Time In The Second ( os )

IMG_20150118_063809

 

Time In The Second ( os )

Author                  :  win ( acieh km )

Main Cast            : Kim Sang Bum, Kim So Eun

Other Cast          : Kim Joon, Kang So Ra

genre                    : sad , tears, romance, romantic

Type                      : One Shoot

 

Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produser dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita

 

Jika luka itu memang terlihat besar, mengapa tak kau coba untuk kecilkan?
mengapa bertahan hingga melebar??
Jika rasa itu telah hancur, mengapa kau coba bertahan??
mengapa tidak kau tinggalkan?
Jika jam itu berhenti bahkan menit tak lagi berkontraksi,
mengapa masih menunggu detik?
detik begitu cepat tidak memberi kesempatan.
Mengapa masih menunggu detik??

mengapa kau tinggalkan aku???!!

=======()()()()()=======

Gemuruh langkah kaki memenuhi gedung kantor ini yang memeiliki tingkat lantai yang tinggi. Berhamburan kertas yang terjatuh karena terburu-buru dalam pekerjaan. Hal ini membuat So Eun terlihat pusing sendiri. Begitu banyak manusia didalam gedung perusahaan yang besar ini. Perusahaan yang bernama PT. STREET COM yang merupakan perusahaan terbesar diAsia dan memiliki banyak saham diluar Negara sana. Banyak pula para pegawai yang terus berjalan dengan menerima telpon kanan dan kiri. Ini merupakan hari pertama So Eun bekerja ditempat ini karena kekasihnya yang meminta dirinya. Sebelumnya So Eun bekerja diperusahaan Jepang cabang dari perusahaan ini tetapi kekasihnya yang sudah menjalin kisah dengannya selama setahun ini meminta dirinya untuk pindah dan menjadi sekertaris pribadi kekasihnya itu. So Eun baru menyadari jika perusahan ini jauh lebih besar dari pada anak cabang diberbagai Negara. Perusahaan ini berdiri dengan usaha Arsitek bangunan perancang segala macam bangunan dipadu dengan bisnis perhotelan terbesar yang selalu aktif.

So Eun menyapa beberapa karyawan yng sepertinya terlihat biasa pagi ini walaupun mereka semua pasti sibuk. Sistematika dari perusahaan ini sangat indah sekali. Para pekerja diperusahaan ini sebagian banyak berasal dari luar negeri. Tapi sepertinya dari Jepang dan China lah yang banyak selain Korea dan Inggris. So Eun tersenyum sendiri mengingat kekasihnya itu. Dirinya sudah menjalin kisah dengan pria itu ketika pertemuan awal dimusim semi di Osaka saat ulang tahun pria itu. Pria yang berhati dingin dengan orang yang tidak dikenalnya dan akan sangat menyenangkan serta hangat jika saja mengenal dekat.

So Eun menaiki lift menuju ruangan kekasihnya itu. So Eun harus bersikap professional diperusahaan ini sekalipun kekasihnya itu presiden direktur diperusahaan ini. So Eun pun tersenyum ketika sudah sampai dilantai dua puluh lima dan mengetuk pintu dengan dengan lembut. “ permisi.. apakah aku boleh masuk?,” tanya So Eun dengan suara lembut. Terdengar oleh suara bass seorang pria dari dalam kantor itu. “ masuklah..” So Eun tersenyum kecil mendengarnya. So Eun terdiam didalam ruangan itu. Ruangan kantor yang sangat megah dan luas. Ketika masuk kedalam dan menutup pintu akan seperti berada disebuah kamar hotel kelas berbintang. Lantai yang mengkilat, tembok yang terlapis peredup suara, dan terdapat sofa besar. Benar-benar terlihat seperti kamar hotel dari pada sebuah ruangan kantor.

So Eun tersenyum dan usil dengan kekasihnya.“ direktur Kim apakah kau tidak merindukkan ku?,” tanya So Eun tersenyum dan berdiri didepan meja Kim Bum. Kim Bum yang mendengar suara sangat dirindukkanya itu pun meletakkan dengan pelan I Padnya dan menegakkan duduknya. Senyuman kecil yang menyambut kebahagiaan itu begitu indah.
“ aku tidak merindukkan mu cantik, tetapi sangat sangat merindukkan sosok dirimu,” ujar pria itu berdiri dan mendekati So Eun. So Eun tersenyum lebar ketika Kim Bum mengecup pipinya sebagai ucapan selamat datang.

“ kau terlihat sibuk sekali Kim Bum Shi. Apakah aku datang diwaktu yang salah?,” So Eun meneliti setiap kertas-kertas dokumen yang ada dimeja kerja kekasihnya yang bernama lengkap Kim Sang Bum itu. Meja itu terlihat rapi seperti sosok Kim Bum meskipun banyak sekali berbgai macam kertas maupun map-map yang memenuhi meja.
“ harusnya kau datang dimalam hari agar aku bisa lebih lelusaa melepas rindu,” canda Kim Bum namun mendapatkan cubitan ringan dipinggangnya dari tangan mungil itu. So Eun berjalan menghidupkan pendingin diruangan Kim Bum yang menurut nya terasa panas.

“ kenapa tidak memberitahuku ketika kau datang? Aku bisa menjemputmu dibandara sayang,” kata Kim Bum yang menekan sebuah tombol dimana tombol itu membuka sisi lain dari kantor ini. Sebuah kamar yang lengkap dengan tempat tidur ukuran besar. Diruangan tersembunyi itu ada pula lemari pendingin, televisi, dan ada satu lemari yang berukuran sedang dengan dua pintu. So Eun menggeleng-gelengkan kepalanya melihat betapa kayanya seorang Kim Sang Bum ini. So Eun tidak menyangka akan dicintai oleh seorang Kim Bum Sang Bum. Bahkan sedetik saja So Eun tidak pernah membayangkan akan mendapatkan kekasih seperti Kim Bum. Kim Bum mengambil minuman kaleng untuk menyegarkan tenggorokan dimusim panas ini.

“ apa kau lelah? Kau terlihat sangat kelelahan,” ujar Kim Bum mengangkat tanganya menyeka keringat So Eun yang terlihat sedikit dikening itu. So Eun hanya tersenyum sambil meminum air dingin kemasan kaleng itu. “ tidak terlalu karena rasa lelahku telah tergantikan oleh hadirmu,” ujar So Eun membuat Kim Bum tersenyum menggoda. Kim Bum memang sangat mencintai wanita ini. Wanita bertubuh mungil yang telah mencuri hatinya pada pertemuan detik terkhir dimana pergantian musim diJepang. Waku didalam detik itu membawa Kim Bum dalam sebuah kehangatan tiada henti. Selalu bersinar seperti matahari jika berada disisi So Eun ini.

Waktu itu Kim Bum bersama kakaknya sedang berlibur ke Osaka dan beberpa kota lain diJepang untuk merayakan kelulusanKim Bum sebagai mahasiswa terbaik di unersitas Jerman sekaligus merayakan ulang tahun Kim Bum yang ke dua puluh empat tahun. Kim Bum dan Kim Joon berdua telah menjadi yatim piatu saat Kim Bum berusia delapan belas tahun. Kedua orang tua mereka meninggal karena korban gunung meletus yang terjadi di China. Sewaktu itu kedua orang tua Kim Bum sedang menginap disebuah penginapan didekat kaki gunung. Tidak disangka malam itu hujan sangat deras dan musibah itu terjadi. Masa kelam itu telah berlalu dan Kim Bum hanya memiliki kakaknya yang berbeda usia lima tahun diatasnya itu.  wanita yang cantik yang sudah berkeluarga tiga bulan yang lalu. Meskipun begitu Kim Bum dan Kim Joon selalu menyempatkan diri untuk bertemu.

Kim Joon sudah mengetahui hubungan Kim Bum dan So Eun dan mengenai hal itu Kim Joon sama sekali tidak pernah melarang niat Kim Bum untuk meneruskan hubungan Kim Bum dengan So Eun sampai mana. Kim Joon tidak ingin mengekang diri Kim Bum yang nantinya akan merusak kebahagiaan Kim Bum. Saat ini Kim Bum sudah sepenuhnya dewasa dan sudah sangat matang untuk hidup memulai berkeluarga. Kim Joon tidak pernah melewatkan setiap detiknya untuk mendoakan Kim Bum untuk dapat berbahagia. Meskipun Kim Bum sudah dewasa, kesedihan akan kesendirian pasti akan menghampirinya. Kim Bum bahkan pernah memergoki Kim Bum yang seperti orang yang kehilangan arah ketika So Eun berada diJepang atas perintahnya. Itulah alasan mengapa Kim Joon mengijinkan So Eun bekerja disatu perusahaan dengan Kim Bum.

Waktu itu Kim Bum pergi kesebuah lembah diOsaka seorang diri dan melihat So Eun yang sedang berdiri memandang kebawah lembah itu. Kim Bum yang saat itu membawa kamera pun mengambil gambar diri So Eun tanpa meminta ijin. Kim Bum sudah merasakan jantungnya tidak karuan bahkan tangannya gemetar saat mengambil gambar wajah So Eun yang sangat cantik. Kim Bum terus memotert hingga membuat So Eun menyadari sesuatu. Akhirnya disaat Kim Bum hendak mengambil keseluruhan tubuh So Eun dengan jarak dua meter, Kim Bum kepergok oleh mata indah itu. Karena kepergok oleh So Eun maka Kim Bum pun harus dengan berani mengenalkan dirinya dan menyatakan kebenarannya. Ternyata So Eun saat itu sama seperti dirinya sedng berlibur. Dalam pertemuan itu Kim Bum tidak membuang waktu untuk segera menyatakan cintanya. Tentu saja penolakan itu terjadi pada saat itu karena So Eun tidak mengenal Kim Bum. Tetapi Kim Bum terus berusaha menyakinkan hati So Eun bahwa dirinya benar-benar tulus mencintai So Eun. Hingga pada akirnya waktu dalam detik terakhir  dimusim semi So Eun menerima cinta Kim Bum.

Itulah awal kisah cinta waktu dalam detik. Awal kisah yang sederhana tetapi proses itu sangat berkesan. Kesuksesan itu yang terpenting bukan lah hasil yang kita dapatkan. Tetapi yang terpenting adalah proses bagaimana kita mendapatkan apa yang kita kehendaki..

 

======()()()()======

Malam sudah menjelang dan Kim Bum sepertinya sudah lelah dan bosan dengan pekerjaannya. Dilihat jam ditangan kananya yang berwarna hitam berpadu perak itu yang menunjukkan pukul sembilan malam. Kim Bum segera merapikan dokemen-dokumennya itu dan mematikan mesin pendingin diruangan itu untuk menghalau terjadinya kebakaran. Kondisi kantornya sudah sangat sepi tidak ada terdengar para karyawannya lagi. Tetapi mata Kim Bum menangkap sebuah ruangan yang terlihat terang dan sepertinya orang itu masih bekerja. Kim Bum pun menghampiri orang itu bermaksud untuk meminta dirinya pulang.

Dilihat oleh Kim Bum jika orang itu adalah seorang perempuan yang tinggi tetapi lebih tinggi dirinya.Kim Bum memperhatikan dengan sekilas wanita yang sepertinya asing dalam penglihatannya. Wanita yang rambutnya diikat keatas dan blazer nya digulung karena fokus bekerja. Wanita itu tidak mungkin Kim So Eun karena So Eun sudah diminta Kim Bum untuk pulang keapertemnya dan memasakkan sesuatu untuk dirinya ketika pulang nanti. Kim Bum tidak berdeham sama sekali hanya memperhatikan tingkah wanita yang memakai terusan putih itu dan blazer hitam.

“ ehem..” deham Kim Bum akhirnya karena wanita itu sepertinya asik sekali dengan segala macam perhitungan data basenya. Wanita yang memiliki dagu sedikit panjang itu membalikkan tubuhnya dan berhadapan wajah dengan Kim Bum. Wanita itu membesarkan matanya ketika menyadari bahwa Kim Bum yang berdeham tadi. “ minahe pak direktur. Maafkan saya..,” ujar wanita itu membungkukkan badanya beberapa kali kehadapan Kim Bum. Kim Bum hanya cuek saja dan mengangkat kedua alisnya. “ apa yang kau lakukan? Ini sudah malam dan aku meminta mu pulang. Tunggu, siapa namamu? Sepertinya aku baru melihatmu,” ujar Kim Bum yang tidak melihat nemtek yang tertempel di bezer wanita itu.

“ aku Kang Soo Ra Pak diretur. Saya pindahan baru dari cabang Busan. Mianhe saya masih berada disini. Baiklah saya akan segera pulang setelah merapikan ini semua,” Kim Bum hanya mengangguk saja dan membalikkan tubuhnya untuk pulang. Rasanya rindu sekali diri Kim Bum  pada sosok wanita mungil itu. Berada jauh dari wanita itu seperti tidak memilki semangat hidup. Dan berada didekat wanita mungil itu Kim Bum merasa seperti waktu dalam detik yang begitu cepat sekali. Karena terlalu cepat tidak terasa mereka telah menjalin kisah setahun lamanya. So Ra hanya tersenyum melihat punggung Kim um yang telah keluar dari bagian Akuntan itu. “ kau tumbuh dengan sangat baik Kim Bum,” ujar So Ra dengan tersenyum kecil. Senyuman yang terselip kisah yang terjadi dimasa lalu.

 

======()()()()======

Kim Bum didalam mobilnya diam-diam mengingat wajah Kang So Ra yang bertemu dengan dirinya tadi. Jika melihat wanita itu Kim Bum seperti mengingat sesuatu. So Ra seperti wanita dimasa lalunya tetapi siapa. Kim Bum tidak dapat memikirkannya. Udara yang panas membuat pikirannya pun ikut terasa panas. Jika melihat senyum So Ra Kim Bum terbayang-bayang seorang wanita. Kenapa tiba-tba seperti ini , Kim Bum sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi dengan ini semua. Yang dirinya tahu ia tidak memiliki kisah dimasa lalu bersama siapapun itu terkecuali bersama keuda orang tuanya dan keluarganya itu.

Kim Bum mengendari mobilnya dengan kening yang terus berkerut menampilkan betepa sosok So Ra mampu membuatnya kebingungan itu. Batinya mulai terusik tetapi tidak ingin perduli. Perjalanan menuju apertemen lebih lama dari biasanya karena Kim Bum harus menghentikan mobilnya beberpa kali karena pusing yang mendera kepalanya itu. Ia bahkan memegang jantungnya yang sakit secara tiba-tiba karena kepalanya yang pusing itu. Hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Selama lebih dari dua puluh tahun Kim Bum tidak pernah merasakan hal ini.

“ ada apa ini?,” tanya Kim Bum pada dirinya sendiri ketika sudah sampai digedung apertemenya itu. Hati Kim Bum sedikit kacau hanya dengan munculnya Kang So Ra. Wanita itu mengganggu Kim Bum sekali. Sangat mengganggu bahkan sampai masuk kedalam jantungnya. Kim Bum segera memarkirkan mobilnya dan berjalan memasuki apertemnya. Apertemen ini adalah milik Kim Joon sehingga Kim Bum tidak perlu membeli tempat ini karena Kim Joon pemilik sah dari apertemn mewah ini. Keluarga Kim Bum dahulunya adalah seorang pembisnis hebat sehingga Kim Joon dan Kim Bum tidak canggung dalam masalah ini.

Kondisi apertemn ini masih ramai karena memasuki musim panas. Mereka banyak berhamburan keluar menuju ruang casino untuk bermain. Kim Joon bekerja sama dengan pihak Jepang sehingga Casino ini tercipta. Casino ini bukan casino legal sehingga tidak perlu khawatir jika ada polisi yang menangkap mereka semua yang terlibat didalam sana. Casino ini seperti inventaris untuk sebuah keuntungan dan saling bertukar kerja sama. Apertemn yang memiliki tinggi empat puluh lima lantai ini terlihat ramai sekali seperti hotel saja. Banyak sekali yang menempati orang-orang luar karena mereka merasa tertarik dengan tempat ini.

Kim Bum masuk kedalam apertemnya tanpa harus menekan bel. Dilihat olehnya So Eun sedang duduk diatas sofa dan menyaksikan televisi dengan sangat tenang. Kim Bum pun melihat diruang makan sudah tersaji berbagai menu makan malam yang menggugah selera. Kim Bum tersenyum lebar ketika kepala So Eun semakin lama seperti akan terjatuh. Ternyata So Eun tertidur menanti dirinya pulang dari kantor. Kim Bum meletakkan tas kantornya saklian dengan jas nya. “ ternyata sicantik sudah terlelap,” gumam Kim Bum perlahan dan membenarkan posisi So Eun untuk berbaring. Disaat Kim Bum sudah membaringkan tubuh So Eun, So Eun membuka matanya dan menahan tangan Kim Bum.

“ kenapa lama sekali pulangnya? Tidak mungin jalanan macet bukan?,” tanya So Eun membuat Kim Bum tersenyum kecil. Kim Bum berlutut dilantai dan mentapa wajah So Eun dengan pandangan penuh cinta. “ maafkan aku, tadi aku ada masalah dengan salah satu karyawan ku. Tidurlah kembali dan aku akan mandi lalu makan masakan lezat mu itu,” Kim Bum mengecup bibir So Eun dengan hangat. Kecupan yang sangat lama karena entah mengapa Kim Bum sangat merindukan bibir ini dan menekan tengkuk So Eun agar lebih menempel dengan dirinya itu.

“ ach,,, sshh.. Yak Kim Bum. ach ach,, mandi dulu sana.. aah ah,” desah So Eun saat Kim Bum dengan ganas berada diatasnya dan menindih tubuhnya. Kim Bum terus mencumbu So Eun dan tangannya bergerak liar membuat gaun tidur So Eun tersibak. Paha putih dan mulus So Eun dapat Kim Bum lihat dengan sangat jelas. “ mandi sana !!,” gertak So Eun mendorong tubuh Kim Bum membuat Kim Bum terjatuh dari sofa. So Eun pun tertawa terbahak-bahak membuat Kim Bum jengkel rasanya. “ dasar wanita menyebalkan,” cibir Kim Bum namun S Eun dengan cuek menjulurkan lidahnya menantang Kim Bum. “ awas kau yah..,” Kim Bum pun berdiri bersiap untuk menangkap So Eun yang membuat dirinya kesal itu. Mereka terlihat seperti sepasang remaja yang saling berbagi kisah kepolosan yang hanya tahu tentang cinta dan saling mencintai tanpa memperdulikan waktu dalam detik yang kapan saja dapat berlalu dengan cepat dan merubah keadaan. Jika saja waktu sudah masuk kedalam detik mungkin mereka baru menyadari betapa cepatnya bahwa kenangan itu bisa berubah menjadi masa lalu walau hanya terlewat sedetik saja.

“ geli.. yak Kim Sang Bum,” ujar So Eun tertawa kerena Kim Bum mengeletik perutnya itu. Kim Bum pun mengehentikan tangan nya yang menggelitik dan merengkuh pinggang So Eun. Ditatapnya lekat-lekat wajah So Eun yang menatap wajahnya dengan tatapan teduh. Entah mengapa Kim Bum tiba-tiba mengingat wajah So Ra yang mengganggu itu. Sangat mengganggu sekali sampai membuat Kim Bum mengerutkan keningnya berkali-kali saat saling menatap dengan So Eun. Tangan So Eun merangkul leher Kim Bum dan memandang Kim Bum aneh karena Kim Bum terus bergeleng kecil seperti menghilangkan suatu pikiran atau bayang-bayang mungkin.

“  ada apa? Apakah ada sesuatu yang mengganggu dirimu atau pikiran mu?,” tanya So Eun hati-hati dan mengelus wajah Kim Bum. So Eun memijat kecil pelipis kepala Kim Bum karena dirinya berpikir mungkin saja Kim Bum membutuhkan bantuannya. Kim Bum menggeleng kecil dan tetap menampilkan senyum merekahnya itu. “ aku tidak apa-apa sayang hanya saja aku merasa sedikit pusing,” ujar Kim Bum memegang pelipisnya dan melepas rengkuhan terhadap pinggang So Eun. So Eun pun berjinjit untuk mencium kening Kim Bum. Kim Bum cukup tertegun dengan apa yang So Eun lakukan itu. So Eun hanya memberikan senyuman terindah ketika menangkap kebingungan dari Kim Bum. “ semoga peningmu cepat sembuh. Saranghae..” ujar So Eun memeluk tubuh Kim Bum. Kim Bum hanya terdiam dalam dekapan hangat wanita mungil ini. Detakan jarum detik itu membuat Kim Bum entah mengapa melamun dalam waktu beberapa detik. Ketika waktu sudah masuk kedalam detik maka akan merasakan suatu yang namanya kekosongan. Mengapa? Karena semakin cepat waktu bergulir maka semakin sulit seseorang untuk merelakan sebuah kenangan yang indah berlalu begitu cepat.

Kim Bum hanya terdiam membalas dekapan So Eun dan mendengarkan suara-suara detakkan jarum jam itu dimana antara jam, menit dan detik saling melengkapi. Tapi jika waktu sudah masuk kedalam detik itulah yang menyakitkan. Terlalu cepat untuk dibayangkan bukan.. Entah mengapa Kim Bum ingin menagis didalam hati dan memperdalam pelukan ini. Ada rasa tidak ingin kehilangan ketika melihat jarum detik itu. Kim Bum merasakan kaosnya basah, So Eun menangis Kim Bum tahu itu.

“ mengapa menangis? Apa yang terjadi?,” tanya Kim Bum menghapus air mata itu dan mengecup sepasang mata indah itu. Mereka belum menikah namun kehidupan pernikahan telah mereka jalani. Mereka ingin menjalani kisah cinta ini seperti jam karena tidak ingin cepat berlalu. Mereka ingin meninggalkan kepenatan hati seperti detik yang begitu cepat dan tidak akan terasa bahkan tidak akan terlihat hanya dapat terhitung dalam hati.
“ aku merasa menjadi bebanmu,” ujar So Eun. Kim Bum mencium kembali bibir So Eun dengan ciuman yang dalam. “ tidak ! aku tidak ingin kau bicara seperti itu So Eun. Aku mencintaimu selamnya. Jangan jadikan kisah ini seperti waktu dalam detik yang berlalu sangat cepat. Kita buat kisah kita seperti jam yang berjalan lambat. Jangan menangis seperti menit yang menyebalkan. Menit yang berada diantara detik dan jam. Aku tidak ingin melihatnya,” So Eun mengangguk kecil dan melingkarkan tanganya dipinggang Kim Bum.

Mereka kembali berciuman dalam. Ciuman yang hangat dimusim panas. Mereka tidak ingin perduli dengan detik. Mereka tidak ingin terjebak dalam waktu yang masuk kedalam detik. Mereka saling mencintai meskipun sesuatu terjadi dimasa lalu Kim Bum. Bahkan menit itu belum hadir mengapa Kim Bum ingin sekali menggapai jam. Menit yang mengartikan seseorang yang lain diantara mereka. Mengapa Kim Bum berani berharap kepada akhir yang bahagia yang diibaratkan jam. Detik itu bahkan terus berjalan, mengapa Kim Bum tidak ingin perduli. Detik yang melambangkan So Eun yang terus bergerak dideretan paling terdepan diantara jam dan menit.

Ciuman Kim Bum begtu panas membuat So Eun membuka mulutnya dan mencengkram pinggang Kim Bum. Kim Bum melepaskan gaun tidur So Eun dengan perlahan. Mereka melakukan cumbuan dengan sangat lembut. Selembut hati seseorang yang mencintai tanpa syarat seperti itu lah kelembutan Kim Bum memperlakukan So Eun.
“ achh.. ssshh cup cup.. muuuachh,” desah mereka berdua karena ciuman Kim Bum benar-benar mengandung nafsu. Mereka pun masuk kedalam kamar besar itu dengan perlahan. Kim Bum terus mencumbu So Eun dan mendorong pelan bahu So Eun menuju kamar. “ ahh.. sssh.. cuup.. ouch,” So Eun terus mendesah ketika tangan Kim Bum telah membuat tubuhnya terasa dingin terlepas dari sebuah benang. “ aku mencintai mu. Jangan jadi waktu dalam detik,” ujar Kim Bum mencium hangat kening So Eun dan membaringkan So Eun keranjang itu dengan sangat lembut.

Mereka pun kembali melakukan itu dengan penuh gairah dan cinta yang membara. Kim Bum melupakan bahwa dirinya belum menjadi suami yang sah bahkan tunangan saja Kim Bum belum  melakukannya terhadap So Eun. Mereka melakukan sesuatu jauh diatas pikiran normal kisah cinta sepasang kekasih. “ accchhh… !!,” pekik So Eun saat Kim Bum telah menyatukan ikatan mereka dan darah itu menjadi saksi bahwa So Eun telah menjadi milik Kim Bum seorang. Darah segar yang membuat suara pekikan sebagai nada dalam kenikmatan ini. Malam sabtu dimusim panas membuat semua tampak berbeda.

 

=======()()()()=======

Kim Bum mendekap tubuh So Eun dengan sangat erat ketika mereka sudah sama-sama terjaga. Kim Bum mendekap tubuh So Eun menempel pada dada bidangnya yang hangat itu. Mereka sepenuhnya sudah terbangun hanya saja Kim Bum ingin mendengar suara nafas So Eun lebih lama lagi sebelum pergi kekantor itu. “ kita akan kesiangan,” ujar So Eun tersenyum dibalik ucapanya itu. So Eun memainkan jari-jarinya didada bidang itu dan mengelus sedikit. Kim Bum hanya tersenyum dan mencoba menutup mata untuk menikmati kehangatn ini dan harum tubuh wanita yang dicintainya ini.

“ lima menit lagi. Aku ingin menikmati tubuh sexy mu,” ujar Kim Bum tetap tersenyum membuat So Eun memajukan bibirnya itu kesal. So Eun terdiam memikirkan apa yang telah dirinya lakukan bersama Kim Bum ini. Akankah Kim Bum bertanggung jawab jika suatu saat nanti terjadi sesuatu. So Eun mulai ragu untuk membuat spekualasi seorang diri.
“ sepertinya sudah lima menit. Aku ingin mandi terlebih dahulu,” So Eun mengegeser tubuhnya namun Kim Bum dengan sigap mengangkat tubuh ringannya. “ apa yang kau lakukan Kim Bum shi?,” tanya So Eun terkejut ketika Kim Bum menggendong dirinya seperti menggendong pengantin wanita. Mereka masih sama-sama polos tanpa penutup apapun hal itulah yang membuat So Eun merasa malu luar biasa. So Eun terus menggerakkan kakinya saat Kim Bum dengan nakal meniup-niup perut So Eun yang rasanya sangat geli.

Kim Bum menurunkan So Eun didalam bath tub yang sudah berisikan air itu. So Eun hanya tersenyum saat Kim Bum mengambil sabun dan shampoo untuk mandi bersama. “ akan lebih bersih jika kia mandi bersama. Kha kita mandi,” ujar Kim Bum yang sudah tidak sabar dan masuk kedalam kamar mandi itu. Mereka berdua pun melewatkan malam dan pagi dengan hanya fokus pada hati mereka bukan kepada masa yang akan datang atau kemenit yag akan datang atau bahkan jam yang akan datang. Mereka tidak perduli waktu seperti apa.

Kisah cinta itu bukan tempat untuk prediksi waktu. Kisah cinta itu tempat melatih waktu dimana kita harus pandai dalam mengutarakan hati agar tidak terlambat. Waktu tempat pemberlajaran bagi rasa, kegiatan dan tujuan. Waktu bukanlah cinta namun cinta adalah waktu.. Pikirkanlah..

 

=======()()()()=======

Kim Bum masuk kedalam kantornya dengan senyum merkah walaupun dirinya berpisah dari So Eun karena harus bersikap professional. Kim Bum lagi-lagi melihat Kang So Ra yang berhenti dihadapanya dengan tersenyum sambil membawa berkas yang sepertinya itu adalah hal penting. Kim Bum hanya tersenyum kecil. Hatinya berkata ada sesuatu yang berbeda dan sampai saat ini Kim Bum belum dapat menebak itu semua. So Ra tersenyum manis membuat Kim Bum meringis sejanak memegangi pelipisnya itu. Kim Bum segera melangkahkan kakinya menuju lift karena tidak ingin terlalu lama berada disisi So Ra. Rasa itu membuat Kim Bum merasa takut sendiri. Ada apa? Adakah sesuatu yang terjadi diamasa lalu bersama dengan wanita itu.

Selagi Kim Bum ingin memasuki lift So Ra pun masuk kedalam lift sama dengan Kim Bum membuat Kim Bum merasa tambah pusing.
“ apakah anda sakit Direktur Kim?,” tanya So Ra dengan tulus. So Ra menunjukkan sifat tulusnya yang terdalam. Kim Bum hanya memberikan senyuman kecil. Ini tidak beres, ini semua sangat menjijikan karena hatinya bergetar. Bukan bergetar karena cinta tetapi karena.. karena apa entahlah Kim Bum tidak tahu harus mendeskripsikannya seperti apa. “ apa kita pernah bertemu sebelumnya?,” tanya Kim Bum dengan suara kecil. So Ra hanya menampilkan wajah damainya dan tersenyum kecil.

“ saya rasa Direktur Kim harus benayk-banyak istirahat agar lekas sembuh,” ujar So Ra dengan wajah manisnya dan mengalihkan pertanyaan Kim Bum. . Kim Bum ingin berteriak tiap kali melihat senyum milik So Ra yang selalu mengganggu itu. Lift sudah terbuka dan saat akan melangkah So Ra tergelincir lantai dingin dan Kim Bum dengan gerakan cepat memeluk tubuh So Ra. Pelukan yang mengingatkan Kim Bum tentang sesuatu. Hatinya dan jantungnya kembali bergetar. Bergetar karena apa dirinya pun tidak tahu. Kim Bum masih terdiam tidak melepaskan pelukan itu. Mereka berdua sama-sama terdiam. Kim Bum mengingat sedikit. Hanya sedikit kilasan bayangan mengenai masa lalu nya itu. Masa dimana pernah ada satu orang wanita yang selalu menggenggam tangannya. Kini menit pun telah hadir akankah detik itu tergantikan. Detik yang terus tidak diperdulikan Kim Bum akankah tergantikan oleh menit yang berada diantara jam. So Eun yang melihat itu diambang pintu hanya terdiam dengan apa yang Kim Bum dan So Ra lakukan.

Rasa hati So Eun tidak menentu. Akankah kisah ini berakhir begitu saja dalam waktu dekat. So Eun belum dapat mengungkapkan sesuatu yang dalam. Dirinya belum ingin berpisah mengapa semua terjadi begitu saja. Kehilangan kedua orang tuanya saat berlayar membuat So Eun takut seorang diri untuk kesekian kalinya. Kim Bum dengan perlahan melepas pelukan itu dan tersenyum kecil dengan So Ra. So Eun sama sekali tidak mengenali Kang So Ra yang dipeluk Kim Bum tadi, yang pasti hatinya sangat tidak tenang.

“ kau baik-baik saja?,” tanya Kim Bum menghilangkan kecanggungan diantara mereka berdua. So Eun hanya tersenyum getir dengan mereka berdua. Mereka terlihat sangat serasi dengan posisi wanita itu yang bertumbuh tinggi dan sangat indah sekali jika bersanding dengan Kim Bum. Tapi So Eun tidak ingin berpisah dengan Kim Bum. Sudah banyak kisah yang terjadi diantara mereka dan So Eun tidak ingin melepas Kim Bum begitu saja. “ aku baik-baik saja Direktur Kim. Aku permisi dulu,” So Ra pun dengan senyum kecilnya meninggalkan Kim Bum yang masih kebingungan itu. Kim Bum belum bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi. So Eun masih memperhatikan Kim Bum berdiri tidak bergerak. Ada rasa takut menghampiri Kim Bum . Entahlah So Eun seperti waktu dalam detik ketika bersama dengan Kim Bum. Seolah-olah ada pemisah diantara mereka.

“ aku harap kisah kita tidak seperti waktu dalam detik,” gumam So Eun merasa pedih jika saja kenangan ini harus berlalu begitu saja.

 

======()()()()======

Sore ini Kim joon baru saja pulang dari Hongkong dan hendak menemui Kim Bum yang berada dikantornya itu. Kim Joon sudah jarang perbincang dengan adik satu-satunya itu. Sepertinya Kim Joon dan Kim Bum akan menjadi kakak beradik yang terkenal diakalangan wanita. Hanya saja Kim Joon telah menikah dengan wanita lain dan sudah memiliki seorang putri yang cantik. Pernikahannya dengan wanita asal China membuat hidupnya damai dan tentram.

Kantor terlihat sepi karena Kim Joon datang disaat waktu makan siang. Hanya terdapat beberapa orang saja yang berada didalam kantor. Kim Joon berjalan sangat santai menikmati perusahaan milik adiknya ini. Sungguh sangat luar biasa sosok Kim Bum dan tidak ada duanya dalam berbisnis. Kim Bum memang terkenal dingin tapi hati-hati kedingingannya itu dapat memikat hati siapapun dengan segala ucapanya dan perilakunya yang selalu spontan. Kim Joon yang sedari tadi fokus pada ponselnya mersa terkejut ketika melihat seseorang yang dikenalnya dan sudah lama tidak bertemu. Kim Joon segera menaruh ponsel miliknya kedalam saku celananya itu.

“ Kang So Ra,,” panggil Kim Joon tidak menyangka. Wanita yang dipanggil itupun menoleh dan terkejut hingga flashdisk yang ada digenggaman tanganya itu pun terjatuh. So Ra pun terdiam mengeluarkan air matanya yang selama ini selalu ditutupinya. Kim Joon masih tidak percaya Kang So Ra wanita yang lama menghilang itu kini muncul dihadapan Kim Joon dengan keadan baik-baik saja. Kim Joon tidak kuasa menahan air matanya ketika So Ra hanya berdiam diri tidak melakukan apapun. “ mengapa kau pergi.. Kau kemana saja..” ujar Kim Joon dengan suara paraunya. Kantor ini benar-benar sepi sehingga apa yang mereka lakukan tidak akan terlihat. Bagian kantor So Ra tidak terdapat kamera tersembunyi sehingga mereka tidak perlu khawatir takut ketahuan.

“ mianhe oppa aku pergi.. Saat itu aku mengalami masalah pada tubuhku dan harus melakukan pengobatan untuk penyembuhan. Mianhe aku meninggalkan adikmu seorang diri.. Mainhe..” tangis So Ra pecah ketika menyebut-neyebut tentang masa lalu itu. Masa lalu dimana dulu terjadi kenangan yang tidak dapat terhapus begitu saja. Kim Joon memeluk dan mengelus punggung So Ra. Sepertinya So Ra telah lama memendam air mata ini tanpa ada pelampiasan. “ aku masih sangat mencintai Kim Bum..” lirih So Ra dan air mata Kim Joon terjatuh dengan cepat. Keadaan Kim Bum saat ini telah berbeda. Ada So Eun disisi Kim Bum bagaimana mungkin ini terjadi. Air mata Kim Joon terjatuh dan terus terjatuh ketika So Ra mengungkapkan betapa cintanya wanita ini pada Kim Bum dari lima tahun yang lalu.

 

Flashback…

Musim gugur 2010, Los Angles

Kim Bum yang saat itu sedang berlibur karena liburan. Kim Bum berlibur untuk merayakan ulang tahun temannya. Mereka semua begitu menikmati liburan ini seperti seorang pemuda yang baru berusia dua puluh tahun lainnya. Pemuda yang bebas tanpa beban. Liburan yang sangat tidak terlupakan dimana teman-temanya banyak bercerita betapa indahnya dunia ini dan kita harus patut bersyukur. Tidak mudah menjadi seorang pemuda yang besih dari narkoba dinegara liar seperti ini karena Kim Bum sering sekali melihat berita-berita buruk ditelevisi Jerman.

Diliburannya itu Kim Bum tidak sengaja melihat seorang wanita yang sepertinya terus berteriak meminta tolong dengan bahasa Inggrisnya itu. Wanita itu terus berteriak mengatakan bahwa kakinya keram dan kaku. Kim Bum melihat sekelilingnya tidak ada orang dipantai itu selain dirinya dan keempat temannya itu yang sedang asik dengan kekasih mereka masing-masing. Kim Bum segera berlari menyelamatkan wanita itu. Kim Bum cukup ahli dalam berenang sehingga tidak kesulitan menyelamatkan wanita yang hampir mati tenggelam itu.

Kim Bum terus memberi nafas buatan untuk wanita itu agar tetap bertahan hidup. Hingga nafas buatan yang keenam kalinya Kim Bum berhasil menyelamatkan wanita itu walau wanita itu belum sadar sepenuhnya. “ apa yang terjadi?,” tanya teman Kim Bum yang memiliki tinggi 187 centimeter dan hidung yang bringas. “ dia hampir mati tenggelam,” jawab Kim Bum masih menantikan kesadaran wanita ini. Sejangka waktu lamanya Kim Bum dan temannya menunggu akhirnya wanita itu membuka matanya. Wanita itu nampak terkejut dengan banyaknya pria-pria barat yang mengelilinginya dan wanita-wanita bikini yang menggerubunginya. “ si siapa kalian?,” tanya wanita itu. “ kau tadi tenggelam dan aku berusaha menyelamatkan mu. Mereka semua adalah teman-teman ku. Aku Kim Sang Bum lantas siapa dirimu?,” tanya Kim Bum masih menunggu reaksi selanjutnya dari wanita ini.

“ aku Kang So Ra. Maaf merepotkan kalian semua. Aku berenang sendiri tanpa orang tua ku. Maaf merepotkan kalian. Sekali lagi terima kasih. Thanks for your help,” Kim Bum menganggukkan kepalanya mendengar Kang So Ra memperkenalkan dirinya itu. Ternyata Kang So Ra sedang bersantai seorang diri karena So Ra selama ini tinggal disini untuk melanjutkan study strata satunya itu. So Ra banyak bercerita pada Kim Bum mengenai segala macam kepribadiannya itu. Dari mulai kegemaran sampai hal-hal yang kecil sekalipun.

Pertemuan mereka yang terus berlanjut dengan segala janji untuk saling bertemu membuat mereka menebur benih-benih cinta dan bertumbuh benih-benih rasa kasih yang saling melengkapi. Kisah itu dimulai disaat Kim Bum mengatakan cinta terhadap So Ra di pantai itu setelah pertemuan mereka yang kedua bulan di Negara ini. Kim Bum mengutarakan hatinya dan melamar So Ra dengan sangat manis. Ditemani dengan burung-burung yang berada dipesisir pantai dan matahari yang setengah terbenam membuat warna air laut sedikit terpadu dengan cahaya matahari itu. Angin yang berhembus membuat Kim Bum menggengam erat kedua tangan So Ra itu.

Suatu ketika disaat Kim Bum ingin membawa So Ra kerumahnya diSeol, dipertengahan jalan mereka mengalamai kecelakaan hebat yang beruntut karena jalan yang terlalu licin. Saat itu memasuki curah hujan besar diSeoul. Kim Bum berniat memperkenalkan So Ra kepada kedua orang tuanya dan Kim Joon untuk meminta restu menikahi So Ra walau usia mereka masih dikatakan muda. Kim Bum teramat mencintai So Ra hingga tidak ingin terjadi waktu dalam detik yang begitu cepat. Kecelakaan itu membuat So Ra terpental keluar dari kaca mobil dan Kim Bum berada didalam mobil itu dengan bergelimang darah. Sepasang insan yang saling mencintai begitu memilukan. Pasangan pemuda-pemudi yang sangat menyayat.

 

Falsh Back end

Sejak kecelakaan itu Kim Bum mengalami hilang ingatan sampai saat ini dan So Ra tidak ditemukan dinyatakan hilang oleh para kepolisian setempat yang menangani tempat kejadian peristiwa itu.  Itulah sebabnya mengapa Kim Bum merasakan ada yang aneh jika berada bersama So Ra, cinta pertamanya itu yang teramat dicintainya dapat dirasakan oleh hatinya walau pikirannya tidak menyadari bahkan tidak menemukan keberadaan So Ra. Kim Joon melepaskan pelukan itu dan menatap lekat mata So Ra. Kim Joon tahu kisah So Ra dan Kim Bum karena waktu itu Kim Joon ikut berlibur bersama Kim Bum dan kawan-kawanya. Kim Bum pun banyak bercerita mengenai So Ra sewaktu dulu.

“ kau kemana saja selama ini? Apa kau sudah mengatakan yang sesungguhnya kepada Kim Bum tetang dirimu? Aku rasa Kim Bum masih bermasalah dengan kepalanya yang terbentur keras itu,” ujar Kim Joon mengarah kepada pertanyaan. So Ra menyeka air matanya sejenak dan menarik nafas memulai kata-kata. “ aku ditemukan oleh sepasang suami istri yang tidak memiliki keturunan. Aku mendapatkan pengobatan tradisional dengan berbagai tumbuhan. Aku sangat merasa kesakitan saat itu. Tubuh ku seluruhnya remuk dan sangat pilu. Aku bertahan hidup untuk kembali kepada Kim Bum. Aku bisa sampai disini karena sebelumnya aku pulang kerumah menemui kedua orang tua ku. Kau tahu, mereka sangat antusias dan seperti orang tidak waras saat aku kembali. Aku meminta alamat keberadaan Kim Bum pada ayahku.  Aku.. aku belum megatakan apapun kepada Kim Bum. Aku berpura-pura sebagai pegawai disini meskipun ayahku sendiri memiliki perusahaan,” ujar So Ra dengan senyum kecilnya.

Kim Joon memandang So Ra yang tersenyum manis seperti tidak ada pihak lain saat dirinya pergi. Pandangan yang Kim Joon dapatkan adalah keterpurukan dimana kebahagiaan Kim Bum dan So Eun seperti waktu dalam detik yang berlalu begitu cepat hanya kenangan yang akan selalu teringat nantinya. Diluar sana panas matahari begtiu terik dan banyak lalu lalang para karyawan yang sudah mulai berdatangan kembali. Kim Joon hanya tersenyum getir melihat mereka semua. Kim Bum tidak pernah bercerita akan kembali kemasa lalu jika suatu saat ingatannya kembali. Tapi bagaimana jika itu hanya seperti ujaran serapah yang kosong tidak berarti dan tidak terbukti. Udara yang dihantarkan mesin pendingin ini membuat Kim Joon seolah-olah membeku dengan pikiran humornya.

 

======()()()()======

Kim Joon masuk tanpa mengetuk pintu sedikitpun. Kedua lensa matanya dapat melihat sang adik yang sedang memijat pelipis kepalanya yang sepertinya pusing itu. Hanya senyuman kecil yang ditunjukkan Kim Joon ketika melihat Kim Bum meletakkan pena silver itu dan memejamkan matanya. Usia Kim Bum sudah masuk golongan dewasa dan Kim Joon sama sekali tidak ingin terus-menerus memaksa Kim Bum untuk menikah. Kim Joon memberikan pandangan mata yang sedih masam ketiga melihat Kim Bum menghembusakan nafas berat. Jika saja dahulu Kim Bum tidak mengalami kecelakaan itu mungkin Kim Bum sudah berbahagia bersama Kang So Ra putri dari pewaris perusahaan Shinwa Group.

Kim Joon berjalan perlahan hingga langkahnya terhenti tepat disamping Kim Bum. Kim Joon tersenyum kecil melihat figuran photo kecil diatas meja Kim Bum. Sebuah bingkai photo berbentuk persegi panjang yang dimana terdapat photo Kim Bum dan So Eun yang sedang berada disebuah pantai. Mereka terlihat bahagia sekali dimana Kim Bum memeluk pinggang So Eun dari belakang dan mencium pipi wanita mungil itu. Lantas bagaimana jika So Ra sudah mengatakan semuanya dan Kim Bum kembali mengingat masa-masa indah bersama wanita itu. Akankah figuran indah itu akan terus terpajang dimeja kaca kebesaran ini.

Kim Bum yang merasa mendengar nafas seseorang disampingnya pun segera membuka matanya dan menegakkan letak duduknya. “ hyung,,” ujar Kim Bum terkejut ketika Kim Joon menampilkan gigi ratanya. “ ternyata kau telah berlaih profesi sebagai bos tidur bukan bos perusahaan,” ujar Kim Joon yang masih mencoba menutupi segala kegelisahaannya itu. Kim Bum menggaruk kepala bagian belakangnya dan memberikan senyum kecilnya itu. “ aku merasa lelah sehinga mataku sangat berat untuk terbuka. Kapan kau datang ?,” Kim Bum berdiri dan menelpon sekertarisnya untuk membawakan secangkir kopi hangat untuk kakak tercintanya ini.

“ satu jam yang lalu,” ujar Kim Joon duduk santai disofa dan menghidupkan televisi diruangan Kim Bum. Kim Bum menganggukkan kepalanya dan menggulung kemeja putih panjangnya yang terlepas dari jasnya itu. Kim Joon merasa sangat takjub dengan ketampanan Kim Bum. Adiknya ini memang sangat tampan dan gagah, bahkan dirinya yang seorang pria pun kagum pada wajah adiknya itu.
“ tunggu,, jika kau datang satu jam yang lalu, mengapa kau tidak langsung masuk keruangan ku?,” Kim Bum pun duduk disamping Kim Joon yang sedang menyenderkan punggungnya pada badan sofa itu. Kim Joon menoleh sekilas kewajah Kim Bum dan menunjukkan kembali senyumannya itu.

“ aku tadi mengobrol dengan karyawan baru mu itu,” jawab Kim Joon membuat Kim Bum mengerutkan keningnya. Ada banyak karyawan baru diperusahaanya ini yang telah direkrut. Sekitar ada sepuluh orang mungkin dan itu tidak dihafal atau tidak diketahui Kim Bum sepenuhnya. “ siapa namanya?,” tanya Kim Bum yang masih mengerutkan keningnya dan menatap wajah Kim Joon dari sisi kanannya itu. “ Kang So Ra. Aku berbincang sejenak dengannya,” Kim Joon berbicara dengan suara kecil saat menyebut nama wanita itu. Ketika Kim Joon menoleh kewajah Kim Bum, Kim Joon melihat segaris raut wajah Kim Bum yang merasa resah. Ada apa gerangan? Kim Joon menyipitkan matanya ketika Kim Bum menundukkan kepalanya. Kim Joon memandang kedepan dimana disana terdapat dinding bercat putih bersih tanpa noda sedikitpun. Kim Joon mencoba menerka apa yang Kim Bum pikirkan meskipun tidak langsung memutuskan.

Kim Joon bersuara sejenak untuk mempersilakan seseorang masuk kedalam membawa kan secangkir kopi dingin untuk dimusim panas ini. Kim Joon lebih menyukai minuman seperti ini dari pada minuman yang mengandung alcohol yang tidak menyehatkan justru merugikan. Kim Joon terdiam sejenak ketika melihat siapa yang mengantarkan kopi itu. Kang So Ra, wanita itu tersenyum kecil ketika meletakkan kopi itu diatas meja dengan sangat perlahan. Kim Bum hanya memandang dengan biasa saat So Ra menaruh cangkir itu diatas meja. Tidak ada pandangan apapun yang berarti.

Kim Bum mulai berjalan dan mendekati kaca besar diruangan nya itu dimana dari kaca itu Kim Bum dapat melihat pemadangan indah dibawah sana. Jauh dari kacanya Kim Bum melihat satu rel kereta api yang dimana kereta api itu sedang melintas. Kim Bum melihat pesawat yang terbang tanpa mendengar sedikitpun suara-suara benda itu. Kim Bum mulai berdeham ketika dirasanya Kang So Ra sudah keluar dari ruangannya itu. Kim Joon menyeruput kopi dingin itu sejenak karena haus melandanya dimusim panas. “ apa kau mengenal wanita itu?,” tanya Kim Bum membuat Kim Joon dengan cepat menelan kopi itu karena terlalu terkejut.

“ apa kau mengenal Kang So Ra? Aku merasa aneh dan terganggu ketika melihat dirinya. Hatiku merasa bergetar tidak karuan dan jantungku berdetak lebih cepat. Aku merasa terganggu dengan senyum miliknya dan suara-suaranya yang terkesan lembut seperti So Eun. Apa sebelum aku mengalami kecelakaan aku memiliki hubungan dengannya?,” tanya Kim Bum masih memperhatikan rel kereta itu yang sudah kosong tidak ada lagi kereta yang melintas. Dibawah rel kereta itu Kim Bum dapat melihat sebuah laut. Laut yang biru seperti warna langit. Banyak pemandangan yang dapat Kim Bum tangkap dari atas ruangannya itu. Kim Joon menundukkan kepalanya tidak tahu harus bicara apa. So Ra yang sedari tadi mendengarkan percakapan itu menatap nanar diri Kim Bum yang sedang memandang jauh diluar kaca sana. Ternyata So Ra masih berdiri diambang pintu dan belum ingin keluar. Kim Joon memandang So Ra yang memegang tangan kananya yang gemetar itu.

“ Aku rasa aku hanya memiliki satu wanita dalam hidupku yang sangat kucintai,” ujar Kim Bum dan membuat Kim Joon bertambah tidak berdaya.
“ mengapa diam? Aku hanya ingin memastikan ada apa dengan wanta itu. Aku merasa terganggu,” ujar Kim Bum menyelipkan kedua tangannya disaku celannya dan matanya kini memandang pepohonan hijau dan jam raksasa disebuah Mall yang berjarak beberapa meter dari perusahaanya. Lebih tepatnya kedua lensa Kim Bum memandang jarum detik itu.
“ rasa apa yang kau alami saat dekat dengannya. Apakah kau pernah menyentuhnya?,” tanya Kim Joon mengecilkan suara televisi dan ikut berdiri disamping Kim Bum. Kim Bum berpikir sejenak untuk merangkai kalimat mengenai perasaanya itu. “ aku merasa takut kehilangannya. Hanya rasa yang menurutku biasa saja tetapi hatiku berdebar. Aku pernah memeluknya saat tidak sengaja dirinya hampir terjatuh. Saat itu aku merasa aneh. Bayang-bayang wanita yang tersenyum padaku, wanita yang memelukku, wanita yang mencium ku dengan hangat terus berkeliaran tanpa wajah yang jelas. Apa kau dapat mengatakan yang sesungguhnya mengenai So Ra,”

Kim Joon memandang So Ra yang menunduk sedih. Air matanya menetes melihat Kim Bum hanya merasakan getaran sederhana itu bukan getaran yang hebat. Pandangan mata Kim Joon bertemu dengan So Ra disaat So Ra ingin memandang diri Kim Bum. Kim Joon mengisyaratkan sesuatu bahwa ingin sekali mengatakan yang sesunguhnya dan So Ra hanya tersenyum getir. Saat ini So Eun memang sedang berada diluar perusahaan karena rekannya yang merupakan customernya menginginkan melakukan perbincangan diluar perusahaan. Sehingga sejak makan siang tadi Kim Bum hanya seorang diri saja.

“ jika aku mengatakan yang sesungguhnya apa kau akan mempercayainya?,” tanya Kim Joon yang bersiap suara. So Eun yang membuka pintu dengan perlahan itu bermaksud ingin memberikan kejutan terpaksa berhenti melangkah ketika melihat So Ra berdiri dekat ambang pintu dan melihat Kim Joon yang sepertinya sedang berbicara serius. So Ra hanya memberikan senyuman yang sangat kecil dan So Eun pun harus membalas senyuman kecil itu. So Eun tidak tahu siapa So Ra hanya tahu namanya saja karena saat ini So Ra memakai nemteknya itu. Begitupun So Ra dapat mengetahui nama So Eun dari nemtek yang dikenakan So Eun. Kedua wanita itu saling diam tidak saling menyapa. Kedua wanita itu terdiam memandang kedua pria yang sedang memandang keluar kaca besar itu.

“ katakan saja siapa So Ra itu,” ujar Kim Bum tidak sedikitpun menoleh kearah wajah Kim Joon. Kim Joon tersenyum tipis dan memandang jam analog besar yang Kim Bum lihat tadi. Kim Joon tidak melihat jarum detik ataupun jam. Kim Joon lebih tertarik melihat jarum menit yang lebih panjang diantara kedua jarum tu, jam dan detik. “ kau dahulu adalah seorang pemuda yang nakal. Suka sekali pergi bersama teman-temn barat mu hingga terkadang membuat Eomma dan Appa merasa pusing sendiri dengan ulahmu. Musim demi musim kau selalu menceritakan segala macam kegiatan mu itu pada ku maupun pada Appa dan Eomma. Kau mungkin tidak ingat musim panas dulu ketika kau dan diriku berserta teman-teman mu pergi ke pantai di Kota Los Angles. Musim yang sial bagimu karena menyelamatkan seorang wanita yang setelah diselamtkan dari maut langsung bertanya bukan berterima kasih. Wanita yang pada akhirnya teramat kau cintai hingga kau bertunangan di Los Angles tanpa memberitahukan Eomma dan Appa.

Wanita ini sangat kau cintai hingga musim berikutnya dipertunangan mu yang lewat dua hari kau berniat memperkenalkan wanita ini pada Appa dan Eomma. Kau meminta ku untuk membeli tiket pesawat diwaktu dini hari bahkan detik saja belum menunju angka dua belas. Aku sangat ingat kejadian mengesalkan itu. Musim yang sangat buruk karena Tuhan mmeberikan curah hujan diperjalanan mu ke rumah. Tuhan membuat sesuatu rencana baru. Bahkan angin saat itu membuat jeritan tangis para korban. Kau mengalami tebrakan beruntun bersama wanita itu. Wanta yang teramat kau cintai bahkan kau pernah rela bertunangan diusia muda dan melamar dengan sangat berani dihadapan kedua orang tua wanita itu. Sial ! wanita itu hilang karena kecelakaan sejak lima tahu lalu dan baru kembali disat Dirimu telah menemukan arti waktu yang sesungguhnya. Waktu dalam detik yang kau jalani. Kau tahu siapa wanita itu, wanita masa lalu mu yang menjadi menit diantara kau dan wanita baru mu?,”

Kim Bum diam tidak berkutik sedikitpun. Hanya nafasnya yang terdengar sesak mendengar cerita itu. Cerita dimana dahulu dirinya memiliki kekasih yang teramat dicintainya. Lantas bagaimana dengan So Eun? Mata almond itu hanya terdiam dan mengalir air mata tanpa diperintah. Tangannya bergetar saat mendengar masa lalu Kim Bum.
“ apakah Kang So Ra adalah wanita itu? wanita yang menjadi menit diantara jam dan detik?,” tanya Kim Bum dengan suara parau. Matanya sudah berkaca-kaca dengan segala kekuatan bertahan. Kim Joon mengangguk kecil dan tersenyum sangat kecil, hanya senyuman sebagai pelampiasan. Kim Bum secara cepat terjatuh dan terduduk dikeramik mengkilat itu. Air matanya pecah saat itu juga.

So Eun terisak membuat Kim Bum dan Kim Joon menoleh dengan cepat. So Eun menangis dalam, sangat dalam sedalam luka yang diterimanya. Kim Bum memandangnya dengan tatapan yang tidak tahu harus seperti apa. Ternyata selama ini pria yang dincintainya itu telah memiliki tunangan dan akan menikah. Bagaimana mungkin So Eun dapat mempercayai ini dengan cepat. Kim Bum berdiri menatap diri So Eun dan So Ra bergantian. Kim Bum melihat cincin putih yang melingkar dijari manis tangan kiri So Ra. Cincin pemberiannya sewaktu dulu. Kim Bum menghampiri mereka berdua dengan air mata yang masih ditahannya dengan sangat baik sekali. “ aku mencintaimu. Selalu mencintaimu,” ujar Kim Bum pada So Eun dan air mata itu terjatuh dimata sendu So Ra maupun So Eun.

So Eun tidak bergeming dan menggeleng kecil. Senyuman tertarik dibibir So Eun terlihat.
“ selesaikan masalah hati mu dahulu bersama wanita tercintamu ini. Jangan berbicara sesukamu!,” ujar Kim Joon mendekati arah mereka berdua. Kim Bum menajamkan pandangan matanya kearah Kim Joon dengan sangat tajam membuat Kim Joon merasa sangat kesal. Kim Bum segera membawa So Eun pergi tanpa sempat Kim Joon bersura kembali. Kim Bum membawa So Eun pergi dari tempat penat itu. Tempat dimana jam, menit dan detik menjadi satu. Kim Bum membenci keadaan seperti ini. Hatinya akan bertambah sakit karena air mata So Eun dan hatinya akan bertambah gemetar jika melihat air mata So Ra, wanita yang teramat dicintainya dimasa lalu itu.

Kim Joon melihat So Ra yang hampir terjatuh dan segera menangkap tubuh wanita itu. Tangisan pun pecah membuat suasana gaduh dengan isakan.
“ hiks hiks.. kenapa semua seperti ini. Ini terlalu menyakitkan bagiku,” ujar So Ra dengan suara parau bahkan terlalu parau untuk sekedar ucapan. Kim Joon mendekap erat tubuh wanita yang sudah dianggap sebagai adiknya itu. Rasanya Kim Joon tidak terima begitu saja jika Kim Bum tidak menyelesaikan masalah hatinya dengan masa lalu. Bukankah masa lalu harus segera dituntaskan agar tidak menjadi beban dalam kehidupan masa yang akan datang?..

 

======()()()()======

Kim Bum membawa So Eun kesebuah taman dekat dengan danau buatan yang dimana angsa-angsa putih itu terlihat damai berenang saling berpasangan. Kim Bum terus mendekap tubuh So Eun dari belakang seakan-akan tidak ingin melepaskannya. So Eun tidak tersenyum tidak pula menangis. Pandangannya sungguh sangat kosong tidak tahu harus seperti apa. Kim Bum tidak mengrti apa yang sesungguhnya terjadi. Dirinya masih belum menerima kisah masa lalunya itu. “aku akan terus bersama mu,” ujar Kim Bum meletakkan dagunya dipundak kanan So Eun. So Eun masih terdiam tidak bersuara. Semilir angin ditaman ini membuat So Eun lebih merasa santai dibanding didalam ruangan Kim Bum tadi. “ aku akan bertahan memilihmu,” ujar Kim Bum membuat So Eun tersenyum kecil.

“ kau harus menyelesaikan dahulu masalah mu dengan So Ra. Selesaikan masalah hati mu dengan dirinya,” ujar So Eun mengelus tangan Kim Bum yang melingkar dipinggangnya itu. Kim Bum hanya cemberut saja So Eun meminta seperti itu. “ kau tidak ingin menyelesaikan masalah mu itu?,” tanya So Eun seperti suara yang tidak suka. Kim Bum pun menghembuskan nafas kasar hingga nafas itu menggelitik leher So Eun yang jenjang bersih. “ akan aku selesaikan. Aku pastikan itu. Beri aku waktu sampai musim gugur,” Kim Bum mencium pundak So Eun dan memejamkan matanya sejenak untuk melepas penat.

So Eun hanya tersenyum kecil dengan masalah ini. Dalam hidupnya tidak pernah sedikitpun So Eun memikirkan jika Kim Bum dimasa lalu memiliki masalah yang serumit ini. Kim Joon memang pernah bercerita kepada dirinya jika Kim Bum mengalami masalah pada ingatannya itu dan So Eun tidak perduli tetap akan mencintai Kim Bum dengan tulus. Hingga sampai detik inilah kisah cinta mereka berlangsung. Awan terus bergerak tertiup angin seperti waktu yang terus bergerak tertiup waktu. So Eun tersenyum getir jika mengingat perkataan Kim Joon didalam kantor tadi. Kim Bum bahkan sampai saat ini mengakui masih merasa gemetar dihatinya saat melihat So Ra. Apakah kisahnya akan berakhir seperti waktu dalam detik yang begitu cepat. So Eun tidak ingin itu terjadi, bahkan jika musim gugur Kim Bum menyelesaikan masalah itu So Eun tetap tidak ingin ditinggalkan Kim Bum lagi. Dipandanginya langit sore yang indah. Sangat indah seperti waktu yang terhias tanpa aturan..

 

======()()()()======

Kim Joon saat ini sedang berdiri didekat sebuah lemari kamar rumahnya. Dihadapannya terdapat Kim Bum yang sedari tadi hanya terduduk diam dan tidak bersuara. Malam ini mereka ingin membahas semua masalah baik masa lalu maupun masa sekarang. Mereka tidak ingin membahas masa depan karena kita tidak akan tahu seperti apa kehidupan dimasa depan itu. Kim Joon tidak ingin membuat semua kacau hanya karena sebuah percakapan. Mereka terdiam sudah lebih dari lima belas menit yang lalu. Tidak ada suara mengganggu karena malam ini sudah menunjukkan pukul dini hari. Kim Bum sengaja bermalam dirumah Kim Joon untuk menyelesaikan masalah ini.

“ apa kau sudah bertemu dengan ayahnya So Ra?,” tanya Kim Joon tidak memandang wajah Kim Bum. Kim Joon memandang arah bingkai keluarganya itu. Kim Bum menggeleng kecil dan menegakkan kepalanya memandang diri Kim Joon yang tidak ingin menatapnya. “ jika kau sudah bertemu dengannya maka kau akan melihat perbedaan dari dirinya. Beliau tidak dapat melihat seperti dulu lagi. Mata beliau telah telah redup tidak dapat melihat apapun dan itu terjadi hanya karena untuk menyelamatkan seseorang. Seseorang yang sangat dicintai putrinya itu. Dahulu aku sering berbincang pada beliau mengenai dirimu. Betapa bahagianya beliau mengetaui So Ra putri terkasihnya memiliki pria seperti dirimu. Kau tahu siapa orang yang mendapatkan mata itu..” kini Kim Joon menatap mata Kim Bum yang seperti menerka sesuatu.

Kim Joon memberikan senyuman tipis membalas tatapan mata Kim Bum. “ beliau menyelamatkan matamu dan rela buta demi mu. Sewaktu kecelakaan itu harusnya kau buta tetapi beliau menyelamatkan mata mu itu. Aku tidak dapat emndonorkan mataku krena kornea mataku tidak cocok dengan kornea matamu. Beliau melakukan itu karena beliau tidak ingin melihat orang yang dicintai oleh putrinya tidak dapat melihat. Beliau ingin kau tetap memandang dunia dan dapat melihat So Ra yang suatu saat pasti akan kembali. Ayah So Ra tidak sedikitpun menganggap Soo Ra telah tiada walaupun banyak pihak kepolisian yang mengatakan itu. Beliau tidak ingin suatu saat ketika So Ra kembali kau tidak bisa melihat lagi senyumnya. Beliau ingin kau bertatap mata dengan putri cantiknya itu. Beliau sangat mengharapkan mu Kim Bum. Apakah kau tetap memilih So Eun?,” tanya Kim Joon memandang sedih Kim Bum. Kim Bum memegangi kepalanya yang terasa sakit itu. Kim Bum sedari tadi memaksa otaknya untuk mengingat semua masa lalunya itu. Terus dipaksakan hingga rasanya begitu sakit sekali.
“ ahhh !!,” teriak Kim Bum mencengkram rambutanya.

Kim Joon yang melihatnya segera membantu Kim Bum dan mencoba melepas tangan Kim Bum yang terus menarik-narik rambutnya itu. “ Kim Bum !,” pekik Kim Joon khawatir. Kim Joon terus berusaha membanu Kim Bum karena Kim Bum terus berteriak karena kepalanya teramat sakit. “ ahhkk !! sakit !!,” teriak Kim Bum terus menerus bahkan Kim Bum terus bergerak menahan sakitnya hingga tubuhnya menabrak meja rias kamar Kim Joon membuat beberapa parfum kaca dan yang lainya terjatuh. Botol minuman itu pun menjadi korban sanksi kegaduhan kepala Kim Bum.  “ Kim Bum,, kau kenapa?,” tanya Kim Joon sangat merasa tersiksa melihat adiknya ini. Kim Joon terkejut ketika melihat darah mengalir disela-sela hidung Kim Bum. Kim Joon tidak tahan lagi dan ingin menghubungi dokter segera. Tidak akan sanggup dirinya jika melihat adik kesayanganya ini seperti ini. Namun disaat Kim Joon telah mendapatkan ponselnya yang berada diatas meja itu, tangan Kim Bum menahan pergelangan tangan Kim Joon. “ Kim Bum,,” ujar Kim Joon memandang Kim Bum dengan tatapan ketakutan. Kim Bum memberikan senyuman kecil dan menyeka darah yang keluar dari hidungnya itu. Darah yang kental walau tidak terlalu banyak.

“ aku baik-baik saja,” ujar Kim Bum setenang mungkin. Kim Bum memberikan senyuman lagi ketika melihat wajah Kim Joon masih terlihat khawatir. Kim Joon pun mulai tenang ketika Kim Bum tertawa lebar dan mereka kembali berdiam diri lagi. Kim Bum menundukkan kepalanya dan tersenyum tipis. Ada sesuatu yang terjadi dengan kepalanya itu. Sesuatu yang sangat ditunggu-tunggu tetapi hadir disaat yang sangat tidak tepat waktu.
“ aku.. aku telah mengingat semuanya,” ujar Kim Bum dengan nafas yang dengan penuh keberatan. Kim Joon memandang Kim Bum dengan sangat tidak percaya. Benarkah hal itu terjadi atau Kim Bum hanya mengatakan kebohongan. “ aku benar-benar telah mengingatnya. Aku.. aku bahkan ingat bagaimana merkah senyum ku ketika satu mobil dengan So Ra untuk menemui kedua orang tuaku di Seoul. Aku.. aku mengingat masa lalu ku dengan waktu yang menyakitkan ! SIAL !,”ujar Kim Bum berpekik karena merasa tidak terima ingatan ini baru hadir saat ini.

Kim Joon menarik nafas panjang menunggu ujaran Kim Bum selanjutnya. Kim Bum pun berdiri dan mengambil tisu diatas nakas. Kim Joon hanya melihat gerak-gerik Kim Bum sambil menunggu kelanjutan penerangan atas kembalinya ingatan itu. Ingatan itu kembali maka itu berarti sikap menyebalkan Kim Bum akan kembali. Bukankah pikiran mempengaruhi kelakuan seseorang.. “ aku akan membahas hal ini pada So Ra besok,” ujar Kim Bum naik keatas tempat tidur. Ujaran Kim Bum hanya sampai disana tidak ada penjelasan lebih panjang lagi mengenai kembalinya ingatan itu. Bahkan ujaran Kim Bum kembali ketus dan singkat tidak ramah lagi. Terkadang Kim Joon lebih memilih Kim Bum hilang ingatan dibanding harus kembali tetapi mengesalkan sekali.

 

=====()()()()=====

So Ra tersenyum kecil ketika Kim Bum membuat sedikit lelucon dalam percakapan yang sudah terjadi lebih dari dua puluh menit ini. Ternyata sifat Kim Bum yang seperti dulu benar-benar telah kembali. Mereka saat ini sedang berbincang dikedai yang dekat dengan kantor milik Kim Bum. Kim Bum terlihat sangat lebih terbuka dan sedikit menjengkelkan. “ jadi kau waktu itu bertubuh remuk. Aku kira hati mu yang remuk tidak bersama ku. Haha,” ujar Kim Bum seperti mencibir diri So Ra yang pernah mengalami patah tulang akibat kecelakaan itu. Mereka menikmati makanan siang ini dengan penuh canda tawa. “ harusnya aku menjadi hantu dan mencekik mu,” ujar So Ra dengan wajah manjanya. Kim Bum terkikik sambil melahap makanannya itu. “ kalau kau menjadi hantu maka aku akan menjadi abu saja. Itu akan lebih baik,” cuek Kim Bum dan itu membuat senyum So Ra merkah.

Kim Bum sudah mengatakan yang sebenarnya bahwa selama ini dirinya menjalin kisah dengan Kim So Eun dan So Ra dapat menerimanya dengan baik karena Kim Bum berjanji akan menyelesaikan masalah hatinya ini. Kim Bum tidak ingin terjebak dalam kisah detik yang terlalu cepat. Sudah dua minggu Kim Bum dan So Ra selalu bersama-sama. Kim Bum lebih banyak bersama dengan So Ra meskipun setiap malam Kim Bum dan So Eun selalu tidur bersama. Jika malam So Eun akan merasakan pelukan hangat Kim Bum maka setiap pagi dan siang So Ra akan mendapatkan sentuhan hangat Kim Bum yang menggelitik hatinya dengan segala humor milik Kim Bum. So Eun tidak pernah menyalahkan siapapun. Baginya Kim Bum berhak melakukan itu karena biar bagaimana pun So Ra masih menjadi tunangan Kim Bum dimasa lalu.

“ kau tampak romantic dengan So Eun. Apa setiap malam kau tidur bersamanya?,” tanya So Ra dengan wajah masam karena tidak senang dan cemburu. Kim Bum hanya mengangguk dan tersenyum santai.
“ aku nyaman bersamanya setiap malam. Aku tidak bisa tidur jika dirinya tidak berada dalam pelukanku. Apa kau ingin merasakan tidur bersama ku?,” tanya Kim Bum menampilkan senyum renyahnya itu dan mereka tertawa bersama dengan tawaran Kim Bum itu. “ boleh. Kapan-kapan kita tidur bersama,” ujar So Ra dan Kim Bum hanya tertawa dalam menanggapinya. “ tapi aku tidak janji. Haha..” tawa Kim Bum dan So Ra hanya tersenyum saja. Kim Bum memang orang yang selalu bicara apa adanya. Dirinya tidak akan perduli perasaan orang lain. Asalkan jujur bagi Kim Bum itu sudah cukup tidak perlu perdulikan yang lainnya. Bahkan mengenai tidur bersama So Eun saja Kim Bum bercerita pada So Ra. Sungguh menyakitkan jika saja So Eun mendengarnya. Seperti apakah hati Kim Bum sebenarnya untuk So Eun??

 

=====()()()()=====

So Eun pagi ini sangat senang sekali. Musim semi telah tiba dan So Eun ingin menghabiskan hari libur kerja bersama Kim Bum. Hari ini Kim Bum tidak ada janji dengan orang lain jadi dirinya bebas mengajak Kim Bum pergi untuk berkencan layaknya remaja. Mencoba menjalani kencan seperti jam bukan malam seperti detik. Kim Bum sudah terlihat rapi dengan senyum kecilnya memandang So Eun. Mereka masih belum putus hubungan sekalipun Kim Bum beberapa kali membuat luka dihati So Eun dengan berkencan bersama So Ra, bahkan berciuman dengan So Ra. Kim Bum selalu mengatakan bahwa dirinya sangat nyaman bersama So Eun dan tidak dapat tidur dalam dekapan So EUn. Itulah yang membuat So Eun tetap bertahan walau sesulit apapun luka lebar yang ada dihatinya itu.

“ kau sudah rapi? Ayo kita pergi,” ujar Kim Bum berjalan terlebih dahulu didepan So Eun tanpa merangkul pinggang So Eun seperti dulu. Kim Bum memang masih mencintai So Eun bahkan masih sangat mencintai So Eun. Rasa cintanya tidak akan tergantikan oleh apapun itu. Tetapi ini semua harus dirinya lakukan karena Kim Bum ingin membuat So Eun terbiasa ketika jauh dari dirinya. Kim Bum selalu mengingat perkataan Kim Joon yang meminta dirinya untuk berbalas budi. Rasanya akan teramat sakit menoba bertahan dengan sifat menjengkelkannya ini. So Eun hanya tersenyum kecil. Tidak ada sedikitpun dendam meskipun Kim Bum sering membuat matanya menangis sedih.

Mereka pun berjalan-jalan mengitari semua wahana rekreasi di Seoul ini. So Eun terus menggandeng lengan Kim Bum dengan senyum bahagia dan terus mengelus perut ratanya itu. Mereka akhirnya menghentikan diri mereka disebuah taman yang menjadi tempat favorit mereka berdua. So Eun duduk disamping Kim Bum dengan terus tersenyum. “ aku ingin memberi kabar bahagia padamu,” ujar So Eun dan Kim Bum pun menoleh dengan bertanya-tanya. “ aku hamil,” bisik So Eun pada telinga Kim Bum. Kim Bum pun berdiri dengan cepat. Pikirannya tiba-tiba kosong tidak tahu harus apa. Semua menjadi kabur dengan cepat. Waktu dalam detik meliputi dirinya kini. Kim Bum sungguh tidak mengerti apapun yang dikatakan So Eun. So Eun pun berdiri dengan menatap Kim Bum. Tatapan yang diberikan So Eun begitu meminta pertanggung jawaban.

“ aku hamil anak mu tiga minggu. Kau tidak akan meninggalkan ku bukan Oppa?,” untuk kali pertama pertamanya So Eun memanggil Kim Bum dengan sebutan Oppa, sebuah sebutan yang sudah lama tidak meluncur dari bibirnya itu. Kim Bum masih berpikir dengan sangat keras. Bukan seperti ini yang diinginkannya. Kim Bum belum siap menjadi seorang ayah. Belum siap menjadi orang tua. Dirinya masih ingin menikmati semua hidupnya. Kim Bum tidak bergeming sekalipun So Eun terus mengguncang-guncangkan tangannya itu dan menangis. Kim Bum masih berpikir untuk memutuskan apa yang harus diperbuatnya. “ kau tidak akan meninggalkan aku bukan Oppa?,” tanya So Eun lagi yang berdiri dihadapan Kim Bum dan mengarahkan wajah Kim Bum untuk menatap dirinya. Kim Bum dengan cepat memalingkan wajahnya kearah lain. So Eun memandang Kim Bum dengan luka yang sangat menusuk kalbu. Awan gelap menghantarkan betapa berduka hatinya itu. Lama diam Kim Bum membuat So Eun memadang benci diri Kim Bum.

Kim Bum menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan kesal. “ So Eun.. Aku memang mencintaimu bahkan sangat mencintaimu. Tapi aku belum pernah memikirkan menjadi seorang ayah. Aku.. aku belum siap menjadi seorang ayah So Eun. Aku belum siap sama sekali,” ujar Kim Bum memandang wajah So Eun dengan memelas. So Eun menutup mulutnya menahan isak tangis keperihan itu. “ lantas aku harus bagaimana? INI ANAK MU KIM SANG BUM !!,” So Eun berteriak keras membuat Kim Bum memejamkan matanya menahan gejolak emosi ini. Kim Bum mengepalkan tangannya dengan sangat kuat untuk mengambil keputusan yang dalam. So Eun masih menunggu apa perkataan Kim Bum selanjutnya.

“ gugurkan saja ! Gugurkan saja bayi itu sebelum menginjak besar. Aku sama sekali belum siap. Maafkan aku..” So Eun terjatuh direrumputan yang hijau itu. Rumput yang masih basah sisa-sisa embun pagi dan siraman para angsa yang terus berenang memenuhi danau buatan. Hatinya sangat sakit bahkan terlalu pahit untuk ditahan. So Eun ingin sekali menenggelamkan dirinya didasar lautan agar hatinya tidak terasa sakit seperti ini. Kim Bum mengepalkan kedua tangannya dan menutup matanya. Dirinya siap menerima segala macam cerca dari bibir mungil So Eun yang selama ini selalu mengisi hidupnya. Kim Bum tidak ingin lari dari masalah. “ KAU BIADAP !! Aku tidak akan melakukan itu Kim Bum. Aku mohon jangan meminta ku melakukan itu,” ujar So Eun menangis membasahi dress indahnya yang dibelikan Kim Bum malam penutupan musim panas.

Kim Bum hanya menatap nanar langit yang ditemani awan yang terus bergerak. Sebuah lagu kesedihan mengalun dari bibir So Eun. Lagu yang merobek jantung bahkan urat nadinya. “ terserah kau ingin melakukan apa pada bayi itu ! Kita akhiri hubungan kita sampai sini. Maafkan aku So Eun. Aku harap kelak kau menemukan penggantiku dan tidak hidup seperti waktu dalam detik yang selalu kau benci itu. Maafkan jika kau hanya menjadi tempat pelampiasan ku jika aku penat. Aku akan menikah dengan So Ra awal musim gugur nanti. Terima kasih menjadi detik bagiku,” ujar Kim Bum pergi tidak sediktpun menoleh kebelakang. Rasanya terlalu menyakitkan melihat air mata itu. Kim Bum tidak akan sanggup melihat air mata sendu wanita itu. Kim Bum takut, takut hatinya akan berteriak karena luka ini. Telinganya mendengar segala macam teriakan So Eun yang mencaci dirinya. “ aku benci waktu dalam detik..” batin Kim Bum dan So Eun menangis dalam hati mereka masing-masing.

 

=====()()()()=====

Musim gugur telah tiba dengan sangat membawa luka. Luka itu berbaur menjadi satu disaat semua kekacauan hati. Detik berganti menit, menit berganti jam dan waktu terus saja berputar saling melengkapi. Tetapi mengapa kedua orang saling mencintai ini sama sekali tidak dapat saling melengkapi. Hujan menghantarkan luka yang saling menusuk itu terus menetes seperti luka yang terus menetes menjadi sebuah lubang dihati. Hujan dimusim gugur membawa air mata yang tidak pernah kering. Sajak-sajak puisi atau bahkan bahasa-bahasa sastra yang indah tidak dapat mewakili betapa luka diantara kedua insan ini. Semua telah terjadi dan pagi ini So Eun ingin tampil sekuat mungkin. Bayi itu, bayi yang sangat dibanggakannya harus menjadi korban waktu dalam detik yang cepat sekali berlalu.

Hari ini adalah pernikahan seseorang yang sangat berarti dalam hidup So Eun. Air matanya mengalir dengan sangat deras. Luka sisa-sisa musim semi masih dapat diingatnya hingga saat ini. Dress putih yang terakhir Kim Bum belikan akan menjadi penampilannya untuk hari bersejarah ini. Jika saja dari awal So Eun menjadi menit mungkin dia tidak akan berada yang tercepat dalam kesingkiran. Dipegang dadanya yang sangat sakit itu. Dihirupnya udara musim gugur yang indah meskipun turun hujan.

“ aku akan datang keundangan mu,” gumam So Eun air matanya kembali mengalir melunturkan wajahnya dari polesan bedak tipis. Untuk kesekian kalinya So Eun menekan dadanya dengan kuat agar dapat menahan isakan. So Eun tidak ingin berduka, ia ingin terlihat bahagia diawal musim gugur. Ia tinggalkan cermin kamar itu karena tidak ingin terus memandang wajah buruknya yang selalu menyimpan luka. Ia tutup bingkai photo dirinya dengan Kim Bum dengan sangat perlahan. Ia masukkan album photo itu kedalam lemari dan dikuncinya rapat-rapat. Waktu dalam detik begitu cepat, begitupun kisah cintanya dengan Kim Bum yang teramat menyenyat hati. Ia langkahkan kakinya keluar rumah kecil itu. Rumah yang dirinya beli dari kerjanya diperusahaan milik mantan kekasihnya sekaligus ayah dari bayinya kelak.

Ia berjalan menerobos hujan dan menunggu taxi tanpa ingin memegang payung. Untuk apa berlindung jika hati sudah tersakiti. So Eun tidak ingin memegang benda itu untuk menutupi tubuhnya. Bukankah tubuhnya telah ternoda, biarkan hujan itu menghapus noda-noda didalam tubuhnya itu walau itu tidak mungkin. Air mata mengalir didalam taxi sepi itu. Taxi yang membuat dirinya merasa lelah.

 

=====()()()()=====

Kim Bum terdiam didalam mobil putih itu. Mobil mewah bertabur bunga yang akan membawa dirinya kedalam sebuah gereja megah. Hujan terus membuat telinganya terngiang-ngiang suara lembut So Eun yang manja dengan dirinya. Air itu mengingatkan Kim Bum diterakhir kali matanya itu melihat So Eun terjatuh dan menangis. Kim Bum menunduk dan menggenggam tangnya kuat-kuat. Ada alasan mengapa dirinya memilih menikahi So Ra dibanding bertahan dengan So Eun. Kim Joon mengancam dirinya bahwa akan melukai So Eun jika dirinya terus bersama So Eun. Kim Bum kembali menangis menunduk disetiap mengingat perkataan Kim Joon yang memaksa dirinya untuk berbalas budi dan meninggalkan So Eun. Kim Bum tidak ingin kakanya itu melukai So Eun, melukai wanita yang teramat berarti. Biarlah kisah mereka seperti waktu dalam detik. Setidaknya detik itu membuat kisah.

Mata Kim Bum tidak mempercayai apa yang dilihatnya itu ketika melihat seorang wanita mungil berdiri diluar gereja tanpa pelindung apapun. Berdiri dibawah hujan lebat. Wanita yang masih teramat dicintainya itu. Kim Bum pun merasa tidak kuasa menahan air matanya itu. Air mata yang walau hanya setitik saja melambangkan kehancuran. Kim Bum pun meminta sang supir menghentikan mobil mewah itu. Tangannya gemetar untuk membuka pintu mobil itu. Sang supir dengan sigap mengambil payung dan keluar untuk membukakan pintu mobil itu.

Pandangan mereka bertemu walau ditempat berbeda. Mereka berdiri dimasing-masing pinggir jalan dan terpisah dengan jalan raya itu. Kim Bum dapat melihat sorotan sayu mata So Eun yang begitu mendalam. Hatinya tertikam begitu pekat.  Air hujan itu masih membasahi tubuh wanita dan pria ini yang berada diseberang jalan yang berbeda. Tetapi sayangnya pria ini terlindung dari sebuah pelindung. Wanita itu berdiri kaku seorang diri dengan air mata yang tiada henti. Kim Bum tidak sanggup jika harus menatap walau hanya sedetik saja. Keduanya menangis tapi enggan menghampiri. Jam sudah berganti detik yang berarti tidak ada kesempatan. Bahkan wanita itu sudah menggigil dengan bibir pucat bergetar. Lonceng-lonceng dalam gereja yang bersautan membawa luka hati. “kesalahan ku melepasmu, apakah detik bisa menggantikan jam yang terhenti?” suara dalam hati menjerit. Pria ini menangis dalam hangatan payung putih yang melindungi seluruh tubuhnya itu.

Kim Sang Bum, pria tampan dengan setelan rapi tuxedo lebih memilih menikah dengan wanita lain dan membiarkan wanita mungil berdiri tanpa payung seorang diri. Lusuh dan bernoda yang ada diri So Eun. So Eun menangis terisak ketika memandang wajah pria yang dirindukkanya ini. Kim Bum hanya tersenyum getir melihat betapa terlukanya hati So Eun. Kakinya ingin sekali melangkah dan memeluk tubuh mungil itu. Mendekapnya dengan segala kehangatan. Tetapi itu tidak mungkin terjadi, semua sudah berubah dalam hitungan waktu yang sangat mengecewakan.

Kisah yang harusnya berjalan ternyata terhenti pengkhianatan. “kau..!!” ujar mereka serempak memilu dengan air mata. Mereka membuka suara meskipun dengan keparauan yang meliputi. Kim Bum ingin mengatakan sepatah kata meskipun harus satu kata setidaknya ingin mengucapakan terima kasih. Tetapi dadanya sesak tidak sanggup.
” jika aku sudah terikat,, tidak akan ada lagi detik dihidupmu So Eun. Saranghae,” lagi -lagi hanya batin yang berkata. Kim Bum hanya dapat bersuara dalam relung batinnya itu. So Eun masih berdiri menangis di sebarang jalan melihat Kim Bum hendak melangkah masuk kedalam gedung suci. Kim Bum telah hancur kini dan tidak akan berganti hati. Sebuah rahasia telah terjadi diantara mereka hingga perpisahan lah yang harus dipilih.

‘ Biarlah detik itu menjadi pengganti jam dan menit yang akan membantu kita mengingat cinta kita di tempat berbeda dan kondisi berbeda.. jeongmal saranghae Kim So Eun..’ batin Kim Bum menangis mengiringi langkahnya. Langkahnya kembali terhenti untuk membalikkan tubuhnya dan berbicara sejenak dengan So Eun sebelum melanjutkan langkahnya masuk kedalam gereja.
“ aku telah membuat mu terluka, aku telah membuat mu hancur !Tunggulah detik-detik berikutnya kau pasti akan menemukan penggatiku. Jam sudah berhenti dihidupku jadi jangan mengharapkan detik dalam sebuah akhiran. Maaf membuat kau terlibat kisah waktu dalam detik bersama ku. Pergilah dan berbahagialah !!,” ujar Kim Bum sedkit keras agar So Eun dapat mendegarnya. Sang supir yang memegang payung menunduk menangis mendengar betapa kuat cinta Kim Bum untuk So Eun.

So Eun menyeka air matanya karena merasa buram atas penglihatannya kini.
“ Jika luka itu memang terlihat besar, mengapa tak kau coba untuk kecilkan? mengapa bertahan hingga melebar?? Jika rasa itu telah hancur, mengapa kau coba bertahan?? mengapa tidak kau tinggalkan?
Jika jam itu berhenti bahkan menit tak lagi berkontraksi, mengapa masih menunggu detik?
detik begitu cepat tidak memberi kesempatan. Mengapa masih menunggu detik??
mengapa kau tinggalkan aku???!!,”

Teriak So Eun dengan segala amarahnya. So Eun merasa penat dengan situasi ini. Kim Bum menetesakan air mata lukanya mendengar teriakan So Eun yang histeris itu. Kim Bum tidak kuasa untuk tidak menangis. Wajahnya kini telah basah akan air mata. Tuxedo nya yang rapi harus basah karena tetesan air mata. Kim Bum menangis tidak lagi untuk ditutupi. “ bagaimana mungkin aku mengecilkan luka itu jika aku saja terluka dan tidak berdaya. Bagaimana mungkin aku meninggalkan rasa yang hancur itu, jika rasa itu adalah rasa untuk seseorang yang teramat penting bagiku.. Aku hanya mengandalkan detik karena jam terlalu menyakitkan untuk perpisahan.. karena menit terlalu menyesatkan untuk sebuah keputusan.. aku ingin mengandalkan detik untuk luka.. AKU INGIN MENUNGGU DETIK YANG AKAN CEPAT BERLALU MENINGGALKAN RASA SAKIT INI !! AKU MENINGGALKAN MU AGAR KAU TIDAK TERJEBAK BERSAMA LUKA DETIK ITU..,” teriak Kim Bum. Kim Bum pun terjatuh membuat celana nya kotor dan basah terkena air hujan.

Mereka berdua menangis dan terduduk ditempat yang berbeda. “ Kim So Eun !!,” teriak Kim Bum ketika melihat So Eun terjatuh tidak sadarkan diri.
“ tuan Muda.. !!,” teriak supir itu ketika melihat Kim Bum berlari menyebrang jalan menuju arah So Eun tergelatak. Tangisan kembali pecah dan bergaduh ketika melihat kaki So Eun mengalir darah banyak. Kim Bum dengan cepat membawa So Eun pergi dengan mengendarai mobil pernikahan itu. “ aku mohon So Eun bertahanlah..” ujar Kim Bum begitu takut dan mengendarai mobil itu dengan kecepatan tinggi.

 

=====()()()()=====

Ternyata mereka semua mendengar dan melihat apa yang sebenarnya terjadi. Mereka semua termasuk kedua orang tua Kang Soo Ra maupun Kang Soo Ra sendiri dan Kim Joon melihat kejadian dimana Kim Bum dan So Eun menangis terlalu dalam. Mereka tidak ingin membuat waktu dalam detik untuk kisah cinta seseorang. Ayah So Ra menangis karena baru mengetahui Kim Bum ternyata telah mencintai orang lain begitupun dengan Kim Joon yang terus menghakimi dirinya sendiri yang memaksa Kim Bum utnuk menikahi Kang So Ra. Kim Joon lebih mementingkan harga diri untuk balas budi dibanding hati dan perasaan adiknya itu.

Kini mereka semua sedang berada dirumah sakit menemani Kim Bum yang sedari sepuluh menit yang lalu hanya terdiam dengan pandangan kosong tidak berkehidupan. Dokter yang membantu So Eun belum juga keluar dari kamar rumah sakit itu. Kim Bum terus mengalirkan air matanya dan duduk dikursi dengan kepala bersandar pada dinding. Sangat menyedihkan tidak memiliki semangat hidup. Dibujuk bicara pun Kim Bum tidak akan membuka mulutnya. Hanya air mata saja yag terus mengalir. Kim Joon terus meminta maaf pada adiknya itu setiap kali Kim Bum selelu bergumam memanggil nama So Eun. Semua yang berada dirumah sakit ini yang menemani Kim Bum dan melihat kondisi Kim Bum menangis.

Kang So Ra sudah rela jika saja Kim Bum dan So Eun menikah dan kedua orang tua nya pun sudah ikhlas jika saja Kim Bum memulai hidup berdasarkan jam yang panjang bersama dengan So EUn. Kang So Ra rela menggantikan posisi So Eun sebagai kisah waktu dalam detik. So Ra ingin membuat suatu perbedan antara detik, menit dan jam. Meskipun detik itu cepat sebisa mungkin So Ra ingin berbuat baik dalam semasa hidupnya ini.

Dokter yang menangani So Eun keluar dengan keringat yang masih terdapat itu. Kim Bum dengan cepat menggenggam tangan dokter itu.
“ bagaimana?,” tanya Kim Bum benar-benar terlihat ketakutan. Dokter itu menarik nafas sejenak dan membenarkan letak kaca matanya itu. “ nona Kim So Eun mengalami pendarahan hebat tetapi bayi itu masih tetap bisa diselamatkan. Jangan sampai pendarahan seperti ini terjadi lagi karena aku takut jika bayi itu tidak bisa terselamatkan,” ujar dokter itu. Kim Bum mengangguk mengerti dan segera masuk kedalam kamar So Eun yang hangat itu. Dilihatnya bidadarinya yang cantik sedang terlelap dengan selang infuse dan wajah yang pucat. Dielusnya wajah dan perut So Eun yang sedikit membesar. Kim Bum kembali meneteskan air matanya dan membasahi pipi So Eun ketika selesai mencium kening wanita itu. “ aku mencintaimu.. hiduplah bersama ku lebih panjang seperti jam.. Aku mencintaimu,” ujar Kim Bum terus menciumi tangan So Eun. So Ra yang baru masuk tersenyum kecil dengan Kim Bum yang begitu mencintai So Eun.

“ menikahlah dengan So Eun. Aku akan menggantikan waktu dalam detik untuk perpisahan kisah cinta ini. Kembalilah pada So Eun dan calon anakmu itu. Aku akan menempuh detik bersama kisah cinta dari mu. Anak itu pasti akan menjadi menit yang berada diantara kalian.. jadi… aku memilih detik untuk kisah ini. Waktu dalam detik yang tidak begitu buruk,” ujar So Ra tersenyum. Kim Bum berdiri dan menarik tangan So Ra dan memeluk dirinya hangat.

“ terima kasih banyak,, terima kasih untuk ini semua. Aku akan menjadi kakak, sahabat, atau saudara untuk mu jika setiap detiknya kau terluka. Terima kasih untuk semuanya Kang So Ra..” Kim Bum tersenyum bahagia kini tidak ada lagi perpisahan dalam kisah waktu dalam detik yang menyakitkan. Tetapi perpisahan yang manis walau harus harus ada yang bertukar posisi. Ayah So Ra pun sudah menganggap Kim Bum seperti anaknya sendiri jadi rasa sesal untuk membuat Kim Bum dapat melihat kembali tidaklah patut untuk disesali. Ayah So Ra sangat bersyukur memberi penglihatan kepada Kim Bum walaupun pada akhirnya So Ra lah yang mengalami kisah cinta yang singkat seperti sesingkat waktu dalam detik perpisahan kisah.

 

=====()()()()=====

Kim Bum dan So Eun pun akhirnya menikah disebuah gereja mewah yang tadinya hendak dipakai Kim Bum dan So Ra untuk melangsungkan pernihakan. Mereka berdua menikah dengan sangat manis. Sangat damai tidak ada lagi yang perlu ditutupi satu sama lain.

Kim Bum tersenyum lebar dengan So Eun. Sang pendeta pun mempersilakkan Kim Bum untuk mencium So Eun. Kim Bum kembali memberikan senyuman terindahnya untuk wanita mungil ini. Kim Bum berlutut sejenak dan memeluk pinggang So Eun menempelkan telingannya keperut So Eun. Kim Bum ingin mendengar tendangan calon bayi itu. Hal itu membuat So Eun menangis terharu dan para hadirin memberi tepuk tangan yang meriah.

Kim Bum sejenak mencium perut So Eun yang berbalut dengan gaun pengantin itu dan kemudian mencium kedua mata, kedua pipi, hidung, dan bibir So Eun dengan sangat mesra. “ saranghae.. Aku mencintaimu Kim So Eun..” ujar Kim Bum mengelus pipi yang merona itu. Kim Bum sangat bahagia dengan kehadiran bayi itu. Memang awalnya Kim Bum belum siap menjadi serorang ayah karena Kim Joon selalu mendesaknya untuk meninggalkan So Eun dan menikahi So Ra. Kini itu semua telah menjadi detik, sudah berlalu dengan cepat dan tidak perlu diingat kembali.

“ nado saranghae Cheagy,” balas So Eun dengan senyum menggoda. Kim Bum sekali lagi mencium bibir So Eun dengan lumatan kecil. Mereka telah bersatu dalam ikatan cinta waktu yang panjang.. So Ra tidak menyesal menjadi korban waktu dalam detik karena dalam detik itulah kita sebenarnya menemukan sesuatu yang berarti sebelum menit dan jam berjalan.

 

 

Lakukanlah sesuatu yang memang kalian inginkan. Jangan menunggu detik berikutnya, menit berikutnya, atau jam berikutnya.. karena jika anda melewatkan satu detik saja dalam kisah maka anda akan terus terjerumus masa lalu. Jika anda melewatkan satu menit saja dalam kisah, maka anda akan melewatkan kisah hari ini. Dan jika anda melewatkan satu jam dalam kisah,, maka itu menandakan Anda tidak perduli pada akhir kisah itu nantinya.. 

Waktu dalam detik memang begitu cepat seperti kisah cinta seseorang yang tidak pada keyakinan. Janganlah ragu dan bimbang dalam memutuskan kisah cinta karena jika Anda merasa ragu dan tidak yakin, maka Waktu dalam detik itu akan anda rasakan..


Rasakanlah ketulusan hati seseorang didalam hidupmu seperti jam yang lama agar tidak tersesat jangan terburu-buru, ambilah keputusan dalam kisah mu seperti menit yang tidak terlalu lama agar kau tidak menyesal dan terlambat, dan ungkapkanlah secara tegas tanpa ragu isi hatimu seperti detik yang cepat dan tidak membuang waktu….

Hiduplah terarah dalam waktu…..

 

 

Time In The Second end….

 

Aneh tidak? Aduh maaf kalau aneh yah dan maaf juga jika tidak bagus.. sudah berusaha ^^ .. semoga tetap bisa dinikmati  ^_^

Posted on Januari 18, 2015, in One Shoot. Bookmark the permalink. 225 Komentar.

  1. Bagus banget authoor. Aku sampk gak kerasa nangis bacanya. Like this. Nyesek bgt. Aku sukaaaaaa

  2. Kirain baklan sed ending, tapi akhirnyaa berakhir happy juga🙂
    Seneng akhirnyaa kimbum bersama sso lahi🙂

  3. Cinta llu biarlah berllu kini takdir menemukn cinta baru sbg waktu terus maju dan ngk berjalan mundur

  4. J'icAngwook bumssoelmates

    Sungguh menyat hatiku😥

    Akhhhhh aku ikutan nangis pas adegan teriak2an …

  5. Sukur bumsso akhirnya bersatu juga
    😊😌

  6. Dr awal waktu kim joon keluar(muncul dlm cerita) udh ng-rasa keknya ada yg bakal kaga beres..

    Kesannya Kim Joon itu emng jdi provokator..

    Baru kali ini keknya baca ff smp nangis gk berhenti2..
    Keinget trus, kta2nya nyayat hati bgt..

    *komen macam apa ini

    fighting

  7. mtaku dah berkaca2,, sedih banget n nyesek sat kim bum blg gugurkan saja… tdinya dah egak snggup baca tpi tetp d lanjuti krna ingin tw endingny… akhirnya yea… hpy ending

  8. Menyentuh banget baca ff ini. Dibikin kesel karena kim joon yg memaksa kim bum menokahi soo ra. Dibikin sedih dengan perpisahan so eun dan kim bum.
    Dikirain bakalan sad ending ternyata happy ending :))

  9. Bikin baper ceritanya sampek nyesek bacanya

  10. Aku bca ff nie nyesek bgt,aku kira bumppa bner2 udah gk suka sma sso,ternyata oppa y yg nyruh ptusin sso, tpi happy ending….
    SERU….!!!

  11. Sumpahh keren banget ini ceritanya konfliknya dapet dan feel nya berasa bangett . Semangat thorr bikin cerita yg lebih menarik lagi 😊😊

  12. Aku udah baca ini ff berulang-ulang tapi reaksi aku selalu sama Sedih, Terharu, Bahagia dan merasa sesak dengan keadaan BumSso… Ini ff keren banget

  13. Fatma Anatasha Moore

    Nyesek banget ampe menangis tersedu-sedu *plaklebay
    Yang penting akhirnya bumsso bersatu🙂

  14. feelx dpt bgt

  15. hixhix…
    daebaakk…ffmu mmpu mnteskn air mtaku bhkn q mpe ikt hnyut kdlm swsn mrk b2…mua’y trsa bhkn mnegangkn…

  16. gk bsa brkta2 nyeseek bnget, nmun ttp brsyukur akhirnya sperti yg di hrapkan,,,, gomawo thor next post di tnggu SEMANGAAat

  17. Happy ending karna sso dan kim bum akhirnya bahagia bersama

  18. Huhuhuuu …kq ceritanya bikin terharu sihh thor ? Untunglah pd akhirnya kimbum dan soeun bisa menikah ,dan akan punya baby 😊😊😊 kata2 yg diakhir bikin merinding disko ,good joob author keceeehh 🙏🙏🙏

  19. kupikir bakal sad ending.
    teganya kim joon memaksa kim bum ninggalin so eun buat nikahin so ra. pdhal so eun lagi hamil

  20. Menguras air mata hikhikhik…..😥 bner² crita’y bgs bnget thor,ampe mta q bngkak.

  21. Menguras air mata hikhikhik…..😥 bner² crita’y bgs bnget thor,ampe mta q bngkak,bca’y dah klar pun q msh menangis.😥

  22. Annyeong author saya readers baru salam kenal ya ?? Izin baca ff nya juga ya ??
    FF nya keren banget menguras air mata, suka banget sama alur ceritanya. pokoknya bener-bener keren deh, author good job….😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: