Memo En Hiver ( OS )

memo-en-hiver-poster1_ad-copy

Memo en Hiver

Author                  : win (Acieh Km)
Main Cast            : Kim Sang Bum, Kim So Eun
Other Cast          : Kim Sa Rang, Hyun Bin, Lee Min Ho, Park Min Young
Genre                   : romance, sad, mellow, romantic
Type                    : One Shoot
Credit                  : Americadoo@POSTE R CHANEL

 

Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produser dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita

 

Andaikan tulip putih itu berganti warna menjadi merah dan mawar merah itu berubah warna menjadi putih,, apakah kau masih bisa membedakan nya mana tulip sesungguhnya dan mawar sesungguhnya? Apakah kau masih bisa menerima bunga itu menjadi bunga impian mu walau pun tidak lagi sama? Sama halnya seperti diriku.. Apakah masih ada kesempatan untuk ku dipandang oleh mu walau aku telah berubah ??

 

******……..*******

 

Malam ini kondisi angin tidak begitu buruk meskipun terdapat tetesan kecil air dari langit yang nampak sedikit gelap. Terdengar begitu ramai anak-anak berteriak-teriak bermain saling mengejar, suara-suara lonceng-lonceng dari berbagai toko terus berdentang, bahkan suara-suara orang-orang bercakap di luar café begitu terdengar ramai di disepanjang jalan yang sepi dari kendaraan ini

 

Kota Lylon memang dikenal sebagai daerah yang bebas dari kendaraan. Tidak seperti Paris yang jika menginjak malam akan padat, justru kota Lylon akan nampak sepi dan indah. Paris dan Lylon berbeda kota namun jika Anda di Lylon dan akan pergi ke Paris hanya menempuh waktu 2 jam sampai disana dengan kereta.

 

Kim Bum baru saja pulang bekerja di Kota Paris. Hawa dingin mulai menusuk kulitnya dan jalanya sedikit terburu-buru untuk segera sampai di apertement nya. Disepanjang jalan Kim Bum sedikit memperhatikan Lyon Confluence, salah satu proyek pembangunan perkotaan terbesar di jantung kota Eropa, muncul sebagai proyek paling ambisius dibandingkan proyek serupa lainnya di awal abad ini. Bangunan memenuhi sepanjang jalan Lylon meskipun nampak sepi tetap saja terasa ramai. Proyek raksasa ini merupakan purwarupa sempurna proyek pembangunan generasi baru, setelah proyek Confluence tahap pertama (2003-2015), tahap kedua proyek diharapkan akan terwujud antara tahun 2010 dan 2025. Prakarsa ini diwujudkan berdasarkan rancangan arsitek Swiss Jacques Herzog dan Pierre de Meuron, yang bermitra dengan arsitek bentang-darat Prancis, Michel Desvignes.

 

Sudah 2 tahun Kim Bum bekerja sebagai Sekertaris disalah satu perusahaan di salah satu kota Perancis ini. Masa lalu lah yang membuatnya menetap dikota Lylon ini. Terlalu menyakitkan bila harus mengingat masa lalu dan Kim Bum tidak ingin mengungkit hal kelam itu. Keputusannya menjadi warga Negara Perancis membuat keluarganya di Korea Kim Sa Rang dan ayah nya Hyun Bin sedikit marah.

 

nouvelle maison, vous Bum? “ (kau baru pulang bum?). Tanya seorang wanita yang sering dipanggil Gabriella dan usianya 4 tahun lebih tua dari Kim Bum yang saat ini menduduki usia 25 tahun. Kim Bum baru saja merayakan ulang tahun bulan lalu pada tanggal 7 Juli.  “oui .. il ya un peu d’un problème sur la route et j’ai volontairement marchait lentement pour regarder autour de”  ( ya.. ada sedikit masalah dijalan dan aku sengaja berjalan lambat untuk melihat-lihat) jawab KimBum melepas mantelnya dan segera menuju lift karena kamar Kim Bum dan Gabriella berbeda satu lantai. Aperteman Kim Bum bernama Appartement Le Chemin Neuf Apartment. Apertement ini bisa digunakan sebagai hotel atau sebagai apertement. Meskipun apertemen ini sederhana namun dari sini para tamu atau penempat dapat menikmati akses mudah ke semua hal yang dapat ditemukan di sebuah kota yang hidup. Apertement ini juga terletak dekat dengan Katedral Saint Jean, Cathédrale St-Jean, Musée de la Civilisation Gallo-Romaine.

 

Kim Bum benar-benar akan masuk namun dirinya teringat sesuatu. Lee Min Ho, teman nya ditempat kerja yang berasal dari kota yang sama di Seoul pernah bercerita ada sebuah kamar yang dimana ditinggali oleh seseorang yang tidak pernah keluar dan sering mamberontak jika ada yang menghampirinya. Hal itu ia ketahui sewaktu Lee Min Ho menginap di Apertement nya selama kurang lebih satu minggu sewaktu dirinya kekampung halaman Korea.

 

Sebuah kamar yang berada di depan nya lah yang dimaksud. Sebuah kamar bernomor 0609 itu memang tidak pernah dilihat Kim Bum terbuka. Bahkan musim panas bulan Agustus tahun lalu yang cerah kamar ini sama sekali tidak terbuka hingga saat ini sudah berganti musim di bulan September. Gabrriella pernah sedikit cerita tentang sosok didalam kamar itu. ‘Seorang   wanita berambut panjang yang cantik’ kata Gabriella Lee waktu dua hari yang lalu.

 

“apakah dirinya berpenyakit? Atau dirinya mengalami gangguan jiwa? Lantas mengapa tidak ada sanak saudara satu pun yang menjenguknya?” gumam Kim Bum pelan. Sangat ragu dan dengan tangan sedikit gemetar Kim Bum mengeluarkan sesuatu yang berada di saku mantel yang telah dilepasnya dan menuliskan sesuatu didalam nya.  “ hai.. “ satu kata tertulis dalam kertas memo itu. Memo musim dingin pertama kali keluar dan tertuang dikertas memo itu yang telah lama ia tidak lakukan semenjak lebih dari 3 tahun silam. Ditempelnya kertas memo biru itu yang berupa seperti post it di depan pintu 0609. “aku harap kau membacanya” harap Kim Bum.

 

****

 

Pagi ini Kim Bum sedikit bersantai karena hari ini adalah hari Minggu. Kim Bum bangun sedikit siang setelah semalaman berbincang dengan kedua orang tuanya dan Lee Min Ho yang ingin menikah tahun depan dengan kekasinya Park Min Young sahabat Kim Bum sewaktu sekolah menengah.

 

Kim Bum keluar kamar dengan rambut sedikit berantakan. Dirinya baru saja mandi dan malas untuk bersisir atau sekedar minum susu. Setiap pagi Kim Bum hanya meminum segelas anggur atau beberapa gelas anggur saja untuk menghilangkan dahaga, sudah menjadi kebiasaan bangun tidur dan meminum angur, sebuah minuman seperti soju. Tidak aneh bila Kim Bum memiliki kebiasaan itu karena Perancis dikenal sebagai Negara yang memproduksi anggur terbanyak.

 

Kim Bum sedikit tersenyum kecil kertas memo yang tertempel semalam telah tiada itu berarti ada kemungkinan wanita itu yang mengambilnya semalam. Kim Bum menutup Pintu Apertement nya dan hari ini Kim Bum berencana akan berjalan-jalan ke Reruntuhan Gallo-Roman Museum, balai kota dari abad ketujuh belas, Museum Seni Rupa dan opera. Para Lyonnais seperti Kim Bum dan orang yang tinggal di Lylon kebanggan besar adalah seperti di Katedral St John danamfieater. Antara Saone dan Rhone, Anda akan menemukan salah satu kota terbesar ditengah Perancis dengan patung Louis XIV menaggung kuda.

 

Kim Bum sudah sangat sering bermain kesana dan tidak pernah bosan. Biasanya Kim Bum kesana dengan teman nya Lee Min Ho atau Gabriella dan yang lainnya, namun kali ini Kim Bum ingin sekali mengajak wanita yang Kim Bum kirimkan memo itu. Namun Kim Bum merasa ragu untuk mengajak nya karena ada sedikit rasa yang tidak mungkin bisa Kim Bum paksakan. Akhirnya Kim Bum menuliskan memo itu lagi.  “udara sangat sejuk keluarlah sejenak..” isi memo kecil itu.

****

 

“aku tidak bisa kesana dengan mu. Aku akan pergi kelain tempat bersama teman ku yang lain” ujar Gabriella kepada Kim Bum yang tadi mengetuk kamar apertemennya.  “baiklah, aku akan mengajak teman ku” kata Kim Bum.

 

“teman mu? “ tanya Gabriella sedikit bingung karena yang ia tahu Kim Bum jarang pergi dengan orang lain selain dirinya dan keluarganya.

 

“teman ku Lee Min Ho” jawab Kim Bum memeriksa saku celananya memastikan ponselnya tidak tertinggal dikamar.  “baiklah jika seperti itu. Bersenang-senanglah.. “ ‘

 

“tunggu..” ujar Kim Bum sebelum pintu kamar Gabriella tertutup.  “ada apa?”  tanya Gabriella yang melihat sekilas jam tangannya itu. “ kau mengenal penghuni 0609 itu?” tanya Kim Bum tersenyum kecil.

 

“tidak” jawab Gabriella berkerut kening. “ lantas bagaimana kau tahu rupanya? Dua hari yang lalu kau mengatakan padaku bahwa wanita itu cantik dan berambut panjang. Bagaimana kau tahu?” tanya Kim Bum tidak bisa menyembunyikan penasarannya. “ aku hanya mendengar dari beberapa security yang pernah membantu meredakan amukannya. Ada apa?” nampaknya Gabriella sedikit terburu-buru karena sibuk berkirim pesan dengan teman lainnya.

 

“tidak ada apa-apa. Baiklah aku rasa dirimu begitu sibuk, sampai nanti” Kim Bum pun segera meninggalkan Gabriella tanpa kata tambahan. “aneh, sebelumnya dirinya tidak pernah bertanya hal itu. Apa wanita itu mulai mengganggu Kim Bum?” ujar Gabriella melihat punggung Kim Bum yang baru saja hilangan dalan tikungan.

****

 

Di Reruntuhan Gallo-Roman Museum,  Kim Bum selalu nampak murung, selalu masa lalu mengingatkannya akan keperihan. “kau masih mengingat wanita itu?” tebak Lee Min Ho saat ini mereka sedang duduk di bunderan dekat patung Louis XIV menaggung kuda. “ rasanya begitu sakit..” jujur Kim Bum menatap air di belakangya yang jernih.  “itu sudah empat tahun lamanya dan kau masih mengingat nya? Oh ayolah bum, kau tampan dan kaya raya. Tanpa bekerja disini kau tetap akan menjadi orang yang tidak kekurangan. Kau bisa mendapatkan penggantinya” kata Lee Min Ho membuat Kim Bum kesal rasanya.

 

“kau tahu, aku sangat bersalah pada dirinya waktu itu. Aku sangat menyesalinya” kata Kim Bum berdiri dari tempatnya. “ lantas kau ingin bagaimana? Sekarang pun kau tidak tahu dimana dirinya berada. Menyesal sekarang pun kurasa itu hal yang membuat gila, seberapa pun kau menyesal jika tidak ada perubahan kau akan sia-sia” Sedih Lee Min Ho mengingat kisah masa lalu sahabatnya ini dan sedikit terpancing emosi atas kebodohan dan kejahatan Kim Bum dimasa lalu. Kim Bum menghembuskan nafas kesal dan meneguk minuman kaleng ditangannya dan dilemparkannya ketempat sampah terdekat.  “aku tidak tahu, rasanya masih teramat sakit. Hari sudah malam aku akan pulang sekarang. Selamat malam” ujar Kim Bum berjalan kearah parkiran mobil. “aku tidak tahu akan seperti apa kisah mu. Dirimu sendiri yang mengacaukan takdir” sedih Lee Min Ho melihat mobil Kim Bum melaju sedikit kencang.

****

Lagi dan lagi Kim Bum menuliskan memo itu saat dirinya sampai di depan pintu apertement nya.  hai.. aku ingin sekali bertemu dengan mu. Bisakah besok kita bertemu ? aku Kim Sang Bum tetangga depan mu.. ^^ aku ingin berteman baik dengan mu” kata memo itu sedkit lebih panjang. Sudah beberapa hari kebiasaan menulis memo dan menempelkannya di pintu wanita 0609 menjadi hal biasa dan akan tampak aneh jika tidak Kim Bum lakukan.

 

Entah mengapa menulis memo untuk penghuni ini sangat menyenangkan dan ada sedikit rasa yang sulit dijabarkan. Kim Bum baru akan masuk kedalam kamar apertemanya, pintu apertement 0609 terbuka dan terlihatlah seorang wanita paruh baya beperawakan Asia.  “ hai.. apakah Anda ibu dari orang dikamar itu?” tanya Kim Bum mendekati wanita paruh baya itu.

 

“ah, bukan. Saya hanya seorang pembantu Tuan” kata wanita tua itu. “pranggg… ahhh.. hantu, tolong!! Tolong!! Hantu..!!!” teriak seseorang didalam kamar itu layaknya histeris.  Segera wanita tua itu dan Kim Bum memasuki kamar itu. Kim Bum masih belum bisa melihat dengan jelas wajah wanita itu karena terhalang punggung wanita tua ini.  “nona.. ada apa nona?” tanya wanita tua itu sangat khawatir.  “tolong ada hantu disana.. dia membawa anak ku.. tidakk,,!!!” teriaknya histeris. Kim Bum mengerutkan keningnya berkali-kali.

 

Bibi tua itu pun menggeser tubuhnya dan dapat lah Kim Bum melihat wanita berambut panjang yang cantik itu. kulitnya putih dan kering, rambutnya panjang kusam dan kusut, serta matanya yang sangat sembab tidak pernah kering.  “ Kim So Eun !!!!” pekik Kim Bum tertahan. Jantunganya tidak bisa dideteksi kecepatanya, darah nya mengalir kencang seperti denyut nadi baru saja teriris. Kim So Eun, wanita cantik itu dapat mendengar pekikan Kim Bum dengan baik.

 

Dengan cepat So Eun mendorong bibi itu yang memeluknya dan melempar Kim Bum dengan gelas kaca dan berbagai bahan kaca lainya. “prang.. prangg.. hantu.. bibi Kim itu hantu (menunjuk Kim Bum).. kau iblis.. jangan ganggu aku!! kembalikan anak ku!! Kau membunuh anak ku.. tolong!! Tolong!! Hantu… prang.. prang.. pergi!! Pergi!! Jangan ambil anak ku.. kembalikan anak ku..!!!” teriak So Eun terus melempar Kim Bum dengan barang-barang dikamar itu. Tangan Kim Bum sedikit berdarah terkena pecahan vas bunga itu. So Eun memang sering sekali berteriak menyebut hantu, pikiranya sudah rusak dengan peristiwa masa lalu nya.

 

Air mata mengalir deras dikedua mata Kim Bum. Tangannya gemetar hebat, urat dileher nya mencuat keluar menahan teriakan penyesalan. Wanita masa lalu yang dicari telah kembali. “ Kim So Eun..!!” pekik Kim Bum tertahan namun lembut dan memohon. So Eun terus mundur dan mencari apa saja yang bisa dilemparkanya kehadapan Kim Bum.

 

“pergi!! Jangan ganggu aku.. tolong!!! Ada hantu disini.. hantu ini telah membunuh anak ku dan kedua orang tua ku.. kembali kan anak ku hantu maniak.. prang,, prang” lagi-lagi benda terlempar dan kali ini sebuah benda berupa garpu terlempar. Kim Bum terus menangis mencoba mendekati So Eun yang selalu mundur.  Bibi Kim sudah keluar mencari bantuan seorang dokter sehingga tidak ada yang dapat mencegah So Eun melempar semua benda-benda.

 

“So Eun,, Mianhe. Jeongmal Mianhe.. saranghamnida Kim So Eun” tangis Kim Bum. Wajahnya sudah banyak luka terkena retakan beling yang dilempar. “pergi!!!!!!…” So Eun menutup kedua telinganya dan berjongkok di sudut dapur menekuk kedua lututnya.

 

“aku Kim Bum, So Eun. lihat aku.. hiks hiks.. jeongmal meanhe” Kim Bum mencoba mendekap tubuh So Eun yang berjongkok dipojokan dapur. “ tidak!! Aku tidak kenal dirimu.. hantu.. jangan dekati aku.. pergi!!” So Eun baru berdiri dan terus berteriak, tangannya meraba akan mengambil garpu dan menancapkannya ke tubuh Kim Bum. Namun sebelum hal itu terjadi  Dokter dengan cepat datang dan menyuntikkan So Eun obat bius. So Eun ambruk dan dipeluk Kim Bum dengan cepat.

 

“saranghae.. jeongmal saranghae Kim So Eun istriku. Maafkan aku..” Kim Bum mengangkat tubuh So Eun dan membawanya keluar kerumah sakit.

 

****

 

Tubuh ringking itu dengan rambut kusut yang panjang terbaring kaku diranjang rumah sakit yang memiliki suhu hangat. Kim Bum duduk di luar kamar rumah sakit karena kedua bola matanya tidak akan sanggup melihat apa yang sebenarnya menimpa Kim So Eun. Harusnya dirinya saja yang menerima karma menyakitkan ini, mengapa harus wanita itu.

 

Karma seharusnya jatuh ketangan yang salah tapi mengapa kesosok yang tidak bersalah. Memo seharusnya dituliskan sesuatu yang dimengerti tapi mengapa memo itu dituliskan dengan angka yang tidak terpecahkan? Memo dingin dimasa lalu membuat semua berubah bahkan bunga pun ikut berubah.

 

Air mata menemani Kim Bum terududuk di sepanjang kursi panjang yang sepi tanpa pasien lain. Rumah sakit begitu luas namun begitu sempit bagi Kim Bum yang mampu membuat rongga dadanya sesak. Kisah masa lalu berputar di benaknya bersama air mata yang tiada henti, bersama pula nafas yang sering sekali ditahan..

 

Flash back

 

2008, Karin’s International High School

 

Musim panas telah tiba dan disambut begitu antusias oleh beberapa murid kelas 12 A di Karin’s International ini. Tidak jarang dari mereka lebih banyak memilih melonggarkan dasi mereka di dekat leher sekalipun itu wanita. Suhu kota Seoul saat ini sedang memasuki suhu 25 derajat celcius. Dalam musim panas ini kelembapan udara sangat tinggi sehingga udara akan nampak segar walau dimasukkan kedalam musim panas.

 

“hei..setelah pelajaran bagaimana jika kita kepantai. Aku rasa akan sangat menyenangkan” kata salah satu murid disana. “pemikiran yang bagus. Ayo kita kesana” sambung teman yang lain. “kau akan ikut Bum?” tanya pria yang mengajak untuk kepantai. Wajah nya tampan dan tinggi dengan hidung yang begitu mancung.  “ tidak tahu” jawab Kim Bum sedikit malas. Mereka sedang berjalan di halaman sekolah dan akan masuk kedalam gedung sekolah.

 

“oh ayolah Bum. Bukankah ide Lee Min Ho itu bagus?” kata Park Min Young. Wanita itu sedikit tomboy walaupun rambutnya panjang dan lurus.  “ aku malas” tolak Kim Bum lagi. “apa salah nya sekali-kali kau ikut bersama kami. Ayolah jangan seperti itu” kata Park Min Young sedikit memelas diikuti oleh Lee Min Ho. Mereka mencegah langkah Kim Bum.

 

Kim Bum menatap kedua temannya ini satu persatu dengan kesal. “baiklah-baiklah, aku akan ikut” jawab Kim Bum akhirnya. “nah, itu baru namanya sahabat” tawa Lee Min Ho. Mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju kelas. Kim Bum berjalan sedikit pelan dan memutar-mutar kunci mobilnya.

 

Pandangan Kim Bum sedikit terganggu karena ada seorang wanita yang menarik perhatiannya, bukan hati melainkan mata. Lee Min Ho dan Park Min Young mengikuti pemberhentian Kim Bum dan mengikuti arah pandang retina mata Kim Bum yang lurus pada seorang wanita yang sedang melihat mading. Wanita itu mungil sangat cantik, berambut panjang sedikit ikal, memakai rok sekolah diatas lutut, dan dasinya dikendurkan memperlihatkan lehernya yang putih.

 

“aku baru melihat nya. Siapa dia?” tanya Kim Bum pandangan matanya masih lurus menatap diri wanita mungil itu. wanita itu sibuk melihat informasi-informasi yang tertera dimading. Rambutnya yang terjuntai panjang membuat tangannya sedikit sibuk menyelipkan sedikit rambut nya kebelakang telinga nya.

 

“ne? maksud mu wanita itu?” tanya Park Min Young menunjuk arah wanita mungil itu. Mata Kim Bum bisa melihat dengan jelas wajah wanita itu dari samping. Kim Bum mengangguk kecil menjawab pertanyaan Park Min Young. “oh dia, dia itu Kim So Eun siswi pindahan dari Jepang. Baru sebulan yang lalu dirinya pindah. Aku dengar-dengar kalau Kim So Eun anak tunggal dikeluarganya dan alasan dirinya pindah karena ayahnya telah di tetapkan bekerja di dinas Seoul” jelas Park Min Young. “dan dia itu menjadi idola dikelasnya bahkan sekolah ini” sambung Lee Min Ho menatap kearah So Eun.

 

“apa? Idola?” Kim Bum langsung menatap Lee Min Ho. Alisnya berkerut kuat tanda tidak percaya. “hmm.. kau terlalu sibuk dengan dunia mu sehingga  kau tidak tahu hal itu” kata Lee Min Ho tegas. Kim Bum beberapa kali berdesis dimulut nya, terlalu sulit menerima ucapan Lee Min Ho. Park Min Young yang tahu akan keraguan Kim Bum pun ikut berkomentar. “Kim So Eun memang menjadi idola wanita dan mengalahkan mantan kekasihmu yang telah pindah ke Rusia” kata Park Min Young melipat kedua tanganya di perutnya.

 

Lee Min Ho dan Park Min Young selang berganti memberikan penjelasan agar Kim Bum percaya. Disaat mereka berjeda dalam berbicara, So Eun melangkahkan kakinya untuk menuju kelas dan melewati hadapan Kim Bum. Tatapan kedua mata Kim Bum beradu dengan So Eun saat itu. Kim Bum mengangkat kedua alisnya membalas tatapan mata So Eun dengan gaya coolnya seperti biasa, sedangkan So Eun hanya cuek tanpa ekspresi dan langsung melanjutkan langkahnya melewati Kim Bum.

 

Kim Bum terkekeh kecil melihat sikap So Eun. Sebuah sikap yang meniru dirinya, karena Kim Bum pun dijadikan idola satu sekolah dengan gaya cool nya dan cuek. Lee Min Ho dan Park Min Young sedikit terkejut So Eun seperti itu pada Kim Bum. Biasanya wanita-wanita lain jika melihat Kim Bum dari dekat bisa saja pingsan. “berikan ku nomor ponselnya segera” suruh Kim Bum dan pergi menuju kelas.  “apa??!!” pekik Min Ho dan Min Young bersamaan.

****

 

“hai So Eun..” sapa Min Young menghampiri So Eun saat dikantin. So Eun hanya mengangguk kecil dan tersenyum kecil. “kau sendirian?” tanya Min Young menghilangkan suasana canggung. “ ya..” jawab So Eun lagi. “aku Park Min Young siswi dari 12 A” kata Min Young memperkenalkan diri. “Kim So Eun 12 B” kata So Eun tanpa diperintah.

 

Park Min Young sengaja berpisah dari Kim Bum sahabatnya dan Lee Min Ho kekasihnya itu karena dirinya diwajibkan mendapatkan nomor ponsel So Eun. Jika Park Min Young tidak melakukannya dipastikan Kim Bum akan memarahinya habis-habisan seperti orang berceramah. “ kau cantik yah So Eun. Hehehe” kata Park Min Young lagi, semua kalimat sapaan dan halus akan Park Min Young lakukan demi mendapatkan nomor ponsel So Eun karena Kim Bum memperhatikan dirinya dari kursi kantin seberang.

 

“terima kasih, kau juga cantik” kata So Eun tersenyum. “ So Eun shi, boleh kah aku meminta nomor ponsel mu?” tanya Min Young pelan-pelan. So Eun menghentikan kegiatan makannya dan minum sebentar. Keningnya mulai berkerut menatap Park Min Young karena curiga. “katakan kau diperintah siapa?” tanya So Eun to the point. “eh, tidak ada. Aku sendiri yang ingin meminta nya” kata Park Min Young mencoba tersenyum walau kaku.

 

“jangan berbohong. Katakan siapa yang menyuruhmu” paksa So Eun. Dari jarak jauh meskipun Kim Bum tidak dapat mendengar pembicaraan mereka namun Kim Bum dapat merasakan ada yang sedikit aneh melihat sikap Park Min Yung sedikit kaku. “itu.. “ “ katakan siapa?!” tanya So Eun memaksa. “ Ki..Kim Bum” jawab Park Min Young menunduk karena ditatap tajam So Eun.

 

So Eun meletakkan garpu nya secara kasar dan beranjak berdiri. So Eun dengan cepat melangkahkan kakinya menghampiri seseorang yang juga menatapnya dengan tajam dan alis sedikit terangkat. “dasar pria pengecut dan menjijikan beraninya hanya memerintah orang saja!” pekik So Eun sedikit keras dan didengar sebagian murid lain dikantin. “mwo?” Kim Bum membelalakkan matanya mendapatkan hinaan. So Eun mengambil selembar post it di saku seragamnya dan mengeluarkan pena menulis sesuatu. “ Kim Sang Bum pengecut!!!” ditempelkannya post it itu dikening Kim Bum membuat Kim Bum mendidih rasanya dipermalukan. “sial,, awas kau!” ujar Kim Bum merobek post it itu saat So Eun pergi.

****

 

“ada apa dengan mu?” tanya Hyun Bin saat mendapati putra nya terus berdesis tidak jelas. “tidak ada apa-apa” ketus Kim Bum. Mereka saat ini sedang bersantai diruang tengah.

 

“tidak mungkin tidak ada yang terjadi. Lihat mulut mu, terus berkoar” kata Hyun Bin mencoba bergurau. “sudahlah Appa jangan berisik” kata Kim Bum membentak dan Hyun Bin hanya memanyunkan mulutnya.

 

“urusan anak SMA biasanya yeobo” sambung Kim Sa Rang yang ikutan bersantai. “mungkin, Ah,, aku jadi ingat waktu masa-masa SMA ku” kata Hyun Bin. “kalian ini berisik sekali. Aku balik saja kekamar” kesal Kim Bum berdiri dari sofa dan naik tangga menuju kamar.

 

“dia itu jika sudah ada masalah selalu seperti ular, desisan selalu melekat dibibirnya itu” kata Hyun Bin mengeluh.

 

“ bukankah itu sifat mu dulu, jangan salah kan dia, dia seperti itu karena mu juga sewaktu dulu” kata Kim Sa Rang mengingat kembali sewaktu Hyun Bin muda tingkah laku nya sama persis dengan Kim Bum.

 

“ ah kau yeobo mengapa menyambung ke masa lalu ku” kata Hyun Bin sedikit tidak terima. Bagi Hyun Bin sifat itu merupakan sifat buruk dan harus dihindari. Kim Sa Rang hanya mengangkat kedua bahunya seolah tidak peduli.

 

“aku rasa masalah wanita lagi yang di hadapi anak itu” kata Kim Sa Rang mengalihkan pandangan nya ke majalah diatas meja. “ mungkin saja, putra kita itu sungguh digilai wanita. Aku sendiri sampai bingung apa yang membuat wanita menggilai anak itu” ujar Hyun Bin mulai mengunyah makanan ringan nya dan menikmati siaran televisi.

 

****

 

Siang ini kelas 12 A dan 12 B digabung. Setiap wali kelas dari mereka sedang sibuk untuk mempersiapkan masalah akreditasi bangunan dan segalanya sehingga kedua kelas ini di gabungkan dalam lapangan, mereka saat ini sama-sama dalam pelajaran olah raga. Seperti biasa, musim panas akan sangat bagus untuk olah raga sehingga banyak sebagian murid sudah mulai beraktifitas.

 

“Kim Bum,, Kim Bum.. yeaaay!!!” histeris sebagian orang saat Kim Bum baru saja turun ke lapangan dan memegang bola basket. Mereka semua begitu menggilai Kim Bum, namun tidak dengan wanita yang duduk menyendiri dengan buku novelnya setebal lebih dari 500 halaman. Pertandingan sudah masuk babak kedua dan Kim Bum baru akan masuk bergabung.

 

So Eun tampak tenang membaca novelnya tanpa suara apapun hanya hembusan nafas menghayati. Sebuah kisah romansa yang menyayat hati tentang kehidupan percintaan yang menyedihkan dan penuh penyesalan terdapat diperjalanan novel itu. Dari lapangan mata Kim Bum tidak sengaja melihat So Eun yang sedang tenang berselunjur kaki duduk didekat pohon sakura kuning. Bola coklat keras itu yang dipengang Kim Bum di ayunkan secara keras dan dilepas. Buuuk.. bola itu bukan mengarah pada tim atau pun ring melainkan kearah kepala So Eun membuat kening itu langsung memerah.

 

“uppss.. sorry” kata Kim Bum menghampiri So Eun dan mengambil bola itu yang berhenti disamping So Eun. So Eun langsung berdiri kasar dan menahan nafas kesalnya. Bussshhh.. bola itu dilempar So Eun kesembaranga arah dan mendorong bahu Kim Bum kencang. “sebenarnya mau mu apa? Aku tahu kau pasti sengaja melakukannya padaku.. dasar pecundang hanya berani dibelakang!” teriak So Eun membuat banyak siswa siswi yang tadi sibuk bermain memutuskan menyaksikan perdebatan ini.

 

Kim Bum hanya diam dan menyipitkan kedua matanya itu. “mau ku apa? Hei dengar wanita rendahan,, bukankah dirimu sendiri yang bersalah. Siapa yang menyuruhmu duduk tenang disana sedangkan yang lainya sibuk berolah raga? Otak mu kurasa rusak..!!” teriak Kim Bum membuat So Eun sedikit menjauhkan telingannya. Lagi-lagi So Eun menahan nafas berat dan menahan pusing akibat layangan bola tadi.

 

“hei! Kalian semua dengar aku baik-baik,, orang yang kalian idolakan ini tidaklah lebih dari seorang pecundang. PECUNDANG!! Dirinya hanya berani menantang wanita lemah dan kalian tahu Kim Sang Bum ini pernah memerintah teman nya untuk meminta kontak ku. Bukankah itu pecundang dan pengecut.. cihh,, apakah kalian semua tidak malu mengidolakan pria macam ini?!” teriak So Eun mengarah kepada semua murid lainya yang menjadi penonton. Kim Bum membulatkan matanya mendengar perkataan kasar dari mulut So Eun.

 

“hei!!” teriak Kim Bum  serasa tidak terima. So Eun lagi-lagi mengeluarkan post it nya dan menuliskan sesuatu. “PECUNDANG!!” itulah satu kata didalam post it dan tertempel di kening Kim Bum. So Eun segera berlari dan mengambil novelnya yang tergeletak direrumputan itu. Kim Bum diam tidak bergerak, bola matanya tidak bisa diam dan terus menegang. Diambilnya post it pink itu dan diremasnya kencang. “lihat saja Kim So Eun, aku akan membuat hidup mu dan masa depan mu hancur” gumam Kim Bum penuh penekanan.

****

 

“kau gila! Kau yakin akan melakukan hal itu?” kaget Lee Min Ho saat mendengar rencana Kim Bum.”sudahlah jangan banyak bicara. Aku akan membuat wanita itu bertekuk lutut dihadapan ku dan aku akan menghancurkan hatinya serta masa depannya” kata Kim Bum. “kau yakin tidak akan menyesal nantinya?” tanya Park Min Young membawa kertas kecil berwarna merah muda untuk Kim Bum. “sudah jangan dipikirkan. Lagi pula tidak semua penyesalan itu menyakitkan” kata Kim Bum santai dan mengambil kertas itu dari Park Min Young.

 

“kami tidak akan ikut campur rencana mu itu” kata Lee Min Ho dan mendapatan anggukan dari Park Min Young. “terserah..” jawab Kim Bum cuek. Kim Bum mulai menuliskan sesuatu di kertas itu. Sebuah kertas biasa namun indah tipis seperti kertas union skin atau doorslag. Sudah seminggu lamanya Kim Bum merencanakan hal ini dan baru akan terlaksana pagi ini. Memang Kim Bum sengaja menjalankan rencana itu hari ini karena hari ini tepat memasuki musim dingin.

 

Park Min Young dan Lee Min Ho memilih meninggalkan Kim Bum seorang diri. Mereka ingin sekali mencegah kelakuan Kim Bum karena mereka takut ada hal buruk yang terjadi dikemudian hari, namun percuma larangan itu hanya dianggap sebuah angin yang kecil.

 

“sudah selesai. Kita lihat saja Kim So Eun apa yang akan kau terima dari ulah mu itu” kata Kim Bum melipat kecil kertas itu dan diberikan lem perekat sedikit. Kondisi kelas masih sangat sepi karena Kim Bum datang terlalu pagi. Jadi tidak ada halangan besar untuk Kim Bum pergi kekelas 12 B dan menghampiri tempat duduk So Eun. Ditempelkannya memo itu di atas meja So Eun.

****

 

So Eun baru saja sampai dikelasnya dan mendapati sepucuk kertas yang indah dengan tulisan tangan yang rapi tanpa hapusan sedikipun. Sebuah sticker pun ditempel menemani kalimat dikertas itu.

 

To          : Kim So Eun
subject : my first memo in winter

Dear,

hai So Eun. Aku menyesal atas kejadian beberapa hari lalu dimusim panas. Sungguh aku benar-benar meminta maaf padamu. Benar kata mu, jika aku adalah seorang pengecut. Aku mengakui jatuh hati padamu. Kau tahu, memo mu di akhir musim panas waktu itu aku simpan ^^. Ini adalah memo pertama ku di musim dingin untuk mu. Mau kah kau memaafkan ku dan berteman dengan ku -_-?. Aku menunggu mu pulang sekolah ditaman.

Love you ^-^

From

Kim Sang Bum

 

 

Senyum So Eun langsung terlihat ketika membaca memo itu. Sebuah memo pertama musim dingin yang pertama kali ia dapatkan dan pertama kali pula Kim Bum buatkan. So Eun menyimpan memo itu di laci mejanya dengan baik. Musim dingin telah berlangsung dua hari sehingga cuaca ekstrim masih terasa.

 

Sebenarnya So Eun secara diam-diam telah jatuh hati dengan Kim Bum. Rasa itu tumbuh disaat So Eun pertama kali masuk sekolah dan melihat penampilan Kim Bum dilapangan sewaktu bermain basket menjadi kapten. Wajah Kim Bum yang begitu tampan terus membuat wanita-wanita histeris menyorakinnya memberi semangat. So Eun tidak bisa menahan hatinya pada saat itu untuk memberhentikan detakan jantung yang lebih kencang dan mencabut bunga-bunga yang dalam sekejap telah mekar. Namun hal itu tidaklah di ketahui oleh Kim Bum atau siapapun karena So Eun suka menyendiri. Sudah dirinya putuskan akan menemui Kim Bum sepulang sekolah nanti. Karena musim dingin, maka saat ini pulang sekolah akan dipercepat.

 

****

Peristiwa baik dalam kantin maupun lapangan basket itu sudah berlangsung dan terlewatkan seminggu yang lalu dan kini masalah itu sudah menjadi masa lampau dan menjadi kenangan dimusim panas. Pelajaran hari ini hanya sampai pada pukul 10.00 dan So Eun segera merapikan buku-buku nya serta barang-barang lainnya. So Eun sedikit merasa berdebar didetak jantungnya. Pikiranya sudah jauh melayang membayangkan apa yang akan Kim Bum katakan ditaman nanti sesuai dengan permintaannya dalam memo.

 

Suasana taman begitu sepi dan tampak kursi taman yang panjang tertutup salju sedikit. So Eun membersihkan salju itu dan duduk menunggu kehadiran Kim Bum. Ia genggam erat-erat buku yang ada ditangannya untuk menghilangkan gugup. Dari kejauhan nampak oleh mata So Eun Kim Bum melambaikan tangan dibalik sarung tangan putihnya. So Eun tersenyum dan menunduk malu. “hei, maaf aku sedikit terlambat. Tadi Min Ho teman ku meminta bantuan sedikit padaku” kata Kim Bum yang kini tepat berada dihadapan So Eun. Mereka saling tersenyum walau sempat hilang kata.

 

“aku.. aku sebenarnya ingin meminta maaf padamu So Eun shi” kata Kim Bum pelan dan terdengar menyakinkan. “hmm, aku sudah memaafkan mu. Lagi pula apa yang kulakukan pada waktu itu pun adalah sebuah kesalahan” kata So Eun tersenyum. Hatinya seakan-akan ingin meledak dan darahnya seakan-akan ingin membakar tubuhnya karena terlalu panas, pikirannya terlalu banyak kupu-kupu hinggap hingga banyak khayalan disana.

 

Tiba-tiba dengan berani Kim Bum mengulurkan tangannya dan menggenggam kedua tangan So Eun karena buku So Eun diletakkan di atas kursi. “aku menyukai mu, sungguh aku benar-benar menyukai mu So Eun shi. Saranghae.. Apakah kau mempercayaiku?” tanya Kim Bum penuh harap. So Eun sepertinya benar-benar kepanasan hingga seluruh permukaan wajahnya sudah berubah warna seperti kepiting matang. So Eun pun menatap mata Kim Bum sejenak namun intens dan mengangguk setelahnya. Dengan pelan Kim Bum mendaratkan ciuman hangat dibawah pohon sakura yang terbentur salju. “dia benar-benar melakukannya” kata Lee Min Ho yang melihatnya bersama Park Min Young.

****

 

Sekolah tingkat akhir itu saat ini memasuki masa liburan karena musim dingin sudah memuncak di atas batas rata-rata dan akan sangat membahayakan jika para pelajar dibiarkan tetap masuk. Hubungan Kim Bum dan So Eun semakin hangat saja tidak ada konflik yang berlaku walaupun itu hal kecil. Kedua orang tua So Eun sudah mengetahui hubungan itu dan sangat merestuinya, begitu pula dengan kedua orang tua Kim Bum. So Eun bukanlah putri dari pasangan yang kaya raya seperti Kim Bum. Ayah So Eun hanya pegawai dinas biasa sedangkan ibu So Eun hanya ibu rumah tangga.

 

Saat ini Kim Bum sedang mengajak So Eun berlibur ke Negara cinta, Paris. Memang sengaja Kim Bum mengajak So Eun kesana karena dirinya ingin membuktikan bahwa So Eun percaya akan hainya. Banyak janji-janji manis, perkataan manis, khayalan manis yang diutarakan Kim Bum. “setelah lulus aku janji akan meminang mu diParis” kata Kim Bum. Saat ini mereka sedang berada sebuah taman wisata yang bernama Parc de Sceaux. Taman indah diSelatan Paris ini tidak ada tiket masuk dan dapat dinikmatinya selama anda mau. Anda bisa piknik, berfoto di taman dan danau buatan, bermain bola, merebah diatas rumput seperti yang sekarang dilakukan Kim Bum dan So Eun.

 

Mereka saling bergandengan tangan direbahan itu hingga sore mejelang. Mereka pulang ke hotel yang telah Kim Bum pesankan sebelumnya. Mereka memang satu kamar hotel dan satu ranjang, namun tenang saja, Kim Bum tidak semudah itu melakukan hal konyol dalam semalam. Mereka seharian banyak mengunjungi tempat-tempat wisata selama tiga hari ini. Besok adalah hari terakhir mereka berlibur di Paris.

 

“tidurlah, aku akan mandi dulu” ujar Kim Bum mengecup kening So Eun sebelum memasuki kamar mandi. So Eun tersenyum senang. Rasanya begitu bahagia layaknya suami istri sungguhan. Kim Bum memperlakukan So Eun bukan seperti kekasih melainkan istri.

****

 

Esok harinya Kim Bum mengajak So Eun kesebuah tempat yang sangat terkenal akan keajaiban cinta. Kim Bum mengajak So Eun kesebuah tempat bernama Pont des Arts merupkan jembatan khusus pejalan kaki yang melintasi sungai Seine diParis dan menghubungkan Institute de Frence dan Louvre Musium. Disepanjang jembatan ini terdapat banyak gembok-gembok cinta yang didalamnya terdapat harapan cinta para kekasih untuk mendapatkan keabadian cinta.   “kau ingin mencoba?” tawar Kim Bum dan So Eun mengangguk senang. Mereka pun memulai menulis harapan mereka dan menempelkan gembok itu ke pembatas jembatan.

 

Sebuah harapan besar yang dituliskan So Eun dan harapan ringan dituliskan Kim Bum. Mereka pun melanjutkan perjalanan dengan terus bergandengan tangan.

****

 

Tidak terasa sekarang mereka berdua telah kembali kemasa-masa bangku sekolah. Kim Bum sangat gencar menceritakan semuanya terhadap temanya itu hingga membuat Park Min Young dan Lee Min Ho terus menggelengkan kepalanya tanda tidak percaya bahwa Kim Bum akan benar-benar melakukan rencananya dengan sangat mulus. “tinggal rencana terakhir” kata Kim Bum membuat Lee Min Ho terperanjat. “ kau gila, kau akan membuat dirinya membenci mu seumur hidup” ujar Lee Min Ho tidak percaya. “aku tidak peduli” kukuh Kim Bum.

 

“kelulusan tinggal beberapa bulan lagi dan aku akan menikahinya setelah lulus” kata Kim Bum sambil sibuk menyalin pekerjaan rumah. “itu akan sangat konyol jika kau benar-benar melakukannya” kata Park Min Young mencoba membatalkan. “kau benar itu akan nampak konyol. Baiklah aku akan menikahinnya setelah dirinya masuk kuliah dan semester pertengahan” kata Kim Bum sedikit berpikir tadi.

 

“kau benar-benar sudah tidak waras ku rasa” kata Park Min Young lagi. Kim Bum sama sekali tidak memperdulikan hal itu, baginya rencana tetaplah sebuah rencana. Beberapa waktu lalu Kim Bum sengaja mengajak So Eun keParis sekalian untuk merayakan hari ulang tahun So Eun. Tentu Kim Bum ingin membuat sebuah peristiwa yang tidak mampu So Eun lupakan.

 

****

Sebuah hubungan yang memang terjadwal dan terencana itu begitu berjalan lurus bahkan hingga kini Kim Bum berusia 22 tahun. Dirinya sudah menetapkan hatinya untuk menikah dan mulai menimbulkan kontraversi dikeluarga. “apa? Kau ingin meminta kami melamar Kim So Eun? Jangan gila Kim Bum, usia mu dan dirinya masih begitu belia” marah Kim Sa Rang. “aku sudah memantapkan hati eomma” kata Kim Bum penuh keyakinan. “tidak bisa, kau masih begitu muda” tolak Hyun Bin keras dan tegas. “kalian sama sekali tidak mempercayaiku bahwa aku bisa dewasa bukan. Kalian memang orang tua yang menyebalkan” marah Kim Bum naik keatas kamar. “sial, aku harus membuat mereka merestui pernikahan ku dengan wanita itu” gumam Kim Bum dalam hati.

 

Baru lima anak tangga yang Kim Bum dapati namun sebuah suara tegas terdengar. “baiklah jika memang kau ingin seperti itu. Kapan kau ingin kami melamarkannya untuk mu?” akhirnya setelah berpikiran keras dengan waktu singkat Hyun Bin menyetujui nya juga. “akhirnya mereka merestui juga” batin Kim Bum lalu membalikkan badan. “besok malam dan seminggu setelah itu aku ingin melangsungkan pernikahan” kata Kim Bum lagi dan terkesan memaksa. “ apa? Ada apa dengan otak mu hah? Kau begitu tergila-gila dengan pernikahan” tanya Kim Sa Rang terkejut. “sudahlah eomma jangan banyak bertanya. Jadi bagaimana, apakah kalian akan mengabulkan keinginan ku?” tanya Kim Bum menaruh harapan tinggi. Dirinya ingin menikahi So Eun pada 6 September 2011.

 

“baiklah kami menyetujuinya asalkan kau bisa menjaga dirinya” kata Hyun Bin tidak ingin banyak berpikir. “terima kasih eomma appa. Baiklah sekarang aku akan tidur dulu. Selamat malam” kata Kim Bum penuh semangat. “semoga saja ini bukan permainan konyolnya” gumam Kim Sa Rang khawatir.

 

****

 

Kim Bum dan So Eun sudah dua bulan lalu melakukan resepsi pernikahan di sebuah Gereja mewah dengan banyak mengeluarkan biaya bahkan dengan banyak pasang mata yang hadir. Mereka menikah di buan September tepat ulang tahun So Eun yang ke 22 tahun dan sekarang sudah menginjak bulan November awal. So Eun tampak terlihat terpuruk pasalnya baru saja di tinggal meninggal oleh kedua orang tuanya didepan matanya sendiri. Kedua orang tua So Eun meninggal akibat kecelakaan mobil saat rem mobil tidak bisa dikendalikan. Saat ini So Eun sedang melamun di kamarnya. Dibalik itu semua Kim Bum yang saat ini sedang berada di halaman rumah merasa risau hebat.

 

“kau gila bum!” pekik Lee Min Ho ingin marah. “kau berjanji padaku akan menghancurkan hatinya. Tapi mengapa kau menghamilinya?” tanya Lee Min Ho masih tidak percaya. “ku rasa aku merubah rencana. Aku akan menceraikannya segera saat ini juga” “apa?? Kau benar-benar rusak, dia sedang hamil dan kedua orang tuanya baru saja meninggal akibat ulah konyol mu” marah Lee Min Ho menatap tajam Kim Bum. “mereka meninggal bukan karena ku, lagi pula jika aku menceraikan dirinya disaat hamil ku rasa itu akan memperburuk hatinya. Kau ingat bagaimana dulu dia menghina ku, aku akan selalu menjadikan itu suatu dendam. Aku jadi bahan olok-olokkan semua warga sekolah dan disebut sipecundang, kau pikir bagaimana perasaan ku waktu itu, hah?” papar Kim Bum.

 

“apa??!!” teriak So Eun saat mendengar utaraan Kim Bum beberapa detik lalu. Kim Bum dan Min Ho menoleh secara bersamaan menatap So Eun. So Eun baru saja turun karena bosan dikamar dan ingin mengajak Kim Bum jelan-jalan. Perut So Eun terlihat sedikit besar dibalik dress putihnya itu. “kau,, kau pembunuh.. aaaahhhh pembunuh!!” teriak So Eun di tempatnya. So Eun begitu tertekan kini hingga teriakan frustasi terlontar keras.

 

Kim Bum sangat kaget melihat So Eun berteriak dan hatinya secara medadak tertikam ketika So Eun terjatuh di atas rumbut hijau dengan darah mengalir dan memberikan warna pada dress putih itu. “Kim So Eun!!” teriak Kim Bum secara spontan. Lee Min Ho terpaku melihat Kim Bum untuk pertama kalinya berteriak keras dan membopong cepat So Eun. “Kim So Eun, kau dengar aku…” teriak Kim Bum masih membopong So Eun dan memasukannya kedalam mobil.

 

****

Janin itu, janin yang semula dikatakan sehat dan dapat tumbuh dengan sangat sehat harus kandas. Janin itu telah lenyap memperdalam luka yang mengandung. Kim Bum tidak pernah sekalipun berencana untuk membunuh janin itu, sumpah demi apapun tidak pernah. Dan tidak pernah sekecil apapun merencanakan kepergian kedua orang tua So Eun. Kim Bum hanya berencana untuk membuat hati So Eun terluka bukan menderita. Kim Bum sengaja ingin memberikan janin itu agar ketika bercerai So Eun dapat bahagia dengan janin itu.

 

Sesungguhnya Kim Bum telah mencinta So Eun saat janin itu dinyatakan tumbuh, tapi Kim Bum tetap ingin memberikan pelajaran terhadap So Eun bukan terhadap hidup So Eun. Kim Bum sewaktu itu sedang iseng membuat mobil orang tua So Eun rusak bagian rem agar kedua orang tua So Eun tidak meninggalkan So Eun pergi ke Busan saat Kim Bum harus bekerja. Kim Bum tidak ingin So Eun yang hamil seorang diri.

 

Sekali lagi Kim Bum sama sekali tidak pernah mengharapkan ini. Air mata mulai mengalir deras membuat Kim Bum tidak berdaya. Kakinya tak mampu lagi menopang dan terjatuh di lantai rumah sakit, tangannya mencoba menggapai perut rata So Eun. “mianhe.. hiks mianhe..” ujar Kim Bum matanya terpejam tak sanggup melihat perut rata itu. Tidak lama So Eun pun kembali sadar dan merasa aneh akan perutnya itu. Kini Kim Bum telah berdiri tegak dan memandang arah lain. “bayi ku, diaman dia? Dimana?” tanya So Eun tampak bingung dan seperti orang frustasi. “dimana??!!!” teriak So Eun menekan perut ratanya itu.

 

“ahhhh!!! Kau pembunuh.. kembalikan anak ku!! Jangan ambil bayi ku!!” teriak So Eun menunjuk Kim Bum dan mulai berteriak memukul-mukul tubuh Kim Bum. Histeris kini begitu terdengar membuat siapa pun yang mendengarnya akan pilu. Hari ini seharusnya menjadi hari bersejarah karena So Eun berulang tahun. Namun lupakanlah, hari ini menjadi hari berduka. Dokter segera datang menghentikan amukkan So Eun yang terus memukul Kim Bum dan mencakar wajah Kim Bum hingga banyak goresan kuku disana. Kim Bum hanya diam menangis tidak berkutik.

 

“sebaiknya anda pergi dari sini tuan” saran dokter itu. Kim Bum hanya diam tidak berkedip, air matanya terus mengalir saat ini. Matanya tidak mampu berkedip menyaksikan istrinya itu berteriak menyebut dirinya iblis dan meminta kembali bayinya itu. So Eun mengalami keguguran karena begitu syok mendengar pengakuan Kim Bum dan Kim Bum merasa begitu dirinya begitu laknat ditambah kedukaan kepergian kedua orang tua membuat So Eun tambah tertekan. “aahhh!!! Hantuuu.. kembali kan bayi ku” teriak So Eun terus menerus.

 

****

 

Terus dan terus So Eun seperti itu, selalu berteriak jika melihat Kim Bum dan mendengar nama Kim Bum. So Eun benar-benar hancur bukan hanya hatinya tapi juga kehidupannya. Kim Bum selalu menangis jika melihat So Eun jadi seperti ini, jika melihat So Eun berteriak ingin sekali Kim Bum membuat telinganya tuli agar tidak mendengar jeritan histeris yang menyayat hati itu, dirinya juga ingin sekali membuat matanya menjadi buta agar tidak lagi melihat betapa menderitanya So Eun.

 

“aku tidak percaya ini kau lakukan atas sandiwara. Kau mempermainkan cinta dan pernikahan selama ini. Kau Gila!!!” teriak Hyun Bin saat Kim Bum jujur akan semuanya. Kim Bum merencanakan ini semua, Kim Bum sengaja menjadikan So Eun kekasihnya disaat ulang tahun So Eun dulu, menciptakan suasana romantis di Paris ketika ulang tahun So Eun, menikahi So Eun di ulang tahun So Eun dan terakhir berniat menceraikan So Eun di ulang tahun juga, itu semua karena Kim Bum ingin menghancurkan hati So Eun di hari jadinya itu dan membuat hati So Eun terluka jika mengingat tanggal kelahiranya. Kim Bum tidak ada niat menghancurkan hidup So Eun. Kini semua telah terjadi dengan sangat penih sesal.

 

“meanhe..” ujar Kim Bum saat Hyun Bin berteriak tadi, mereka saat ini sedang berada di taman rumah sakit. “kau bilang apa? Meanhe? Kau salah orang, harusnya pada So Eun kau mengatakannya. KAU ITU MENJIJIKAN!!!” teriak Hyun Bin tidak habis pikir Kim Bum akan menghancurkan hidup seorang wanita sampai separah ini.

 

“aku akan meminta maaf padanya” kata Kim Bum. “Bodoh! Mendengar nama mu disebut orang saja dia akan marah dan seperti keterbelakangan mental apalagi jika kau menampakkan dirimu dihadapnya dan meminta maaf, KAU PIKIR APA YANG AKAN TERJADI, HAH?!” teriak Hyun Bin lagi. “aku membesarkan mu dengan baik namun aku tidak menyangka hati mu serusak ini” kata Kim Sa Rang yang terduduk lemas di kursi taman. Semua begitu larut dalam emosi dan diam menahan puncak kemarahan.

 

****

Semakin hari kondisi So Eun semakin parah dan itu membuat sebagian dokter di Soeul mengalami kesulitan. Sering sekali So Eun mengamuk dan susah dihentikan. Kim Bum selalu melihat dari jarak jauh tanpa niat ingin kembali merusak hidup So Eun. Pohon-pohon rindang beserta angin menjadi sanksi betapa banyak air mata yang Kim Bum keluarkan saat kedua matanya menangkap diri So Eun.

 

Kim Bum terduduk seorang diri di taman ramai itu, pandangannya tidak menentu, terkadang kosong terkadang pula penuh beban seakan-akan pecah berhamburan. Hatinya tidak bisa lagi dirasakan walau keadaan yang seharusnya bertindak. “ Kau gila!! Kau puas? KAU PUAS MENJADI PENGHANCUR?!” teriak Lee Min Ho menangkap kerah baju Kim Bum hingga secara mendadak Kim Bum berdiri. “ pasang matamu jika hati mu telah buta, pasang telinga Bum bila detak jantung mu berhenti, kenapa kau melepas itu semua tanpa kau pasang? KENAPA KAU TIDAK MEMBERIKAN KESEMPATAN  MATA MU UNTUK MELIHAT KEHIDUPAN? KENAPA KAU TIDAK MEMASANG TELINGA MU UNTUK MENDENGAR JANTUNG MU BERDETAK KENCANG KARENA NYA? “ terus teriakan itu terlontar membuat Kim Bum bagaikan seorang yang mati, roh nya menghilang seketika.

 

“aku tidak..” “ kau tidak apa? TIDAK APA? TIDAK BERNIAT MENJADI PENGHANCUR? BEGITU?! SESUATU YANG DIAWALI DENGAN KEBUSUKAN PASTI BERAKHIR DENGAN KEHANCURAN!!!” teriak Min Ho mendorong kasar kerah baju Kim Bum. Park Min Young yang berada disana hanya menangis. Tidak ada yang peduli dengan tikaman Kim Bum, bahkan suasana pun tidak peduli. “ Kau lihat, dirinya bahkan dinyatakan gila, ganguan jiwa. Kau membuat dirinya seperti ini. Bagaimana kau akan bertanggung jawab?” kini giliran Park Min Young bersuara. Semua terdiam dan terduduk tanpa ingin saling melukai. Suara teriakan So Eun dapat dengan jelas didengar kedua telinga Kim Bum, Lee Min Ho dan Park Min Young karena mereka berada di taman dekat dengan kamar inap So Eun.

 

Suara So Eun meminta kembali bayi yang telah tiada itu memperburuk hati Kim Bum. Berkali kali Kim Bum menutup kedua telingannya dengan kedua tangannya, berkali kali pula Kim Bum berteriak melampiaskan hatinya, berteriak meminta Tuhan memberikan jalan. Angin masih bisa dirasakan oleh poro-pori orang lain namun seperti apa hembusan angin itu tidak memekakan pori-pori kulit Kim Bum yang tertekan. “ aku lebih memilih kau membunuhnya dari pada membuat dirinya seperti ini” kata Lee Min Ho. Kim Bum hanya mampu menangis, telinganya sudah panas mendengar teriakan itu.

 

“aku mecintai nya..” aku Kim Bum disisa-sisa kekuatan dari mulutnya. “ apa? Cinta? Cinta apa? Cinta kasihan? Cinta penyeselan? Jika cinta mu dari salah satu itu,, lebih baik jangan diteruskan” kata Min Ho sudah pelan berucap. “cinta tulus..” jawab Kim Bum sangat pelan membuat Lee Min Ho dan Park Min Young dengan cepat menatap Kim Bum. “bohong!” pekik Park Min Young. “ sekalipun sakura gugur dan kembali bersemi jika kau hanya berucap tanpa bukti itu hanya akan sia-sia” kata Min Ho lirih. “ sebelum sakura tumbuh aku akan membuktikan” kata Kim Bum berdiri dan pergi.

 

****

Kim Bum selalu rajin mengunjungi So Eun sekalipun setiap dirinya mengunjungi selalu terdengar teriakan menyanyat yang mendengarnya. “ hantu!! Pergi!! Jangan ganggu hidup ku.. kembalikan anak ku!!” selalu teriakan itu yang diucapkan So Eun. Bahkan sering sekali So Eun meludahi wajah Kim Bum jika mendekat, seberapa sakit saat itu hati Kim Bum?? jika dijabarkan dengan penjelasan dengan bibir rasanya akan sangat sulit karena bukan bibirnya yang terluka namun hatinya lah. Sering sekali Kim Bum menulis memo kata-kata cinta namun memo itu akan menjadi sampah dirumah sakit tanpa sempat dibaca.

 

“So Eun, ini aku Kim Bum.. saranghae” ujar Kim Bum yang sore itu mengunjungi dengan tangan kosong tanpa selembar kertas atau sebatang pena sekalipun. “ pergi!! Tolong.. ada hantu!!” teriak So Eun lagi-lagi membanting semua barang dirumah sakit itu. Kim Bum hanya menangis melihat kondisi So Eun yang semakin hari semakin parah.

 

“saranghae So Eun, jeongmal sarang” kata Kim Bum matanya sudah banyak mengurai air mata dan bibirnya bergetar hebat. So Eun menutup kedua telinganya dan menggeleng kasar. “ pergi!!!” teriak So Eun seperti orang ketakutan hebat.

 

“tidak,, aku tidak akan pergi, saranghae” papar Kim Bum untuk kesekian kalinya. “pergi!! Prang prang!! Tolong….” Teriak So Eun dipadu lembaran barang-barang. Dengan cepat dokter yang mendengar segera datang dan mencoba menenagkan So Eun.

 

“maaf Tuan sebaiknya anda pergi dari sini” saran sang dokter membuat Kim Bum sangat tertusuk. “ pergi!!” teriak So Eun begitu keras seperti mengusir sesuatu yang menakutkan dan mengusir binatang yang menjijikan.

 

Akhirnya Kim Bum pergi dari kamar itu atas saran dokter dan tidak lagi menulis memo apapun itu. Teriakan So Eun tidak ingin lagi Kim Bum dengar.

 

****

Hingga suatu hari dimusim dingin di hari yang berbeda Kim Bum baru akan memulai menulis memo untuk So Eun, dirinya pikir mungkin ada keajaiban dari selembar memo musim dingin ini. Namun sayang, So Eun telah tiada dikamarnya dan hilang tanpa jejak. Kim Bum begitu terpukul dan bersalah, kesalahan yang terus mengganggu hidupnya dan tidurnya sepanjang malam. Sudah banyak tempat Kim Bum telusuri mencari So Eun yang saat ini masih sah menjadi istrinya itu.

 

Tapi sia-sia saja pencarian itu, nyatanya berbulan-bulan pencarian itu menghasilkan hasil yang nihil. “kau pergi kemana? Apakah hati mu begitu sakit? Apakah hidupmu begitu terluka?” tanya Kim Bum seorang diri tanpa siapa pun. Cuaca begitu mencekam karena sebentar lagi musim dingin akan berakir. Kim Bum duduk di pinggiran jalan dengan lutut ditekuk. Bibirnya mulai biru seharian mencari dan kakinya mulai berat melangkah karena terlalu jauh mencari.

 

****

Hingga satu tahun kemudian Kim Bum sama sekali tidak menemukan jejak So Eun dan itu membuat Kim Bum tidak bisa hidup tenang. Untuk mengenang sosok So Eun Kim Bum memutuskan tinggal di Perancis meski harus menentang kedua orang tuanya. Kedua orang tua Kim Bum telah mengetahui tragedy meninggalnya kedua orang tua So Eun dan Kim Bum mendapatkan hukuman tinggal di jeruji besi selama beberapa bulan.

 

Bebasnya Kim Bum dari jeruji besi ia memutuskan tinggal di Perancis, Negara penuh kenangan bersama So Eun. Sebuah harapan singkat yang waktu itu dirinya tulis dijembatan cinta. “ hidup bahagia tanpa air mata” itu lah harapan Kim Bum sewaktu itu. Harapan ringan yang mengandung banyak makna. Namun harapan itu telah sirna dan harus dilupakan.

 

****

Flash back end

 

Peristiwa menyakitkan itu mengingatkan Kim Bum akan masa lalu menyakitkan itu. Semenjak peristiwa itu So Eun menghilang entah kemana tanpa kabar dan Kim Bum memutuskan tinggal di Perancis mencoba melupakan masa lalu dan mencoba hidup lebih baik meskipun hatinya sangat terluka. Sebenarnya Kim Bum ingin menetap di Paris, hanya saja kota itu memiliki kenangan indah bersama So Eun sehingga Kim Bum memilih kota Lylon sebagai penentu hidupnya.

 

Kini So Eun telah kembali dan kondisi nya tidak jauh berbeda dari beberapa tahun lalu. Ternyata So Eun dibawa pergi oleh pengasuhnya itu dan tinggal di Paris dengan sisah kekayaan kedua orang tua So Eun. Tidak lama dokter itu keluar dengan sedikit tenang. “bagaimana istri ku?” tanya Kim Bum penuh harap. “kondisi dirinya masih sangat buruk” jawab si dokter. Kim Bum kembali mengeluarkan air matanya itu.

 

Dengan pasti Kim Bum mencoba masuk kedalam kamar rawat itu. Kecantikan So Eun tidaklah berkurang sedikitpun walaupun begitu kusam dan kurus. Tangan Kim Bum mulai terangkat membelai rambut itu, rambut yang berubah warna menjadi kecoklatan tidak lagi hitam bersinar. “maaf kan aku istriku” ujar Kim Bum mengecup pucuk kepala So Eun. Ia melihat sebuah post it di samping tempat tidur So Eun, dirinya tersenyum melihat itu. Hari ini adalah hari musim dingin dan itu membuat Kim Bum tersenyum kecil. Diambil post itu dan dituliskan sesuatu. “Kim Sang Bum mencintai Kim So Eun selamanya” tulis nya dan di tempelkan di meja.

 

So Eun selama beberapa tahun mengalami depresi berat dan sudah dikatakan sebagai orang mengalami kelainan pada otaknya. Sebenarnya tidak seutuhnya So Eun melupakan Kim Bum, namun jika mengingat post it dan mendengar nama Kim Bum maka peristiwa bayi dan kedua orang tuanya akan membuat So Eun kembali kambuh seperti orang tidak waras. Kim Bum duduk disamping So Eun dan terus membasuh tubuh So Eun dengan kain basah agar tidak lengket dan mencium tangan So Eun sebagai bukti kasih. Benda berbentuk lingkaran itu masih melingkar dijari manis tangan kanan So Eun tanpa terlepas. “saranghae..” Kim Bum mencium kembali pucuk kepala So Eun.

 

So Eun membenci kalender dan selalu membenci angka karena dibalik angka akan ada angka kelahiranya dan kelahiran Kim Bum serta pernikahan itu. So Eun pun membenci kertas karena itu akan mengingatkannya pada tulisan palsu itu. Sehingga So Eun selalu di rawat inapkan dengan kamar bebas angka.

 

Namun Kim Bum sudah berniat akan terus mengirimkan memo cinta dimusim dingin untuk So Eun sampai saat nya tiba, saat tangannya tidak sanggup lagi menulis kalimat cinta.

 

Air mata itu mengalir deras penuh sesal, suara kecil isakan mulai memenuhi kamar rumah sakit itu membasahi tangan So Eun yang terbaring lemas. “hiks hiks,, maaf kan aku” kata Kim Bum berlutut memohon ampun dan terus memukul hatinya yang teramat sakit dan sesak. Bertahun-tahun Kim Bum mencoba berdiri dan tidak ingin lagi memikirkan pernikahan karena hatinya hanyalah untuk So Eun, namun saat itu setelah kembali bertemu, hatinya bukan senang namun bertambah luka, luka yang dulu lebar bertambah lebar.

 

“aaahhh!!!!! Meanhe” teriak Kim Bum tertahan terjatuh duduk di bawah ranjang dan punggungnya bersandar pada kaki ranjang itu. Malam penuh kedinginan dengan salju itu menemani Kim Bum larut dalam luka nya. Kim Bum akan mengulang kisah memo musim dingin itu, ia akan memulainya mulai saat ini di malam July musim dingin.

 

****

Memo musim dingin itu terus berjalan dan selalu tertulis isi yang sama.

 

To          : Cinta abadi ku
Subject : Memo en Hiver

Dear,
Kim Sang Bum mencintai Kim So Eun selamanya

From
suami tercinta mu..

 

 

Selama tangan itu mampu maka selama itu pula memo musim dingin terus mengalir. So Eun selalu membuang memo itu dan tanpa melihat sedikit pun. Hadiah dari Kim Bum selalu di buang dan memenuhi tempat sampah rumah sakit. Musim dingin sudah memasuki tanggal 5 September itu berati musim dingin telah berjalan tiga bulan dan surat itu masih terus mengalir. Kini kondisi So Eun tidaklah seburuk bulan-bulan lalu, kini jiwa So Eun sudah sedikit tenang.

 

Tidak terasa besok adalah hari ulang tahun So Eun yang ke 25 tahun dan lagi-lagi So Eun membuang semua hal yang berkaitan dengan angka dan macamnya. Keseharian So Eun hanya diam dan melamun dikamar rumah sakit tanpa melakukan apapun. Sering kali So Eun mengelus perutnya dan berbicara sendiri. Dirinya sering sekali membayangka janin itu masih hidup dan akan segera lahir. Kim Bum tidak sengaja melihat So Eun seperti itu dan langsung menangis, tangannya gemetar mendadak, bibirnya beku secara spontan. Memo di tangannya terjatuh dan terbang dibawah kaki So Eun yang sedang berdiri melihat salju turun lambat di jendela kamar rumah sakit. So Eun tidak memungut memo itu namun membalikkan badan nya dan pandangan mata mereka bertemu. So Eun hendak berteriak namun Kim Bum memeluk So Eun erat.

 

“mianhe,, jeongmal mianhe.. maaf kan aku So Eun” ujar Kim Bum berurai air mata. So Eun terus memberontak dan berteriak-teriak. “lepaskan aku.. tolong, ada hantu ingin membunuh ku. Tolong!!” teriak So Eun histeris. Kim Bum masih bertahan memeluk So Eun, tangannya terlalu merindukkan tubuh So Eun untuk dipeluk. “aku mohon jangan seperti ini So Eun, maaf kan aku” kata Kim Bum penuh isakkan. Baju Kim bum sedikit robek di tarik-tarik So Eun yang memberontak untuk lepas.

 

“kau Hantu.. kau pembunuh,, kembalikan Bayi ku..!! dimana sembunyiakan kedua orang tua ku dan bayi ku!!” teriak So Eun mendorong tubuh Kim Bum hingga pelukan itu terlepas dan Kim Bum terjatuh. Kepala bagian belakang Kim Bum membentur kaki ranjang rumah sakit yang sedikit tajam terbuat dari besi hingga menimbulkan aliran darah keluar dari kepala bagian belakang Kim Bum.

 

“pergii!!!” teriak So Eun untuk kesekian kalinya dan kini dengan berani mengambil pisau buah dimeja dan mengarahkan kearah Kim Bum.

 

Kim Bum sama sekali tidak meringis merasaan sakit, hatinya jauh lebih sakit saat ini bahkan selama ini dibanding rasa sakit lainnya. “pergii!!!” teriak So Eun mengambil pisau buah dimeja dan mengarahkan kearah Kim Bum. Kim Bum menggelengkan kepalanya menolak untuk pergi dan membiarkan kepala bagian belakang nya terus mengalirkan darah. Tidak ada yang mendengar teriakan itu karena kamar itu dilapisi peredam suara. “bukankah sudah ku katakan bahwa Kim Sang Bum mencintai Kim So Eun selamanya, oleh karena itu aku tidak akan pergi sekalipun tangan suci mu menancapkan pisau di tubuh ku” ujar Kim Bum menangis dan perlahan berdiri dan mendekati So Eun.

 

Kim Bum kembali berdiri tepat dihadapan So Eun dan kedua pasang bola mata itu mengalirkan air mata deras. Kim Bum hendak memeluk So Eun namun So Eun menghindar, Kim Bum terus mendekati So Eun tidak jera walau terluka. Dengan cepat Kim Bum meraih tangan So Eun untuk ditarik dan dipeluk, namun sayang gerakan reflek So Eun jauh lebih cepat dibanding gerakan tangan Kim Bum yang hendak memeluk. Suasana hening seketika dan sebuah benda runcing terjatuh menimbulkan bunyi yang nyaring. Setetes darah menetes dilantai menemani permukaan pisau. Pisau tajam itu merobek perut Kim Bum cukup dalam membuat Kim Bum goyah. “So..So Eun..” ujar Kim Bum disela-sela pengaturan nafas.

 

So Eun hanya diam, tangan nya basah terkena darah. “ Kim Bum..” pekik So Eun seakan sadar dari tidur panjangnya, memorinya seakan mulai tersambung dan dapat menerima kehadiran Kim Bum. Memo pink yang hendak diberikan kepada So Eun itu terbuka oleh angin disaat Kim Bum tumbang terjatuh, kakinya sudahlah tidak mampu menyanggah tubuhnya. Sebuah Memo musim dingin yang ke 100 berisikan kalimat harapan yang begitu dalam.

 

To : My lovely wife

Subject : cinta sejati

Dear,

Andaikan tulip putih itu berganti warna menjadi merah dan mawar merah itu berubah warna menjadi putih,,

apakah kau masih bisa membedakan nya mana tulip sesungguhnya dan mawar sesungguhnya? Apakah kau masih bisa menerima bunga itu menjadi bunga impian mu walau pun tidak lagi sama? Sama halnya seperti diriku.. apakah masih ada kesempatan untuk ku dipandang oleh mu walau aku telah berubah ??

Hati yang pernah terluka apakah masih bisa terus mencintai ku??

Kim Sang Bum mencintai Kim So Eun Selamanya.

From
Your Husband forever

 

Surat itu terbaca oleh So Eun saat Kim Bum menutup matanya. “ahhh!!! Kim Sang Bum..!!!” teriak So Eun memeluk kepala Kim Bum, medekapnya erat-erat tanpa ingin dilepas. Air mata membasahi rambut hitam milik Kim Bum. “hiks hiks.. Kim Bum!!!” teriak So Eun memperdalam dekapanya. Andai saja Memo itu terbaca lebih dulu mungkin arti kehidupan sesungguhnya bisa diperbaiki, namun memo musim dingin itu terlambat dibaca bukan dengan ketidak sengajaan namun dengan ketidak inginan.

 

****

So Eun memegang perutnya yang sedikit memebesar menandakan ada makhluk hidup didalam nya. Harapannya yang lama kini telah kembali. Namun sayang, hanya tangannya yang bergerak memelus perutnya namun pikiranya kosong menatap dinding putih dihadapnya. “ gumawo” ujar So Eun pelan bersamaan air yang terjatuh dari kedua manic matanya itu. Anak itu hadir karena pemeberian Kim Bum. Dengan penuh perasaan Kim Bum melakukannya dimalam itu.

 

Flash back

 

Malam itu setelah Kim Bum berlarut menangis dimalam dingin bulan July, Kim Bum bangkit berdiri dan membulatkan niatnya. Kim Bum ingin membuahi kandungan So Eun meskipun pada akhirnya So Eun akan tetap tidak bisa menerimanya namun setidaknya Kim Bum ingin membalas kesalahan nya itu.

 

Kim Bum mengunci pintu kamar rumah sakit itu dan mendekati So Eun. “ malam ini aku akan memohon pada Tuhan agar rahim mu kembali berfungsi” kata Kim Bum sedikit menahan air mata. Dirinya tidak ingin wajah So Eun terkena air mata nya, dirinya tidak ingin mengotori wajah cantik So Eun. Kim Bum menangis sebentar dan memejamkan matanya mengatur hati nya itu.

 

Hingga beberapa menit kemudian tangan kekar Kim Bum membuka sehelai demi sehelai baju So Eun, hatinya ingin sekali memberontak namun ini ia lakukan untuk kebaikan So Eun, ia ingin memberikan kado terindah untuk So Eun di ulang tahunya nanti. “ saraghae..” ujar Kim Bum mengecup bibir So Eun sekilas. Tubuh polos So Eun telah terpampang didepan matanya, tubuh yang sangat indah dan tidak akan tergantikan oleh siapa pun.

 

Kim Bum mulai membuka bajunya sendiri dan naik ke atas ranjang yang luas itu. “ semoga apa yang ku lakukan akan membuat mu bahagia, saranghae.. meanhe” ujar Kim Bum mengusap lembut rambut So Eun dan mulai melakukan sesuatu diatas tubuh So Eun. Kim Bum melakukanya dengan sangat perlahan, banyak paksaan hati yang dirinya tahan untuk menahan nafsunya banyak pula air mata yang menemani proses itu.

 

Pada akhirnya Kim Bum benar-benar melakukannya dan selesai setelah tiga jam lamanya. Kim Bum memberikan cairan cinta kedalam tubuh So Eun dan ketika selesai merapikan pakaianya kembali serta pakaian So Eun kembali Kim Bum menatap So Eun dalam, ia pandangi wajah tertutup itu. chup,, sebuah kecupan hangat mendarat diperut So Eun yang telah dilapisi pakaian. “ semoga nanti kau tumbuh” kata Kim Bum menangis kembali.

 

Falsh back End

 

Sepanjang menit dan jam So Eun hanya terduduk dan kepalanya bersandar pada sandaran kursi itu. Lee Min Ho baru saja datang beberapa menit lalu setelah dikabari oleh dokter karena dokter itu ternyata teman Min Ho dan teman Kim Bum. “ Kau baik-baik saja So Eun shi?” tanya Lee Min Ho khawatir, wajah So Eun begitu pucat. So Eun menggelengkan kepalanya pelan menandakan keadaanya benar-benar tidak dalam keadaan baik. Kim Bum dilarikan dalam kamar ICU saat ini.

 

“aku yakin dirinya akan bertahan untuk mu, percayalah” kata Lee Min Ho memeluk So Eun memberikan kekuatan. Keduanya menangis dalam sepi, Kim Bum pun menangis dalam diam. Air mata itu mengalir walau mata itu tertutup.Kim Bum telah berhasil mengembalikan janin itu walau berbeda namun setidaknya Kim Bum benar-benar menepati perkataannya sewaktu dulu bahwa cinta nya tulus dan akan membuktinya sebelum sakura tumbuh di musim semi.

 

So Eun mengetahui dirinya hamil karena beselang sejam kejadian Kim Bum So Eun muntah-muntah hebat dan dokter lain yang mengetahuinya segera memeriksa So Eun.Dokter itu lantas memberitahu So Eun bahwa saat ini So Eun sedang hamil.

 

Park Min Young lah yang memberitahukan bahwa janin itu adalah pemberian Kim Bum di musim dingin July lalu. Park Min Young datang lebih dulu sebelum Lee Min Ho dan saat ini Park Min Young sedang menghubungi kedua orang tua Kim Bum.

 

****

Hari ini adalah hari kelahiran So Eun dan untuk kali ini So Eun begitu semangat memajang kalender dan menyiapkan memo untuk mengulang masa lalu walau tanpa Kim Bum. Kim Bum masih tergeletak di ranjang rumah sakit belum sadarkan diri. So Eun ingin melanjutkan memo itu. “ membedakan mawar dan tulip bukan dengan mata namun indra penciuman, karena seberapa besar bunga itu berubah namun pasti akan tetap menghantarkan aroma yang sama. Begitu pula dengan dirimu yang berubah. Aku tidak akan menggunakan mataku untuk melihat diri mu namun aku akan menggunakan telinga ku untuk mendengarkan suara hati mu dan menggunakan langkah ku untuk memberikan mu kesempatan. Telinga ku akan ku jadikan sebagai penuntun kaki yang kaku dan kaki ku akan gunakan untuk menentun telinga yang tuli. Jika telingaku terluka, aku masih memiliki hati yang mampu merasakan dan membedakan” kata So Eun menulis memo itu.

 

Ia tempelkan memo itu di meja dan mengecup kening Kim Bum. So Eun begitu bahagia janinnya sungguh tumbuh dengan baik dan harapan terakhirnya adalah Kim Bum kembali. Ia ingin menjadi kan memo ini menjadi memo terakhir di musim dingin untuk kesedihan dan berlanjut memo di musim dingin dengan kebahagiaan.

 

So Eun menyusun bunga tulip itu bersamaan dengan bunga mawar di meja dan menatap wajah tampan Kim Bum. “ kau tidak berubah dan masih menyebalkan” kata So Eun yang tanganya mulai menyusuri lekat bentuk wajah Kim Bum. Dirinya tersenyum sendiri membayangkan bagaimana bisa Kim Bum melakukan hal itu di malam musim dingin bulan July lalu. Kini kandungannya sudah berjalan empat minggu. Gabriella baru saja membelikan bunga tulip dan mawar itu dan So Eun yang merangkainya. Gabriella sudahlah tahu mengenai kehidupan Kim Bum karena bagi Gabriella Kim Bum itu adalah saudaranya sendiri dan So Eun pun sudah berkenalan dengan Gabriella sewaktu itu.

 

So Eun merubah wajah tersenyumnya menjadi sedih saat melihat wajah Kim Bum terdapat beberapa luka akibat pecahan beling. Ia ingat bahkan sangat ingat itu adalah ulah tanganya sewaktu Kim Bum menemukannya di kamar apertemen itu. Tangan So Eun mengelus wajah itu yang banyak luka dan menciumnya berkali –kali. Kini tangan So Eun bermain di hidung mancung Kim Bum dan merasakan hembusan nafas hangat dari sela-sela lubang hidung mancung itu. “ apakah aku begitu tampan hingga tangan mu begitu menyukainya” kata seseorang yang terpejam. So Eun dengan cepat menarik tangannya namun dengan cepat terlebih dahulu di tahan Kim Bum yang berkata tadi. Mata sipit tajam dengan lensa hitam itu terbuka dengan perlahan membuat So Eun berlinang.

 

“Kim Bum!!” pekik So Eun dengan cepat memeluk Kim Bum dengan sangat erat. Kim Bum dapat mencium rambut harum itu dan tubuh segar itu, lebih segar dari beberapa hari yang lalu. Kim Bum mengelus punggung dan kepala So Eun lembut. “ kau tahu bum?” kata So Eun yang sudah melepas pelukannya dan Kim Bum sudah dapat duduk. “hmm, apa itu?” tanya Kim Bum menarik halus tangan So Eun untuk duduk di sampingya.

 

So Eun mengambil salah satu tangan Kim Bum dan meletakkan telapak tangan Kim Bum di perut nya. “ dia tumbuh..” ujar So Eun pelan dan membuat Kim Bum tersenyum lebar. Ditariknya hangat tubuh So Eun dan didekapnya dengan sangat erat. “ saranghae So Eun..” kata Kim Bum air matanya terjatuh kembali.” Nado Saraghae.. gumawo ini kado terindah di hari ulang tahun ku saat ini” kata So Eun pun menangis dalam dada bidang Kim Bum. Mereka melepas pelukan itu dan kembali saling bertautan bibir. Berciuman dalam cinta sesungguhnya bukan cinta yang tertulis memo dingin tapi cinta tertuliskan hati dingin.

 

****

 

Kini tampak sepasang insane berpegangan tangan erat, saling menggegam erat dan saling menyalurkan kehangatan. Mereka berjalan disepanjag jalan kota Lylon yang ramai, wajah keduanya begitu indah dan bahagia. Kim Bum telah sadar dan tidak mengalami luka terlalu parah sedangkan So Eun telah kembali pulih dari kejiwaanya. Berkali-kali So Eun meminta maaf namun berkali-kali Kim Bum marah karena bagi Kim Bum itu bukanlah sebuah kesalahan namun sebuah cara Tuhan mengingatkan manusia dengan peristiwa bukan dengan tulisan atau kenangan.

 

So Eun sudah sepenuhnya bisa mengikhlaskan kepergian kedua orang tuanya dan janinnya dimasa lalu. So Eun sudah menganggap itu semua adalah takdir yang memang sudah tertulis dalam suratan Tuhan dan tidak akan bisa dihapuskan, sekalipun dihapuskan tetap akan meninggalkan bekas atau luka. Seperti memo itu, sekalipun tulisan itu di hapus maka bekas nya akan tetap terlihat walau isinya tidak lah terbaca namun meninggalkan noda.

 

Mereka kini berdiri di sebuah gereja yang kosong. “ kau tunggu disini dulu aku akan pergi sebentar” kata Kim Bum meminta So Eun menunggunya di depan tempat sang postur membaca kan janji suci yang kosong saat ini. “kau mau kemana?” tanya So Eun sedikit bingung. “aku akan segera kembali” kata Kim Bum. Kim Bum pun pergi keluar gereja sebentar. Ternyata Kim Bum keluar membawa sebuah kue ulang tahunnya yang ia buat sendiri dari hasil pembelajaran nya beberapa minggu lalu sebelum pisau itu menjadi pelaku.

 

“omoo” ujar So Eun menutup mulutnya tidak percaya. “seangil chukae hamnida istri ku, berbahagialah bersama ku dan jadilah mawar serta tulip di kehidupan ku. Jadilah memo dihidup ku, karena aku hanya akan menjadi pena yang tergeletak di pojokan sampah berdebu tanpa kertas untuk menulis memo dingin ini. Jadilah musim dingin dihati ku untuk mendinginkan sifat buruk ku” kata Kim Bum tulus berlutut di hadapan So Eun. Air mata kini mulai turun membasahi pipi So Eun.

 

“ne, aku akan menjadi apa pun yang kau mau” kata So Eun tersenyum dalam tangisan. Kim Bum bangkit dari berlututnya dan menghapus air mata So Eun sedangkan tangan satunya memegang kue ulang tahun yang terdapat angka 25 itu. “tiup lilinya.. tiup lilinya” seru bebrapa anak kecil memasuki arena gereja dan kedua sahabat Kim Bum Lee Min Ho dan Park Min Young beserta kedua orang tua Kim Bum dan bibi pengasuh So Eun. Anak kecil berjumlah 8 orang itu tampak polos dan lucu menyanyikan lagu untuk So Eun, lagi So Eun menangis kembali. Lagu terus beralun dan tepuk tangan kecil menemani.

 

Sebuah kado ulang tahun yang terindah mengalahkan keindahan apapun didunia sekalipun itu menara Eiffel. So Eun pun berdoa sejenak dan segera meniup lilinya. Ternyata anak kecil itu sebelumnya telah direncanakan oleh Kim Bum sejak lima hari lalu.Setiap anak itu memegang memo Pink dan betuliskan hal yang sama.. “ Memo musim dingin yang indah bersama Sang pujaan hati”. Hal itu telah direncanakan dengan bantuan Gabriella untuk menghubungi Hyun Bin dan Kim Sa Rang sedangkan Lee Min Ho dan Park Min Young, Kim Bum yang menghubungi sendiri dan memintanya untuk segera ke gereja dekat rumah sakit inap So Eun di Lylon.

 

Karena sebelumnya Lee Min Ho dan Park Min Young sedang berada di restaurant Laylon dan Hyun Bin serta Kim Sa Rang sedang berada di apertement Kim Bum sehingga sangat mudah meminta bantuan pada Gabriella. Gabriella beserta keluarga tidak bisa hadir untuk kejutan ulang tahun So Eun karena mereka sedang ada acara lain.

 

Anak-anak kecil itu pun menutup matanya saat tahu isyarat mata Kim Bum yang sedikit berkedip memberikan kode bersamaan dengan yang lainnya.  Tangan kecil mereka menutup mata mereka. “ So Eun shi seangil chukae hamnida. Saranghae..” ujar Kim Bum dan mencium tulus bibir So Eun. Sebuah ciuman yang cukup lama dan terasa hangat. Kim Bum semakin kasar mencium So Eun membuat Hyun Bin mendorong anak-anak untuk keluar karena Hyun Bin mengintip dibalik telapak tanganya begitu pula dengan Lee Min Ho, Park Min Young, dan Kim Sa Rang.

 

“dasar, ternyata kau ingin merusak mata anak kecil ini Bum..” umpat Hyun Bin mendorong anak kecil itu keluar. “ benar, jika anak-anak ini membuka mata maka mata mereka sudah tidak perawan lagi” sambung Park Min Young. “kajja bawa anak-anak lucu ini keluar. Semoga calon cucu ku tidak mengintip nya. Awas saja cucuku nanti jadi cabul” kata Kim Sa Rang. Mereka semua sudah mengetahui kehamilan So Eun dari mulut Kim Bum yang bercerita memlalui kontak.

 

Mereka pun pergi meninggalkan gereja itu dan membiarkan suara-suara desahan akibat ciuman itu terdengar. Kim Bum dan So Eun begitu larut dalam ciuman. “ seangil chukaeyo chagy” kata Kim Bum melepas ciuman nya sebentar. Dan mereka saling tersenyum kembali berpelukan hangat di dalam gereja mewah yang sepi dan hangat terlindung dari bola salju yang turun. Kado terindah sepanjang sejarah hidup So Eun dengan hadirnya sijanin ini dan perubahan sikap Kim Bum.

 

Memo yang So Eun tulis dan tertempel di meja kamar rawat Kim Bum itu menjadi memo terakhir dimusim dingin untuk kesedihan dan akan berlanjut kelak dalam kebahagiaan dimasa yang akan datang. Apakah memo musim dingin itu akan terus tertulis, terukir, dan terangkai saat si buah hati lahir dan menjadi sejarah hidup? Entahlah biarkan itu menjadi rahasia kisah cinta memo di musim dingin ini yang menjadi kado terindah bagi si wanita pemilik memo…

 

Tulislah kata jika tangan kalian ingin menulis, ukirlah kata jika tangan kalian ingin mengukir, dan rangkailah kata jika tangan kalian ingin merangkai. Tapi ketahuilah,jangan pernah sama kan hal itu dalam satu arti walau memiliki makna yang sama, sama-sama mengindahkan kata. Karen menulis, mengukir, dan merangkai tidaklah sama. Menulislah untuk masa depan mu ingin menjadi apa, ukirlah kenangan mu agar indah dan berkesan, dan paling penting, rangakilah masa depan mu dengan benar dan terarah berdasarkan hati agar tidak tersesat.

Guanakan pikiran untuk menulis, gunakan mata untuk mengukir, dan gunakanlah hati untuk merangkai.. karena pikiran, mata, dan hati itu bertolak belakang…

 

Memo En Hiver END….~~

 

******…….******

 

Waah gaje -_-.. maaf jelek sudah berusaha yang terbaik tapi sepertinya aneh. Maklum author amatiran jadi jelek dan aneh.. maklumi yah amatiran dan abal abalan ^.^😦

Happy Sso Day mates ^^.. semoga doa kalian tentang bumsso bersatu terkabul dan ada keajaiban di ultah sso kali ini.. seangil chukayeo Kim So Eun.. ^^

Posted on September 12, 2014, in One Shoot. Bookmark the permalink. 162 Komentar.

  1. Asli keren banget ceritanya, aku suka

  2. Ceritanya sangat bagus eon,perjuangan bumppa yang membuktikan ketulusan cintanya pada sso,yang aku sangat suka dari cerita eonni selain ceritanya yg bagus diakhir ceritanya terdapat sebuah kata-kata yang memiliki makna yang dalam.

  3. Fatma Anatasha Moore

    Bumppa benar2 berjuang untuk membuat sso eonnie kembali seperti dulu. Aq fikir bummpa meninggal tapi tenyata engga. Syukur deh🙂 HAPPY ENDING😀

  4. Keren banget thor ceritany gilaa suka banget ceritanya!!!
    Sempet mikir si kim bum jahat banget ya ternyata diperlakuan nya ada rasa sayang..
    Moral dalam ceritanya bagus thor ceritanya sangat bermakna intinya daebakkkkk👍👍👍👍👍

  5. Kim bum nyadar kalau dia menyesal atas perbuatannya ke sso. Keren banget ceritanya

  6. Awalnya sedih knpa bumppa smpai tega bnget ma sso. Dendam bnget sampe buat sso menderita. Untng happy ending

  7. Woahhh ini bulannya kim soeun yaa kan? September .. Walopun ff ini ditulisnya september 2014 dan aku bacanya september 2016 ,kkkkk ~
    Author spt pernah tinggal di perancis , penjabaran ttg suasana detil sekali .i like it 😊😊😊

  8. Ff’y kren bngettt…nae nangis chingu🙂 sebuah perjuangan cinta yg tulus,itulah cinta sejati.

  9. Huaaa ff nya keren banget thor. Tuh kan kimbum akhirnya nysel juga kan ?? Makanya kimbum kalo berbuat sesuatudipikir dulu jangan terbawa emosi akhirnya nyesel sendiri.
    Sempat sedih liat so eun kaya gitu untung kekuatan cinta mereka begitu kuat dan akhirnya mereka berdua bisa bersatu dan hidup bahagia😀

  10. syukurlah happy ending, awalnya mrah bnget ma bum oppa yg kya gtu dn mmang pnysalan sllu dtang trkhir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: