaaan, ya Tuhan sedih apa baca cerita ini, hiks
    author santi gaol memang daebak bikin emosi pembacanya
    pesan2nya itu lho, boleh juga dijadikan quotes of the day, eon. hhii
    bagus ceritanya, aku suka 😁

  4. Park Yeoja Exolarmy

    Gak nyangka sso eoni jd kek gitu gara2 bumpa di rebut suzy. Dan aku jg gak nyangka ternyata bumpa amnesia, sampe2 bumpa melupakan segalanya. Suka sama aaron kim, tingkahnya lucu bgt.. Dari kisah mereka aku belajar banyak.. Dan buat author eoni harus tetap semangat ngetik ff bumsso yah.. Fighting

  5. Ini bagus bangeeettt.. bacanya sampe kebawa emosi
    Author jago banget bikin kata2 yg dalem.
    Ceritanya gak ketebak gmn so eun dan kim bum yg awalnya selalu berargumen sampe kenyataan yg terjadi di antara mereka.
    Suka deh pokoknya sama ff ini

  6. Mengharukann bner² bkin aq nangis,cerita’y keren bngettt……

  7. Awalnya bikin ??, knapa bisa sampe kayak gitu, jd bumppa amnesia sementara suzy memanfaatkannya untuk merebut Kim bum dr sisi sso sementara sso pergi ke Georgia,…. Tapi akhirnya happy end, klo gak happy end, aq mau minta paksa seguelnya supaya di jadiin happily ever after.

  8. Dr awal baca pnasaran ad konflik ap antara sso sma suzy,,,udh bkin deg2an z kirain sso mninggal tp syukur nya happy ending jg

  9. Ahhh… ceritanya keren bangett….
    Dr awal udh ngira2 klo suzy punya salah sm Sso, yg bikin Sso jd bnci sm dia…
    Tp nggk prnh berfikir klo dia ngerebut Kim Bum dr Sso, secara mereka kan saudaraan… jd ksel bgt pas tau, Kim Bum jg ngeselin , pke dendam sm Sso yg nggk salah apa2…!!!
    Tadi sempat syok.. sakit hati, kirai sad ending , ternyata tdk, Sukurlahh !!!!

  10. nangis bacanya…sedih…
    diawal.cerita sebel banget ma so eun yg angkuh plus arogan…..tpi setelah baca setengah n tau penyebab kenapa so eun sejahat itu…baru memahami sakit hatinya so eun terhadap suzy…
    yah walaupun suzy salah tapi dia berusaha menebus kesalahannya, meski so eun tak pernah memaafkanya…..
    bagus ffnya…konfliknya top!!! endingnya bikin happy…..

  11. Keren lah ternyata mereka sepasang kekasih ?
    Dan kim bum hilang ingatan ya ??
    Lumayan menguras emosi Thor,,
    Keren pokoknya mah,,

  12. Gatau mau bilang apa.. yg jelas ni ff bener” kebawa emosi.. ga nyangka ternyata sso berubah karena suzy merebut bumppa… bener” ga bisa d tebak ini ceritanya.. authornya keren bgt.. bisa bikin kata” kaya gitu.. kata” yg mempunyai banyak arti.. tetep semangat thor..

  13. ceritanya keren, cuma diakhir-akhir ceritanya tnda ” di percakapannya enggak ada, jadi bikin bingung yg baca. Keselurahan bagus cuma tinggal perbaiki penulisan aja biar yg baca jadi nyaman
    Dari awal nyampe akhir bikin perasaan nggak nentu, segala kerasa wkwk
    Campur aduk lah, cuma kurang greget nya ituu sso maafin dan nerima kembali kim bum gitu aja, gampang banglater i am not the one who you miss. but my heart the best safety home which lived by your love in the pastet, jadi nggak ada kim bum ‘tersiksa’.
    Semangat nulis terus yaaa

  14. Barus banget eonnie. Kim bum pura² tdk mencintai sso tpi di dlm hatinya ia mencintai dan sso baik banget relakan kim bum bersama suzy hingga sso sakit parah yg akhirnya bisa sembuh dan bumsso bisa bahagia bersama keluarga.

  15. Kasian kisah mreka.. Suzy tega bnget ngerebut bumppa, pura2 jd kekasihnya. Buat sso eonni jd sedih & ngebuat sso eonni jd mabuk2an jd livernya rusak.. Tp untungnya sso eonni nerima donor dri suzy.. Jd ngebuat bumsso happy ending

  16. Ijin baca. Bagus ceritanya, menyentuh. Tapi boleh gag ksih saran sedikit. Kalau itu sebuah kalimat langsung dlm percakapan bisa pakai tanda petik (“). Mksih. Semangat ya.

  17. Uuuuwwwwwwwwoooooooo daebak!!!!!
    Ceritanya sangat menyentuh, gila bagus banget, sangat suka dengan ceritanya..
    Ditunggu ya karya selanjutnya^^~

  18. daebaakkk … crta’y mnyntuh… mskpun d awl smpt kbngungan n ksal jg krn bummpa yg bg2 … tsk… d awl sso eonni sprt d tmptkn pda psisi antgonis yg bkin mris’y tyta kblikan dri fkt’y… stlh mngthui fkt yg bg2 bsr mmpu mluluhkn prthnan air mta ni… mnysakkan.. tak bsa ku byngkn gmn dlu sso eonni mlwati msa” slit sndrian ;(
    sykurlah kni mua kmbli sprt sdia kla…

  19. Aku tidak menyangka kalau soeun adalah kekasib kimbum… nggak nyangka suzy melakukan hal licik seperti itu.. pantas saja suzy ingin mendonorkan jantung nya tetapi tidak jadi karena ada donor yang lebih membutuhkan… benar benar penasaran… di tunggu ff tahun baru lainnya…

  20. Penasaran diawal,sedih ditengah-tengah,bahagia diakhir..
    Bumsso menjadi keluarga yg sempurna dan bahagia dengan 2 malaikat kecilnya..
    Keren, mengharukan..
    Ditunggu ff lainnya SEMANGAT~

  21. Nangis bacanya, kasian sama sso yg kesepian grgr bumppa direbut sama suzy smpe minum alkohol mulu. Bikin greget.. Pkoknya ceritanya keren thor, Smangat untuk karya2 selanjutnya

  22. Sedih banget liat perjuangan cinta mereka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: