The Frozen Maple (part 3)

vvnvnbj

 

The Frozen Maple (part 3)

 

Author                  : win ( acieh km)

Main Cast            : Kim Sang Bum, Kim So Eun

Other Cast          : Jung Il Woo, Han Ji Won, Lee Dong Wook, Aaron Yan, Han Ji Min, Lee Jun Ki, Jennie Kim.

Guise Cast           : Pein Tettler, Heidan Spoler

Genre                   : Fantasy, sad, romance, romantic ?, hurt, hard story 18+, mistery, dark

Type                      : SEQUEL

 

Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produser dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita

 

Noktah-noktah mencuat layaknya luka
dawai-dawai bahkan bergetar meringis
Bising desau daun ingatan luka,,
Kau…
Berkata mampu, nyatanya kau memilihnya..
meninggalkan selembar alasan tidak bermakna terpati
PENGORBANAN..
Aku melakukan tiada guna.. !
kini,, hanya iris Ametis yang berderai..
Bisakah,, bisakah kau bertahan dan memilihku ??
Pengorbanan sia-sia bukanlah yang kusesali..
Pertahananmu,, membuat ametis terurai..
Jadilah sesuatu yang indah, walau pengorbanan kini terabaikan…

_______==========________

Wanita kecil ini masih terduduk di sudut-sudut dinding yang temaram. Diatas kepalanya terdapat bola lampu besar dan dilangit-langit kamarnya terdapat lampu-lampu bintang kecil dengan variasi warna yang indah. Sayangnya, wanita mungil ini tidak ingin menengadah atau sekedar mengintip sekilas. Matanya berat, sangat berat untuk berkedip. Kelopak matanya kaku dan terasa lengket. Tubuhnya gemetar dengan kaki terikat rantaian besi tebal. Ingin menggapai sebuah pisau untuk mengakhiri hidupnya sangat sulit, So Eun hanya diam dengan duduk menekuk lututnya. Dihadapannya terdapat sepiring nasi beserta sayur segar tanpa terlibat daging. Disisi piring terdapat satu gelas penuh jus buah alpukat untuk kesehatan dan air putih. Ternyata Kim Bum sengaja tidak memberikan So Eun makanan yang mengandung lemak berlebihan.

Tidak ada air mata yang mengalir pagi ini. Bukannya So Eun letih untuk menguraikan air mata, akan tetapi matanya sudah kering. Kosa katanya telah habis, desahan bahkan tidak lagi terdengar kasar. Benar-benar pekat dengan diam. So Eun tidak ingin memberontak. Pergelangan kakinya sakit sekali. Rahangnya masih terasa nyeri atas perbuatan Kim Bum semalam atas perlawanan yang dirinya lakukan. Hari sudah menjelang pagi tetapi gorden yang tertutup itu memberikan suasana malam dikamar yang So Eun duduki terasa gelap dan kosong. Di sisi kanannya terdapat ranjang tidur yang besar dengan selimut merah maroon dan berbulu. Sangat hangat untuk djadikan tempat pelindung. Tempat yang sangat nyaman dalam kehangatan dengan bulu-bulu halus dengan dihiasi berbagai macam boneka besar. Semua wanita yang melihat pasti tergiur dengan keindahan. Tralis jendela saja menggunakan berlian. Tetapi tidak bagi So Eun, wanita mungil ini justru mengutuk.

“ Tidak dimakan ? Apakah ada sesuatu yang ingin kau makan?,” suara berat itu terdengar dengan rendah. So Eun masih diam mengepal kedua tangannya. Giginya dikatup rapat-rapat. Tidak ada matahari yang menyorot karena gorden benar-benar tertutup. Kim Bum duduk di kasur tebal merah muda itu dengan santai dan memandang makanan yang masih utuh tidak tersentuh atau diendus dengan hidung sediktpun.

“ Neraka ! Kau lebih pantas disebut iblis penghuni neraka !,” ujar So Eun tersenyum getir seolah mengolok dengan senyuman tidak sewajarnya. Kim Bum tersenyum miring dan berdiri. Irisnya mengarah memandang So Eun yang memandang tajam matanya. So Eun benar-benar menantang diri Kim Bum saat ini. Rambut bagaikan sutera itu terlihat sedikit kusut dan kusam. Sinar mata yang murni itu telah pudar tidak ditemukan. Kim Bum berjalan mendekat dan berjongkok mensejajarkan dirinya dengan So Eun. “ pagi ini aku tidak ingin mencari masalah. Jangan memulai kekerasan disini karena kamar ini kamar pengantin kita nantinya. Makan sayuran itu agar tubuhmu sehat dan aku bisa menikmati tubuhmu dengan sangat nikmat. Satu lagi, aku akan menghukummu jika kau tida menyentuh satu sayur pun yang kusajikan !,” So Eun tersenyum merendahkan. Hukuman ? Tidak akan pernah takut untuk So Eun dengar dan rasakan. So Eun bukan wanita yang mudah untuk ditaklukan apalagi untuk diancam.

“ cuih ! Laknat !,” Kim Bum terlonjak kaget ketika hendak berdiri wajahnya mendapatkan penghinaan dari So Eun berupa air ludah. So Eun meludahi Kim Bum seperti meludahi kotoran yang menjijikan, sangat menjijikan. So Eun benar-benar menantang diri Kim Bum. Pagi ini Kim Bum sedang ada masalah dengan jantungnya yang kembali berkontraksi akibat serangan Pein beberapa hari yang lalu dan keadaan semakin kacau dengan ulah So Eun. “ Mati saja kau !! cuih !,” lagi, untuk kedua kalinya So Eun melemparkan air ludahnya tepat kehadapan Kim Bum membuat Kim Bum menahan marah besar. Urat dilehernya mulai mencuat, matanya berubah menjadi irisan lavender yang bening.

“ Wanita jalang ! Kau berani menantang dewa ! KIM SO EUN !!!!,” marah Kim Bum hingga suaranya menggetarkan kaca dan terdengar kesegala penjuru rumah. Dong Wook yang mendengar segera berlari beserta Heidan. So Eun langsung ditarik Kim Bum dengan kasar hingga kakinya berdarah terkena rantai yang putus. Rantai itu sengaja diputus oleh Kim Bum. Darah mengotori permukaan lantai. Tumit kakinya pun sangat sakit disaat Kim Bum menyeretnya terus menerus.
“ Ahh.. lepaskan !,” teriak So Eun menahan sakit dan getar yang membara. “ aku sudah bersusah payah mengatur jadwal makan mu dengan menu sehat dan berbaik hati memberikan tempat terindah untuk tinggal ! Sialan ! Kau wanita yang benar-benar berdosa !,”

“ jangan bicara mengenai dosa ! Kau yang patutnya musnah dengan dosa terkutuk ! Kau melibatkan manusia dalam balas dendam ! dosa yang tidak terampunkan ! Lepaskan !!,” pekik So Eun memberontak karena Kim Bum terus menyeretnya dan menghempaskan dirinya ke atas tempat tidur. Tempat tidur itu tadinya terasa lembut dan hangat kini berubah menjadi tumpukan salju yang dingin tanpa selimut. Baju tipis So Eun langsung tertusuk dengan dinginnya kasur salju yang tebal. Sekali lagi So Eun baru sadar, lawanya bukan manusia melainkan dewa yang mampu melakukan apapun yang diinginkan. Ruangan yang tadinya hangat meskipun gorden ditutup berubah menjadi dingin seutuhnya dan tumbuh maple beku entah bagaimana caranya. Itu adalah hal mudah bagi seorang Kim Sang Bum.

“ Kau menguji ku So Eun ! Kau sama halnya dengan ayah mu itu, penghancur kehangatan hati !! Kau sangat mirip dengan ibumu yang mencoba membunuhku !!,” pekik Kim Bum duduk di paha So Eun ketika So Eun telentang. So Eun memperdalam kerutan keningnya merasa kehilangan arah. Kali ini So Eun ketakutan, lebih tepatnya takut tubuhnya membeku dan tidak dapat menghentikan Kim Bum untuk menghancurkan ayahnya beserta Il Woo. “ Lepaskan aku !! Aku tidak mengerti masalahmu !! lepaskan aku !!! BAJINGAN !!,” teriak So Eun tangannya tidak dapat bergerak, sekujur tubuhnya tiba-tiba terasa kaku seperti mati rasa. Dikatakan mati rasa sepertinya tidak karena kulitnya masih merasakan koyakan Kim Bum untuk bajunya dan sentuhan Kim Bum yang bermain diarea payudaranya dan lehernya dengan kasar.

“ ahhkkk !!,” teriak So Eun membuat Dong Wook yang berada diluar melebarkan matanya. Ada apa? Dong Wook memegang jantungnya. Itu suara So Eun yang berteriak. Apakah Kim Bum melanggar janji. Bukankah Kim Bum pernah mengatakan akan merenggut selaput darah itu dihari ulang tahun So Eun nanti. Jadi tidak mungkin seorang dewa melanggar sebuah janji walau hanya janji kecil.

Didalam So Eun menjerit histeris ketika lehernya merasakan sangat sakit seperti tertusuk beribu-ribu suntikan. Diselangkangnya pun So Eun merasakan hal yang sama beserta dikedua payudara So Eun merasakan remasan kuku bukan remasan tangan. Kelitoris So Eun bergetar atas perlakuan Kim Bum diarea selangkangnya. Entah apa yang dibuat Kim Bum yang pasti So Eun merasakan goresan dan gigitan kuat. So Eun merasakan ada aliran kental yang mengalir dileher, payudara dan juga selangkangannya. Bibirnya sudah membengkak besar karena Kim Bum menciumnya dengan kasar. Bibir bawah So Eun berdarah dan darah itu mengalir melewati dagu. Kim Bum seperti sengaja membuat aliran darah itu keluar dimana-mana bahkan dibagian putting. Tidak, Kim Bum tidak bermaksud melukai area putting itu tetapi itu hal ketidak sengajaan.

“ perihh !!,” pekik So Eun merasakan salju yang ditidurinya menguap dan menerpa luka-luka ditubuhnya. Kim Bum tersenyum tipis melihat luka-luka itu. Semua dibiarkan mengalir hanya bagian kedua putting merah muda milik So Eun yang dibersihkan dengan lidahnya dan disembuhkan dengan usapan lembut ibu jarinya. So Eun sempat tertegun dan terhanyut sekilas ketika merasakan sapuan ibu jari milik Kim Bum. Namun rasa itu tidak bertahan lama, So Eun membantah rasa itu keras-keras. Kim Bum membiarkan tubuh So Eun telanjang tanpa satupun kain yang menyangkut. Tubuh So Eun seperti tontonan boneka berbie bugil yang terbaring. Darah mengotori permukaan salju dibawahnya dan Kim Bum segera memakai pakiannya kembali. Kim Bum tidak ingin bajunya terkena darah So Eun karena itu hal sakral yang tidak boleh terjadi. Ada beberapa peraturan dewa yang tidak boleh dilanggar, darah manusia tidak boleh masuk kedalam tubuh dewa atau pakaian yang melekat tersentuh. Tunggu.. Kim Bum baru saja membersihkan darah diputting So Eun. Bukankah itu sama halnya darah So Eun masuk kedalam tubuhnya. Kim Bum baru menyadari hal itu dan tubuhnya tiba-tiba merasa panas. Jika diibaratkan panas demam seperti manusia terserang flu.

“ apa yang kau lakukan !!,” teriak So Eun kini jari-jarinya sudah bisa digerakkan walau dengan gerakkan kecil. Kim Bum tersenyum tipis walau tubuhnya terasa sedikit berbeda. Kim Bum tersenyum kecil melihat keadaan So Eun seperti ini. Dengan tubuh So Eun yang polos, vagina yang kencang dan buah dada yang padat, membuat Kim Bum ingin melanggar janji. Tapi usia So Eun belum genap dua puluh enam tahun. Kim Bum tidak ingin melanggar janji dan merusak keturunan pertamanya nanti. Jika ayahnya melanggar janji maka anaknya yang akan menjadi pelampiasan dosa, itu hukuman para dewa.
“ perih? Itu baru awal sayang. Manusia saja diludahi akan marah lantas bagaimana dengan dewa seperti ku? KAU PIKIR AKU SAMPAH !!,” teriak Kim Bum lagi ketika mengingat penghinaan yang So Eun berikan. So Eun masih terbaring karena darah yang mengalir membuatnya lemas.

“ Kau memang sampah !! Sampah para dewa !,” pekik So Ein mencemooh kembali. Kim Bum tersenyum tipis dan menarik kursi tanpa sentuhan tangan sedikitpun. Sekali lagi So Eun sempat terpana beberapa detik dengan sikap Kim Bum yang cool dan terkesan arogan.

Ada banyak misteri yang tidak So Eun ketahui tentang asal mula Ametis itu berasal. Tentang pula kelahiran So Eun dan takdir So Eun yang sejak kecil sudah Kim Bum ketahui. Dong Wook bergumam dalam hati diluar sana. Ada banyak yang disembunyikan Kim Bum seorang diri. Belum lagi Kim Bum harus menanggung semua rasa sakit atas ulah kakak kandungnya sendiri. Kematian ibunya dan penyegelan ayahnya membuat Kim Bum hampir menyerah dan lebih baik diam selamnya sampai lima puluh tahun lamanya. Tetapi, otaknya berfungsi ketika mendengar ayahnya menangis. Dong Wook tahu betapa sulit hidup Kim Bum atas perpisahan dirinya dan ibu kandungnya. Perbedaan alam yang mencolok membuat Kim Bum tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. Mungkin pernah, itu pun hanya sampai usinya sepuluh tahun dan setelah itu dirinya tidak lagi bertemu dengan ibunya hingga terakhir ketika usianya enam belas tahun dan itu pun harus diakhiri dengan pertemuan yang mengandung banyak luka. Dewi keadilan dan Fortuna yang menjadi sanksi pada saat pembunuhan dan penyegelan itu terjadi. Dong Wook berharap, nyawa yang harus dibayar segera diselesaian agar dendam yang melibatkan manusia tidak berkelanjutan. Nyawa dibayar nyawa, itu tugas Kim Bum.

Kim Bum terkekeh kecil dikatakan sampah. Perkataan yang menampar hatinya yang terdalam. “ aku tidak peduli kau menyebutku apa. Yang pasti kau harus tahu aku sudah memberikan beberapa segelan didalam tubuhmu. Orang lain tidak akan dapat menyentuhmu selain diriku. Jadi percuma saja kau melarikan diri, kau tidak akan disentuh orang lain selain diriku. Hanya tinggal rahimmu yang belum berdarah. Jangan sekali-kali kau melawan ku So Eun. Aku tidak ingin bermusuhan dengan mu. Aku hanya meminjam rahim mu. Pegang kata-kata ku bahwa aku pasti akan mengembalikan dirimu bebas tanpa cacat apapun ! AKU MINTA JANGAN MELAWAN!!,” sepertinya Kim Bum tidak ingin ada kekerasan difisik So Eun karena itu pasti akan mempengaruhi proses melahirkan nanti atau pembuahan nanti. Rasa trauma So Eun suatu saat pasti akan berpengaruh. Sekali lagi Kim Bum tidak ingin So Eun mengalami trauma itu. Kehilangan cinta masa kecilnya sudah seperti cambukan raksasa dihidupnya. Yah, ada banyak rahasia disimpan Kim Bum sendiri. Ada satu wanita yang dicintai dimasa kecil, tetapi semua kandas karena takdir beku yang melintang. Maple beku itu tidak akan berubah bukan jika tidak ada keajaiban?

“ pembohong ! Kau pikir aku manusia idiot yang mudah percaya ! Bebaskan aku !! Aku akan menikah dengan Jung Il Woo !,” teriak So Eun. Mendengar nama itu Kim Bum terdiam kaku. Nama itu adalah nama yang telah lama hilang. Satu nama yang membuat dendam semakin besar. “ siapa ? tadi kau mengatakan Jung.. Jung Il Woo?,” tanya Kim Bum dengan nada yang berhati-hati. Seakan mengeja dalam sebuah terjemahan. So Eun sudah dapat duduk dan keadaan kamar kembali normal, hangat dan nyaman. Selimut berbulu maroon yang lembut So Eun gunakan untuk menutupi tubuhnya meskipun darah masih mengalir meski tidak sebanyak tadi.

“ kenapa ? Apakah nama calon suami ku begitu indah, hah ! Yah, itu namanya. Namanya indah bukan seperti hatinya,” seru So Eun seperti membanggakan kekasih tercintanya. Kim Bum menunduk dan menahan geram. Ternyata benar dugaanya, kekasih So Eun bukan manusia biasa. Kim Bum membalikkan tubuhnya dan menjentikan jarinya. Entah apa yang terjadi So Eun merasakan pusing berat hingga akhirnya tertidur dengan cepat. Dengan tertidurnya So Eun Kim Bum dapat tenang tanpa ada suara-suara yang menampar. Tanpa ada lucah atau ledakan amarah.

“ Kau.. Jung Il Woo ! Kita bertemu kembali !! Ternyata takdir enam belas tahun yang lalu itu benar-benar terjadi!,” Kim Bum tersenyum kecil dan keluar dari kamar itu dengan membanting pintu. Dong Wook dan Pein sebelumnya telah pergi terlebih dahulu sebelum Kim Bum membuka pintu. “ Aku rasa Jun Ki dan Il Woo akan bekerja sama,” ujar Heidan ketika sudah berada dibawah dan tersenyum kecil. Oh Tuhan ! Senyuman yang mengerikan !

 

========()()()()()()========

Jun Ki menutup semua pintu rumahnya rapat-rapat. Semua lampu dimatikan tidak ada sedikitpun cahaya yang menerangi terkecuali cahaya bulan yang menembus gorden. Hal itu dilakkuan agar hatinya bisa redup terbawa cahaya. Hatinya sebagai seorang ayah benar-benar gundah. So Eun berada ditangan pangeran kegelapan putra dari Kim Woo Bin seorang raja kegelapan yang dirinya segel sepuluh tahun yang lalu. Rasa tidak menyangka masih mendera dirinya, Jun Ki masih sangat ingat bagaimana kuatnya segel itu, tetapi mengapa itu masih bisa terlepas. Jun Ki terdiam menenggelamkan kepalanya diantara kedua tangnya yang terkepal. Alkitab terbuka dihalaman yang sudah dibatasi. Alkitab itu terselip pembatas yang terdapat doa atau mantera yang dijadikan sebagai mantera penyegelan Kim Bum dan penganutnya. Dewa kegelapan yang membuat dosa karena tidak dapat menerima takdir yang digariskan.

“ aku akan membantu mu paman. Biar bagaimana pun aku dan Kim Bum memiliki hubungan darah,” seru Il Woo membuat Jun Ki terlonjak kaget. Selama ini yang Jun Ki ingat Kim Bum tidak pernah memiliki seorang kakak atau pun adik. “ maksud mu ?,” Jun Ki menegakkan lehernya dan menatap wajah Jung Il Woo. Meskipun tidak ada cahaya, Jun Ki masih dapat melihat sekilas wajah Il Woo dibalik remang-remangnya malam. “ aku.. sejujurnya aku adalah kakak kandung Kim Sang Bum. Aku terlahir sebagai manusia karena memang ayah dan ibuku adalah pasangan yang berbeda. Ibuku manusia dan ayahku seorang raja dewa kegelapan. Takdir ternyata berpihak kepada ku. Aku terlahir sebagai manusia dan adikku Kim Bum sebagai dewa. Aku memiliki kekutan karena ibuku. Aku bisa membantu mu paman, meskipun kekuatan ku tidak sehebat dirinya tetapi aku akan mengarahkan semua kemampuan ku. Maafkan aku selama ini aku menyembunyikan identitasku. Aku masih belum bisa percaya adikku bebas dari penyegelan. Maaf kan aku. Tapi sungguh, sifat ku tidak seperti Kim Bum, aku benar-benar berbeda,” ujar Il Woo menjelaskan. Kenyataan apalagi ini ! Lee Jun Ki berdiri dari duduknya dan memejamkan matanya kesal.

“ kenapa banyak sekali misteri tentang adik mu itu !! Aku tidak peduli ! Jika penyegelan sekuat itu dirinya bebas, maka aku akan membunuh nya !,” geram Lee Jun Ki dengan suara berdesir keras seperti ledakan atom. Il Woo terdiam, sejak kecil Kim Bum terpisah dengannya, dan Il Woo sudah sedikit lupa bagaimana paras adiknya itu. Apakah tampan seperti waktu usia sepuluh tahun atau sudah bertambah gagah dan dewasa. Tapi, pertemuannya kali ini bukan untuk saling melepas rindu namun menyelesaikan takdir yang tertunda dan membongkar semua rahasia maple beku yang tertanam. “ apa kau merasa tidak rela adik mu kubunuh? Kau bermaksud membantu adik mu itu dan ikut adil dalam penculikan puteri ku, hah !,” pekik Jun Ki menangkap wajah sendu Jung Il Woo yang menyimpan resah. Jung il Woo ikutan berdiri dan memberikan senyum kecil kearah Jun Ki. “ Tidak ! Aku rela adikku mati asalkan calon isteri ku kembali. Kita akan bekerja sama !,” kata Il Woo dengan yakin. Nada suaranya tidak bergetar, kenyakinan menyelimuti keduanya. Biarlah rahasia maple beku yang tumbuh didiamkan, karena suatu saat jika sudah tiba waktunya pasti akan terbongkar.

 

========()()()()()()()======

“ kau ingin kemana?,” tanya Jennie pada kekasihnya itu. Aaron Yan hanya tersenyum dan mengelus pipi kekasihnya dengan sayang. Lelaki bermata sipit ini tersenyum membuat kelopak matanya tenggelam dilipatan mata. “ aku ingin mengantar Han Ji Min. Dia berkata ingin bertemu dengan teman lamanya,” kata Aaron dan mendapatkan ekspresi wajah yang tidak bersahabat dari Jennie. “ So Eun tidak pulang hari ini. Paman Jun Ki berkata So Eun menginap dirumah sepupunya yang jauh. Aku tidak memiliki teman untuk menemani diriku ke mall,” seru Jennie wajahnya terlihat masam. Aaron Yan lagi-lagi terseyum dengan perkataan kekasihnya. Mereka sudah berkancan cukup lama dan inilah alasan mengapa Aaron Yan menyukai Jennie Kim, selain manis sikapnya ramah dan menyenangkan.
“ noona Han Ji Min ingin bertemu dengan temannya yang bernama Han Ji Won. Aku tidak tahu pasti tapi dia berkata aku tidak perlu menunggu atau menjemputnya. Aku hanya akan mengantarnya sebentar saja. Jadi tunggu aku yah dirumah,” Aaron Yan berkata lagi berusaha membujuk agar Jennie mengijinkan dirinya mengantar Han Ji Min bertemu dengan Han Ji Won.

“ apakah akan lama ?,” sepertinya tidak semudah itu Aaron Yan mendapatkan ijin dari kekasihnya. Hari ini hari sabtu tentu saja Jennie tidak semudah itu memberikan ijin. Jennie tidak ingin hari weekend nya terbuang sia-sia karena Aaron terlambat pergi berkencan. “ Tidak akan lama jennie Kim. Aku pastikan adikku Aaron Yan akan segera membawa mu kencan seharian,” seru Han Ji Min baru keluar dari kamarnya. Sangat manis dan cantik dengan rambut ikal panjang berwarna cokelat muda. Lesung pipi yang terlihat menambah kesan cantik Han Ji Min. Memang yang Jennie Kim tahu Han Ji Min adalah kakak kekasihnya, padahal bukan seperti itulah kenyataanya. Aaron Yan tidak ingin Jennie tahu dan merusak rahasia yang telah dirinya dan Han Ji Min bangun selama dua tahun ini.

“ benarkah? Baiklah jika seperti itu. Aku akan menunggu disini dengan perasaan sabar,” tutur jennie membuat Han Ji Min terkikik kecil. Kekehan kecil saja terdengar merdu apalagi jika bersuara, maka Jennie pasti akan luluh. Kecantikan Han Ji Min seperti bukan seorang manusia. Merdunya suara yang keluar dari mulut kecil Han Ji Min membuat Jennie pernah berpikir mungkin saja Han Ji Min seorang dewi yang turun kebumi. Tapi sepertinya itu akan sangat mustahil, pikir Jennie.
“ Baiklah aku pergi dulu Jennie. Aku pastikan kembali dengan cepat,” seru Aaron mengusap pipi kekasihnya untuk kesekian kalinya dan keluar. Han Ji Min tersenyum melihat dua pasang kekasih yang terlihat mesra ini. Rasanya sangat indah dan sejuk seperti berada ditengah-tengah pada rumput hijau yang sepi dan hanya ada mereka berdua saja. Andai saja kisah cintanya bersemi seperti itu, mungkin akan sangat indah dan dirinya tidak perlu berada ditempat asing ini. Tapi semua itu telah terjadi, kelak pasti akan berujung walau tidak dipastikan dengan penyelesaian yang bahagia.

 

========()()()()()()========

Kim Bum baru berdiri tegak menyandarkan tubuhnya dipohon maple biasa. Sepertinya Kim Bum sedang menantikan kehadiran seseorang. Keadaan langit malam tidaklah buruk membuat Kim Bum sejenak menutup matanya. Didalam pikirannya tersimpan banyak sekali ingatan-ingatan antara penting dan tidak penting. Layaknya tumpukan remi yang berguna dalam kemenangan maupun tidak. Dalam pejaman mata otaknya berkutat lagi-lagi seperti kocokan dadu yang terdapat angka berbeda-beda berdasarkan tingkatan. Permainan judi sepertinya mulai berkutat. Beberapa deretan angka dan permainan judi mulai membayang-bayangi Kim Bum. Semenjak hadirnya So Eun dirumah besarnya itu Kim Bum tidak lagi menginjakkan kaki ke Kasino. Ada beberapa alasan, tetapi yang paling terpenting adalah rasa malas dan bosan.

Satu jam sudah berlalu desiran angin dari lembut menjadi kejam sudah Kim Bum rasakan dimusim semi yang sebentar lagi akan berakhir. Kim Bum membuka matanya dan berdiri tegak ketika mendengar deru sepasang kaki berhenti melangkah didekatnya. Senyuman kecil ditunjukkan Kim Bum dengan dagu terangkat, begitu angkuh. “ lama tidak bertemu, Jung..Il.. Woo,” itulah ujaran Kim Bum membuka suara layaknya ejaan sebuah nama. Jung Il Woo menelan air ludah nya dengan begitu sulit. Dihadapanya ada seorang lelaki berdiri dengan gagah sedang memunggunginya. Lelaki dengan lengan putih panjang dan rambut hitam pekat. Angin mulai tenang dan maple itu gugur kembali tidak menyisahkan satu pucuk daun pun. Il Woo menegakkan kepalanya, lelaki ini siap menatap adiknya yang sudah dua puluh tahun tidak bertemu. Mungkin kaku, tapi sebagai seorang dewa mereka tidak akan berperilaku seperti manusia yang canggung. “ kau tidak bertambah tua ternyata !,” cemooh Kim Bum ketika membalikkan tubuhnya.

Il Woo terdiam ketika melihat wajah tampan, sangat tampan adik tunggalnya. Dengan mata tajam, alis tebal berwarna hitam, kulit bibir yang tipis, dan tulang pipi yang terbentuk sempurna dengan didominasi rahang yang kuat. Satu hal yang bisa dipetik Il Woo dengan pertumbuhan adiknya ini. Sangat tampan tetapi tidak bijak. Mereka bisa bertemu karena Kim Bum mengirim pesan telepati dengan jarak jauh. Mereka sedarah sehingga ikatan telepati itu sangat mudah. Rambuut hitam Kim Bum yang tersibak angin membuat semakin hebat saja sosok seorang Kim Sang Bum. Il Woo tersenyum tipis membalas tatapan iris hitam pekat. “ apa kabar, adikku ?,” sapa Il Woo dengan satu kalimat tanya. Kim Bum terkekeh menghina. “ lancang sekali kau bertanya keadaan ku ! Setelah kau membunuh Ibu dan ikut adil dalam penyegelan itu, Kau berani bertanya keadaan ku ! Bajingan !!,” geram Kim Bum mengertakkan kedua rahangnya. Awan mulai mengumpul gelap walau tidak turun rintikan air hujan.

Benar ! seharusnya Jung Il Woo tidak bertanya seperti itu. Sepatutnya Jung Il Woo sudah tahu keadaan adiknya selama beberapa tahun ini akibat takdir yang tidak bisa diterima. “ Apa Ibu mu mendidikmu dengan otak tolol ! Berpura-bura tidak mengerti keadaan !,” sinis Kim Bum dengan pandangan seringai tajam penuh hinaan. Terjangan ombak waktu yang menusuk menimpa Il Woo sekarang hingga sesak dan marah menyelimuti. “ dia itu ibu mu juga Kim Sang Bum !,” pekik Jung Il Woo yang tidak dapat menerima perkataan Kim Bum yang seperti tidak ingin mengakui. “ Ibuku ? haha. Dia tidak pernah menemani ku disaat aku kesepian. Dia bahkan tidak mengakui ku sebagai anaknya ketika takdir tidak adil padaku ! APA KAU PIKIR AKU INGIN MENJADI SEORANG DEWA !!,” teriak Kim Bum. Lagi, rasa tidak terima atas ketidak adilan yang menimpa membuat Kim Bum seperti terjun dalam mesin waktu yang terkutuk. “ Jaga ucapan mu ! Apa pria bajingan itu mendidik mu dengan penuh rasa angkuh ! Kau terlalu dimanjakan oleh Kim Woo Bin ! Kau tumbuh dengan begitu angkuh !,” kini bergantian Jung Il Woo yang geram. Bukan hanya Kim Bum yang tidak dapat menerima takdir, sesungguhnya Jung Il Woo pun merasakan rasa ketidak adilan itu.

“ Diam kau !! dia ayah ku ! Kau tidak berhak menyebut namanya ! Jangan pernah menyebutku sebagai adik mu ! Karena aku tidak akan pernah menyambutmu ! Aku akan memiliki Kim So Eun seutuhnya. AKAN AKU REBUT TAKDIR MU !!,” Jung Il Woo membesarkan matanya. Nafasnya terhenti ketika Kim Bum mengatakan hal itu. Tidak ! Kim Bum boleh mengambil apapun yang dimilki Il Woo tetapi tidak dengan So Eun, Jung Il Woo tidak akan rela. “ tidak akan ! sedetikpun aku tidak akan membiarkan So Eun terlibat dalam hal ini. SADARLAH DIA TIDAK TERLIBAT !,” lantang, teriakkan Jung Il Woo terdengar sangat lantang. Kim Bum kembali terkekeh. Kali ini tawanya membesar merendahkan dan bertepuk tangan kecil dengan berjalan mengelilingi diri Jung Il Woo seperti menilai betapa rendahnya Jung Il Woo. “ kau berkata apa ? sedetikpun tidak akan kau biarkan diriku menyentuh So Eun? hahaha.. usaha apa yang akan kau lakukan ! Kau lemah seperti wanita tua itu. Kau mengatakan So Eun tidak terlibat itu memang benar adanya. Wanita itu memang tidak terlibat oleh karena itu aku tidak akan melibatkan dirinya. Tapi aku butuh dirinya saat ini untuk menghancurkan Pein dan Lee Jun Ki. Aku pun akan menghabisi dirimu tapi bukan sekarang. Ada waktunya kau akan mati ditangan ku !!,” pekik Kim Bum dengan keras. Jung Il Woo tertegun. Adiknya tumbuh dengan begitu arogan. Kim Bum bukan lagi seperti yang dulu dimana  sosok anak kecil berusia enam tahun yang lucu sebelum takdir memberitahu perbedaan dan batasan dalam pertemanan.

“ Apa maksud mu ! jangan lukai kekasihku !!,” teriak Il Woo ketakutan. Il Woo bisa mencium sisi negative Kim Bum. Karena Kim Bum sebelumnya sudah pernah membunuh banyak manusia dalam beberapa jentikan jari kecil. Tidak menutup kemungkinan jika Il Woo takut jika nantinya So Eun akan mati ditangan Kim Bum, adik nya yang dulu sangat dikasihi. “ Itu bukan urusanmu jika aku melukai dirinya ! Syndrom Hallca ..” ujar Kim Bum memanjatkan mantera. “ akh !,” pekik kecil Il Woo yang mata sisi kanannya sakit seperti terpukul kepalan tangan dengan kuat. “ syndrome hallca.. !,” pekik Il Woo membalas namun Kim Bum terlalu cepat menghilang sehingga mantera itu tidak ada gunanya terucap.
Melihat Kim Bum pergi membuat Jung Il Woo marah besar, perbincangan mereka belum selesai masih menggantung dan Il Woo ingin sekali menghancurkan Kim Bum andai saja So Eun benar-benar terluka. Ironis ! dua saudara saling menumpahkan darah! Bukan hanya manusia saja tetapi ternyata dewa pun ada peperangan sedarah. Sungguh miris, darah dibalas darah layaknya nyawa dibalas nyawa. “ KIM SANG BUM !!!,” teriak Il Woo histeris ketika Kim Bum telah hilang menyisahkan pebincangan yang menggantung tanpa penjelasan.

 

=========()()()()()()()=========

Kim Bum duduk santai didalam kamar yang temaram. Terasa hangat dengan sinar yang dipantulkan bintang-bintang kecil dilangit-langit kamar. Dilihatnya So Eun masih tertidur sejak pagi tadi dengan masih polos tidak ada kain yang melekat. Kim Bum tersenyum kecil melihat wajah lelap itu. Dirapikan sejenak rambut So Eun yang menutupi kelopak. Kim Bum lagi-lagi terkekeh kecil melihat tubuh polos So Eun. terlihat betapa tubuh itu langsing dengan perut berotot dan kewanitaan yang bersih dengan bulu-bulu halus. Rasanya Kim Bum ingin tertawa dengan keadaan So Eun. Melihat So Eun seperti melihat seorang isteri setelah melakukan malam pertama. Tapi itu dalam keadaan seandainya. Yah, seandainya. Di sentuh dengan lembut pipi So Eun yang hangat. Lampu sudah menyala dan lambat laun iris Ametis itu bisa bekerja sama dengan iris spectrum walau kemungkinan bersatu akan sulit ketika spectrum sungguh benar-benar hadir. Tulang pipi yang kuat, bibir yang lembut namun sedikit kasar karena ada bekas luka gigitan, serta leher yang kasar terdapat darah yang mengering. Kim Bum diam-diam mengcup leher itu dan membersihkan darah yang sudah mengering. Anda tahu, seharusnya dengan kekuatan yang dimiliki Kim Bum mampu menghapus darah itu, tetapi Kim Bum ingin membersihkan dengan cara berbeda.

Disibakkanya selimut tebal itu dan Kim Bum naik keatas ranjang. Kim Bum melepas sepatu catsnya. Di bersihkan selangkangan So Eun yang terdapat darah kering dengan lidahnya. Dikecup kewanitaan So Eun yang nampak lemah tetapi kuat dan sempit didalam sana. “ akan aku pastikan aku bisa memasuki mu,” gumam Kim Bum pelan dengan suaranya yang parau. Pita suaranya seakan-akan terkuras setelah berselisih dengan Jung Il Woo beberapa jam lalu. “ Andai saja kau berada diposisi ku mungkin kau tidak akan sanggup, manis,”seru Kim Bum mengusap wajah So Eun yang terdapat goresan kecil akibat kuku nakal Kim Bum yang sering muncul jika dalam keadaan emosi. Kim Bum berdiri dan turun. Dibalikkan tubuhnya dan dijentikkan jarinya. Dalam beebrapa detik berselang jentikan itu, So Eun mulai begerak sedikit. Matanya yang terpejam mulai bergerak membuka. Kim Bum berpura-pura berdiri dengan melamun. Dewa ini lagi-lagi membuat sedikit lelucon atas sikapnya yang kekanak-kanakan. So Eun mulai membuka matanya. Hal pertama yang dirasanya adalah pening dan buram. Pandanganya kabur karena terlalu lama terpejam. “ Ahk !! A.. apa yang kau lakukan !,” pekik So Eun ketika menyadari tubuhnya telanjang tidak terselimuti, dibiarkan begitu saja. Kim Bum yang mendengar teriakan itu berbalik dan memasang wajah tidak berdosanya.

“ apa? Aku tidak tahu. Aku tidak menyentuhmu sama sekali. Kau tertidur dengan penampilan seperti itu. Aku baru saja pulang dari Kasino,” ujar Kim Bum mengangkat kedua bahunya dan menaikkan sebelah alisnya.
“ Bohong ! Kau.. kau memperkosa ku !,” tuding So Eun meluncur begitu saja. Kim Bum hanya menampilkan senyuman kecilnya. Bayangan cinta pertama nya dimasa lalu tiba-tiba hadir begitu saja melihat wajah So Eun. Tidak akan mungkin So Eun dan wanita itu adalah orang yang sama. Tapi, ada sesuatu yang berbeda dan hanya Kim Bum yang tahu dan disimpan rapat-rapat. “ Kau itu wanita tidak tahu diri. Aku katakana jika aku baru saja pulang dari Kasino. Silakan bertanya pada Heidan dan Dong Wook,” kata Kim Bum duduk santai di sofa besar dikamar ini. Kim Bum menunjuk kesebuah arah dimana terdapat beberapa setel pakaian yang telah terlipat rapi. Entah sejak kapan pakaian itu ada disamping sana, yang pasti So Eun ingin segera menutupi tubuhnya. “ sebelum marah-marah lebih baik kau berpakaian dahulu. Aku tidak ingin ada yang melihat tubuh mu selain diriku,” ujar Kim Bum santai. So Eun memandang tajam seolah mengusir tuan rumah.

“ Pakai saja tidak perlu khawatir. Ametis akan rusak jika mengintip, percaya lah pada dewa !,” ujar Kim Bum yang tahu akan maksud pandangan So Eun. Kim Bum berdiri dan menuju arah balkon besar. Dibalkon itu angin tertiup damai. Musim semi berakhir beberapa hari lagi. Dibawah balkon ini ada taman kecil dimana terdapat kursi duduk terbuat dari batu dan ayunan kayu. Ada danau kecil tempat beberpa pasang angsa putih bernaung ada pula ikan-ikan yang memenuhi danau buatan. Taman yang indah dengan air terjun kecil, kolam renang yang hangat dan sebuah tempat yang terdapat halaman kosong yang hanya khusus ditumbuhi maple-maple berbagai warna. Malpe itu indah seperti sakura jika dilihat pagi hari atau menjelang senja. “ kau tahu, Kau sangat mirip dengan cinta pertama ku. Aku sempat berpikir kau adalah orang yang sama, tetapi bibi Liung berkata kau adalah orang yang berbeda,” gumam Kim Bum dan So Eun yang telah selesai berpakaian mendengarkan dengan rasa enggan. Bibi Liung adalah wanita paruh baya sahabat mendiang ibu Kim Bum. Bibi Liung lah yang membantu mengurusi Kim Bum disaat kurang kasih sayang seorang ibu. “ aku tidak peduli !,” seru So Eun dengan ketus. Suaranya terdengar serak karena seharian ini dirinya belum meneguk setetes air pun.

“ disamping kanan mu ada air putih. Lebih baik kau minum dahulu sebelum mencela,” seru Kim Bum sama sekali tidak membalikkan tubuhnya. So Eun hanya memanyunkan bibirnya. Telinga Kim Bum ternyata sangat peka dengan perubahan suara miliknya. Karena terlalu haus, So Eun pun memutuskan meneguk segelas air itu. “ bibi Liung yang menyediakannya. Hanya dirinya yang bisa memasak. Nanti bibi Liung akan datang dan menjadi teman mu disini,” kata Kim Bum lagi menjelaskan tanpa diperintah. Sepertinya So Eun tidak peduli. Siapa bibi Liung itu dan apa hubungan Kim Bum dengan bibi Liung, So Eun sama sekali tidak merasa tertarik. Namun, entah mengapa ketika mengingat cerita Kim Bum mengenai cinta pertamanya itu membuat So Eun ingin bertnya lebih lanjut. “ Dewa iblis seperti mu pernah merasaan cinta pertama? Cih.. Aku rasa kau bertepuk sebelah tangan, atau bahkan dicampakkan!,” sinis So Eun dalam kalimatnya terus menghujat. Kim Bum hanya tersenyum kecil masih memandang angsa-angsa peliharaanya yang mulai terlelap dan burung-burung merpati yang terbang dan bertengker disalah satu ranting pohon mahoni. “ coba tebak, menurutmu aku di apakan oleh cinta pertama ku ?,” tantang Kim Bum memberikan So Eun berpikir. Sepertinya Kim Bum banyak menyimpan rasa sakit yang tidak sempat diceritakan. Hanya bibi Liung seorang yang mengetahui semuanya dan merahasiakannya. So Eun berdiri dan terkekeh menjatuhkan. “ apa pentingnya aku menebak ! Aku justru berharap kau mati dibunuh cinta pertama mu itu !,” hujat So Eun membuat Kim Bum terdiam dan senyum kecil itu menghilang.

“ ya, aku pun berharap seperti itu. Aku sama seperti mu berharap dibunuh saja oleh wanita itu dibanding harus menerima kenyataan takdir yang tidak pernah bisa kugapai. Kau.. kenapa kau berharap sama seperti ku? Aku ingin merubah kenyataan itu dan itu sulit. Kau tahu Kim So Eun, aku tidak ingin bermusuhan dengan mu. Aku tidak nyaman dengan wanita karena aku tidak pernah mengerti wanita,” terang Kim Bum kini tubuhnya telah berbalik dan memandang So Eun yang berdiri dibelakagnya dengan mata yang memincing. “ kenapa tidak kau cari saja wanita itu ! harusnya wanita itu saja yang kau renggut rahimnya ! Maniak ! HARUSNYA KAU CARI DIRINYA DAN BUKAN AKU !!,” teriak So Eun marah besar dan mendorong dada Kim Bum dengan keras hingga sampir saja Kim Bum terjatuh dari trails balkon. Kim Bum hanya tersenyum miring dan menatap So Eun dengan seringai namun berubah menjadi datar. Entah mengapa malam ini Kim Bum ingin sedikit berbagi dengan wanita kekasih kakaknya ini. Suasana hening sesaat, baik Kim Bum maupun So Eun sama-sama terdiam.

“ SUDAH AKU KATAKAN JIKA AKU DAN DIRINYA TERBENTANG TAKDIR !,” teriak Kim Bum karena So Eun selalu saja memancing akal sehatnya. So Eun tidak gentar, matanya justru menyala layaknya api yang membara. “ Takdir?Kau saja yang pengecut. Pantas saja kau hancur dengan takdir karena kau merusak kebahagian orang. TERUTAMA MERUSAK TAKDIR KU !,” lagi, So Eun mengeluarkan intonasi yang tinggi. Kim Bum tersenyum kecil dan berjalan melewati So Eun menuju tepian ranjang dan duduk disana. “ wanita itu pasti salah satu dari dewi-dewi langit. Aku yakin itu,” ujar So Eun kembali. Kim Bum memberikan senyuman kecil dan matanya memandang lurus kedepan. “ Apa seperti itu pikir mu? Sayangnya bukan. Dia manusia sama seperti mu. Ada rasa tidak terima ketika aku terlahir sebagai seorang dewa. Karena  takdir ini aku tidak bisa bersatu dengannya. Tentu saja aku tidak dapat mencarinya karena kau tahu kenapa. KAU TAHU KENAPA AKU TIDAK BISA MENCARI WANITA ITU ?? ITU SEMUA KARENA AYAHMU !! AYAHMU MENYEGELKU ! KEKASIHMU JUNG IL WOO MENYEGEL AYAHKU BAHKAN MEMBUNUH IBUNYA SENDIRI !!,” teriak Kim Bum kembali berdiri dan mendekat dengan So Eun. So Eun melihat mata Kim Bum yang menyala-nyala. Rasa benci sangat terlihat didalam manik mata Kim Bum.

“ apa? Ma.. manusia? Mustahil !,” pekik So Eun tertahan. Jadi seorang dewa pun pernah jatuh cinta dengan manusia. “ benar. Cinta pertama ku seorang manusia. Kekasihmu, Jung Il Woo sengaja menyegel ku karena dirinya bermaksud menjauhkan ku dari cinta pertama ku. Kau tidak akan percaya jika kekasihmu tega membunuh ibu kandungnya sendiri. Kau pasti akan selalu memuja nya bukan?,” Kim Bum tersenyum letih, letih jka harus selalu berdebat. So Eun menggelengkan kepalanya dan kembali mendorong keras tubuh Kim Bum. “ Brengsek !! Kau benar-benar iblis ! teganya kau membuat kepalsuan cerita !,” Kim Bum tertawa kecil. Benar perkataannya jika So Eun tidak akan percaya dengannya. “ Kau.. Kau pantas disegel karena kau dewa gila.. dewa iblis yang penuh dosa ! Kau terkutuk ! Aku tidak sudi, tidak akan pernah sudi jika kelak mengandung benihmu. Mahkluk seperti mu pantasnya dihancurkan !,” pekik So Eun. Kim Bum benar-benar marah, tidak sepantasnya So Eun mengeluarkan kata-kata seperti itu tanpa adanya bukti. Kim Bum dengan ekspresi marahnya berjalan mendekati So Eun dengan Ametis yang menyala. “ I.. ingin apa kau. Jangan mendekat,” seru So Eun nadanya terdengar ketakutan. So Eun terus mundur, hingga sebuah meja mengenai pinggangnya dan So Eun tidak lagi bisa mundur.

Kim Bum menarik lengan So Eun dengan kasar dan mencium leher So Eun dengan kasar mengunci kedua tangan So Eun dibelakang. “ achh.. aahh.. le.. ach lepaskan aah,” pekik So Eun disela-sela desahannya karena Kim Bum mencium lehernya dengan kasar dan bibirnya terasa perih. “ muachh aaahh,,” rancau So Eun ketika ciuman liar terjadi. Kim Bum menjaga giginya dengan baik agar tidak lagi melukai kulit bibir So Eun yang tipis. Diremasnya payudara yang tadinya terluka. So Eun merasakan sengatan yang luar biasa antara perih dan sakit. Puttingnya bekas luka tadi terasa berdanyat-denyut ditambah gesekan kaki Kim Bum disela-sela selangkangannya. “ kau belum mandi tetapi sangat harum,, muacch,, aku suka. Apakah kau sudah memiliki air susu? Muaacch,” gumam Kim Bum sambil menikmati sedotan pada leher dan bibir So Eun. So Eun benar-benar merasa pusing dengan ini semua. Tubuhnya terasa panas dan perih. Kim Bum meremas-remas payudara So Eun seperti meremas susu sapi. Jika dilihat dari depan Kim Bum hanya seperti memeluk tubuh mungil itu saja, tidak lebih. Tetapi jika dilihat dari dekat, keliaranlah yang terjadi. Dengan dorongan sekuat tenaga So Eun berhasil mendorong Kim Bum dan menyisihkan jarak diantara mereka.

Mereka sama-sama mengatur nafas. So Eun memegangi dadanya yang sesak dan mengelus payudaranya yang masih berdenyut. Untung saja kuku Kim Bum tidak ikut adil dalam perlakuan ini. Bisa tambah parah luka So Eun. So Eun melirik sebuah pisau yang berada diatas nampan dekat dengan buah yang belum terkupas. “ jangan mendekat ! Atau aku akan bunuh diri disini !,” ujar So Eun dengan suara bergetar. Air mata nya mulai mengalir, So Eun benar-benar takut saat ini. Pikiranya kosong, hanya mati dalam benaknya saat ini. Kim Bum tersenyum kecil, dalam pikiran Kim Bum jika So Eun tidak akan benar-benar melakukan hal konyol itu. “ aku bilang jangan mendekat !!,” pekik So Eun keras membuat langkah Kim Bum terhenti. Kim Bum hanya terhanti sejenak dan kembali melanjutkan langkahnya. “sreeekkk.. ahkk !,”

Kim Bum terdiam tiba-tiba. Pikiranya kosong ketika matanya melihat sayatan dan darah menetes dengan kental. Suara pisau terjatuh bersamaan tubuh yang terkulai. Kim Bum masih diam tidak berkutik melihat apa yang barusan terjadi. Matanya masih belum siap untuk menangkap jika pergelangan tangan putih itu kini berubah menjadi merah pekat. Baju putih So Eun kini terdapat bercak yang kental. “ KIM SO EUN !!,” pekik Kim Bum ketika So Eun memejamkan matanya dan bibi Liung yang mendengar segera membuka pintu. Terlihat darah berceceran dilantai membuat bibi Liung yang pobia akan darah hampir pingsan dan memlih melihat dari jarak yang jauh. “ bangun.. AKU BILANG BANGUN KIM SO EUN!!,” teriak Kim Bum seperti orang kehilangan akal. Tidak ada cara lain, Kim Bum segera mengangkat tubuh So Eun dan meraih pergelangan tangan itu dengan cepat dan menghisap seluruh darah yang mengalir dan dalam hati memanjatkan mantera penyembuhan. “ Tuan muda..” pekik bibi Liung dengan terkejut. Dewa tidak boleh menghisap darah manusia itu akan menyakiti oragan dalam tubuh dewa itu sendiri. Kim Bum terus memanjatkan mantera sambil menyedot darah So Eun. Pipi So Eun memucat dan Kim Bum terus melakukannya. Hingga beberapa menit kemudian darah itu telah berhenti menetes dan Kim Bum berhenti menyedot darah itu. “ bibi Liung kau perban tangan ini,” ujar Kim Bum melihat sekilas wajah So Eun sudah sedikit memerah. Kim Bum terpaksa memberikan sebagian darahnya kediri So Eun karena tidak ingin So Eun kehabisan darah. So Eun belum sempat Kim Bum renggut, tidak akan dibiarkan mati begitu saja. Baju Kim Bum yang berwarna putih sangat kotor dengan noda darah, begitu terlihat seperti pembunuh berantai yang dengan keji menghabisi mangsanya. “ Kau seharusnya tidak perlu melakukan itu Tuan muda. Kau lihat sekarang, kau merasa pusing bukan dan itu tidak sehat untuk jantungmu,”

“ tidak perlu pedulikan aku. Heh, sial wanita ini begitu menyebalkan !,” ujar Kim Bum turun dari ranjang dan melihat bajunya yang kotor. Bibi Liung tersenyum kecil dengan ujaran itu. “ sudah sana ganti pakaianmu aku akan membantu nona So Eun,” Kim Bum segera keluar mendengar tuturan bibi Liung yang tersenyum sangat ramah.

 

======()()()()()()=====

Malam masih pekat heningan suara terpedam. Kim Bum duduk dengan baju lusuh berwarna merah. Oh Tuhan ! Dia bukan manusia melainkan seorang dewa tetapi bajunya yang berwarna putih berpadu dengan biru muda terlihat lusuh warna itu. Tidak, jangan berpikiran Kim Bum membunuh apalagi memutilasi, ini semua hanya karena perlakukan gila wanita yang bernama Kim So Eun itu, calon ibu dari anaknya kelak. “ kau pucat. Sumpah demi Tuhan ini untuk pertama kalinya seorang dewa ditantang,” ujar Dong Wook kembali hadir setelah diberi perintah untuk mengambil baju ganti. Rumah ini sudah terlihat sangat berbeda dan terlihat seperti rumah kebanyakan gedung lainnya. Rumah ini sudah benar-benar dirombak seperti keinginan So Eun. Heidan duduk dengan wajah kesal begitu pula dengan Dong Wook. Rasanya mereka berdua begitu kesal dengan ulah Kim So Eun. Tidak suka itu sudah pasti mendominan di hati dewa kegelapan ini, tetapi demi rahim itu sekali lagi Kim Bum mencoba berteman baik dengan manusia selain wanita tua teman mendiang ibunya yang sedang dicari dan sudah ditemukan.

“ Aku benci wanita ! Ah, apakah semua wanita manusia seperti itu, kolot dan bodoh ! Kau tahu aku bahkan hanya ingin memeluknya dan dia berani bermin pisau dan menusuk denyut nadinya sendiri. Sial ! Aku tidak bisa melihatnya mati sekarang. Bajingan, kenapa pendeta itu mendidik wanita ini dengan kepala batu,” seru Kim Bum. Dewa ini sungguh buruk, rambutnya yang biasanya tertata rapi justru berantakan. Bahkan lihat saja, celana hitam panjang itu terkena darah. Hei, ada apa sebenarnya, hal gila apa yang dialkukan So Eun sebagai perlawanan dewa. Itulah dalam benak Dong Wook dan Heidan melihat penampilan Kim Bum yang sangat kacau.

“ Kau bicara seolah-olah dia adalah milikmu. Ingat, ada dewi fortuna dihidupmu dan masih ada dewi keadilan yang menanti cinta mu,” seru Heidan yang baru saja tiba dari atas atas perintah Kim Bum beberapa menit yang lalu. Kim Bum hanya tersenyum kecl, senyuman seringai itulah khas seorang Kim Sang Bum. “ Aku pengeran kegelapan putera raja kegelapan. Itu bukan urusan mu jika aku menginginkan So Eun sebagai milikku,” ego itu lagi-lagi kembali hadir mengisi sisi gelap Kim Bum. Dikamarnya So Eun terkapar lemah, wanita ini berani menggores pisau dipergelangan tangannya sendiri, Lantai marer putih masih ketara darah, Kim Bum tidak sempat membersihkannya. Wajah pucat So Eun sudah benar-benar memerah karena bantuan Kim Bum. Sungguh ironis, So Eun benar-benar berniat menghabisi nyawanya sendiri dibanding disentuh oleh Kim Bum. Kim Bum tidak habis pikir, begitu mudahnya kah manusia merenggut nyawanya sendiri padahal pasti ada jalan keluarnya. Rasanya Kim Bum ingin berteriak jika mengingat hal tadi. Dimana So Eun berlumuran darah dan wajah pucat menghiasi wajahnya.

“ kepala mu sakit ?,” tanya Dong Wook ketika melihat Kim Bum memijat pelipis. Kim Bum hanya diam tidak merespon. Matanya terpejam untuk meredakan. Suhu tubuhnya meningkat saat ini dan panas mulai mendera.
“ kau melakukan sesuatu tanpa berpikir akibatnya,” seru Dong Wook menasehati. “ seharusnya kau tidak gegabah Tuan,” ujar Heidan. Nadanya tidak selembut Dong Wook itulah sebebnya Kim Bum lebih mempercayakan segala sesuatu hal kepada Lee Dong Wook.

 

========()()()()()======

Han Ji Min merasakan kesulitan dengan hiruk piruk ditempatnya berada. Ada banyak suara-suara bising para penjual dan cakap-cakap banyak orang. Langkah mencari sepupu lama tidak semudah yang dibayangkan. Jika dilangit mereka akan mudah mencari tanpa kesulitan, berbeda dengan dibumi yang begitu banyak dengan berbagai aktifitas. Saat ini Han Ji Min sedang berada di sebuah pasar tradisinoal yang ramai. Disetiap kedai mata Han Ji Min terus mencari, walau kesulitan seorang dewi tidak pantas mengatakan menyerah. “ ramai sekali,” gumamnya disela-sela pencarian seorang wanita yang mengirim pesan lewat telepati. Mereka berdua sudah lama tidak melakukan telepati itu sehingga pesan yang disampaikan akan berjalan lambat.

Lima belas menit terbuang dengan sia-sia belaka. Waktu termakan dengan pencarin yang tidak berujung. Ada banyak manusia yang memenuhi pasar ini dan mereka semua memadati langkah Ji Min untuk mempercepat perjalanan. ‘ apa kau masih lama? Aku didekat kedai kopi paling ujung,’ seru sebuah suara yang didengar Han Ji Min dikala dirinya berhenti sejenak. Keringat mulai terlihat dikening Ji Min tanpa sempat diseka. Mendengar kalimat itu Han Ji Min segera berjalan walau begitu sulit. Wajah cantik Han Ji Min banyak dipandang pasang mata ditempat ini. Ada berbagai macam arti pandangan. Wajah yang bersinar membuat kaum manusia terkagum-kagum dengan dewi yang sudah lama hilang ini. Han Ji Min, seorang dewi yang dicampakkan, itulah perkataan yang sering dilontarkan para dewa dilangit sana. Bagaimana tidak, cintanya ditolak mentah-mentah oleh dewa kegelapan.

Langkah kaki kecil itu terhenti melihat seorang wanita bersurai lebat menjuntai diterpa angin sedang duduk menunduk dan memainkan jari-jarinya. Wanita itu seperti berkutat dengan pikiran yang tersembunyi. Han Ji Min menghembuskan nafas berat sebelum menampilkan senyum kecil. “ Han Ji Won,” panggil lembut Han Ji Min dibalik punggung Han Ji Won yang kesepian. Mungkin sudah beberapa jam Han Ji Won berada ditempat terik ini seorang diri tanpa teman. Tentu saja karena Han Ji Won turun seorang diri kebumi. Han JI Won memasang wajah sendu, matanya berlinang melihat sepupunya yang cantik dan anggun melebihi keanggunannya. Wajah Han Ji Min pun sama, terlihat sendu mengisyaratkan kerinduan yang mendalam. “ Han Ji Min, Hiks,” isakan kecil terlontar. Waktu kini terombak-ambik di sisi mereka. Berbagai macam kenangan seperti berputar disisi mereka dengan cepat. Mesin waktu seperti ada disebelah mereka yang kapan saja dapat diputar. Rintikan hujan yang tidak wajar mulai turun disaat Han Ji Won meneteskan air mata, dan air mata itu jatuh ketanah ditepatnya berpijak. Han Ji Min langsung mendekap tubuh adik sepupunya yang kesepian. Meskipun mereka sempat berselisih karena cinta, mereka tetap seorang dewi suci yang tidak mempunyai dendam.

“ Aku.. hiks hiks. Aku minta maaf atas perkataan ku dulu padamu,” tangis Ji Won didalam pelukkan kakak sepupunya. Dengan perasaan penuh kasih Han Ji Min mengelus surai lembut itu dan menghembuskan nafas lembut. “ tidak apa, aku mengerti kau begitu mencintai Kim Sang Bum. Aku pun minta maaf pergi begitu saja dan menghilang. Sudah jangan menangis. Tidak adil bagi penduduk bumi yang kehujanan. Ini bukan musim dingin jadi jangan menangis,” kata Han Ji Min dengan bicaranya yang bijaksana dan selalu memperhitungkan segala keadilan. Han Ji Won tersenyum dan menghapus air matanya. Mereka melempar senyum yang hangat. “ Kau tumbuh dengan baik. Kenapa kau bisa tahu aku dibumi?,” Han Ji Min bertanya sambil berjalan membimbing Han Ji Won menuju tempat yang sepi untuk berbincang. Han Ji Won terus mendekap lengan Han Ji Min seolah-olah dirinya takut kesepian. Seperti seorang wanita yang trauma akan penculikan. Han Ji Min hanya tersenyum dan mengelus tangan Ji Won penuh kasih.
“ Aku meraskaan keberadaan mu. Aku tidak memiliki tujuan dibumi,” gumam JI Won  dan langkah mereka berhenti disebuah tempat dimana berada dibelakang pasar.

“ perasaan mu ternyata begitu peka. Ada apa kau turun kebumi? Bukankah kau seharusnya berada dilangit dan menemani Kim Bum yang tersegel ?,” entah mengapa Han Ji Min merasakan firasat buruk. Melihat tangisan Han Ji Won tadi membuat Han Ji Min merasa ada sesuatu yang ganjil. Apa lagi mengetahui Ji Won turun kebumi tanpa alasan yang pasti. Han Ji Won menundukkan kepalanya dan memegang dadanya yang sakit. Ditarik nafasnya dalam-dalam. “ Aku.. aku ingin menyusul Kim Bum. Dia.. Dia telah bebas dari segelan ayah,” seru Ji Won membuat Han Ji Min berdiri kaget. Jantungnya seakan jatuh begitu saja. Tubuhnya seperti tersengat aliran listrik beribu-ribu volt. Nafasnya benar-benar terhenti hingga terasa mencekik leher. “ apa?!! Kim.. Kim Sang Bum bebas !!,” pekik Han Ji Min terasa kaku menyebut nama yang sudah membuatnya terluka dalam. Han Ji Won menunduk dan mengangguk. Han Ji Won tidak dapat menahan tangisnya, biarlah bumi ikut basah bersama pipinya yang bening. Han Ji Min menggelengkan kepalanya, ternyata firasatnya belakangan ini benar. Kim Bum benar-benar membuat ulah dan bebas. “ Sejak kapan?,” tanya Han JI Min masih dengan mimik tidak percayanya. “ sekitar tiga minggu yang lalu,” jawab Han Ji Won dengan suara parau. Han Ji Min mengepalkan tangannya, lehernya benar-benar tercekak sekarang, pita suaranya hilang entah kemana hingga kebisuan melanda dan kini diam tanpa kata.

“ Apa kau ingin membantu ku mencari keberadaanya. Kau dewi keadilan yang mengadili setiap takdir. Kau berkata akan selalu membantu ku. Aku mohon.. hiks, Aku mohon bantu aku menemukan Kim Bum. Aku takut Kim Bum melukai banyak manusia. Bukankah kau juga tahu sifat lelaki itu sangat keras,” kata Han Ji Won dengan suara bergetar dan rela berlutut dibawah kaki Han Ji Min. Dulu, mulut Han Ji Won begitu kasar bahwa dia berkata tidak akan meminta bantuan apapun pada dewi peradilan ini dan kini, dewi fortuna meminta lagi. Han Ji Min menahan air matanya. Dewi peradilan tidak boleh menangis jika tidak ingin terjadi badai. “ Akan aku pikirkan. Sudah-sudah jangan seperti ini Han Ji Won. Aku akan membantu mu kapan pun kau membutuhkan ku. Hapus air matamu,” begitu mulia hati dewi keadilan ini, suaranya lembut iramanya begitu menyejukkan kalbu. Tapi sayangnya, hanya satu irama yang menusuk hati dewa kegelapan yaitu wanita di puluhan tahun lalu, seorang wanita manusia yang terbentang takdir. Han Ji Won berdiri dan memeluk hangat kakak sepupunya. Mereka dewi yang beruntung karena tidak terluka fisik, jika saja mereka memiliki takdir seperti So Eun mungkin kesabaran mereka akan benar-benar diuji.

 

========()()()()()=====

“ makan lah ! setidaknya makan sedikit !,” bentak Dong Wook ketika menyajikan makanan mewah diatas meja panjang yang besar. So Eun masih diam, tangannya masih diperban. Pagi ini bibi Liung memasakkan makanan yang mewah walau masih terkesan vegetarian. Itu perintah Kim Bum, sebelum So Eun melahirkan maka So Eun tidak diijinkan untuk makan daging atau berlemak. Bahkan minuman pun tidak lewat dari jus buah-buahan yang menyegarkan kulit. Memang terlihat lezat, tetapi keangkuhan So Eun begitu besar untuk menolak. Kim Bum masih belum keluar pagi ini karena suhu tubuhnya kurang baik. Jika seperti ini yang dibutuhkan Kim Bum adalah ruh manusia sebagai pemulihan. Tidak mungkin bukan jika Kim Bum menghisap ruh So Eun atau pun bibi Liung. Kim Bum masih pucat, tubuhnya demam tinggi dan jantungnya berdetak tidak normal, pernafasannya tersendat. So Eun memandang sinis kearah Dong Wook yang berdri disisi kanannya. “ Aku tidak akan terlibat dalam dosa. Mati saja kalian semua dalam dosa terkutuk!,” teriak So Eun melempar semua piring dan gelas. Gaduhan pecah benda itu membuat Dong Wook mengepalkan kedua tangannya hingga tangannya terangkat dan mentera terlepas dari bibirnya.

“ Ahk !,” tubuh So Eun terdorong keras hingga kursi itu patah. “ susah sekali hanya untuk makan !,” ujar Kim Bum yang baru hadir dan duduk santai menyaksikan So Eun yang kembali berdarah. Pergelangan tangannya yang terluka kembali berdarah merembes dari lilitan perban putih. Susah payah So Eun menahan rasa muaknya terhadap segala mantera dirumah ini. Mantera terkutuk yang benar-benar patut dikutuk. So Eun memandang penuh benci kearah pria yang duduk santai dan bersandar. Memang wajah Kim Bum tidak seperti biasanya, ada sedikit paduan warna putih yang pucat.
“ terkutuk Kau Kim Sang Bum !!,” pekik So Eun dengan suara kecil tapi irama yang tajam. Kim Bum terkekeh kecil. Perkataan seperti itu sudah sangat biasa keluar dari mulut So Eun. “ Jangan mengutuk diriku! Karena sesungguhnya aku tidak ingin melukai dirimu ! Aku hanya ingin meminjam ! Hanya meminjam Kim So Eun !! Aku berjanji akan mengembalikan dirimu kepelukan kekasihmu asalkan kau mengijinkan aku untuk membuahi mu, menikmati buah dada mu, menikmati bibir ranum itu, dan merasakan hangat dengan jepitan kewanitaanmu itu. IJINKAN AKU MEROBEK SELAPUT DARAH MU !!,” So Eun tertawa kecil dengan teriakan sang dewa kegelapan. Merendahkan dan mencemooh dalam tawa. Penghinaan yang begitu jelas tersirat.

“ setetes sperma pun tidak akan aku ijinkan untuk masuk kedalam rahim ku dan setetes air susu pun tidak akan aku biarkan menghidupi putera mu kelak !,” ketus So Eun dengan matanya tajam setajam pisau yang melukai pergelangan tangannya. Kim Bum membalas dengan tawa renyah. Seperti biasa, tepukan tangan kecil dilakukan Kim Bum atas keberanian So Eun menantang keinginan dewa. Bertepuk tangan atas mulut So Eun yang kecil tapi mampu mengeluarkan lucah yang besar. Spektrum terhalangi hitam logam. Kim Bum paham mengapa So Eun menolak karena So Eun terlahir dengan takdir iris spektrum.

“ Malam ini, akan aku buktikan jika tetesan sperma ku akan menyentuh dinding rahim mu. Dan Sembilan bulan kedepan, air susu mu akan kupastikan mendarat ditenggorokan putera ku. Tidak, aku tidak ingin setetes, Aku ingin beberapa tetes sperma agar rahim mu hancur karena berani bernego dengan dewa kegelapan !,” geram Kim Bum berdiri dari singgahannya dan mengacungkan tanganya Kediri So Eun seraya menantang seberapa berani nyali So Eun untuk nanti malam. Bibi liung yang memegang semangkuk sop buah menjatuhkan mangkuk kaca itu. Tangannya gemetar mendengar sendiri tuturan kalimat Kim Bum. “ tuan..,” pekik Dong Wook dan Bibi Liung bersamaan. Sayangnya Heidan tidak ada, jika ada mungkin pria kuning itu akan menyudutkan. So Eun terdiam, mulutnya langsung terkunci saat itu juga. Jari telunjuk Kim Bum tepat mengarah Kediri So Eun yang masih terduduk dilantai marmer. “ Aku sudah berbaik hati memperlakukan mu lebih istimewa dibanding kedua dewi-dewi simpanan ku karena kau mirip dengan cinta pertama ku dan yang terpenting kau akan menjadi ibu dari anakku ! Tapi kau menantangku ! Kita lihat saja, jangan salahkan diriku jika kau tidak bisa melahirkan dengan normal saat sudah kubuahi !!,” pekik Kim Bum dan bibi Liung langsung membekap mulutnya terkejut.
“ Tuan .. Apa kau sekeji itu?,” tanya bibi Liung angkat bicara dan menghampiri So Eun. “ sejak kapan kau membela orang lain selain diriku, Bibi Liung ! AKU MENANTANG MU MALAM INI, HEI !! WANITA MANUSIA!,” pekik Kim Bum lagi-lagi membuat keadaan muram mencekam. Kim Bum sudah marah, kesabarannya benar-benar telah dirusak pagi ini. Kim Bum segera menghilang setelah kalimat terakhirnya meluncur. Dong Wook memejamkan matanya, menahan nafas sejenak. Kim Bum pasti pergi untuk mencari korban untuk diambil ruhnya, pikir Dong Wook.

So Eun masih diam, tidak ada air mata hanya jantungnya yang terasa sesak. Kenapa dirinya tidak mati saja ! kenapa Tuhan tidak adil ! pekik So Eun dalam hati didalam dekapan bibi Liung yang tidak terasa hangat. Besok adalah tanggal enam September dan Dong Wook baru mengingatnya. Ternyata takdir itu dua puluh tahun itu terjawab sekarang. Tinggal tersisa takdir anak kecil nanti. Terlahir seperti spektrum atau Ametis, lebih baik iris hitam logam yang suci. Itu harapan mereka yang menginginkan kedamaian. “ Kau harus kuat nona So Eun, hiks. Aku tidak bisa membantu mu. Maafkan aku, hiks. Aku sempat berpikir kau wanita itu, wanita yang merenggut hati Tuan Kim Bum. Tetapi aku meragukannya,” seru bibi Liung menangis memeluk kepala So Eun yang lemas. Malam ini, semua akan terlaksana. Halilintar akan menyahut proses pembuahan sang buah hati yang terlarang.

 

=======()()()()()=====

So Eun terdiam dikamarnya. Perutnya terasa keram jika mengingat ujaran Kim Bum tadi pagi. Ketakutan kini benar-benar terasa. Hari sudah menginjak malam detakkan jam dinding terdengar. So Eun duduk gelisah didalam kamarnya. Pintu kamar itu sudah terkunci rapat dari dalam dan gorden sudah tertutup sangat rapat. So Eun berharap Kim Bum tidak benar-benar menepati perkataanya. So Eun tidak sudi jika rahimnya direnggut oleh persetan macam Kim Bum. Menekuk lutut dengan ambang pikiran yang kosong, itulah keadaan So Eun.
“ kali ini saja Tuhan. Aku benar-benar memohon !,” seru So Eun berdoa dengan menekuk kedua lututnya. Detakkan jam itu seperti boomerang yang menerjang dirinya kapan saja. Matanya selalu awas kesegala sisi ruangan ini. Kim Bum dapat muncul kapan saja, So Eun sangat takut. Kini sudah pukul sebelas lebih tiga puluh menit, sudah hampir tengah malam dan So Eun masih benar-benar terjaga. Masih terbayang betapa perihnya gigitan dan cakaran kuku Kim Bum diselangkangannya beberapa hari yang lalu. Lehernya pun masih terasa panas dan perih jika terkena air. Lampu dikamarnya dinyalakan hingga sangat benderang. “ tidak ! aku tidak boleh tidur !,” gumamnya melarang kantuk yang menerjang. So Eun masih menutupi seluruh tubuhnya dengan kaku.

“ belum tidur ?,” So Eun langsung berhenti bernafas sesaat ketika mendengar suara lelaki perkasa. Itu suara Kim Bum dan terdengar begitu dekat. Kapan hadirnya, kenapa So Eun tidak merasakannya sama sekali. So Eun tidak ingin menoleh, ia sangat ketakutan. Kim Bum tersenyum miring dan memandang So Eun dengan pandangan merendahkan. “ mana keberanian mu ? bukankah kau mengatakan tidak akan membiarkan diriku merobek rahim mu ! Ayo coba tunjukan perlakukan mu, sayang !,” sindir Kim Bum sambil membelai rambut So Eun yang agak kusut, tidak lagi terawat. So Eun menepis tangan Kim Bum dengan kasar membuat Kim Bum terkekeh kecil. “ jauhkan tangan kotormu itu !,” seru So Eun memandang Kim Bum yang duduk tepat disampingnya dan sangat dekat. “ tidak ada tangan dewa yang kotor. Lihat itu, sudah akan tengah malam. Ayo kita bercinta,” Kim Bum memandang menyeringai kearah So Eun. So Eun memalingkan wajahnya kearah lain sehingga Kim Bum hanya menyentuh pipi So EUn. So Eun menggeser tubuhnya. Matanya mencari sesuatu yang bisa membunuh nya, tetapi ternyata kamar ini benar-benar bersih dari benda tajam. “ Ayolah, jangan membuang waktu. Aku tidak bisa melakukannya jika sang fajar sudah terbit,” kata Kim Bum menatap So Eun dengan serius. So Eun kembali menantang Kim Bum yang berada dihadapanya. “ cuih ! Bajingan !!,” pekik So Eun kembali meludai wajah tampan Kim Bum.

Kim Bum geram, mulut wanita ini benar-benar kurang ajar. Direnggutnya dengan kasar dagu dan dicengkramnya rahang So Eun dengan kasar. “ Kau yang meminta kasar !,” ujar Kim Bum dengan amarah. So Eun merasakan tulang pipinya yang sakit, bibirnya mulai basah berdenyut dicium Kim Bum. Ciuman yang sangat menggila membuat siapa saja akan mati karena kehabisan oksigen. Kim Bum menekan dada So Eun sambil terus mencium kasar bibir So Eun. “ muachh.. ssshh,,” desahan So Eun terlontar saat lidah Kim Bum memasuki mulutnya, bermain sesuka hati. Lagi-lagi So Eun merasakan rongga mulutnya basah karena saliva Kim Bum masuk kedalam. Bibir bawah So Eun kembali robek berdarah, gigi Kim Bum menggesek gigi So Eun saling beradu disaat So Eun mencoba mengatupkan bibirnya.
“ achh !,” pekik So Eun saat tangan Kim Bum membuka dengan kasar mulut So EUn. “ muachh.. ssshhh… ouuuhh aku menyukainya,” seru Kim Bum mencium kasar kembali bibir So Eun. Waktu sudah menunjukkan tepat pukul dua belas malam, waktu yang berbahaya bagi Cinderella dan bagi So Eun. Waktu yang genting tetapi beda permasalahan. Kim Bum merobek semua baju So Eun dengan cepat tanpa kuku. Pria ini tidak ingin tubuh So Eun penuh akan goresan nantinya. “ aahhh.. muaachh,,” rancauan terdengar dari bibir kecil So Eun ketika Kim Bum mendesak tubuh dan menghimpit tubuhnya kedinding.

“ mani..acchh.. maniak !,” pekik So Eun diiringi desahanya. Kuku So Eun yang terawat dan bercat bening mencakar punggung telanjang Kim Bum. Hal itu tidak berarti apapun bagi orang macam Kim Bum. “ achh… mmpphh,” So Eun mencoba berteriak tetapi mulutnya kembali tersumpal bibir Kim Bum. Kim Bum yang merasa tidak sabar menarik kasar tubuh So Eun kedalam ranjang besar miliknya. Ranjang yang telah berganti seperei berwarna putih tanpa adanya merah maroon.
“ bajingan!!! Accchhh.. ahhh !!,” pekik So Eun kembali. Tangan Kim Bum telah berhasil menelanjangi So Eun seutuhnya, tidak ada yang terlepas dari pengamatan Kim Bum malam ini. So Eun terus menendang perut Kim Bum membuat Kim Bum yang dalam keadaan tidak sehat sempat kesakitan. So Eun dapat melihat betapa kokohnya tubuh Kim Bum dengan tato hitam dipergelangan tangan kanan dan tato sayap hitam dipunggung kirinya. Leher Kim Bum pun terdapat tato berbentuk rantai. Mata So Eun pun melihat kejantanan Kim Bum yang gagah dan besar, akan sangat sakit pastinya ketika merobek miliknya yang berharga. Rambut Kim Bum sebagian rontok karena jambakan So Eun. Leher So Eun sudah merah seutuhnya. Payudara So Eun mengembang karena sedotan Kim Bum. So Eun benar-benar tegang. Dibawah sana So Eun pun merasakan bibir vaginanya jadi tebal karena menggigil ketakutan, kelitorisnya bergetar karena hentakan. Kim Bum terus mengulum putting So Eun, mencoba mengetes sebanyak apa air susu seorang wanita yang mampu menghidupi seorang bayi. Seberapa usahanya Kim Bum menyedot putting itu, air susu tidak keluar juga hingga Kim Bum kesal menggigitnya. “ ahhkk !! Apa yang kau lakukan, maniak !,” pekik So Eun karena sengatan gigi Kim Bum.

“ buah dada mu tidak ada susu !,” geram Kim Bum kesal. So Eun rasanya ingin tertawa, etahlah mengapa. Tentu saja tidak ada, jelas-jelas So Eun belum pernah memiliki seorang anak bagaimana mungkin air susu itu dapat terbentuk. “ ach ach.. ssshh.. muacchhh,” suara desahan antara linangan air mata berpadu. So Eun merasa sangat miris pada hidupnya. Melihat Kim Bum yang menindihnya seakan-akan melihat harimau yang memangsa lawannya. So Eun beberapa kali meludahi wajah Kim Bum disaat Kim Bum berhadapan muka dengan nya. Hal itu tambah membuat Kim Bum kesal. Hingga Kim Bum membawa So Eun bercinta ditempat yang tidak wajar. “ achh.. ach,, ouch. Tampat terkutuk apaah ini. Ach,” rancau So Eun merasakan hentakan tubuh Kim Bum yang merubah-rubah posisi tidurnya. Ini hutan ! batin So Eun. Punggungnya merasakan sakit kerikil yang mengganjal. Selangkanya merasakan begitu kasar akibat tanah-tanah dan batuan kecil. Tubuh berkeringat itu membuat beberapa ranting kecil menempel. “ kauuh kuajak bercinta ditempat hangat melawan ! Akuuh akan membuat mu terdiam!,” pekik Kim Bum sambil terus menciumi dan menghisap cairan So Eun yang keluar. Kepalanya tenggelam dihimpit antara kedua selangkangan So Eun. So Eun merasa terbang, lidah Kim Bum yang menusuk vaginanya dan sempat menyentuh kelitorisnya terasa panas membara. Kim Bum membersihkan vagina So Eun agar tidak kemasukkan kerikil kecil. Mereka bercinta dibawah maple besar dihutan lebat, entah hutan apa.

“ hhmmm.. ouch,” So Eun menggeram sedikit saat Kim Bum mencium beberapa kali area berbulu halus itu. Oh Tidak ! So Eun sempat terlena terbuai dengan kegiatan ini. Sinar bulan yang menerangi mereka begitu padam tidak jelas. Suara-suara gesekkan antara ranting sangat terdengar. Kim Bum meremas bokong So Eun dengan kuat. Mengecup beberapa kali juga perut So Eun dan meniup-niup vagina So Eun hingga terasa sampai ke dalam nya. So Eun merasa geli sekaligus sakit. Hatinya sangat sakit sekali. Diperkosa dihutan belantara dengan brutal. Tangannya berdarah, bibirnya berdarah dan kepalanya sakit tanpa alas. Perutnya terasa pengap ditindah Kim Bum jika Kim Bum menyusu. “ Tidakk.. ahhh.. jangan auchh,” So Eun mencoba menggapai diri Kim Bum dan tidak sengaja menyentuh alat vital Kim Bum. Percintaan yang panas membara antara dewa dan manusia suci. So Eun tidak ingin Kim Bum benar-benar merobek selaput darahnya. “ ku mohon. Sampai sini saja kau menikmati tubuhku ! Aku mohon jangan merobeknya.. Aku mohon, Kim Sang Bum..” ujar So Eun dengan suara yang benar-benar lelah. Keringatnya masih terlihat. Kim Bum tidak akan peduli, seberapa sedihnya So Eun mengemis untuk tidak dirobek maka Kim Bum akan tetap melakukanya. So Eun memberontak, darah ditanganya mengotori batang pohon dibelakangnya disaat Kim Bum menghempaskan dengan kasar. Leher So Eun kembali mengalir darah karena luka kemarin belum pulih. Kuku dan gigi Kim Bum terlalu tajam. Kim Bum mendorong tubuh So Eun dengan kasar hingga So Eun berteriak, punggungnya terpental batang pohon besar.

“ ahhkk !! tidak.. achh..” tangis So Eun pecah dikala Kim Bum melebarkan kakinya dengan paksa. Sakit, seakan-akan kakinya benar-benar robek saat itu juga disaat Kim Bum melebarkannya dengan paksa. Sinar bulan purnama malam enam september tidak akan terlupakan. So Eun masih meronta sampai Kim Bum membenturkan kepala bagian belakang So Eun dan darah mulai mengalir dari kepala bagian belakang So Eun. Kening So Eun yang terkena kuku Kim Bum tergores dan mengalir darah. Darah, darah dan darah dimana-mana. So Eun menjerit histeris menangis tidak mempedulikan berapa banyak darah yang diciptakan Kim Bum. Hingga darah yang mengalir di dada So Eun membuat So Eun terdiam, hanya matanya yang melihat Kim Bum sibuk menggesekkan kejantanannya didinding luar vagina So Eun. So Eun hanya menangis, kepala nya sakit sekali.

“ aahhhhkkk !!!!!!,”

Pekik So Eun keras ketika Kim Bum menghentakkan dengan keras kejantanannya kedalam dan menembus selaput darah. Darah lagi ! kali ini darah yang terpenting merembes keluar membasahi tanah yang pekat. So Eun manangis, hidupnya hancur ! Kim Bum benar-benar iblis penggila rahim. “ Biadap !,” gumam So Eun lemas. Kim Bum tersenyum mendengarnya. Hangat, Kim Bum merasakan hangat dan nikmat kejantanannya dihimpit vagina So Eun. So Eun benar-benar perawan. Kim Bum menjentikkan jarinya kembali dan keadaan kembali kesemula dimana terdapat kamar yang hangat. Hentakkan tubuh Kim Bum sama sekali tidak direspon So Eun. Bahkan ketika Kim Bum meremas payudaranya dan menarik-narik putting merah tegang itu So Eun tidak merasakan apapun. Hidupnya hancur, membawa kesakitan terdalam hingga hanya hatinya yang peka malam ini.

“ ach ach… hhee.. ooouuucchhh,” rancau Kim Bum terus menggenjot ,membuat dencitan pada ranjang. Payudara So Eun yang tergantung terus berayun-ayun dan segera ditangkap dengan telapak tangan Kim Bum. So Eun merasakan vaginanya sakit dan perih. Kejantanan Kim Bum begitu kuat menusuk. So Eun merasakan denyutan kejantanan Kim Bum yang bersatu dengan miliknya. Sepertinya ada banyak sperma yang akan Kim Bum tanamkan malam ini, So Eun dapat merasakan betapa kuat denyutan itu. Terus tubuhnya bergoyang karena tekanan Kim Bum. Kim Bum terus menusuk-nusuk mengeluar masukkan kejantanannya didalam sana. So Eun tidak berontak, sudah lelah. Hatinya hancur berkeping-keping. So Eun menoleh kesamping dimana terdapat darah dilantai, darah akibat pergelangan tangannya yang belum hilang. Dinding pun terdapat darah, semua serba bercakan darah. Denyutan makin terasa dan So Eun menggengam seperei kuat-kuat dengan pejaman matanya yang kuat.

“ ahhhkk.. accchhh !!,” pekik So Eun dan Kim Bum bersamaan saat dirasakan sperma Kim Bum seluruhnya menyembur kedalam dan cairan So Eun terasa hangat dan lengket memandikan kejantanan Kim Bum yang tertanam. Kim Bum kembali terseyum lebar dan mengecup kening So Eun. So Eun merasa jijik ! merasa muak dan dendam akan kemarahan semakin membesar. Kecupan kosong yang tidak berarti bagi hati So Eun yang terenggut. “ aku tepati perkataan ku bukan !,” seru Kim Bum. So Eun menagis kembali. Ia baru sadar ini adalah hari jadinya yang tepat ke dua puluh enam tahun. Sangat terluka, mati saja yang terbaik untuk kado tahun ini. So Eun memjamkan matanya saat Kim Bum menjatuhkan diri kesamping dan terpejam. So Eun tidak ingin melihat tubuhnya, tidak ingin melihat wajahnya, tidak ingin melihat pula keadaan dirinya. So Eun membenci cermin ! Malam gelap dengan halilintar menyambar disaat So Eun berteriak histeris. Kim Bum tersenyum dalam lelapnya. Bibi Liung dan Dong Wook terdiam diluar saling memandang. Mereka masing-masing menelan ludah. Jika ingin menangis percuma, semua telah terjadi.

 

=======()()()()()()=======

Suara tangisan terdengar redam. Mata seorang wanita berbinar nanar. Rambutnya rontok beberapa helai dan terlihat diatas bantal maupun seprai. Darah terdapat didinding, lantai dan selimut bahkan kayu pun terdapat. Lehernya terasa panas sepanas perutnya beserta kewanitaanya. Selangkangannya sakit karena dipaksa dibuka. Semua terasa gelap bahkan sangat gelap meruntuhkan sorotan matahari. Wanit ini terdiam memandang lurus kedepan. Tangannya terkepal kuat, selimut memenuhi tubuhnya. Sakit ! bukan begitu, tetapi amat begitu perih dengan derita. So Eun tidak berkedip, duduk menekuk dan menatap kosong dihadapannya.
“ kau yang meminta kasar,” santai Kim Bum berucap dan berpakaian. Ia tahu, lelaki ini tahu separah apa mereka bercinta. Mereka bahkan bercinta didua tempat.
“ bagaimana ? menyenangkan bukan bercinta dengan seorang dewa?,” ujaran terdengar bernada maniak. So Eun berdesis benci, telinganya ingin sekali dibuat tuli saja agar tidak dapat mendengar nada bajingan keparat ini.

“kau bukan dewa ! bahkan jika kau seorang dewa, Aku akan bersumpah. Jika kelak aku mengandung dan anak ini lahir, maka aku mengutuk mu ! Mengutuk membunuh mu !! Kau bajingan !!! Keparat kau Kim Sang Bum !! AKU MENGUTUK ITU !! MATILAH KAU BERSAMA KETURUNAN MU !!,” Kim Bum terdiam. Seorang dewa dikutuk ? Sekeji itukah julukannya, dewa kegelapan. Senyum kecil pun ditunjukkan dan Ametis ditimbulkan tetapi tidak menatap So Eun. Hati Kim Bum berdesir dengan ucapan lantang So Eun. Bukankah Kim Bum sebelumnya sudah meminta ijin untuk meminjam, tetapi mengapa So Eun mengutuk tanpa mengetahui alasan terperinci. Lagi-lagi Kim Bum tersenyum seolah merasa gagal dengan dirinya sebagai seorang dewa. Kim Bum menegakkan tubuhnya dan menaikkan dagunya. “ Aku tunggu hari itu. Jika kutukan mu gagal, aku justru berdoa. Aku berdoa kau kembali dengan selamat. Anggap saja doa ku sebagai ucapan terima kasih kau bersedia mengandung benih dewa kegelapan,” ujar Kim Bum dengan suara lembut. Ini pertama kalinya So Eun mendengar nada itu. Seorang wanita yang berdiri dibalik pintu tersenyum kecil dan matanya nanar teduh. Ada maksud tertentu didalam kalimat yang dikatakan doa itu. “ Maniak !! Aku tidak butuh doa mu ! Aku mengutuk mu.. Aku akan mati dibanding harus melahirkan !! Aku membenci mu !!,” teriakan itu terdengar kata lucah berseru-seru. Kim Bum keluar dari kamar itu dan tersenyum miris.

“ So Eun, bisakah kau mengerti maksud doanya. Tidak apa kau mengutuk tetapi jangan jadikan anak itu kelak menjadi pengacau. Kau akan mengerti suatu saat betapa bergunannya anak itu,” suara itu muncul ketika Kim Bum menghilang  dan tersampaikan kedalam kamar. So Eun hanya bisa berteriak marah, amukan terlihat dan tidak mempedulikan suara-suara itu. Bibi Liung yang masuk kedalam kamar berjalan tertatih-tatih melihat banyak darah dan melihat So Eun mengamuk seperti orang gila.
“ nona So Eun !,” pekik Bibi Liung miris. “ hiks hiks, Bibi Liung.. Aku.. Aku hancur !!,” pekik So Eun melihat bibi Liung dan tangisan kedua wanita itu menjadi satu. Bibi Liung merasakan getaran hebat ditubuh So Eun, So Eun benar-benar ketakutan.

 

=======()()()()()=====

“ kau baik-baik saja ?,” tanya Dong Wook peduli ketika So Eun turun bersama bibi Liung disisinya. So Eun sudah terlihat rapi dibanding beberapa saat lalu. Rambutnya sudah tersisir dan sutera hadir kembali.
“ mati saja kau sana jangan bertanya !,” Pekik So Eun membalas. So Eun dan bibi Liung berjalan melintas dihadapan Dong Wook begitu saja. Seperti Tuan rumah terhadap ajudannya. “ Biarkan dia Dong Wook. Jangan bertanya kepadanya. Suasana hatinya sedang kacau. Aku menyiksa dirinya beberapa hari ini,”ujar Kim Bum dalam kejujuran. Kim Bum tersenyum pada bibi Liung yang berhasil membujuk So Eun keluar kamar dan melupakan kejadian malam itu.

Saat ini mereka semua sedang berada di taman belakang luar rumah. Mereka bersantai menikmati udara pergantian musim. “ Kau berkelahi dengan kakakmu sendirian rupanya. Aku tidak menyangka kakak mu selama ini diBumi begitu pun dengan dewi peradilan,” seru Heidan yang berdiri dibelakang Kim Bum yang sedang duduk santai memandang So Eun yang berbincang dengan bibi Liung diayunan. “dewi fortuna bahkan nekat turun kebumi,” seru Heidan kembali sambil memperhatikan So Eun yang duduk memeluk lututnya didepan Kim Bum, So Eun terlihat asik memandang kupu-kupu ungu serta maple berwarna salju. So Eun diam-diam mendengar perkataan Heidan. Meskipun So Eun berusaha acuh pada akhirnya So Eun merasa tertarik juga. Tanpa menoleh So eun mencoba angkat bicara.
“ kau memiliki banyak wanita ternyata,” seru So Eun ketika mendengar dua nama dewi itu. Entahlah kenapa kali ini So Eun ingin ikut angkat bicara. “ kenapa ? Kau tidak suka? Atau kau ingin menjadi kekasihku seperti mereka?,” tanya Kim Bum dengan senyum kecil.

“ itu pikirmu. Dewi-dewi itu pasti buta karena terpesona dengan mu,” hujat So Eun membuat Kim Bum menaikkan sebelah alisnya. Kim Bum hanya tersenyum kecil dengan perkataan itu. “ berhentilah mencemooh nona,” ujar Dong Wook kesal. Tiada hari tanpa hujatan, telinga Dong Wook sangat bosan. “ Biarkan saja. Selama kata-katanya masih tahap rendah aku masih bisa menerima,” tutur Kim Bum. So Eun memanyunkan mulutnya dan kembali menghadap kedepan, melanjutkan perbincangannya dengan bibi Liung. “ Kau sudah bertemu dengan Han Ji Min?,” tanya Dong Wook tiba-tiba. Kim Bum bisa mengetahui Han Ji Min berada dibumi dan Han Ji Won turun kebumi karena Lee Dong Wook. Dong Wook malam itu tidak sengaja bertemu dengan Han Ji Min dan bersebunyi. Disamping Han Ji Min pada malam itu ada Han Ji Won, adik sepupunya. “ dua bulan kedepan. Aku akan menemuinya. Aku sudah membuat perjanjian melelaui pesan telepati. Aku malas jika harus bertemu dengan dua orang dewi sekaligus. Apalagi kau tahu ada dia disini. Aku tidak ingin tiga wanita satu atap !,” ujar Kim Bum matanya menatap So Eun. “ kau sudah membuat tanggal atau jam ?,” tanya Heidan. Pria ini selalu ingin terperinci.
“ sudah. Aku akan menemuinya sendiri. Aku harap So Eun belum hamil. Aku belum siap jika dia hamil. Aku butuh waktu merayu Han Ji Min untuk membantu merubah takdir ku,” kata Kim Bum wajahnya sangat tidak baik dilihat. Benar, memang akan sangat sulit jika So Eun hamil disaat kedua dewi berada dalam satu wilayah. Janin So Eun akan diincar oleh dewi-dewi dan dimanfaatkan. Kim Bum tidak suka itu. “ Yah semoga saja So Eun bukan wanita yang subur. Aku dengar Lee Jun Ki mulai mencium keberadaan mu,” kata Dong Wook. Suaranya pelan agar tidak didengar So Eun.

“ Aku rasa begitu. Tidak perlu dibahas. So Eun sudah kusegel dibeberapa bagian intim. Il Woo tidak akan bisa menyentuh So Eun. Aku menguasai So Eun seutuhnya,” seru Kim Bum tersenyum lagi. Heidan yang mendegar tersenyum tipis, pria kuning ini seperti bukan pria baik-baik.

 

=======()()()()()=======

Malam ini hujan lebat tanpa diduga. Halilintar bersambar diaman-mana. Sudah dua bulan berlalu peristiwa perenggutan rahim itu. Kim Bum dibuat murka atas perlakuan So Eun yang melarikan diri dari rumahanya. Dirumah tadi kosong tidak ada penjaga dari Heidan maupun Lee Dong Wook bahkan bibi Liung sedang terlelap. Kim Bum pergi bersama Heidan dan Dong Wook ke suatu tempat dimana tempat itu adalah gereja tua tempat pernikahan ibu dan ayahnya dulu. Kim Bum berlari seorang diri kesana kemari seperti mengejar hujan yang tidak akan pernah diraih. So Eun hilang ! Ia melarikan diri. Ternyata bibi Liung lengah dalam hal ini. Kim Bum hafal tabiat So Eun yang takut halilintar. Malam ini adalah pertarungan Kim Bum dan Jung Il Woo dan So Eun melarikan diri. Sial benar-benar sial ! Kim Bum sangat marah. Malam ini adalah puncak dari perseteruan dan itulah alasan Kim Bum pergi kegeraja sejenak.

“ dimana kau Kim So Eun ! Kenapa kau keras kepala!,” pekik Kim Bum. Hatinya tiba-tiba merasa takut jika So Eun sudah berhasil kembali kerumah nya. Ada rasa yang tidak rela seperti perasaan Jung Il Woo terhadap So Eun. Dibawah pohon besar So Eun duduk menggigil dan kedua tangannya digunakan untuk menutupi kedua telinganya. So Eun takut dengan suara petir, takut kilatan itu dan takut dengan suara hujan yang seperti akan badai. Disana pasti dewi keadilan menangis. Kim Bum tidak sengaja melihat tubuh mungil yang meringkuk kediginan dan nafasnya terhenti. Hatinya tiba-tiba terasa terenggut dengan pemandangan dihadapanya. Malam ini adalah malam yang digariskan, So Eun harusnya diam dirumah.
“ Kim So Eun!!!!,” teriak Kim Bum marah atas apa yang dilakukan So Eun malam ini. “ Aku meminta mu diam dirumah !! Sial Kau, kau satu-satunya orang yang berani memnantang ku !,”

“ Kau bajingan keparat. Kau hanya bajingan pecandu rahim. Aku muak ! Aku lebih baik mati dilebatnya hujan dibawah petir !,” teriak So Eun. Hujan dengan halilintar memenuhi bumi dan Kim Bum lengah dengan kesegelan rumahnya. Kim Bum rasanya ingin berteriak histeris saat ini. Kenapa semua kacau, harusnya So Eun tidur nyenyank dirumah hangatnya. Kim Bum langsung memeluk So Eun ketika So Eun berteriak ketika halilintar terdengar dan kilatan terlihat. Dalam dekapan Kim Bum So Eun merasakan sesautu yang berbeda, ada sisi aneh yang Kim Bum sembunyikan selama ini. Apakah mungkin Kim Bum benar-benar takut kehilangan So Eun, bolehkah So Eun berharap seperti itu? Kim Bum dapat merasakan jantung So Eun yang berdetak cepat karena rasa takut. Ada beberapa pohon tumbang, benar-benar badai. “ Kau harusnya tidur dirumah,” ujar Kim Bum dari nadanya terdengar kekhawatiran yang tidak terkira. So Eun hanya menangis, ketakutan dan rapuh. Disaat mereka saling berpelukan, tedengar teriakan yang tidak diharapkan.
“ Kau.. Aku akan benar-benar membunuh mu !!,” Teriak Jung Il Woo dibelakang Kim Bum. Saat ini Kim Bum sedang dalam perkumpulan beberapa dewa dewi membahas takdir. Manusia tidak boleh disangkut pautkan. Kim Bum tidak melepas pelukkanya walau mendengar suara lantang itu. Kim Bum benar-benar memeluk erat So Eun dan menutup telinga So Eun dengan kedua telapak tangannya.

“ Kim Bum..” terdengar suara lembut seorang wanita. Sangat lembut menghanyutkan telinga. “ dewi peradilan..,” pekik Kim Bum tertahan ketika melihat wanita mungil seperti So Eun yang sedang dalam pelukannya ini. Saat ini halilintar keras, Kim Bum memeluk So Eun untuk membantu agar jantung itu tidak bergetar keras. So Eun pun menoleh dan melihat wanita sangat cantik itu. “ Kim Sang Bum..” seru wanita lain lagi, sang dewi pujaan, dewi Fortuna. “ Han Ji Won !,” Pekik Kim Bum sekali lagi. Hati So Eun mendesir seketika, ada perasaan yang aneh kini. Kim Bum sekali lagi ingin berteriak, kenapa kedua dewi ini ada ditempat ini.
“ Kim Bum..” panggil ketiga wanita itu secara bersamaan dengan nada yang sama. Kim Bum tertawa bodoh. Keadaannya kacau. Takdir tolol saat ini ! Kim Bum membenci ini semua ! “ Kenapa kau keluar Kim So Eun !,” Pekik Kim Bum kesal untuk mengalihkan panggilan mereka. Kim Bum mati kata-kata, entahlah mengapa.
“ aku akan merebut calon isteri ku !,” teriak Jung Il Woo. So Eun melebarkan matanya melihat Jung Il Woo ada ditempat ini. Kim Bum langsung berdiri membelakangi tubuh So Eun sehingga So Eun berada dibelakang punggung Kim Bum. “ syndrom alassca !,” pekik Kim Bum mengarahkan tangannya kearah Jung Il Woo. Pekikan terdengar dimana-mana. Dibelakang Kim Bum So Eun mencoba berpikir untuk lari. Kim Bum masih saling berselisih dengan Il Woo, dan hal ini dimanfaatkan So Eun untuk berlari. “ Alascca derira !!,” pekik Han Ji Won mengarahkannya pada So Eun. Kim Bum yang meliatnya berlari secepat kilat, ia tahu manter apa itu. Itu mantera perusak jantung !

“ Kim So Eun !!!,”

Braaaakkkkk….
Tubuh terpental beberapa meter dengan keras. Tubuh Siapa gerangan. Siapa? Siapa ? So Eun bertanya dalam hati. Ternyata tubuh gagah pangeran dewa kegelapan terpental jauh ketika melindungi So Eun dari mantera Han Ji Won yang menaklukan jantung. Mantera itu pernah digunakan sewaktu melawan Pein. So Eun yang berdiri kaku, langkahnya terhenti ketika mendengar suara tubuh yang terpental dan menubruk sebuah pohon besar, tepat dibawah maple beku itu. So Eun tidak berkedip, tenggorokannya tercekik melihat Kim Bum yang terpental dan mengeluarkan batuk darah seperti penyerangan Pein. Begitu pula dengan Han Ji Won, dewi Fortuna ini terkejut melihat ulah Kim Bum yang melindungi manusia. “ ada apa ini ?,” tanya seorang wanita mungil bergetar yang tidak mengerti apapun.

“ awas So Eun !!,”

Lagi-lagi terpental dalam tubuh yang sama. Kini Han Ji Min yang mencoba melukai So Eun. So Eun tidak mengerti apapun. Hanya satu yang So Eun tahu, perutnya sakit dan keram. “ kita mati bersama !,” egois terdengar kembali. Sebelum hal itu terjadi Kim Bum bangkit sudah payah dan memeluk So Eun lalu menghilang. Lagi-lagi Jung Il Woo kehilangan Kim Bum. “ KIM SANG BUM !!!!!,” teriaknya murka.

 

=======()()()()()======

“ uhuk uhuk.. ahk !,” pekik Kim Bum terbatuk dadanya masih terasa sakit akibat peristiwa tadi. Batuk darah masih melanda Kim Bum. “ Tuan !!,” pekik Heidan, Dong Wook dan bibi Liung serentak. So Eun hanya diam tidak tahu harus apa. Jantung Kim Bum terasa sakit sekali.
“ Uhuk.. aku tidak apa-apa. Kau pergilah aku ingin bicara dengan wanita ini,” ujar Kim Bum masih memegangi dadanya. Batuk itu selalu mengeluarkan darah membuat So Eun ikutan meringis. “ aku ingin kembali ke Il Woo oppa,” teriak So Eun namun dihalangi oleh Kim Bum. Betapa kerasnya So Eun, bahkan sudah dilindungi tidak ada ucapan terima kasih sedikitpun. “ Diam !! Kau membuat ku murka Kim So Eun! Kau mengacau dalam pertemuan ku dengan dewi peradilan,” pakik Kim Bum menahan batuknya.

“ Aku tidak peduli ! persetan berjuluk dewa. Aku ingin bersama kekasihku !,” masih saja So Eun bersikeras. Kim Bum menarik lengan So Eun masuk kedalam. Beberapa hari ini Kim Bum mencium ada yang berbeda dengan diri So Eun. Wajah So Eun pucat tidak seperti biasa padahal So Eun tidak sakit apapun. Sering mual dan pusing selalu menjadi alasan sehari-hari. “ tidak bisa !! Kau pikir Aku tolol!  Aku yakin Bibi Liung menyembunyikan sesuatu tentang dirimu. Dan kau.. !! Kau pun menyembunyikannya bersama bibi Liung !,” Kim Bum tidak bisa terima dibodohi. Ada yang salah dengan tubuh So Eun, Kim Bum sadar itu. So Eun gemetar. Apakah Kim Bum sudah tahu, sesuatu yang dirinya sembunyikan bersama bibi Liung. Seorang wanita tua yang selalu menemaninya. “ Aku dewa Kim So Eun ! Dua minggu lalu kau mengacau keadaan. Kau diam-diam menjadi musuh berselimut tebal. Kau tahu.. sudah dua bulan aku tidak menyentuhmu karena aku tahu kau terluka. Tapi, kau menantang !! Kau benar-benar ingin aku hancurkan !!,” Kim Bum menyalakan api didalam matanya, So Eun gemetar kini, kakinya lemas.  “ lepaskan aku !! Aku ingin pergi !,”

“ tidak !! Sudah aku katakan aku bukan dewa tolol ! Ada yang kau sembunyikan !!,” Ametis itu menyala-nyala, So Eun takut, matanya menatap jelas iris ametis Kim Bum yang menatapnya. ‘ tidak, tidak. Kim Bum tidak boleh tahu,’ pekik So Eun dalam hati. Kim Bum dengan geram mencekik leher So Eun, kemarahanya sudah meninggi.
“ Tuan jangan !!,” pekik bibi Liung berlari mendekat. Kim Bum memandang bibi Liung dengan api membara. Mulut So Eun terbuka seolah-olah Kim Bum ingin melenyapkan nyawa So Eun saat ini juga. “ Apa yang kalian sembunyikan !,” tanya Kim Bum dengan geram. Kim Bum menguatkan cengkramannya pada leher So Eun. So Eun siap, yah wanita ini sudah siap jika harus mati malam ini juga. “ hentikan tuan !! Kau bisa melukai janin itu !,”

“ apa? Janin !!!,” pekik Kim Bum cengkraman itu tiba-tiba terlepas san tubuh So Eun jatuh terkapar. Tidak, tidak !! Kim Bum sudah mengatakan belum siap jika So Eun hamil sekarang. Dong Wook mengepalkan tangannya. Kenapa lagi-lagi takdir tidak berpihak. Apakah ini ada sangkut pautnya dengan seorang dewa yang diam-diam menjadi musuh. Dong Wook menangis, bersama bibi Liung dibawah. “ janin.. janin.. Tidak !! Kanapa harus sekarang kau hamil !!!,” Kim Bum berteriak memegangi kepalanya. Dewi Fortuna dibumi dan dewi peradilan ikut adil dibumi. Kim Bum belum siap menerima kehadiran janin itu sekarang. Dewi Fortuna akan bertindak begitu pun dengan dewi perdilan beserta Pein. Harusnya janin itu hadir setelah Kim Bum merayu dewi peradilan. Jika janin itu hadir saat ini maka akan sangat sulit melindunginya. So Eun memeluk perutnya ketika pandangan Kim Bum tajam mengarah pada perutnya. Apakah Kim Bum akan memaksa So Eun menggugurkan bayinya demi rencana nya mengembalikan kepercayaan kedua dewi itu? Bibi Liung pun menggeser tubuhnya dan memeluk So Eun dari samping.

 

Ada dua pilihan kini yang terpenting dalam hidup Kim Bum..

Mempertahankan tetapi merusak atau dihancurkan tetapi berjalan lancar….

Semua ada ditangannya…

 

 

Mempertahankan sesuatu dalam hidup yang sesungguhnya adalah bukan sebagaimana Anda mampu memilih pertahanan, tetapi sebagaimana Anda mampu berpikir risiko terhadap pertahanan itu. Karena pertahanan bukanlah sikap tetapi niat yang harus dipikirkan.  

 

TO BE CONTINUE

Posted on Juni 15, 2015, in fanfiction. Bookmark the permalink. 149 Komentar.

  1. Cinta pertama,,,hemm apaa mungkin cinta pertama bumppa itu sso..??sso gakk usah berontaKk seharuss nya,,bumppa seperti’a bakalan bersikap lembut klo sso nurut…
    Seperti’a bumppa jg udah punya perasaan buat sso,,,dia bahkan rella nyelametin sso dari dari han jimin sma han jiwon,,,hemmm
    Makinn seruuu nihh….nextt part’a eon tunggu saenx…
    TOP dehhhh buat ff nya…:)

  2. Kasian sso harus menderita seperti itu ,aku tahu maksud bum namun hanya caranya saja yang salah dan sso juga terlalu keras kepala dan itu membuat’a tersakiti

  3. Next ya thor ceritanya tambah bikin penasaran

  4. sumpah baca ff ini bikin tegang banget, tapi seruu

  5. Ciipoepayy payypayy

    Penasaran takdir yg sbenarnya itu seperti apa?kasian so eun dsiksa terus2n ,so eun jg c kras kepala pake nantangn bumppa sgala . . ,apa akhirny kim bum dan so eun bisa saling mencintai ea?

  6. aku kira sudah ending ternyata belum tpi ini bner” menegang kan

  7. kayanya ceritanya bakalan panjang,
    d bikin novel aja win bagus ceritanya ,seru ,tegang,dan ada humornya meski dikit,
    bum ngelindungin sso dari serangan ,han ji min dan han jiwon ,meski bum yg harus terluka ,kayanya bum udah ada perasaan ama sso ,apa jangan2 cinta pertama bum,sso kali?
    sso hamil d saat yg ga tepat ,bum jdi suru sso gugurin .
    keren ceritanya win , trims pw nya ya .
    figting.

  8. Hmmm seru sekali.sebenernya disini siapa yg jahat.semuanya belum terkuak.ah keren sekali ff nya.tetap berkarya Semangat

  9. Aku kshan sm kim bum, dia sdh jls skli cnt sm so eun dan prjuangannya mnyelamatkan so eun itu bnr2 buat greget krn so eun tdk bsa mngerti jga..
    Dbandingka il wo yg tdk bsa menyelamatkannya dri mantra dewi fortuna..
    Ksihan kim bum, brharap kim bum tdk mnghancurkan janin so eun…

  10. aslinya bum itu baik tapi caranya aja yg salah, kasian sso.😥

  11. Seru banget ditambah tegang banget baca ff ini
    Apakah kim bum bener bener bakalan menggugurkan janin soeun…
    Semoga engga
    Sebenernya aku rasa kim bum dewa yang baik, cuma dia caranya aja yang salah dan takdir enggak berpihak sama dia
    Aku rasa dewa yang berkhianat heidan deh…
    Makin seru .. tetep semangat
    Fighting!!

  12. Kasian ke2nya sso + bum, tpi kyanya lbih ke bum deh soalnya khlngan cinta pertmanya, ayahnya disegel, ibunya ninggal. Takdir membwnya jdi dewa keglpan.
    Sso keras kpla sih, bum jdinya nyiksa sso .
    Knpa sso hamil pda waktu yg tak tpat, bum tambah kacau .
    Ada apa dengan bum, knpa nlongin sso, apakah ada rasa cinta …
    Smga bum mmilih yg tepat…

  13. finally thor, aku bisa membaca chap 3nya.. *nangis haru* hehe (dan akhirnya membuatku harus membaca lagi dri chap 1 spy ntar nyambung ke chap 4.. soalnya aku udh baca dluan chap 4, jdi takut ntar rada bingung)

    so far, di chap 3 ini… ngesek bgt thor, entahlah tapi Kim Bum dan So Eun kayaknya mereka pernah bertemu wkt kecil dan Kim Bum menganggap So Eun sebagai cinta pertamanya (semoga,, keinginan readers niih) *dan berjodoh.. yipiiee*

    tapi thor, aku masih bingung ttg masa lalu Kim Bum dan Jung Il Woo, ada apa sebenarnya yg terjadi di antara kedua org tua mereka ? (ngga mungkinlah lah ayah Kim Bum sang dewa turun ke dunia trus menikah dgn seorang manusia, pdhal di dunia langit ayah Kim Bum bisa mendapatkan segalanya, mirip keadaan Kim Bum sekarang, apakah takdir ?)

    miris bgt dah liat Kim Bum yg mmg dri awal udh jatuh cinta sama So Eun, tapi So Eun msh dipenuhi rasa tidak suka (?) (Bumsso couple jinjja lovely bgt), suka bgt sma Kim Bum yg panik bukan main saat So Eun mengiris nadinya dan melindungi tubuh So Eun.

    tapi kalau benar kenapa Jung Il Woo membunuh ibunya sendiri (?) tapi kayaknya Jung Il Woo memang dri awal menginginkan So Eun tapi sepertinya mereka tak berjodoh.

    masa lalu So Eun juga masih misteri bgt thor, ibunya ituloh kayaknya dewi dan bukan manusia sembarangan (i hope so !!) trus kenapa juga hrs di ultahnya So Eun, Kim Bum melakukan hub (apa ada artinya nih thor sesuai ramalan ?)
    tapi yg aneh kok kedua dewi ini kayak kerjasama bgt, ngga ada saingan2 mau dimadu dipoligami (?) atau perasaan mereka berdua cinta jadi dendam, kenapa cuma So Eun yg mereka ngga suka kalau seandainya mereka mau di poligami (diduakan mksdnya thor)

    di chap 3 ini sih mulai keliatan bgt kalo Kim Bum kekurangan kasih sayang seorang wanita dan ngga tahu cara menyenangin wanita hahhaha makanya jdi kasar tapi jujur loh thor, kok lucu bgt pass Kim Bum nanya ngga ada susunya hahaha.. tandanya Kim Bum ngga ngerti soal wanita luar dan dalam lol trus kayaknya di chap ini So Eun udh berubah dri wanita yang suci, baik pkknx hati malaikat tapi skrg jadi wanita penuh makian, cacian dan hinaan bahkan kata jorok juga mulai terlontar, semakin mirip pengantin pangeran kegelapan (lama2 kok makin mirip Kim Bum yg kasar..hahah jinjja Bumsso couple bikin gregetan)

    udh kepanjangan niih thor, ntar lanjut komennya di chap 4 deeh. gomawo buat pwnya min..

  14. Ni ff bnr” seru bkin tegang pas baca’a, wlw pun sdkit ngeri bca’a pas bumppa nykit’n sso
    moga ja sso baik” ja n sbar buat ngdep’n bumppa

  15. apa ill wo dan kim bum saudara kandung ? Mereka terlahir berbeda. Apa benar ilwo membunuh ibunya sendiri ? Dan apakah dia jg akan membunuh adik kandungnya . Apa yang sbnarnya terjadi pada masa lalu kim bum. Dan apakah cinta pertama dewa kegelapan itu memang so eun ? Akhirnya so eun hamil. Kenapa kim bum benar2 menginginkan ktrunan nya dari so eun bkan wanita lain. Apa yg sbnarnya akan terjadi jika bayi itu telah lahir , apakah kebaikan atau justru sebaliknya ? Di tnggu part selanjutnya thor jangan lama lama yah.

  16. parah banget…
    tu kan bener ill woo yg bunuh omma mereka…
    kenapa eunni terus terusan bikin bumppa naik darah emosi sih.,.😈😬
    tambah kacau deh rencana bumppa…
    kenapa ada acara eunni kabur segala….bikin semua tambah rumit….
    aigoo eunni benar2 keras kepala gara2 dia kabur bumppa jadi kena batunya gara2 lindungi eunni…malahan yg dilindungi ga tau terimakasih…
    eunni hamil g.mn ya nextnya….penasaran mau baca nextonnya…

  17. Apaa mungkin cinta pertama bummie itu sso yaa.?bikin gregett baca’a…masih nebak” nihh alur nya cz kya’a bummie nympen bnyak rahasia..karya” mu emang selalu kerennnn dehhhh saenx…izin baca next part’a yaa..:)

  18. Mama nikita widiyati

    Yaakkkk ampuuuun ternyata dewa kegelapan berusaha melindungi so eun…terharuuu…janjiku komen di wp sudah ku penuhi…ditunggu part endingnya…..

  19. Meskipun bumppa terlihat angkuh, arogan dan kejam tapi justru aku merasa kasihan dan miris. Bumppa seperti menyimpan luka di hatinya.. ada rasa sakit saat bacanya..
    siapa cinta pertama bumppa? apa yg sebenarnya terjadi dgn kehidupan bumppa di masa lalu? Makin penasaran..

  20. kayaknya cinta pertama kim bum adalah so..
    so janggan bikin kim bum marah mulu..

  21. Wah2 kacau deh, akhirx para dewi menemukan so eun dan kim bum, trjdi peperangan deh… Blm kelar yang 1, ada lgi muncul mslh baruu… 😞。。。

  22. Keren part 3 nya kak win..🙂
    Aku bacanya ketinggalan sih😀 haha..
    Tapi gapapa. Ga nyesel bacanya..
    Hwaiting buat post lainnya!!

  23. Omo kimbum benar2 kejam, kasian sso merasakan percintaan yang menyakitkan. Tapi sso jga terllu brani mlwan kimbum hdehh.
    Jgn2 sso mank bner cnta prtma kimbum.
    Kra2 janin tu bkal diapain ya?
    Nextyt

  24. Oh ternyata Jung II woo itu kakak nyaaa kimbum oppa,
    Wow kimbum udah dapetin sso seutuhnyaa, bum udah dapetin selamut darah sso

  25. sebenarnya rahasia apa yg terjadi diantara mereka. dari cinta pertama kim bum. orang tua sso dan ortu kim bum. dan semoga takdir mereka menjadi baik.
    rasanya huuuaaa ikut terhanyut ama ceritanya.

  26. huhuhuhu. cnta yg trlarang, ntah knp aq ska bgt ama part yg ini. slalu q bca brulang kali.. feel ny dpt bgt. T-T

  27. aq ska bgt ama part ini. adegan ny mmbuat aq tak kuasa.. Chingu hbat bgt sich bsa bwt ff yg daebak ini. T-T.

  28. Sri Rahayu Mulyani

    wuihh,,semakin menegangkan aja ni ff,itu mereka mau bwt baby sampe di dua tempat,haha…lucu jga sih,,soeun keras kepala and kim bum kasar,makanya setiap saat merek pasti bertengkar,,fiuuhh..semamangat deh bwt autornya ya,,

  29. jdi ternyata jung il woo itu kakak bumppa.
    huft~ il woo kejam banget rela membunuh ibunya
    wih menegangkan banget unnie. saya ikut deg²an

  30. Kim Sang Eun Bumsso

    Apa yg akan terjdi slanjutnya
    smoga ja sso baik2 aja

  31. Wuaaa di balik rasa benci tersimpan rasa cinta yang melindungi, apkh sso memang wanita yg cintai olh bummie di masa llu? Akn kh kebencian sso bisa berubah cinta?

  32. daebak….so sweet banget kata katanya…moga aja sso dan bum ah bisa bersama…

  33. Seru bangeeettt
    Ternyaya il woo dan kim bum saudara kandung tapi sayangnya mereka ditakdirkan berbeda.
    Penasaran siapa cinta pertama kim bum dan apaa yg kim bum sembunyika tentang masa lalunya

  34. kasihan kim bum harus menerima beban berat. dia harus membebaskan ayahnya dan mencari keadilan. semoga apa yg d ingin kan tercapai juga jd happy end antara kim bum ama sso. ngk tega kalau liat kim bum ama sso beratem seperti itu trus

  35. Menegangkan
    G bisa bilang apa2
    Keren pokok e

  36. Keren,,,bikin tegang,lanjut next part😍

  37. Aaaa kimbum kimbum.. duh kejam kejam :” Bkin greget bgt ini ff .. tenyata kimbum sama ilwoo itu punya hubungan ya,, trus gimana junki gabisa kah dia bantuin nemui anaknya kok malah diam aja😦 kasian soeunnya disiksa kimbum sampai segitunya kirakira bisa gak ya kimbum hamilin soeun.. duhhh greget cinta pertama?? mungkin kah cinta pertama oppa itu adalah eoonie hihii smga iya biar kimbum lebih bersikap baik sama soeun..

  38. Kasihan sso unni, rahasia apa yg disembunyikan kimbum???

  39. Kasihan sso di siksa oleh kim bum

  40. Whattt ilwoo kakaknya kim bum?? Jangan² cinta masa kecil nya bumppa sso lagi … Jangan bum ntar ayah oppa ga bisa lepas dari segel gimana? Bumppa bisa kok lindungin:V

  41. Wahh daebak aku suka banget sama ceritanya.. tapi kesian so eonni di siksa terus..semangat trus eon win

  42. aku kesal liat sikap sso eunnie terhadap bumppa..
    apa lagi meludahin bumppa. trus bumppa ud nolongin dy dan ngrbanin hidupnya dmi nylamatin eunnie dari mantra dewi2. tapi eunnie kyk manusia yg gag punya prasaan.
    kasihan oppa

  43. Apakah kim bum ada perasaan sama sso, dia bahkan menyelamatkan nyawa sso. Semoga sso kuat menerima semuanya dan kim bum dapat memperlakukan sso dengan lebih lembut karena kehadiran janin itu

  44. aku kasian sama so eun, di kasarin trus sama kim bum.
    tpi aku jga kasian sama kim bum, dia kelihatannya cinta bgt sama so eun. so eun malah mau nikah sama il woo

  45. Aduuuhhh,,,,satunya kejam satunya keras kepala,, seharusnya Sso nurut aja biar gak d kasarin mulu,,,
    Kayak nya Kim Bum juga aslinya baik,smpe rela trluka demi nyelamatin Sso,apa dia udah mulai suka sm Sso ya.. Amiin aja dehh,,,

  46. Ceritanya makin seru ajaaaa…. Hemm apa mungkin sso cinta pertama dari bumm ???

  47. Makin menegangkan sajoo lhaa , hmm cerita nya makin seruu, 😀😀😀

  48. Hmm akhirnya hamil jugaa 😊😊, apa cinta pertama bum adalahh Sso ? Mkin penasaran aja ceritaa nyaaa….

  49. Makin seru ceritanya,next👍

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: