Part 2 – Finalmente, I Find You My Love

12

 

 

Author                  : Die Blume

Main Cast            : Kim Sang Bum, Kim So Eun

Other Cast          : Lee Min Jung, Kim Joon

Original Cast       : Roberto Da Silva, Lee Dong Ji, Daniel Kook

Genre                   : Romance, Suspense, Sport

Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author.Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produser dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan.Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik orang tua, keluarga, dan agensi mereka.Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.

 

[SCENE 1]

Cicitan burung gereja bersahutan meramaikan pemandangan pagi yang sedikit lengang di jalanan Ave das Cataratas.Semburat fajar kemerahan membias malu-malu dibalik sinar mentari yang perlahan merambat meninggi.Embun pagi menghembuskan hawa dingin yang merasuk hingga ke dalam tulang.

Hanya sedikit manusia yang berlalu lalang, mungkin sebagian besar memilih bersembunyi dari dingin sisa hujan semalaman di balik selimut mereka.Tapi tidak dengan pria yang tengah berdiri di balkon dengan pagar pembatas berhiaskan pahatan abstrak.Matanya menyipit memerhatikan jalanan yang masih tampak basah itu.Wajahnya sedikit mendongak, menanti hangatnya mentari segera menyelimutinya.

Kim Bum sudah rapi dengan celana dan kaos latihannya yang berwarna biru tua.Rambutnya terlihat sedikit basah dan belum disisir benar.Kedua kakinya masih telanjang dengan kuku yang sedikit tampak kebiruan karena hawa dingin.Kepalanya menoleh ke dalam kamarnya, Kim Joon baru bangun dan terduduk di pinggiran ranjangnya.

“Morning, Hyung”, sapa Kim Bum sekilas. Matanya kembali teralihkan begitu sinar sang surya meninggi dan menghangatkan sekujur tubuhnya di balkon. Suara burung gereja semakin riuh seakan mereka tengah berpesta.

“Hai, Bum. Kau bahkan bangun lebih pagi dariku”, Kim Joon menyeringai tidak habis pikir.Semalam dia yang tidur lebih dulu, tetapi selalu saja Kim Bum bangun lebih pagi darinya.

Ujung bibir Kim Bum sedikit tertarik ke atas tanpa membalas perkataan Kim Joon.Diregangkan tubuhnya menghadap matahari.Matanya yang tajam seakan menantang terik yang perlahan menyebar memenuhi ruang.

Kim Joon sepertinya sudah beranjak ke kamar mandi, langkahnya terdengar diseret-seret karena masih dalam kantuk.Balkon sebelah kamar Kim Bum kini terbuka juga. Lee Dong Ji, teman setimnya menampakkan diri hanya dengan mengenakan celana latihan dengan dadanya yang telanjang. Matanya menangkap sosok Kim Bum yang terfokus pada arah matahari meninggi.

“Hai, bro. Nice morning, isn’t it?(Pagi yang cerah, bukan?)”, sapa Dong Ji yang usianya terpaut dua tahun di bawah Kim Bum.Gayanya sangat santai dan sulit menampakkan keseriusan.Kedua tangannya sekarang tengah berkacak pinggang memerhatikan Kim Bum.

Kim Bum menoleh dan menganggukkan kepalanya mengiyakan pernyataan Dong Ji.Namun tiba-tiba suara nyaring mengagetkan keduanya.

“Bum-ah, ini payung siapaaa??”, teriak Kim Joon dari arah wastafel.

Ah, ya. Payung yang semalam Kim Bum pinjam dari seorang gadis itu akhirnya ditemukan juga oleh Kim Joon.Pria itu terdiam sedikit menunduk dan bibirnya tanpa sadar tersenyum lebih lebar dari biasanya.Ingatannya melayang menuju kejadian semalam.

Dong Ji mengerutkan kening dan menyandarkan tubuhnya ke pagar pembatas balkon mencoba melongok ke dalam kamar Kim Bum meski sulit. “What’s happened, bro?(Apa yang terjadi, bro?)”, tanyanya heran.

Kim Bum hanya membalasnya dengan seringai yang sulit diartikan, lalu melangkah masuk ke dalam kamar untuk menjelaskan kepada Kim Joon tanpa memedulikan wajah Dong Ji yang penasaran dengan teriakan Kim Joon.

 

[SCENE 2]

Starbucks Caffe

Ave das Cataratas,

3215 – Vila Yolanda,

Foz do Iguaçu – PR

Brasilia

So Eun memilih duduk di pinggir pembatas kaca gerai Strarbucks yang membuat kedua mata indahnya bisa dengan nyaman melihat lalu lalang keramaian jalan. Di mejanya tampak sebuah I-pad berbalut case warna apricot bermotif akar dan daun maple, segelas vanilla latte, dan sepiring chinnamone cheese waffleyang sudah dimakan sebagian.

Diliriknya jam mungil berhiaskan untaian rantai emas putih dengan liontin cupid-cupid dan salib mungil di pergelangan tangan kirinya. Jam itu menunjukkan pukul 11.23 BRT. Pagi tadi So Eun sarapan bersama Roberto di hotel. Mereka membicarakan mengenai sesi pemotretan yang akan mulai dilakukan besok di Estádio Pedro Basso, sebuah stadion milik klub bola lokal yang disewa timnas Korea Selatan sebagai tempat latihan selama gelaran Piala Dunia 2014 ini.

Hari ini So Eun mengenakan gaun katun tipis yang melebar sepanjang mata kaki, berwarna putih, dengan hiasan bermotif daun sulur berwarna hijau pucat yang bertumpuk di bagian bawah gaunnya.Kedua lengannya terbuka karena gaunnya bertipe tanpa lengan.Ada ikat pinggang berukuran kecil dengan bentuk akar bersulur daun yang juga berwarna hijau pucat terpasang di pinggang langsingnya.Dia membawa sebuah floppy hat berwarna beigeyang berukuran lebar mengingat kota ini sangat terik ketika siang, serta tak tertinggal kacamata dark brown-nya. Sebenarnya So Eun sekilas tampak seperti akan berlibur di pantai, padahal tidak juga.

“Apakah dia belum sempat ke hotel untuk mengembalikan payungku?”, bisik So Eun pada dirinya sendiri. “Kenapa dia belum datang juga?”.

Jadi, tadi sekitar pukul 8 setelah sarapan, So Eun menitip pesan pada resepsionis untuk seorang pria yang akan mencarinya atau setidaknya mengembalikan payungnya. Isi pesan itu adalah So Eun akanmenunggu pria itu di gerai Starbucks yang berjarak sekitar 400 meter dari hotelnya. Tapi sampai sekarang, pria yang ditunggunya itu tak kunjung datang juga.So Eun menghela nafas panjang.Ada seuntai kekecewaan menyelimuti hatinya.

Hampir dua jam lamanya dia menunggu, matanya mengabaikan tatapan pengunjung pria yang terpesona dengan kecantikannya pagi ini. Gaun yang dikenakannya itu memang tidak mencolok, namun mampu menonjolkan keindahan kulitnya yang putih bersih dengan bibir yang merekah kemerahan.Rambutnya yang sudah kembali berwarna hitam pekat, dikepang berukuran besar di bagian ujungnya dan sedikit ditata berantakan di bagian bahu kirinya.

Okay, aku akan menunggu setengah jam lagi”, batinnya mencoba tetap berharap. Tangan lentiknya mengambilI-pad nya yang tergeletak di meja. Ada sebuah email dari Min Jung Eonni. Kim So Eun pun segera membuka email itu.

————————————————————————————————————————

From     : Lee_MinJung@gmail.com

To           : Kim_SoEun@rocketmail.com

Hey, kau jahat sekali tidak menghubungiku sama sekali. Kau pasti bertemu pria tampan di sana sampai melupakanku. Huh!

Ini aku kirimkan list pemain timnas Korea Selatan yang saat ini ikut bertanding di Piala Dunia. Ingat, kau harus menghafalnya,Pemalas! Di akhir sesi pemotretan, kau akan berfoto dengan mereka. Jangan membuatku malu dengan melupakan nama mereka!

Aku merindukanmu, gadis manja *cry*

Your Eonni

attachment file-

————————————————————————————————————————–

So Eun terkikik membaca email itu. Tampaknya Eonni-nya sedikit kesal padanya, tapi dia tau itu adalah sebuah lelucon karena sebenarnya mereka saling menyayangi.

Dengan sedikit memanyunkan bibirnya, dia buka file attachment yang berisi foto, nama, usia, dan nama klub dari masing-masing punggawa timnas Korea Selatan. Dia akui memang dirinya tidak terlalu paham dengan dunia bola.Dia memiliki dua kewarganegaraan, jadi dia juga kurang memperhatikan cerita tentang timnas Korea Selatan.Dia lebih menyukai olahraga berkuda, dan dia sering melakukannya di Kyoto, rumah keluarga besarAppa-nya.Karena hobi berkudanya itulah dia menarik perhatian Nike sebagai seorang model yang sporty dan menawarinya sebagai brand ambassador.

So Eun menyeruput vanilla latte-nya sambil memerhatikan setiap biodata pria di I-pad nya itu.Hingga di satu foto, matanya melebar tidak percaya.Sebuah wajah yang tidak asing baginya terpampang di foto itu. Namanya, So Eun membaca nama yang tertera. Tangan kanannya menutup mulutnya menahan pekikan kesal sementara matanya terus bergerak membaca detail biodata yang mengagetkannya itu.

“Hai, maaf aku baru bisa datang”, sebuah suara bass yang dalam memecah fokus gadis itu.Kedua manik matanya menatap lebar pria yang ditunggunya dari tadi itu, terkejut.

“Boleh aku duduk?”, tanya pria itu dengan wajah datar. Dia tidak menyadari raut wajah So Eun yang tampak kesal padanya. Dengan gontai, pria itu menarik kursi di depan So Eun dan duduk.

Tangannya mengulur memberikan payung yang semalam dia pinjam.Kim Bum berujar, “Ini payungmu.Thanks”.

Pikiran gadis itu bertumpuk.Perasaan kesal, kecewa, ingin marah, semuanya seakan melayang-melayang memenuhi otaknya.Logikanya memerintahkan tangannya bergerak mengambil payung yang disodorkan Kim Bum.

Kim Bum menoleh ke arah jalanan yang entah darimana begitu ramai dengan mobil box berisikan manusia beretnis lokal berlalu lalang di depan gerai Starbucks itu.

“Jadi kau sebenarnya adalah pemain timnas, Bum-sshi?”.

Mendengar suara ketus itu, secepat kilat Kim Bum menggerakkan kepalanya kembali menatap gadis di hadapannya.Senyum yang selalu membayangi tidurnya semalam itu tidak tampak lagi.Kedua bibir itu terkatup rapat seperti menahan perkataan buruk untuk terucapkan.

“Kenapa kau harus berbohong? Apakah kau pikir aku akan mengancam kenyamananmu seperti fans bola yang menggilaimu?”, So Eun memberondongkan pertanyaan yang saat ini mengacaukan fokusnya. Baru saja rasanya dia merasa jika dirinya jatuh hati pada pria di depannya itu, tapi nyatanya pria itu sudah membohonginya, mengesalkan.

Kim Bum terdiam. Sorot matanya tajam menatap So Eun sementara giginya sedikit bergemeretak menahan keinginan untuk mengungkapkan isi hatinya, alasan akan kebohongannya. So Eun menatap tangannya yang kini memegang payung miliknya dari Kim Bum.Ada ekspresi sedih berkelebat di balik bulu matanya yang lentik.

Otaknya meminta So Eun untuk segera pergi, menjauh dari pria yang kini hanya menatapnya itu.So Eun berdiri dan mengemasi barangnya.Kim Bum membeku, rasanya dia ingin menjelaskan semuanya.Dia tau dia sudah melukai gadis itu dengan kebohongannya.Tapi bibirnya kelu, bahkan kata maaf pun begitu berat untuk diucapkan ketika melihat mata indah itu berkabut.

Tanpa menoleh lagi So Eun keluar dari gerai itu.Matanya berair, langkahnya sedikit lebih cepat dari biasanya.Dia merasa dengan mudahnya dibohongi dan dibodohi.Dalam perasaan kalut, diasama sekali tidak menyadari jika arah langkahnya itu menuju keramaian yang rusuh.

 

[SCENE 3]

Kim Bum berdiridi depan gerai itu, mungkin bibirnya kelu tapi tubuhnya masih ingin memperbaiki semua kekacauan ini. Matanya mencari kemana arah gadis itu pergi.Sosok gadis cantik itu tertangkap olehnya tengah berjalan cepat ke arah berlawanan dengan arah hotel. Oh, tidak. Tatapan Kim Bum menangkap percikan api di jalanan yang dituju So Eun. Ban bekas berhamburan di jalanan, dibakar, dan mobil-mobil box yang tadi dia lihat itu terpakir di tengah jalan tak beraturan.

“So Eun-sshi!!”, teriak Kim Bum mulai berlari mengejar gadis itu setelah menyadari apa yang terjadi. Demonstrasi ricuh.

Brazil adalah negara berkembang yang kondisinya belum terlalu maju. Untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia dibutuhkan dana yang sangat besar. Dana itu untuk membangun stadion, fasilitas transportasi, dan fasilitas pendukung lainnya. Banyak rakyat Brasil tidak mendukung pemerintah untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia. Rakyat Brasil berpikir, lebih baik dana yang besar itu digunakan untuk kesejahteraan rakyat, membangun sekolah, rumah sakit, fasilitas air bersih, dst. Banyak demonstrasi besar-besaran dilakukan untuk menentang pemerintah, atau setidaknya agar pemerintah Brasil tidak melalaikan kewajiban mereka di tengah euforia Piala Dunia.

So Eun mendengar panggilan pria itu tapi dia tidak mau menoleh.Dia kesal setengah mati.Dengan kasar tangannya mengusap matanya yang mulai berair.Dia mulai merasakan desakan tubuh manusia di trotoar yang dilaluinya. Udara terasa pengap dan matanya menangkap kobaran api dengan asap membumbung tinggi.

“Ada apa ini?”, batin So Eun mulai kebingungan. Matanya menoleh ke kanan ke kiri seraya terus melangkah tanpa fokus.Ada teriakan dan lengkingan ricuh yang membuatnya berhenti. Sebuah suara letusan senjata api membuat jantung gadis itu berhenti. Matanya melebar dan ketakutan.

Sebuah tangan kokoh menarik lengannya dengan kasar, “Menjauh dari sini! Cepat!”.Kim Bum menarik tubuhnya yang linglung untuk keluar dari kumpulan orang-orang yang berteriak.Gas air mata mulai ditembakkan.Kaki So Eun terpaku, sulit bergerak.Kim Bum menarik dengan paksa dan kasar agar dia berjalan.So Eun meringis kesakitan pada pergelangan tangannya karena genggaman Kim Bum. Sepertinya genggaman itu akan meninggalkan memar.

Tapi sepertinya puncak kericuhan demonstrasi itu tengah terjadi.Ratusan demonstran berlari ke arah So Eun dan Kim Bum menjauh.Suara tembakan menggelegar memecah terik siang yang mulai datang.Mobil-mobil box itu turut bergerak menghindari serbuan kepolisian Brasil yang beringas membubarkan kericuhan.

Kim Bum merengkuh pinggang So Eun menguatkan gadis itu untuk terus bergerak, berlari menjauh. Jalanan Ave das Cataratas penuh dengan asap pekat, teriakan, dan tembakan membabi buta. I-pad So Eun terjatuh dan menyebabkan langkah mereka terhenti. So Eun tidak berniat mengambilnya meski langkahnya terhenti tiba-tiba. Namun sebuah tembakan dari senjata api rakitan terdengar menggelegar di telinganya. Tembakan tanpa arah itu berasal dari gerombolan demonstran yang berlarian.So Eun menatap Kim Bum di depannya, genggaman pria itu mengendur.Aliran darah kemerahan mengalir dari pinggang pria itu.

“Brengsek!”, makinya. Peluru tanpa arah itu bersarang di pinggang Kim Bum.So Eun mememekik tidak percaya.

“No! No! Kim Bum!”, teriak So Eun menangkap tubuh Kim Bum yang sedikit sempoyongan. Kini mata So Eun benar-benar menangis menatap pria di pelukannya.

So Eun kalut, darah terus mengucur dari pinggang Kim Bum.Dia bingung bagaimana keluar dari kerusuhan ini.Matanya mencari-mencari apapun yang mungkin bisa membantu mereka pergi meninggalkan tempat itu.

So Eun menangkap mobil box yang bergerak di dekat mereka. Sang sopir juga tak kalah kalutnya dengan So Eun.

Help! Help me!(Tolong!Tolong saya!)”, teriak So Eun begitu keras.Kim Bum menunduk dan merasa pusing.Dia sudah kehabisan banyak darah.Kepalanya mulai terasa berat.

Awalnya sopir mobil box itu berniat mengacuhkan So Eun yang berteriak padanya, namun matanya menangkap darah yang mengalir di tubuh Kim Bum. Sopir itu menghentikan mobil box-nya yang kosong itu di depan gadis itu.

“Fast, Ma’am! I’m in a rush. (Cepat, nona!Saya terburu-buru)”, teriaknya pada So Eun.

So Eun mendorong sekuat tenaga agar Kim Bum masuk ke box belakang. Melihat gadis itu kesulitan, sang sopir berlari turun dan membantu mengangkat tubuh Kim Bum yang sudah lemas.  Begitu keduanya sudah berada di box,sang sopir langsung tancap gas dan menjauh dengan kecepatan gila-gilaan. Mereka menjauh dari pusat kota, menjauh dari arah hotel Kim Bum dan So Eun.

 

[SCENE 4]

Ujung gaun So Eun sudah robek.Gadis itu sengaja merobeknya untuk menutup luka di pinggang Kim Bum.Wajah pria itu pucat di pangkuannya.Kaosnya yang berwarna khaki sudah penuh berlumuran darah.Mata cantiknya terus meneteskan air mata.Direngkuhnya pria itu dengan kelembutan.

Please, bertahanlah Bum-sshi”, desah So Eun lirih.Dikecupnya kening pria itu dengan kasih.

Pria itu tak menjawab. Sudah hampir setengah jam mereka di dalam box itu. So Eun tidak tahu mereka berada dimana saat ini.Jalanan mulai memburuk dan tampaknya tak beraspal lagi.Suasana sedikit sunyi melingkupi mereka berdua.Hanya ada celah berukuran 30 x 20 cm di penutup mobil box itu.So Eun melihat pucuk-pucuk hijau dedauan dari celah itu.

Samar-samar terdengar erangan Kim Bum yang tidak jelas.Sepertinya dia tengah menahan sakit yang luar biasa.So Eun memegang dada Kim Bum dan mengusapnya dengan perasaan risau. Andai bisa, dia akan meminta Kim Bum untuk berbagi rasa sakit itu dengannya.

Perlahan tangan Kim Bum bergerak menyentuh tangan So Eun di dadanya.Tangannya menggenggam tangan So Eun dengan lemah.Air mata So Eun tak terbendung lagi rasanya merasakan genggaman hangat itu.

***

6 hours later..

So Eun tertidur di samping Kim Bum.Mereka berada dalam satu ranjang dan satu selimut.Suasana gelap sudah memenuhi ruang di luar rumah.Tapi tidak di dalam rumah ini.Meski tidak terlalu terang benderang, lampu-lampu neon ber-watt kecil itu cukup untuk menerangi ruangan tempat mereka tertidur.

Gadis itu membuka matanya yang masih sembab.Raut wajahnya kembali khawatir dan memerhatikan pria yang tertidur di sampingnya.Disentuhnya kening Kim Bum dengan tangan kanannya.Hatinya lega mendapati temperatur tubuh pria itu normal.Wajahnya terlihat damai dalam tidurnya.Hatinya merasa begitu hangat menyaksikan pria tampan itu akhirnya bisa terlepas dari rasa sakit.

So Eun bertekad tidak akan meninggalkan Kim Bum sendirian di kamar itu. Dia khawatir dirinya tidak ada saat Kim Bum bangun dan membutuhkan sesuatu.Gadis itu kembali membaringkan tubuhnya di samping Kim Bum.Dibelainya pipi dan rahang kiri Kim Bum.

“Maafkan aku.Karena kecerobohanku semua ini terjadi”, bisik So Eun sedih.Dia masih membelai pipi Kim Bum dengan punggung tangannya.Matanya kembali berkaca-kaca.Jauh di lubuk hatinya, So Eun tidak ingin kehilangan pria di sampingnya ini.

Namun dengan tiba-tiba, tangan kanan Kim Bum bergerak menggenggam tangan So Eun di pipinya.Matanya masih terpejam, namun sudut bibirnya menampakkan senyuman meski lemah.Mata So Eun melebar menatap Kim Bum, menunggu pria itu membuka matanya dan mengatakan sesuatu.

Perlahan, mata tajam itu terbuka dan membuai So Eun dalam keremangan di kamar itu. Rasanya ia ingin tenggelam dalam mata itu, mata setajam elang yang seakan tak pernah takut menghadapi apapun.

I’m alright. Don’t be afraid. (Aku baik-baik saja. Tenanglah)”, bisik Kim Bum lembut.

Air mata yang tertahan di pelupuk mata So Eun akhirnya luruh.Air mata bahagia karena akhirnya Kim Bum sadar dan dia baik-baik saja.Bibir gadis itu tersenyum senang diantara luruhan tangisnya.

Kim Bum merengkuhnya dalam pelukannya dengan hati-hati agar lukanya tak tersentuh.

“Ssshhh.., I’m okay. Don’t cry anymore. (Aku oke.Jangan menangis lagi)”, ujar Kim Bum pelan.

Ditatapnya mata gadis itu yang begitu bening dan menyejukkan.Nafas gadis itu terdengar teratur di telinga Kim Bum.Hatinya menuntunnya melakukan sesuatu.

Kim Bum mendekatkan bibirnya dan mencium lembut bibir gadis dalam pelukannya itu.Mata gadis itu melebar tak percaya. Kim Bum hanya tersenyum samardan kembali memejamkan matanya. Tubuhnya masih terasa lemah.Sementara tubuh So Eun seakan kaku dan sulit bergerak.

 

[SCENE 5]

Flashback 6 hours ago..

Please, help him Ma’am..(Tolong bantu dia, Bu)”, pinta So Eun kepada seorang wanita berusia sekitar 50 tahunan.Mobil box itu ternyata membawa mereka ke sebuah desa di perbatasan Brazil dan Argentina.Desa itu bernamaR.Cabecudas, letaknya di dekat Río Paraná yang merupakan sungai pembatas antara dua negara.

Wanita di depannya itu bukanlah seorang dokter, melainkan seorang bidan. Tidak ada pilihan lain untuk meminta bantuan. Handphone, I-pad, dan dompet So Eun terjatuh di tempat kerusuhan dan handphone Kim Bum mati.Sopir yang menolong mereka mengantar mereka kemari karena wanita inilah satu-satunya ahli medis berpengalaman di desa ini.

Sang sopir dan suami dari wanita paruh baya itu membopong Kim Bum masuk ke sebuah kamar.Kim Bum mengerang kesakitan membuat So Eun menggigiti bibirnya khawatir.

Stay here, girl. I need your help. (Tunggu di sini, Nak.Aku butuh bantuanmu)”, ujar wanita itu memerhatikan luka Kim Bum.Dia pergi sejenak mengambil peralatan bedah yang seadanya.So Eun sedikit merasa tidak yakin.

“I don’t have enough anaesthetic. He will feel in so much pain. (Aku tidak memiliki anastesi yang cukup.Dia akan merasa sangat kesakitan)”, ujar wanita itu dengan wajah cemas.

What must I do, Ma’am?(Apa yang harus aku lakukan, Bu?)”,tanya So Eun yang mulai panik. Dia duduk di sebelah Kim Bum yang dibaringkan dan mengenggam tangan pria itu.

Could you do something that can distract his focus?(Bisakah kamu melakukan sesuatu yang bisa mendistraksi fokusnya?)”, tanya wanita itu seraya memersiapkan benang dan jarum bedah.

So Eun menggeleng cepat dan sulit bepikir jernih.Kim Bum membuka sedikit matanya memerhatikan ruangan tempatnya dibaringkan.Nafasnya tersengal-sengal menahan sakit di pinggangnya. Peluru itu masih tertancap di sana.

Kiss him. (Cium dia)”, ujar wanita itu memecah keheningan.“Make him forget about his pain. (Buat dia lupa akan sakitnya)”, lanjut wanita datar.

So Eun terkejut dan menoleh menatap wajah Kim Bum.Mata Pria itu masih tetap tajam menatapnya meski mulai meredup. Oh ya, So Eun akan melakukan apapun demi mengurangi rasa sakit Kim Bum.

Wanita itu meminta bantuan So Eun untuk membuka kaos Kim Bum dan kini luka pria itu terpampang di mata So Eun.Dia ketakutan.Darah Kim Bum begitu banyak yang mengalir.Dipaksanya matanya kembali menatap wajah Kim Bum.Mata pria itu kini tengah terpejam dan rahangnya terkatup rapat.

Begitu wanita itu menyuntikkan anastesi (cairan kimia yang mengakibatkan mati rasa) pada Kim Bum, So Eun mulai mendekat di samping Kim Bum. Cairan itu tidak akan cukup hingga proses bedah itu selesai. Dan adalah tugas So Eun untuk mengalihkan rasa sakit Kim Bum dengan ciuman.

Awalnya dengan ragu So Eun mendekatkan bibirnya.Pria itu memejamkan matanya.Entah karena sakit atau karena dia tidak ingin berciuman dengan So Eun.So Eun tidak tahu.Dia memaksa hatinya untuk tetap melakukannya.

Diciumnya bibir Kim Bum yang terasa begitu dingin.Kim So Eun belum pernah berciuman.Dia melakukannya mengikuti kata hatinya.Dia perdalam ciumannya dengan lembut terus menerus hingga katupan gigi Kim Bum terbuka.Sementara wanita paruh baya itu sudah mulai berusaha mengeluarkan peluru dari dalam pinggang Kim Bum.

Begitu katupan gigi Kim Bum terbuka, So Eun melumat malu-malu bibir bawah pria itu.Namun tiba-tiba Kim Bum membalas ciumannya dengan kasar.Pria itu menggigit bibir So Eun dan melumatnya dengan liar.So Eun berusaha mengimbanginya.Gadis itu sadar, Kim Bum mulai kesakitan dan melampiaskan rasa sakitnya dengan menciumnya secara liar.

Lengan So Eun menekan kepala Kim Bum agar bibir mereka tetap berdekatan.Pria itu memasukkan lidahnya ke dalam mulut So Eun.Lidah mereka bertemu.So Eun memejamkan matanya agar dirinya bisa lebih berani lagi.Gadis itu menautkan lidahnya pada lidah Kim Bum.Ciuman itu semakin liar dan semakin panas.Ketika kehabisan nafas, mereka tidak menghentikan ciuman itu melainkan saling mengulum bibir lalu melanjutkan lumatan-lumatan liar itu lagi.

Tangan So Eun kini berpindah ke leher Kim Bum dan bertumpu di sana. Tubuhnya mulai merasa panas.Bibirnya terus menekan dan ditekan oleh bibir Kim Bum.Hidung mereka saling bergesekan hingga mereka bisa saling merasakan helaan nafas mereka yang tak menentu.Lidah Kim Bum merangsek menguasai mulut So Eun hingga kepala gadis itu terasa begitu ringan dan tanpa sadar sudah setengah berbaring di samping Kim Bum.Tangannya sedikit turun dan membelai dada Kim Bum bagian atas yang polos.Kim Bum mengerang dan semakin memperdalam lumatannya.Ingin rasanya Kim Bum mengubah posisi agar dia yang berada dia atas tubuh So Eun.Tidak seperti sekarang dimana tubuh So Eun setengah berada di atasnya.

Ciuman panas itu terus berlanjut hingga hampir 20 menit.Wanita itu telah mengeluarkan peluru dari pinggang Kim Bum, menjahitnya dengan baik, dan menutup rapi lukanya dengan perban.Dia hanya terdiam menahan senyum melihat kedua manusia di hadapannya masih tetap berciuman dengan intens.Dia beranjak pergi hendak mencuci peralatan bedahnya dan tidak mengganggu keduanya.Namun sebuah gunting bedah terjatuh ketika dia berdiri.

Gunting yang terjatuh menimbulkan suara gaduh yang membuat ciuman Kim Bum dan So Eun terhenti.So Eun menatap ke arah wanita paruh baya itu.Dia sudah berdiri di pintu kamar dan tersenyum lebar menatap mereka berdua di ranjang.

“Sorry”, ujar wanita itutertawa tanpa suara yang kemudian menghilang di balik pintu.

Nafas So Eun masih sedikit tersengal-sengal akibat ciuman mereka tadi.Matanya kini kembali menatap wajah Kim Bum.Mata Kim Bum kembali terpejam dan nafasnya juga terdengar tidak beraturan.So Eun duduk di samping Kim Bum dan mencium kening Kim Bum.

“Istirahatlah”, bisik So Eun yang kemudian berbaring sedikit menjauh dari Kim Bum.Dia tidak ingin mengganggu tidur pria itu.Kim Bum pasti butuh tidur yang nyenyak untuk memulihkan tubuhnya.

 

[SCENE 6]

Next morning..

Gadis itu meregangkan kedua lengannya perlahan.Matanya mengerjap beberapa kali untuk mengumpulkan kesadarannya.Perutnya tersa lapar mengingat dia tidak makan dari siang kemarin.Ditatapnya ranjang di sampingnya.Kim Bum sudah tidak ada dan kini So Eun kelabakan. Dia langsung terduduk dan dilihatnya jam tangan. Sudah pukul 11.14 BRT.Ini sudah menjelang siang hari.

Kim So Eun segera bangun dari ranjang dan mencari Kim Bum.Begitu dia keluar kamar, matanya menatap seorang pria yang tak asing baginya.

Roberto, how can you be here?(Roberto, bagaimana kamu bisa ada di sini?)”, tanya So Eun mendekat ke ruang tamu.

Roberto sigap langsung berdiri dari duduknya begitu mendengar suara So Eun.

Madam, are you awake? Let’s sit here, please..(Nona, Anda bangun?Duduklah di sini)”, ujar Roberto ramah dan menuntun So Eun untuk duduk di ruang tamu. Di sana So Eun mendapati wanita pemilik rumah dan suaminya, serta seseorang yang tidak dikenalnya.

Where is Kim Bum?(Dimana Kim Bum?)”, tanya So Eun tidak sabar. Matanya mencari-mencari keberadaan Kim Bum di teras dan sekeliling ruang tengah.

He’s in airport right now, Miss. He’s going back to Korea. He needs more surgery to improve his wound. (Dia di bandara sekarang, Nona. Dia akan kembali ke Korea. Dia butuh operasi lagi untuk menyembuhkan lukanya)”, terang pria berwajah campuran Mongoloid and Kaukasoid itu.

Kim So Eun melongo dan memaksa dirinya tidak memercayai perkataan pria di hadapannya itu.Hatinya berasa dihantam ribuan palu mengetahui Kim Bum meninggalkannya.

Oh, sorry. My name is Daniel Kook. I’m an official of Korean national football team. I got a message from Mr. Kim Bum to pick him up this morning.He asked me to look for your guide too, Mr. Roberto. Thereby, we’re here now. (Oh, maaf.Nama saya Daniel Kook.Saya adalah official dari timnas sepakbola Korea.Saya mendapat pesan dari Tuan Kim Bum untuk menjemputnya tadi pagi.Dia juga meminta saya mencari pendamping perjalanan Anda, Tuan Roberto)”, pria itu menjelaskan panjang lebar.

Hati So Eun terasa hampa.Kim Bum mungkin sengaja tidak ingin menunggunya bangun.Dia pasti marah kepadanya.Gara-gara So Eun, kini Kim Bum tak bisa membela negaranya lagi di Piala Dunia.

No messages for me? Or anything?(Tidak adakah pesan untuk saya? Atau apapun?)”, tanya So Eun menahan air matanya terjatuh.

Semua yang berada di ruangan itu terdiam.Mereka baru menyadari kegundahan hati So Eun.Tentu saja wanita itu tidak dalam keadaan baik mengingat dia ditinggalkan tanpa pesan apapun.

Kim So Eun menunduk memerhatikan gaunnya yang sudah robek selutut.

I’m sorry we didn’t wake you up yesterday night. You looked so tired and vulnerable. But I put some food in your room. Now you’ve awoken, I’ll take it for you. (Maaf, semalam kami tidak membangunkan Anda.Anda terlihat sangat lelah dan rapuh.Tapi saya meletakkan beberapa makanan di kamar.Sekarang Anda sudah bangun, biar saya yang mengambilkan makanannya)”, ujar wanita yang semalam mengeluarkan peluru dari pinggang Kim Bum.Dia berdiri dan berjalan menuju ke arah belakanhg yang sepertinya sebuah dapur.

So Eun menarik nafas panjang.Dipaksanya bibirnya untuk tersenyum menatap ketiga pria di hadapannya itu.

I’ll be ready in fifteen minutes. We can go back to hotel then. (Aku akan siap dalam 15 menit. Selanjutnya kita bisa kembali ke hotel)”, kata So Eun dengan nada riang yang tampak dipaksakan.

Wait, Miss. Mr. Kim Bum asked me to give this umbrella to you. (Tunggu, Nona. Tuan Kim Bum meminta saya untuk memberikan payung ini pada Anda)”, Daniel menyodorkan payung berwarna maroon itu ke arah So Eun.

So Eun menatap payung di tangannya itu.Pikirannya mencoba mengingat, payung itu kemarin terjatuh ketika dia dan Kim Bum berlari menjauhi kerusuhan.Dia tidak sadar jika Kim Bum memungutnya dan menyimpannya.

Setetes air mata menerabas tanpa terkendali dari pelupuk matanya. So Eun diam dan segera berjalan ke kamar untuk bersiap kembali ke hotel.Beruntung tak ada yang menyadari air matanya yang terjatuh itu.

 

[SCENE 7]

Rodrigo de Freitas Lagoon

Parque Nacional  da Tijuca- Alto da Boa Vista

Rio de Janeiro – RJ

Brasilia

A month later..

Patung Jesus menjulang membelah kepadatan kota Rio de Janeiro. Nama formalnya adalah Christ the Redeemer.Tingginya mencapai 700 meter berada di atas Gunung Corcovado, dan seolah mengawasi kotaRio de Janeiro dari atas.

Malam ini adalah malam final Piala Dunia 2014, 13 Juli 2014.Hujan turun cukup deras sejak pertandingan babak kedua. Namun seorang wanita dengan dress berwarna  birunavy selutut tidak memedulikan pertandingan itu. Timnas negaranya sudah tersisih di babak grup, permainan mereka sangat buruk dan mendapat cacian dari rakyat di negaranya.

Seharusnya dia kembali ke Korea dua minggu yang lalu.Tapi dia memilih tetap di Brazil hingga gelaran Piala Dunia ini usai.Dia terlalu takut menghadapi kenyataan orang yang dia cintai, kini mengacuhkannya.

Malam ini, di antara hujan yang menderas dan semarak lampu Estadio do Maracana itu, dia memilih menyendiri di bawah patung Christ the Redeemer. Payung maroon itu masih setia menemaninya. Hanya saja, malam ini dia lupa lagi untuk membawa coat-nya. Matanya menerawang ke arah pusat kotaRio de Janeiro yang terlihat memukau dari ketinggian tempatnya berada.

So Eun, wanita yang tengah berdiri menyandarkan tubuhnya ke pagar pembatas di bawah patung Jesus itu.Beberapa pengunjung masih bertahan namun sebagian besar sudah bubar karena hujan semakin deras.Namun So Eun tak bergeming.Otaknya dipenuhi memori-memori kelam sebulan yang lalu.

You’re always forget to bring your coat. (Kau selalu lupa membawa jaket tebalmu)”.

Suara itu membuat So Eun berbalik.Matanya menatap siluet tubuh seorang pria dalam balutan sweater berwarna dark grey yang tertutupi jaket hitamnya. Jaket yang sama seperti yang dia pakai sebulan lalu.

Pria itu berjalan mendekat.Kini tangan kirinya memegang sebuah payung hitam.Semakin dekat semakin jelas raut wajah yang begitu So Eun rindukan.

“Aku datang sesuai janjiku”, ujar Kim Bum lembut.

Bibir So Eun terkatup.Matanya menatap wajah pria di depannya dengan ekspresi tak terartikan.Tubuhnya membeku dan rasanya hatinya ingin meloncat keluar karena senang.

Kim Bum mengangkat tangan kanannya, menyentuh wajah cantik wanita di hadapannya itu.Senyuman yang dirindukannya itu tak kunjung terukir di bibir wanitanya.

I love you. Will you marry me?(Aku mencintaimu.Maukan kau menikah denganku?)”, ujar Kim Bum lirih seraya ibu jarinya membelai lembut bibir So Eun yang terkatup.

Otak So Eun yang membeku mulai bekerja.Dengan mata berkaca-kaca, dia menghambur dalam pelukan Kim Bum.Pria itu tidak meninggalkannya.Pria itu kembali padanya, sesuai janjinya.

Yes, I will. (Ya, aku mau)”, jawab So Eun kemudian.Kim Bum tersenyum dan mengeratkan pelukannya.

I think we must wear my jacket like a month ago, dear. (Aku pikir kita harus mengenakan jaketku seperti sebulan yang lalu, sayang)”, Kim Bum mencoba mencairkan suasana.Tangannya mengelus punggung So Eun dengan lembut. Payung maroon So Eun sudah terjatuh ke tanah dan mereka hanya berlindung di payung hitam Kim Bum.

So Eun tertawa renyah dalam pelukan pria itu.“ I think I’d love it. (Aku akan menyukainya)”, jawab So Eun.

Kini dia mengangkat wajahnya menatap wajah Kim Bum. Tatapan yang sama, yang begitu tajam dan membuai So Eun. Dengan hati bahagia, dikecupnya kening Kim Bum seraya berjinjit, kemudian dikecupnya pipi kiri Kim Bum.Di luar dugaan, Kim Bum mengagetkan So Eun dengan membalas mencium kilat bibirnya.So Eun langsung membelalakkan matanya.

“Kau sudah berani sekarang”, kelakar So Eun sedikit memanyunkan bibirnya.Mereka berdua tertawa bahagia.Dan Kim Bum pun kembali melumat bibir wanita yang dicintainya itu dengan penuh kerinduan. Bersamaan dengan itu, kembang apidari pertandingan final Piala Dunia 2014 terbakar memenuhi langit kota Rio de Janeiro. Warna merah, kuning, dan hitam berpencar membumbung di angkasa pertanda pemenangnya adalah Jerman.

Namun sesungguhnya, pemenang itu adalah dua insan yang kini tengah berciuman hangat di balik payung hitam di bawah patung Christ the Redeemer.Kim Bum yang menang dari egonya, meninggalkan So Eun karena merasa lemah dan gagal membuat bangga Appa-nya. Dan So Eun, yang menang dari rasa bersalahnya, rasa takutnya akan kebencian pria yang dicintainya.

Ya, siapapun kalian, sesungguhnya kalian lah pemenang ketika kalian bisa mengalahkan kekurangan dan kelemahan diri kalian sendiri.

Be brave. Face your future with love, not with ambition..

 

[EPILOG]

Melbourne Rectangular Stadium

Olympic Boulevard

Melbourne VIC 3000

Australia

 

January, 2015

Angin timur yang berhembus sedikit kencangsama sekali tidak memecah konsentrasinya. Kim Bum menyisir bagian tepi kanan lapangan.Bola tengah bergulir di kaki Dong Ji, dan kini digiring mendekat ke arah gawang Australia. Kini mereka tengah membela Korea Selatan di Piala Asia 2015 dengan tuan rumah Australia. Timnas Korea selatan sudah banyak berbenah diri dan memperbaiki strategi mereka setelah hasil buruk di Piala Dunia lalu.

Kini, mereka bertanding melawan sang tuan rumah di pertandingan final. Pertandingan yang ketat untuk menentukan siapa jawara Asia sesungguhnya.Bola itu terus berputar di kaki Dong Ji yang berada di tengah lapangan.Kim Bum mencari ruang kosong dari tepi kanan lapangan.Hampir semua pemain bertahan lawan terfokus pada Dong Ji dan Kim Joon di tengah lapangan.

Dengan keras Dong Ji menendang bola di kakinya ke arah samping kanan jala lawan. Sayangnya bola itu terpental mistar gawang dan tidak terjadi gol. Sang kiper Australia sudah tersungkur ke arah kiri karena salah menebak arah tendangan Dong Ji.Sementara Kim Bum yang muncul dari sayap kanan dengan sigap berlari kencang menyambut bola yang terpental itu dengan tandukan kepalanya. Dan…

“GOOOOLLLLLLL!!!!”, teriakan supporter Korea menggila di dalam stadion. Kim Bum tersenyum lebar dan berbalik untuk berselebrasi. Dia berlari kecil di tepi kanan lapangan dengan menggerakkan tangannya di depan perutnya seakan menggambarkan seorang yang hamil. Wajahnya cerah dan diliputi kebahagiaan.

Ya, istrinya memang tengah hamil.Kim So Eun tengah hamil 4 bulan dan kini duduk di bangku penonton VVIP bersama istri dan pasangan pemain Korea lainnya.Dia tersenyum lebar menyaksikan selebrasi suaminya yang ditujukan untuk dirinya.

Ouch..”, seru So Eun yang baru saja berdiri dan bertepuk tangan atas gol yang diciptakan Kim Bum. Tapi perutnya merasakan tendangan dari bayinya.Tawa So Eun semakin lebar ketika tendangan itu datang lagi.

Peluit panjang berbunyi menandakan pertandingan usai.Gemuruh kemenangan Korea Selatan membahana membelah stadion berarsitektur unik itu. Semua pemain dan official  Korea berlarian ke tengah lapangan melepas kaos kebanggaan mereka. Semua bagian dari tim terbawa euforia kemenangan itu. Merekalah Raja Asia.

Kim Bum bukannya berlari ke tengah lapangan, dia bergegas berlari menuju tempat istrinya duduk. Butuh belasan anak tangga hingga Kim Bum bediri tegap di depan istrinya itu. Diciumnya wanita itu dengan penuh cinta.

I love you, as always”, ujar Kim Bum tersenyum. So Eun pun tersenyum dan balik mencium suaminya dengan hangat.

Kim Bum kemudian menoleh dan memanggil Lee Min Jung, yang kini berpacaran dengan Kim Joon.

Eonni, temani istriku turun ke lapangan.Aku harus menerima medali terlebih dulu”, ujar Kim Bum.

Min Jung tertawa, dan mengangguk.“Suamimu itu gila, So Eun”, kelakar Min Jung ketika Kim Bum sudah kembali menuruni anak tangga untuk melakukan upacara penutupan.So Eun hanya ucapan menanggapi Eonni-nya itu dengan tawa.

Tak berapa lama, trophy Piala Asia pun diserahkan secara formal kepada kapten tim Korea Selatan, Kim Joon. Teriakan kebahagiaan para pemain menggelegar.Medali emas terkalungkan di masing-masing leher mereka.Alunan lagu kebangsaan Korea Selatan memenuhi ruang stadion. Kembang api menghambur di atas langit Melbourne.

Merekapun berlari menyebar menghampiri keluarga mereka di tengah lapangan setelah upacara usai.Kim Bum kembali menghampiri So Eun yang saat itu mengenakan celana katun warna nutella dan baju hamil berwarna dark chocolate.Kim Bum sangat bahagia, semua yang kini dia miliki adalah anugerah Tuhan.Dia berlutut di hadapan istrinya itu, memeluk perutnya yang sudah tampak membuncit.So Eun yang terkejut hanya bisa menutup mulutnya dan memandang sekitar yang dipenuhi reporter.

Hubby, berdirilah. Kau tidak malu difoto dengan pose seperti ini?”, tanya So Eun dengan muka khawatir.

Kim Bum tersenyum.Bukannya berdiri, dia malah mencium perut istrinya itu dengan penuh cinta.Beberapa reporter mengabadikan momen langka itu.Yang melihat pun merasa turut bahagia.

Ouch..”, seru So Eun kemudian.

Kim bum mengangkat wajahnya dan matanya melebar. “Dia menendang!”, seru Kim Bum menampakkan mimik seperti anak kecil. So Eun tersenyum lebar menganggukkan kepalanya.

Kim Bum kembali menempelkan telinganya di perut istrinya. Tendangan samar itu terasa lagi. Putranya menendang dan menunjukkan bahwa dia tumbuh di dalam sana.

Hey, Bum-ah. Kau tidak ingin berfoto dengan trophy ini?” ,Kim Joon tiba-tiba menghampiri mereka dan tertawa melihat Kim Bum yang tengah berlutut di depan perut So Eun.

Kim Bum langsung berdiri dan meminjam trophy itu. Dipeluknya tubuh istrinya yang membuncit itu, sementara satu tangannya yang lain menggenggam trophy. Wajah pasangan itu begitu cerah penuh kebahagiaan.Para reporter bersemangat mengambil foto mereka.Lalu dengan iseng Kim Bum setengah menunduk menempelkan trophy itu ke perut istrinya.

Hey, little hero.Rasakanlah sayang.Nanti, kau akan memenangkan trophy ini juga”, Kim Bum berbicara pada bayi di perut istrinya.So Eun terkikik melihatnya dan dibelainya rambut suaminya itu.

Namun dengan mengejutkan, bayi mereka menendang lagi dan Kim Bum kembali merasakannya.Matanya membulat dengan senyum lebih lebar.

“Lihatlah, honey.Dia menjawab pernyataanku.Putra kita menjawabku”, kata Kim Bum sedikit memekik saking senangnya.Dia kembali berlutut.Diciumnya perut istrinya dengan pelan sementara satu tangannya yang membawa trophy  menempelkannya ke perut So Eun juga. Tendangan samar itu kembali menghujani wajah Kim Bum, yang tanpa dia sadari pose itu tengah berebut difoto untuk dijadikan headline oleh para reporter.

END

 

Author’s note:

Hello, readers..

Maaf ya baru muncul part 2-nya.Maaf juga kalau ceritanya kurang memuaskan. Saya sedang dikejar-kejar deadline kerjaan tutup tahun..huhu. Feel free to criticize..J

 

Saya sengaja maksain buat beresin ff ini sebelum tahun baru, karena saya ingin berbagi semangat. Tahun yang baru, semangat yang baru, impian yang baru, dan jiwa yang baru.. Seperti quote saya sebelumnya, Be brave. Face your future with love, not with ambition..

Selamat tahun baru untuk semua readers, sampai jumpa di ff lain di tahun depan, hehe. Tchau..

 

 

Posted on Desember 30, 2014, in fanfiction. Bookmark the permalink. 124 Komentar.

  1. Yup tetap Keren ceritanya. Semangat thor

  2. # BumSso Couple #

    Alurnya kecepatan ..
    Tp gpp lah ..
    Ttp bgus kok ..

    Ditunggun ff lainnya ..:D

  3. faizahrahmawati10

    Huuuuaaaaaaa ini luar biasa!! Ceritanya lain dari pada yg lain, ini favorit ku, gumawo Author yang udah bikin ceritanya begitu luar biasa, romantis kim sang bum dan kim so eun, di padu dengan cerita bola, AMAZING!!!!

  4. Cerita.y keren thor ….

  5. Yeaayyy … happy ending🙂 bumsso romantis bgt, seneng liat mreka bisa bersatu dan bahagia.

  6. huuuaaa aku sukaaa,,seruuuuuu🙂
    aku sangat suka scene dmna kim bum operasi pengambilan peluru di pinggang nya dan untuk obat mati rasanya atau bisa di blng obat bius lah yaitu dg kim so eun hrus mencium nya dan akhirnya berhasil,hahahh :v tp gara” gunting nya si doctor jatuh jdie berakhir kant hot kisseu nya bumsso,,kekekekk maap otak yadong ku bner” kumat :v
    seruuuuu😉

  7. Wow.. Daebak critanya bagus bgt min..🙂 ku tunggu karya2mu lgi..
    Fighting…

  8. Sempet sedih waktu kim bum ninggalin so eun ke korea. Tapi akhirnya dia balik lagi buay nemuin so eun.
    Kereeennn ceritanay

  9. Yey menang smuaa…

  10. keren bgt hore akhir nya bummie oppa mendapat kan segala nya

  11. aduuuh thor, ini mah fan fiction yg paling masterpiece !!!!!!
    beda bgt sama ff yg aku baca selama ini.. di tambah lagi Bumsso couple yg mmg plg klop.
    awalnya aku nunda2 buat bacanya soalnya aku ngga suka sama genre sport, tapi setelah baca romancenya aw.aw.aw bikin senyum2 sendiri. entahlah the best part wkt terjadi kericuhan sama pertemuan di gereja…
    pdhal msh pengen dibuat sekuel ato special ?. (hehehe req.)
    di tggu kisah masterpiece lainnya thor .. gomawo

  12. Huaaaaa daebak critanya eon. Sya sukaaa banget.

    Pkoknya so sweet dahh🙂

    Itu baby kim akan jdi pemain sepak bola juga🙂

  13. Wah..kirain bumppa bnr ningglin sso eonni..v akhir’y bumppa kmbli..eonni bikin sp’y donk..hehe..ff eonni kren..smangat..

  14. Wow romantis bengat endingnya

  15. waa perkenalan yg singkat dan romantis di bawah guyuran hujan berakhir dengan kata will you marry ? romantis abis, kimbum juga romantis yg menggambarkan kebahagiaanny dengan berlari ke istrinya sso.

  16. Mian baru komen di part ending, baru mampir lagi ke wp ini, hehe
    Keren ceritanya tema piala dunia, mereka jatuh cinta pada pandangan pertama yah kalo gitu… Huaa bum walaupun dingin tapi dia baik mau berbagi jaket sama sso, sampe dia kedinginan… Pertemuan kedua mereka malah berantem tapi berakhir manis, walaupun ada insiden itu tapi malahan bikin bumsso makin deket dan itu kissue nya… Aduh ibu bidan nginterupsi aja nih, make ada gunting jatoh… Hehe
    Kamu anak sastra inggris yah? Tau tentang renaissance, itu kan dipelajarin di literature🙂
    Keren pokoknya, kirain endingnya bakalan sad karna bum ninggalin sso gitu aja, tapi ternyata dia nepatin janjinya buat datang di final piala dunia… Dan mereka happily ever after… Keren pokoknya!!!

  17. Kirain kimbum beneran ninggalin soeun, eh ternyata ngga hehe
    Akhirnyaaa happy end juga🙂

  18. Calon putra bumppa penerus bummpa

  19. Waaaaah keren banget cerita ini

  20. Keren eon, seneng deh kim bum kembali langsung ngelamar so eun. Di tunggu ff x yg lebih keren lagi😁

  21. Jarang” temanya piala dunia..

    Bagus, n alurnya juga pas..

    Kim bum oppa cuek n dingin, tp aslinya romantis abis.. Selalu perhatian m istrinya, yg lain pada sibuk dilapangan.. Dia lari ketempat istrinya, harus diacungin jempol. Kn gk semua pria seperti itu, 1:1.000 x ya..

    Ttp berkarya sist,, ditnggu ff berikutnya yg lbh seru n ceritanya ssh ditebak..

    Gbu

  22. bumppa ga sbran bnget ktmu lngsung lamar kekeke endingnya sweet bnget thor i like it

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: