BETWEEN YOU AND SHE (part 3 End)

11028681_525746607567149_964554881_o

 

BETWEEN YOU AND SHE (part 3 End)

 

Author                  : Win (Acieh Km)

Main Cast            : Kim Sang Bum, Kim So Eun.

Other Cast          : Victoria Song, Nick Khun, Kim Hyuna, Kim Tae Hee.

Guist Cast             : Bobley Flow, Paul Marrow

Genre                    : Hard, sad, conflict, romance, mature (little), romantic ?

Type                       : Three Shoot

 

Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produser dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.

 

Berjalan dengan wajah yang pudar, itukah yang kau harapkan.. !
Berjalan dengan langkah yang lunglai, itukah yang kau pandang.. !

 

Bencilah aku sesuka hatimu,,

Karena rasa benci jauh lebihku butuhkan dibanding sayatan nada indah yang tidak tertuai !

 

*******——–*******

Jika banyak orang berkata melepas itu mudah, tapi mengiklaskannya yang sulit. Itu kenyataan yang benar adanya. Jika ada ungkapan majas sastra klasik tentang cinta, maka kali ini Kim Bum membutuhkannya. Untuk kali pertamanya Kim Bum membutuhkan sastra itu. Membutuhkan untuk didengar dan diresapi sebagai penghibur lara. Semua berlalu, sekeras apapun untuk dihentikan maka sekeras itu pula gendering kehidupan akan menimpa. Deraian pagi yang indah sudah berlalu hanya tinggal sisihan yang masih kelam. Pria ini sudah meletakkan beberapa botol brendy untuk mengisi ruang, ruang sesak didalam dadanya. “Menikalah jika memang tidak ingin bercerai.” Selalu kalimat itu, kalimat yang mengundang air mata. Kim Bum mengerang, mencoba membuat penolakan dalam geraman. Disisi kanannya terdapat Hyuna yang meminum air putih hangat. Beberapa waktu lalu wanita ini sempat pingsan dan itu membuat So Eun merasa semakin terpukul. “Itu tidak mudah So Eun! Aku bisa membesarkan anak itu tanpa kita harus membahas poligami!.” Kesal Kim Bum dengan pemikiran So Eun. Ia benci dengan dirinya, ia ingin lenyapkan jika memang itu bisa.

So Eun menahan nafas, tercekat dengan keadaan. Malam ini hanya ada mereka bertiga. Hanya ada mereka-mereka yang terlibat duka. “pendeta besok akan tiba. Kalian ingin menikah di gereja atau di rumah?.” Sialan! Kim Bum membanting gelas kaca itu dengan keras. Ia tidak pernah mengharapkan kesialan ini berlanjut hingga mendalam. Ia tidak pernah ingin bertemu pendeta lagi, tidak untuk dirinya! Kedua wanita ini tercekat dikala Kim Bum menarik nafas, ada wajah frustasi yang tersirat namun tidak terjabarkan. “bisakah kau berhenti membahas itu, So Eun! Kau tahu benar menikah tanpa cinta itu dosa! Kau wanita Beragama dan kau paham mengenai pemaksaan dalam pernikahan. Berhentilah egois!!.” Seakan luka yang terbuka kembali disayat dan ditumpahi air duka, terasa sangat menyiksa. So Eun menahan, menahan sekali lagi air mata yang mengalir. Perbicaraan yang konyol penuh kemunafikan. So Eun mengangkat tangannya dan memberikan satu usapan lembut diwajah Kim Bum. Memberikan ketenangan atas luka yang dialami Kim Bum.

Usapan yang terasa sangat hangat, usapan yang membawa nagin surga. Kim Bum menahan nafas sekian waktu, mencoba mengerti maksud usapan. “ Aku tidak membenci mu jikapun kau menikah lagi. Aku tahu kau mengharapkan seorang putera. Aku rela, percayalah itu.” Hal apa yang akan diucapakan ketika lontaran itu terlepas? Katakan pada Kim Bum hal apa yang pantas untuk diloloskan dari bibirnya. Dimata teduh ada keiklasan yang tidak tersirat, dimata teduh itu ada sebuah senyuman yang seolah mencaci maki. Kim Bum akhirnya meneteskan air matanya. Merelakan air matanya pergi terbebas dari pelupuk mata. So Eun, isteri yang selalu ingin dipertahannkan pada akhirnya menunjukkan sebuah keputusasaan. “Bob dan Mom akan membunuhku jika itu terjadi.” Seru Kim Bum tetap menggenggam jemari So Eun yang berada dipipinya. Setidaknya jika tidak ada pelukan, sapuan jemari pun sudah begitu berarti. “Bob sedang diluar negeri bersama Mom. Dan aku rasa Victoria tidak akan memarahi mu. Tuhan telah mengatur keinginanmu.” Keinginan sialan! Kim Bum menggeram begitu keras didalam sukma. Hyuna yang sedari tadi tidak bersuara akhirnya membuat suara desahan kecil. Wanta tinggi ini terlihat kusut. So Eun melepas tangannya dan menarik pergelangan tangan Hyuna, mendekatkan kehadapan Kim Bum.  “Aku minta maaf So Eun.. Aku..”

“Tidak perlu mengatakan kata maaf. Besok menikahlah aku merestui kalian berdua. Doaku menyertai kalian.” Kim Bum tertawa keras, tawa yang membuat air mata deras. Sebuah tawa yang begitu keras mampu didengar walau jarak kalian cukup jauh. Sebuah suara keras seperti menghina. Suara tawa bajingan yang kalah telak akan kenyataan. So Eun menunduk, membiarkan tawa Kim Bum terbang bebas keudara. Tawa semakin keras ketika So Eun menarik tangan Hyuna dan Kim Bum untuk menyatu, dan pada akhirnya Kim Bum pasrah. Sebuah rasa akan baik jika kau menurut. Tapi sebuah rasa akan hancur ketika kau menuruti dengan keterpaksaan. Kim Bum melepas tangannya, membalikkan tubuhnya dan tawa diudara berhenti. “Jangan salahkan aku jika aku tidak adil!.” Suara singkat melambung tinggi. Sebuah suara yang rapuh. So Eun kembali menunduk, menatap serpihan gelas kaca ternyata lebih sejuk dibanding menatap serpihan luka. Malam ini adalah malam yang berbintang dan angin menyejukkan. Tapi malam ini tidak tenang, semua penampakkan malam tidak tenang. Kim Bum harus melakukan apapun untuk mempertahankan So Eun, sekalipun itu harus menikahi Hyuna! Sekalipun ia harus menuruti keinginan So Eun. Dan malam ini sebagai seorang yang membenci sastra, Kim Bum sangat membutuhkan rangkaian konotasi bermakna. Ia butuh itu! Ia butuh untuk keindahan! Pada kahirnya ia harus memilih kedua wanita itu.

 

——–******——–

Bobley, satu-satunya pria yang menjadi saksi pertumbuhan Kim Bum, satu-satunya pria yang menjadi saksi atas luka yang Kim Bum alami selama bertahun dinegara Asing. Hanya Bob yang selama ini menjadi saksi yang bisu. Matanya yang tidak pernah berderai, terpaksa harus merembes. Detakkan jam berpadu dengan lonceng besar dipagi hari menyeruak, menembus lapisan telinganya yang tipis. Bob menyaksikan pernikahan Kim Bum dengan wanita lain. Ia ingin sekali membunuh Kim Bum dengan pedang mengkilap, tapi itu hanya akan menambah luka dan duka baru. Ia merasa rapuh dan gagal total menjadikan Kim Bum tumbuh seperti Kim Nam Gil, sahabat dekatnya. Seorang pria Korea yang rela mantan isterinya dinikahinya ketika jasad damai terkubur.

Pagi ini ia bermaksud untuk mengunjungi rumah Kim Bum untuk mengajak Hannah pergi. Tapi melambungnya ucapan janji mengiris raga. “Mom, aku benci Dad ingkar janji!.” Yah! Bukan hanya Bob yang membenci, tapi gadis kecil yang duduk. Menyaksikan ayahnya bertukar cincin itu memuakkan. “Daddy tidak ingkar janji. Daddy pria yang sangat bijak, kau harus percaya itu.” bajingan dengan ucapan! Bob mengepalkan kedua tangannya. Jika lonceng itu kecil, maka Bob ingin mengambilnya dan melempar tepat kedepan altar. Bob masih berdiri dibelakang So Eun yang sedang duduk dengan Hannah. Bob diam-diam menolehkan wajahnya menatap So Eun. Ada satu garis dikening wanita itu, So Eun menahan tangis! Sekali saja wanita itu melepaskan kerutan kecil itu maka hancurlah pertahannya untuk kuat. Bob maju satu langkah dengan suara agar mereka mendengarnya. “Bob!.” Pekik Kim Bum ketika baru berbalik setelah mencium kening Hyuna. Disaat itulah So Eun baru mengerti, mengerti betapa sakitnya dulu Hyuna menyaksikan pernikahannya dengan Kim Bum. So Eun baru sadar sesakit inikah ketika dulu Hyuna menyaksikan dan mendengar janji yang murni, sangat sakit sekali.

“Kenapa tidak mengundang Mom dan Aku, bajingan?!.” Satu kalimat tanpa emosi hanya datar. Kim Bum tersenyum kecil. Senyuman meminta maaf pada Bob, senyuman yang mewakili kegagalannya untuk menepati janjinya, janji untuk tidak mengecewakan. Dulu hanya Bob satu-satunya orang yang membantu agar Tae Hee merestui pernikahannya dengan So Eun, tapi saat ini apa! Kim Bum merusak itu semua! “Aku banyak menyediakan bir. Mom, terima kasih.” Ucapan menjijikan yang tolol. Nick Khun bersedekap, menatap arah lain. Saat ini Nick Khun dan Victoria berdiri disisi So Eun. Tampak jelas wajah Victoria yang sembab. “Bir? Aku butuh janji mu dulu, bung! Inikah kisah akhir seorang bajingan? Memiliki dua isteri yang luar biasa cantik.” Sindiran keras yang membentur hati. Hannah, gadis kecil ini memilih memasang headshet diponselnya dan memilih lagu natal.

Anak kecil ini berharap ini adalah pertunjukkan drama natal yang tegang. Gadis kecil ini menangis diam walau lagu yang dilantunkan adalah lagu bahagia natal. “Kenapa kau mengecewakan.” Seru Tae Hee tertahan. Dulu memang ia tidak menyukai pernikahan So Eun dan Kim Bum. Dulu ia membenci pasangan itu. Tapi semua tergantikan ketika melihat betapa So Eun tegar disisi Kim Bum, tegar walau jatuh terpuruk sekalipun. Tae Hee kini tidak lagi membutuhkan orang baru dalam keluarga, tapi apa! Sekali lagi apa!! Kim Bum membuat pertunjukkan dramatis dipagi hari dengan lantunan lonceng. “Mom, Kim Bum tidak mengecewakan. Aku rasa aku baik-baik saja untuk berbagi.” Betapa rusaknya kalbu dengan lepasnya kalimat So Eun. Tae Hee menatap mata So Eun dengan tangis. “Aku yang berdosa menghamili Hyuna. Aku akan menjadi pria adil, sebisa mungkin aku lakukan.” Melayang ucapan itu maka melayang pula tamparan keras dari Victoria. Ia benci poligami! Sangat membenci itu semua. Semua terdiam, bahkan pendeta memilih keluar ruangan.

“Mudah ucapanmu, brengsek! Buktikan jika kau mampu adil!.” Pekik Victoria mendapatkan tatapan sendu dari semuanya. Nick Joo yang mendengar dan melihat memilih duduk dan memejamkan mata, mungkin tidur akan membawa mimpi yang indah, pikirnya. Dalam suasana yang menekan dada, Hyuna tiba-tiba terjatuh dan berlutut, meminta sebuah kesempatan untuk tenang. “ini semua salahku! Aku mohon jangan lagi memperkeruh. Aku yang salah. Maafkan aku menjadi orang baru dalam hidup kalian semua.. maafkan aku.” Kim Bum memejamkan matanya kuat-kuat. Mengapa tidak dirinya mati saja malam itu, mati tertabrak mobil atau dibunuh suami orang mungkin.

Lepas ucapan Hyuna maka lepas pula ketegangan mereka semua. So Eun terduduk lemas. Hatinya sangat teriris membagi suaminya untuk wanita lain. Mulai saat ini So Eun harus merelakan hatinya yang egois, harus rela membagi cinta suaminya. Sekali lagi So Eun melepas air matanya, melepas satu garis kerut didahi. “Aku mencintaimu So Eun. Selalu.” Bisikan kecil menyeruak dan tidak akan tersampaikan. Kim Bum menundukkan wajahnya, menyaksikan cincin yang berlapis. Tenang, setidaknya tidak ada lagi sindiran seperti lalu. Lonceng tidak berdenting lagi karena angin tidak berhembus. Semua terdiam dan Kim Bum meluruskan matanya pada Hannah, puteri kecilnya yang lahir dari percintaanya dengan So Eun. Kembali tatapan Kim Bum kepada So Eun, tatapan rapuh dan pasrah menebar bebas kealam. Bairlah duka itu berlanjut, asalkan bersama mungkin nanti bisa saling memperbaiki. Kim Bum dan So Eun saling melemparkan senyum, senyuman pahit yang siap untuk rela berbagi.

 

——-******——-

Kadang luka yang kau bayangkan akan sembuh dengan sendirinya, justru akan membesar dengan lajuan waktu yang tidak terkendali. Bahkan juga dengan kenyataan yang kau pikir akan indah dengan sendirinya, justru harus runtuh dikala usaha dinyatakan sia-sia. Pagi tidak berawan tebal, tidak juga berterik terang. So Eun membuka lemari es yang kosong. Dulu jika lemari es kosong ia akan biasa saja, mungkin akan mengumpat. Tapi kali ini berbeda, kali ini tidak lagi akan sama. Kim Bum tidak akan ada waktu mengajaknya makan diluar, Kim Bum tidak akan memiliki waktu seperti dulu untuk mencegahnya berkutat didapur, atau hanya menuang selai kacang yang menyengat. Adakalanya seseorang berubah ketika Tuhan memberikan kepercyaan lebih. “AKu lupa membeli sebotol susu. Mungkin aku akan membelinya saat pulang kerja.” Ujar Kim Bum dengan suara serak yang baru bangun. Tangan kekar suaminya melingkari pinggangnya. Tangan yang sudah berbagi dan tidak lagi utuh. “tidak perlu. Mungkin kau harus membelikan susu untuk Hyuna, bukan untuk diriku dan Hannah.”

Cukup kalimat itu yang mampu So Eun rangkai. Kalimat yang harus dipaparkan dengan setulus mungkin. Dua minggu telah berlalu, dua minggu yang menyeruak tidak pada tempatnya. Kim Bum mempererat tangannya, ia ingin mengabarkan dirinya telah salah melangkah. Sialan! Memang itu kenyataannya. “Kau tidur nyenyak semalam? Apa Hannah mengeluh?.”Soerang ayah yang bertanya dengan nada serak lagi. So Eun tersenyum getir. Nyenyak, yah tentu saja nyenyak. Tapi nyenyak dalam balutan kehitaman. “Tentu. Bagaimana dengan mu dan Hyuna, kalian pasti berhangatan semalan.” Jika saja Kim Bum bisa menghancurkan salah satu diantara mereka, maka ia tidak akan ragu melakukannya. Semalam Kim Bum tidak tidur, ia hanya terjaga dengan memeluk Hyuna, isteri barunya! Memeluk pinggang wanita itu, memeluk dengan kenyataan bagaikan pasir yang terinjak kaki berdosa.

Mom! Kau akan mengantarkan diriku sekolah bukan?.” Hannah bersuara keras. Membuat Kim Bum yang hendak mencium tengkuk leher So Eun membatalkannya. Ada siratan tidak suka dimata anak kecil ini. Sorotan menuduh Kim Bum menyakiti hati. Yah, itu benar. Kim Bum melepaskan tangannya, mencoba memberi ruang antara mereka. “Kau sudah rapi? Mom minum sebentar yah.” Seru So Eun meneguk air dingin itu. Dulu.. bolehkah ia membayangkan dulu? Dulu dikala dirinya meneguk air dingin dipagi hari maka Kim Bum akan mengoloknya, mencibir dan memecahkan gelas. Tapi sekarang, biarkan itu menjadi suatu angan-angan yang indah. So Eun meletakkan gelas dan bersiap melangkah keluar. “Kau tidak sarapan? Kau bisa membuat roti dengan selai kacang kesukaanmu itu. Jika kau mau, ada selai di lemari atas.” Yah! Membuat roti itu mudah, hanya prosesnya yang memakan rasa. Biarlah peran ratu dulu sekali lagi menjadi dambatan indah.

So Eun tersenyum kecil. Membelai dagu Kim Bum yang mulai ditumbuhi rambut halus. “Aku tidak sempat. Sampaikan salamku pada Hyuna jika ia sudah bangun nanti. Dia sedang hamil, harusnya kau lebih perhatian padanya bukan padaku.” Kim Bum mengepalkan kedua tangannya. Selalu seperti itu! Selalu Hyuna yang harus Kim Bum utamakan. Sudah satu Minggu Kim Bum tidur bersama Hyuna dan itu menjawab semua luka yang tidak tersirat. Kim Bum menggenggam tangan So Eun yang masih mengusap rahangnya. “berhati-hatlah mengemudi. Tidak perlu beli susu biar aku yang membeli untuk Hyuna. Malam ini aku..” Apa?! Malam ini apa? Kim Bum menghentikan ucapannya ketika matanya menatap Hyuna yang pucat berdiri berpegangan pada dinding. So Eun menunduk sekilas, menyembunyikan tarikan nafas tercekatnya. “Maaf aku menganggu kalian. Aku hanya mual dan butuh segelas air hangat.” So Eun menurunkan tangannya dari rahang Kim Bum perlahan dan mengangkat dagunya setinggi mungkin, menyelipkan rambutnya kebelakang telinganya. Senyuman kecil ditunjukkan So Eun pagi ini. Pagi yang tidak akan tersambut oleh angin.

“Tidak, kami hanya menyapa. Aku pergi dulu. Kau bisa minum air hangat sesukamu. Aku rasa Kim Bum akan membantu.” Sekali lagi So Eun tersenyum. Ia hanya bisa memberikan senyum setiap harinya. Kata-katanya terlalu kering jika tidak diimbangi senyum. Kim Bum menatap arah lain, membuka lemari es dan meminum air dingin dari gelas bekas So Eun tadi. Mungkin dengan satu gelas itu dirinya bisa merasakan bibir So Eun. Membayangkan bibir yang tidak lagi menjadi ratunya. So Eun sudah pergi dan Hannah sama sekali tidak mengucap salam perpisahan untuk Kim Bum. Anak itu tahu benar Kim Bum berkhianat, usia tidak membatasi kepekaan setiap insan. “Kembalilah ke kamarmu, aku akan mengambilkan air hangatnya.” Ada senyuman getir dibibir Kim Bum. Hyuna mengangguk kecil dan berbalik. Ada hembusan nafas tertahan dirongga dada setiap pernafasan Hyuna. Entahlah mengapa, ia seperti mendapatkan naskah peran antagonis disini. Kim Bum mulai mengambil gelas bersih, menuang air hangat dan menghembuskan nafas keras. “bajngan yang menjijikan!.” Hardiknya untuk diri sendiri ketika baru menyadari dapur begitu rapi. Mungkin peran So Eun saat ini adalah simpanan raja, bukan ratu utama dalam kisah.

 

——-******——-

Jepitan kecil berbulu bertebaran kesana-kemar ketika udara berubah. Sapuan angin berhembus lebih kencang diawal musim. So Eun berjalan bergandengan dengan Hannah. Berjalan melewati pesisiran pohon pinus yang jarang tumbuh di daratan Korea. Ada beberapa pohon lainnya yang rindang menemani jalannya. “Mom, kenapa Daddy jarang tidur dengan kita? Aku benci wanita itu!.” seru Hannah membuat So Eun tersenyum sekilas. Selalu tersenyum. Terlihat tolol memang, tapi itulah kenyataannya. “Hyuna tidak jahat sayang. Daddy mu sayang pada kita semua.” seru So Eun masih menggenggam tangan mungil puterinya. Tapak demi tapak mereka lalui. Melewatkan setiap pemandangan yang berarti. Mereka bahkan mengabaikan sapuan dedaunan yang runtuh.

Hannah membenarkan rambutnya, mencoba tidak merenggut tangan ibunya untuk berhenti melangkah. Senja belum sepenuhnya hadir. Matahari masih cukup tinggi dilangit. Lagi pula belum ada cakrawala berwarna merah kemerahan, masih ada warna oranye dihamparan langit luas. “Tapi Daddy melupakan aku! Dia tidak tidur dengan kita selama satu Minggu lebih, Mom! Daddy lebih menyayangi wanita itu!.” Ternyata Hannah menghitung, menghtung hari tanpa kehadiran sang ayah. Menghitung dengan sabar walau itu menyakitkan. So Eun terus melangkah, menggandeng tangan yang kesepian tiap harinya. Hari ini hari Minggu. Hari libur pagi pekerja keras. Tiada Kim Bum, tiada sosok itu! Mereka hanya berdua menikmati detik-detik senja yang akan hadir. Menikmati detik tenggelamnya sang surya. “Hyuna sedang hamil adikmu, sayang. Jangan bicara seolah Daddy mu jahat, okey!.” Yeah! Terserah saja. Hannah sudah tidak peduli lagi dengan kenyataan itu. Ayahnya brengsek! Mungkin lebih brengsek dai cerita pangeran gelap yang diceritakan Nick Joo sebelum kehadiran Hyuna.

Whateva! I mad, Daddy. Aku lebih suka kita tetap di Seattle. Disana banyak salju. Salju lebih dingin tapi tidak melukai. Disini hangat tapi sangat memperburuk hati.” So Eun mendesah dan menampilkan senyum tolol itu lagi. Anak kecil ini mampu membuat kalimat yang mengutamakan hati, dibanding sejuknya alam dan mentari. “Berhentilah membahas Seattle.” Ah, yeah! Selalu kalimat itu yang dibahas So Eun jika Hannah mulai mengungkit salah satu kota di Amerika itu. Mungkin kenangan di Seattle begitu mencekam melebihi badai salju di Rusia. Mereka melanjutkan langkah, melewati kembali jajaran pohon pinus yang menjulang. Langkah So Eun terhenti ketika sebuah tangan menggenggam pergelangan tanganya. Telapak tangan lembut menembus pori-pori terbuka miliknya. “Hei, kalian hanya berdua?!.” Suara hangat Nick Khun terdengar. Ada Nick Joo yang sedang membidik gambar dari kamera kecil yang menggelantung dilehernya. “Daddy bukan penikmat Minggu.” Seru Hannah malas dengan pertanyaan itu. Nick Khun tertawa kecil dan mengelus kepala Hannah dengan sayang.

“Jangan begitu. Aku juga hanya berdua. Victoria sedang bersama Tae Hee. Dua wanita itu sibuk sekali.” So Eun mengangguk. Senyuman Nick Khun terlalu cerah padahal ini bukan fajar. “Berposelah dekat pohon itu, aku akan menjadikan dirimu model cantik.” Seru Nick Joo tiba-tiba kepada Hannah. Ia membawa Hannah menjauh dari So Eun dan Nick Khun. Mereka menikmati suasana pinus. “Wajahmu cekung. Kau masih oke?.” Nick Khun mengusap pipi So Eun yang berkeringat. Keringat akibat jalan tanpa henti, mungkin. “Aku..aku terkadang tidak tahu harus berkata apa.” Seru So Eun. Ada nada getir yang melibihi suara tangisan. Waktu memang jahat, tidak dapat berhenti bagi para peluka. Tapi ksah lebih jahat, tidak akan memilih siapa yang menjadi pemeran. Nick Khun menghembuskan nafas sedikit. Jika ia diijinkan, Nick Khun lebih memilih So Eun dan Kim Bum tidak pernah bersama. Bukan, bukan maksud untuk berantagonis. Nick Khun hanya tidak ingin detik-detik senja ini terasa seperti detik-detik penghakiman di neraka bagi So Eun. “Aku paham itu. Kau pasti jarang makan. Beritahu aku jika ingin sesuatu. Atau beritahu Victoria jika kau ingin bercerita. Victroria bisa menjaga tutur kata. Lisannya jauh lebih bermakna kini.” So Eun tersenyum dan tanpa sadar menjatuhkan kepalanya didada Nick Khun. Tuhan.. Hati So Eun sangat lelah. Melihat Kim Bum setiap paginya bersuara serak di dapur dan setiap malam menutup pintu kamar tanpa Kim Bum. So Eun tenggelam dalam dada itu. Menekan air matanya.

“Maafkan aku So Eun. Aku tidak bisa berbuat banyak. Tapi aku sangat tersanjung kau memanfaatkan dada dan bibirku untuk menghiburmu.” Seruan tertulus yang sudah lama So Eun tidak dengar. Ada rasa yang mengembang disana, rasa dimana teringat kembali kisah merah muda itu. Belakangan ini memang So Eun dan Nick Khun sering bertemu. Sering bertukar kisah, sering memeluk untuk menenangkan jiwa bagi raga yang lelah. Semua tanpa sepengetahuan Kim Bum. So Eun dan Nick Khun pernah diam-diam bertemu. Bertemu untuk membicarakan resah dihati. “Senja akan segera datang. Apertemenku dekat dari sini.” Seru Nick Khun mengangkat kepala So Eun sekilas dan mengcup bibir So Eun sekilas. Ya Tuhan!! Apa yang dilakukan Nick Khun! So Eun mengerutkan keningnya ketika Nick KHun mengecup bibirnya. Sialan! Itu membuat So Eun menunduk dan terbeban. “Maaf. Aku hanya ingin membuat bibirmu hangat. Kau terlihat pucat.” Seru Nick Khun merasa bersalah. So Eun mendongak kembali, lagi-lagi senyuman tolol itu kembali hadir.

 

——–******——-

Pada kahirnya So Eun dan Hannah berkujung ke Apertemen Nick Khun karena hujan turun dengan lebat. Di apertemen itu So Eun terpaksa menjadi boneka pajangan yang cantik namun tidak banyak bergerak. Sekali lagi kecupan dibibir didaratkan Nick Khun ketika So Eun hendak pergi dari Apertemen. Nick Khun selalu berkata tenang dikala kecupan itu terlepas “bagi seorang pria kecupan bibir tidak ada artinya, kecupan didahi menjawab hati setiap pria yang tulus.” Kalimat yang ringkas menjawab arti kecupan bibir. Kecupan yang tidak berarti apapun namun memberikan suatu guncangan bagi wanita yang bahkan tidak menginginkannya. Biarlah ia pulang bersama hujan, So Eun tidak ingin Kim Bum berpikiran yang buruk jika dirinya pulang larut. Tapi tunggu dulu, itu tidak lagi penting. Hubungan So Eun dan Kim Bum mulai renggang ketika dua hari yang lalu Bob dan Tae Hee datang kerumahnya. Bob lebih memilih langsung bermain dengan Hannah begitu pula dengan Tae Hee. Kim Bum seperti tidak lagi merasa memiliki orang tua.

Bob dan Tae Hee tidak lagi peduli dengan kisah Hyuna. Keadaan rumah sedikit sepi hanya terdengar suara televisi menyala ketik sampai rumah. So Eun menggendong Hannah yang tertidur dan meletakkan dikamar. “kau baru pulang? Hebat sekali.” Kalimat sialan meluncur tidak menyenangkan dari bibir Hyuna. Pernikahan ini sudah berjalan tiga bulan, dan inilah sifat asli Hyuna. “kau bisa lihat, diluar hujan dan aku mengendarai dengan hati.” Seru So Eun melepas jaketnya lalu menuju dapur. “Kim Bum akan pulang malam. Dia menghubungiku beberapa menit yang lalu.” Seru Hyuna dengan suara yang cukup menyakinkan. So Eun tidak tersenyum, kali ini senyum tololnya tersimpan. Ia hanya menahan nafas sejenak dan menekan sesuatu yang menyakitkan direlung batin. Tidak ada lagi telepon dari Kim Bum untuknya. Dan So Eun seharusnya tahu diri. Ia tidak perlu tersenyum bukan, tidak ada hal yang perlu ada yang disenyumi.

“Kau istirahatlah. Aku akan mencuci piring ini. Jaga janinmu.” seru So Eun mulai membasahi piring kotor. Biarlah perannya bergeser, peran ratu itu kini tidaklah lagi penting bagi So Eun. Membuat roti sela kacang, mencuci piring, membuat salad Perancis tidak sulit. Untuk apa peran ratu rumah takut digeser. Hyuna mengendikkan kedua bahunya melihat sekilas ponselnya yang bergetar lalu memasukkan kembali kedalam saku baju tidurnya. “Aku bantu cuci piring. Kau gantilah baju. Kau bisa sakit.” Seru Hyuna. Ada suara yang tidak So Eun pahami disetiap katanya. Ada melodi yang jauh dari protagonis. So Eun membersihkan tangannya dan hendak pergi mengganti baju.

Selagi So Eun berganti baju, Kim Bum hadir dengan kerah bajunya yang kusut, rambutnya basah terkena hujan malam. Matanya pun sedikit tidak fokus memandang. Pria ini sepertinya lelah. Kim Bum melihat Hyuna membersihkan piring seorang diri sedangkan perutnya sudah mulai membentuk. “Dimana So Eun? Kau malam-malam masih berkutat, tidak lelah?.” Suara itu biasa saja, tidak ada kesan untuk memuji kerajinan isteri. Namun bagi Hyuna itu adalah sebuah apresiasi yang patut untuk dibanggakan. Hyuna membalikkan tubuhnya dan menatap Kim Bum yang baru saja meminum segelas brendy hangat. “Dia sedang bersantai. Dia bilang malas untuk melakukan ini. Tadi pagi juga dia pergi dengan Nick Khun. Well, maafkan aku. Temanku yang tinggal dekat dengan apertemen Nick Khun melihat mereka berdua ciuman.” Sialan! Kim Bum mengerutkan keningnya keras. Belakangan ini itulah yang membuat Kim Bum gerah dan menghindar dari So Eun. Kim Bum berpikir So Eun akan menyadari sikapnya yang kurang ajar. Tapi apa? Sekali lagi itu sangat brengsek! Foto-foto So Eun bersama Nick Khun bersebaran dari Paul selama beberapa hari berturut-turut. “Jangan mengada-ada! So Eun memang sempat menjalin kasih dengan pria itu. Tapi Nick Khun sudah menikah. Dan So Eun setia. Jaga saja paparanmu itu.” seru nya. Namun Hyuna kembali menatap Kim Bum dan mendesah sedih.

“Sulit memang menghadapi kenyataan.” Serunya membalikkan telapak tangannya dengan sengaja. Disana Kim Bum melihat telapak tangan itu kasar, sangat kasar seperti pembantu yang bekerja jaman penjahahan. “Kenapa? Apa yang kau lakukan sampai seperti ini?.” Tanya Kim Bum merenggut telapak tangan itu. Ada satu goresan kecil dipergelangan tangan Hyuna. Wanita itu bungkam, bahkan tambah bungkam ketika Kim Bum menatapnya keras. Wanita itu bergetar, mengigil menahan ketakutan. “Kenapa?!.” Teriak Kim Bum cukup keras hinga jakunnya bergetar. Hyuna menunduk, memejamkan matanya kuat-kuat sebelum memutuskan bicara. “So Eun memintaku untuk membersihkan rumah. Ia selalu berkata ‘jangan karena hamil jandi wanita malas.’ Aku berpikir itu benar. Maafkan aku, aku tidak bermaksud membuat So Eun terlihat buruk dimatamu.” Ya Tuhan!! Kim Bum menghempaskan tangan Hyuna. Tidak! So Eun lembutnya tidak mungkin setega ini. Tapi ini kenyataanya! Melihat Hyuna membersihkan dapur dimalam-malam yang hujan dengan keadaan hamil, bukti apalagi! Sialaaan! Nafas Kim Bum tercekat ditenggorokkan ketika mendengar derap kaki ringan yang meradang. Derap kaki mungil yang dulu ia dambakan untuk menghangatkan sentuhan. “Oh, kau sudah pulang Kim Bum.” Kim Bum membalikkan tubuhnya, matanya tersayat melihat So Eun yang begitu mungil dengan baju tidurnya. Rambut wanita itu tergerai indah. Rambut yang panjang dan tidak berubah dari awal mereka dulu berkenalan. So Eun mengerutkan alisnya sejenak sebelum memutuskan melangkah mendekati diri Kim Bum. Ada nanar! Yah, mata Kim Bum terlihat nanar dan tangan kanannya terangkat, memaksa So Eun terhenti dan membuat Hyuna mendongak.

“kenapa kau melakukan ini So Eun? Kenapa kau menjadi begitu buruk terhadap Hyuna?.” Nada yang diharapkan So Eun akan melambung seperti seruling bambu indah, justru seperti biola yang kehilangan satu senarnya, sumbang dan sangat buruk untuk didengar. “Apa? Aku melakukan apa?.” Jika Kim Bum ingin melakukan sesuatu, maka yang ingin Kim Bum lakukan adalah membidik pistol dan memecahkan kepalanya sendiri. Ia tidak mungkin menuding So Eun tanpa bukti. “Kenapa kau membuat Hyuna menderita!! Kau iri padanya karena ia mengandung janji laki-laki yang aku harapan? KENAPA KAU MENYIKSANYA?!.” Teriak Kim Bum membuat So Eun berpegangan pada dinding. Dinding yang sama yang pernah dipegang Hyuna pagi itu. Kim Bum mengeluarkan amplol coklat muda dari sakunya dan melemparkannya pada So Eun. Melemparkan tepat kewajah So Eun, tidak lagi peduli jika wajah wanita itu akan ternoda kertas. “Aku? Aku apa katamu?.” Pecahlah air mata, air mata yang tidak ingin dilihat Kim Bum akhirnya mengalir dimata So Eun.

So Eun berselingkuh! Itulah fakta yang ditunjukkan Kim Bum saat Paul Marrow memfoto semua kegiatan So Eun dengan Nick Khun selama ini, bahkan ciuman Nick Khun malam ini di apertmen pria itu. Dengan tangan kecil yang rapuh, So Eun berusaha kuat membuka foto itu. Membuka dan melihatnya dan langsung terlepas jatuh. Bertebaran tertiup angin yang meremukkan segalanya. Kim Bum tersenyum sinis, menunjukkan betapa terlukanya pria itu melihat sikap So Eun selama ini. “kenapa So Eun? Kenapa kau buang foto itu? terkejut perselingkuhan mu terbukti? TERKEJUT PADA AKHIRNYA KAU BUKAN HANYA BERSELINGKUH TAPI MENYIKSA IBU DARI CALON ANAKKU!!.” Lebih baik tamparan keras yang merobek bibir dari pada sentakkan kalimat yang merobek kalbu. So Eun maju selangkah, udaraya tiba-tiba hilang saat menatap mata Hyuna dan Kim Bum bergantian. Tangannya gemetar saat terangkat. Ia mencoba membuktikan bahwa dirinya kuat, sekuat rambutnya yang tidak goyah tertiup angin malam. “Aku tidak melakukan itu pada Hyuna! DIA YANG MELAKUKAN ITU PADAKU!!.”

Akhirnya harapan So Eun terkabul, harapan untuk mendapatkan tamparan yang merobek bibir. Kim Bum akhirnya mengangkat tangan, melukai wanita mungil yang dulu menjadi alasan ia hidup. Melukai So Eun yang kini tidak lagi bersuara. “Hyuna adalah orang baik! KENAPA KAU MENYIKSANYA!.” Kembali, selain luka fisik So Eun harus merasakan sengatan atas ucapan. Air matanya berhenti, tapi bibirnya tidak akan pernah lelah bergetar. So Eun menjauh selangkah dan menunjuk wajah Hyuna. “Aku tidak rela kau membelanya, Kim Bum! Aku yang selama ini menemanimu disaat ka hancur!! Kenapa kau membelanya!!.” So Eun berteriak dan mendorong bahu Hyuna.

So Eun merasa sangat muak, ia selama ini bertahan dengan sifat dingin Kim Bum ketika gila bekerja, bertahan disaat Kim Bum mengalami kehancuran harta, bertahan ketika Tae Hee mencacinya dengan kata-kata tengik. Tapi apa! So Eun tidak bisa terima ini semua! “Kenapa kau membalikkan fakta, So Eun. Aku tahu aku yang merusak rumah tangga kalian. Maafkan aku..” Hyuna menghetikan kalimatnya, telinganya yang bergetar membuat mulutnya bisu seketika saat Kim Bum membating satu botol minuman alkohol. “Diam kau Hyuna! Kau maniak!.” Tuhan.. sekali lagi So Eun mundur satu langkah ketika Kim Bum menarik kasar tubuh So Eun dan menamparnya keras. Biarlah berderai, itu lebih baik sebagi bukti luka pengkhianatan. “Kau yang maniak! Kau berselingkuh dengan suami kakakku! Dan kau melukai Hyuna!.” So Eun mundur menjauh, tertawa tolol. Kini bukan senyuman lagi, tapi tawa yang terbang bersama ketololan keadaan. Ia lepas sifat lembutnya menjadi sifat bodoh dengan tawa keras tidak bermakna. Air mata sudah tidak berguna lagi untuk meratapi kisah ini, tidak ada lagi suara getir luka untuk malam ini. Hanya ada tawa keras seperti badai salju. Sekali lagi So Eun mengangkat tangan kanannya dan tangan kirinya menekan dada kuat-kuat. Menyakinkan dirinya untuk bisa bernafas.

“dengar.. dengarkan aku tuan Kim Sang Bum yang terhormat. Aku.. Kim So Eun, wanita yang kau katakan melukai wanitamu, yang kau katakan berselingkuh ini.. ingin menanyakan keputusanmu.” Seru So Eun tidak lagi sanggup mengemis kepercayaan dari Kim Bum. Seperti inikah dulu ketika Kim Bum mengemis kepercayaan darinya. Tapi ini sangat menyakitkan, tanpa pembelaan! Kim Bum terdiam. Nada So Eun sudah pasrah, dan Kim Bum memalingkan wajahnya kedinding, membiarkan tatapannya terurai dibenda mati itu.

“Sekarang.. pilih aku atau dia? Pilih Kim So Eun atau.. atau Hyuna?.” Kim Bum mengepalkan kedua tangannya. Matanya tanpa sadar melihat foto So Eun yang berciuman dengan Nick KHun. Dilantai itu matanya kembali nanar, hatinya yang tadi bergemuruh seakan goyah dan kembali keras. Dengan kekuatan penuh dan tekanan pada genggaman tangannya, Kim Bum menatap mata almond itu. Mata almond yang ia dapatkan dengan susah payah dan akhirnya harus melukainya. “Hyuna! Aku memilih wanita manisku!.” Jika memang pada akhirnya nama itu yang akan menjadi akhir dalam kisah ini, maka So Eun sebaiknya dulu bercerai saja. Maka sebaiknya dulu So Eun tidak mememuhi keingin Kim Bum untuk tidak bercerai. So Eun menaikkan dagunya dengan setinggi mungkin sampai sepasang matanya menatap langit-langit rumah. Sampai matanya tidak berderai seperti yang lalu. Nama itu telah terlepas dan So Eun tetap menjaga pandangannya pada langit-langit rumah. Membiarkan air matanya kembali masuk. Hingga detik berlalu menjadi menit, So Eun menurunkan kepalanya. Menatap Kim Bum dengan senyuman kecil. “Baik, kita bercerai!.” Kini gantian tawa Kim Bum yang meledak. Dulu dengan susah payah Kim Bum bersumpah agar kata itu tidak terucap, kini kembali terucap. Kini kembali melambung dengan nada yang tenang.

“Brengsek! Jadi selama ini kau benar-benar ingin becerai untuk bersama pria tengik itu! Oke! Pergilah ke neraka bersama pria bajinganmu!.” Hyuna yang diam terkesiap dengan tuturan Kim Bum begitu pula dengan So Eun. Kembali Kim Bum menatap mata So Eun, menatapnya seolah So Eun adalah Tae Hee yang dulu menghancurkan kisah manis ayahnya. Menatap So Eun seperti menatap kebencian iblis pada nyawa yang akan direnggutnya. So Eun berjongkok sejenak. Ia pukul sejenak hatinya dihadapan Kim Bum. Ia tidak kuasa menahan sesak itu. Ia ingin berteriak tapi anak kecil yang ada dibelakang So Eun melihat hal ini. Sejangka waktu lamanya So Eun memukul dadanya yang sesak hingga akhirnya So Eun kembali berdiri. Menarik nafas kuat-kuat, menahan rahang agar tidak tersentak.

“Terima kasih atas kisah yang kau berikan padaku selama ini, Tuan Kim Sang Bum. Oh tidak! Tuan Kim Bum Flow! Kelak.. kelak jika kita bertemu lagi, jangan pernah berlutut dihadapanku. Jangan pernah meminta kepercayaanku lagi! Karena aku.. Kim So Eun, tidak akan memandangmu! Terima kasih atas penghinaan ini!.” Kim Bum hendak menahan pergelangan tangan So Eun yang berbalik dan melangkah, namun langkahnya terhenti saat Hyuna mencegahnya. “Daddy!! Aku membenci mu!!.” teriak Hannah memeluk leher So Eun keika So Eun menggendong anak itu untuk pergi, pergi tanpa sempat memendang lagi. Meleburkan rasa itu setinggi mungkin, mungkin itu keinginan So Eun agar sesaknya berkurang. “Pergi kalian! Pergi yang jauh sekalian!! Persetan dengan kelembutan mu, Kim So Eun!!.” tertutup kalimat itu maka tertutup pula hati So Eun untuk Kim Bum. Terhenti paparan kalimat itu, maka terhenti pula kekuatan So Eun untuk menahan air mata. Lihat.. kisah yang dulu Kim Bum banggakan, kisah yang penuh kata-kata vulgar kesetiaan, kisah yang penuh janji vulgar telah melambung jauh sekali.  Aku bersumpah hanya akan memasuki lubang ini. Pegang janji ku, itu ungkapan tervulgar yang pernah So Eun dengar, kata janji yang harmonis apa adanya ditelinga So Eun tanpa sajak. Besok berhenti memegang pakaian itu! Hanya menikmati waktu ratu, itu saja yang kupinta. Dan inilah kalimat yang sangat diingat So eun, kalimat yang penuh makna disaat Kim Bum untuk pertama kalinya meminta dirinya menjadi ratu dalam kehidupannya. Melebur.. semua melebur diudara dingin dengan rasa yang melambung dan terisishkan waktu jahanam.

Malam ini, langkah itu akan memastikan bahwa akan menyimpan memori kelam ini sepanjang hidup. Dibawah awan hitam tidak berbintang, dipesisir jalan tanpa angin malam. Hanya ada langkah yang tertatih. So Eun terus berjalan, tidak peduli matanya rusak dengan air mata. Didekapnya sang buah hati seerat mungkin. Mencoba menenangkan tangisan anak ini jauh lebih sulit seperti mencoba berdamai dengan pelupuk matanya. Begitu sakit ketika rasa percaya yang selama ini dirinya pertahankan, kini menguak sepenuhnya. So Eun akhirnya berhenti, duduk disebuah halte tidak tertulis. “Astaga! So Eun.” pekikan yang mampu So Eun dengar samar-samar itu terasa meremukkan. Hanya tangis yang mampu So Eun lontarkan, hanya desahan berat ketika kepercayaan yang coba digenggam akhirnya dipaksa lepas. “So Eun..” kini bukan lagi pekikan yang didengar, sebuah suara lirih menyebar. “Nick… Maafkan aku..” Melambunglah kalimat terputus itu, melambunglah setinggi mungkin. So Eun menundukkan kepalanya. Akhirnya teriakan sakit itu menggema. Dan satu yang pasti, pipi wanita itu terasa hangat tatkala air mata tidak akan kunjung redam.

 

——–******——–

Hari ini adalah saksi dimana kehidupan Kim Bum mengalami sebuah kutukan yang tidak akan pernah diduga. Meja kerjanya begitu buruk. Disana jelas ada gambar-gambar wanita yang semalam sudah ia hancurkan dengan lontaran perkata, namun seakan itu tidak akan pernah dipedulikan. “Kau menikmatinya?!.” Ujar sinis Paul tertawa menghujat. Disaat hati itu hancur lebur, sepasang mata barat itu menyaksikannya! Paul sebenarnya tidak ingin memfoto, tapi Kim Bum memaksa. Tiba-tiba Kim Bum berdiri, mengangkat tinggi-tinggi beberapa lembar gambar So Eun dan Nick Khun, melempar tepat kewajah Paul keras. “Lihat!! Aku yang dulu berkuasa dalam wanita, kini wanita itu menjatuhkanku!! Dan kau pikir dia lebih baik dari pelacur yang bersuami?! AKU DISELINGKUHI!!.” Teriak Kim Bum sekeras karang yang tidak bisa dihancurkan ombak.

Paul memandang marah pada Kim Bum. Memandang seorang pria yang telah dibesarkan oleh Bob, pria yang tidak ingin menikahi Tae Hee tapi karena adanya Kim Bum Bob rela menikahi Tae Hee. Nam Gil dan Bob adalah teman semasa kecil, hadirnya Kim Bum yang dibenci Tae Hee membuat Bob merasa kesal. Hingga pada ajal menjemput Nam Gil, pria barat ini harus bisa membuat Kim Bum berada ditangannya, kaena Bob mengasihani Kim Bum! Tapi apa sekarang! Kim Bum mengecewakan Bobley sedemikian hancur. Paul menarik kerah baju Kim Bum, ia tidak peduli jika setelah ini dirinya akan kembali ke Seattle. “Jauhkan tanganmu dari sosok penuh dosa ingkar itu, Paul!.” Pekik sebuah suara terdengar serak. Lebih serak ketika Kim Bum berpekik beberapa saat lalu. Bob! Itu Bobley Flow Kim! Kim Bum menelan ludahnya yang serat, membalas tatapan Bob dengan keras.

Bob berjalan mendekat, memeriksa mata berlensa hitam itu. Memeriksa pupil kenanaran milik Kim Bum. Satu langkah maju maka satu debaran hati semakin cepat. “Jangan pernah menganggap aku ayahmu lagi! Kau.. bukan lagi puteraku! Hubungan kita sampai disini!!.” Lagu tanpa nada dan hanya digambarkan kata-kata, terlepas tegas dari lapisan bibir Bob. Kim Bum tersenyum miring, senyuman bangga, sialan! Bob mencengkram lengan Paul kuat, menahan sesak atas sikap Kim Bum. Paul sudah mengetahui segalanya, hinaan yang terpapar malam yang lalu, begitu pula dengan mereka semua. Kim Bum melonggarkan dasinya dengan santai, menjatuhkan semua kertas yang berhamburan diatas meja dan mulai duduk disana. “Oh, apa aku pernah menginginkan itu? menjadi puteramu bukan suatu kebanggaan, bung!.” Ingat, ingat itu selalu Bob bahwa si brengsek ini begitu angkuh! Paul mendesis dalam hati, atas luncuran sialan.

Kim Bum menghina, tidak! Tapi menghancurkan. Bob mengikuti tawa Kim Bum, mengikuti arah angin membawa kata-katanya terbang. Kali ini Bob mundur, ia akan berhenti sampai disini untuk mendidik Kim Bum. Bob akan mundur dan melupakan jika dulu ia pernah menjadi pelindung pria brengsek ini! Bob mengangguk kecil dan mengangkat tangannya, menunjuk diri Kim Bum dengan tegas. “Kau telah memilih, dude! Jangan mengharapkan maut ketika jam bukan lagi menjadi waktumu, tapi menjadi penghancur setiap detiknya untukmu. Kau hancurkan So Eun itu berarti kau menantang badai.” Maut! Satu kata yang akan seterusnya ditepis bagi seorang Kim Bum. Bob memandang untuk kesekian kali pada pupil mata Kim Bum. Memastikan apakah ini semua hanya mimpi tolol. Namun semuanya sirna sudah ketika suara pintu terbuka keras, terdengar umpatan menjijikan dari seseorang. “Bajingan! Inikah akhir yang kau janjikan!.” Teriak Victoria dengan kilatan kasar berjalan dengan arahan yang tidak dapat ditepis, arahan kekecewaan seorang saudara. Kim Bum terdiam, pria ini terdiam. Senyuman kecil bahkan tidak terlihat walau samar. “Janji tolol itu benar-benar nyata, nyata bahwa memang tolol! CERAI, SIALAN!.” Teriak Victoria mengabaikan jika baru saja lapisan bibirnya melontarkan hujatan. “Dia selingkuh! Tidur beberapa kali dengan suami mu. Oh, itu suatu kenyatan yang memang tolol, Vic!..” Bibir itu segera terkatub disaat Kim Bum mendapatkan pukulan telak dari kakak wanitanya.

“Dan kau tahu..  Dan asal kau tahu jika saja memang benar kenyataanya So Eun berselingkuh dengan Nick, maka aku menyetujui itu! So Eun terlalu indah untuk menjadi isteri laknat seperti mu! Bedebah!.” Seharusnya dari dulu saja kalimat itu terlontar agar tidak menimbulkan efek yang begitu dalam. Kim Bum mendorong kasar bahu Victoria, membuat wanita tinggi itu membentur dada Nick Khun yang baru saja tiba. “Kau.. DIA BERSELINGKUH DENGAN SUAMIMU, VICTORIA! Kenapa kau membelanya!.” Pekikan itu terasa hambar, hambar jika hanya untuk didengarkan. Lunaknya pupil mata maka lunak pula air mata untuk hanyut. Victoria melepaskan kedua angan Nick Khun yang menahan kedua lengannya, mendekati Kim Bum dengan mata menyala. “Karena aku sudah katakan, JIKA SO EUN TERLALU INDAH UNTUK MENJADI ISTERIMU!.” Kali ini, didetik ini Kim Bum berani mengangkat tangannya untuk memukul keras wajah Victoria.

“Sialan! Jika Victoria mengijinkan aku tidur dipenjara, maka aku akan membunuhmu detik ini juga!!.” Teriak Nick Khun mendorong dada Kim Bum hingga menabrak meja. Paul dan Bob hanya terdiam, mereka berdua tidak ingin lagi melakukan tindakan. Kepercayaan yang Bob berikan untuk Kim Bum melayang terlalu jauh, diabaikan!. “Kalian semua benar-benar brengsek, sama seperti wanita itu! Silakan, silakan berpihak padanya! Silakan saja! Persetan dengan kalian semua!.” Dengan langkah yang cepat dan penuh dengki, Nick Khun menarik keras kemeja Kim Bum, menganggakatnya setinggi mungkin. Hawa panas nafas tercekat milik Nick Khun menembus wajah Kim Bum yang tegang. Ada gertakan keras yang memiliki arti berbeda diantara mereka. “Kau.. Ini terkahir kalinya aku pastikan So Eun mengenal mu! Aku pastikan ini terakhir kalinya kau menatap dirinya!.” Hanya itu, yah hanya itu kalimat yang terlontar sebelum Nick Khun menghempaskan tubuh Kim Bum dan menarik Victoria untuk keluar.

Hari ini adalah hari yang berawan tebal. Hari yang memiliki aroma tanah kering karena semalam tidak hujan. Hari ini adalah hari dimana Kim Bum untuk pertama kalinya mendengar bagaimana ketukan kecil namun menghancurkan merembas keseluruh jiwa. Hari ini sekali lagi adalah hari dimana Kim Bum telah bercerai! Sebuah kata yang bahkan dulu ia berlutut untuk tidak menjadi nyata. Sebuah kata yang dulu membuat Kim Bum menjadi pengemis hentian kata. Awan masih tebal tanpa aroma tanah segar. Diruangan ini, ditempat dirinya berdiri, untuk terkahir kalinya Kim Bum merasa begitu hancur, hatinya sesak. Adakah air panas untuk menetralkan kebekuan jiwanya? Didinding ruangannya ada satu foto belum terhempas, sebuah bingkai pernikahan dirinya dengan wanita mungil itu, wanita lembut. “Kau sialan, So Eun! Aku hanya tidur dengan satu wanita sekali ganti, tapi mengapa kau tidur dengan pria yang sama berkali-kali! KENAPA KAU MENJAD BRENGSEK!! Aku percaya padamu, aku tolol mengemis! Aku membencinya, Ayah!!.” Teriak Kim Bum terjatuh dilantai. Diluar sana Bob tidak benar-benar pergi. Kim Bum tidak lagi dipercaya bahkan dirinya enggan untuk membela. Tapi kalimat bersayat itu merobek sukma. “Aku membenci mu, So Eun! Sialan dengan perselingkuhan itu!!.” Kembali, kalimat menyayat berhamburan memenuhi ruangan tidak berangin.

 

——–******——-

Masih ada suara-suara yang lembut dipagi buta ini, masih ada gerakkan-gerakkan lembut yang bisa dipandang ditempat ini. Aroma daun yang baru tumbuh dapat dinikmati jika kau benar-benar ingin menikmati. Ini bukan kota yang sama tapi percayalah wanita ini bisa sedikit menikmati hari. Hari dimana ia harus terbiasa tidak merasakan cincin melingkar dijemari, hari dimana ia juga harus terbiasa tidak adajanji vulgar. Wanita ini duduk asal disebuah kursi kayu, melipat buku besar itu dan memasukkan kedalam tas jinjingnya. Tidak hujan belakangan ini, tapi embun akan selalu hadir direrumputan. “Kau bisa sakit. Ini bukan waktu yang tepat menunggu fajar. Lanjutkan tidurmu.” Seru sebuah suara lembut. “Tapi ini indah, Nick.”seru So Eun memaksakan senyumnya pada awan hitam diatas. Nick Khun ikut duduk disebelah So Eun diikuti oleh Victoria yang muram. “Jangan lagi mengeluh, itu tidak baik untuk hatimu. Hannah cukup bijak menerima kenyataan perceraian itu.” Seru Victoria mengusap punggung tangan So Eun. Ada satu garis urat nadi disana, menandakan bahwa berat tubuh So Eun mengalami penurunan. Udara tidak dingin, tidak sama sekali hanya saja angin saat ini bisa membuat paru-parumu membeku jika terlau lama. So Eun menahan nafas, menggerakkan bibir bawahnya untuk menghalau sesuatu dalam dirinya. “Aku tidak suka dengan Hyuna dari awal. Aku tahu Hyuna tidak hamil.” seru Victoria membuat So Eun tercekat.

Wanita mungil ini bahkan menjatuhkan tas jinjing merah mudanya. “Aku mencoba menjelaskan kepada Kim Bum beberapa hari yang lalu dirumahnya. Dan aku lupa disana ada Hyuna yang menjadi ratu. Aku diusir. Mom dan Aku dipermalukan! Sore itu Hyuna pergi kesbuah tempat, aku tidak tahu apa itu. Aku meminta tolong pada Paul. Well, ini pertama kalinya pria itu menuruti permintaan ku untuk mengikuti Hyuna. Aku benci menyadari Hyuna tidak hami, wanita sialan!.” Yah sialan! Tapi So Eun tidak lagi peduli. Tidak lagi peduli jika Kim Bum dibohongi oleh Hyuna. Hatinya yang terhina sudah terlalu buruk. Ia tidak akan membuat air mata hina itu tersia-siakan. Ia ingat malam itu, malam dimana Kim Bum menyebutnya dengan sangat menjijikan. Malam itu dimana ia bahkan memohon kepercayaan dan Kim Bum mendorong tubunya seperti pelacur yang memiliki alat kelamin ganda, menjijikan dan mengerikan!

“Dan aku tidak peduli!.” Seru So Eun setelah membiarkan angin beberapa detik membuat dingin wajahnya. Nick Khun dan Victoria hanya tersenyum tipis. Kim Bum sudah menaruh kepercayaan penuh pada Hyuna. Pria itu sudah memilih dan kelak jangan lagi dipertanyakan sebuah arti kepercayaan pada pria itu. Victoria menunduk, ia tidak pernah menunduk walau dulu ia mengalami hancur. Kini bukan hancur, tapi sudah lebih dari itu. Air mata wanita ini jatuh, tidak mengalir dipipi. Percuma jika Kim Bum hadir dimakam Nam Gil jika pada akhirnya Kim Bum melepas dua kepercayaan almarhum Nam Gil. Ia lebih memilih Kim Bum tidak hadir, tidak menginjakkan kaki diarea pemakaman itu seperti dirinya jika hadir hanya untuk melihat, tanpa rasa! Isakan pagi buta ini menjawab semuanya. Menjawab dimata hati untuk seorang Kim Bum sudah perlahan-lahan mengecil. Angin semakin terjang dan So Eun mengeratkan kepalan, mengusir kenyataan Kim Bum lebih membela wanita jahanam itu dibanding dirinya yang mencoba bertahan. Kim Bum lebih percaya pada dia! “Ibu, Hannah lapar. Dia malas bangun, wanita malas.” Seru Nick Joo tiba-tiba bersuara keras pada Victoria. Victoria segera mengangakt kepalanya, menatap mata bening puteranya.

Tuhan, jangan dekatkan Nick Joo dengan brengsek Kim Bum, jangan jadikan sama! Pekik dan mohon Victoria dalam hati. “Dimana Hannah, sayang? Maaf membuatmu susah. Anak itu memang malas jika harus meninggalkan kasur.” Seru So Eun menepuk pahanya sebelum berdiri dan mengelus pucuk kepala Nick Joo. Lihat! Lihatlah Kim Bum, Aku bahagia bersama mereka, keluarga mu bukan denganmu! Itu nada tegas dalam batin seorang So Eun. “Dikamar. Aku ingin tidur lagi. Bibi bisa masak sekalian untuk kami. Aku akan membidiknya nanti.” Yah, itu kalimat yang sederhana tapi indah. So Eun tersenyum. Setelah beberapa Minggu tidak meninggalkan jejak senyum akhirnya kini menimbulkan jejak baru. Sebuah jejak awal yang akan diteruskan dengan pijakkan berikutnya untuk jejak kisah yang berbeda. “Ayo semua masuk kedalam rumah. Nanti jam lima kita bisa berkumpul lagi menunggu fajar terbit. Ayo anak muda tidur.” Seru Nick Khun mengangkat puteranya. Lagi, rasa berdesir itu merambat cepat dalam jiwa So Eun. Ada perasaan hangat ketika melihat Victoria dan Nick Khun dengan buah hati mereka. Sekali lagi, brengsek untuk pria Seattle itu!

Selama ini So Eun tinggal disebuah Negara yang cukup jauh. Negara dimana lebih banyak angin beku dibanding angin santai. Ini adalah keputusan seorang Kim So Eun. Tinggal berdua dengan Hannah Kim bukanlah sesuatu yang buruk. Belakangan ini So Eun bekerja dikedai kopi milik Paul Marrow yang dibiayai oleh Bob. So Eun akan membesarkan Hannah disini, mendidik sekuatnya. Melupakan apa yang sempat terjalin dan melanjutkan langkah, itu menyenanngkan. LA, Amerika. Jauh memang sangat jauh jarak yang harus So Eun lakukan untuk bisa tumbuh. Disini ada Paul Marow yang bisa membantunya dalam bahasa, ada Tae Hee yang siap menemani So Eun sepanjang waktu. Hari ini Nick Khun dan Victorai sedang berlibur, mereka memutuskan mengunjungi So Eun dinegara yang terkenal dengan keliaran. “Nanti sore aku dan Victoria harus kembali ke Korea. Setiap tiga bulan sekali kami janji akan menemui mu. Kau harus banyak berlatih dengan Paul tua untuk bahasa.” Seru Tae Hee yang baru turun dari tangga ditemani satu gelas anggur merah.

“Aku tidak setua itu, Nyonya. Usia Bob jauh lebih banyak.” Tawa mereka pecah walau hanya renyahan suara. Bob masih berada di Seattle, mengurus perusahaan yang sempat dihancurkan Kim Bum begitu saja setelah perceraian itu. Tae Hee adalah wanita yang angkuh, katakan itu benar. Tae Hee bukan wanita jahat yang dipikir. Kematian Nam Gil membuat diri Tae Hee terguncang hebat hinga membuat wanita ini sempat depresi. Tae Hee tidak bermaksud membuang Kim Bum ke negara asing itu. Wanita ini hanya ingin membuat Kim Bum jauh lebih baik belajar di Eropa untuk menjadi orang berjaya. Tae Hee selalu memantau perkembangan Kim Bum disana walau perlahan Kim Bum membenci dirinya secara paten. Tae Hee tidak pernah melarang Kim Bum berheubungan dengan orang miskin, walau sempat melarang dengan So Eun. Tae Hee hanya takut, takut Kim Bum tidak kuat menahan ekonomi yang buruk. Tapi sekrang, Tae Hee bukan takut untuk diri Kim Bum, ia takut akan dirinya sendiri. Dimana Kim Bum lebih bejat! Untuk menebus semua itu Tae Hee memutuskan tinggal di LA. “Aku dan Victoria juga. Tenang, Paul bisa jadi sahabat jika kau kesepian.” Seru Nick Khun setelah mereka semua berkumpul diruang utama. Rumah ini tidak besar, hanya terdapat tiga kamar dan satu pintu tanpa teras. So Eun bekerja untuk membayar cicilan rumah tua ini. Tidak terlalu tua, setidaknya ada beberapa sudut yang tidak terbuat dari kayu.

“Jangan khawatir, kami tidak akan memberitahukan keadaanmu dan keberadaan dirimu kepada si brengsek itu.” seru Paul mengambil satu kain lap untuk mebasuh tangannya yang terkena selai kacang. Lagi-lagi selai sialan itu! Tanpa sadar So Eun tersenyum miris. Lagi pula Kim Bum tidak akan peduli dan dirinya tidak akan pernah ingin mengingatnya. “Dan jangan pernah membahas dia disini.” Seru So Eun jauh lebih kuat tiap katanya dibanding beberapa tahun lalu. Biarlah waktu merubah tingkat kedewasaan seseorang karena memang waktu adalah pembuktian untuk segalanya. Mereka semua berjalan, membiarkan kalimat yang beberapa menit lalu menguak dan terbang menghilang. So Eun masih ditempat seorang diri di dapur. Membuat pasta ringan untuk makan. Hembusan nafas tidak lagi terceat. Ia damai, terasa damai sekali.

 

——******——-

Halaman itu tidak kotor tidak juga berdebu tebal, justru dapurlah yang terlihat lebih kacau. Ada beebrapa tumpukan peralatan yang kotor. Ada keran air yang tidak rapat dan isi lari es yang tidak beraturan. Tapi Kim Bum lebih memilih tempat ini. Tempat dimana dulu dirinya menghabiskan banyak waktu bersama wanita selingkuh itu. Kim Bum hanya berdiri, memandang sesuatu yang tidak pasti. Sudah genap lima bulan dirinya lepas dari So Eun, lepas dari keluarganya. Hanya ada Hyuna dikehidupannya, hanya ada berbotol-botol brendy serta cerutu sialan yang bau. Perut hyuna tidak membesar dan Kim Bum hanya diam, pria ini sudah malas membahas kehamilan Hyuna. Tidak ada lagi keras kepala So Eun, dan waktu beberapa bulan ini tidak membuat Kim Bum terbiasa. “Sial! Aku lupa. Well, mentega dengan telur dadar sudah cukup.” Serunya ketika melihat isi lemari es kebenyakan alkohol dan buah yang sudah kering. Gelas-gelas yang seharusnya tidak bergesakan menjadi sebuah dentingan keras ketika Kim Bum meletakkannya dengan kasar diatas meja dapur setelah menuang alkohol kedalam gelas.

Hyuna masih belum bangun, wanita itu masih tertidur nyanyak. Kim Bum tidak melakukan sex! Ia sama sekali berhenti melakukan itu sejak bercerai. Jika Hyuna meminta melakukan itu maka Kim Bum lebih memilih menjelaskan bahaya kehamilan, ia lebih memilih berperan menjadi dokter sementara. Tolol! Tapi itu jauh lebih baik dibanding harus melakukan sex dengan Hyuna. Apa yang terjadi beberapa bulan lalu sudah cukup membuat keadaanya berubah total. Kim Bum tidak lagi berhubungan dengan keluarganya meskipun terkadang Kim Bum ingin sekali bertanya dimana So Eun setelah mereka bercerai. Dirinya bahkan mengelak jika ada sebersit rasa mengganjal jika tidak tahu dimana So Eun. Tapi Kim Bum sudah mengabaikan seluruhnya. Ia lebih percaya pada Hyuna, teman hidupnya dari ekcil hingga saa ini.

“Mungkin Tuhan mengusirnya dari kota ini. Wanita selingkuh menjijikan!.” Serunya setelah meneguk brendy. Ia meletakkan gelas itu asal dan melihat jam yang terus membuat suara detakkan setiap detiknya. Masih terlalu pagi untuk mandi. Kim Bum ingat betapa keras ia lebih mempercayai Hyuna, mendorong tubuh mungil itu hingga terjatuh, mengabaikan setiap jeritan wanita itu untuk meminta kepercayaan. Kim Bum mengusap wajahnya dengan kasar, ia menyakinkan dirinya untuk tidak merasa menyesal. Masih dengan botol brendy Kim Bum keluar dapur. Hari senin dipagi yang cerah, itu tidak ada artinya. Kim Bum menatap foto besar pernikahannya dengan Hyuna di dinding dekat televisi besar. Wanita yang berhiasan sederhana dan tinggi dengan bentuk tubuhnya yang indah, seorang wanita yang percaya padanya secara penuh. “harusnya foto ini terpasang sejak lama.” Senyumnya terlihat kecil, sangat kecil disela-sela gelas yang dekat dengan bibir. Kim Bum baru akan menyalakan televisi untuk menghibur lara, seketika terhenti saat melihat Hyuna menatapnya tersenyum.  “Hai. Maaf aku baru bangun. Brendy pasti menghiburmu.” Kim Bum hanya tersenyum kecil, mengabaikan pagi sialannya bersama brendy disetiap detikkan waktu.

“Yea, kenapa cepat bangun? Mandilah dan setelah itu aku akan mengantarmu ke rumah sakit.” Usapan tangan Kim Bum dapat Hyuna rasakan di pucuk kepalanya. Sepertinya brendy tidak buruk untuk pria ini. “Kau tidak pergi bekerja? Maaf, aku pasti membuatmu kacau setelah perpisahan dengan So Eun. Aku merasa menjadi iblis diantara kalian. Maafkan aku.” Kalimat sialan itu lagi! Kim Bum meruntuki bibir itu, bibir milik Hyuna yang tipis. “Berhentilah, dan buang saja kalimat tolol itu. Aku tidak peduli dengan wanita itu. Besok aku akan ke London dan hari ini aku akan menemanimu periksa kandungan. Mandilah.” Meskipun terdengar kasar dan maniak, Kim Bum mengabaikan perkata yang terucap. Hyuna mengangguk dan mengecup bibir Kim Bum sekilas sebelum melangkah dan naik ke atas. Kim Bum lagi-lagi tersenyum bodoh. Brendy tidak lagi terasa setelah bibirnya ternoda. Hei! Itu kecupan manis bukan?!

Merasa bosan disetiap paginya sudah sering Kim Bum rasakan. Rasa bosan ini pasti akan hilang. Kim Bum berniat naik ke atas kamarnya untuk membersihkan diri. Namun pintu tidak rapat itu mengeluarkan nada yang menyayat.  “Tentu. Aku akan membeli bayi itu jika sudah Sembilan bulan. Kim Bum akan pergi ke luar negeri sementara aku akan pura-pura melahirkan.” Itu adalah kalimat, bukan sebuah cambukan. Tapi tu lebih seperti api yang membakar diri, Kim Bum terdiam ketika telah sampai didepan pintu kamar Hyuna yangs sedikit terbuka. Tenang, ia terlau percaya pada wanita sialan itu hingga tenang tolol itu masih hadir. “Bodoh sekali! Aku memang ingin hamil anaknya tapi malam itu dia tidur terlalu rapat. Aku tidak bisa melepas Kim Bum dengan So Eun. Aku senang sekarang aku menjadi satu-satunya isterinya. Aku akan mengambil bayinya setelah Kim Bum berangkat ke London.” Sekali lagi itu hanya kalimat. Kim Bum tercekat, panas dan merintih, dadanya sakit sekali. Hyuna, wanita yang membuat dirinya mendorong tubuh mungil itu. Hyuna, wanita yang membuat bibirnya merobek sukma batin milik wanita mungil itu. Dan,, Hyuna adalah wanita yang membuat dirinya menentukan pilihan, ternyata menikamnya terlalu dalam! Satu gelas yang  terpegang kuat akhirnya terhempas, membuat detakkan waktu tidak didengar. “Astaga! Kim Bum..” pekik Hyuna dan ponsel itu jatuh menemani pecahan gelas. Kim Bum tidak berkata, mencoba menyusun kalimat sepertinya sangat sulit. Ada nanar diamata Kim Bum, sebuah kenanaran yang tidak bisa dihentikan.

“Apa.. apa yang kau bicaran tadi. APA ITU TADI HYUNA!!.” Teriak Kim Bum masih ditempatnya berdiri. Hyuna menarik nafas, mencoba mendekat kearah Kim Bum namun Kim Bum mengangkat tangannya untuk memaksa Hyuna berhenti. “APA ITU!! Kau.. Bayi itu!! KAU MENJEBAKKU! SIALAAN!!.” Teriak Kim Bum histeris menarik rambutnya frustasi. Ini belum akhir tahun tapi Tuhan begitu cepat membuat fakta. Hyuna melangkah lagi dan Kim Bum menatapnya dengan mata merah. “Maaf.. Aku benar-benar minta maaf. Aku.. Aku tidak bisa kehilanganmu secepat itu. Awalnya aku memang benar-benar tulus ingin berteman dengan So Eun. Tapi pesta itu, pesta dimana aku melihatmu tersiksa membuatku tidak kuasa. Antagonis itu hadir ketika aku.. Aku tidak bisa melihatmu terisksa menahan hasrat.” Dan.. dan itu adalah sebuah api dimana harusnya Kim Bum terbakar didalamnya. Air mata pria kuat itu hadir, air mata yang tidak akan ada artinya lagi untu So Eun. Hyuna jatuh berlutut dihadapan Kim Bum untuk meminta maaf, memegang kaki Kim Bum dengan kuat. “Aku mohon jangan membenciku. Aku minta maaf.” Seru Hyuna dan seketika itu juga Kim Bum mengangkat kakinya membuat Hyuna terjatuh. “Maaf, MAAF KAU KATAKAN! Dan, dan kau berdusta tentang So Eun yang menyiksa mu?! JADI SELAMA INI KAU TIDAK HAMIL!!.” tanya Kim Bum dengan nada takut, takut setiap kalimat yang dilontarkannya menjadi sebua boomerang.

Hyuna mengangguk kecil dan itu membuat Kim Bum mundur satu langkah, tubuhnya terhuyung menerima kenyatan. So Eun.. wanita itu pergi dan tidak akan ada lagi menerima permintaan maaf. Nada itu akan lenyap selamanya, nada lembut dalam hidup. Kim Bum hanya diam, menikmati air mata yang menertawakan pilihannya, membiarkan dadanya panas dan sesak seakan meminta untuk berhenti bernafas. Pria ini hanya diam, berpikir harus apa! “Kenapa tidak sekalian saja kau bunuh Aku untuk bisa mendapatkan jasad ku!!.” Teriak Kim Bum dengan sesuatu yang tidak bisa dipikirkannya. Kini.. apa! Apakah ia mengharapkan maut datang membunuhnya untuk menyelesaikan sakit. Tapi ujaran Bob beberapa bulan lalu menghantam dirinya, Jangan mengharapkan maut untuk kisahmu. “Aku harus apa Hyuna.. AKU HARUS APA TERHADAP SO EUN!!.” Kim Bum kembali berteriak keras, sangat keras sekali dan berlari, berlari sejauh mungkin dari wanita bajingan! “So Eun.. Datanglah untuk menjadi maut. Hentikan sakit ku!.” pekik Kim Bum ketika berlari entah kemana, kemana saja asal keluar rumah!

 

——*****—–

Senja yang kelabu hadir dibeberapa tempat dimuka bumi. Senja yang meredamkan hati setiap umat setelah mengalami fajar. Kim Bum, pria ini berhenti disebuah rumah dimana gerbang tinggi terbuka, melangkahkan kakinya walau tidak ada salam. Membiarkan telapak kaki tanpa nama menginjak setiap area. Wajahnya buruk, keringat mengering beserta rambutnya yang kusut tanpa diundang. “kau.. Ada apa, Tuan Kim Bum?!.” suara sapaan yang tidak patut dilepas meluncur dar bibir Tae Hee ketika melihat Kim Bum berdiri dihadapannya. Irama tetaplah ada hanya saja melodi yang diharapkan lembut tidak akan pernah ada untuk saat ini. Kim Bum menatap ibunya dalam, membiarkan kata-kata terangkai. “Hai..” hanya itu! Kim Bum berpikir bibirnya akan mengeluarkan kalimat. Ternyata hanya kata bodoh. “Ini bukan rumah isteri mu. Pergilah!.” Itu bukan ujaran tapi usiran gamblang. Ada rasa sesak dihati Tae Hee ketika melihat wajah puteranya yang berderai. Kim Bum menahan suara, tenggorokannya tertekan rasa. “Dimana So Eun, Mom?.” Akhirnya udara yang menghimpit paru-paru terlepas setelah kalimat terhempas. Kim Bum memohon, untuk kesekian kalinya ia lakukan. Tae Hee tersenyum getir. Melepas selang air yang ia genggam.

“Apa? Barusan kau berkata apa?! Dia bukan lagi urusanmu. Seorang pria tidak akan mengingkari kata-katanya, bung!.” Sebuah ujaran menghardik dari arah belakang Kim Bum. Dan itu adalah suara pria bertato di pergelangan tangan kanan, Bobley. “Hanya katakan dimana So Eun, bisakah kalian menjawab!.” Kim Bum berteriak dihadapan kedua orang tuanya. Mengabaikan satu kata yang teramat penting, kata maaf yang membuai. “kau seolah malaikat tidak berdosa, bajingan! Pergi dan jangan ganggu So Eun!!.” kali ini sebuah suara keras dengan irama berbeda terdengar. Itu suara Nick Khun. Mereka semua melingkari sosok Kim Bum. Kim Bum berdiri, terhuyung dengan rasa yang lelah. Ia hanya ingin bertemu So Eun, Kim Bum hanya ingin memastikan So Eun baik-baik saja. Hanya itu saja! “Aku mohon pada kalian, satu kali saja. Ijinkan aku melihat So Eun, sekali saja…” tanah berlapis rumput hijau menjadi saksi lutut Kim Bum terjatuh disenja. Rumput yang tidak bergoyang itu tertekan lutut yang lunglai. Semua tertegun melihat Kim Bum terjatuh, benar-benar meminta.

“Ada apa rebut-ribut..” Baru saja permohonan itu terlepas kini beberapa pasan mata serempak menoleh kearah sumber suara. Disana ada So Eun, wanita yang rambutnya sudah dipotong sebahu dan pipinya tidak tebal seperti dulu. So Eun berdiri, tidak bergerak ketika hatinya tertusuk. Keributan yang bajingan karena ada pria brengsek disana. So Eun hendak berbalik tetapi sebuah teriakan menghentikan langkahnya. Menghentikan sebuah langkah yang harus dilanjutkan. “Kau ternyata jauh lebih baik! Aku.. Maksudku.. Apa kau.. apa kau bahagia dengan perceraian ini?!.” Tolol! Itu pertanyaan yang terbodoh yang pernah terlontar dari seorang pria. Kim Bum mulai berdiri, ia tidak berani melangkah. So Eun menatap awan, mengangkat kepalanya dengan tinggi sebelum berbalik dan mengeraskan rahang serta bibirnya. Ada isyarat mata disana ketika sapuan angin menghembus disekitar mereka. So Eun tersenyum tipis, senyuman cambukan dosa bagi diri Kim Bum.

“Aku sangat bahagia, Tuan Kim. Aku tidak pernah merasa sebahagia ini setelah lepas dari pria brengsek! Well, kau terlihat sangat bugar juga.” Tertawa, tertawalah yang lantang jika kalian bisa. Kim Bum menunduk sekilas, menyembunyikan senyuman sayatan. So Eun telah menyampaikan maksudnya dengan keras, menyampaikan bahwa wanita itu tidak ingin berurusan lagi dengan pria brengsek macam dirinya. Kembali ke Seatlle dan membangun rumah baru dengan mendekam diri seumur hidupnya, atau penjadi orang suci yang mengapdi pada gereja tanpa menikah, mungkin itu jalan yang terbaik. Kim Bum mencoba menatap wanita itu, wanita yang ia jadikan ratu, dulu!

“Aku mengerti. Semoga benar itu adanya. Sampai jumpa, sampaikan salamku pada anak kecil itu. Semoga.. semoga awan yang indah selalu kau pandang, bukan awan gelap yang membuat hatimu gelap. Aku paham itu.” Akhiran kalimat menjadi akhiran kontak mata terputus. Kim Bum membalikkan tubuhnya sebelum memandang satu-persatu orang -orang yang dulu pernah menjadi tokoh yang menemani langkahnya. Ia pandangi sekali lagi bangunan dimana dulu ia pernah tidur, bangunan yang sudah mengalami perubahan banyak. Ia pandang sekali lagi beberapa deret bunga, bunga putih yang baru tumbuh setengah semoga tumbuh panjang dan bertangkai kokoh. “permisi, maaf menggaggu kalian semua.” langkahlah sepelan mungkin jika kau bahagia agar tidak cepat berlalu apa yang kau lihat bahagia itu. Tapi Kim Bum melangkah perlahan bukan untuk menikmati pemandangan indah, tapi karena tungkainya berat menahan kerelaan. So Eun memang tinggal di LA tapi wanita itu merasa bosan disana hingga saat ini berada dirumah Tae Hee.

Sebuah rumah dimana sesak itu menjadi nyata, seperti jarum jam yang diputar. Kim Bum mengepalkan kedua tangannya. Bukan marah, tapi harus memastikan jika peredaran darahnya masih cukup baik setelah detakkan jantungnya sempat terhenti. Ini kisahnya, dan akan berakhir sampai disini. Kenyataan sialan yang ia harus terima membuat lajuan tidak terbentuk. Tungkai lemah itu berhenti disebuah toko kecil dimana dindingnya berlapis kaca. Toko boneka dimana dulu pernah ia pijaki untuk membelikan Hannah hadiah. Pahatan senyum itu mengembang, memberi kabar pada alam bahwa ia terluka. “Kenapa seperti ini. Aku harus bagaimana?!.” Pertanyaan tanpa tuan itu terbang. Kim Bum berhenti, menikmati hujan yang mulai turun dikala senja hilang. Dan pada akhirnya pilihan itu akan membuatmu sadar. Sadar antara kesalahan atau kebenaran. Percakapan sangat singkat antara dirinya dengan So Eun akan selalu menjadi catatan yang terkunci rapat. Akan ia jadikan sebuah catatan yang tersimpan dikotak berlapis berlian. Biarlah wajah So Eun yang ia tatap sekilas menjadi sebuah frame yang tidak akan pernah pudar dan hilang. Ia akan simpan wajah dan suara lembut itu didalam batin yang terdalam, akan ia jadikan sebuah lukisan Tuhan yang tidak terlelakan. Perpisahan yang akan menjadi sebuah cambukan dengan kikisan kenangan yang tersimpan.

 

——–******——–

Senja waktu itu telah berganti dan hujan diambang akhir senja dulu kini telah tergantikan dengan akhiran senja bersama salju-salju yang mulai memenuhi daerah pesisir kota Novii Domik, Rusia. Salju yang begitu lebat dari Negara Eropa lainnya. Benar kata Bob jika badai salju di Rusia sangat buruk. Sudah lebih dari tiga tahun pria ini menjadi saksi buruknya musim dingin di Novii Domik. Mantel tebal saja belum tentu menutupi rasa dingin, jadi pria ini membutuhkan kayu bakar lebih banyak untuk api besar. “Kau tidak berniat pindah kota? Aku rasa kota lain di Rusia tidak seburuk ini.” Seru pemuda berseragam. Pemuda pemilik nama lengkap Nikolai Alexbrow. “Kau berasal dari Rusia harusnya kau paham Negara mu. Jaga saja kafe ku.” seru pria ini mengabaikan Nikolai yang sibuk dengan sepatu botnya. “tapi Tuan Kim Bum, bukankah Korea itu lebih bersahabat, kenapa memilih Novii Domik?.” Sial, Kim Bum mulai kesal ketika Nikolai terus bertanya.

Tidak ada yang tahu selama ini Kim Bum memilih Negara ekstrim seperti Novii Domik. Mungkin untuk melupakan rasa panas akibat luka. Setelah peristiwa itu terjadi Kim Bum bercerai dengan Kim Hyuna dan menjual semua asetnya di Korea. Ia pindah ke Novii Domik tanpa sepengetahuan siapapun. Negara yang terlalu jauh untuk dijangkau. Ia hanya tidak ingin melukai orang-orang terdekatnya. Menjadi pekerja disini tidak buruk. Kau akan terkejut dengan warga Rusia yang menjulang. “baiklah, sir. Aku akan pergi ke kafemu. Omong-omong, nama kafe mu itu keren sekali.” Hanya senyuman kecil yang dilihat Niokolai sebelum Kim Bum memutuskan kembali kedalam gudang untuk mengambil kayu bakar lebih banyak.

Banyak sekali para pejalan kaki kesulitan berjalan karena tebalnya salju yang menumpuk. Nikolai mulai memasuki kafe ramai milik Kim Bum ketika sampai. Kafe ini sangat mewah, banyak sekali pelanggan disini. Kafe dengan menu khas roti perancis dengan selai kacang, sangat lezat. Tata atur ruangan di kafe ini sangat indah, Kim Bum yang mendisain sendiri. “Mom, nama kafe nya indah. XOXO, KSE CAFÉ, Itu seperti namamu Mom.” Seru seorang wanita kecil berambut panjang dikepang. Wanita itu hanya tersenyum dan melepas sarung tangannya ketika memasuki suasana hangat didalam. “Hei! Itu bukan berarti ada sangkut pautnya dengan ku.” Seru wanita muda itu dan menarik kedua anaknya, satu berusia lima tahun lebih dan satunya berusia tiga tahun. “permisi, aku ingin pesan coklat panas.” Seru wanita ini setelah melihat papan menu. Nikolai tersenyum memandang wajah lucu wanita dihadapannya. “kau seperti mantan isteri bos kami. Aku sarankan roti Perancis dengan selai kacang pasti lebih seru.” Ujar Nikolai membuat wanita itu tersenyum ringan.

Anak kecil laki-laki itu melompat-lompat untuk melihat papan menu yang tinggi. “Tidak. Kami orang Asia tidak begitu suka roti untuk waktu menjelang malam. Kau, Boom Flow, ingin apa?.” Tunggu, Nikolai mengernyit sedikit ketika melihat mata anak kecil yang digendong wanita ini. Matanya bening dan alisnya tebal dengan ukiran wajah mirip dengan bosnya. “Aku mau itu saja. Apa itu?.” tunjuk pria kecil ini dengan jemarinya yang kecil. “oh, kau ingin sosis bakar. Apa gigimu sudah kuat?.” Gurau Nikolai membuat anak perempuan yang terkepang terkikik kecil. “Adikku memiliki deretan gigi yang kuat. Daddy menurunkan giginya pada Boom. Mom, aku ingin duduk.” Seru Gadis itu berjalan mencari kursi. Diluar sana tidak ada tanda-tanda salju akan cepat berakhir.

Selain akan ada badai salju, mungkin Novii Domik akan sangat panjang dengan salju. “dengan nama siapa?.” Tanya Nikolai ketika sudah selesai menulis pesanan yang akan disediakan. Wanita itu menurunkan Boom, merapikan sejenak rambutnya yang tidak terikat. Rambut yang indah, pikir Nikolai. “Kim So Eun. Cukup dengan So Eun. Aku harap kau segera membuatnya. Kedua anakku lapar.” Ya Tuhan! Senyuman So Eun membuat Nikolai memerah. Ia memang masih muda, masih berusia dua puluh tahun. So Eun, wanita Asia itu cantik dan Nikolai tidak akan percaya So Eun sudah memiliki anak jika tidak membawa kedua bocah itu.

Saat ini So Eun sedang berlibur dan diberi tiket ke Rusia oleh Nick Khun setelah kelahiran putera keduanya. So Eun selama ini bekerja kembali menjadi perawat dirumah sakit Tae Hee. Melupakan semua yang berlalu diambang senja dulu. Sepertinya hatinya mulai terasa membaik walau kenangan itu tidak akan bergeser. So Eun sebenarnya tidak pandai berbahasa Rusia, tapi setahun yang lalu Paul Marrow mengajarinya. Paul Marrow adalah pria asli Rusia dengan menikahi wanita Inggris. “Mom, Kafenya indah. Aku suka disini. Bolehkah disetiap liburan kita kesini?.” Tanya anak perempuan yang tersenyum girang memainkan lilin pajangan dimeja yang dilapisi kotak emas berbentuk burung bangau. “itu akan membutuhkan banyak uang, Hannah. Mom bukan pekerja kantoran yang memiliki banyak saham.” Seru So Eun tersenyum sambil melihat ukiran dinding kayu disekitarnya. Disana ada gambar, gambar yang terasa tidak asing bagi So Eun.

Mom, kira-kira kabar Daddy bagaimana yah? Maaf, aku hanya ingin bertanya.” Seru Hannah ketika melihat wajah So Eun yang muram dan malas membahas. So Eun mengendikkan bahunya dan lebih memilih menyisir rambut hitam Boom yang kusut tertiup angin. “Jangan bertanya. Mom sama sekali tidak berselera.” Ujar So Eun mendapat anggukan dari Hannah. Anak kecil ini sudah mengerti sesakit apa ibunya terhadap ayahnya. “Mom, antarkan aku ketoilet.” Seru Hannah memegang mantelnya karena tidak tahan. So Eun tersenyum lagi, senyuman yang hangat melebihi ruangan ini. So Eun memanggil Nikolai yang berdiri tanpa melakukan apapun. “bisakah kau jaga putera ku sebentar. Aku ingin mengantar Hannah ke toilet. Terima kasih.” Nikolai hanya tartawa kecil melihat Boom yang tidak bisa diam dalam permainan I padnya. Nikolai mengangguk dan duduk disampaing Boom.

“Nikolai! Apa yang kau lakukan? Bermain dengan anak ingusan?.” Sebuah suara mengejutkan pemuda ini ketika hendak menggendongnya. Nikolai membalikkan tubuhnya dan melihat tatapan tidak suka bosnya. Bosnya terlihat tampan dengan kemeja tanpa mantel dan sepatu olah raga santai berwarna hitam. Selalu berpakain santai meskipun itu terlihat terlalu santai. “Aku menjaga anak ini. Mom nya sedang mengantar kakaknya ke toilet. Kau tidak biasanya mengunjungi kafe di malam seperti ini, Tuan Kim Bum.” Kim Bum melihat sekilas anak kecil itu yang mengerutkan alisnya. Anak ini sama sekali tidak meherti apa yang mereka katakan. “Ada barangku yag tertinggal.

Anak yang lucu. Biar aku yang menjaganya. Kau jaga meja. Pelanggan akan datang dijam-jam seperti ini.” Nikolai tersenyum kecil, lihat! Mereka begitu serupa. Nikolai berani bertaruh akan itu. “Aku bicara Korea. Kau mengerti?.” Boom bersuara ketika Kim Bum menggendongnya. Lengan panjangnya sudah digulung lebih dulu. “tentu, anak kecil. Kau tidak beku diluar sana tadi.” Gurau Kim Bum dengan bahasa yang masih sangat baik. Boom tertawa dan memukul rahang Kim Bum yang berbulu sedikit. “Daddy! Daddy!! Ya Tuhan.. Itu Daddy!!.” teriak sebuah suara mengagetkan Kim Bum. Pria ini berpikir itu suara anak lain untuk Daddy nya. Tapi sialan! Itu adalah suara anak kecil untuk dirinya. Kim Bum membalikkan tubuhnya dan segera meletakkan Boom dikursi saat matanya menatap Hannah. Anak berkepang itu tumbuh tinggi beberapa centi, dan.. dan sangat cantik.

“Han.. Hannah.” Ombakkan waktu yang dahsyat yang pernah menerjang diri akhirnya dapat Kim Bum rasakan kembali. Hannah berlari dan memeluk kaki Kim Bum dengan erat, menumpahkan air mata dicelana jeans robek itu. Tidak ada gerakan, bahkan dengusan kesal pun tidak berarti. Kim Bum masih tenang, setenang ketika kenyataan dulu ia terima, setenang atas luapan kalimat So Eun dulu. Kini matanya bukan hanya menatap wanita kceil berkepang, tapi juga menatap mata almond berambut datar. Lurus menerjang bahu yang beruang. “Aku rindu, Daddy.” Isak Hannah masih mendapat apatis sang ayah. Kim Bum akhirnya menghembuskan nafas, menurunkan kepalanya kebawah dan mengangkat tubuh Hannah. Tubuh gadis ini bertambah berat. “Kau terlalu jauh bermain.” Satu kalimat setelah sekian lama menjauh. Memberikan ruang untuk arti pada setiap kata. So Eun melangkah pelan, mengikuti jejak angin yang tidak terdengar namun terasa.

“Yah, aku rindu Daddy! Mom ada disini bersamaku jadi aku tidak takut pergi jauh.” Ujaran yang mengilu. Disini ada So Eun, disisi kanannya ada So Eun yang membisu. “Bisa kau turunkan puteriku? Dia butuh makan dimalam yang dingin.” Setidaknya kalimat itu tertuju padanya walau terasa dingin sekali. Kim Bum menatap mata So Eun, mata yang tidak lagi berbinar seperti dirinya. Didudukkannya Hannah disamping Boom. Asing, adalah kata diantara mereka. Hanya senyuman tolol yang dulu sering So Eun tampilkan kini ditampilkan Kim Bum untuk So Eun.

“Tentu. Makanlah sampai selesai. Aku tidak akan mengganggu. Salju akan membunuh, diatas ada tempat penginapan.” So Eun hanya memandang makanan yang datang tanpa menunjukkan rasa, atau sekedar menghargai perkata. Hannah memandang ayahnya kesal. Kenapa ayahnya tidak mengabaikan ibunya yang ketus, anak ini ingin bersama Kim Bum. Tanpa sadar Kim Bum memandang Boom, anak laki-laki berambut hitam tebal. Anak itu pasti anak Nick Khun. Itu pikir Kim Bum. Bukankah So Eun dan dirinya sudah berpisah lama, untuk mengandung anaknya itu tidak mungkin. So Eun berdeham sedikit ketika Kim Bum membalikkan tubuhnya dan memakai mantelnya.

So Eun memandang pungung kesepian itu. Selama tiga tahun tidak berjumpa, hanya kalimat itukah yang pantas ia paparkan pada dirinya! Selama ini Kim Bum pergi tanpa diketahui siapapun, tidak seorang pun tahu. Kim Bum memutuskan hubungan dengan mereka semua. Bagi Kim Bum pergi dan menjadi orang asing itu sangat membantu, membatu keberengsekan dirinya. Ia tidak takut lagi berada ditengah-tengah kota asing, Kim Bum hanya takut ia hadir dan bertemu So Eun lalu melukai wanita itu lagi. Bahkan Kim Bum tidak berani meminta maaf pada So Eun. Ia tahu, ia sangat tahu dirinya tidak termaafkan. Melihat So Eun baik-baik saja itu merupakan keajabaiban atas ujaran kata. Kim Bum melalui hari-harinya dari nol. Membangun kafe dengan hinaan warga Rusia yang ketus. Namun, demi mengingat So Eun itu semua berjalan lancar. Ia mendirikan kafe ini untuk mengenang So Eun. Mengenang wanita yang dicintainya atas rasa sesal yang tidak sempat ia ucapkan.

“bisa temani aku makan. Kau Daddy ku, aku belum pernah makan dengan seorang Daddy.” Ujar Boom menghentikan gerakan Kim Bum untuk mengancingkan kancing dimantelnya. Ada suara batuk ringan dari So Eun, wanita ini terkejut dengan puteranya. Anak laki-lakinya menyebalkan, sama seperti ayahnya! “Tapi aku sibuk. Mom mu tidak akan berselera, boy.” Seru Kim Bum mengacak-acak rambut hitam itu. “Daddy, ayolah. Mom tidak seburuk itu. Kalian tidak bersama kembali itu tidak penting. Malam ini gabunglah bersama kami. Aku dan Boom merindukkan mu.” Jika saja dunia ini begitu luas, mengapa mereka dipertemukan kembali, Kim Bum menekan hatinya yang bergejolak. So Eun sama sekali tidak bersuara, wanita ini menutup kata untuknya.

Terdengar gesekan kaki kursi. Kim Bum duduk dengan rasa yang luar biasa. “Kau pergi tanpa kabar. Kami pikir kau tewas atas dosa.” Kalimat antagonis, sialan! Kim Bum tersenyum getir. Memang sepantasnya si brengsek menerima ujaran antagonis dari dulu. Vodka datang dan Kim Bum meneguknya sekilas, mencoba bersikap sebagai pria dewasa. “aku berharap seperti itu. Tapi sepertinya maut bahkan membenciku. Aku tebak, kalian pasti bahagia.” Kali ini atagonis kalimat dibalas dengan melankolis, semoga dapat dibalas dengan nada lembut bermelodi tenang. Suara kasar sendok bersentuhan piring membuat Kim Bum menatap So Eun keras. “Itu benar! Aku bahagia! Melahirkan anak yang tampan. Aku bahagia! Puas kau!!.” Kim Bum terdiam cukup lama. Ia tidak bermaksud menyindir atau membuat kalimat retorik bukan? So Eun berdiri dari duduknya dan menggendong Boom lalu menarik tangan Hannah, berjalan cepat meningalkan Kim Bum yang tercengang.

“Hei! Aku tidak bermaksud melukaimu. Jangan pergi diluar sedang ada badai. Tetaplah disini dan aku yang akan pergi.” Pekik Kim Bum namun segera diabaikan So Eun. Wanita mungil itu berjalan cepat keluar kafe dengan melupakan sarung tangan. “apa lagi ini! Kenapa harus keras kepala begini!.” Ujar Kim Bum frustasi menarik rambutnya. Ia berharap pertemuan awal dengan mantan isterinya akan terlewat begitu saja agar tidak menyisahkan luka. Jika dulu So Eun pergi bersama Hannah terabaikan, maka kali ini Kim Bum mengabaikan detakkan waktu, mengabaikan pekikan setiap pembela untuk menghentikan langahnya mengejar So Eun.

“Kenapa kau keras kepala sekali?! Aku tahu aku mengusik tapi apa hanya berlari yang bisa kau lakukan?!.” Pekik Kim Bm marah ketika berhasil menggenggam pergelangan tangan So Eun. Hannah dan Boom mulai membeku, pipi kedua anak ini memutih, menyembunyikan rona merah dipipi mereka. So Eun menurunkan Boom dan melepaskan pegangannya pada Hannah lalu mendorong kasar dada Kim Bum. “Kau brengsek! Kau bajingan yang sangat brengsek!! Kau memilih wanita itu dan melupakan aku! Aku membenci waktu ini! Waktu kau mengusik!.” Teriak So Eun memukul dada yang kokoh namun remuk didalam sana. Kim Bum mulai melawan bakuan salju, mengalirkan air mata begitu saja. Nafas mereka semua tercekat diam dibiarkan bertambah cekat.

“Kau brengsek! Kau memilih dia dan membunuh rasa ku! Kenapa? Kenapa kau hadir lagi!!.” Teriak So Eun. Wanita ini menangis, tangisan membahana menembus waktu masa lalu. Kim Bum menarik cepat tangan So Eun dan membekap tubuh mungil itu. “Kenapa kau tidak memohon maaf waktu itu! Mengapa hanya kalimat tolol yang terlepas dari bibirmu! Apa kau benar-benar memilih wanita itu?!.” beberapa kalimat tanpa balasan telah terpapar. Kim Bum hanya meredam rasa, menyembunyikna kepala So Eun didalam dadanya. Mengulang waktu itu tidak mungkin, namuan mengulang ingatan duka dimemori itu mungkin, dan mereka melakukannya kini.

“Aku.. aku tahu itu akan sia-sia. Aku tahu aku tidak termaafkan dan bagiku akan sangat membuat kalian membenciku jika aku meminta maaf. AKu tidak termaafkan, kau tahu itu. Tidak! Aku sama sekali tidak pernah mencintai wanita itu. Aku memang brengsek, dan jangan pernah meragukan itu! Aku si brengsek yang beruntung pernah memiliki wanita seperti mu. Aku mencintaimu selalu. Aku tidak akan memaksamu bersamaku lagi. Tuhan telah melepasmu dari si brengsek dan aku tidak ingin kau terlibat lagi. Maafkan aku.. Aku siap diasingkan setelah maaf ini terlepas. Maafkan aku.. maafkan aku.. maafkan aku..” Biarlah waktu terus bergulir, biarkan saja agar kisah ini terus berlanjut dan segera selesai. So Eun terus menangis, mengangkat tangannya memeluk punggung Kim Bum.

“Tolol! Kau tahu jika kau orang yang idiot! Siapa yang mengatakan kau tidak dimaafkan?! Aku membencimu itu benar, tapi tidak memaafkanmu sama saja membunuh diri sendiri.” Hanya kalimat itu yang menjadi saksi luka mereka kembali terkenang. Kim Bum melepaskan pelukannya dan menghapus jejak air mata So Eun. Mengecup kening So Eun dengan lembut, tersenyum lembut untuk waktu yang cukup lama. “Kita akan bahas melankolis ini lagi tapi ditempat lain. Lihat, kedua anak ini akan menjadi boneka salju.” Ujar Kim Bum dengan senyuman indah, seindah ciptaan Tuhan yang murni. So Eun tersenyum kecil, mengusap lengannya untuk menghalau rasa bunga yang hadir di badai salju kota Novii Domik.

 

——******——-

Rumah itu cukup besar dengan banyaknya perapian disetiap lantainya. Aroma roti bakar berpadu dengan kayu hutan yang terbakar memenuhi setiap ruang. So Eun melihat kesekelilingnya. Dindingnya berlapis kain sutera coklat muda. Ini lebih pantas disebut aula Internasional dibanding sebuah rumah. Sangat hangat dan dadanya rileks dengan aroma alam. Kim Bum tersenyum sambil meletakkan dua gelas dan satu teko teh hangat. Ia tahu dari dulu So Eun membenci alkohol. “Dimana Nick? Aku pikir kalian menikah dan Boom lahir.” Seru Kim Bum tidak menunjuk pertanyaan. Sebuah pemikiran yang sinting. So Eun tidak lagi mempedulikan wajahnya yang merona ketika Kim Bum menatapnya dengan detail.

Ada perasaan remaja yang bodoh. So Eun merasakan apa yang dirasakan remaja jatuh cinta. Menjijikan! Kim Bum mengangkat kedua bahunya dan memandang televisi yang menyala. “Besok pagi aku pikir salju akan melambat. Kau bisa kembali ke Korea bersama kedua anak itu.” So Eun menahan nafas, menahan untuk mengerti makna ungkapan. Kim Bum mengusirnya? Atau Kim Bum menghardiknya? So Eun memandang wajah Kim Bum, membalas mata lembut itu. Untuk sejenak So Eun menelan ludahnya. “Kau mengusirku? Kau tidak ingin aku bersamamu? Oh, ternyata kau lebih memilih wanita itu. Baik dulu dan sekarang kau akan tetap memilih wanita manis itu, bukan?.”

Ada serak dikalimat yang dilontarkan So Eun. Kim Bum berdiri dari duduknya dan mendekati perapian. Ia mulai mendekatkan tangannya mendekat dengan api. “Aku bahkan tidak tahu dimana wanita itu sekarang dan tidak peduli sama sekali. Aku hanya sibuk bekerja untuk mendirikan sesuatu yang indah untuk mengenang wanita mungil kesayangan.” Bunga itu bertambah merkah didalam dada So Eun disaat kalimat Kim Bum berhenti. Sebuah kalimat yang membuat melambung tinggi. So Eun paham itu, ia paham Kim Bum sangat takut meminta dirinya kembali begitu pula dengan dirinya. Mungkin menjadi teman itu akan sangat baik, selamanya akan baik. Melupakan apa yang dulu terjadi itu sangat baik.

“ kita kan berteman.” Ujar Kim Bum setenng mungkin. So Eun menaikkan dagunya terkejut. “kita akan berteman?.” Tanya So Eun, suaranya bertamba serak kali ini. Kim Bum menatap mata So Eun memberitahu jika hatinya tidak menginginkan apapun. Ia takut melukai So Eun lagi. Tidak ada kata apapun selama beberapa detik hingga menit menjelang. “kenapa berteman? Mom dan Dad saling cinta. Itu kata Hannah padaku.” Seru Boom ketika turun dari lantai atas. Anak itu terlihat lucu dan membuat Kim Bum mengernyit bingung. Dad? Boom memanggilnya Dad?! “Kenapa? Kenapa memanggilku begitu? Dia bukan puteraku, So Eun?.” Mencoba mengabaikan dengan fokus menatap api melahap kayu, So Eun ingin melakukan itu. Namun gerakkan Kim Bum yang mengguncangkan bahunya membuat nafasnya sesak. “Katakan! Boom, dia anak siapa?.” Jika pada akhirnya ini akan terdengar maka So Eun dari awal memilih tidur dan mengabaikan ajakkan Kim Bum untuk minum teh. “Dia adikku, Dad. Mom hamil ketika kalian bercerai. Aku membencimu disaat itu tapi Mom bilang jangan lagi memikirkanmu. Kau akan pergi lagi, ya?.” Ya Tuhan! Kim Bum segera melepas tangannya ketika Hannah keluar membawa bantal guling, rambutnya berantakan. Kim Bum memandang So Eun dan memejamkan matanya. Kejutan sialan!

Dengan perasaan gila, ia menarik diri duduk disofa, menghempaskan tubuhnya yang terasa berat. Hembusan nafas yang dari tadi lambat justru tersumbat seketika. “Anakku?! Kau hamil anak ku?!.” Sekali lagi pertanyaan itu terlontar. So Eun menunduk, mennyembunyikan mimik wajahnya. “Yah. Aku hamil dan kau malah memilih wanita itu!.” pekik So Eun masih menunduk. Dengan cepat Kim Bum menarik tangan So Eun, membuat So Eun terjatuh dipangkuan Kim Bum. Mata mereka bertemu, saling mengalirkan rasa yang tidak dapat dijelaskan. Hannah segera membawa adiknya pergi naik tangga ketika kedua orang dewasa tu saling memekik. Kini hanya ada dua orang dewasa yang terdiam, saling memperhatikan air mata yang mengalir. Tidak ada kata-kata, tidak ada suara gertakkan dari rahang masing-masing, hanya ada suara desahan ketika Kim Bum mulai mencium bibir So Eun. Kim Bum tidak bisa berkata-kata, ia tidak bisa membuat gerakan selain memutuskan mencium bibir So Eun selama mungkin. Ia ingin mencium bibir itu sangat lama, ia ingin membuktikan rasa rindu serta tertekannya tanpa So Eun selama ini. Ia ingin meminta maaf yang sangat dalam. Ciuman yang begitu manis dengan air mata yang masih mengalir, ciuman yang beradu dengan panasnya api membakar kayu. Biarlah hati hanyut, melambung kembali seperti dulu. Mungkin kesempatan itu ada..

 

——–********——–

Udara yang mengeluarkan uap terasa indah. Terasa indah hanya bagi manusia yang tidak memiliki pandangan lain. Bahkan lantunan keras gitar listrik akan menjadi irama lembut. Pagi ini tidak ada tanda-tanda akan berakhirnya salju, tidak ada tanda perapian akan mati meskipun tidak lagi menjelang malam. Kim Bum duduk diam dikursi, ia hanya menggunakan baju berlengan tipis. Roti panggang yang diantar Nikolai satu jam lalu sudah tidak mengeluarkan uap lagi. Bahkan teh lemon hangat sudah tidak tercium lagi.  Setiap sudut ruang dirumah ini terasa menyudutkan baginya, terasa asing dirumah sendiri. “Aku pikir kau bergabung dengan Tuhan.

Lebih baik lagi jadi gelandangan, mungkin.” seru Bob membuang batang cerutu yang sudah pendek. Cerutu sangat berguna untuk badai salju di Novii Domik. Kim Bum hanya tersenyum kecil, menjauhkan bungkus cerutu yang tinggal setengah. “Memang. Aku berharap seperti itu. Well, sepertinya Tuhan lebih buruk menghukumku.” Serunya menuang satu botol brendy kedalam gelas bening . Bob menyalahkan korek gas, sama sekali tidak bermaksud menyulut cerutu lagi. Hari ini, untuk pertama kalinya Kim Bum merasa asing dirumah sendiri. Ia memang merasa asing ketika pertama datang, tapi tidak dengan rumah kayu mewahnya sendiri. Bob memandang Nick Khun yang memainkan asbak terbuat dari kayu manis hutan. Beberapa hari yang lalu So Eun menghubungi mereka semua tentang keberadaan Kim Bum tanpa sepengetahuan pria itu sendiri.

Selama seminggu ini So Eun dan kedua anaknya tinggal dirumah Kim Bum. Bukan karena salju yang semakin tebal menghantam Novii Domik, tapi karena So Eun ingin melihat diri Kim Bum setelah beberapa tahun mengasingkan diri. Dan pagi ini, pagi yang bahkan tidak sempat untuk Kim Bum memerintahkan para pekerjanya mencari kayu bakar, mereka semua sudah datang diawal jam. Percayalah, keadaan rumah ini terasa lebih buruk dibanding ditengah badai. Victoria berkali-kali menarik nafas dan menahan nafas. Kim Bum tidak pandai merawat diri, atau sengaja tidak merawat? Adiknya sukses di Rusia tapi buruk dengan hiasan. “Kau pergi seperti pencuri berlian. Aku marah saat mengetahui So Eun hamil dan bermaksud menarikmu. Tapi kau menghilang setelah Hyuna mengatakan bercerai. Lalu, kau ingin bagaimana? Kembali bersama dengan wanita lembut mu atau apa?.” Kali ini Tae Hee ikut bicara. Wanita ini melepaskan kaca mata persegi yang cukup tebal miliknya.

“teman. Aku rasa hanya cukup itu.” ujaran Tae Hee belum lewat semenit tapi sudah dibalas dengan cepat. “Teman? Kenapa? Jangan brengsek dan menjadi pecundang. Kau masih mencintainya dan So Eun juga. Apa salahnya?.” Tanya Victoria. Mereka sepertinya silih berganti mengutarakan kalimat. Kim Bum menunduk sekilas dan tersenyum kecil. Ia sekali lagi meredam rasa. “Aku takut seperti dulu. Aku takut melukainya. Akan sangat indah menjadi teman dan saling menjaga. Aku takut, takut membuat ulah. Maaf.” Itu kalimat yang sangat menikam, bahkan lebih dari ceracau pecundang. Terdengar pukulan meja keras dari Bob. “Apa?! Jangan membuat lelucon tolol, bung! Kau diberi kesempatan dan inikah dirimu yang sebenarnya, pecundang sejati! So Eun saja berani membuka hati dan menempatkan dirimu kembali dihatinya jika kau ingin bersama. Ada apa denganmu?!.”

Kim Bum berdiri segera mungkin, membalas tatapan mata Bob yang suram. Ini berbeda, ini bukan rasa pecundang, tapi rasa pengemis yang meminta. “Aku tahu. Tapi aku tidak bisa, Bob. Aku takut melukainya lagi. Aku takut jika sifat brengsek itu hadir lagi. Aku takut.” Tertutup sudah kalimat itu, dan sebuah pandangan nanar dapat Kim Bum tangkap dari mata wanita lembut yang menggendong puteranya. “Dan kau lebih rela mati dengan hati yang membusuk sepanjang masa?.” Seruan Paul membuat semua berubah menjadi dungu, berpikir keras untuk seorang pria keras kepala. Kim Bum membalas tatapan So Eun dengan senyuman sedih. Ia tidak yakin mengikat So Eun lagi. Ia teramat pecundang.

“Baiklah So Eun dan kita smeua akan pergi. Persetan dengan teman!.” Bob membalikkan tubuhnya dan menyeret tangan So Eun. Namun suara gesekkan kaki kursi yang keras menghentikan kegiatannya. “Tunggu.. Ahk! Oke, Bakilah! Aku.. Aku akan mengikat So Eun lagi tapi dengan satu syarat. So Eun tinggal dan menetap di Novii Domik. Tempat perasingan bersama ku, hingga tua.” Seru Kim Bum dengan desahan panjang sebelum mengakhiri ujarannya. Semua mengangkat dagunya perlahan, dan tersenyum kecil.

“Dasar sinting! Kenapa tidak sekalian kau membawa So Eun ke bawah tanah agar tersembunyi.” Seri Nick Khun. Ada humor disana walau sedikit. So Eun tersenyum kecil ketika Kim Bum mulai melangkah tapi terhenti saat Nick Khun menahan bahunya dan memukul sekilas pipi cekung itu. “Ini untuk balasan kau menudingku berselingkuh bersama So Eun. Hei! Aku membantunya karena saat itu dirinya hamil dan bermasalah. Yups, aku akui aku mencium bibirnya. Tapi itu hanya ciuman pria barat untuk kawan lama. Kau tinggal lama di Eropa terlalu bodoh untuk pemahaman kecil!.” Semua tercengang dan tersenyum lebar. Nick Khun yang humor namun keras saat serius. Seorang kakak ipar yang harus Kim Bum akui jauh lebih baik sebagai pria dibanding dirinya. Kim Bum menyeka sudut bibirnya sebelum memeluk Nick Khun. Ia tidak munafik menangis dibahu kakak iparnya. “Bung! Berhentilah bersikap seperti bayi!.” Gelak tawa lebur dikala Nick Khun kembali membuat kalimat.

 

——*****——-

Hari ini tepat dimana musim semi tiba. Tidak tercium aroma kayu bakar lagi, semerbak bunga menghiasa setiap kota dan pesisirnya. So Eun tersenyum kecil ketika menoleh kesisi kanannya. Ada Kim Bum yang tertidur lelap tanpa pakaian yang dikenakan. Mereka bercinta hebat setelah beberapa lama terpisah. Harunya lebih nyaman bercinta dimusim dingin, tapi mereka menikah ketika awal musim semi.

So Eun menyisir rambutnya sedikit ketika rambutnya kusut dengan tangan. Kim Bum benar-benar melakukan seks keras semalam. So Eun menikah lagi dengan Kim Bum setelah mengurus semua surat kepindahan warga Negara. Yah, mereka nyaman di kota badai ini. Novii Domik tidak akan membunuhmu, tapi akan menyatakutan bagi yang percaya. Diusapnya sekilas kening Kim Bum yang bereringat. Oh, pria ini tidak pernah sedikitpun terlihat buruk walau kulitnya lebih coklat dibanding tiga tahun lalu. Mungkin musim di Rusia membuat kulitnya berubah. “Aku akan masak. Tidurlah sesukamu.” Seru So Eun mengecup kening suaminya sejenak. Kim Bum hanya tersenyum kecil dan menarik pinggang So Eun.

“Lakukan apapun yang kau sukai. Menjadi ratu bukan berarti tidak bisa melakukan apapun, bukan.” Ada sentuhan lembut dibibir So Eun ketika Kim Bum mengecup bibirnya dan melepas pingganganya. So Eun bergeser untuk duduk. Memakai baju putih Kim Bum yang kebesaran tanpa memakai bra, hanya celana dalam. “Aku memilihmu, sampai mati. Bunuh aku jika melanggar. Aku mencintaimu selalu.” Seru Kim Bum tiba-tiba bangun dari tidurnya dan memeluk tubuh So Eun dari belakang. Mereka tediam dalam pelukan duduk. So Eun tertawa kecil saat Kim Bum menghembuskan nafas beratnya diceruk lehernya dan menciumnya sedikit kasar.

“aku mengerti. Aku akan melakukan sesuatu didapur. Kembalilah tidur. Kau kurang tidur selama beberapa hari. Aku mencintaimu juga. Selalu..” So Eun melepas pelukannya dan mencium sekali lagi kening Kim Bum. Tersenyum lebih lebar, dan melambungkan keindahan di alam. Yah, mereka ingin melakukan itu. Pagi yang cerah di Novii Domik, terasa lebih bahagia dalam sekarang dan masa akan datang.

 

 

Ada kalanya seseorang harus menjalani sebuah kenyataan “memilih dan dipilih”. Tapi yang terpenting bukan itu semua. Yang terpenting adalah ketika kalian berani menempatkan diri kalian sebaik mungkin untuk menjadi PEMILIH dan DIPILIH. Karena sebuah pemilihan itu hanya keputusan, sikap dan ketangkasan yang lebih utama untuk kalian percaya. Dan ketangkasan itu bukan dari orang lain, melainkan DIRI SENDIRI!

 

The End

 

Haii…

Sudah selesai yah ceritaku. Maaf jika terlihat buruk. Masih terus belajar..
Salam damai dari Win ^_^

Posted on Mei 8, 2016, in Three Shoot. Bookmark the permalink. 104 Komentar.

  1. Nahh kan hyuna itu b*tch ! Dia ngejebak kimbum pas lagi mabuk ,udh gtu pura2 hamil pula. Trus fitnah soeun ,sayangnya kimbum malah ngebelain dia. Sebelll 😠😠
    Untung keluarganya kimbum pd ngebelain soeun ,bahkan taehee aja ikut melindungi soeun .pelajaran berharga utk kimbum, berpisah beberapa waktu pantaslahh diterima kimbum. Finally soeun dan keluarganya mau menerima kimbum kembali kan ?fiuhh lega dehh 😆😆😊😊

  2. Ceritanya sedih, kalau masalah pilihan kim bum slh pilih. Mungkin kim bum kenal hyuna dr kcil, tp sifat org bd berubah. Untung so eun msh cinta, ceritanya gk bs ditebak. Kirain dh bnr” pisah, tp tau”y happy ending..😊

    Lanjukan karyamu..

    Aku minta PW part 2nya blh, umur aku dh 25 tahun kok bukan ank remaja. Cuma suka m crta” ff aj..😀

    Kirim ke e-mail aku aj ya sist..

    Thx

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: