A Pianist Say Good Bye ( part 5 )

A Pianist Say Good Bye ( part 5 )

Author        : win (acieh km)

Main Cast    : Kim Sang Bum, Kim So Eun

Other Cast     : Tatsuya Fujiwara, Kenichi Matsuyama, Kim Woo Bin, Kim Min Seo, Kang Min
Hyuk

Guise Cast    : Chrystal Violence, Robbert Kim, Janne Lorennzo

Genre        : kekerasan, action, sad, tears, romance, taut, emosional, romantic ??

Type         : SEQUEL

Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produser dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita

 

Aku Mencintai mu dengan SATU RASA..
Tapi mengapa kau meninggalkan ku dengan BANYAK RASA???
Bicara seolah tak mengapa,,
nyatanya aku terluka..
Menangis..
Cinta sejati teringkar
menangis..
Cinta sejati tak dihiraukan..
Rasa bukanlah apa yang dialami oleh dirimu.
Tapi rasa,, apa yang dialami oleh hati mu.
karena rasa tidak butuh disimpan,,
namun di hias walau menyakitkan….

Hari itu telah berlalu meskipun hanya berlalu sehari setidaknya udara sesak dengan kecekaman kondisi yang buruk itu telah menjadi masa lalu. Tidak ada perubahan, sama sekali meskipun hanya setetes tidak ada perubahan. Permainan kata serta lantunan music harus sengaja dibuat scenario agar tidak menimbulkan dampak mendalam. Suara tangisan sehari yang lalu, jeritan, lengkingan piano ditengah malam, bahkan sumpah serapah yang menggelar kini menjadi sebuah kebisuan seolah-olah badai tidak membekas.

Suara iringan music piringan hitam terdengar sedikit tidak enak. Nada itu merupakan kombinasi antara gesekan biola dan permainan piano yang kuat. Sudah sejak lama sepertinya piringan hitam itu tergeletak dan berdebu tidak dijamah. Sebuah orchestra terkenal dari Perancis pemberian sang nenek tercinta sebelum kematian melandanya.

Kim Bum nampak tenang tidak banyak gerak. Bahkan dijam yang masih sangat pagi ini dirinya tidak terlihat segar namun sedikit kacau. Makanan yang dimakan merupakan makanan mewah khas koki terkenal berasal dari Brazil. Tidak, bukan makanan itu yang membuatnya kacau hari ini. Pikirannya masih terusik dengan hal kemarin. Kebodohan yang sangat tolol untuk diingat sepanjang hidupnya.

Dihadapanya terdapat wanita bisu yang selalu mengertakkan kedua rahangnya dan memegang kuat gagang sendok dan garpu berwarna abu-abu metallic itu. sebenarnya tidak demiakan kedaan wanita itu. Wanita itu normal dan sangat cantik, semua itu bahkan diakui oleh pria-pria yang mengagumi wanita ini. Kim Bum dapat melihat dengan jelas bagaimana jemari lentik lemah lembut itu memegang kuat garpu dan sendok sebagai pelampiasan kebencian. Kim Bum hanya diam, diam mungkin sedikit membantu pikirannya yang kacau.

” aku tidak suka orang bisu dan tuli ada disini,” ujar Kim Bum sedikit sengit dan menambah perkara. Sepertinya Kim Bum sengaja memancing wanita dihadapnnya ini. Wanita yang mungil dengan celana pendek diatas lutut dan kaos yang kebesaran memperlihatkan belahan dadanya diantara bra biru bergaris yang dipakainya. Wanita bernama Kim So Eun itu tersenyum kecil seperti menantang. Kim Bum terdiam lagi melihat senyum sinis itu. Matanya melihat senyum yang asing dari seorang wanita.

” tuli dan bisu adalah penyakit manusia. Melukai dan menghancurkan hidup orang adalah iblis biadap !” ujar So Eun menantang mata Kim Bum. Hal itu membuat Chrystal tersedak saat meminum segelas air putihnya. ” benarkah ? berarti kau sama halnya seperti iblis. Kau jatuh hati pada sang iblis apakah itu bukan iblis namanya?,” harusnya ini tidaklah terjadi jika sifat ego diantara keduanya tidak di perlihatkan dan mencoba diadu.

Dencitan kursi tedengar sedikit pelan namun melengking dan sendok itu menimbulkan suara yang cukup nyaring beradu dengan piring saat Kim Bum meletakkannya dengan kasar. So Eun menatap tajam Kim Bum dengan geram. Sebenarnya So Eun takut akan mata tajam Kim Bum hanya saja kali ini dirinya ingin sekali terlihat berani walau nantinya pasti dirinya yang akan menggigil ketakutan. Robert yang baru saja akan ikut bergabung sarapan terdiam sesaat saat melihat Kim Bum mendekati So Eun yang duduk itu.

” hapuslah rasa mu jika tidak ingin menjadi iblis seperti ku. Wanita seperti mu tidak pantas masuk kedalam kisah sang iblis piano,” ujar Kim Bum terdengar sepert isyarat lemah. Ada apa? Pertanyaan besar yang mampu Robert dengar dan Chrystal dengar. Jantung So Eun kembali berdesir hangat. Ini gila, kemarin malam Kim Bum sudah memperlakukan dirinya seperti binatang jalang namun mengapa kini terasa hangat kembali. Tidak ! So Eun ingin menolak mentah-menath rasa itu untuk hadir kembali.

” kau tidak menyelesaikan sarapanmu, Tuan Kim Bum?” tanya Chrystal kini berdiri dan menatap punggung Kim Bum. Tangan Kim Bum sepertinya sudah jauh lebih baik dan tidak terdapat perban membelit dikedua telapak tangannya. Lagi pula Kim Bum seorang pemain piano yang hebat sehingga akan aneh jika Kim Bum menghilang lagi. ” aku tidak begitu berselera,” jawab Kim Bum memakai jas hitamnya dan memakai dasinya yang diantar oleh Amber.

” kau ingin menjadi iblis lagi. Aku yakin itu. Orang seperti mu adalah musuh Tuhan terbesar,” ujar So Eun menghentikan tangan Kim Bum yang mengikat dasinya. ‘kenapa? Kenapa harus seperti ini?’ batin Kim Bum yang merasa tidak dalam baik-baik saja. Hatinya belakangan ini sedikit bimbang. Bimbang akan suatu keputusan. ” nona So Eun ! Kau tidak mengerti kehidupan Tuan Muda!” ujar Robert membentak. Kim Bum mengangkat tangannya meminta Robert untuk diam dan tidak ingin merusak suasana pagi ini.

” benarkah? Kau sudah tahu kehidupanku seperti apa jadi..BISA KAH KAU MENUTUP MULUT MU UNTUK MEMBUAT MASALAH PAGI INI!! AKU MENCOBA BERDAMAI DENGAN MU TAPI KAU MEMANCING KU!!,” Kim Bum tidak lagi mampu membendung amarahnya. Dirinya semalam tidak dapat tidur, sama sekali tidak tidur. Hanya memandang foto sang ibu tercinta dan memainkan piano sampai semua jari-jarinya terasa keram dan kaku, sampai otaknya panas menghafal kunci nada yang sepertiga hilang dalam memorinya akibat operasi itu. Operasi yang memang berhasil menghilangkan memorinya, hal tergila dan tersadis.

” berdamai? AKU TIDAK INGIN MEMULAI PERDAMAIAN DENGAN MAKHLUK TERKUTUK SEPERTI DIRIMU!!,” Kim Bum tersenyum kecut, bukan hanya dirinya bahkan Tatsuya yang mendengar pun hanya menahan rasa membuncah dihatinya itu. ” nikmati lah hidupmu selagi kau dapat mengingat memori indah,” ujar Kim Bum tersenyum kecil dan pergi mengambil kunci mobilnya. Robert memegang gelasnya dengan cengkraman kuat. Seharusnya So Eun bisa mengerti sedikit suasna bahwa Kim Bum benar-benar sedang ingin berdamai. Tapi So Eun buta akan kebencian padahal Kim Bum mencoba mengontrol kebencian dirinya terhadap Kenichi.

” kelak kau akan tahu mengapa tuan muda meminta kau menghapus namanya dihati mu. Kelak kau akan tahu seperti apa sosok asli Kim Bum. Kau hanya lah orang baru yang masuk kedalam kehidupannya bukan kedalam masa lalunya,” ujar Robert dan itu membuat So Eun berpikir keras.

” Aku tidak peduli pada pria bajingan dan maksiat itu !!” bentak So Eun keras dan hampir saja tangan Chrystal terangkat untuk memukul wajah So Eun. ” kau tidak peduli saat ini. Jika kau tahu apa yang telah kau lakuakn terhadap cairan itu mungkin kau akan berlutut dan memohon ampun padanya !,” ujar Tatsuya. Tatsuya memang menyayangi So Eun namun jika sifat So Eun seperti ini membuat dirinya sulit untuk tidak membentak So Eun.

Kembali kacau seperti kemarin hari ini. Musim semi yang indah diimbangi dengan angin yang sejuk telah gagal menetralisir kecekaman pagi ini. So Eun begitu membenci Kim Bum dan dendam mulai memenuhi hatinya itu. Bukankah akan tambah buruk jika seperti itu? Tapi So Eun tidak ingin memperdulikan hal itu.

======*********======

” apakah So Eun sungguh dirumah temannya , ayah?” tanya Min Seo yang merasa curiga dengan adiknya itu. Sudah lebih dari lima hari adiknya tidak pulang dan kemarin entah mengapa hatinya begitu gundah dan seperti ada sesuatu yang terjadi atas diri adiknya itu. ” ada apa memang, Min Seo?” tanya Kenichi mencoba kembali bersikap tenang. ” aku merasa ada yang kau sembunyikan ayah. Tidak mungkin So Eun dirumah temannya dan tidak memberi kabar sama sekali. Bahkan ini sudah memasuk hari keenam dirinya tidak memberi kabar,” jelas Min Seo yang sedang duduk diruang tengah bersama Kenichi.

Kenichi menelan air liurnya ketika Min Seo sudah mulai merasa curiga. Apakah dirinya harus mengatakan yang sesungguhnya? Itu tidak mungkin. Dengan dirinya mengatakan yang sesungguhnya itu berarti dirinya membongkar kebejatannya dimasa lalu dan Min Seo pasti akan mendukung Kim Bum untuk membunuhnya. Dan lagi pula dirinya tidak ingin putri pertamanya ini harus berurusan lagi dengan Kim Bum.

” ayah !!” panggil Min Seo saat menangkap Kenichi sedang melamun. Kenichi menatap kedua manic mata Min Seo dengan hati-hati. Dirinya khawatir Min Seo dapat menemukan sesuatu yang dirinya sembunyikan itu. ” Ayah juga tidak tahu,” ujar Kenichi membuat wajahya terlihat frustasi. Dirinya memang frustasi tetapi bukan pertanyaan Min Seo yang membuatnya seperti ini, So Eun. Yah wanita itu yang membuat dirinya belakangan ini selalu bermimpi buruk.

” sepertinya ada sesuatu yang kau sembunyikan. Kumohon katakan yang sejujurnya padaku, kumohon ayah,” Min Seo mulai memaksa atas kejanggalan yang dirinya dapatkan dari keadaan ini. Kenichi sudah benar-benar tercekak kini dan nafasnya mulai tertahan sejanak terlihat sekali tersendat-sendat. Ponsel Kenichi bergetar tepat waktu dan itu membuat Kenichi sedikit merasa lega terhadap ponsel itu.

” ada apa?” tanya Kenichi kin telah berada di taman kecil dekat perkarangan rumahnya. Dirinya berdiri dinatara semak-semak hujau tua yang lebat dan disamping ayunan kayu. ” kita jalankan rencana besok sore bagaimana?” tanya sang penelpon. Kenichi sedikit mengingat kembali rencana apa yang akan dilakukan. ” jangan katakan kau lupa akan rencana kita,” tebak sipenelpon. ” yah, aku tidak mengingatnya karena baru saja aku mengalami kondisi tercekak oleh pertanyaan Min Seo,” jawab jujur Kenichi membuat sipenelpon menghembuskan nafas kesalnya.

” membunuh Kim Bum dekat dengan toko dimana sewaktu dirinya menusuk diriku. Kita melakukan ini berdua saja karena Woo Bin sedang menyusun rencana lain untuk perusahaan milik Kim Bum di Perancis,” Kenichi tersenyum miring mengingat hal itu. Rasanya sudah tidak sabar tangan nya membunuh Kim Bum dan menginjak-injak tangan itu agar sang ahli pianist hilang dari Koea ini bahkan dunia ini.

” aku mengerti Min Hyuk. Kita akan melakukan ini dengan sangat terampil nanti,” Kenichi mengecilkan suaranya karena tidak ingin Min Seo mendengar dan mengacau segala rencananya ini. Sambungan terputus dan Kenichi sepertinya sudah jauh lebih baik untuk menghadapi pertanyaan Min Seo.

Dari kejauhan Min Seo mencoba mendengarkan pembicaraan Kenichi namun ternyata tidak berhasil karena suranya terlalu kecil. Berkali-kali Min Seo mengerutkan keningnya mencoba fokus mendengarkan namun percuma tetap saja suara itu tidak mampu didengarnya dengan baik.

” kau bicara dengan siapa ayah?” tanya Min Seo mengerutkan keningnya dan manaruh rasa curiga.
” teman ayah. Dirinya berkata besok sore ingin bertemu ayah. Kami merupakan teman lama,” dusta Kenichi menikmati teh hangatnya dimusim semi ini. Dirinya nampak begitu yakin Kim Bum akan segera berakhir dalam waktu dekat ini dan tidak akan ada lagi masalah yang harus terus menjadi kelam.

Min Seo bukanlah wanita yang mudah percaya begitu saja. Dalam hati Min Seo masih meragukan hal itu. Namun kali ini Min Seo mencoba bersikap biasa didepan ayahnya.

Seminggu yang lalu Kenichi dan Min Hyuk merencanakan suatu rencana tanpa sepengetahuan Woo Bin. Mereka berdua tahu dengan pasti bahwa Woo Bin pasti akan menjadi beban jika mengetahui hal ini. Pembunuhan pasti akan terulur kembali jika Woo Bin tahu hal ini. Lagi pula jika Kim Bum mati Woo Bin akan hidup tenang meskipun menyimpan luka. Min Hyuk dan Kenichi tidak meperdulikan hal itu karena yang diperdulikan mereka berdua saat ini adalah Kim So Eun dapat bebas dan tidak lagi terlibat dalam lingkungan Kim Bum.

=====*******=======

Musim semi benar-benar indah sekali dan Min Seo dapat merasakan kehangatan itu. Dirinya ingin merasakan kebebasan sejenak dan mencoba terlepas dari masalah pekerjaannya yang berat itu. Kini dirinya berjalan-jalan didaerah gereja dekat dengan berbagai macam pertokoan. Tidak ada niat untuk membeli sesuatu hanya untuk melihat-liht saja dan menikmati udara Soeul dimusim semi.

Banyak tanaman yang mulai berubah warna dibagian daunnya dan terlihat sangat menyegarkan mata. Min Seo sangat sedih sekali jika mengingat kalung Rosario yang terpasang di gereja itu karena So Eun sangat menyukai Rosario tu.

Tanpa sadar Min Seo melihat seorang pria berjalan seorang diri dengan jas yang dilepas dan dipegang serta kemeja panjang telah digulung sebagian. Min Seo tersenyum lebar melihat pria itu yang sepertinya baru keluar dari dalam gereja dan terlibat obrolan kecil dengan pendeta tua itu. Kim Bum, nama pria itu mampu diingat jelas oleh Min Seo. Min Seo baru sadar didalam gereja itu baru saja ada beberapa anak remaja yang dibabtis dan Kim Bum memainkan piano dengan sukarela untuk mendukung acara suci itu.

” hai..” sapa Min Seo mendekati Kim Bum dan menghentikan langkah Kim Bum untuk kembali kedalam mobilnya. ” Anda..” Kim Bum sedikit ragu mengenal karena sedikit merasa tidak sehat saat ini.

” Min Seo, Kim Min Seo nama ku,” jawab Min Seo dengan wajah berbinarnya dan sifat manjanya itu. Kim Bum hanya tersenyum kecil. ” oh, nona Min Seo ternyata. Apa yang Anda lakukan disekitar sini?” tanya Kim Bum mencoba ramah. Sejujurnya Kim Bum merasakan pusing dan ingin cepat kembali ke kantor.
” tidak ada. Aku hanya jalan-jalan mencari udara segar. Kau sendiri, apa yang kau lakuakan?”

” aku hanya bermain piano sedikit tadi karena pendeta itu datang kekantor ku dan meminta bermain,” jawab Kim Bum apa adanya tanpa tambahan apapun. Jika sudah seperti ini Kim Bum akan benar-benar terlihat malas melayani hal keramahan. ” benarkah? Wah berarti kau kesayangan bapak pendeta sama dengan So Eun,” jawab Min Seo membuat Kim Bum tertarik dan merasa kan kaget sedikit.

” So Eun? siapa wanita itu?” tanya Kim Bum hati-hati dan besikap tenang. Tubuhnya kembali ditegakkan dan jasnya dimasukkan kedalam mobil. ” dia adik ku dan sekarang dia tidak tahu dimana keberadaannya,” Gila, Kim Bum melebarkan matanya menagkap sebuah fakta. Adik? Oh tidak, Kim Bum mengetahui hal itu dengan cepat. Tapi Kim Bum masih ragu apakah So Eun adalah orang yang sama dengan yang ada dirumahnya.

” benarkah? Tapi kurasa lebih cantik dirimu dibanding dirinya. Boleh aku melihat fotonya? Aku yakin lebih cantik dirimu nona Min Seo,” ujar Kim Bum tersenyum ramah dan mengelus pipi Min Seo membuat Min Seo salah tingkah dan merona. Min Seo segera mencari galeri diponselnya dan menunjukkan wajah So Eun.

Kim Bum tidak dapat biacara apapun. Rasanya hatinya kini terlalu bergejolak. Ternyata Kenichi memiliki dua orang putri dan dua-duanya terlibat dalam lingkungannya tetapi dalam keadaan yang berbeda. Jika So Eun mengenal sifat iblis nya maka Min Seo mengenal sisi malaikatnya. Kim Bum tersenyum kecil memandang foto itu. Disana So Eun nampak seperti seorang wanita yang sangat indah. Dengan dress putih dan rambut mengembang sedikit dan senyum menawan. Kim Bum akui jika So Eun sebenarnya lebih cantik dari Min Seo. Tapi tunggu, Kim Bum tidak akan mengakui itu untuk menarik perhatian Min Seo.

” kau tahu dimana adik mu sekarang? Apakah kau sudah mencoba bertanya pada ayahmu?” tanya Kim Bum memancing Min Seo. Min Seo menggeleng kecil dan raut wajahnya terlihat sedih. ” ayah hanya mengatakan bahwa So Eun saat ini berada dirumah temannya dan aku tidak tahu siapa itu,” ujar Min Seo dan itu membuat Kim Bum menahan tawanya.

” teman? Aku rasa itu mungkin saja benar. Aku senang dapat berbincang dengan mu. Apakah kau ingin kuantar pulang? Sekalian aku ingin kembali kekantor. Selain menjadi seorang pianis aku juga seorang busnissman,” ujar Kim Bum dan dengan cepat Min Seo mengangguk lembut. Kim Bum benar-benar telah merasa banyak sekali umpan untuk membuat Kenichi mati secara perlahan-lahan. Oh tidak… hati Min Seo semakin besar untuk Kim Bum dan cintanya semakin bertambah atas perhatian Kim Bum dan elusan tangan itu.

Kim Bum melakukan itu hanya lah untuk permainannya saja dan dirinya sepertinya melalaikan dampak bagi hati Min Seo itu. Cinta, lagi-lagi dua orang wanita terlibat untuk menyimpan nama Kim Bum. Kim Bum tahu, yah dirinya tahu Min Seo mencintainya atas pengakuannya sewaktu itu. Tapi mengapa? Mengapa hanya So Eun yang dipaksa untuk menghapus namanya? Apa yang menjadi pembedaan dalam hal ini? Bukankah sama saja kedua wanita ini sama-sama putri Kenichi??

Mobil sedan mewah itu telah sampai disebuah rumah yang kecil dan banyak ditumbuhi tanaman. Perumahan khas Jepang terlihat sangat mencolok. Kim Bum keluar dari mobilnya disaat Min Seo keluar dari mobilnya. Kim Bum membalas senyuman itu dengan ala kadarnya. Senyuman yang dengan penuh kemalasan.

“gumawo Kim Bum shi. Maaf merepotkan mu,” ujar Min Seo sangat manis. Kim Bum hanya mengangguk saja dan menganggap itu hanyalah hal sepele. Kenichi yang baru keluar dan membawa pot bunga langsung gemetar ketika mendapati sosok Kim Bum berdiri di depan rumahnya dan bersama putri nya itu. Pot yang terbuat dari tanah liad itu hampir saja terlepas dari genggamannya. Kim Bum tersenyum lebar menatap Kenichi membuat Kenichi inginberterik dan mengarahkan segala benda tajamnya.

” baiklah nona Min Seo aku pergi dulu. Sampai ketemu kembali,” kata Kim Bum dan Kenichi masih gemetar hebat di tempatnya berdiri. ‘ apa lagi, apalagi yang terjadi? Permainan apa lagi yang dilakukan pria itu?’ batin Kenichi yang terus tertekan karena ketakutan. Kedua putrinya ternyata telah jatuh ketangan Kim Bum.

========*******========

Malam ini banyak sekali bintang dilangit dan itu membuat So Eun sedikit terhibur dari segala beban deritanya. Tangannya berkali-kali ia lipat dan sitaukan lalu berdoa. Memanjatkan doa dibawah hamparan bintang-bintang mungkin lebih baik dibanding harus mengingat luka itu dan berakhiran dosa besar. Dibalkon kamar besar itu So Eun berdiri menikmati desiran angin malam yang menyapu wajah mulus nya dan menyibakkan rabut halusnya yang telah kembali terjuntai lembut.

Sudah pukul delapan malam dan So Eun sama sekali tidak bisa tidur. Lagi pula Kim Bum belum kembali dari kantornya itu. Dalam panjatan doa So Eun mengingat wajah Kim Bum dimalam itu. Dimana Kim Bum berkata bahwa kehidupan dirinya dan Kim Bum berbeda. Ada makna tersirat didalamnya. So Eun kembai membuka matanya disaat ada suara langkah kaki yang baru saja membuka pintu kamar itu.

So Eun tidak peduli, dirinya kembali memejamkan matanya itu dan membiarkan orang itu masuk karena ini memang kamarnya.

Kim Bum melempar jas nya dan melihat balkonya terbuka lebar. Ternyata disana ada So Eun yang sepertinya sedang menikmati udara malam. Senyuman kecil kembali diukir Kim Bum jika mengingat Min Seo adalah saudara kandung So Eun. So Eun pasti akan sangat terkejut jika kakaknya itu pun masuk kedalam kepermainannya ini.

Tapi tunggu, Kim Bum lagi-lagi terdiam. Kenapa rasanya begitu sulit? Apanya yang sulit? Melihat So Eun terpejam dan rambutnya tersibak angin membuat Kim Bum berpikir akan malam itu. Tidak ! Kim Bum tidak ingin mengingat hal itu. Cukup lama Kim Bum berdiri memperhatikan So Eun sampai So Eun membalikkan tubuhnya menatap Kim Bum.

Wajah So Eun dan Min Seo memang sekilas sama dan Kim Bum baru menyadari itu. Tapi tetap saja ada yang berbeda. So Eun lebih membuatnya merasa bimbang untuk tetap menyimpan nama untuknya. Kim Bum tidak ingin So Eun menyimpan namanya, tidak ingin. Sebenarnya Kim Bum tidak ingin siapapun menyimpan namanya akan tetapi So Eun, wanita ini lebih membuatnya takut. Takut jika nama itu tetap disimpan dan jika takdir berkata lain akan menimbulkan luka.

So Eun sengaja menatap arah lain karena merasa muak dengan Kim Bum, hatinya masih menyimpan luka. Kim Bum mendekati arah So Eun dan tidak diperdulikan So Eun sama sekali. Hangat, hangat sekali rasa itu memenuhi peredaran darah dan lapisan kulit So Eun saat merasakan Kim Bum memeluknya. Tapi semakin lama pelukan itu membuat pernapasan So Eun sesak dan kedua payudaranya begitu sakit tertekan dan didesak dada bidang Kim Bum. punggungnya terjepit oleh teralis besi dan membuat Kim Bum mengencangkan pelukkanya itu.

” le lepaskan,” ujar So Eun yang sangat susah mengatur nafasnya. Kim Bum tersenyum miring.
” bukankah kau mengatakan tidak ingin berdamai dengan ku? Maka aku tidak akan melepaskanmu !.” ujar Kim Bum lagi-lagi tersenyum menyebalkan.

Kim Bum mencium kasar bibir So Eun dengan sangat cepat. Ciumana yang begitu terasa panas dan sepertinya alcohol sangat menyengat dari mulut Kim Bum. So Eun menangis, kembali menangis mengingat malam kemarin. Ini gila, So Eun tidak ingin menambah dosa lagi. Apakah Kim Bum memang sejahat itu dan benar-benar menjadikannya boneka ranjang. Jika saja suau saat ada yang lahir dari rahimya, apakah itu tidak akan menambah beban bagi kehidupan sang pianist ini.

” ssshhhh achhh…, aaaahhhh !!” teriak So Eun saat Kim Bum sudah merasuki tubuhnya. Robek, hati itu robek kembali saat ini. Harusnya itu menjadi sebuah pembelajaran bagi Kim Bum namun mengapa ini semua kacau.

” jangan lakukan lagi.. lepaskan aku.. kumohon..” pinta So Eun tapi Kim Bum terus melakukan aksi gilanya. ” hiks hiks.. and.. dwehh.. ach..”

Kim Bum memulai aksinya langsung memainkan kewanitaan So Eun dan meremas remasnya serta mengocoknya. Payudara So Eun dinikmati dengan dihisap dan dpelintir kasar membuat rasanya nyeri menjadi satu antara luka. ” ach ach.. sssh” desah So Eun saat Kim Bum melebarkan kedua kaki So Eun dan menjilati kewanitan So Eun tiada henti sampai So Eun klimaks terlebih dahulu.

” aaachhh.. ahh… akkkhhh ouch.. ahhhhh!!” So Eun berteriak histeris saat lagi-lagi sperma itu terasa hangat didalam rahimnya. So Eun ingin sekali mencaci Kim Bum tapi sayang Kim Bum sudah terlelap dari mimpinya setelah menikmati tubuhnya untuk kedua kalinya. Jijik ! So Eun merasakan mua yag luar biasa saat ini. So Eun memukul dadanya bertubi-tubi hingga dadanya berwarna merah. Ia berteriak berkali-kali memukul diri Kim Bum. Peruma Kim Bum telah terlelap. Kim Bum terlelap tanpa satu katapun setelah merobek luka lagi.

” BRENGSEK !!!!!” teriakan keras terdengar walau nafas masih memburu. Andai saja Kim Bum terjaga mungkin Kim Bum akan melihat betapa So Eun frustasi kini. Apa yang terjadi? So Eun ingin menghalangi sentuhan Kim Bum namun Kim Bum bergerak cepat memasukkan miliknya kedalam milik So Eun. Kim Bum tidak melakukan permulaan dan hanya memasukkan cairan itu kedalam rahim So Eun. Dua kali, mau sampai berapa kali caran itu tertanam dirahim tidak berdosa !

========*******======

Terdiam cukup lama diri Kim Bum diatas ranjang dengan kindisnya dan kondisi So Eun. Ia pegang kepalanya yang teramat sakit sekali. Wanita itu terus menangis histeris dan terus menarik-rambut lurusnya. Kim Bum terdiam sangat lama. Lebih lama disaat pertama kali ia melakukanya. ” kenapa kau tega pada tubuhku? Kenapa tidak kau robek saja hati ku untuk mengapus namamu,” ujar So Eun namun matanya memerah menahan amarah.

Kim Bum meremas rambutnya dengan semua kegilaanya. Kenapa hal ini dirinya kembali lakukan. Kenapa harus terulang lagi ! Apa yang dirinya lakukan sebenarnya? ” apa yang kulakukan memang semalam?” tanya Kim Bum seolah-olah tidak memiliki dosa terhadap tubuh rapuh itu. Semua terasa seperti lautan kebencian dan tidak ada penengah diantara mereka. ” BAJINGAN TENGIK ! KAU SUDAH MENIDURI DIRIKU DAN KAU MASIH DAPAT BERKATA SEPERTI ITU!! SEBENARNYA HATI MU TERBUAT DARI APA!!” teriak So Eun dan itu membuat Kim Bum terhentak hatinya. Terbuat dari apa hatinya? Apakah memang dirinya iblis? Benarkah seperti itu? dalam seumur hidup inilah pertama kali Kim Bum tersentak dalam suatu ucapan selain ujaran ibunya yang keras sewaktu dulu.

” baik ! aku sudah menyerah dengan hati ku! Bisa kah kau mengabulkan keinginan ku? Aku ingin kau membuat sebuah gereja Katholik dirumahmu dan panggilkan pendeta untuk mendoakan gereja itu. Aku ingin tenang. Bisakah?” pinta So Eun sangat lembut. ‘Gereja? Pendeta??’ Kim Bum benar-benar kacau. ‘Seperengkat itu bukankah menandakan akan adanya suatu ikatan bagi sepasang insane saling mencintai. Sebuah pernikahan bukankah membutuhkan Gereja dan Pendeta? Tapi ini berbeda Kim Sang Bum, dia meminta untuk tenang sedangkan dirimu bahkan bertahun-tahun tidak dapat tenang ‘ Kim Bum berpikir dan kembali meremas rambutnya. Kenapa begitu sulit hidupnya. Bahkan Kim Bum sudah berjanji pada mendingan neneknya bahwa seperangkat itu akan dirinya ciptakan untuk sebuah pernikahan. Pernikahan bukan ketenangan semata !!

Lagi, apakah harus melanggar janji lagi?? Mengapa harus So Eun lagi yang menjadi sebuah ancaman masa depannya. Siapa So Eun sebenarnya? Sehebat itukah So Eun dalam merubah arah kehidupannya. Pikiran Kim Bum kosong kini dan berkali-kali ia meremas-remas rambutnya. Tarikan nafas berat dan hembusan nafas yang sangat sulit itu berulang kali Kim Bum lakukan. Kedua mata So Eun dapat melihat Kim Bum bergerak memakai pakaiannya. Kim Bum tidak banyak bicara dan So Eun yakin jika Kim Bum mengalami sedikit kesalahan mental belakangan ini. Tato sayap burung rajawali berwarna coklat itu dapat So Eun lihat dipundak kiri Kim Bum. Sepertinya tato itu pemberian seseorang karena terdapat huruf K di pinggir-pinggirnya. So Eun dapat pula melihat leher Kim Bum yang memerah. Sepertinya Kim Bum baru saja alergi. Namun So Eun tidak akan pernah peduli lagi. Sudah cukup rasa itu membodohi dirinya.

Kim Bum menangkap So Eun yang menatapnya tajam dan yang dapat Kim Bum lakukan hanyalah terdiam. Dua kali ini terjadi dalam keadaan emosi tidak terkontol. Kim Bum menerima pesan dari seseorang yang membuatnya segera memakai kaos putihnya dan pergi kekamar mandi untuk membersihkan wajahnya dan menggosok gigi tanpa harus mandi terlebih dahulu. So Eun ingin menjerit rasanya. Namun sebelum jeritan itu terdengar Kim Bum menatapnya sangat terarah. ” bisakah kau jangan membahas masalah ini. Aku malas membahas nya,” ujar Kim Bum sebelum memasuki kamar mandi.

Jam dinakas sudah menunjukkan pukul delapan pagi dan itu membuat So Eun tambah membenci suasana pagi. Balkon yang terbuka terlihat sangat sejuk dan matahari terlihat menjulang dipermukaan langit cerah. So Eun melihat betapa cerah pagi yang sangat mencekam ini baginya di ambang balkon yang semalam tidak tertutup itu. Mengapa air mata harus kembali terurai dimusim yang romantic ini? So Eun menangis dalam diam melihat burung gereja sudah berteduh dibalkon Kim Bum yang besar itu.

======*******======

Pesan singkat mengenai perusahaan Kim Bum yang berada di Amerika sedang dalam keadaan yang tidak terlalu baik. Disana terdapat penurunan yang tidak parah hanya perlu perbaikan sedikit. Kim Bum melepas tangung jawabnya di Amerika demi balas dendamnya. Bukan ! munafik jika itu benar. Sayangnya Kim Bum terfokus pada penyiksaan terhadap Kim So Eun ini yang mengulur waktu panjang. Robert melihat Kim Bum yang kusut pagi ini dan leher Kim Bum sedikit memerah. Robert tahu Kim Bum pasti alergi sesuatu. Kim Bum sangat membenci makanann seafood terutama kepiting dan itu akan membuat tekanan darahnya menurun.

Lantas siapa yang memberikan Kim Bum makan kepiting? ” kau makan kepiting, Tuan muda?” tanya Robert membawakan Kim Bum secangkir kopi. ” semalam aku salah makan. Aku makan seafood karena aku lapar,” jawab Kim Bum cuek. Bodoh ! itu yang ingin dikatakan Robert. Kim Bum seperti seorang yang lupa akan diri sendiri. Robert menangkap dileher Kim Bum sebelah kiri terdapat cakaran kuku seorang wanita. Pikiran Robert langsung tertuju kepada So Eun. Goresan itu sepertinya belum lama terjadi karena masih merah dan lembab.

Kim Bum mengusap wajahnya sedikit kasar. Pagi ini sangat buruk sekali baginya. Bahkan secangkir kopi tidak dapat membuatnya tenang. ” kau melakukan itu kembali,” ujar Robert menebak. Kim Bum menghentikan aktifitasnya dan menarik nafas. ” sinting ! kau benar melakukannya lagi?” tanya Robert memastikan. Sekali saja sangat menghancurkan, bagaimana mungkin Kim Bum mengulanginya lagi.

” Kau sadar apa yang kau lakuakn Tuan Kim Bum ! Kenapa kau mengulanginya ! APA OTAKMU SUDAH RUSAK? APA HATIMU MULAI RAGU!!” sungguh Robert tidak dapat menerima hal ini. Kim Bum sangat konyol dan gila. ” sudahlah tidak perlu dibahas. Setelah Kenichi tewas aku akan melepasnya. Lagipula tidak akan ada yang terjadi berapa kali pun aku melakukan itu,” ujar Kim Bum dingin. Kim Bum melempar dokumen yang tadi dipegangnya dan dilemparkan kearah wajah Robert dengan kasar.

” jangan ikut campur masalah ku dengan wanita itu. Kau hanya perlu membantu masalah kematian orang-orang itu,” Oh Tuhan.. Robert sangat ingin membangkitkan mayat Johanna jika saja itu mungkin. Kim Bum sudah benar-benar berubah. Sangat berubah. Kehidupan apa yang ia rencanakan ini.
‘bagaimana jika bayi itu lahir? Sanggupkah kau menepati janji mu pada ibu mu? Aku takut, aku takut kau melarikan diri dan merelakan segala yang ada.. Aku takut kau lepas tangan jika itu terjadi,’ batin Robert menatap punggung Kim Bum memasuki kamar lantai satu. Kamar milik Kim Bum selain lantai atas.

======******=======

Waktu sudah menunjukkan pukul Sembilan pagi dan Kim Bum sudah nampak rapi dengan kemeja putihnya berlengan panjang dan jeans pensil biru dongkraknya. Tanpa dasi dan tanpa jas Kim Bum berpenampilan kini. Amber yang melihat itu merasakan begitu terpukau. Kim Bum sangat tampan dan bgitu gagah dengan segala karismanya. Amber mengakui telah jatuh terlalu dalam untuk mengagumi sosok Kim Bum.

Kim Bum tersenyum kecil melihat Amber saat berdiri dihadapanya dan tersenyum. ” aku akan pulang sedikit larut dan bisakah kau bersikap lebih baik,” ujar Km Bum kepada Amber dan wanita itu mengangguk senang. Perasaanya begitu bahagia Kim Bum bersuara lembut. Namun berbeda dengan So Eun. wanita itu begitu membenci Kim Bum dan segala apapun yang dipaparkan Kim Bum. Amber melihat raut wajah So Eun yang kesal itu. Rasa benci Amber semakin besar dengan So Eun karena dirinya tahu Kim Bum sedikit bersimpati pada wanita itu.

” kau akan sangat sibuk Tuan?” tanya Amber. Kim Bum hanya mengangguk dan berjalan kearah dapur. Disana terdapat So Eun yang sedang menuang air putih kedalam gelas. ” apa yang ingin kau lakukan?” tanya Kim Bum saat melihat So Eun menghidupkan kompor gas. ” memasak. Aku tidak ingin memakan masakan orang-orang yang terlibat dengan mu,” ujar So Eun sinis. So Eun sudah nampak cantik dengan baju yang dibelikan Chrystal beberapa hari lalu. Janne yang memilihkan model itu dan sepertinya tidak terlalu buruk untuk ukuran wanita seperti So Eun.

” kau ingin makan apa?” tanya Kim Bum. Pertanyaan yang tidak terdengar bersahabat namun sepertinya akan sedikit berdamai. ” apapun itu yang terpenting bukan tangan anggota iblis yang membuat,” ujar So Eun matanya itu melirik Kim Bum yang menaruh gelasnya dimeja dapur. ” aku yakin masakan mu akan buruk rasanya. Kau tipe wanita penjaga bunga bukan penjaga selera. Ingin makan apa?” tanya ulang Kim Bum.

Diam-diam Tatsuya mendengar percakapan itu dan tersenyum kecil. Ini seperti Kim Bum yang dulu ketika Kim Bum baru belajar memasak dan Johanna memukul tangan Kim Bum jika rasanya tidak enak.
” aku akan marah jika kau membatu,” ujar Kim Bum menggulung lengan kemejanya yang putih bersih itu.
So Eun berpikir sejenak. Benar, dirinya memang tidak ahli memasak. Dikedai dirinya hanya membantu membuat kopi bukan masakan makanan. Bagaimana mungkin Kim Bum mengetahui hal itu?

So Eun sedang diam menunduk berpikir sesuatu. Melihat daftar sayuran saja belum bagaimana mungkin So Eun dapat berdusta mengenai masakan yang akan dibuatnya. Suara-suara aneh mulai terdengar dan itu membuat So EUn terganggu. Ternyata Kim Bum mengeluarkan beberapa telur, mentega, brokoli, wortel, daging sapi, dan beberapa bumbu dapur seperti rempah-rempah, ada pula cabai dan bawang merah dan putih. Apa-apaan ini, Kim Bum sang pianist yang kejam mengeluarkan hal seperti itu? Mata So Eun tidak dapat berkedip sedikitpun dan Tatsuya yang mengintip sedikit merasakan kehangatan.

Dulu sewaktu Kim Bum remaja berusia enam belas tahun Tatsuya pernah mendengar bahwa Kim Bum ingin sekali pandai memasak untuk orang yang dicintainya. Ia ingin menjadi seorarang koki handal selain pianist dunia seperti Johanna. Tatsuya berlinang air mata ketika melihat itu. Kim Bum mencuci semua sayuran itu dengan gerakan cepat namun bersih. Dahulu pula ketika Johanna masih sehat pernah berkata bahwa Kim Bum harus tumbuh menjadi pria kuat yang dapat dihandalkan. Tatsuya meneteskan air mata. Jika saja Johanna masih hidup mungkin tangan Kim Bum akan diuji.

” apa yang kau lakukan?!” teriak So Eun sedikit gugup ketika Kim Bum mengambil pisau didepan So Eun sehingga itu membuat So Eun berpikir Kim Bum seperti ingin memeluknya dari belakang. ” kau sendiri, apa yang kau lakukan? Diamlah jika ingin kenyang !.” ujar Kim Bum. Kim Bum mulai memotong sayuran itu. ‘ hati ku kembali berdesir kini. Mengapa begitu cepat berganti-ganti rasa ini,’ batin So Eun menatap Kim Bum. ” jangan melihat ku. Kau bisa bertambah jauh menyukai ku !.” ujar Kim Bum. Ujran itu rasanya membuat So Eun damai. Hanya sedikit, hanya sedikit saja terasa damai.

Lima belas menit So Eun berdiri kaku didapur melihat Kim Bum memasak dengan cepat sekali. Masakan itu begitu terlihat lezat dan susunannya yang indah. Sepertinya Kim Bum membuat beberapa menu.
” terserah ingin dimakan atau tidak, aku sedang tidak ingin memaksa mu ” Kim Bum tidak berkata lagi setelah itu. Tuhan,, hati So Eun semakin dalam menyimpan nama pria ini. Pria yang telah dirinya anggap musuh Tuhan terbesar. Kim Bum mencuci tangannya dan mengambil ponselnya keluar dari dapur.
” Janne jemput aku dirumah karena aku ingin ke toko,” ujar Kim Bum pada wanita lamanya itu.

So Eun masih tidak mempercayai apa yang telah Kim Bum lakukan itu. Masakan ini benar-benar lezat dan aromanya sangat menggugah selera. Kim Bum memang dapat mengelabuhi siapa saja dengan kemampuannya itu. Tidak salah Kim Bum lahir dari rahim Johanna si wanita luar biasa yang harus berakhir dengan tradis. Ini hal gila yang Kim Bum lakukan selain semalam. Apakah Kim Bum sehebat itu menguasai peran. Peran pianist, koki, mafia, apa lagi ? Sungguh tidak dapat ditebak. So Eun menghentikan makannya ketika mengingat saat Kim Bum kesulitan memegang pisau karena telapak tangannya yang terluka masih nyeri. Tapi So Eun merasa masa bodoh saat itu dan kini ada rasa sesal sedikit yang dirinya rasakan.

Ia nikmati sarapannya itu dengan rasa bercampur aduk. Amber merasakan panas luar biasa. So Eun sudah benar-benar membuat Amber mendidih sepertinya hingga wajah wanita itu memerah kesal.

======*******=======

Petang sudah datang dan musim semi sudah berubah arah jarum jam. Jalan kota Seoul sedikit sepi karena malam ini bukanlah malam sabtu atau minggu. Anak pelajar besok akan memasuki ujian awal dimusim semi. Kim Bum baru pulang dari toko itu ditemani dengan Janne. Kim Bum bukan nya merasa jenuh sendirian, hanya saja tangannya sedang keram dan kepalanya sedang berat untuk ditegakkan. Janne cukup khawatir dengan keadaan Kim Bum tapi jika dirinya bertanya pasti Kim Bum akan menjawabnya dengan singkat seperti orang malas untuk menjawab.

” berhenti sebentar. Biarkan aku yang mengemudi,” ujar Kim Bum mendadak membuat Janne mengerutkan keningnya. Kim Bum melihat seperti mengenal mobil dibelakangnya yang mengikutinya. Ia hafal mobil itu dengan baik sepertinya. Kim Bum mengambil ahli kemudi itu dan berbelok arah ketempat yang sepi.

” mengapa berhenti disini Tuan?” Janne begitu binggung dengan ulah Kim Bum yang memberhentikan laju mobilnya dipinggiran rerumputan tempat yang sepi. Sebuah tikungan dimana dulu dirinya pernah berkelahi dengan seorang wanita dan peristiwa itu menjadi awal So Eun terlibat dalam dunianya. ” kita lihat sepertinya ada tamu,” ujar Kim Bum tersenyum sinis dan keluar dari mobil.

Tikungan itu sungguh sepi dan gelap. Hanya diterangi lampu jalanan yang sudah pudar. Udara dingin langsung dapat Janne rasakan seketika itu juga. Berkali-kali Janne mengerutkan keningnya mencari tamu yang dimaksud Kim Bum. sepuluh menit berlalu dan benar saja sebuah mobil berhenti dibelakang mobil Kim Bum dan keluarlah dua orang pria berbeda usia.

” benar bukan perkataan ku. Lihat penggemar ku mengikuti ku,” ujar Kim Bum menatap tajam Kang Min Hyuk dan Kenichi yang seperti sudah tidak sabaran menghabisi nyawa Kim Bum. Kim Bum belum memulai sesuatu tapi suara keras itu sudah menggema membuat Janne membesarkan matanya dan jantungnya berdetak sangat cepat.

Suara peluru terlepas dari pistol dengan cepat. Bukan suara itu yang menjadi pertanyaan tapi siapa yang terkena itu. ” kau akan mati Kim Sang Bum !!” ujar Kenichi mendekati Kim Bum. Janne dengan gerakkan takut melihat Kim Bum disampingnya yang ternyata masih berdiri tegak. Baru saja akan menghembuskan nafas lega tetapi matanya langsung memerah saat melihat kemeja putih itu berubah menjadi warna merah pekat.

” tembakan yang bagus. Sayang belum mengarah kebagian yang tepat !” ujar Kim Bum lantang. Min Hyuk begitu gemetar karena Kim Bum masih dapat mengoreksi penembakan itu dan tidak terjatuh.
” kau masuklah kedalam mobil. Jangan keluar sampai kedua tangan ku menyentuh tanah,” ujar Kim Bum dingin. Tatapan tajam itu membuat Janne mengerti bahwa Kim Bum sudah benar-benar serius. Janne benar-benar takut dengan kondisi Kim Bum yang kurang sehat ini menghadapi seseorang tanpa senjata apapun.

” sial, kalian sungguh bedebah berani bermain curang. Baiklah itu tidak masalah bagiku,” ujar Kim Bum melipat lengan kemejanya dan menghirauan darah yang mengalir dibahu kanannya itu. ” Kau akan mati Kim Bum. Aku pastikan ini adalah hari terakhirmu dan menjadi hari terakhir kau merasakan aroma rumput tumbuh,” percaya diri, sungguh sangat percaya diri Min Hyuk berucap. Kenichi dan Min Hyuk mulai mendekat kearah Kim Bum dan Kim Bum hanya terdiam melihat mereka mendekat.

” kau berani membunuhku Min Hyuk? Bukankah kau mencintai So Eun? Bagaimana jika aku mati maka wanita itu juga akan mati? Kau berani membunuh ku?” tantang Kim Bum menatap mata Min Hyuk sangat tajam. Min Hyuk mulai bergerak lambat membuat Kim Bum tersenyum miring. Kenichi bergetar hebat karena sudah tidak sabar menembakkan peluru itu dan menembus jantung Kim Bum. Tapi semua itu ditahannya sampai Min Hyuk memintanya. Dirinya selalu ingat jika Kim Bum bukanlah tipe orang yang sekali tembakan akan terjatuh.

” apa??!” pekik Min Hyuk. ” anak ku tidak akan mati !! kau yang akan mati bajingan !” teriak Kenichi membuat Kim Bum lagi-lagi tersenyum miring. ” benarkah? Bahkan putri mu itu sudah tergila-gila padaku. Bagaimana mungkin kau tega melihat anak mu menderita karena cinta,” inilah Kim Sang Bum, tanpa senjata namun masih tetap membuat lawanya bergetar hebat dan ragu. ” tidak!! So Eun hamba Tuhan yang setia dan dirinya tidak akan jatuh hati padamu !! Matilah kau Kim sang Bum …!!!”

Dor

Dor

Dor

Janne menutup kedua telingannya rapat-rapat tapi tidak menutup matanya. Suara tembakan yang begitu nyaring melengking tanpa jeda sedikitpun. Janne sudah bersiap akan keluar dan membuka pintu mobil saat melihat Kim Bum membungkuk dan berlari kearah Kenichi dengan gerakan yang cepat. Pikiran Janne sudah kacau malam ini. Petang sudah lewat dan sudah berganti dengan malam. Malam yang pekat dengan uadara yang tercekak.

” Tuan..” pekik Janne ternyata yang terjatuh bukanlah Kim Bum. Kenichi tergeletak berlumuran darah ditanah diatas rerumputan dan disela-sela ilalan yang pendek. ” paman Kenichi..!!” pekik Min Hyuk ketika tangan Kim Bum membalikkan arah pistol itu dan menembus perut serta paru-aru Kenichi dengan cepat. Kejadian itu begitu cepat tidak dapat Min Hyuk hentikan dan membela untuk melindungi.

Hening, sangat suram dan penuh kebisuan. Tidak ada suara yang keluar selain hembusan nafas berat yang semakin lama semakin sedikit yang dihembuskan Kenichi. Kim Bum berdiri tegak dan hujatan panas itu terlontar lagi. Kim Bum hanya terdiam menatap lurus kedepan tanpa ekspresi. ” Kim Sang Bum !!” teriak Min Hyuk histeris saat Kenichi semakin lama sulit bernafas dan mencoba untuk bertahan walau mustahil karena tiga peluru telah bersemayam didalam tubuhnya.

” k kau bi biadap.. a aku ber.. sum..pah di.. ke..ma..tian ku i..ini Tu..han a..akan mem..ba..las.. hhh.. m mu.. ” ujar Kenichi yang sanat prihatin. Kim Bum terdiam membisu. Mengapa harus seperti ini keadaannya. Kenapa membunuh lagi pada akhirnya. ” kau yang memulai pembunuhan ini. Aku sudah memperingatimu untuk membuat rencana jitu tetapi kau memaksa,” ujar Kim Bum sama sekali tidak menatap Kenichi yang berada dipangkuan Min Hyuk saat ini.

” K kau a akan me..merasakan.. p pa..hitnya.. hi..dup.. a a aku ber..sum..pah at..atas na..ma Tuhan.. Ki Kim Sang Bum.. !!”

Detik terakhir telah lewat dan nafas itu terhenti. Sebuah sumpah diucapkannya atas namanya.
” Tidak !!” teriak Min Hyuk histeris membuat Kim Bum menutup kedua matanya. Ia rasakan teriakan kehilangan itu. Teriakan sama seperti dirinya dahulu. Derai air mata yang pernah ia rasakan dahulu.
” kau berhasil membunuhnya Tuan,” ujar Janne dan itu hanya membuat Kim Bum terdiam dan memasuki mobilnya. ” kau akan mengemis akan sebuah kebahagian.. kelak kau akan berlutut meminta.. Aku bersumpah !! Kelak kau akan merasakan sakit luar biasa !!” teriak Min Hyuk dan berlari mengambil sebuah balok cukup besar dan memukul kepala bagian belakang Kim Bum yang hendak berbalik tadi.

” Tuan !!” kini giliran Janne yang berteriak. Kim Bum hanya tersenyum kecil dan tetap melanjutkan langkahnya menuju mobil sedangkan Min Hyuk sudah lemas tubuhnya. Kematian pertama kali yang dirinya saksikan secara langsung didepan matanya.

Didalam mobil Kim Bum terdiam dan ia senderkan kepalanya kearah kursi mobil. Darah itu membuat Janne ingin berteriak histeris. Kim Bum menutup matanya diwajah pucatnya itu. Kim Bum memejamkan matanya sangat rapat mengatur nafasnya yang tidak beraturan. Kepalanya yang sakit terpukul sangat keras dan tangannya yang keram tertembak. Tidak kalah buruknya dengan Kenichi. Kenichi sudah tenang sedangkan Kim Bum masih harus menanggung beban. So Eun, wanita itu pasti akan membunuhnya dan Min Seo pasti akan menjadi musuh besarnya.

======*******======

” Astaga,, Tuan!!.” Pekik Robert dan Tatsuya bersamaan saat Kim Bum memasuki rumahnya dengan wajah pucat dan kepala diperban. Janne memang sempat mengantarkan Kim Bum kerumah sakit untuk mengobati luka serius itu. Tapi Kim Bum tidak ingin menginap dalam rumah sakit, dirinya sangat benci tempat itu. Hanya langkah kosong yang dilakukan Kim Bum ketika memasuki rumah itu.

Semua hening tidak bersuara bahkan Chrystal yang biasanya akan manja menjadi bisu seketika. Hatinya tertusuk dengan keadaan Kim Bum saat ini. Kim Bum duduk disofa dan menutup kedua matanya dengan perlahan. Wanita pemegang pisau itu terpaku ketika melihat kepala Kim Bum berlilitan perban tebal. Darah masih keluar menembus perban itu.

” pendeta. Aku butuh seorang pendeta !” lantang, sangat lantang ujaran itu membuat keadaan dirumah yang besar ini begitu suram dan mencekam. Bahkan disaat dirinya tidak memungkinkan untuk bersuara Kim Bum masih mengingat janji seseorang. Janji adalah janji dan Kim Bum tidak ingin ingkar.

” apa, Pendeta. Apa lagi yang akan coba kau lakuan Tuan Muda !!” ujar Robert sedikit tinggi dan itu membuat Kim Bum membuka matanya cepat. Kepanasan akan kemarahan tersulut kini. Seorang wanita hampir saja menusuk Kim Bum jika saja dirinya terus melangkah mendekat dengan pisau runcing ditegakkan. Tidak, mungkin bukan itu maksudnya. Mungkin tangan itu hanya untuk memperkuat diri jika saja Kim Bum kembali marah.

” panggil kan saja pendeta !,”

” yang kau butuhkan dokter bukanlah seorang pendeta !,” ujar keras wanita berambut pirang dan kriting itu, wanita bernama Chrystal yang cantik. “jika kalian tidak ingin menghubunginya, baik aku akan menghubunginya sendiri. Keparat !!” Kim Bum mencoba meraih ponselnya di saku jeansnya itu. Robert mengerutkan keningnya dan tatapannya sungguh nanar kini.

” kau ingin mengabulkan keinginan ku ?” tanya wanita lembut itu. Wanita itu bahkan tidak mencoba menanyakan apa yang terjadi dan langsung menebak janji itu. Apakah itu tidak sakit dirasakan untuk Kim Bum. Kim Bum mencoba tersenyum kecil. Tatsuya sudah berlinang air mata dan semua berlinang kini. Sekuat apapun Kim Bum suatu saat dirinya pasti akan terjatuh dan senyuman itu entah tetap akan ada atau tidak jika keadaan berbeda.

” apa, Keinginan?!” tanya Tatsuya. Keinginan apa lagi ini, dirinya sungguh pusing dengan kehidupan Kim Bum. Begitu banyak janji yang harus ditepati dan banyak pula keinginan yang harus Kim Bum turuti sedangkan dirinya sendiri begitu terpuruk, Tatsuya tidak dapat berpikir dengan jernih saat ini.

Terdengar percakapan Kim Bum dengan seseorang dan sepertinya itu merupakan seorang pendeta. Memang suara Kim Bum begitu terdengar lemah namun tidak sedikitpun Kim Bum tersendat dalam biacaranya. Kim Bum melepas ponsel itu setelah sambungan terputus dan ponsel itu terjatuh kelantai. Kim Bum memegang kepala bagian belakangnya dan meremas sedikit. So Eun melihat itu mulai merasakan sakit teramat. Melihat Kim Bum meringis dan memekik kata ” ah..” pekikan rasa yang tidak dapat diutaran.

Kim Bum menggeser tubuh So Eun dengan cepat dan memasuki kamar tidurnya dilantai satu. Robert menangis, yah pria barat itu yang merupakan teman dekat Johanna tidak akan mungkin tega melihat anak sahabatnya yang sudah dianggap putranya sendiri seperti itu. Tidak ada yang tahu mengenai apa yang terjadi selain Janne karena Janne masih diam tidak angkat bicara.

=======******======

Kim Bum jalan sedikit tertatih karena tubuhnya tidak seimbang seperti hari-hari sebelumnya. Selang infuse masih terdapat dipergelangan tangan Kim Bum dan infuse itu diambil Kim Bum. Dirinya sangat tidak nyaman hanya terbaring dikamar besar itu. Dilihatnya suasana rumah sangat sepi karena semalam Kim Bum menceritakan itu semua kepada Robert dan Tatsuya beserta para wanita-wanitanya terkecuali So Eun. Tidak akan mungkin Kim Bum memberitahukan itu dengan cepat.

So Eun nampak baru saja turun dari lantai dua kamar milik Kim Bum yang besar dan banyak kode rahasia itu dijadikan sebuah gereja untuk So Eun, hanya untuk So Eun karena dirumahnya ini tidak ada orang yang setaat itu dalam beribadah. Pendeta sudah mendoakan tempat itu sebagai tempat suci walau ditempat itu pernah terdapat dosa.

So Eun melihat Kim Bum yang berjalan sangat pelan walau tegap. Langkah kaki Kim Bum sempat terserat tidak terangkat dalam berjalan. So Eun terus memperhatikannya dan Kim Bum ternyata berhenti di bar mininya itu. Kim Bum memang diam sedari tadi akan tetapi dirinya sangat awas terhadap sosok So Eun hanya saja Kim Bum sedang tidak ingin banyak bicara. Kepalanya sangat sakit nafasnya sedikit sesak jika terus meledak.

So Eun masih menjadi orang bodoh saat ini tidak mengetahui nasib ayahnya yang sepertinya sudah tiada itu. Seharusnya Kim Bum membiarkan So Eun bebas dan menghadiri pemakaman Kenichi, tapi Kim Bum tidak akan ingin membebaskan So Eun, belum berkeinginan dan entah kapan keinginan itu akan terlaksana. ” sepertinya lawan mu lebih tangguh,” ujar So Eun sepertinya bermaksud menghardik Kim Bum lemah dan tidak berdaya. Kim Bum hanya tersenyum tipis dibalik wajah pucatnya itu. ” kenapa memang jika lawan ku lebih tangguh? Kau bersedia membantu ku?” tanya Kim Bum meletakkan infuse itu diatas meja bar.

” cih, tidak akan sudi diriku membantu mu !” pekik So Eun seperti meludah. Kim Bum terdiam dan memedam rasa itu sendiri. Rasa sakit yang timbul secara sepontan. Kim Bum masih melihat reaksi So Eun saat ini yang seperti ratu dirumah ini, bergerak sesukanya. Kim Bum berpikir apa reaksi So Eun jika saja ayahnya tewas karenanya, apakah wanita ini akan berambisi gila mengalahkan kegilaannya saat ini. Bukankah wanita itu lebih berperasa??

Lama terdiam dan terduduk tidak ada aktivitas yang berlaku dan itu membuat Kim Bum memilih kembali kekamarnya. Kim Bum hampir saja terjatuh jika saja So Eun tidak ada dihadapanya. Tubuh Kim Bum tertahan tubuh So Eun. wanita ini dapat merasakan suhu tubuh Kim Bum bukanlah suhu tubuh yang dikatakan baik, terlalu dingin dan berkeringat. ” ternyata tubuh mungil mu kuat juga menahan tubuhku,” ujar Kim Bum mencoba kembali tegak. Sungguh rasanya So Eun ingin menangis dan memeluk tubuh Kim Bum. Memberikan kekuatan bagi Kim Bum. Semalam So Eun ingin sekali menemui Kim Bum dikamarnya namun pintu itu terkunci dan So Eun tidak tahu apa yang dibicarakan Kim Bum dan mereka semua.

” kau ingin susu?” tanya So Eun tiba-tiba. Setidaknya So Eun ingin berterima kasih atas gereja itu.
” aku tidak suka susu,” jawab Kim Bum singkat melanjutkan langkah pelannya menuju kamar. ” tapi waktu itu kau meminumnya,” So Eun bersuara lagi membuat Kim Bum ingin sekali menyumpal mulut itu. ” benarkah? Tapi aku tidak ingin minum. Sudah jangan pedulikan aku,” Kim Bum telah masuk kedalam kamarnya. Kim Bum merelakan kamar terbesarnya untuk sebuah gereja, sebuah tempat yang sangat diinginkan sang nenek untuk pernikahan kelak.

So Eun meneteskan air mata ketika Kim Bum memasuki kamar itu. So Eun mendengar suara piano yang lembut sekali. Kim Bum memang sedang bosan dan menghibur diri dengan teman sejatinya itu. Hidup serba sendiri tidak ada penopang membuat Kim Bum dibutakan oleh nada, sebuah nada yang tidak memberikan jawaban. Harusnya So Eun bisa saja melarikan diri dari tempat ini. Tapi itu tidak mudah karena So Eun terperangkap hati dan rumah ini menggunakan kode-kode yang tidak dimengerti dirinya. Kim Bum memang pernah diajarkan mengenai IT oleh Robert semasa sekolah menengah pertama hingga kelas dua sekolah menengah atas.

” sulit sekali membenci mu,” ujar So Eun terdengar lirih. Rasanya Tuhan begitu tidak adil terhadap hati So Eun yang diberikan nama Kim Bum. Namun ingin bagaimana lagi itu sudah terjadi saat ini bahkan beberapa saat ini. So Eun kembali kedapur dan membuat teh hangat serta jahe hangat untuk Kim Bum. So Eun sepertinya melupakan hal bahwa Kim Bum sedang tidak ingin minum apapun selain air mineral atau vodca tadi.

=======*******========

Robert sepertinya diminta libur hari ini oleh Kim Bum untuk menemani dirinya berbincang mengenai Kang Min Hyuk serta Woo Bin yang sedang mengarah ke Paris. Disana memang ada Pater dan Kim Bum tidak begitu yakin Pater teman perkuliahannya itu mampu menahan sendirian. Pater tidak ahli menembak hanya ahli mesin dan segala bentuk IT.

” kondisimu sudah cukup baik aku rasa. Bagaimana mungkin kau mengabulkan keinginannya membuat sebuah gereja disaat dirimu saja seperti itu,” ujar Robert membuka majalah dimeja kamar Kim Bum. Kim Bum sudah terlihat mampu lepas dari infuse walau kepalanya masih terdapat perban putih. Setidaknya darah itu tidak terus mengalir.

” aku mengelabuhinya dengan gereja. Aku rasa dirinya tidak akan tahu ayahnya tewas jika dirinya sibuk beribadah,” ujar Kim Bum mengambil pena nya yang bertinta merah itu untuk mengoreksi dokumen dan laba dari perusahaanya serta Mallnya itu. ” haha.. kau semakin cerdik saja Tuan muda. Aku membayangkan bagaimana jika So Eun tahu ayahnya tewas ditangan mu, aku rasa kau akan memulai debut sebagai mafia wanita,” gurau Robert sedikit namun tidak ditanggapi dengan baik oleh Kim Bum.

” aku tidak peduli apa yang dirinya rasakan. Aku rasa Min Seo cukup tertekan saat ini,” ujar Kim Bum dengan wajah dinginnya tidak terdapat empati sedikitpun. ” Min Seo, siapa itu?” tanya Robert menutup majalah busniss itu. ” putri pertama dari Kenichi. Aku ingin wanita itu dulu yang menderita seorang diri baru So Eun yang mengetahui ini,” Robert menggeleng-gelengkan kepalanya lebih dari tiga kali menandakan bahwa dirinya sangat tidak percaya dan tidak menyangka jika Kim Bum dapat seperti ini.

Diluar sana, diluar pintu itu So Eun terdiam. Wanita itu meneteskan air matanya dalam sekejap saja. Telinganya rasanya langsung tuli ketika mendengar kalimat yang meluncur dari mulut Kim Bum itu. Sebuah kenyataan yang mencekam membuat So Eun bahkan kesulitan untuk mengatur nafas dan menarik sebuah kesimpulan.

Telinganya dirinya coba untuk ditutup tapi So Eun memaksa dirinya untuk tetap mendengarkan pembicaraan dari kamar yang pintunya sedikit terbuka itu. ” GILA ! PERSETAN !” pekik So Eun tertahan. Dadanya begitu sakit mendengar segala kenyataan ini. Ayahnya meninggal, tidak,, So Eun tidak bisa menerima ini semua dan sekarang kakaknya seorang diri dan lagi Kim Bum mengenal kakaknya itu. So Eun ingin menjerit namun tercekak ditenggorokannya sendiri. Pita suaranya seolah-olah rusak dengan cepat.

So Eun segera berlari menuju kamar nya dan terduduk disana. Teriakan histeris menyebut nama sang maha Kuasa dan berlutut dibawah salib besar membuat suasana begitu terasa perih. Kamar besar itu telah basah akan air mata dan itu air mata kepedihan seutuhnya. ” tidak !! Ayahhh!!!” teriak So Eun memegangi dadanya yang terasa sangat sakit. Sangat sulit bahkan mendekati tidak mungkin So Eun dapat mempertahankan hatinya lagi untuk Kim Bum.

So Eun teringat suatu hal dan itu sesuatu yang sangat penting. Sesuatu yang sempat dirinya abaikan. Bukan, lebih tepatnya suatu kalimat dimana Kim Bum pernah berkata padanya dengan lantang sewaktu itu

” Kim So Eun ! AKU AKAN MEMBUNUH AYAHMU DAN APAKAH KAU AKAN MASIH MENYIMPAN NAMAKU?!”

Air mata bertambah deras ketika mengingat kalimat itu. Bahkan dirinya masih ingat jawaban apa yang ia berikan dikala itu. Suatu jawaban seperti keyakinan yang tidak tergantikan

” aku memang tidak tahu apa dosa ayahku padamu. Tapi aku pastikan kau akan tetap kusimpan dalam hati ku,”

Pertanyaan yang menjadi sebuah kenyataan dan jawaban menjadi sebuah penentuan. Bagaimana mungkin So Eun sempat mengabaikan percakapan itu semua. Semua telah terjadi sesuai pertanyaan dan hanya tinggal jawaban yang menjadi penentuan kini. Apakah dirinya masih mampu memegang kalimat itu, sebuah kalimat yang dengan penuh keyakinan terluncur. Inilah yang Kim Bum takutkan. Sebuah ucapan yang dulu pernah dikatakan Kim Bum namun lagi-lagi diabaikan. Sebuah kalimat sebelum kenyataan dan penentuan hadir.

” hapus, hapuslah rasa itu. Kau harus mengahapus itu semua. Kau hanya akan membuat dirimu dalam kesulitan jika tidak menghapus,”

Ujaran itu kini menjadi sebuah peristiwa yang membuktikan bahwa kesulitan benar-benar So Eun rasakan. Hancur ! Semua rasa telah pecah menjadi serpihan dan bertebaran layaknya pasir yang terkikis ombak. So Eun menghentikan tangisanya dan mentap salib besar dihadapanya yang terpaku didepan dinding besar itu. Ia kuatkan matanya dan ia gertakan kedua rahangnya dan saat ini sudah terlihat bahkan kepalan kedua tanganya telah mencuat.

” Aku akan membalaskan kematiam mu, Ayah !” ujarnya dengan emosi yang sangat besar. Bukankah kalimat Kim Bum memang terbukti dan penentuan itu seperti inilah jadinya. Apakah takdir seorang pianist akan berakhir dengan seoang wanita. Tidak ! itu tidak mungkin. Tapi Tuhan melihat siapa yang lebih menderita dalam hal ini.

======*****=======

Robert kembali pergi dan Kim Bum kembali tidak memiliki teman mengobrol. Besok pagi Robert dan Tatsuya diharuskan pergi ke Paris dan kembali awal pergantian musim. Musim semi ini sepertinya Kim Bum akan menghabiskan waktu dengan So Eun dan wanita-wanitanya. Dan itu pertanda jika Min Hyuk dan Woo Bin menyerang Kim Bum hanya akan mengagandalkan kemampuannya sendiri.

Kim Bum telah menggantikan kemejanya itu dengan kaos putih polos yang tipis. Rumahnya akan sangat nyaman dengan baju seperti itu. Wanita-wanita Kim Bum memang jarang terlihat karena mereka semua sedang sibuk dalam musim semi ini di bagian tugasnya masing-masing dan mungkin natal nanti mereka akan istirahat sejenak menemani Kim Bum.

Nampak So Eun berdiri dengan masih menguatkan kedua rahangnya itu dan mengatur semua kebencian atas dosa Kim Bum. Mata Kim Bum yang awas itu dapat melihat mimic wajah So Eun yang tidak bersahabat namun dirinya masih bersikap tidak peduli. Itu sudah menjadi hal biasa So Eun memiliki ekspresi seperti itu.

Dibalik punggung So Eun Kim Bum menebak jika ada sesuatu yang disembunyikan tapi Kim Bum tidak dapat mengeluarkan kalimat itu. Benar saja, sebuah pisau disembunyikan So Eun dibelakang punggungnya itu. Tangan lembutnya memegang pisau gemetar dan digenggam dengan sangat kuat sekali.

” PEMBUNUH !.” pekik So Eun dihadapan Kim Bum ketika Kim Bum hendak menghampiri So Eun dan mencoba mengambil sesuatu dibelakang So Eun. Gerakan itu terhenti karena So Eun berpekik yang tajam. ” apa?” tanya ulang Kim Bum. Sebenarnya Kim Bum terkejut dengan ujaran itu, tetapi dirinya tidak ingin menampilkan keterkejutannya itu.

Suasana berubah tiba-tiba. Kim Bum merasakan jika So Eun mendengar percakapannya dengan Robert tadi. Kaki So Eun terlihat gemetar ingin memulai sesuatu seperti Kenichi dimalam itu ketika ragu untuk membunuhnya. ” KAU PEMBUNUH SIALAN !!,” teriak So Eun tepat diwajah Kim Bum membuat Kim Bum memejamkan matanya itu mendapatkan teriakan keras So Eun.

” KAU PEMBUNUH ! KAU.. KAU.. AAAHHHH KENAPA KAU BEGITU KEJI.. KENAPA KAU TIDAK MEMBUNUH KU JUGA?? KENAPA HARUS AYAHKU.. AKU AKAN MEMBUNUH MU KIM SANG BUM.. AKU MEMBENCI DIRIMU.. AKU MENYESAL PERNAH MENCINTAI MU.. AKU MEMBENCI MU !!” suara keras sangat keras membuat pisau itu terjatuh tanpa sempat menusuk tubuh Kim Bum. So Eun benar-benar mengeluarkan kebenciannya itu.

Kim Bum tersenyum kecil saat teriakan itu begitu keras. So Eun mengetahui hal ini begitu cepat membuat Kim Bum sejujurnya belum mempersiapkan semuanya itu. Kim Bum tidak mempedulikan teriakan itu walaupun sebenarnya Kim Bum ingin sekali menyiksa So Eun seperti dulu. Tapi Kenichi sudah tewas alasan apalagi yang bisa dirinya lakukan untuk menyiksa So Eun. Tidak ada alasan bukan..

So Eun begitu geram dengan tingkah Kim Bum. Entah sadar atau tidak So Eun mengambil botol kaca minuman anggur itu dan memukul keras kepala bagian belakang Kim Bum. Tidak ! lagi-lagi kepala belakang dengan keras. Perban itu baru saja dilepas dua hari yang lalu namun So Eun kembali membuat luka.

” prang….!”
suara botol kaca itu berhamburan jatuh kelantai dan serpihan beling itu berserakan namun sebagiannya menyelip dirambut Kim Bum bagian belakang. Darah kembali mengalir deras. So Eun melepas cepat tanganya itu ketika sadar apa yang dirinya lakukan. Dengan nafas yang ditarik berat Kim Bum berbalik menatap So Eun.

Tatapan itu bukanlah tatapan membenci namun tatapan nanar yang sepertinya begitu dalam. Kim Bum tersenyum kecil dengan pukulan itu. Botol itu bukan kaca tipis melainkan minuman anggur dari hongkong yang tebal. Seberapa sakit jika untuk dijabarkan? Bukankah akan sangat menyakitkan dan membuat kerusakan pada otak?

” kau ingin membunuhku? Kau begitu membenci ku?” tanya Kim Bum dengan setenang mungkin. Kim Bum masih mengatur matanya untuk tetap terjaga dan kakinya untuk menyanggah. ” yah ! Aku sangat membenci mu ! aku ingin membunuhmu ! kau pembunuh !!,” ujaran Kim Bum dibalas dengan kekasaran mulut halus itu. Wanita sutra ini menjadi benang yang kusut yang dapat melukai siapa saja dan sepertinya berubah menjadi benang layang-layang yang tajam.

Kim Bum berkali-kali menyipitkan kedua matanya mengatur arah pandangannya yang sedikit pudar. Beginikah akhir yang didapatkan Kim Bum. Dari kecil, remaja, hingga dewasa selalu dilukai baik perasaan dan tubuhnya. Mengapa Kim Bum tidak pernah menghardik orang seperti So Eun.

” kau membenci ku , lantas bagaimana dengan ku? Aku tidak pernah sekalipun membenci mu meskipun kau putri pembunuh orang-orang yang kucintai ! Kau ingin membunuh ku karena aku membunuh ayahmu, Lantas bagimana dengan ku? Aku tidak pernah mencoba membunuh mu dan ayahmu jika bukan karena Janji ! Kau mengatakan aku pembunuh, bagaimana dengan diriku ! Aku tidak pernah menghardik mu dengan sebutan anak pembunuh!! TIDAK PERNAH KIM SO EUN !! Kau tahu, Aku kesepian. Aku akui aku kesepian hidup sendiri. Aku tidak memiliki siapa pun penopang dalam hidupku. Ayahmu mu memaksa pembongkaran otak ku. Dirinya melumpuhkan ingatan ku agar aku tidak menuntut dirinya. Kau kira Aku tidak semenderita dirimu. Kau tahu betapa sakit ketika aku harus dioperasi dengan paksaan dan aku hilang ingatan. AKU TIDAK INGAT SIAPA PUN SAAT ITU !! tapi aku mencoba bangkit dan Kau mengatakan aku pembunuh, LANTAS BAGAIMANA DENGAN AYAHMU YANG MEMBUNUH IBUKU DAN MENGHILANGKAN SEBAGIAN MEMORIKU. Aku mengalami lebih dari sepuluh operasi untuk memulihkan otak !! Kau sudah membunuhku secara perlahan ! Kau dan ayahmu sudah melakukan itu tapi aku tidak akan mengucapkan kalimat perpisahan sampai janji itu terbalaskan !! kau tahu,, AKU SENDIRIAN DAN AKU KESEPIAN !! Silakan jika ingin membunuhku !! tapi ingat !! Kau berbuat dosa pada orang yang menderita !!”

Kalimat terpanjang yang langsung menusuk kalbu. Bagaimana mungkin So Eun sanggup untuk tidak bergetar. Kim Bum mengungkapkan semuanya. Kepalanya sangat sakit dan dirinya membutuhkan topangan kini. Bahkan ketika dirinya divonis menghidap penyakit tidak seorang pun memeluknya dengan hangat kecuali kedua pamannya Tatsuya dan Robert. Tidak ada sentuhan halus wanita mengeluas keningnya ketika dirinya sakit kepala merasakan efek operasi itu.

Kim Bum keluar dari rumah itu dan meninggalkan So Eun seorang diri. Tergelatak So Eun di lantai itu bersama pisau yang jatuh dan serpihan beling botol yang berserakan beserta darah yang terdapat di permukaan beling itu. Ayahnya pembunuh ! kenapa So Eun tidak pernah tahu ! kenapa Kim Bum tidak mengatakan dari awal ! Kim Bum pernah operasi otak sebanyak itu, kenapa dirinya tidak pernah mengatakan dan berteriak ketiak dirinya ingin membunuh Kim Bum sewaktu itu.

” hiks hiks.. kenapa ?? kenapa semua seperti ini ?? Aku tidak mengerti..!!” teriak So Eun histeris memukul-mukul dadanya yang terasa sangat sakit sekali dan sesak disana. Lagi-lagi malam musim semi ini berakhir buruk. Padahal dua bulan lagi pergantian musim. Tapi itu tidak akan berdampak bagi Kim Bum dan So Eun.

=======******========

Kejadian itu sudah berlangsung dua bulan yang lalu dan keadaan saat ini sedikit lebih baik walau Kim Bum benar-benar lemah. Hal ini sudah terbiasa bagi Kim Bum dan membuat dirinya lemah adalah dirinya membuat masalah karena hal itu terjadi.

” kau ingin melakukan operasi kembali ?” tanya Tatsuya tidak tega dan sangat tersiksa dengan wajah Kim Bum yang semakin hari semakin pucat. ” tidak !! Aku tidak ingin ada ingatan yang hilang,” Kim Bum sangat keras jika sudah menolak masalah operasi ini. Saat ini Kim Bum baru saja pulang dari ronsen terhadap kepalanya itu.

” kau akan jauh lebih baik tinggal di Amerika dan melakukan operasi sekali lagi,” bujuk Tatsuya. Kim Bum berkali-kali merasakan sakit diarea kepalanya itu dan itu membuat Tatsuya tidak tahan lagi.

” AKU KATAKAN AKU TIDAK INGIN OPERASI !!!” amarah Kim bum kembali disaat desakan Tatsuya mengenai operasi bahkan Kim Bum melempar guci mahal itu. Guci yang dibelinya diJepang dan diproduksi disana.

“JANGAN KERAS KEPALA KIM SANG BUM !! KAU SADAR BAHWA PEMBULU DARAH DIDALAM OTAK MU PECAH !!” teriakan itu begitu lugas dan keras terdengar membuat Kim Bum langsung terdiam. Hasil ronsen memang mengatakan otak bagian belakang Km Bum bermasalah saat ini dan itu masalah yang besar.

” apa ?!” pekik seorang wanita yang baru saja turun dengan memeang kalung Rosario itu bergetar. Wanita itu tidak dapat berkutik banyak dan lebih memilih berdiri kaku. Kim Bum memang sudah tidak banyak bicara dengan So Eun semenjak pembicaraan malam itu dan pemukulan itu. ‘ apakah itu karena pukulan botol itu?’ tanya So Eun dalam hati yang melihat Kim Bum sepertinya sudah mengetahui hasil ronsen itu sebelum Tatsuya berteriak.

Suasana sangat membeku pagi ini. So Eun tidak ingin memperkeruh keadaan dengan banyak bertanya meskipun dirinya sangat ingin. Kim Bum menegakkan kepalanya dan menarik nafas panjang. Tatapan mata Kim Bum dan So Eun bertemu disaat So Eun memutuskan menatap diri Kim Bum. Kim Bum terdiam menatap mata itu. Wajah So Eun sepertinya sedikit pucat dan Kim Bum melihat hal itu. Bahkan belakangan ini So Eun merasakan mual yang berlebihan tanpa sepengetahuan Kim Bum.

Tatapan nanar itu beradu antara Kim Bum dan So Eun membuat Tatsuya rasanya ingin berteriak dan mengemis pada Tuhan untuk merubah takdir. Kim Bum berjalan kedepan. Dirinya mecoba melangkah walau berat. Pembulu darah pecah itu bisa menuaikan kanker otak jika tidak segera dioperasi. Dan Kim Bum pernah mengalami pemaksaan operasi otak itu membuat Tatsuya sangat takut akan sesuatu hal.

” kau..” ujar So Eun saat Kim Bum berjalan dan melewati dirinya disamping kiri. Kim Bum terhenti sejenak dan menunggu kelanjutan kalimat So Eun. Kini Kim Bum sudah dapat seutuhnya merelakan So Eun untuk pergi dari rumahnya itu. So Eun sebenarnya saat ini sedang menahan mual namun mual itu hilang seketika saat mendengar ujaran Tatsuya.

” lupakanlah apa yang kau dengar. Jadilah orang yang tuli saat ini,” ujar Kim Bum dan itu membuat So Eun mengeratkan pegangan tangannya pada Rosario itu. So Eun dengan cepat memandang punggung Kim Bum dengan air mata yang siap akan menetes. Ada sesuatu yang ingin di ucapkannya saat ini dan dirinya tidak ingin menyimpan ini lagi.

Percuma dirinya menyimpan suatu kelak Kim Bum pasti akan mengetahuinya. ” ada yang ingin kuberitahukan padamu,” ujar So Eun lembut. So Eun sudah dapat memahami keadaan Kim Bum meskipun ayahnya telah pergi karena Kim Bum.

Kim Bum tetap berdiri tegak tanpa membalikkan tubuhnya. Tatsuya tetap berdiri dibelakang mereka berdua dan berharap akankah sesuatu yang baik menimpa mereka semua saat ini. Biarlah semua yang belum selesai Tuhan yang mengatur. ” apa itu?!” tanya Kim Bum dengan dingin dan suaranya sedikit serak. Tenggorokannya kering karena nafas yang sesak menahan sakit.

” aku hamil,”

” apa ??!!” Tidak ! Kim Bum membalikan tubuhnya tidak dapat menerima keadaan dan itu membuat Tatsuya lemas dan terjatuh dilantai dengan cepat. Tidak ada satupun yang bermimpi jika akan ada seorang nyawa bayi kecil terbunuh karena janji bukan??

Kim Bum baru saja divonis mengalami pendarahan dan kanker otak stadium dua dan lagi-lagi menerima kenyataan So Eun hamil. So Eun menantang mata Kim Bum yang berapi-api. Ini bagaikan sebuah hukuman bagi Kim Bum atas sumpah Kenichi.

” Tuan muda ..” lirih Tatsuya memanggil Kim Bum. Kim Bum menahan air matanya, rasanya sungguh berat dan sangat berat. ” aku hamil, Kim Bum,” So Eun mengulang kalimat itu membuat Kim Bum tambah mendidih. Tidak pernah Kim Bum bermimpi atau berangan-angan akan menjadi seorang ayah dalam hidupnya dengan orang yang terlibat dalam kematian keluarganya.

” Tidak !! itu tidak mungkin !!” pekik Kim Bum mengelak keras.

” aku mengandung benih mu.. hiks hiks,” isakan So Eun membuat Kim Bum begitu tambah tertekan. Angin yang hangat sama sekali tidak ada yang dapat masuk kedalam pori-pori kulit Kim Bum yang sedang dalam amarah ini. Janji.. janji itu harus di tepati karena semua janji bukankah sudah Kim Bum tepati?

Johanna meminta Kim Bum berjanji untuk tidak berhubungan dengan putri atau putra dari keluarga Kenichi dan bila dirinya terlibat suatu ikatan maka nyawa itu harus dimusnahkan. Kim Bum menyetujui itu karena dirinya terlalu mencintai ibunya disaat itu. Sebuah janji yang diucapkan dengan air mata yang deras dan kini lagi-lagi menjadi sebuah kenyataan. Bahkan disaat itu Kim Bum sendiri yang berumpah !

So Eun mengatakan itu dan tidak mengerti sama sekali atas janji yang Kim Bum ucapkan pada mendiang ibunya. Apa yang dapat Kim Bum lakukan sekarang? Membunuh Woo Bin pun percuma karena sekarang tujuan utamanya adalah membunuh calon bayinya sendiri. Janji.. janji.. lagi-lagi sang pianist terikat janji. Lantas bagaimana dengan kepalanya itu? penyebaran kanker bukankah sangat cepat?

Pernyataan Robert sepertinya harus dipertanggung jawabkan saat ini. Sebuah pernyataan yang dapat dingat terus dan menjadi pilihan dalam hidup.

” kau hanya memiliki dua pilihan jika itu terjadi. Melupakan dendam ini yang berarti kau melanggar janji pada ibumu Johanna atau kau meneruskan dendam ini dan membunuh anak mu jika lahir,”

” apa kau akan membunuh anak itu, Tuan muda?” tanya Tatsuya yang sudah kembali tegak. Tubuhnya masih terlihat gemetar meskipun sudah berdiri. Kim Bum terdiam mendapatkan pertanyaan itu. Pertanyaan yang sangat menyulitkan. ” apa kau akan membunuh anak kita Kim Bum?” tanya ulang So Eun. ‘Kita’ sebutan yang sepertinya sangat enggan Kim Bum dengar. Lama situasi ini menjadi bisu hingga akhrinya kembali mencair ketika ujaran begitu mengejutkan terlepas.

” pergilah. Pergilah dari sini dan kau bebas melahirkan atau membesarkan anak itu,” Tatsuya mengepalkan kedua tangannya atas jawaban itu. Jawaban yang jelas sekali memihak kepada siapa.
” apa maksudmu?” So Eun bertanya sebelum Tatsuya membuka suara. ” ternyata kehamilan membuat mu bodoh ! Aku katakan pergilah dari hidupku jika kau ingin melihat anak itu lahir. Bukankah kau ingin anak iu hidup? Jadi pergilah.. Kau seharusnya bukan tujuan ku jadi pergilah dan kau bisa hidup bersama dengan anak itu jika ingin. Tunggu apa lagi, pergilah !”

” Tuan..” rasanya Tatsuya ingin memukul wajah Kim Bum sampai pria ini benar-benar sadar akan keadaan. ” aku tidak ingin pergi ! Aku ingin kita membesarkannya bersama !” ujaran itu membuat Kim Bum bertambah buruk. Jika saja So Eun langsung pergi mungkin Kim Bum dapat sedikit tenang.
” Kim So Eun !! Kau ingat perkataan ku? Hidup mu dan hidupku tidaklah sama, kita berbeda !”

” pergilah jika kau ingin anak itu kelak selamat. Pergilah jika kau tidak ingin melihat diriku membunuh anak itu saat lahir. Pergilah So Eun.. Jika suatu saat kita bertemu anggap saja aku hanya pemain piano biasa. Tapi jika kita tidak lagi bertemu hingga akhir hayat, anggap saja kau bermimpi buruk. Pergilah .. sampaikan salam ku kelak pada anak itu. Setidaknya kau memiliki teman bukan dan tidak kesepian seperti ku,” Kim Bum tertawa kecil mengucapkan kalimat itu. Tidak, So Eun tidak sanggup pergi. Langkahnya terlalu berat.

Tatsuya masih berdiri dan memandang wajah Kim Bum. Wajah yang damai tidak tersirat apapun. Sepertinya Kim Bum sudah benar-benar memutuskan hal itu dan mempersiapkan kemungkinan yang terjadi sejak awal. ” kau ingin mengakhiri kisah mu dengan wanita ini?” ujar Tatsuya membuat Kim Bum tersenyum tipis dan berbalik badan. Kim Bum tidak ingin lagi melihat diri So Eun dan perut yang masih rata itu.

” pergilah…”

Tak….
air mata untuk pertama kalinya terjatuh dimata Kim Bum setelah puluhan tahun berlalu. Air mata yang tidak terlihat tapi mampu dirasakan. Tatsuya tahu Kim Bum menangis, hatinya cukup peka dengan pria itu. Kim Bum melanjutkan langkahnya meninggalkan So Eun menuju kamarnya dan benar-benar meminta So Eun pergi. Udara sudah sangat baik jika So Eun ingin pergi, tidak akan ada hal buruk karena So Eun merupakan wanita kuat selama ini.

” pergilah nona So Eun.. Kau bebas. Sampaikan padanya kelak bahwa ayahnya sangat hebat,” senyum tipis Tatsuya pada So Eun dan membuka pintu rumah itu besar-besar untuk melepas So Eun. Sudah cukup kisah ini dan harus ditutup sampai disini. Bahkan sang bayi saja belum lahir dan kisah itu akan benar-benar berakhir. ” paman..” lirih So Eun memandang Tatsuya dan Tatsuya tersenyum mengangguk siap untuk melepas.

 

 

Rasa bukanlah apa yang dialami oleh dirimu. Tapi rasa,, apa yang dialami oleh hati mu.Karena rasa tidak butuh disimpan,, namun di hias walau menyakitkan….

 

 

Akankah langkah itu tetap pada perintah ucapan atau bertahan untuk perintah hati?

 

Setidaknya hati dan raga saling bicara kini.. Biarlah hati itu yang menentukan. Sebab raga hanya akan membawa kita pada kebahagiaan sesaat…

 

 

To Be Continued

 

Hai hai…
aduuh aneh kah ceritanya? Jelek kah? Maaf yah lama soalnya saya sedang sibuk UAS waktu itu. maaf kalau aneh yah.. sekali saya katakan bahwa saya masih harus perlu belajar dalam hal menulis.. jika koment banyak maka saya akan semakin cepat untuk melanjutkan. Terima kasih ^^.. salam dari Win ^_^

Posted on Desember 13, 2014, in fanfiction. Bookmark the permalink. 240 Komentar.

  1. critanya smakin tegang buat aq deg”an wktu baca….

  2. Tidak.. Kenapa kim bum tega mengusir so eun untuk menjalani kehidupan hamil buah cinta nya sendiri >,<

    Tidak bisa kah sedikit merelakan kisah janji dgn ibunda. Bisa kan membalas dendam nya lewat jalan lain.
    Dan apakah kim so eun akan benar-benar tulus nanti nya. Daan benar-benar tidak akan membalas kematian sang ayah(?)
    Dan makin ngga sabar baca part selanjut nya…

    Terus berkarya ^^

  3. Akhirnyaaaa… Bsa bca ff lgi senangnyaaa… Makin seru jha cerita’a
    jdi itu masalah’a, yg sbr jha buat bumsso, t’utma sso yg lgi hml. Kimbum tga bngt ma sso knpa hrs pke d usir gla sh, dia kn g hml…
    K’hidupan sso s’tlh nie psti sulit hrs ng’bsrin anak hnya s’orng diri tnpa adanya s’orang suami…
    Tpi ttp s’mngt jha ya…
    Next eon…

  4. Nu Shi Hottest Queen

    yaAmpun eonni feel’y dapet banget aku sampe ingusan baca’y😥😥

  5. Kerenn eonni..aku sampe nangis bacanya😭apa lagi yang part 1,2,3

  6. hwaaaaaaa crita nya makin seruuuu

  7. Amandha Alvhina Azzahra

    haduuhhh … Masih sja Kim Bum sprti itu tidak ada tobatnya …. Sekarang malah muncul laghee timbul baru ….. Di saat So Eun mengakui kehamilannya .. Kim Bum malah menyuruh Sso pergii … Tapi menurut aku sich yach .. Alasan kim bum mnta Sso prgi krna bukn mskdny utk tdk bertanggung jwb ,tapi dia merasa memnx tk pntas jdi ayah dri cabang bayi yg d kndung sso melihat dirinya memng seorang iblis ….

    Tapi semoga nanti akn ad sbuah keajaiban utk bumsso ….

    Hik’s .. Kau bnar2 mampu membuat smua pra reader hnyut dg alur crtanya .. Berasa beneran ..
    Pkok ny top bgt dehhh ..

  8. walaupun part 4 ga bisa baca tapi part 5 bener2 asik ceritanya..
    kasian ama eunni yg pengen d’usir ama bumppa

  9. Keren banget , nggak sabar nunggu part ya selanjutny

  10. Gilaaa bener nich ff ancungin 2 jempol buat author dech, suka bngetz ama ffny ikut trhanyut ama ceritany…
    kasian bngetz ama nasib kim bum, bner2 gagh tega stlah tau kbenaranny😦
    daebak thor ttp smangat buat slesai.ind ff ni ya tp jngan lupa dibuat happy ending🙂

  11. Kerekeren pokony pke bgt deh
    aku suka bgt sm ff nya
    Author yg bikin ini tw bgt sih giman
    cara bkn reader suka :):):)

  12. mwo, sso hamil dan bum tlah membebaskan sso.
    apakah sso akan prgi sesuai perintah bum ??

    kasian tbuh bum bnyk yg trluka. . tidak. .bhkan hti.a pun terluka dalam. . hiks hiks. . malang skali nasib bumsso. .huft trnyata yg mmbunuh ibu bum ayah.a sso. – dan apakah ayah bum jg trlibat pembunuhan ibu bum . lantas apa alasan mreka mmbunuh bum dan memaksa bum mlakukan pembedahan otak _???

    aku rasa hti bum udh mulai mencair. . atau mngkin perasaan sso udh trbalaskan ?? hanya saja bum blum menyadari.a . . trbukti bum mnyuruh sso pergi dr rmh.a . .. dgn sso pergi ithu akan mmudahkan hati bum. . dan bum tdk prlu membunuh darah daging.a kelak . . pertanyaan.a apakah bum mengharapkan bayi ithu tetap lahir ??

    wow wow , . mskpun fanfic.a bgitu menyayat . tp ttp penasan gmana hbungan bumsso selanjut.a , . daebak🙂

  13. Wuahhhh Ffnya keren banget eonni. udah ngga bisa berkomentar apa2 lagi pokoknya DAEBAKKKK!!!

  14. Ya ampun eon…
    Daebak….

  15. ya ampun so eun eonni hamil terus gimana nasib anak nya so eun eonni kedepannya huhu
    bumppa juga kasian punya penyakit kanker otak
    ya allah
    next yaa

  16. Baca ff ini campur aduk rasanya semua feelnya dapet bgtt thor🙂 keren kita pembaca ikut larut dlm ceritanya.
    Bnr2 menyayat,,
    Sukaaaaa….

  17. sumpah nangis baca fanfic ini kayaknya kehidupan kim bum itu rumit bnget dan lagi gimana kehidupan so eun selanjutnya

  18. Hiks. Hiks. Hiks.. Kenapa kisah’y bumsso dsni begitu pahit?? Inikah takdir?? Gmna sso, mampikah tuk pergi???

  19. Aku ssdih ngbca keadaan.y kimbum oppa yg ky gtu …..

  20. ff km bnar2 krennnn…..
    aq ska bngt smua ff km aplgi ff yg ini
    pokokx ff qmu the best….:)

  21. Wah sso dah hamil ank bumppa tuh n dg tegax bumppa mengusir sso seperti ntu setelah apa yg dia perbuat pd hidup sso lalu mampukah sso hidup sendiri dg janin yg dikandungx ntu??

  22. Apa soeun akan pergi dan meninggalkan kimbum dgn kondisi buruk..

  23. Sso keren bgt aku smpe nangis bacanya😥 Aigooo … sso hamil yv kim bum bilang gga akn mingkin terjadi skarang benar” terjadi. apakah sso akn memilih pergi untuk menyelamatkan anaknya atw bertahan demi kim bum ??

  24. Kenapa jadi rumit bgt.. Kasian bumsso,, next

  25. wahyuning pinarsih

    wah trnyata bumpah bsa msak.
    pngen donk cicipin msakan bumpah.
    moga happy ending.

  26. ya ampun sso eunni hamil😥 gk kuat bacanya smbil nangis😥 tisu udh berserakan dimana” *abaikan knp bumppa malah nyuruh sso eunni pergi,akankah sso eun bnrn pergi?

  27. kekejaman bumppa, sebenarnya hanya untuk menutupi kerapuhan hidupnya… ternyata hidup bumppa lebih menyedihkan dibanding sso eonni… sso eonni hamil😮 dan bumppa mutusin buat ngelepasin sso eonni… tpi apa sso eonni bkalan pergi atau tetap diam… lanjut baca part selanjutnya🙂

  28. Ternyata alasan kim bum benci ayah so eu gara2 keluarganya dibunuh dulu. Tapi kasian so eun harus ikut nanggung akibatnya.
    apalagi skrg so en hamil justru dia disuri kim bum.. jahaaattt

  29. hiks oppa kau menanggung beban seberat itu. dihadapkan oleh pilihan yg berat atas sebuah janji di masa lalu. hiks sedih banget bacanya.

  30. Cerita yang menegangkan dan juga seruuuu

  31. Bingung mo coment ap yg psti daebak cingu..

  32. Haduhhh makin kesini makin penasaran sama ceritanya. Daebakkk eonni bisa buat ff kayak gini. Semangat ya eonni bikin ff yang lebih bagus

  33. What! Eonni hamil? Makin banyak konflik. Keren thor

  34. 😭😭😭😭😭😭 mengapa takdir san gat tega sma bum oppa

  35. Abaikan janjimu dan hiduplah bahagia dg soeun dan anak kalian plissss 🙏🙏
    Kimbum dan soeun hrs menderita karna dendam masa lalu. Apa skrg calon anak mereka juga akan jd korban? Kimbum aku pikir sdh cukup lama menderita ,secara fisik dan mental . tak bisakah membiarkan dia bahagia dg soeun ? Huhuhuuuu …
    Kl soeun beneran pergi dr kimbum, lantas bagaimana dg kimbum ? Dia kan sakit parah ,dan sdh jelas bahwa diapun mencintai soeun 😞😞

  36. omo .. So eun hamil ??apa kim bum benar2 merelakan so eun pergi ? Gimana ma pnyakt kim bum ?

  37. bangus banget ceritanya. So eun hamil terus kimbum kemana, kasian so eunnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: