DESTROYED  ( part 2 end )

122314_0143_DESTROYEDPa1.jpg

 

DESTROYED  ( part 2 end )
Author                  : win (acieh km)

Main Cast            : Kim Sang Bum,  Kim So Eun

Other Cast          : Alan Luo ( Show Luo ), Kyu Hyun, Kim Jae Joong, Yoona, Selena Ren

Genre                   : sad, romance, romantic, Legend

Type                      : Two Shoot

 

 

Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produser dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita

 

Jika kau memiliki pedang sebagai bukti penghakiman seharusnya kau tidaklah ragu..
Jika kau diutuskan untuk hidup mengapa harus ragu memusnahakan kehidupan seseorang yang terlibat dosa.. Musnah.. biarlah itu terjadi dan jangan ditunda
karena kelak pun akan terjadi percuma dihindari..

Bahkan melur itu telah musnah sebelum kupu-kupu menjadi kekasihnya…

 

……*******………

Rerintikan hujan mulai turun membasahi juntaian rambut panjang yang lurus berkilau. Rambut itu basah berpadu dengan wajahnya yang basah bukan karena air hujan, karena air mata yang dingin yang mengalir tanpa dititah. Suasana hanya seperti pohon yang bergoyang dengan suara-suara angin yang menusuk. Suara-suara berisik dedauan kering yang mengotori tanah membuat keheningan itu seakan-seakan tidak dapat dihentikan. Tidak ada suara manusia sekalipun itu memang hadir manusia.

Kim Bum menatap lurus So Eun yang menatap matanya tanpa berkedip. Hujan itu menjadi deras dikala mata indah itu mengalir air mata. Kini Kim Bum sadar sepenuhnya jika air mata itu penyebab dari hujan deras ini. “ pergilah pemuda manusia, jangan halangi langkah kami,” ujar pria dibelakang So Eun. Kim Bum mengeratkan gengaman nya pada pedang itu. Pedang itu sudah basah seutuhnya akan siraman air hujan.

“ jika aku tidak ingin menyingkir bagaimana?,” tantang Kim Bum kini mengalihkan matanya menatap mata biru berpadu bening milik pria tinggi itu. Mata itu telah berubah warna setelah waktu lalu berwarna merah pekat. “ maka kau siap untuk mati !,” ujar pria itu memajukkan dirinya kesamping So Eun dan merubah warna matanya. “ berhentilah bersikap seperti itu Jae Joong,” ujar So Eun parau. So Eun tidak ingin melihat Kim Bum berseteru dengan Jae Joong. Hujan mulai mereda dikala air mata So Eun semakin kecil mendera. “ aku mohon jangan halangi aku Kim Bum. Kau sudah tahu siapa aku sebenarnya bukan? Jangan perdulikan aku lagi,” ujar So Eun dengan suara lembutnya. Kini bukan So Eun yang menangis tetapi air mata Kim Bum yang mengalir.

“ Kau dengar Kim Bum, lebih baik menyingkirlah !,” ujar Jae Joong tetap matanya berwarna merah. Kim Bum tersenyum tipis memandang sendu So Eun. Langit berubah gelap kembali disaat So Eun menahan bendungan air mata itu ketika Kim Bum mengarahkan pedangnya kearahnya. Tepat kearah jantungnya.
“ apa yang kau lakukan !!,” teriak Jae Joong ketika Kim Bum meluruskan pedang itu mengarah pada jantung So Eun. Hujan kembali deras bahkan petir melanda ketika isakan itu terdengar. Kota Huangzhou menjadi gelap dan kilatan hinggap dalam sekejap.

“ kau ingin memusnahkan diriku? Jika kau memiliki pedang sebagai bukti penghakiman seharusnya kau tidaklah ragu..Jika kau diutuskan untuk hidup mengapa harus ragu memusnahkan kehidupan seseorang yang terlibat dosa..” tanya So Eun da berujar dengan menegakkan kepalanya dan menatap Kim Bum. Kim Bum hanya terdiam dan tangannya sama sekali tidak bergetar. Jae Joong menajamkan matanya menatap diri Kim Bum. Jae Joong bersiap untuk melukai Kim Bum tetapi tangannya tergores pedang itu dengan sengaja oleh Kim Bum. “ akkhh !! Keparat kau Kim Bum !,” pekik Jae Joong ketika tangannya tergores parah oleh pedang Kim Bum.

“ mau kau bawa kemana wanita ku Kim Sang Bum !!,” teriak Jae Joong ketika tangan So Eun ditarik Kim Bum dan dibawa lari oleh Kim Bum. So Eun hanya terdiam mengikuti langkah Kim Bum untuk berlari. Mereka berdua berlari seperti tanpa beban. Wajah Kim Bum begitu serius menggenggam erat pergelangan tangan So Eun menggenggamnya seolah-olah tidak ingin dilepaskan. So Eun melihat wajah tulus itu yang mengeluarkan uap dingin dari mulutnya.

“ Kim sang Bum !!,” teriak Jae Joong yang kesulitan berlari. Pedang itu bukanlah pedang biasa. Itu pedang pembasmi siluman yang sudah terkunci dengan sebuah tulisan. Jae Joong terus mengejar dan kekesalan itu pun terjadi saat dirinya kehilangan jejak Kim Bum dan So Eun. Hutan ini begitu luas dan begitu banyak tempat untuk persembunyian bahkan tempat hutan ini begitu banyak tikungan serta semak-semak liar yang menjalar. “ Ahhkkk !! KIM SANG BUM !!,” teriak Jae Joong keras kuku tajamnya secara spontan keluar saat teriakan itu terdengar.

 

====*****=====

Kim Bum terus berlari entah sampai dimana mereka saat ini. Hujan telah berhenti beberapa menit yang lalu sehingga udara tidak begitu dingin seperti beberapa saat yang lalu. Kim Bum akhirnya menghentikan lariannya di tengah-tengah hutan yang begitu dalam. Hutan yang belum pernah terjamah sebelumnya oleh dirinya. Sebuah hutan yang masih begitu mengerikan dan banyak sekali pohon besar yang berusia sekitar ratusan tahun.

“ aku rasa pria itu sudah tidak mengikuti ku lagi,” ujar Kim Bum mengedarkan pandangannya kesegala penjuru arah memastikan keadaan. So Eun masih diam tidak merasa lelah sedikitpun seperti Kim Bum. Makhluk seperti dirinya tidak mungkin merasakan lelah.

Kim Bum akhirnya menarik nafas panjang sebelum menatap diri So Eun yang memandangnya menantikan sebuah penjelasan. Pedang itu masih setia digenggam Kim Bum membuat So Eun menatap sedih. Apakah Kim um hendak membunuhnya ditempat yang mengertikan seperti ini? Pikiran So Eun sudah sangat buruk sekarang.

Kim Bum menatap dalam mata So Eun melihat betapa cantik wanita nya ini. So Eun sama sekali tidak bergeming bahkan ketika angin membuat rambutnya berantakan So Eun sama sekali tidak menghiraukan rambutnya yang kacau. Kim Bum tersenyum kecil dan merapikan rambut So Eun yang lembut itu. Ia lihat betapa indahnya rambut itu yang terpasang mutiara dikeningnya. Sangat indah menambah kesan cantik siluman ini.

“ kau ingin membunuhku ditempat ini?,” tanya So Eun ketika Kim Bum masih sibuk membersihkan pundak nya yang terdapat kelopak bunga yang rontok. Kim Bum tidak bergeming dan masih terus membersihkan kelopak bunga yang berjatuhan itu. “ apa kau pikir aku benar-benar akan melakukan itu?,” tanya Kim Bum telah selesai membersihkan pundak So Eun dan merapikan sedikit dress putih So Eun yang kotor terkena tanah saat lari tadi.

So Eun hanya cemberut dengan tuturan kata Kim Bum. Selalu saja Kim Bum seperti ini jika ditanya. Kim Bum melihat wajah So Eun yang lucu itu dan memetik sekuntum bunga melati yang masih kecil dan diselipkan ditelinga So Eun membuat diri Kim Bum tersenyum tambah lebar. “ kau siluman tercantik dijagat raya ini,” ujar Kim Bum mengelus pucuk kepala So Eun. So Eun merona dan memegang sekuntum bunga itu yang terselip diantara telinganya itu. “ kau tidak membenciku?,” tanya So Eun kembali. Kim Bum merengkuh tubuh So Eun dan mencium pundak terbuka wanita ini. Harum semerbak dapat Kim Bum rasakan saat ini juga.

“ tidak, aku tidak bisa membenci dirimu So Eun. Aku sangat mencintai mu dan aku tidak perduli siapapun dirimu. Aku akan melawan takdir dengan cara ku,” ujar Kim Bum mempererat pelukkannya dan kembalinya mengecup pundak serta tengkuk So Eun yang sangat harum itu. “ achh.. gelii,” ujar So Eun saat Kim Bum jahil meremas-remas punggungnya dan mengecup kasar tengkunya. Sering kali Kim Bum meniup-niup leher So Eun. “ benarkah? Aku rasa aku sangat merindukkan dirimu,” ujar Kim Bum melaps pelukannya dan mengambil bebebrapa kelopak bunga lalu ditaburkan diatas kepala So Eun. Ia taburkan seperti menaburkan seorang pengantin wanita.

“ Itu akan sangat buruk jika melawan takdir Kim Bum shi,” ujar So Eun sedih namun Kim Bum langsung menangkap dagu So Eun dan menggeleng kecil. “ aku akan mencoba itu semua dan kita akan melawan bersama-sama. Pedang ini tidak akan aku tunjukkan dalam peperangan. So Eun shi,, maukah kau menikah dengan ku?,” So Eun langsung melepas tangan Km Bum yang mengelus bibirnya itu karena terlalu terkejut. “ apa? Menikah? Kau tahu jika kita berbeda Kim Bum shi. Apa kau tidak takut pada kejamnya takdir?,” tanya So Eun memastikan niat Kim Bum yanga sangat berani itu. Kim Bum kembali mengelus bibir So Eun dengan lembut sekali.

“ sudah aku katakan jika aku sama sekali tidak takut pada apapun. Merasakan betapa sakitnya kehilangan dirimu saat itu membuat ku tidak lagi sanggup untuk merasakan kedua kalinya. Aku seperti manusia tidak bernyawa dan seperti pedang yang telah patah tidak dihiraukan. Mesipun tajam pedang yang patah tidak akan digunakan. Seperti diriku, meskipun tegar jika tidak berdaya tidak akan dipandang,” Kim Bum kini berlutut dan menggenggam tangan So Eun. Hal itu membuat So Eun menangis dan hujan kembali turun membasahi diri mereka.

“ tapi bagaimana caranya kita menikah?,” tanya So Eun tersenyum. Hujan memang sedang terjadi namun kali ini berbeda karena didampingi matahari yang cerah. “ kita akan menikah disini dan saksi kita adalah pedang ini. Jika salah satu diantara kita berkhianat maka pedang ini akan menghancurkan orang itu. Aku sudah menyiapkan cincin termahal. Waktu itu aku berniat melamarmu sebelum jati dirimu terkuak. Dan saat ini aku ingin cincin ini benar-benar terpasang dijari manismu,” So Eun lansung berlutut memeluk tubuh Kim Bum. Hatinya sangat senang tidak terkirakan. Perbedaan yang terbentang alam tidak lagi diperdulikan mereka.

Perbedaan tidak akan terlihat ketika kita mamu menerima dengan apa adanya dan saling melengkapi. Perbedaan akan terlihat dan menjadi jarak ketika kita tidak dapat menerima dengan apa adanya..

Mereka pun melakukan janji suci meskipu n tana pendeta, tanoa biksu, atau tanpa sebuah bangunan tempat suci. Mereka menikah dengan bersaksi angin yang berhembus kencang, dengan suara-suara burung yang berterbangan memutari mereka diatas kepala, dan dengan suara-suara gesekkan-gesekkan dedaunan. Mereka menikah dengan tepuk tangan para suara binatang kecil. Kunang-kunang senja menjadi lampu indah untuk pernikahan mengerikan ini. Bahkan janji suci itu tidak dilunturkan dengan sangat mulus membuat pedang Kim Bum yang tersandar pada pohon jatuh tertiup angin kencang. Perbedaan yang mengerikan telah bersatu padu.

wo ai ni. Wo ai ni tian chang di jiu,” ( aku mencintaimu. Aku mencintaimu selamanya ). Ujar Kim Bum mengecup hangat kening So Eun dan So Eun memejamkan matanya dengan bergumam kecil. “ wo ne. Wo ai ni tian chang di jiu,” ( aku juga. Aku mencintaimu selamanya .

Burung-burung saling bertautan seolah-olah ikut berperan persatuan antara dua dunia ini. Malam telah meliputi dan mereka akan memulai kehidupan baru sebagai sepasang yang sangat mengerikan. Manusia dan siluman bersatu dalam satu ikatan..

 

====****====

Alan Luo sama sekali tidak dapat tidur dengan nyenyak malam ini. Pikirannya sangat kacau dan perasaan buruk hinggap didalam dirinya. Rumah nampak sangat sepi karena Kyu Hyun masih tinggal di Beijing untuk berlibur bersama teman-teman kampusnya itu. Ia pandangi langit malam yang terus berubah-ubah dari tadi siang. Hujan yang tiba-tiba, sambaran petir yang tiba-tiba datang, bahkan hujan dengan matahari pun terjadi pada hari ini. Hal ini membuat dirinya merasakan ada yang terjadi dan itu merupakan hal buruk sekali.

Selagi pikiranya melayang Alan Luo merasakan angin berhembus kencang dan seperti ada yang masuk kedalam rumahnya dan berdiri dibelaknagnya itu. Ia melihat kebawah dimana dari bawah sana ia dapat melihat bayangan seseorang dibelakangnya itu. Ia merasa seperti tidak asing dengan tamu tidak diundang ini. “ ada apa kau kesini, Jae Joong?,” tanya Alan sudah membalikkan tubuhnya dan memandang diri Jae Joong yang sepertinya sedang marah itu.

“ dimana Kim Bum?,” tanya Jae Joong tanpa basa-basi lagi. Alan merasa benar-benar ada yang terjadi dengan pertanyaan Jae Joong ini. Sesuatu yang sepertinya itu mengerikan. “ aku tidak mengerti maksud mu Jae Joong. Kim Bum memang pergi mencari wanita siluman itu dan belum kembali hingga saat ini. Lagi pula aku tidak tahu dimana keberadaannya dan mengapa kau bertanya padaku? Apa yang terjadi?,” Alan Luo sangat tidak yakin jika hanya hal kecil saja yang terjadi. Firasatnya sangat kacau dan hatinya sesak tiba-tiba. “ dia pergi membawa calon istriku ! Aku tidak bisa membiarkan pria itu membawa So Eun. Aku akan membunuh nya !,”

“ kau ingin membunuh adikmu sendiri, Jae Joong?,” tanya Alan Luo membuat Jae Joong melunak dalam seketika. Pikiranya tiba-tiba mengingat kembali akan sesuatu. Alan Luo berdiri dari kursinya dan mendekati diri Jae Joong. “ kau ingat dia itu adik kandung mu. Dia memang manusia karena takdirnya berpihak padaku sedangkan kau menjdi siluman ular karena mengkuti takdir ibumu, Kim Tae Hee,” tutur Alan Luo memandang cangkir yang kosong diatas meja.

Jae Joong berpikir lagi mengenai apa yang terjadi. Otaknya kembali mengingat masa-masa yang lalu. Masa dimana sepertinya terlupakan olehnya karena bertahun-tahun terpisah.

 

Falsh Back

Pada saat itu Alan Luo menikah dengan seorang siluman yang bernama Kim Tae Hee. Peristiwa itu terjadi dimana tahun ular melanda. Cinta Alan sangat kuat untuk Kim Tae Hee sehingga tidak dapat membendung rasa itu untuk memiliki. Kim Tae merupakan sepupu dari Selena Ren yang menentang hubungan ini dan Selena Ren ternyata bergabung dengan kedua orang tua So Eun untuk menghancurkan hubungan Alan Luo dengan Kim Tae.

Saat itu Alan dan Tae Hee memutuskan untuk pindah selamanya ke daerah terpencil diChina. Mereka berharap tidak ada lagi yang mentang cinta besar itu. Hingga pada suatu hari Kim Tae Hee hamil anak pertama. Anak itu lahir ketika hujan besar dan berharap anak yang lahir itu tidak memiliki garis keturunan ular walau itu harapan yang sangat sulit. Selena Ren mencium sesuatu yang tidak beres dengan keberadaan Alan Luo dan Kim Tae Hee. Bahkan perasaan ibu So Eun yang sangat kuat itu membantu Selena menemukan Kim Tae Hee yang saat itu sudah melahirkan. Tapi sayang Selena kehilangan jejak lagi ketika Tae Hee dan Alan melarikan diri masuk kedalam daerah pedalam dekat hutan.

Anak pertama itu ternyata lahir sebagai keturunan siluman tanpa ada darah manusia sedikitpun. Anak itu bernama Kim Jae Joong, putra pertama dari Alan dan Tae Hee. Jae Joong dilahirkan dalam wujud manusia dan terkadang sering berubah-ubah menjadi seekor ular. Anak itu terpaksa harus dilepas kan dihutan agar dapat tumbuh dengan baik atas pengawasan Tae Hee. Dua tahun kemudan Tae Hee melahirkan kembali seorang putra dari Alan. Tae Hee melahirkan disebuah kuil yang bernama Kuil Ling Yin.

Anak itu lahir ditahun ular dan mendapatkan anugerah yang terbesar. Nama anak laki-laki yang sehat itulah adalah Kim Sang Bum, seorang bayi manusia tidak ada darah siluman sedikitpun. Kuil yang sangat bersejarah bagi keduanya. Mereka hidup bahagia sampai suatu ketika diusia Kim Bum yang menginjak kanak-kanak ketika mereka bertiga berkunjung kekuil itu suatu masalah mulai terjadi. Jae Joong saat itu tidak ikut mereka karena Jae Joong telah dilepas dihutan untuk hidup. Kim Bum sama sekali tidak mengetahui bahwa dirinya memiliki seorang kakak hanya Jae Joong yang mengetahui dirinya memiliki seorang adik yang tampan.

Peristiwa itu terjadi disaat Selena beserta kedua orang tua So Eun menemukan mereka bertiga. Terjadi pertarungan hebat dan Kim Bum hanya bersembunyi ketakutan melihat itu semua. Kim Bum dapat melihat bagaimana Tae Hee tertusuk pedang jahanam itu oleh tangan ibu So Eun. Dengan amarah yang besar Alan mengeluarkan pedang pemusnah siluman itu dan membunuh kedua orang tua So Eun. Alan Luo melihat seorang wanita cilik setara dengan Kim Bum dan diyakini itu adalah putri dari kedua orang yang telah berhasil ia tewaskan. Baru saja pedang itu akan membunuh So Eun kecil, Selena Ren sudah membwa hilang So Eun dalam seketika.

Semenjak itulah mengapa Kim Bum dan Jae Joong tidak lagi dipertemukan karena perbedaan dua dunia. Jae Joong sepertinya melupakan hal itu karena sudah bertahun-tahun tidak bertemu. Jae Joong telah mengetahui sejak lama bahwa ibunya meninggal karena kedua orang tua So Eun, tetapi itu sudah masa lalu dan Jae Joong tidak ingin perduli.

 

Flash Black end

“ kau ingin tetap membunuh adikmu? Bukankah dulu sewaktu kau berusia tujuh tahun kau menghampiriku dan ingin melihat Kim Bum yang tampan? Bahkan kau pernah berkata sangat menyayangi adik manusia mu ini. Apa kau ingin merubah ujaran itu?,” tanya Alan Luo memancing diri Jae Joong.

Jae Joong terlihat sangat terbebani dengan pertanyaan itu. Ia sekarang ingat jika dahulu dirinya begitu menyayangi diri Kim Bum. Bahkan dirinya dahulu sering sekali menjenguk Kim Bum sewaktu masih bayi. Tapi semua itu berubah ketika Jae Jong beranjak remaja dan mengenal So Eun. Jae Joong tidak lagi pernah mengunjungi Kim Bum bahkan Alan sekalipun. Hingga pada akhirnya saat ini Jae Joong merasa kesulitan dalam berpikir.

Alan melihat kebimbangan didalam diri Jae Joong putra pertamanya itu. Sebagai seorang ayah Alan tentu merasakan betapa sedihnya Jae Joong saat ini. Dipeluknya hangat tubuh tinggi Jae Joong yang sangat gagah. Kesan siluman didiri Jae Joong begitu kuat hingga Alan dapat merasakan perbedaan diantara mereka begitu kental. Jae Joong hanya diam menerima pelukan ayahnya yang sudah bertahun-tahun tidak didapatkannya itu. Jae Joong sebenarnya tidak ingin membuat Kim Bum menderita pada akhirnya jika melihat So Eun musnah karena tangannya sendiri. Jae Joong tidak ingin melihat adik manusianya itu menangis kesakitan didalam hati.

“ kita akan mencarinya bersama-sama sebelum keadaan semakin kacau,” ujar Alan Luo melepas pelukannya dan menepuk pundak Jae Joong ringan. Jae Joong mengangguk tanpa senyuman. Jae Joong melihat panah yang hanya terdapat satu anak panah dengan bujur yang kuat. Bujur panah itu mengkilap membuat mata Jae Joong silau dan menutupi matanya dengan punggung tangannya. “ oh, maaf,” ujar Alan saat menyadari Jae Joong terganggu dengan silauan bujur panah itu. Panah itu memang bukan panah biasa. Sebuah panah yang memiliki tali busur yang kuat dan dapat menimbulkan getaran yang kuat pula ketika anak panah dilepas dari busur panah.

Jae Joong menganggukkan kepalanya mengerti maksud dari Alan yang telah siap untuk mencari keberadaan Kim Bum. Malam ini juga mereka berdua meninggalkan rumah itu dan memulai perjalanan mencari Kim Bum dan So Eun. Semakin cepat mereka mencari maka peluang untuk ditemukannnya mereka berdua semakin cepat. Maka dengan begitu takdir akan segera diperbaiki sebelum kemusnahan yang menyakitkan terjadi. Malam begitu dingin dan itu dapat dirasakan kuat oleh kulit Alan yang sudah rentah itu. Alan keluar tidak menggunakan jaket hanya mantel sederhana yang sering digunakan warga Huangzhou.

Jae Joong melihat ayahnya itu sedikit menggigil dengan tersenyum kecil. Alan memang sangat mirip dengan Jae Joong secara wajah tetapi Kim Bum lebih mirip dengan Kim Tae Hee sang ibu. Mereka dua saudara berbeda dunia yang lama terpisahkan. Uapan dingin Jae Joong lihat diantara mulut yang sedikit terbuka itu dari mulut Alan. Diambilnya telapak tangan Alan dan digenggamnya. Jae Joong seperti seorang anak yang menuntun ayahnya dikala sakit. Sangat berbakti. Malam ini mereka lewati dengan perjalan yang panjang. Mereka tidak ingin hal buruk itu terjadi nantinya.

 

====****=====

“ dimana So Eun, Yoona?,” tanya Selena yang sedari tadi tidak menemukan So Eun. Selena diberitahu oleh Jae Joong bahwa dirinya akan pergi dan malam akan kembali tetapi sudah dua hari dan malam ini mereka berdua tidak kembali. Selena mencium sesuatu yag tidak masuk akal. Pasti ini ada kaitannya dengan manusia. Selena tidak ingin peristiwa beberapa tahun silam itu terjadi lagi. Dirinya tidak ingin ada percintaan antara dunia manusia dan siluman untuk kedua kalinya. Itu akan sangat sulit diatasi jika terjadi karena lawanya adalah tahun kelahiran ular yang kuat.

“ aku tidak tahu. Bukankah So Eun pergi bersama Jae Joong?,” tanya Yoona memainkan jari telunjuk nya karena khawatir. Temannya tu akan sangat keras jika berkaitan dengan Kim Bum, pemuda manusia itu. Yoona mengingat-ingat kemana So Eun akan pergi. So Eun tidak akan pergi jauh seorang diri jika bukan Kim Bum yang membawanya pergi jauh. Yoona sangat hafal tabiat So Eun karena mereka telah berteman cukup lama.

“ aku tahu itu tetapi sudah dua hari So Eun tidak juga kembali. Tidak mungkin Jae Joong membawa So Eun pergi jauh tanpa ijin karena ini tidak pernah terjadi sebelumnya,” ujar Selena lagi dan mencoba memegang dadanya agar memekakan hatinya itu. Selena dan Yoona merasakan memang ada yang aneh beebrapa hari yang lalu mengenai hujan yang tiba-tiba dan keadaan langit yang sepertinya dipermainkan oleh suatu kejadian. Lagi-lagi Yoona memainkan jari telunjuknya dikala dirinya merasa bingung dan khawatir. Yona siluman ular hijau yang baik seperti So Eun sehingga sangat sulit berbohong.

“ apa kau merasa ada yang aneh?,” tanya Selena kepada Yoona yang masih menunduk itu. Yoona bergumam kecil karena masih takut memikirkan nasib So Eun. “ ya. Aku merasa sesuatu terjadi,” ujar Yoona memandang Selena dengan tatapan bertanya. Diluar langit sangat cerah tidak menunjukkan tanda-tanda keanehan untuk saat ini tetapi tetap saja hati Selena dan Yoona tidak tenang. Mereka tidak akan merasa tenang sampai So Eun berhasil ditemukan.

“ apa kau ingin ikut bersamaku mencari So Eun?,” tanya Selena yang menutup jendela rumah kayu itu didalam sebuah gua. Gua yang gelap dan berlumut dengan tanaman liar banyak sekali duri disana sehingga manusia tidak akan dapat masuk. Yoona menganggukkan kepalanya dengan cepat. “ besok pagi-pagi sekali kita akan mencari keberadaan wanita itu. Aku tidak ingin So Eun mendapatkan takdir yang buruk hanya kerena keegoisan pria manusia itu,” tutur Selena yang melangkah memasuki kamarnya. Yoona merenung sedih. Ia tidak ingin sahabatnya itu mengalami hal yang buruk. Jika itu terjadi maka dirinya tidak akan lagi memilik seorang teman.

“ apa kau baik-baik saja So Eun?,” ujar Yoona menahan tangisnya karena tidak ingin membuat bumi basah dengan jatuhnya air matanya itu.

 

=====*****=====

Sudah satu minggu Kim Bum dan So Eun hidup bersama sebagai suami istri dan mereka terlihat sangat bahagia sekali walau mereka tinggal disebuh rumah yang terlihat seperti gubuk yang lusuh terbuat dari gabah dan daun kelapa yang kering. Mereka berdua menikmati kehidupan ini dengan sangat damai.
“ achh.. sssh.. yak.. geli,” ujar So Eun terus mendesah ketika Kim Bum tidak berhenti terus meremas-remas dan menarik-narik bulu kewanitaan nya. Kim Bum hanya tertawa melihat istrinya itu mendesah dan merona. Selalu saja setiap hari Kim Bum seperti ini. “ nikmatkan?,” tanya Kim Bum menggoda So Eun. Untuk kesekian kalinya So Eun merasa dipermalukan.

“ yak.. aaahkk..!,” teriak So Eun ketika Kim Bum dengan tiba-tiba dan cepat memasukkan kejantanannya kedalam liang So Eun yang sempit itu. Kenjantannanya terasa seperti dipijit saat ini. Begitu nikmat tidak ingin dilepas.
“ apa masih sakit? Bukankah aku sudah sering mengeluar masukkannya,,” ujar Kim Bum sambil menggenjot pelan. “ tentu saja sakit. Milikmu begitu besar. Oucchh,” ujar So Eun menggeliat disaat Kim Bum mengangkat bokong So Eun sehingga kejantanan itu tertanam lebih dalam. Kim Bum lagi-lagi terkikik. Mereka tahu saat ini sudah menginjak pagi tetapi Kim Bum belum ingin menyelesaikan permainannya ini.

“ sssh aah.. Kau.. ah ah.. membuat ku.. ach ach lelah..” ujar So Eun yang berkeringat dipagi hari yang dingin karena dorongan kasar Kim Bum menghantam tubuhnya. Mereka terus bercinta diatas tempat tidur yang tidak beralasan kasur hanya jerami hangat saja. Kim Bum pun menggulingkan tubuhnya kesamping saat cairan sperma nya telah masuk dan tertuang didalam vagina So Eun. Mereka mengatur nafas dan So Eun mulai mengelus dada bidang Kim Bum dengan sentuhan kuku hangatnya itu. Kim Bum memejamkan matanya merasakan goresan lembut kuku So Eun yang mengelus dada bidangnyaitu.

Kim Bum merengkuh tubuh mungil So Eun dan ia merasakan dengan hangat kedua buah dada So Eun menempel didada bidangnya itu menjadi satu kesatuan. Kontak diantara mereka belum putus karena mereka merasa nyaman dengan itu semua. “ kau bahagia?,” tanya Kim bum sambil memainkan rambut So Eun. So Eun mengangguk kecil dan memperdalam masukan kepalanya kedalam dada Kim Bum. Sesekali So Eun mencium dada Kim Bum yang sangat bidang dan maskulin. “ terima kasih,” ujar So Eun sangat pelan dan Kim Bum hanya tersenyum. Dikecupnya kepala So Eun dengan perasaan yang sangat dalam. Kisah cinta yang kuat itu kini terjadi lagi. Apakah akan berakhir dengan kesedihan seperti dimasa lalu? Entahlah karena itu masih menjadi rahasia takdir.

 

=====****=====

Kim Bum nampak senang sekali menemani So Eun pergi kehutan untuk mencari makanan. So Eun sangat menyukai darah dan memakan hewan kecil karena So Eun bukan seperti Kim Bum yang siluman. Kim Bum sama sekali tidak merasa jijik dengan apa yang dilakukan So Eun saat ini. Rasa cintanya membuat dirinya tidak merasakankejijik’an sedikitpun. Hari masih pagi dan masih menunjukkan pukul tuhuh tiga puluh. Matahari tidak begitu menyengat karena terhalang oleh pohon-pohon yang menjulang besar dan tinggi. Kim Bum tersenyum sendiri disaat melihat So Eun lahap menyantap makananya itu.

Padahal So Eun sudah meminta Kim Bum untuk tidak menemaninya karena So Eun merasa malu dihadapan Kim Bum harus memakan-makanan yang sangat mengerikan. Tapi Kim Bum sangat keras selalu ingin berada disamping So Eun. Bahkan Kim Bum membantu So Eun menangkap hewan kecil seperti burung yang hinggap itu. Kim Bum menggunakan panah sederhananya yang ia buat sengaja untuk membantu So Eun mencari makanan.

Mereka saling melengkapi walau sangat terlihat sekali perbedaan dua dunia itu. Saat ini So Eun telah menyelesakan makananya dan Kim Bum membersihkan sisa-sisa darah yang ada dipinggir-pinggir bibir So Eun. So Eun sangat malu sekali, lebih tepatnya merasa jijik. Kim Bum sama sekali tidak perduli So Eun yang merona karena Kim Bum sudah memantapkan hatinya untuk bersama wanita ini. “ kau makan terlalu lahap sayang. Lihatlah noda ini mengotori bibir manismu,” ujar Kim Bum menyeka sisa-sisa darah diujung bibir So Eun dengan ibu jarinya. Sentuhan yang sangat lembut sekali.

“ xie xie ni,” ( terima kasih ). Ujar So Eun menunduk namun segera di angakat dagu itu untuk menatap dirinya. “ jangan merasa sungkan atau malu terhadapku. Aku sangat mencintaimu dan jangan sembunyikan apapun yang ingin kau makan. Aku bahkan bisa menangkap rusa jantan jika kau masih lapar saat ini,” ujar Kim Bum membuat lelucon dan memakaikan sebuah bando yang terbuat dari rumput hijau yang dikelilingi bunga-bunga kecil berwarna warni saat menunggu So Eun menghabiskan sarapannya itu. “kau seperti seorang bidadari jika memakai ini,” ujar Kim Bum memakaikan bando itu. So Eun tersenyum senang dan mengecup bibir Kim Bum membuat Kim Bum tersenyum lebar. “ hei rasa darah hewan tidak buruk,” ujar Kim Bum tersenyum saat merasakan sisa-sisa darah itu mengenai bibirnya. “ kau selalu saja membuat keromantisan,” ujar So Eun tersenyum senang.

“ sekarang temani aku berlatih pedang,” ujar Kim Bum dan So Eun mengangguk senang. Kim Bum pun mengambil sebatang ranting lalu menyerahkan pedang berbahaya itu kedapan So Eun. Ia serahkan tanpa ragu sedikitpun. Kali ini Kim Bum benar-bemar ingin melatih So Eun ilmu pedang yang sesungguhnya. “ kau gunakan ini untuk melawan ku dan aku menggunakan ranting tebal ini untuk melawan mu,” ujar Kim Bum tetapi So Eun tidak ingin menerimanya. So Eun tidak berni memegang pedang berbahaya itu sendirian tanpa bantuan tangan Kim Bum yang mengarahkannya.

“ aku takut Kim Bum shi,” ujar So Eun menggeleng untuk menolak. Kim Bum tersenyum kecil tetapi matanya fokus menatap So Eun. “ pedang ini tidak akan melukai mu karena kau yang memegangnya. Jangan khawatir pedang itu tidak akan membunuhku karena aku pemiliknya,” ujar Kim Bum tersenyum dan membenarkan letak bando itu yang miring. So Eun tersenyum kecil dan mengangguk. Ia genggam pedang itu dengan kedua tangannya. Perasaanya begitu kuat tiba-tiba saat pedang itu ia genggam. Kekuatan yang tidak pernah ia miliki seolah-olah ia dapatkan dengan hanya memegang pedang ini.

“ mainkan seperti yang pernah aku ajarkan dahulu kepadamu. Lakukan yang terbaik dan anggap saja aku adalah musuhmu. Apa kau mengerti?,” Kim Bum mulai memutar-mutar ranting itu dan bersiap untuk melatih kelemasan tangan So Eun untuk memegang sebuah pedang. Kim Bum ingin merubah takdir dengan menyerahkan pedang itu pada So Eun nantinya. Jika pedang itu ditangannya ditugaskan untuk memusnahkan, maka jika dipegang So Eun mungkin saja takdir berkata lain. Terdengar suara-suara latihan yang serius dan sangat mendalam. So Eun sungguh menikmati ini semua. Tangannya seakan-akan sudah lentur dengan pedang itu. Kim Bum tersenyum menerima setiap serangan So Eun hingga tanpa sadar ranting itu menggores tangan So Eun dan pedang itu terjatuh. Kemampuan pedang So Eun masih jauh dibanding Kim Bum.

“ kau tidak apa-apa?,” tanya Kim Bum melempar ranting itu dan mengambil pedang yang terjatuh dan dilihatnya luka kecil So Eun. “ aku baik-baik saja. Tadi aku hanya terkejut saja,” jawab So Eun dan Kim Bum menghembuskan nafas ringannya itu. “ kau wanita yang hebat istriku,” Kim Bum mengecup luka itu dan mengambil daun-daun segar lalu dikunyah oleh dirinya. So Eun hanya tersenyum melihat perlakukan Kim Bum. Kim Bum begitu menyayangi dirinya. Seandainya mereka tidak memiliki perbedaan mungkin akan sangat menyenangkan tidak seperti ini. Kim Bum tersenyum sambil mengunyah daun-daun itu.

“ aku pernah membaca salah satu buku dimana disana mengatakan luka dapat sembuh dengan dauh-daun yang segar ini,” ujar Kim Bum setelah menempelkan daun-daun yang dikunyahnya itu diluka So Eun. So Eun kembali tersenyum dan memandang Kim Bum. Tidak henti-hentinya So Eun mengagumi diri Kim Bum yang begitu menyimpan banyak romansa keromantisan. Disisi lain So Eun menyimpan kesedihan, akan sampai kapan keindahan ini terjadi. Tidak menutup kemungkinan mereka semua pasti akan menemukan mereka berdua. So Eun sangat sedih jika seperti ini. Jika dirinya menganis pasti akan hujan dan Kim Bum akan kekeh bertanya mengapa dirinya menangis. Setiap malam disaat Kim Bum tertidur pulas sebenarnya So Eun menagis dalam malam yang tenang.

Tangisan yang begitu perih jika suatu saat nanti takdir memisahkan mereka berdua. Jika melihat betapa cintanya Kim Bum pada dirinya, So Eun pasti sesak. Kemusnahan yang sering diingatkan Jae Joong padanya terus terbayang-bayang oleh dirinya. So Eun memperhatikan Kim Bum yang membersihkan lututnya yang kotor terkena kerikir-kerikil kecil saat terjatuh. Betapa Kim Bum sangat membuat So Eun sesak setiap kali menerima perlakuan hangat seperti ini. Apalagi ketika Kim Bum selalu memetik bunga dan menghiasi rambut nya yang hitam. Membersihkan kuku-kukunya jika kotor sehabis memburu. Sangat membuat tertekan dihati So Eun. Biarlah ini terjadi, setidaknya ada kenangan manis sebelum semuanya nanti berakhir.

 

====****====

Sudah dua Minggu Selena dan Yoona beserta Jae Joong dan Ala Luo mencari keberadaan Kim Bum dan So Eun. Segela macam jenis hutan sudah dilewati tetapi tidak semudah yang ada didalam benaknya itu. Mereka berempat ternyata sudah bertemu dan saling bekerja sama untuk mencari keberadaan Kim Bum. Mereka bertemu dalam ketidak sengajaan. Kota Huangzou begitu luas karena Negara China merupakan Negara yang terpadat dengan penduduknya. Hutan ini begitu luas dan Jae Joong, Selena maupun Yoona bukanlah siluman serigala atau vampire yang memiliki indra penciuman yang tajam. Mereka hanya memiliki penglihatan yang tajam dan gerak cepet seperti ular pada umumnya.

Selama perjalan mereka sudah mengalami basah dan kering ditubuh. Hujan sering sakali turun dikala malam, tepatnya tengah malam. Selalu rutin hujan itu terjadi. Selena rasanya sudah tidak sabar untuk mencegah ini semua. Panah yang dibawa Alan Luo waktu pagi bersinar terang membuat silauan yang merusak mata. Alan tahu pasti saat ini salah satu senjata yang digunakan untuk memusnahkan siluman justru dipegang oleh siluman itu sendiri. “ kemana mereka sebenarnya pergi?,” tanya Jae Joong yang sudah muak dengan pencarian ini. Ternyata Kim Bum lihai juga memilih tempat persembunyian yang jitu.

“ aku merasa semakin buruk. Firasatku semakin tidak menentu,” ujar Alan yang berhenti sejenak karena lelah. Alan merupakan manusia biasa sehingga rasa lelah tentu saja dapat ia rasakan. Mereka berhenti sejenak dan duduk diakar-akar pohon besar itu. Mereka sangat yakin jika Kim Bum mewarisi kecerdikan Alan dalam bersembunyi. Dahulu bukankah Alan pernah bersembunyi bersama Tae Hee dan beberapa tahun kemudian baru ditemukan tempat itu. “ apakah Kim Bum tidak akan melukai So Eun?,” tanya Yoona yang tidak bisa duduk diam. Yoona takut jika Kim Bum melukai So Eun dan So Eun tidak berdaya. So Eun hanya siluman ular putih yang polos saja.

“ seharusnya iya karena takdir telah menggariskan jika mereka bersama maka So Eun akan musnah ditangan Kim Bum sendiri,” ujar Selena membuat mereka semua menarik nafas panjang dan menemukan jalan buntu.
“ apa ?! lalu bagaimana ini?,” tanya Yoona lagi yang terus berceloteh dan mendumel ketakutan. Jae Joong yang mendengarnya merasa risih dan pusing saja. “ Yak Yoona, bisakah kau diam ! Bukan hanya kau yang khawatir kami semua juga merasakan itu !,” ujar Jae Joong dengan kesal. Jae Joong sedang memikirkan kemana lagi arah yang harus mereka pilih setelah istirahat ini. Tetapi konsentrasinya selalu terganggu dikala Yoona terus berseru yang menyebalkan. “ Cih, aku rasa kau tidak sekhawatir itu,” ujar Yoon mencibir dan mendapatan tatapan kesal dari Jae Joong. “ kau itu menyebalkan untuk menjadi siluman !,” ujar Jae Joong berdiri menantang Yoona dan Yoona pun menantang Jae Joong tanpa takut. “ apa kau bilang? Sadarlah Jae Joong bahwa kau yang sangat menyebalkan ! seharusnya kau tidak lemah mengejar So Eun saat Kim Bum membawa So Eun pergi. Payah sekali !,” cibir Yoona. Sepertinya Jae Joong sudah benar benar kesal saat ini.

“ kau yang menyebalkan..!!,” pekik Jae Joong menunjuk jari telunjukknya kearah Yoona.

“ yaakkk !! Kalian berdua ini bisa diam tidak sih? Kalian ini terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar saja. Sudahlah hentikan ! Saat ini bukan waktunya yang tepat untuk memulai pendekatan perasaan. Kalian boleh menjalin kisah setelah Kim Bum dan So Eun kita temukan,” ujar Alan Luo akhirnya angkat bicara setelah menahan telingannya mendengar perdebatan konyol ini. Jae Joong dan Yoona hanya mendumel kesal dengan ujaran Alan yang sangat menjengkelkan itu. Udara malam sangat dingin dan banyak sekali nyamuk yang berlalu lalang. Ada banyak pula kunang-kunang dan binatang malam yang berisik.

Hutan itu sedikit terang dengan sinar bulan yang berada dilangit malam. Malam yang begitu sepi dan terus saja terdengar lagu-lagu yang saling bertentangan antara suara binatang kecil malam dan deru nafas itu. Jae Joong memainkan ranting-ranting ditanah dan dipatah-patahkan menjadi beberapa bagian. Sedangkan yang lainnya mencoba menutup mata untuk berpikir. Kemana kah tempat yang tepat untuk menemukan keberadaan sepasang manusia dan siluman itu. Kim Bum pasti tidak akan membawa So Eun ketempat yang kering karena So Eun jenis ular yang tidak dapat hidup digurun atau daerah yag memiliki iklim yang buruk. Hutan itu tercium harum-harum dedauanan teh yang menyengat.

Huangzhou selain terkenal dengan legendanya juga merupakan pusat politik, ekonomi, kebudayaan dan pusat transportasi diprovinsi Zhejiang, Huangzhou juga disebut sebagai kota penghasil sutera terbesar di Tiongkok dan mempunyai sejarah lebih dari seribu tahun dalam pengelolahan teh, memiliki beberapa industri penting yang menjadi penyangga kota ini, antara lain industri mesin, bahan tekstil, dan kimia yang menghasilkan GPD tahunan diatas 7,2 milyar yuan RMB. Oleh karena itu tidak aneh jika pakaian Alan maupun Kim Bum banyak terbuat dari bahan sutera dan kebiasaan orang China meminum teh hijau.

Waktu terus bergulir dan mereka sepertinya mulai berdiri untuk siap menempuh perjalan kembali. Mereka akan terus mencari keberadaan Kim Bum dan So Eun. Alan Luo tidak perlu khawatir mengenai masalah perusahaan karena seutuhnya ditugaskan kepada Kyu Hyun untuk sementara waktu. Ayah Kyu Hyun merupakan kakak dari Alan Luo dan Ibu Kyu Hyun merupakan orang Korea sama seperti Kim Tae Hee. Hanya saja Kyu Hyun benar-benar murni keturunan manusia tanpa ada sangkut pautnya dengan dunia buram ini. Itulah sebabnya Kyu Hyun tidak ikut adil dalam rencana ini. Alan Luo mengatakan alasan bahwa ada urusan yang penting dengan Kim Bum dan akan pergi sementara waktu. Perjalan kembali tersambung walau menembus udara mencekam.

 

====*****====

Kim Bum terdiam memeluk sang istri dengan diam. Mereka sama-sama terdiam dengan menikmati keadaan pagi buta sambil menunggu matahari terbit. Pedang itu terus mengeluarkan silauannya dan tidak dihiraukan oleh Kim Bum. Mereka mendengarkan suara-suara menggema dari dalam hutan ini. Suara percikan air terjun yang indah dan suara-suara rumput liar yang terus bergerak tertiup angin. Kim Bum sesekali memejamkan matanya menikmati kehangatan dari So Eun.

Kim Bum merasakan ada tetesan ar yang turun dari atas. Ia merasakan dinginnya air hujan itu yang mulai rintik. Bukan hanya rambutnya saja yang mulai basah, tetapi tangannya yang merangkul pinggang So Eun pun basah terkena tetesan air itu. Kim Bum sadar So Eun saat ini sedang menangis. Kim Bum sangat tahu setiap malam So Eun selalu menangis. Ia biarkan air itu terus terjatuh dan ia biarkan pula air mata itu jatuh tanpa harus diseka dengan lembut.

Kemarau bisa saja terjadi jika tidak ada hujan oleh karena itulah Kim Bum sengaja membiarkan So Eun menangis membasahi permukaan bumi. Matahari tidak bersinar terang karena terbentur langit gelap dan hujan. Mereka saat ini berada di atas jembatan yang bernama Broken Bridge, sebuah jembatan yang berkaitan erat dengan legenda siluman ular putih. Danau-danau yang berada dibawah jembatan itu begitu tenang walau bergerak pelan terkena air hujan yang deras.

Kim Bum menambah eratan tangannya dipinggang So Eun. Dirinya sadar cepat atau lambat semua ini akan berakhir. Sehebat apapun mereka bersembunyi jika takdir sudah harus menghentikan mereka maka semua itu akan terjadi. Mereka berdua sama-sama sadar dan merasakan firasat buruk belakangan ini. Mereka berdua tidak ingin banyak bicara untuk sejangka waktu lamanya. So Eun tersenyum sambil menangis dan menikmati pemandangan burung-urung bangau yang berada didanau itu. Banyak ikan-ikan yang menghuni danau ini. So Eun teringat waktu dirinya kecil Selena dan Yoona sering mengajaknya bermain ditempat ini. Semua itu nampak indah sebelum rasa ini mengubah segalanya.

Tangisan masih deras dan Kim Bum tidak munafik untuk mengikuti tangisan itu. Pundak So Eun basah bukan karena hujan, karena air mata Kim Bum yang mulai menetes. Jika saja hari ini So Eun tidak menangis mungkin matahari akan terbit diufuk Timur. “ tetap bertahan bersama ku. Aku pastikan melawan takdir,” ujar Kim Bum lembut mengeratkan tanganya. Sudah dua minggu lamanya mereka bersama. Hidup penuh dengan perbedaan membuat Kim Bum harus beradaptasi dengan cepat. So Eun hanya mengangguk dengan pelan. Air mata mulai sedikit demi sedikit berhenti dan Kim Bum tersenyum mengelus tangan So Eun yang menyentuh tangannya yang melingkar dipinggang So Eun itu.

“ kau tidak ingin sarapan? Aku tidak membawa panah tetapi aku tetap bisa memburu dengan pedang ini,” ujar Kim Bum tersenyum dan membalikkan tubuh So Eun. Tangan lembut itu mengelus wajah Kim Bum dan menggeleng kecil. “ aku tidak lapar,” jawa So Eun kecil. Kim Bum pun mendekatkan wajahnya mencium bibir tipis itu. Bibir yang sangat indah tidak akan tergantikan oleh siapa pun akan segala kelembutannya. Mereka saling menikmati lumatan bibir itu dan matahari mulai terbit menyinari hutan yang sedari tadi gelap. So Eun melepaskan ciumannya dan melingkarkan tanganya kebelakang leher Kim Bum. Mereka saling melempar senyum bahagia walau terdapat kesedihan.

“ aku ingin jalan-jalan dan kita akan pulang sebelum gelap. Bagaimana?,” ujar So Eun memainkan rambut belakang Kim Bum seperti menjambak kecil. Tangan Kim Bum yang berada dipinggang So Eun pun bergerak mengelus-elus perut flat itu. “ baiklah jika itu mau mu,” Mereka tersenyum kembali dan saling bertautan. Kali ini tautan yang tidak seperti tadi yang hanya pendek, ciuman kali ini lebih panjang. Tangan So Eun mengelus-elus pundak Kim Bum ketika Kim Bum tidak sabar untuk menjilati lehernya itu. Kim Bum meremas-remas bokong dan payudara So Eun sedangkan So Eun mencakar-cakar ringan pundak Kim Bum. Bahkan tangan nakal Kim Bum meremas kasar kewanitaan So Eun membuat So Eun melompat kaget.

“ acchh.. Kau nakal !,” cibir So Eun dan mereka kembali tertawa lagi. Kim Bum menggelitik pinggang So Eun membuat wanita itu tertawa-tawa bahagia. Sungguh bahagia sekali terlihat kini. Saling menumpahkan rasa cinta dan saling mendukung untuk sebuah keadaan.

 

====****====

Kim Bum dan So Eun saling berlari dan saling mengejar tertawa bahagia setiap melakukan perjalanan ini. Mereka banyak sekali terbahak ketika lelucon terjadi. Kim Bum membuat cincin dari sebuah ilalang yang indah yang dibuat sebuah lingkaran kecil yang sangat pas dengan jari tengah milik So Eun. Mereka saat ini berada disebuah pedalam hutan yang begitu banyak menyimpan keindahan. Ada banyak kupu-kupu yang sedang sibuk menikmati sari-sari bunga itu.

Kim Bum melihat So Eun sangat antusias dengan segala keindahan yang ada. “ hei.. kau terlalu bersemangat,” ujar Kim Bum menarik lembut tangan So Eun dan menyeka keringat yang ada dikening So Eun. So Eun yang sedang ingin bercanda itu mencubit pinggang Kim Bum membuat Kim Bum meringis kecil. “ aish.. dasar wanita ini,” ujar Kim Bum ketika ingin membalas So Eun sudah berlari menghindar. Kim Bum tersenyum dengan sangat lebar, perasaanya semakin tidak menentu dengan berjalanya waktu. Dilihatnya langit cerah seolah-olah mencerminkan kehidupannya sekarang. Dan awan yang terus bergerak itu seolah-olah menjadi takdir baginya yang kapan saja dapat merubah menjadi kegelapan.

Kim Bum terus berlarian mengejar So Eun dan bermain air didekat tempat mereka bermain. Siang hari So Eun merasakan lapar karena hampir seharian dirinya tidak makan. Kim Bum meminta So Eun untuk duduk tenang.
“ aku akan mencari makanan untuk mu. Kau ingin makan apa?,” ujar Kim Bum sambil mendorong pundak So Eun dengan lembut untuk duduk dibawah pohon besar yang berdaun lebat.
“ aku ingin makan burung saja tiga ekor. Apakah kau bisa menangkapnya?,” tanya So Eun. Kim Bum tersenyum lagi, setiap ujaran dan permintaan yang So Eun lontarkan selalu terasa manis bagi diri Kim Bum. “ aku rasa itu tidak sulit. Tunggu saja disini aku akan membawa burung yang besar agar kau tidak lagi kelaparan,” seru Kim Bum. Kim Bum mencium punggung tangan So Eun sebelum pergi menangkap burung.

So Eun menatap punggung Kim Bum yang mulai berjalan itu. So Eun merasa Kim Bum sama seperti dirinya yang merasakan sebentar lagi hal buruk itu pasti terjadi. Ia tatap langit-langit seperti yang Kim Bum lakukan beberapa waktu lalu. Awan putih itu terus bergerak dan terus berubah-ubah bentuk. So Eun tersenyum tipis dengan keadaan ini. Ada rasa sesal yang disimpan didalam relung hatinya. Rasa sesal mengapa dirinya dilahirkan menjadi seorang siluman ular. Itu takdir yang sangat dibenci dirinya.

 

====****====

Hari sudah gelap dan itu berarti So Eun dan Kim Bum harus segera pulang menuju bukit tempat tinggal mereka selama ini. Jalanan menuju bukit sedikit licin dan Kim Bum harus sangat hati-hati dalam melangkah. Kim Bum tidak ingin jatuh dan membuat So Eun yang berada dipunggungnya itu terjatuh. Kim Bum memang memaksakan diri untuk menggendong So Eun karena tidak ingin kaki indah So Eun kotor terkena tanah-tanah itu yang banyak sekali terdapat kubakan air. Banyak pula bebatuan yang harus Kim Bum lewati saat mendakati bukit itu.

So Eun hanya diam tidak bergeming dengan apa yang dialakukan Kim Bum. Sudah biasa memang Kim Bum melakukan ini padanya. Dilihatnya langit sudah benar-benar gelap hanya sekali lagi sinar bulan purnama ynag terang. Kim Bum sudah melepas sepatunya karena akan sangat berbahaya mendaki bukit dengan sepatu. Telapak kakinya terkadang terasa perih dan gatal ketika menginjak kerikil tajam dan mengenai kubakan kotor itu. So Eun tahu Kim Bum sangat merasa kesulitan, tetapi sepertinya percuma saja jika dirinya ingin turun pasti Kim Bum akan memarahinya.

Ternyata Kim Bum dan So Eun selama ini tinggal disebuah bukit yang bernama Peak Flown from Afar, bukit ini memiliki legenda tersendiri. Konon bukit ini adalah batu besar yang merupakan bagian dari Holy Mountain,yang terbang kedanau West Lake. Kim Bum naik perlahan dan terhenti ketika seseorang bersuara dengan geram.

“ ternyata selama ini kalian bersembunyi disini !,” ujar Jae Joong yang berdiri dibelakang Kim Bum. Kim Bum menghentikan langkahnya dan berbalik. Dilihatnya bukan hanya Jae Joong yang berdiri. Ada tiga orang lainya yang berdiri termasuk ayahnya. So Eun yang melihatnya pun merasa takut sehingga ia turun dengan cepat dalam punggung Kim Bum. “ akhiri kisah kalian ini !,” titah Jae Joong dengan geram. So Eun melihat sahabatnya Yoona yang memandang sedih kearahnya itu. Sebuah lagu kesedihan menemani mereka semua saat ini. Kim Bum segera menyembunyikan So Eun dibelakangnya dan menggenggam kuat pedang yang selalu dibawanya itu.

“ tidak akan ! aku tidak akan membiarkan kalian membawa So Eun dan memisahkan kami berdua !!,” pekik Kim Bum membuat keadaan semakin mencekam. So Eun menunduk dan menangis. Hatinya sangat sakit melihat betapa besar Kim Bum melindungi dirinya. Kakinya mulai terlihat gemetar ketika Kim Bum mulai mengarahkan pedangnya kearah mereka semua. “ KIM SANG BUM !! ,” teriak Alan yang tidak terima jika Kim Bum melindungi siluman seperti itu. Alan Luo tidak ingin nasib Kim Bum seperti dirinya. Rasa sakit kehilangan yang nanti Kim Bum rasakan Alan tidak akan dapat terima.

“ Aku tidak akan membiarkan kalian merebut Kim So Eun ! AKU AKAN MELAWAN TAKDIR !,” teriak Kim Bum membuat mereka semua terpengarah. So Eun lagi-lagi menangis memandang wajah serius Kim Bum dari samping. Jae Joong mulai mengeluarkan sebuah pedang, dimana pedang itu terdapat tulisan Han Zi mandarin ren ( manusia ). Sebuah pedang yang akan digunakan untuk melawan pedang pembasmi siluman. Bahkan Alan mengelurkan panah emasnya itu. So Eun menggelengkan kepalanya ketika melihat itu semua. Kim Bum hanya seorang diri tidak akan mungkin sanggup melawan mereka semua.

“ Aku tidak ingin kita bertikai seperti ini Kim Bum. Kau adalah adik ku satu-satunya jadi kumohon lepaskan So Eun dan berikan padaku,” ujar Jae Joong lembut. Kim Bum  memandang Jae Joong dengan cepat. Pedangnya masih mengarah kearah diri Jae Joong tetapi matanya kini menatap Jae Joong tajam. “ apa !?, tidak, aku tidak memiliki seorang kakak !,” ujar Kim Bum tegas sambil merasa awas dengan kemungkinan mereka merebut So Eun dengan cepat. Tangan kiri Kim Bum dibentangkan untuk melindungi diri So Eun. “ kau memang tidak mengenal ku karena dunia kita berbeda. Kau lebih beruntung memiliki takdir ayah menjadi manusia sedangkan aku mengikuti takdir ibu menjadi siluman ular. Bisakah kita jangan saling seperti ini. Kau hanya akan memusnahkan So Eun jika memaksa kan diri ! Sekeras apapun kau melindungi So Eun pada akhirnya tangan dirimu sendirilah yang akan memusnahakan So Eun !!,” teriak Jae Joong karena Kim Bum sama sekali tidak mendengarkan segala ujarannya.

Kim Bum menggeleng cepat dan menurunkan pedangnya itu. Semua mata mereka sayu dengan segala kesedihan. Suasana dingin melingkupi dengan segala sesal dihati mereka masing-masing. Suara-suara buruk gagak seperti menunggu salah satu nyawa dari mereka untuk diambil. So Eun tetap diam tidak ingin menatap dari salah satu diantara mereka semua. Selagi mereka menarik nafas panjang, Kim Bum menarik pergelangan tangan So Eun dan berlari cepat dengan menembus kegelapan malam.

“ Kim Sang Bum !!,” teriak mereka semua ketika melihat Kim Bum lagi-lagi membawa So Eun pergi turun kebawah lembah bukit. Mereka semua mengejar Kim Bum dan So Eun tanpa memperdulikan betapa licin turunan bukit itu. Selena tidak dapat menghilang karena dirinya hanya bisa menghilang jika matahari nampak sehingga tidak dapat menangkap Kim Bum dan So Eun dengan cepat.

“ maaf kan aku,,” ujar So Eun lembut namun hanya mendapatkan senyuman manis dari Kim Bum. Mereka berdua terus berlari dan terhenti ketika kaki So Eun tersandung sebuah batu cukup besar. Larian mereka berdua terhenti dan baru Kim Bum akan lari Jae Joong telah menjegatnya. Kim Bum terdiam karena tidak mungkin bisa lagi melarikan diri. “ Kim Sang Bum !! bisakah kau jangan egois !,” teriak Alan yang merasa kesal dengan anak nya itu. Sifat Kim Bum ternyata menurun kepadanya dengan segala kekerasan kepalaanya itu. “ aku tidak akan menyerahkan Kim So Eun !,” ujar Kim Bum keras.

Kim Bum memajukkan langkahnya mendekat kearah gerombolan mereka semua. Kim Bum megeratkan pegangan pedang itu dengan sangat kuat. “ kita mulai pertempuran ini !,” tantang Kim Bum membuat mereka semua mengerutkan keningnya dan mau tidak mau inilah yang akan terjadi jika salah satu diantara mereka tidak ada yang dapat mengalah. Jae Joong mulai mengeluarkan pedangnya dan mengarahkannya kepada Kim Bum.

“ Kim Bum,,” lirih So Eun ketika Kim Bum dan Jae Joong mulai terlihat saling bertikai dan Alan pun mulai ikut berperan dalam pertikaian ini. So Eun hanya berdiri kaku dengan menyaksikan itu semua. Jae Joong begitu terkejut ketika gerakan tangan Kim Bum yang cepat mengincar pergelangan tangannya. Pedang itu terjatuh menimbulkan suara yang cukup nyaring terbentur batu. Bukan hanya Jae Joong yang terkejut tetapi Selena dan Yoona pun sempat mengerutkan keningnya bahwa betapa hebatnya Kim Bum dalam bermain pedang. Alan sebagai seorang ayah tidak tahu harus bagaimana. Jika melawan dengan pedang tentu saja yang menjadi pemenang adalah Kim Bum.

Selagi Alan melamun Kim Bum mengambil busur panah miliknya dan dijadikannya pedang miliknya itu untuk dijadikan anak panah untuk menembus jantung Alan Luo orang yang menjadi penyebab dari segala takdir buruk ini. Jika saja dahulu Alan tidak terlibat kisah dengan siluman ular maka semua ini tidak akan berkelanjut. Kim Bum mulai menarik tali busur itu dengan pedang pemusnah Jae Joong yang terjatuh tadi. Tangan Kim Bum mulai gemetar menarik tali busur itu. Bukan takut salah sasaran, tetapi perasan sakit itu akan melandanya sebagai seorang anak pula.

“ Jangan,, KIM SANG BUM !!,” teriak So Eun berlari dan melindungi diri Alan. Burung gagak yang tadi bertengker dengan fokus tiba-tiba pergi disaat pedang yang ternyata pedang milik Kim Bum menusuk jantung So Eun. Kim Bum salah mengambil pedang, bukan pedang pemusnah manusia tetapi pedang pemusnah siluman.  “ aakkkhh !!! Kim So Eun !!!,” teriak Kim Bum melempar panah itu dan berlari menuju So Eun. Mutiara dikening So Eun pecah disaat pedang itu menusuk dirinya dengan dalam. Alan Luo menitikkan air matanya ketika So Eun melindungi dirinya tanpa diminta. So Eun siluman yang berhati mulia. Kim Bum berlari dan terjatuh menangkap tubuh So Eun. Ia letakkan kepala So Eun di pahanya itu.

“ tidak,, kau tidak boleh meninggalkan diriku Kim So Eun. TIDAK BOLEH !!,” teriak Kim Bum memeluk kepala So Eun dan menangis histeris. Semua dari mereka menunduk dan menangis dalam. Seberapa besar melawan takdir maka sebesar itu pula rasa sakit yang akan diterma. Takdir bukan nasib yang dapat diubah keadaanya. Jae Joong memejamkan matanya dan menangis melihat ini semua. So Eun tersenyum kecil disisa-sisa kemampuannya untuk bertahan itu.

“ Ki Kim Bum.. Jangan menagis aku mohon jangan menangis. Bu Bukan kah Ka Kau mencintai diriku. Aku akan selalu mencintai di dirimu.. A aku ti tidak akan pergi ke kemanapun a aku a akan selalu tetap a ada disamping mu,” ujar So Eun mencoba mengatur pernafasannya yang teramat sakit. Mereka semua menangis deras menekan dada mereka yang sesak. Kim Bum histeris terus menggelengkan kepalanya.
“ Tidak So Eun.. AKu mohon jangan berkata  apapun. Aku akan memawa mu ke biksu..,” tangan Kim Bum yang hendak mengangkat tubuh So Eun terhenti ketika tangan So Eun menahan pergelangan tangannya itu. So Eun menunjukkan senyum kecilnya dan menggeleng kecil.

“ tidak Ki Kim Bum shi.. A aku ti tidak i i ingin kesana.. Berjanjilah pada ku Ki Kim Bum bahwa kau ti tidak akan menangis di depan mataku.. Aku akan selalu berada disisi mu meskipun tidak terlihat,” ujar So Eun. Semua yang menyaksikan terjatuh dikala suara So Eun semakin parau saja. Kim Bum menangsi kencang dikala So Eun menyentuh wajahnya dengan tangan dinginnya itu. “ a aku akan tetap menjadi istrimu selamanya.. Se.. lamanya,” Kim Bum memegang tangan So Eun yang menyentuh wajahnya itu. Kim Bum memejamkan matanya menikmati betapa hangatnya tangan itu. Matanya pun kembali terbuka dan menatap wajah So Eun yang semakin pucat. “ kelak ki kita akan bertemu lagi Ki Kim Bum shi.. A Aku mencintai mu selamanya..,” So Eun menitikan air matanya terakhir. Kim Bum mengecup kening So Eun dengan sangat lama seolah-olah kecupan itu menemani mata So Eun yang semakin lama semakin tertutup. Tangan So Eun yang memegang wajah Kim Bum terjatuh ditanah dan disaat itulah ia sadar So Eun telah tiada. Air mata Kim Bum menderas tanpa suara.

Musnah.. biarlah itu terjadi dan jangan ditunda
karena kelak pun akan terjadi percuma dihindari..

“ aku mencintai mu selemanya Kim So Eun..” gumam Kim Bum menangis. Kim Bum masih memeluk tubuh So Eun. Ia dekap dalam-dalam sekan-akan membayangkan raga itu masih bernyawa. Alan memandang Jae Joong dengan pandangan memohonnya itu. Jae Joong terdiam sejenak hingga beberapa detik kemudian berdiri dan mengambil panah milik Alan. Mereka semua tidak melihat apa yang dilakukan Jae Joong dan Alan karena mereka semua sedang berduka. Hujan mulai deras meliputi kedaan kepergiaan ini.

Dengan tangan gemetar Jae Joong mengangkat panah itu. Air mata mengair dimata birunya disaat Alan memejamkan matanya berdiri siap untuk menerima anak panah itu menembus jantungnya yang terdalam. Jae Joong sangat mengingat perbincangan dengan Alan dimalam terakhir sebelum menemukan Kim Bum dan Kim So Eun.

 

Falsh Back

Jae Joong dan Alan berjalan-jalan mengitari hutan ditengah malam. Mereka sedang ingin berdua untuk membicarakan sesuatu. “ Jae Joong, bisakah aku meminta bantuan mu?,” tanya Alan berhenti melangkah dan menarik nafasnya dengan berat. “ apa itu?,” tanya Jae Joong menghentikan langkahnya dan memetik daun untuk dimainkan diantara jari-jarinya itu. Alan memandang langit malam untuk mengatur kalimatnya.

“ jika Kim Bum tidak dapat merubah takdir,, bisakah kau membantu merubahnya?,” ujar Alan membuat Jae Joong menjatuhan selembar daun muda itu. Jae Joong memandang Alan dengan tatapan menyelidik dan tanda tanya besar. “ apa maksudmu? Bagaimana mungkin itu bisa?,” Jae Joong mendekatkan dirinya berhadapan dengan Alan untuk dapat melihat wajah Alan dan menagkap maksud kalimat itu.

“ jika Kim Bum tidak dapat merubah takdir maka biarlah aku yang merubahnya. Aku rela merubah untuk anak itu. Jika takdir memutuskan jantung So Eun tertancap pedang itu, pedang milik Kim Bum maka aku meminta padamu untuk mencapkan anak panah milikku tepat kejantungku. Tancapkan sedalam mungkin.. Aku meminta padamu lakukanlah ini. Teteskanlah darah ku keatas kening Kim So Eun karena dengan begitu So Eun akan kembali hidup dan menjadi manusia seutuhnya. Bisakah..?,”

“ apa? Tidak ! aku tidak ingin melakukan hal itu ayah. Aku tidak ingin membunuhmu !,” ujar Jae Joong sangat terkejut dengan permintaan ayahnya ini. Ia tidak akan rela membunuh ayahnya sendiri. Alan berlutut dan memohon pada Jae Joong membuat Jae Joong sulit untuk mengerti. “ bukankah kau juga sangat menyayangi Kim Bum. Aku mohon Jae Joong lakukanlah hal itu. Jangan ragu menarik tali busur panah itu agar anak panah itu menancap dalam jantungku. Tancapkanlah empat anak panah tepat kearah jantungku tanpa ragu,”

“ apa ? empat? Apa kau gila?,” pekik Jae Joong menolak dan membalikkan tubuhnya tidak ingin memandang Alan yang berlutut dihadapannya itu. “ aku mohon.. Anggap saja ini permintaan terakhir ku. Teteskan darah ku kekening So Eun, Yoona, Selena Ren, dan juga dirimu. Aku ingin kalian menjadi manusia seutuhnya dan siluman itu musnah. Aku mohon,,, hiks hiks. Aku tidak akan sanggup jika melihat perpisahan ini. Cukup aku saja yang merasakan sakit ditinggal ibumu. AKu mohon, Kim Jae Joong,,” mohon Alan dengan suara sangat paraunya itu. Jae Joong memejamkan matanya dengan kuat-kuat. Dirinya memang menginginkan menjadi manusia seutuhnya sejak lama. Tetapi bukan dengan menjadikan ayahnya yang menjadi korban.

Jae Joong membalikkan tubhnya memandang Alan dibawahnya yang masih berlutut. Kepala Alan menunduk membuat Jae Joong lagi-lagi memejamkan matanya dengan kuat. Ia tarik nafasnya dengan kuat, dan ia kepalkan tangannya untuk memetuskan ini semua. Darah Alan merupakan darah campuran antara manusia dan siluman. Dulu ketika Alan terluka Kim Tae Hee menyumbangkan darahnya kedalam tubuh Alan sehingga darah itu berbaur menjadi satu. Itulah alasannya mengapa Alan dapat menghidupkan So Eun dan dapat merubah mereka semua menjadi manusia seutuhnya.

“ aku harap aku tidaklah ragu nanti ketika melakukannya!,” ujar Jae Joong berjalan melangkah meninggalkan Alan. Alan tersenyum kecil, setidaknya Jae Joong telah menjawab.

 

Flash Back end

Alan membuka matanya sejenak dan memandang mata Jae Joong. Alan melemparkan senyum kecilnya kearah Jae Joong dan mengangguk kecil. Dipejamkan kembali kedua matanya itu. Jae Joong menarik kuat-kuat tali busur itu dan.. terlepaslah berbarengan jatuhan air mata itu dipipi Jae Joong yang dingin.
“ semoga pengorbanan mu tidaklah sia-sia ayah..” ujar Jae Joong membalikkan tubuhnya dan terdengar suara tubuh seseorang terjatuh.

“ jika takdir tidak dapat diubah oleh tanganmu, setidaknya aku yang akan merubahnya..” batin Alan menutup matanya dan telinganya yang tajam sayup-sayup mendengar suara jeritan dan tangisan yang semakin lama semakin menghilang.

 

====*****=====

Hujan rintik-rintik turun menemani sore yang sejuk ini. Hujan tidak besar hanya gerimis kecil yang menemani. So Eun berdiri didekat tebing bukit itu dimana di bukit itu ada sepasang makam yang sangat indah seperti baru saja ditaburi beraneka macam bunga. So Eun memandang langit-langit sambil memjamkan matanya. Ucapan syukur begitu banyak terucap didalam hatinya jika mengingat empat tahun yang lalu dimana malam itu sangat mencekam jiwa.

Ia buka kembali matanya dan memandang langit yang mulai cerah dan rintikan hujan terhenti. “ paman.. Terima kasih banyak kau telah berkorban banyak untuk ku dan kami semua. Terima kasih banyak yang tidak terucapkan dari ku untuk mu.. Semoga kau tenang paman bersama istrimu,” gumam So Eun pelan.

Dari arah belakang So Eun mendengar suara Kim Bum yang terus mendumel karena anak kecil laki-laki yang terus berlari membawa pisau mainannya itu. Bukit ini sangat licin dan Kim Bum kesulitan menagkap anak itu.
“ Dasar anak ini.. kalau kau berlari kesana akan Appa tinggal kau sendirian disini !,” oceh Kim Bum dan So Eun melihatnya dari jarak dua meter. Anak bernama Kim Sang Joon itu berlari dan berteriak ketika melihat ular yang berada di pohon.

“ ular !!,” teriak Sang Joon dan Kim Bum langsung berlari. So Eun tidak dapat berlari karena dirinya sedang mengandung anak kedua Kim Bum. “ mana ularnya?,” tanya Kim Bum dengan cepat. Sang Joon langsung menunjukkan arah ular itu. Tiba-tiba tangan terangkat dan dengan cepat mengetuk kepala Sang Joon karena terlalu menyebalkan. Sudah lelah-lelah dirinya berlari justru yang didapatkan bukan seekor ular.

“ kenapa Appa memukul ku..” kesal Sang Joon mengelus kepalanya yang diketuk Kim Bum tadi. “ apa matamu rusak, hah ! Itu cacing bukan ular, dasar kau ,,” Kim Bum geleng-geleng kepala dengan anaknya ini. Sang Joon hanya senyum lebar dan berlari menghampiri So Eun.
“ Eomma !! Appa mengerikan ,,” adu Sang Joon memeluk kaki So Eun dan So Eun hanya tertawa kecil.

“ apa sudah ingin pulang?,” tanya Kim Bum mendeati So Eun dan mengelus wajah So Eun lalu tangan satunya mengelus perut So Eun yang sudah membesar berusia tujuh bulan. “ ne, aku lelah ingin pulang,” ujar So Eun. Kim Bum segera menggendong Sang Joon dan merengkuh pinggang So Eun. Mereka menghampiri kedua makam itu, makam Kim Tae Hee dan Alan Luo yang bersih. Sepertinya Jae Joong dan Yoona sudah lebih dahulu menjenguk makam ini. “ ayah ibu kami pulang dulu.. Aku akan sering-sering mengunjungi kalian berdua.. Sampai jumpa..” ujar Kim Bum. Sang joon tersenyum dan mengikuti Kim Bum untuk mengatakan ijin pulang pada kedua kakek dan neneknya itu. “ Kami pulang dulu yah.. Sang Joon akan sering-sering menjenguk Helmonie dan Herboji,” So Eun dan Kim Bum tersenyum melihat tingkah Sang Joon ini.

Kini tidak ada lagi perbedan, tidak lagi ada pertentangan, dan tidak lagi ada garis pembatas yang tebal. Semua itu telah musnah dengan pengorbanan yang sangat suci. Sebuah pengorbanan yang dilakukan bagi yang memulai kisah. Siluman itu telah tiada dan telah musnah. Mereka semua telah menjadi manusia seutuhnya. MUSNAH.. semua telah terjadi dan tidak akan ada lagi.

Jae Joong telah menikah dengan Yoona seminggu yang lalu diSeoul dan Selena ikut hidup bersama Jae Joong dan Yoona. Yoona merupakan putri kandung dari Selena dan suaminya yang telah meninggal sewaktu dirinya mengandung. Nama Yoona diberikan oleh kedua orang tua So Eun disaat Yoona masih balita. Itu sebabnya Yoona dan So Eun sangat dekat sekali. Sedangkan So Eun dan Kim Bum telah pindah ke Soeul tiga tahun yang lalu. Mereka saat ini sedang berlibur ke China dan So Eun berencana melahirkan anak keduanya di Huangzhou ini. Mereka akan menjenguk makam ini enam bulan sekali karena Kim Bum harus sibuk dengan perusahaanya. Kini semua tampak menempuh jalannya masing-masing.

“ yak !! kalian ini lama sekali. Cepatlah sedikit aku ada kencan dengan Soo Yoong hari ini,” ujar Kyu Hyun yang tadi menunggu didalam mobil. Mereka memang mengerjai Kyu Hyn sebagai supir untuk hari ini. “ dasar berisik !!,” cibir Sang Joon. Soo Yoong memang sedang berlibur ke Huangzhou sehingga Kyu Hyun bisa sesuka hati untuk berkencan saat ini.

“ sudah-sudah, ayo kita segera pulang,” Mereka semua pun masuk kedlam mobil dan meninggalkan lembah bukit yang segar itu. Kyu Hyun sudah mengetahui Je Joong, Yoona dan juga Selena Ren. Kyu Hyun bahkan sudah tahu Jae Joong adalah kakak andung dari Kim Bum hany saja yang Kyu Hyun tahu Kim Bum dan Jae Joong terpisah karena adanya penculikan sewaktu dirumah sakit dan Alan Luo meninggal karena kecelakaan. Itu semua diceritakan Jae Joong dengan segala kebohongan. Tapi tidak apa, Kyu Hyun tampaknya tidak terlalu perduli yang terpenting semua bahagia.

Kini kisah itu telah tertutup dan tidak akan pernah terbuka lagi. Kisah yang menyakitkan tidak akan terjadi lagi. Kemusnahan yang telah membawa jalan bagi kehidupan dimasa depan..

 

 

Melur itu telah musnah menjadi melati yang indah, melur memang tidak mengatakan maksud hatinya tetapi kupu-kupu itu telah mengerti maksud hatinya.

 

Seperti hati manusia.. yang dibutuhkan hati bukanlah suatu perkataan sebagai ungkapan, tetapi yang dibutuhkan adalah suatu pengertian antara saling memahami dan mengerti antara KAMU dan DIA..

 

Pengorbanan yang terpenting bukan sebesar  apa yang telah kita lakukan, tetapi penegorbanan yang terpenting adalah sejauh mana hal itu dibutuhkan. 

 

 

—-END —-

Posted on Januari 11, 2015, in Two Shoot. Bookmark the permalink. 133 Komentar.

  1. kirain sad ending ternyata happy ending 🙂

    keren banget ff-nya ada sedihnya juga ada senangnya 🙂

    ditunggu ff yang lainnya 😉

  2. rahma kim's bumsso

    mian eon, bru bsa komen d part ini…

    Q kra bakalan sad ending, eh trnyata happy ending… :-):-)
    Nyesek bgt pas bca adegannya sso mninggal… ;-(;-(

    hahaha,.. Sang joon lcu bgt, masa cacing d blang ular… :-D:-D:-D

    Trus brkrya eon…

    Hwaiting…!

    :-):-)

  3. Nu Shi Hottest Queen

    its good^^

  4. Marthatina vita vienna

    Wah keren,aku kira akan berakhir sad ending.

  5. Keren banget sumpah thor…
    Sampe mau nangis bacanya…
    Tetap berkarya ya sukses selalu buat author….

  6. eon, sumpah ! ff mu bikin aq nangis tersedu-sedu. KEREN ABIS !!!. aq kira sso eonnie bner” mninggal, trnyata brkat alan sso eonnie bisa hidup lagi dan semuanya bisa mnjadi manusia seutuhnya.
    100 jempol buat kamu eon.
    . .tapi dipart 1 aq udah coment belum iia ?, kyaknya sih udah. hehehe

  7. Its good …!daebak unni trus berkarya…..!

  8. Akhirnya berakhr bhagia senengnya.

  9. daebak eonn.
    baca ff ini ampe ngeluarin emosi&air mata..huaaa:'(

  10. Huaaa sedihh tapi seru bgtt eonnie aku kira bakal sad ending ternyata happy end bumsso bersatuu… Mksh bgt dah buat appa bummie yg udh buat so hidup lg dan berubah jadi manusiaa ahhh…… 👍mantap dah eonnie ff nya

  11. Adeuhhh gk tau hrus komen apa yg aq tau ff qmu T.O.P.B.G.T ^_^
    Aq kra pas bca part 1 akn sad,& pdasa.at bumppa mnncapkn pdang’y k jntung sso eonni aq pkir akn bnar2 sad ending eehh trnyta appa’y bumppa brkorban dmi sso eonni & yg laend’y shingga mrbah tkdir’y sso eonni yg dlu’y siluman ular skarng mnjdi mnusia😀
    Happy ending ^_^

  12. huuuhfft,, kimbum bnr2 melawan takdir.. Ketika ia mencoba melawan’a malah dia sendiri yg kejebak, tanpa sengaja menusuk soeun.
    Pengorbanan alan tdk sia2, bumsso, jaeyon, selena skrg hidup bahagia..
    Lucu sekali sangjoon, masa cacing dibilang ular sih😀

  13. Wah akhirx happy ending jga deh kini tdk ada lgi perbedaan diantara mereka semua, siluman tlah berubah mnjadi manusia seutuhx n akhirx bumsso dpt bersatu kembali tnpa ada halangan lgi mnjadi keluarga seutuhx bersama dg putrax kim sang joon yg lucu ntu keren bnget deh critax…..

  14. baca nya ampe nangis dan untung happy ending seneng banget

  15. wahyuning pinarsih

    so euni bner2 siluman yg cntik bumpah aj ampe trgila-gila.

  16. Wah.. Bagus critanya,, aku kira bakalan sad ending.. Trxta happy ending,,🙂

  17. Denisa Saputri

    Aa.. sampe nangis aku baca ff nya.. romantis dan setia banget kim bum nyaa
    Kira2 sang joon istri nya siluman jg gak ya?? kayak kakek sm papa yaa
    ff nya kerenn.. Terus Berkaryaaa ^^

  18. keren, walau belum baca part 1 nya. heheh mau tau endingnya dulu😀

  19. happy endding

  20. Ahhhh alan bener2 berkorban untuk merek semua setidaknya dia bersatu sama tae hee di alam lain🙂

  21. WOW!!
    Gabisa lagi di gambarkan dengan kata-kata
    Kali ini author membawa sesuatu yang berbeda dari biasanya
    Dan itu keren banget!!!
    Bumppa kerenn bgt bisa tetap tulus cinta sama sso eonni walaupun udh tau kalau dia itu siluman
    Bumppa juga romantis☺️☺️
    Sukaaa bgt sama karakter bumppa disini
    Pokoknya sukaaaa semuanyaaa😍
    Happy ending yeayy!!❤️❤️
    Salut buat author yang mempunyai khayalan tingkat tinggi hingga terciptanya ff ini yang benar2 bagus stadium akut👍👏

  22. Kimbum nekad juga yah, sampe melawan takdir dia menikahi sso nekad banget itu bum saking cinta nyaaaa hehe
    Happy end

  23. Untung sso bisa berubah menjadi manusia seutuhnya

  24. Horeee akhir nya happy ending n ga ada lg perbedaan di antara bumso

  25. Aaaah lege happy ending bukan sad ending

  26. Ceritanya seru bgt, aku kira bumsso gk bkaln bisa berstu. Tpi syukur mreka bisa berstu dan hdup byagia….

  27. Wah unik ini cerita nya tentang legenda siluman ular … keren… bikin lagi dong fantasy begini hehehe

  28. Keren👍👍

  29. hixhixhix…sngguh mncekam pristwa yg tjd d saat tkdir hrs brkta… pngorbnan suci yg dlkukan alan mmpu mrbah tkdir…kini tak da lgi prbdaan d antra mrk… mua’y jlas n mnmpuh jln’y msing”…😉

  30. Happy ending. Bpknya bumppa baik bnget ngerelain drinya biar bumsso b’satu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: