Pre-wed syndrome?? [OS]

 

10656685_731168930288131_1992390415_n

 

Author : gK (Galuh Kartika)

 Title : Pre-wed syndrome??

Length : OS

 Genre : Romance, humor , etc…

Cast : Kim Sang Bum || Kim So Eun

 

Hmmmmm..

Ku hirup dalam-dalam udara pagi ini. Hujan pertama setelah musim panas yang benar-benar membakar. Udara lembab yang menyenangkan. Menerbangkan aroma tanah basah dan rerumputan. Titik-titik bekas air hujan semalam masih menetes di ujung dedaunan. Pagi, embun, tanah dan rumput yang basah, udara lembab nan lembut yang menangkan dan secangkir kopi hangat.. sungguh, pagi yang teramat sangat menyenangkan. Ku harap udara menyenangkan pagi ini bisa menenangkan pikiranku yang sedang rumit ini. Aku tak suka perasaan seperti ini karena jujur saja aku adalah tipe wanita simple dan malas memikirkan sesuatu yang rumit yang akan membuatku jadi sakit kepala. Tapi ini berbeda, yang satu ini tak bisa ku hiraukan begitu saja.

Pletak..

“Akhhhh.. yak..!!” sial betul tetangga sebelah itu, merusak pagi indahku saja. Kupicingkan mataku pada sesosok laki-laki gila yang dengan kurang ajarnya menimpuk kepalaku dengan kacang. Arghhh hancur sudah mood indah yang berusaha ku bangun jika begini caranya. Aku memberengut sebal dan akan beranjak masuk kedalam rumah dan meninggalkan kopi yang bahkan belum tersentuh sedikitpun oleh bibirku. Ckk..

“heh nenek sihir, jelek sekali wajah bantalmu itu hahh?? Mana ada namja  normal yang mau menikah denganmu jika wujudmu seperti itu??” pria sinting itu berteriak layaknya tarzan dihutan.

Aku hanya mendengus, tak mengacuhkannya sedikitpun sebelum kembali melangkahkan kakiku kedalam kamar dan membanting pintu balkon kamarku kencang-kencang. Dasar laki-laki sialan, dia pikir wajah bangun tidurnya itu tampan apa?? Ahh oke, ku akui bagaimanapun keadaannya wajah itu sudah dikodratkan untuk selalu terlihat dalam kondisi paling sempurna meski bangun tidur ataupun bermandikan keringat sekalipun. Dan apa katanya tadi?? Tak ada laki-laki normal yang mau menikahiku karena tidak mau melihat wajah bantalku? Memang, karena laki-laki yang akan menikahiku seminggu lagi adalah seorang laki-laki gila yang anarkis. Dan pria itu adalah dia. Tetangga gila kesayanganku. Ehhh.. apa tadi yang aku bilang?? Kesayangan?? Bisa terbang sampai ke Pluto dia jika tahu aku mengucapkan kalimat terkutuk itu untuknya.

Ahh ya, perkenalkan namaku Kim So Eun. Sebut saja SoEun. Kuliah semester 4 jurusan Theatre.di salah satu universitas negeri di korea yang dengan sangat tidak beruntungnya akan menikah seminggu lagi dengan seorang lelaki sinting yang sayangnya aku cintai. Sangat. Stttt.. jangan bilang-bilang pada bocah gila itu atau dia akan mati karana sakit perut sangking lamanya tertawa.

Laki–laki itu, Kim Sang Bum. Semester akhir dikampus yang sama denganku dan mengambil studi Business Administration. Wajah, otak dan isi dompet diatas rata-rata. Yeahh.. kriteria pria idaman wanita seluruh kampus bahkan sampai anak SMA dan di bawah umur. Tak jarang juga para ahjuma dengan bedak setebal 10cm dan gincu dengan warna yang menusuk mata juga turut mewarnai koleksi penggemarnya dan sering kubuat untuk meledeknya. Entah setan mana yang menutup mata para gadis, anak dan ahjuma itu terhadap dirinya. Mereka bilang bocah gila itu cool, keren dan misterius. Oke untuk keren kuakui itu, cool?? Bolehlah masih bisa diterima akal sehatku tapi misterius?? Ohh..  demi kera berbadan jerapah.. apa mereka semua sudah buta?? Ataukah mereka sudah tertular penyakit sintingnya?? Dilihat dari sudut mana bocah gila itu terlihat misterius?? Dia itu super jahil, menyebalkan, cerewet dan tukang perintah. Bahkan suara teriakannya itu bisa berpotensi membuat ibu-ibu hamil jadi keguguran -_-. Entah dosa apa yang pernah kulakukan dulu hingga berbuntut pada kesialan berkepanjangan ini. Diawali dari aku menyukainya dan dilanjutkan dengan perjodohan konyol yang akan mengawali nerakaku dan menggenapi kesialan hidupku untuk terikat seumur hidup dengan bocah gila itu. Ohh jangan menatapku ngeri begitu. Oke kami memang dijodohkan tapi sebelum perjodohan itu tercetus kami sudah berstatus sebagai pasangan kekasih. Orang tua kami belum mengetahuinya karena baik aku maupun dia sudah diancam orang tua kami untuk tidak mempunyai pacar karena mereka akan menjodohkan anak-anaknya dengan teman lama yang baru saja bertemu seminggu sebelumnya yang bertepatan dengan hari jadi kami. Bocah gila itu sudah akan membongkar hubungan kami tapi aku cegah karena aku takut mama kenapa-kenapa. eomma mempunyai anemia akut dan tidak bisa menerima shock terapi jika berita hubungan kami terbongkar. Jadi sambil mencari cara pembatalan pertunangan kami masing-masing aku dan dia menghadiri pertemuan keluarga dengan calon jodoh kami yang dibuat para orang tua itu dan voilla.. ternyata kami berdua malah mereka jodohkan. Aku dan dia tertawa keras yang sama sekali melupakan tentang sopan santun serta tata krama hingga eomma menyenggol bahuku sedangkan appa mendelik garang sama seperti orang tua Kim Bum. Dan setelah itu kami menceritakan perihal hubungan kami yang tentu saja dibumbui dengan adegan interogasi tentang kenapa kami tidak cerita. Huhhh sungguh, malam itu adalah salah satu titik balik dalam kehidupan percintaanku karena seminggu setelahnya Kim Bum dan orang tuanya pindah rumah disamping rumahku. Setelahnya kami malah seperti anak tertukar karena perhatian dan kasih sayang yang orang tuaku punya malah lebih besar pada Kim Bum begitu pula sebaliknya dari orang tua Kim Bum padaku. Pertunangan itu sudah berlangsung selama satu tahun terakhir dan seminggu lagi kami akan melangsungkan penikahan yang sengaja dirancang bertepatan dengan tanggal ulang tahunku. Pernikahan yang akan mengikatku seumur hidup dengan bocah gila itu yang aku terima sepenuh hati. Pernikahan yang akan menjadi kado specialku tahun ini. Hhhh.. sepertinya aku sudah tertular penyakit tidak warasnya. Menerima sepenuh hati pernikahan ini dan akan menghabiskan sisa hidupku dan anak cucuku kelak dengan bocah gila itu?? Sungguh kesialan yang pada akhirnya tetap ku syukuri. Tapi.. aku jadi ragu, bukan pada perasaanku tapi Kim Bum. Apa dia yakin??

***

Aku menggulung kembali tubuhku pada selimut tebalku. Hancur sudah moodku yang memang sudah tak berbentuk dan semua ini gara-gara bocah gila itu.

“Huhhhh..” dengusku masih menahan kesal yang rasanya sudah memuncak diubun-ubun.

Tap tap tap

Krekkk..

Suara derap langkah berat dan diakhiri dengan gesekan pintu kamarku yang terbuka. Tak kuhiraukan suara itu, aku terlalu sebal untuk sekedar bergerak dari kepompong selimut yang kubuat ini. Saat mataku hampir menutup tiba-tiba saja ada gempa local di ranjangku dan satu tarikan kuat pada selimutku hingga terbuka sampai setengah badan. Aku mendelik kesal pada pelaku menyebalkan ini. Siapa lagi kalau bukan tunangan gilaku. Ehhh apakah aku baru saja menyebutkan kata tunangan?? Ahh baiklah, lebih baik kuganti dengan bocah gila saja. Yahh itu jauh lebih baik dan mendekati fakta. Kkkk

Kubalikkan tubuhku hingga memunggunginya dan menarik kembali selimutku hingga sebatas leher. Menununjukkan pada bocah gila itu bahwa aku sedang kesal padanya.

“ hehh.. barabwa.” Sentaknya keras.

“…” aku tetap bergeming dan memejamkan mataku erat.

“jangan merajuk” ucapnya sedikit menurunkan level suaranya tapi sama sekali tak mempengaruhiku. Dia terdiam sejenak, mungkin menyadari kalau aku benar-benar kesal karena biasanya aku langsung bereaksi jika dia bilang aku sedang merajuk. Biar sajalah meski tetap saja aku tak terima dibilang merajuk. Dalam kamusku kata merajuk lebih pantas disandingkan dengan para yeoja genit penggodanya itu. Cihhh aku tak sudi.

Tangannya mulai berulah dengan menarik-narik lengan kaos yang aku pakai dengan menyusup kedalam selimutku. Aku mengeraskan tubuhku agar tidak mudah terpengaruh oleh gerakannya, dan berhasil tubuhku sama sekali tak bergerak. Kudengar dia menghembuskan napas keras dan malah mulai memelukku dari belakang sambil menciumi bagian belakang kepalaku. Ahh.. mengibarkan bendera putih ternyata. Tapi biar saja, aku benar-benar sedang tak ingin berbicara dengannya.

“kau marah karena aku mengatai wajah bantalmu?? Tapi itu kan fakta.” Ucapnya menyebalkan sambil sedikit menggoyangkan badan kami. Yeahh bocah gila itu sudah menempeli tubuhku. Aku tetap bergeming dan kubumbui dengan dengusan sebalku.

“bukankah sudah biasa?” rengeknya. Ahh aku ingin tertawa tapi kutahan. Coba kurekam dan kudengarkan ke seantero kampus pasti akan heboh besar-besaran. Pangeran cool-kas mereka merengek?? Ohh aku tak akan bisa membayangkannya. Tapi sungguh aku tak akan rela. Sifat kekanakan dan absurdnya ini hanya boleh ditunjukkan padaku saja. Egois? Memang, lalu kenapa? Toh dia milikku ini. Hihihi.. aku sudah melabeli dia milik. Biar saja, biar para wanita ganjen itu menjauh darinya. Ahh aku jadi sebal lagi kalau mengingat topik ini.

“Eun~na..” ucapnya selembut mungkin saat menyebut nama kecilku. Hanya keluarga dekatku dan dia yang memanggilku dengan nama kecilku itu karena sebenarnya tak banyak orang yang tahu juga kalau aku biasa dipanggil Eun~na saat kecil. Ahh lupakan, kalau sudah memanggilku dengan nama ini berarti dia minta penjelasan. Secara halus atau jika tidak..

Blakk.. dia membalikkan tubuhku dengan sangat mudah hingga menghadap kearahnya. Aku menundukkan wajahku hingga tatapanku bertumbukan dengan dada bidangnya dan dia hanya bisa melihat puncak kepalaku saja. Aku sedang malas menatap wajah menyebalkannya. Terlebih aku takut tenggelam dalam mata sendunya.

”neo wae?” ucapnya tajam dan rendah, kemudian menarik lembut daguku hingga mata kami saling bertatapan. Hahhh nada ini, meski begitu matanya tetap menyorotkan kehangatan tapi juga menuntutku untuk menjawab pertanyaannya.

“kau menyebalkan.” Ucapku pelan sambil membenamkan wajahku didada bidangnya. Tak sanggup melihat matanya atau aku akan menangis.

“menyebalkan kenapa lagi? apa tidak ada kosakata lain yang bisa kau buat untuk menggambarkan aku selain menyebalkan? Hmmm??” ucapnya pelan sambil mengusap kepalaku lembut dan diselipi lelucon. Aku yang masih sebal reflex memukul punggungnya cukup kencang.

“yak.. kau ingin jadi janda sebelum menikah ya??”

“keunde.. aku cari suami lain saja yang lebih.. lebihh.. lebihh dari mu” ucapku sambil menatap matanya dan menaikkan sedikit daguku. Menantangnya.

“memang ada  yang lebih dari pada aku dan mau menerimamu selain aku hemm??”

“ckk terlalu percaya diri” cibirku dan kembali membenamkan wajahku ke dadanya. Yahh meski ku akui, selebih apapun laki-laki diluar sana tidak akan bisa menggeser posisi bocah gilaku ini. Kuhirup aroma tubuhnya dalam sambil mengeratkan pelukanku. Aroma kopi, caffeine pribadiku.

“Bum~a..”

“hmmm..”

“apa kita undur saja ya upacara pernikahannya?” ucapku pelan dan takut-takut kalau dia mengamuk.

“mwoya?? Shireo!!” ucapnya tajam dengan nada final sambil menarik tubuhku dari dekapannya dan memangdangku dengan mata mendelik mengerikan. Nahh kann dia benar-benar mengamuk. Aku beringsut masuk kepelukannya lagi dengan paksa. Sungguh aku takut dengan tatapannya sekarang. Tubuhku bergetar menahan tangis. Pertama karena rasa kalutku menjelang hari-H dan ditambah wajah marahnya, aku takut. Kurasakan Kim Bum menghela napas berat. Pasti meredam emosinya karena ucapanku barusan. Dia mengeratkan pelukannya dan mengusap punggungku sambil mencium puncak kepalaku yang malah membuat air mataku tumpah dan tubuhku semakin bergetar menahan isakan. Runtuh sudah pertahanan diriku jika begini caranya.

“neo wae?? uljima, aku sakit melihatmu seperti ini” ucapnya halus sambil terus membelai punggungku dan mengecupi puncak kepalaku.

“kau jangan mengamuk lagi ya.. aku takut” ucapku jujur dan lirih seperti bisikan. Aku benar-benar takut kalau melihat reaksi dia yang seperti itu tadi.

“oke, tapi jangan pernah berbicara seperti itu lagi” ucapnya lembut tapi terselip nada tegas disana. Aku hanya mengangguk dan mengeratkan pelukanku di punggungnya.

“neo wae? Ada masalah dengan persiapannya? Bukankah sudah selesai 95%? Tinggal finishing fitting baju pengantin sajakan?” tanyanya lagi tentang sikapku pagi ini. Aku menghembuskan nafasku lirih. Rasanya menyesakkan.

“apa kau yakin mau menikah dengan ku? Aku kan crewet, manja dan tidak cantik Bum~a..” ucapku pelan. Sesak rasanya mengungkapkan kelemahanmu pada orang yang kau butuhkan. Lebih menyesakkan lagi menunggu jawabannya, takut kalau dia sekarang sadar dan akan mulai berpikir untuk meninggalkanku. Ahh tidak.. tidak, mau jadi apa aku kalau Kim Bum benar-benar pergi? Seharusnya aku tadi tidak usah menanyakan hal ini. Aku menjadi takut. Air mataku meluncur semakin deras saat dia hanya diam saja beberapa detik setelah aku mengucapkan kata-kata tadi. Seolah membenarkan perkataanku. Aku sudah tidak sanggup. Saat aku akan melepaskan pelukanku dia malah mendekapku semakin erat. Hangat.

“kau sedang mengalami syndrome pra-nikah ya?” tanyanya dengan nada sedikit bergurau. Aku jengkel. Sungguh. Tadi dia membentakku untuk bertanya kenapa aku seperti ini, dan setelah ku jawab malah seperti itu responnya. Aku meronta dalam pelukannya, mencoba meloloskan diri yang sayangnya gagal total karena kekuatannya lebih besar jadi akhirnya aku pasrah saja.

“dengar ya sayang, seburuk apapun sifatmu saat aku sudah memutuskan untuk menjadi kekasih dan menikah denganmu berarti aku sudah menerimamu sepenuhnya. Sepaket. Baik burukmu. Karena aku mencintaimu secara keseluruhan oke?” oke kata-katanya membuat hatiku jadi seperti taman dimusim semi sekarang. Tapi itu masih belum bisa menghilangkan rasa kalut dan cemasku seluruhnya.

“tapikan masih banyak yang lebih dari pada aku. Apa kau tidak akan menyesal nantinya?” nahh.. aku mulai paranoid sekarang. Hal-hal seperti itu mulai jadi seperti hantu gentayangan dalam pikiranku.

Kim Bum menangkup wajahku yang ku sembunyikan dalam dadanya, memaksaku menatap kearahnya. Ibu jarinya mengusap lembut pipiku untuk menyeka air mataku. Perlahan ia mulai mencium kelopak mataku bergantian lalu turun kepucuk hidungku sebelum akhirnya mengecup ringan bibirku. Kim Bum menjauhkan sedikit wajahnya dan menatapku tepat dimanik mata.

“dengar baik-baik. Aku mencintaimu, aku menginginkanmu dan aku membutuhkanmu jadi tidak ada alasan untukku untuk tidak memilihmu untuk menjadi yang terakhir dalam hidupku meski aku tidak bisa berjanji hanya dirimu satu-satunya wanita yang ada di hidupku.” Aku melengos kecewa mendengar kata-katanya yang terakhir. Menolak menatap matanya atau akan ada banjir susulan diwajahku. Kim Bum menarik lembut wajahku lagi untuk menatap matanya.

“dengarkan aku dulu, kau mungkin tidak akan menjadi satu-satunya karena mungkin saja anak kita nanti perempuan atau bisa jadi cucu kita atau keturunan kita lainnya. Tapi ada satu hal yang bisa aku pastikan, bahwa satu-satunya wanita yang boleh mendapatkan ruang penting dihatiku dan menyandang gelar sebagai Ny. Kim Sang Bum itu hanya dirimu, oke?” aku hanya mengangguk tak mampu mengucapkan kata-kata lagi setelah mendengar serentetan kata aneh yang keluar dati mulut cabainya. Sungguh jika bukan karena perasaan seperti benang ruet ini aku pasti sudah mengejeknya dan tertawa terbahak-bahak karena berhasil mengucapkan kata-kata sacral itu tanpa tersandung kalimat setannya.

“bukannya tadi seharusnya ku rekam ya? Jarang-jarang kau bisa berbicara benar seperti itu.” Ucapku sambil tersenyum innocent dan memainkan kerah kaus abu-abu yang dipakainya pagi ini. Berusaha mencairkan suasana yang mendadak terlampau serius dan sangat bukan kami.

Pletak..

“yak” bentakku. Sebuah sentilan mendarat mulus di keningku karena ulah bocah gilaku ini. Ku usap keningku yang pasti memerah dan memandangnya sadis sebelum semenit kemudian kami tertawa terbahak mengingat perilaku aneh kami barusan. Bertindak seperti pasangan normal pada umumnya. Sungguh hari ini perlu dibuat syukuran mengingat interaksi kami selama ini yang tak lebih dari kekerasan fisik dan teriakan memekakkan telinga yang membuat orang tua kami hanya mengelus dada. Kalau tidak tahu bahwa kami sudah berpacaran sebelum perjodohan itu mungkin mereka mengira tindakan kami selama ini sebagai bentuk penolakan terhadap acara perjodohan itu.

“aku juga bingung, muncul dari mana kalimat tadi.. kkkk” ucapnya setelah tawa kami reda tapi masih terselip kekehannya. Kudekap tubuhnya erat. Menghidu aroma tubuhnya yang sudah seperti heroin untukku.

“keunde, kau benar-benar terlihat jelek saat menangis. Heran, bukankah mereka bilang seorang yeoja akan terlihat cantik saat menangis?? Tapi kau malah terlihat mengerikan seperti itu.”  Aku mendengus sebal dan berusaha memberontak dalam pelukannya yang berakhir sia-sia karena dia semakin mengeratkan rengkuhannya.

“yak aku..” ucapanku terpotong oleh ucapannya yang sontak membuatku terdiam dan menerima pelukannya meski agak sesak.

“aku serius. Jangan menangis lagi, apalagi gara-gara aku. Aku tidak suka meliatmu menangis” ucapnya pelan. Aku hanya bisa mengangguk.

Setelah percakapan rumit yang sebenarnya penting dan biasa dilakukan oleh pasangan pada umumnya kami berbaring dengan posisi aku membelakanginya dan dia memeluk tubuhku dari belakang. Menjadikan sebelah tangannya sebagai bantal tidurku dan sebelah tangannya lagi memeluk ringan perutku. Tanganku kuletakkan diatas tangannya diatas perutku. Kami saling terdiam, menikmati suasana menenangkan pagi ini dan saling merasakan kehadiran masing-masing yang saling melengkapi.

“Bum~a.. saranghae” ucapku lirih tapi mantap.

“arraso” Kim Bum mengeratkan pelukannya dan mencium dalam puncak kepalaku. Aku tahu dia pasti sedang tersenyum, sama sepertiku dan hati kami.

Bukankah pagi ini sempurna? Pagi, embun, tanah dan rumput yang basah, udara lembab nan lembut yang menangkan dan pelukan hangat dari seseorang yang sangat berarti dalam hidupmu. Terimakasih Tuhan. J

***

Tuhan aku mencintainya. Benar-benar mencintainya. Dan biarkan cinta kami menyatu hingga kapanpun, bahkan meski waktu kami didunia ini telah mencapai titik terakhir..”  do’aku dalam hati.

 

End.

 

Posted on September 3, 2014, in One Shoot. Bookmark the permalink. 103 Komentar.

  1. Dasar couple anehh tp lucu
    Sangat greget ngelihatnyaa
    Semoga anak dan cucunya tdk se aneh bapa ibunya-_-
    Baguss thorr sangat suka ceritanyaa lucu^^ author jjang!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: