Behind The Scene Of Hidden Identity (OS)

FB_IMG_1435817361301

 

Behind The Scene Of Hidden Identity

 

Author             : Purple Love

Cast                             : Kim Bum dan So Eun

Other Cast       : Banyak

Type                 : One Shoot

Genre              : Romantic

 

Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produser dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita

 

” Bagian lighting sudah siap, bagian cameraman sudah siap, baiklah kita mulai syutingnya”, arahan dan perintah sang sutradara itu tengah di tunjukan kepada semua crew di salah satu drama korea action yang sedang hitz itu. iya..!!! benar sekali Hiddent identity.

 

siapa yang tidak kenal dengan drama action di salah satu stasiun tvn ini. selain filmnya yang penuh kekerasan dan action drama ini juga menggandeng salah satu aktor tampan yang di juluki smile killer. siapa lagi kalau bukan kim sang bum yang akrab di sapa kim bum. aktor tampan yang sudah menjadi suami dari artis kim so eun ini rupanya come back dalam drama ini.

 

” Bum apakah kau sudah siap syuting,” seorang pria gendut dengan baju kaos coklat dan celana pendek selutut tengah berhadapan dengan kim bum yang tengah fokus dengan ponselnya. sambil memegang naskah sang sutradara itu memberitahukan kim bum.

 

“Ne, hyung beri aku waktu 2 menit untuk sms dengan istriku ,” kim bum pria dengan kumis tipis dan bakal janggut yang menjadi tuntutan film yang mengharuskan ia menumbuhkan jambang tengah menatap sang sutradara meminta pengertian untuk memberikannya waktu. ” baiklah”, ujar sang sutradara sambil berlalu pergi dari hadapan kim bum.

 

Setelah kepergian sutradara itu kim bum kembali berkutik dengan ponselnya.

” Yeobo ajak aku jalan-jalan, aku bosan di rumah terus,” so eun

” sayang bukannya aku tidak ingin mengajakmu jalan-jalan tapi aku sedang sibuk, kau pasti sudah tahu bukan drama baru aku, dan aku takut kenapa-kenapa dengan baby kita sayang”, sent kim bum menekan tanda itu di ponselnya.

” tapi aku bosan, pokoknya aku tidak mau tahu, aku ingin ketempat syuting mu,” ucap so eun bersikeras dengan keputusannya.

 

di liriknya jam tangan pas sudah 2 menit waktu untuknya sms dengan so eun. tibalah saatnya bagi kim bum memulai syutingnya. adegan pertama kim bum bersama ke 3 teman polisinya itu tengah berhadapan dengan musuhnya. kali ini kim bum yang harus berhadapan dengan salah satu lawannya di drama tersebut. beberapa kali hantaman mengenai wajah kim bum sebenarnya sutradara ingin menggantikan peran kim bum saat sedang adegan fight tapi kim bum tidak ingin perannya di gantikan siapapun baginya ini adalah resiko menjadi seorang aktor. Di tengah proses syuting yang sedang berlangsung itu.

 

“Oppa…!!!,” teriakan seorang perempuan membuyarkan proses syuting itu. semua mata tertuju pada perempuan itu yang tak lain adalah kim so eun. “So Eun sedang apa ia kesini,” ujar batin kim bum bingung. “OK, kita break syutingnya,” sutradara. setelah mendapatkan break dari sutradara. kim bum menghampiri so eun yang tengah berdiri di samping mobil yang di pakai kim bum untuk syuting. sepasang manik mata almond itu tengah menatap sang suami yang sedang menghampirinya sambil sesekali mengelus perutnya yang sedang hamil itu. “Yeobo sedang apa kau kesini,” ucap kim bum menatap istrinya dengan ekspresi bingung. “kan aku sudah bilang akan bertemu denganmu,” ucap so eun sambil merangkul leher suaminya itu. kim bum hanya bisa tersenyum pada istrinya yang manja ini. sejak kehamilan istrinya ini ia sering manja pada suaminya. tapi kim bum tidak marah justru ia malah senang dan tambah memperhatikan istrinya ini. di raihnya pinggang so eun dengan mesra. mereka tidak malu dengan menunjukkan kemesraan di tempat umum maupun di lokasi syuting seperti sekarang ini.

 

“Yeobo mari kita ke mobilku,” kim bum dan so eun memasuki mobil itu. di ambilnya bantal yang empuk dari depan mobilnya lalu di tempatkan di bagian belakang punggung so eun agar so eun dapat bersandar dengan nyaman. “kau pasti lelah dan uri aegi pasti lelah juga, ini minumlah,” ucap kim bum sambil menyodorkan segelas air putih. so eun menengguk minumannya hingga habis. di eluslah rambut so eun yang lembut kemudian di rangkullah tubuh so eun agar bersandar di dada bidang kim bum sambil sesekali mengelus perut so eun yang membesar yang sudah menginjak bulan kesembilan ini. “Bum bogoshipo,” so eun menghambur ke pelukan kim bum. “Nado Yeobo,” di tataplah istrinya itu dengan rasa sayang. Di sibaklah rambut kecil itu yang menutupi wajah cantik istrinya itu. kim bum memdekatkan wajahnya kea rah so eun hendak mencium istrinya itu.

 

Tiba- tiba ketukan kaca mobil mengagetkan mereka sontak kim bum dan so eun langsung panik. Kim bum dan so eun merapikan bajunya agar rapi. Untung saja kaca mobilnya di lapisi dengan kaca hitam legam hingga orang yang di luar tidak bisa melihat apa yang sedang di lakukan kedua sepasang suami istri itu. Kim bum membuka kaca mobilnya tampaklah yoon so yi lawan mainnya tengah bersidekap menatap sepasang

pasangan muda itu dengan memicingkan matanya. “Heyyy, aku tahu apa yang kalian lakukan di dalam sana sampai-sampai kau tidak menjawab ku,” ucap so yi yang sedikit menyudutkan pasangan suami istri tersebut. mendengar itu so eun hanya bisa menunduk tersenyum malu dan tanpa sadar semburat merah kini menghiasi wajahnya. Sementara kim bum hanya menggarukkan tengkuknya yang tidak gatal sambil menatap so yi dengan perasaan malu.

Melihat mereka tersenyum malu yoon so yi hanya bisa terkekeh saja. “mianhe noona, apakah sutradara sudah memanggilku,” ucap kim bum. “ Ne, ia menyuruhku untuk mengingatkanmu syuting, tetapi kau ternyata di sini berangkulan mesra dengan istrimu yang cantik ini,” gurauan yoon so yi sontak membuat so eun jadi mesam mesem sendiri. “ Sudahlah noona jangan menggodanya, kau tidak lihat mukanya sudah seperti kepiting rebus ,” kim bum menatap rona merah menghiasi wajah istrinya itu dan kim bum hanya terkekeh melihatnya. “Hahahaha ya sudah kalau gitu aku pergi dulu,” Yoon so yi berlalu pergi meninggalkan mereka.

 

Sekarang kini tinggallah kim bum dan so eun. “Chagia tunggu aku sampai selesai syuting ya, kau bisa bermain game di gadgedku, atau kau bisa mengambil makanan dan cemilan di belakang mobil, aku pergi dulu, cupp,” so eun hanya bisa mengangguk sambil menatap suaminya. Di kecupnya kening dan bibir so eun tidak lupa ia mencium perut so eun yang sudah besar itu. Lalu kim bum bergegas keluar mobil dan menuju lokasi syuting.

 

Pukul 22.00

 

Kim bum kembali ke mobilnya di bukanya pintu di lihatlah so eun tengah tidur sambil duduk menyender pada jok mobilnya. “Mianhe, sudah membuatmu menunggu lama,” di tataplah wajah so eun yang kelelahan karena harus menunggu kim bum syuting hingga selesai. Di ambillah selimut untuk menutupi tubuh so eun agar tidak kedinginan. Lalu di sandarkanlah tubuh so eun di dadanya yang bidang tanpa membangunkan so eun. So eun sendiri hanya bisa menggeliat dan memeluk pinggang kim bum. “ Kau sudah selesai yeobo,” ucap so eun tanpa membuka matanya. “ Ne yeobo aku sudah selesai, tidurlah kembali di dadaku agar kau nyaman, aku akan menjagamu,” di rangkullah pinggang so eun agar nyaman. “ Pak jang jalan,” ujar kim bum menyuruh supirnya untuk menjalankan mobilnya. “Baik tuan,”ucap supir itu.

 

Sesampainya di rumah so eun masih terlelap di dada kim bum. “Pak jang tolong bukakan pintu di sampingku,” ucap sang sopir menuruti perintah kim bum. Kim bum membuka selimut yang menutupi tubuh sang istri selama perjalanan tadi. Di gendonglah tubuh so eun ala bridal style menuju rumah mereka. Di bukalah pintu oleh supir itu dan masuklah kim bum yang tengah menggendong tubuh so eun menuju kamar mereka. Di letakkanlah tubuh so eun di ranjang tidur dengan nyaman. Di bukalah sepatu so eun dan di selimutilah tubuh so eun. “ Selamat tidur periku yang cantik,” di kecuplah bibir so eun sebagai kecupan mimpi indah. Kim bum selalu tidak lupa mengecup bibir so eun sebelum tidur. Sementara itu kim bum ke kamar mandi untuk membersikan dirinya.

 

Pagi itu hujan deras dan langit tampak mendung kehitaman. Seorang yeoja bangun dari tidurnya yang lelap di tataplah keluar jendela. “Pagi ini turun hujan”, gumam so eun. Karena melihat suasana di luar yang sedang hujan akhirnya so eun tidur kembali. Di tataplah wajah suaminya penuh memar akibat syuting action itu. “oppa mengapa kau masih mau melanjutkan film itu, film itu akan menyakiti dirimu sendiri, dan aku tidak bisa berbuat apa-apa melihat kau di pukul seperti ini,” ujar batin so eun sedih.

 

Di sentuh lah pipi tirus suaminya itu seakan merasakan bagaimana kerja keras yang di lakukan suaminya itu. Selama asyik menatap dan meraba wajah tampan suaminya itu tanpa sadar kim bum membuka perlahan matanya. “Yeobo, kau sudah bangun duluan,” ucap kim bum sambil tersenyum menatap wajah sendu istrinya itu. “Mengapa kau terlihat begitu sedih sayang, apakah terjadi sesuatu,” tangan kim bum mengelus pipi so eun. “Oppa aku sudah tidak tahan melihatmu bermain di drama itu, apa kau tidak menyadarinya, luka di wajah ini,” di sentuhlah luka yang membekas di wajah suaminya itu. So eun sangat tahu betapa beratnya kim bum harus menahan lukanya itu. Kim bum hanya bisa tersenyum melihat bidadarinya kini. “ Yeobo, inilah konsekuensi menjadi seorang actor harus menerima semua adegan yang di perankan baik dan buruk sekalipun,” ucap kim bum. So eun hanya bisa menghela nafas berat.

 

Memang benar apa yang di katakan suaminya itu. “ Sayang mendekatlah, aku ingin memelukmu,” so eun menggeser tubuhnya mendekati suaminya itu di sandarkan kepalanya pada dada bidang suaminya itu yang hangat di tengah dinginnya suasana hujan deras di luar sana. Berangkulan mesra. “ Yeobo, tanggal 7 juli adalah hari ulang tahunmu, kira-kira kau menginginkan hadiah apa dariku,” so eun melepaskan pelukannya dari lingkupan dada kim bum. Kim bum mengerutkan keningnya. “ emmm, aku tidak menginginkan hadiah apa-apa, bagiku kau dan calon anak kita ini, hadiah yang paling berharga untukku,” so eun gadis itu terharu mendengar ucapan suaminya. Hingga air mata bahagia itu hampir menetes di pelupuk matanya itu. tidak pernah terpikirkan olehnya ia akan mendapatkan suami yang sangat menyayanginya. “Kau terharu,” so eun menganggukkan kepala sementara kim bum hanya tersenyum bahagia dan menghapus air mata itu.

 

“Gomawo kau mau menjadi istriku, ibu dari calon anakku, taukah kau betapa aku sangat bahagia menunggu kehadirannya di tengah-tengah kita, membayangkan bagaimana nanty untuk pertama kalinya aku menggendong dirinya,” suara kim bum gemetar merasakan perasaan yang membuncah. Betapa bahagia dirinya sebentar lagi menjadi seorang ayah. “Kau akan merasakannya sayang, sebentar lagi,” so eun tersenyum sambil sesekali tangannya mengelus pipi kim bum.

 

———————————————

 

Pagi hari begitu cerah, sang surya telah menampakkan diri dari ufuk timur, so eun perempuan itu tengah sibuk menyiapkan keperluan syuting Kim Bum. “Yeobo sudahlah kau tidak perlu mempersiapkan ini semua, kau sedang hamil sayang, istirahatlah biar aku dan ajumma song yang mempersiapkan ini,” kim bum menuntun so eun untuk istirahat di sofa. “Tapi kan..,” so eun ingin membantah tapi kim bum dengan cepat menaruh telunjuknya di depan bibir so eun. Itu artinya kim bum menyuruh so eun untuk diam. “Tidak ada alasan apapun so eun, aku ini suamimu, turutilah perintah suamimu, semua ini ku lakukan agar kau tidak apa-apa sayang menjelang hari kelahiranmu nanty, arraso..,” so eun hanya menunduk dan tidak berani membalas ujaran yang kim bum berikan. Sementara itu kim bum hanya tersenyum dan mengangkat dagu istrinya di tataplah wajah cantik istrinya itu. Kim bum mencium bibir istrinya itu. “Saranghae nae puin,” senyum kim bum mengembang. “Nado saranghae,” ujar so eun. Kim Bum berangkat kerja sekarang tinggallah so eun sendiri menatap kepergian suaminya yang hendak bekerja.

 

Di lokasi syuting 7 Juli

 

“Serius sekali kau membacanya,” kim bum berhenti sejenak membaca naskah itu dan menatap kearah samping kanannya terdapat seorang wanita bernama Yoon So Yi. kim bum sudah mengenal baik siapa yoon so yi sebelum memulai drama ini. Yoon So Yi adalah noona yang membantu kim bum untuk menjadi seorang actor. Mereka selalu bertukar pendapat mengenai drama yang sedang di perankan oleh mereka. Jadi tak khayal mereka begitu akrab satu sama lain. “Noona, sedang apa kau di sini,” kim bum. “Memangnya aku tidak boleh ke sini,” wanita itu mengambil kursi kosong dan menempatkannya di samping kim bum. Kim bum tersenyum. “Hey bagaimana istrimu, bulan juli ini ia akan melahirkan kan,” So Yi. “Istriku baik-baik saja, noona benar sekali bulan ini ia akan melahirkan,” jawab kim bum. “Apakah ia akan melahirkan tepat di hari ulang tahunmu,” Kim Bum mengeryit kebingungan tidak mengerti maksud ucapan So Yi itu. “Aku mempunyai feeling yang sangat kuat jika anakmu nanty akan melahirkan sekarang,” Kim Bum semakin tidak mengerti arah ucapan So Yi. “Noona aku tidak mengerti maksud ucapanmu,” jawab Kim Bum. Tukkk

 

So Yi menjitak dahi Kim Bum sementara Kim Bum hanya bisa meringis saja. “Kau tidak menyadari ini hari apa,” kim bum hanya menggelengkan kepala saja. Ia benar-benar tidak tahu ini hari apa. Karena setiap hari kim bum selalu di sibukkan dengan jadwal syuting yang padat alhasil hari, tanggal pun ia tidak tahu. So Yi menengok kebelakang tangannya hendak menyuruh seseorang kemari. “noona selalu membuatku bingung saja,” runtuk batin kim bum melihat tingkah aneh so yi. kim bum memperhatikan gerakan tangan so yi hingga pandangannya tertuju pada semua crew termasuk sang sutradara yang berjalan kearahnya sambil membawakan kue ulang tahun berukuran sedang yang bertuliskan angka 26. Kim bum berfikir sejenak…???, senyum yang manis dengan deretan gigi yang rapi itu di tunjukkannya pada semua crew itu. ia mengingatnya hari ini adalah hari ulang tahunnya. Betapa polosnya ia hari ulang tahunnya saja ia tidak mengingatnya. Semua crew bertepuk tangan sambil menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk kim bum hingga selesai. “Terima kasih kalian begitu baik denganku,” batin kim bum berbicara. Beruntungnya ia di sayangi oleh sahabat-sahabatnya.

“Sekarang kau tiup lilinnya and make a wish for your self and other,” ucap so yi. Kim Bum menutup matanya dan mengepalkan kedua tangannya yang ia dekatkan pada bibirnya. “Tuhan, di hari ulang tahunku yang ke 26 ini aku berharap semoga aku di berikan kesehatan agar aku bisa mendampingi istri dan anakku yang tercinta sampai aku tua nanty, dan semoga kebahagiaan selalu terlimpahkan untukku, keluargaku, dan orang-orang yang menyayangiku, amin,” kim bum membuka matanya dan mengakhiri doanya dengan senyuman kebahagiaannya.

 

Break syuting di nikmati oleh hari ulang tahun kim bum. Kim bum meneraktir semua crew. Mereka tertawa dengan gembira seolah-oleh mereka lupa dengan syuting yang belum selesai itu. Saat mereka asyik dengan suasana kegembiraan itu..??? dering handphone Kim Bum berbunyi. Segera kim bum menghindar dari pesta kecil-kecilan itu untuk mengangkat telpon dari eommanimnya itu. “Yeoboseo, Eommanim,” Kim Bum. “Bum cepatlah kau pulang, so eun akan melahirkan,” Kim Bum panic..?? ia kalut..?? namun ia bisa mengatasinya dengan baik. Ia meminta izin sutradara untuk mengantarkan istrinya yang akan melahirkan ke rumah sakit. Sang sutradarapun mengizinkannya bahkan ia mengucapkan selamat kepada kim bum. Bahwa sebentar lagi kim bum akan menjadi seorang ayah. Kim Bum tersenyum dan ia bergegas pergi.

 

Ia mengebut di jalanan, mengklakson berkali-kali setiap kendaraan yang menghalangi langkahnya. “Sabarlah sayang sebentar lagi aku akan sampai,” gumam kim bum yang masih terus fokus menatap jalan. Ia ingin buru-buru sampai di rumah. Untung saja jalan pada sore hari itu tidaklah ramai seperti hari-hari biasanya. Dan ia pun tidak memerlukan waktu lama untuk sampai di rumahnya. Kim bum membuka pintu mobilnya di lihatlah so eun yang sedang masuk di mobil satunya lagi. Ia berlari ke mobil satunya lagi meninggalkan mobilnya itu. Mobil itu ingin melaju namun di jegat oleh kim bum. Kim bum segara membuka pintu di lihatlah so eun dan eommanimnya. So eun terus menahan kesakitannya. “Eomma akan duduk di bagian depan,” Kim Bum mengangguk dan ia duduk di sebelah so eun. Mengelus perutnya so eun dan menyanggah tubuh so eun agar menyender di dada kim bum. “Bum sakit,” so eun meringis tanpa terasa air matanya mengalir di tangan kim bum yang masih setia mengelus perut so eun dengan lembut. “Tenanglah sayang, kita sebentar lagi sampai di rumah sakit,” Kim Bum cemas melihat raut wajah istrinya meringis menahan kesakitan.

 

Butuh waktu sekitar 15 menit untuk mereka sampai. Saat tiba di rumah sakit so eun langsung di baringkan di ranjang. Kim bum selalu setia di samping so eun menggenggam tangannya dan memberikan kekuatan untuk so eun agar bertahan hingga genggaman itu terpisah saat so eun di masukkan ke ruangan bersalin. Kim bum menatap pintu ruang bersalin itu dengan tatapan nanar dan penuh dengan kecemasan. “Tenanglah nak semua akan baik-baik saja, ia akan bertahan demi kau dan anakmu,”eommanim menepuk pundak kim bum seolah-olah memberikan kekuatan. Kim bum membalikkan badan menatap eommanimnya dan memeluknya. “Eommanim so eun akan baik-baik saja kan, so eun tidak akan kenapa-napa,” kim bum meneteskan air mata, ia begitu kalut, ia begitu cemas, tidak di sangkanya tepat di hari ulang tahunnya so eun akan melahirkan. ia tidak kuasa jika nantinya so eun akan meninggalkannya.

 

Di luar ruangan bersalin itu kim bum ke sana kemari menunggu proses melahirkan itu selesai. Sementara eommanimnya duduk di kursi pengunjung yang memang di sediakan di rumah sakit itu. setiap menit proses melahirkan itu sangatlah mencekam bagi kim bum. Ia tidak siap menerima segala kemungkinan terburuk jika sewaktu-waktu so eun akan meninggalkannya.

 

Setelah 2 jam itu terdengarlah suara bayi yang sangat keras dan memekakkan telinga. “Bum anakmu sudah lahir,” eommanim berdiri dan menatap kim bum dengan terharu. Setelah menunggu dengan proses melahirkan itu dengan mencekam akhirnya mereka mendengarkan suara bayi itu. lampu hijau itu menyala menandakan operasi itu telah usai di lakukan. Tampak seorang suster keluar dari ruang operasi itu dan membawa seorang bayi.

 

Bayi tampan dengan berat 42 dan tinggi 53 cm itu berada dalam dekapan seorang suster. “Tuan Kim Sang Bum ini anak anda, ia seorang putra yang tampan,” suster itu memberikan bayi itu agar di gendong oleh kim bum. “Bum ia imut sekali,” ucap eommanim dengan penuh kegembiraan. “ne eommanim, putra appa yang tampan,” kim bum mencium anaknya. “Bum biar eomma yang menggendong bayi, kau sebaiknya menengok istrimu,” tukas eommanim. Mereka larut dalam suasana kegembiraan itu dan hampir melupakan seseorang yang sudah melahirkan bayi itu. kim bum memberikan bayi itu kepada eommanimnya. “Suster bolehkah saya menengok istri saya,” ucap kim bum dengan penuh antusias.

 

“Tentu tuan,” kim bum segera masuk beserta eommmanimnya dan ia melihat istrinya yang sangat kelelahan karena proses melahirkan yang menguras tenaga itu. kim bum mendekati so eun. “So Eun kau baik-baik saja sayang,” ujar kim bum cemas. “Ne, aku baik-baik saja yeobo, kemana anak kita,” so eun mengedarkan pandangannya dan ia melihat di belakang kim bum sudah ada eommanya yang menggendong bayinya. Eomma so eun mengalihkan gendongnya ke so eun. “Anakku..,” tetes air mata penuh haru menghiasi wajah so eun. “sudahlah yeobo jangan menangis, lihatlah ia begitu sehat dan kuat, terima kasih karena kau sudah melahirkannya ke dunia ini, saranghae so eun” ujar kim bum sambil mencium dahi so eun dengan penuh cinta.

 

“nado saranghae yeobo,” so eun tersenyum dan menatap suaminya sementara eomma so eun meneteskan air mata penuh haru melihat anak dan menantunya yang begitu romantic. “Yeobo, nama anak kita..???,” tukas so eun. Kim bum tersenyum dan ia duduk di tepi ranjang sambil mengelus pipi anak laki-lakinya itu. “aku sudah menyiapkan nama yang terbagus dan terindah untuknya, aku akan memberikan nama Kim Woo Bin, bagaimana yeobo kau suka,” ucap kim bum sambil tersenyum. “Ne aku suka, woo bin anakku,” so eun memcium pipi woo bin. “Yeobo..???,” so eun memanggil kim bum. “Ne yeobo wae,” kim bum mengelus pipi chubby so eun. “Aku ingin pulang,” kim bum kaget. “Waeyo yeobo kau habis melahirkan, untuk sementara waktu sebaiknya kau beristirahat di sini dulu, aku takut nanty kamu kenapa-napa sayang,” ucap kim bum. “Tapi aku baik-baik saja sayang, aku bisa menjalankan rawat jalan di rumah bum ah,” kekeh so eun. Kim Bum bingung melihat istrinya yang begitu kekeh dengan keputusannya untuk pulang dari rumah sakit pada hari itu juga. “Ne yeobo, aku akan mengurus semuanya,” kim bum menuruti kemauan so eun walaupun ada ketidak setujuan di dalam hatinya. Tapi mau bagaimana lagi. So eun sangat kekeh dengan keputusannya itu.

 

Kim bum, so eun, dan eommanimnya telah sampai di rumahnya. Kim bum mendorong kursi roda so eun sementara eommanimnya menggendong woo bin di belakang. Hari begitu gelap dan kim bum merasakan keanehan sendiri mengapa rumahnya sangat gelap sekali padahal ada pak jang di rumah yang tidak pernah lupa untuk menyalakan lampu jika hari sudah gelap. Kim bum menghiraukannya dan ia bergegas membawa so eun masuk. Kim bum dan so eun telah sampai di pekarangan dan hendak membuka pintu.

 

SUPPRISE…..

 

Kim bum terkejut dan so eun biasa saja karena ia sudah merencanakan ini semua. Semua orang menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk kim bum.

 

Saengil chukahamnida..

Sangeil chukahamnida..

Sangeil chuka uri bummie..

Sangeil chukahamnida..

 

Before Party

 

Hari ini adalah ulang tahun kim bum. So eun sebagai istri ia sudah merencanakan ini dari jauh-jauh hari tanpa sepengetahuan kim bum. Di bantu orang tua, adik, mertua dan teman-temannya. Mereka merias rumah kim bum dengan pernak pernik ulang tahun.

 

“ Hye sun noona tolong taruh kue ulang tahun itu di meja itu,” so eun

 

“Ne, so eun sebaiknya kau istirahat saja biar kami yang melakukan tugas ini semuanya,“ so eun tersenyum sambil menghiasi kue ulang tahunnya agar sempurna. “Tidak apa-apa noona aku masih bisa melakukannya sendiri, dan aku sangat berterima kasih sekali kalian sudah mau membantu untuk merayakan hari ulang tahun Kim Bum suamiku,” ujar so eun sambil membungkukkan badannya walau tak sempurna karena kehalang perutnya yang sudah semakin membesar. “Tidak apa so eun kami senang melakukannya, kim bum dan kau sudah ku anggap sahabatku sendiri,” ucap lee min ho. So eun tersenyum dan ia melanjutkan tugasnya lagi.

 

Namun tiba-tiba ia merasakan kesakitan pada perutnya. “ommo so eun air ketubanmu pecah,” ucap moon geun young panic. Iya.. moon geun yeong membantu mempersiapkan acara ulang tahun kim bum. Walaupun sekarang sudah tidak ada hubungan yang terikat dengan kim bum namun sekarang geun young berteman dengan kim bum dan so eun. So eun meringis kesakitan. Semua orang panic melihat keadaan so eun yang akan melahirkan. “Ayo anakku kita kerumah sakit,” ajak eomma so eun untuk bergegas kerumah sakit. Eomma so eun menyuruh mereka tetap menghias rumah dan menunggu kedatangan kim bum dari rumah sakit.

 

End before party

 

Kim Bum terkejut sekaligus bergembira sekali karena hari ini begitu banyak kejutan yang di berikan tuhan kepadanya

 

  1. Surprise dari crew Hidden identity
  2. Kelahiran putra pertamanya Kim Woo Bin
  3. Surprise dari teman-teman boys before flower, song jae rim, moon geun young (mantan kekasihnya yang sekarang menjadi sahabat), Yoon so Yi, Kim Ji Won (lawan mainnya di hidden identity) dan masih banyak lagi.

 

Kim bum asyik dengan pemikirannya sendiri sambil tersenyum-senyum sendiri. “Yakkk kau gila jangan senyum-senyum sendiri, kue ini sangat berat dan kau harus  tiup lilin ini segera,” ucap Jung Ill wo dengan gertakan kecilnya. Kim bum tersenyum. Sebelum ia meniup lilin ia mengucapkan wishnya di dalam hati. “Tuhan, di hari ulang tahunku yang ke 26 ini aku berharap semoga aku di berikan kesehatan agar aku bisa mendampingi istri dan anakku yang tercinta sampai aku tua nanty, dan semoga kebahagiaan selalu terlimpahkan untukku, keluargaku, dan orang-orang yang menyayangiku, amin,” kim bum membuka matanya dan meniup lilin itu. riuh tepuk tangan mengiringi ulang tahun itu dengan penuh kegembiraan.

 

Setelah pesta itu selesai Kim Bum, So Eun, dan anaknya di bawa ke kamar mereka. Woo bin bayi lucu itu di letakkan kim bum di box bayi di kamar mereka. Jadi sewaktu-waktu woo bin menangis. Kim bum dan so eun mudah untuk mengurusnya. “Yeobo sebaiknya kau istirahat, aku akan mandi dulu,” so eun mengangguk membaringkan tubuhnya di tempat tidur yang empuk itu. so eun meringis kesakitan pada kewanitaannya. Namun ia hanya bisa menahannya saja. Ia pun tertidur dengan sayup-sayup.

 

Kim bum membuka kamar mandinya. Ia tampak begitu segar sehabis mandi. Di lihatnya istrinya itu tertidur dengan lelapnya. Ia pun menghampiri istrinya dengan langkah yang pelan agar tidak membangunkan istrinya. “Jadi ini alasanmu, menyuruhku untuk buru-buru pulang dari rumah sakit,” gumam kim bum sambil sesekali mengelus rambut istrinya dengan sayang. So eun membuka matanya ia membalikkan badannya menatap suaminya sambil tersenyum. “aku menyiapkan ini semua untukmu, dan aku menyiapkan kado special untukmu”, so eun duduk dan mengambil hadiah yang berada di nakas sebelah kanannya. Sebuah kado berbentuk persegi panjang yang kecil dan di bungkus dengan kertas kado berwarna biru itu di berikan so eun untuk kim bum. Kim bum menerimanya dan membuka kado itu. dan menemukan album foto yang bertuliskan You and me together forever. Kim bum melihat satu persatu foto itu. ada foto pertama kali kim bum pendekatan dengan so eun, saat berpacaran dengan so eun, bahkan ada foto yang membuat kim bum kaget. Foto di saat mereka bertengkar karena perselingkuhan kim bum dengan moon geun young dulu. Ada foto pada saat pernikahannya, bahkan ada pada saat so eun melahirkan dan foto lucu anak mereka Kim Woo Bin.

 

Hingga pada saat halaman terakhir kim bum menutupnya. Kim bum menatap so eun dan memberikan senyuman kebahagiaan untuk istrinya tercinta. Di rengkuh tubuh istrinya itu, di peluklah dengan erat dan penuh cinta kasih. “Selamat ulang tahun suamiku sayang,” ucap so eun sambil menangis terharu. “Terima kasih yeobo, terima kasih banyak,” kim bum tidak mampu berucap karena begitu bahagianya ia di berikan tuhan seorang istri yang sangat menyayangi dirinya dan di hari ulang tahunnya yang ke 26 ini ia di berikan bonus oleh tuhan seorang anak laki-laki yang tampan bernama Kim Woo Bin. Kim Bum merenggangkan pelukkannya dan mengecup bibir istrinya dengan penuh cinta yang mendalam. “Tuhan jangan pisahkan aku darinya, aku mencintainya, aku sangat mencintainya,” doa kim bum dalam hati. Kim bum hanyut dalam ciuman penuh kehangatan itu hingga tangis woo bin bayi yang lucu itu meyadarkan mereka semua. Mereka berpandangan dan saling menatap sambil tersenyum bahagia.

 

End

Posted on Juli 26, 2015, in One Shoot. Bookmark the permalink. 57 Komentar.

  1. Ultah yg paling istimewa

  2. Soeun eonni sweet banget sih, ngasih kejutan buat kimbum oppa, dalam keadaan dia mau melahirkan..

  3. Sosweetnya bum dan sso kebayang bgt cocoknya mereka berdua

  4. wow sweetnya … sdh Laa cocok , hrp mreka blh bersma .

  5. Ceritanya lucu sih ngga ngebayangin aja misalkan nyata.
    Lama ngga buka web ini. Tahu2 makin banyak ff.nya.

  6. sso so sweet bgt, bikin surprise buat kim bum. pdahal dia mau melahirkan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: