Feng de ( OS)

PhotoGrid_1406558538839

Feng de

Author : win (acieh km)
Main cast : Kim Sang Bum, Kim So Eun
Other cast : Kim Jong Suk, Han Hyo Jo, Jay Chou, Andy An, Wang Zi, Kim Su Roo
Genre : romance, sad, romantic (maybe)
Type : One Shoot

Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produser dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita

Suasana diruang sebuah rumah besar itu begitu dingin terasa kaku. Hanya terdengar helaan nafas kasar dan tarikan nafas dalam. Sebuah tamparan baru saja terjadi menyebabkan luka kecil di sudut kiri bibir pria tampan bermata sipit itu. pagi itu harusnya segar karena angin sangat lah bersahabat, namun lupakan, kondisi sedang dalam belenggu.

“kau benar-benar sudah lewat batas Kim Bum!! mau sampai kapan kau seperti ini hah??!!” marah seorang pria paruh baya dengan kaca mata kotak minusnya dan rambutnya masih begitu lebat dan hitam walau usia sudah 47 tahun.

“aku tidak melakukan apapun” plakkk.. sebuah tamparan lagi-lagi mendarat saat ujaran itu meluncur dengan cepat sebagai pembelan diri. Kim Bum atau lengkap Kim Sang Bum putra tunggal pasangan Kim Jong Suk dan Han Hyo Jo. Kim Bum baru saja membuat ulah dikampus nya di Chung Ah. Memang sudah sering Kim Bum membuat ulah yang membuat Jong Suk menahan geram. Bukan Kim Bum bila hidup tanpa ulah.

Kemarin Kim Bum baru saja memukul orang hingga pingsan di kelas dan kedua orang tua orang itu tidak terima hingga melaporkan Kim Bum kepolisi. Kim Bum seminggu yang lalu pun baru saja keluar dari jeruji besi karena memukul dosen hingga babak belur dan bisa bebas kerena dosen itu memaafkan Kim Bum. Memang Kim Bum paling tidak suka dengan orang yang menyinggung dirinya yang anak tidak jelas karena Han Hyo Jo bukan ibu kandungnya.

“kau!!” “sudah… kasihan Kim Bum, jangan diteruskan tamparan mu yeobo” ujar Han Hyo Jo mencoba merendahkan amarah Jong Suk. Han HYo Joo tidak memiliki anak selain Kim Bum dari hasil pernikahannya dengan Jong Suk karena dirinya mandul sehingga tidak bisa memberikan anak untuk Jong Suk, namun ketahuilah Han Hyo Joo begitu menyayangi Kim Bum sebagai anaknya walau tidak lahir dari rahimnya sendiri.

“kenapa berhenti? Ayo, pukul saja aku. Pukul!!!” teriak Kim Bum hingga menimbulkan cipratan air liur sedikit diwajah Jong Suk. Buuk… bukan tamparan lagi, melainkan pukulan keras menghantam wajah Kim Bum dalam sekejap. Kim Bum tersenyum miris mengelap sudut bibirnya yang kembali berdarah. Suasana benar-benar kacau pagi ini hanya karena kelakuan Kim Bum.

“sudah nak, jangan pancing ayahmu terus” kata Hyo Jonlembut mendekati Kim Bum dan membantu Kim Bum berdiri tegak. “tidak perlu pedulikan aku. Biar saja tangan kekarnya itu merusak wajah ku, kurasa dirinya akan bangga” kata Kim Bum dingin.

“Kim Sang Bum!!!!” teriak Jong Suk keras namun Kim Bum tidak peduli dan lebih memilih keluar rumah dengan langkah besar. Sudah terbiasa pukulan seperti ini menimpa wajah atau tubuhnya. Bukan sekali atau dua kali namun berkali kali hal seperti pagi ini terjadi. Sifat Kim Bum berubah saat sewaktu sekolah menengah atas Kim Bum baru tahu Hyo Jo bukan ibu kandungnya dan Jong Suk bungkam soal ibu kandung nya. Dari saat itu lah sampai saat ini kebencian Kim Bum meledak.

****
Kim Bum baru saja pulang tengah malam dengan santai dengan wajah dinginya. Diluar angin tidak kencang tidak pula menusuk tapi mengapa diri Kim Bum bahkan hatinya begitu beku dan dingin? Jawaban yang sudah dan mudah di deskripsikan, sang ayah lah biang keladi. Ruang tamu itu nampak gelap karena lampu sudah dimatikan. Kim Bum menaiki tangga dengan santai. Pakainnya yang berupa kaos putih polos selengan nampak kotor dengan banyak debu dan lepek keringat, celana jeans biru dongkranya dengan style sedikit robek dibagian lututnya begitu lusuh seperti habis terjatuh, jaket hitamnya sudah dilemparkanya kelantai yang gelap.

Lampu tiba-tiba menyala dengan cepat dan membuat kedua mata Kim Bum menyipit karena silau dan membuat dirinya menengok kebelakang. Tampak Jong Suk melipat kedua tanganya dan mendekati Kim Bum. Pandangan malas dari Kim Bum menatap mata Jong Suk walau hanya sejenak saja. Kim Bum pun mengalihkan pandangannya ke arah lain.

“besok kau ku kirim ke Hua Lian. Sudah cukup kau membuat masalah di sini Kim Bum” kata Jong Suk tegas membuat Kim Bum menahan geram. “cih, kau bermaksud mengusirku? Sialan! Aku tidak sudi” jawab Kim Bum angkuh menatap benci Jong Suk.

“aku tidak peduli sudi atau tidak dirimu. Di Hua LIan kau akan tinggal bersama sahabat ku Jay Chou. Kau akan dididik disana menjadi manusia bermoral” terang Jong Suk tidak kalah dinginya membuat Kim Bum mengertakkan kedua rahangnya. Jong Suk berjalan hendak kembali kekamar namun langkahnya terhenti mendengar perkataan Kim Bum.

“kau benar-benar brengsek! Kau mengatakan aku tidak bermoral hanya karen incident itu, lantas bagaimana dengan mu? kau bisa menyembunyian dan mengahncurkan ibu kandung ku? Bukankah kau lebih parah disbanding aku, karena kau bajingan tengik!!!” teriak Kim Bum namun Jong Suk mencoba bersabar, dirinya tidak ingin membuat anak nya ini menjadi seseorang yang buruk jika dia membela diri.

“katakan saja apa yang ingin kau katakan, tapi keputusan ku untuk kau berangkat ke Hua Lian besok haruslah terlaksana. Ku harap ada keajaiban disana” kata Jong Suk berjalan memasuki kamarnya membuat Kim Bum menambah kuat gertakan kedua rahangnya.

“aku tidak akan berubah sekalipun kau mengirimkan aku ke penjara bawah tanah” geram Kim Bum namun masih bisa didengar baik oleh kedua telinga Jong Suk. “tapi ku yakin kau akan berubah kelak jika hati mu telah diisi seseorang. Wanita itu kelak akan seperti angin yang menyapu bekuan hati mu” gumam pelan Jong Suk yang tidak bisa didengar Kim Bum karena terlalu pelan.

Kim Bum telah berusia 24 tahun namun sikapnya begitu buruk untuk pria seusianya itu. Memang Kim Bum sama sekali tidak pernah membantah apa yang diperintahkan Jong Suk maupun Hyoo Jo namun sikap Kim Bum begitu buruk untuk bisa dikatakan anak yang patuh. Kim Bum adalah mahasiswa yang pintar dan nilainya selalu menduduki peringkat atas, sekali lagi itu sayang sekali karena sifat buruk itu masih melekat.

****

Mau tidak mau hal itu pun terjadi. Kim Bum hari minggu ini diharuskan berangkat ke kota Hua Lian, Taiwan dengan rasa berkecamuk. Semua kegiatan yang biasa Kim Bum lakukan bersama kawan-kawan disetiap hari baik dikampus maupun lingkungan luar harus berakhir. Kim Bum akan pindah kampus dan menjadi mahasiswa di sana.

“kau akan dijemput oleh supir teman ku” kata Jong Suk yang saat itu mengantar Kim Bum sampai ke bandara bersama Han Hyo Jo. “tidak bisakah aku pergi sendiri tanpa harus dijemput. Aku tidak akan lari” kata Kim Bum dengan malas. Suasana bandara begitu ramai dan sepertinya Kim Bum akan segera terbang kesana.
“benar yeobo, biarkan saja Kim Bum kerumah Jay tanpa harus dijemput” kata Hyo Jo seperti mendukung keinginan Kim Bum. Kim Bum tersenyum pahit mendengar ujaran Hyo Jo, rasanya begitu menjijikan dibela dengan wanita jalang yang tidak jelas. Kim Bum mulai memasang headshet nya dan membesarkan volume nya hingga suara music terdengar nyaring.

Hyo Jo menepuk lengan Kim Bum ringan meminta Kim Bum melepas sejenak headshet itu dan mendengarkan jawaban Jong Suk. “baiklah. Aku akan menyuruh sekertaris ku yang saat ini kebetulan ada di sana untuk menyediakan mu mobil. Kebetulan ada mobil baru yang beberapa hari lalu ku beli dan lupa ku bawa ke Korea dan mobil itu memang untuk mu” kata Jong Suk.

Ada perasaan sedih di relung hati Jong Suk melihat Kim Bum akan pergi. Dari sejak kecil hingga saat ini Kim Bum tidak pernah jauh dari nya dan Jong Suk sengaja tidak ingin menyibukkan diri dengan pekerjaan karena takut Kim Bum kekurangan kasih sayang. Namun detik ini, mau tidak mau dirinya harus bertindak membuat Kim Bum berubah.

“Aku berangkat” kata Kim Bum hendak menyeret kopernya dan melangkah. Namun sebelum melangkah lebih jauh Jong Suk berkata, “kau tidak ingin memeluk ku?” tanya Jong Suk dan Hyo Jo yang begitu ingin hubungan ini hangat walau sejenak saja. Jong Suk dan Hyo Jo pun mendekati Kim Bum, mereka memeluk Kim Bum bergantian.

“aku pergi” kata Kim Bum saat kedua orang itu sudah bergantian memeluk Kim Bum. Kembali Kim Bum memakai headshet nya dan memasuki pintu penerbangan. Waktu sudah menunjukkan tepat pokul 08.00 KST dan dipastikan akan cerah hari ini. Jong Suk dan Hyo Jo meneteskan air mata sedikit dan kembali dengan tersenyum tipis, berharap ada perubahan.

****

Kota Hua Lian memasuki musim semi dan itu bertanda sangat baik diawal bulan ini. Terlihat banyak sekali taman bunga sangat indah dengan bunga berganti warna berlomba-lomba menyambut musim semi. Banyak orang-orang yang memiliki kebun begitu antusias menghampiri kebunnya melihat keindahan warna dari bunga-bunga dan tanaman yang berubah warna.

Soeun, Kim So Eun wanita kelahiran 6 September 1989 itu tidak pasif dan terkesan aktif untuk mengunjungi taman yang indah di dekat kampusnya itu dan pagi ini Soeun baru saja akan berangkat kekampus dengan membawa keranjang buah jeruk untuk ia antarkan kerumah teman pamanya terlebih dahulu.
Soeun begitu elegan dan simple namun cantik. Memakai dress warna kuning yang sangat serasi dengan jam tangan emasnya, walau bukan emas murni karena So Eun bukanlah dari kalangan rayat atas di kota cukup maju ini.

Jalan beraspal itu cukup sepi dan So Eun dengan santai dan tersenyum bermaksud menyebrang jalan menuju kebun untuk melihat sejenak tanaman pamannya itu memasuki musim semi. Namun baru beberapa langkah..

Ckiiiiitttttt,,,,,,!!!

Terdengar memekakan telinga decitan rem roda mobil itu yang secara mendadak. Mobil berwarna metallic dengan kap terbuka itu berhenti tepat dihadpan Soeun yang sekarang tersungkur diaspal kerena lututnya terkena sedikit.

“sial!! Apa lagi sih !!” pekik sang pemilik mobil mewah itu dan melepas headshet nya lalu turun dengan kesal. So Eun masih meringis dan merasa kesulitan untuk bangun. Buah jeruk dalam keranjang itu sebagian hancur terlindas ban mobil selebihnya berhamburan entah kemana.

Pria itu yang ternyata Kim Bum hanya menatap kesal So Eun yang sudah mampu berdiri walau pincang kaki sebelah. So Eun hanya menatap lemah diri Kim Bum tanpa ada kemarahan, So Eun lebih memilih menunduk dan tidak bersuara.

“kau itu punya mata tidak?! Atau kau sengaja ingin mati hah?! Jika ingin mati jangan dengan cara seperti ini yang ada kau akan membunuhku juga!!” gertak Kim Bum membuat So Eun mengangkat wajahnya dan menatap Kim Bum dengan kening berkerut tanpa suara. Mata Soeun lebih mengarah pada buah-buah yang malang itu.

“hei kau!! Apa kau tuli, hah? Atau kau dungu?!!” gertak Kim Bum lagi Soeun tidak merespon. Kembali So Eun menatap Kim Bum dan menarik nafas panjang lalu dihempaskan dengan berat. “lebih baik kau pergilah. Jangan berteriak” kata So Eun dengan pelan dan berjongkok memungut buah-buah jeruk itu yang masih bisa diselamatkan.

Angin berhembus cukup kencang membuat rambut So Eun yang tergerai berayun indah dan sesekali tangan So Eun sibuk menyelipkan rambutnya dibelakang telingannya. Kim Bum hanya mampu diam dan tersenyum mengejek menjelekkan dirinya yang bisa diusir oleh seorang wanita dungu. Kim Bum menginjak salah satu buah jeruk itu yang hendak dipungut So Eun yang tepat berada di depan ujung sepatu nya.

“dasar tidak berguna! Buah ini sudah rusak dan percuma kau pungut” kata Kim Bum mengejek membuat So Eun bangkit berdiri. Mata mereka beradu, dan jujur hati Kim Bum seperti tersipu angin sedikit menatap mata Soeun yang sedikit terdapat genangan air yang akan menetes.

“maaf, Tuan mungkin bisa membeli apa saja yang tuan suka dan membuang sesuatu yang walau hanya memiliki sedikit lecet atau rusak. Tapi kumohon, jangan halangi aku untuk mengambil buah rusak ini karena saya bukanlah Tuan. Jangan gunakan kaki Tuan yang kokoh merusak makanan walau busuk sekalipun dan jangan gunakan mulut Tuan mengatakan kejelekkan buah ini karena sekali lagi saya bukanlah Tuan yang diatas” ujar So Eun tanpa ada sedikit pun suara marah. Lagi, Soeun berlutut memungut buah jeruk itu walau sudah masuk kedalam kobakan air.

Kim Bum hanya tertawa tidak percaya, So Eun memiliki kelancangan terhadap dirinya. Sedikitpun diri Kim Bum tidak tergugah walau hatinya sempat tertiup angin dan dirasakan oleh bekuan es. Kota Hua Lian seharusnya ramai jika memasuki musim semi, namun pagi ini belum ada tanda-tanda akan ramai.

Kim Bum malas berdebat dan memutuskan meninggalkan So Eun yang masih memungut buah jeruk itu yang diletakkan kembali kedalam keranjang disamping mobil Kim Bum. mobil Kim Bum melaju cepat tanpa menghiraukan apakah disamping mobilnya ada orang atau tidak, hampir saja So Eun terserempet kembali jika tidak segera menghindar.

Kim Bum baru saja sampai kota Hua Lian beberapa jam lalu dan kini dirinya hendak pergi ke rumah teman ayahnya yang bernama Zhou Jie Lun atau Jay Chou. Dulu Jay Chou pernah tinggal bersama Jong Suk namun Jong Suk memutuskan pindah keKorea. Jay Chou merupakan seorang pemusik dulu namun pensiun menjadi seorang busniss yang dibantu oleh putranya Wang Zi.

“maaf bibi Ling saya tidak bisa menjaga jeruk mu” sedih Soeun memandang buah jeruk dikeranjang yang hanya tersisa sepuluh buah dan itupun sudah sedikit kotor di permukaan kulitnya.

****
Tok tok tok

Suara pintu disebuah rumah diketuk membuat sang pemilik rumah yang sedang duduk santai memakan buah jeruk yang sudah dikupas itu terhenti. Padahal tadi orang tersebut sedang menonton acara televisi cinta-cintaan.

“yah, tunggu sebentar” sahut seseorang didalam. Tidak lama pintu pun terbuka dan terlihat seorang pria memakai baju santai, gagah, sudah tidak lagi menggenakan headshet, dan sebuah ransel hitam dipunggungnya dan koper di tangan kirinya.

“apakah benar ini rumah paman Jay Chou?” tanya Pria itu dengan sedikit kaku dan bahasa mandarin fasihnya yang telah dirinya kuasai semenjak kelas 2 sekolah menengah atas. “ni shi shei? (kamu siapa?). tanya pemilik rumah. Dengan cepat tanpa ragu orang itu menjawab, “wo shi Kim Sang Bum” (saya Kim Sang Bum). jawab Kim Bum santai dan alisnya dikerutkan sejenak. “ni zhen de Kim Bum ma?” (kamu beneran Kim Bum kah?). Tanya Jay Chou tersenyum.

“shi, wo shi Kim Bum” (ya, saya Kim Bum). Jawab Kim Bum yang kembali mengrutukan keningnya. Dengan cepat Jay Chou memeluk Kim Bum dengan erat.

“waaah… kau sudah besar ternyata. Dulu aku pernah menimang mu ketika kau masih berusia 2 tahun dan tidak kusangka kau tumbuh segagah ini. Wo zhen de gao xing ke yi kan ni de ba” (saya sangat senang bisa melihat kamu lagi). Jay Chou mulai melepas pelukannya dan segera membawa masuk Kim Bum.

Rumah Jay Chou cukup besar dan mewah dan Kim Bum merasa cukup nyaman berada didalamnya. Terdapat banyak foto didinding dengan berbagai macam event. Ada foto keluarga, foto sewaktu Jay Chou bermain piano, dan sebaginya.

“ayo silakan duduk. Sungguh aku bisa benar- benar tidak mengenal mu jika kau tidak menyapa ku atau mengenalkan dirimu. Kau benar-benar tampan. Ku dengar kau ahli dalam berbagai pelajaran dan berbisnis” Jay Chou berjalan kedapur dan berbicara sedikit berteriak. Jay Chou mengambil beberapa makanan ringan dan jus segar jeruk, buah yang mengingatkan Kim Bum dengan wanita angin itu, So Eun wanita angin bagi Kim Bum yang menyapu dan menembus hati.

“tidak juga, biasa saja” jawab Kim Bum dingin. Jay Chou hanya tersenyum mendengar jawaban dingin Kim Bum. Kim Bum mulai meminum jus itu walau sempat ragu dan memakan cemilan China itu. Rumah Jay Chou nampak sepi dan sangat rapi seperti rumah Kim Bum di Korea.

“itu anak mu?” tanya Kim Bum menunjuk sebuah figuran dimeja dekat televisi. “oh, iyah itu Wang Zi anak ku, dirinya sama dengan mu sedang menmpuh pendidikan S2 nya dengan jurusan hukum. Aku menyuruhnya mengambil menejemen atau setidaknya berkaitan dengan Bisniss, namun sulit wataknya keras” cerita Jay Chou ikut meminum jus nya.

Sebuah figuran dengan menampilkan wajah Wang Zi yang tampan dan bersahabat dengan memakai baju santai dan memegang gitar klasik itu. Wang Zi sama dengan Jay Chou suka sekali bermusik namun itu hanya untuk hobby semata.

Akhirnya karena Kim Bum lelah Jay Chou menyuruh Kim Bum untuk tidur dikamar kosong yang memang disediakan untuk tamu yang menginap. Saat ini rumah Jay Chou memang sepi karena Wang Zi putranya sedang kuliah sementara istrinya Andy An sedang keluar memesan jeruk dan hanya seorang diri Jay Chou dirumah.

****

Makan malam hari ini begitu special dengan adanya Kim Bum putra dari Jong Suk teman karib Jay Chou seaktu sekolah dulu. Meskipun makanannya sederhana namun terasa begitu mewah dengan suasana. “senang berkenalan dengan mu Kim Sang Bum” ujar Wang Zi yang baru bergabung kemeja makan. Senyum ramah selalu melekat di wajah Wang Zi dan mau tidak mau Kim Bum harus menarik kedua sudut bibirnya agar terbentuk sebuah senyuman.

“ya, senang berkenalan dengan mu juga Wang Zi” kata Kim Bum. Meja makan sudah tersaji beberapa lauk pauk. Kim Bum memandang keluarga ini sepertinya begitu menyenangkan. Ada angin positif menerpa hati Kim Bum saat berada diantara mereka.

“hei, wei shen me?” (kenapa) tanya Andy An menyadari Kim Bum melamun saja. Semua menatap Kim Bum dan lagi-lagi sifat dingin itu keluar dari diri Kim Bum.

“ mei guan xi” (tidak apa-apa) jawab Kim Bum ketus dan langsung makan membuat semua menghembuskan nafas berat. Mereka semua sudah tahu sifat Kim Bum karena sebelumnya Jong Suk cerita terlebih dahulu mengenai sifat Kim Bum pada Andy An, Jay Chou dan Wang Zi.

“aku senang besok kau bisa satu kampus dengan ku. Aku harap kita bisa berteman baik” ujar Wang Zi dengan ramah membangun hubungan positif.

“ya” jawaban singkat dan ketus terlontar lagi dari Kim Bum. Wang Zi tersenyum mendengarnya walau sedikit kesal. Wang Zi dan Kim Bum tumbuh dilingkungan berbeda dan kondisi berbeda, yang sama hanyalah fasilitas yang sama, sama-sama fasilitas orang terpandang.

“aku lelah, aku duluan” kata Kim Bum langsung bangkit dan menuju kamar. Terkesan tidak sopan memang, namun itu sifat Kim Bum yang entah bisa berubah atau tidak. Semua menghembuskan nafas berat saat melihat Kim Bum sudah menaiki tangga.

“dirinya tumbuh dengan buruk” ujar Andy An dan mendapatkan anggukan oleh Wang Zi dan Jay Chou. Kembali mereka menuntaskan makan malam mereka itu.

****
So Eun baru saja pulang dengan sedikit nyeri dilutut kaki kirinya itu membuat sedikit sulit saat hendak naik tangga menuju kamarnya karena kamar rumahya terdapat dilantai dua. Ia tinggal di rumah pamanya yang sudah tua dan anaknya yang berarti sepupu So Eun berada di Hongkong bekerja.

“kau baru pulang So Eun?” tanya sang paman bernama KimSu Roo yang sudah agak sedikit buram pandanganya karena sudah berusia 57 tahun dan dari dulu Kim Su Roo menderita minus. So Eun menaap Su Roo dan tersenyum.

“ye paman. Maaf agak telat tadi macet. Kenapa paman belum tidur?” tanya So Eun mendekati Kim Su Roo dan membantu memapah dan mendudukkan dikursi.

“paman tadi sudah akan tidur tadi namun kembali terjaga saat mendengar hentakkan kaki serta pintu yang terbuka” jawab Kim Su Roo.

“maaf paman jika So Eun membangunkan paman. Kajja paman segera kembali tidur, So Eun juga akan tidur” Soeun membantu Kim Su Roo berdiri dan mencoba menahan sakit dilututnya dibalik dress kuningnya itu. Kim Su Roo tidak tahu sama sekali mengenai kaki Soeun karena Soeun berperan dengan baik.

****
Sampai diakamar dan setelah mandi So Eun bersiap-siap untuk tidur. Namun saat dirinya duduk dikasur ranjang sederhana itu yang kecil, So Eun teringat pria sombong congkak yang sungguh tampan. Apa guna tampan jika menyakitkan? Itulah pikir Soeun.

“aku tidak menyangka ada orang seperti itu. Untung aku memiliki kekasih yang baik walau dirinya dari kalangan atas pula” kata So Eun yang mengingat diri kekasihnya itu. yah, So Eun memiliki kekasih di kampusnya walau beda jurusan karena So Eun mengambil design. Mereka sudah berhubungan satu tahun lamanya.

So Eun segra memasang alarm kecilnya yang berada di meja kayu yang sepertinya akan reyok itu, dan diatur jam nya pikul 05.00 subuh. Ia lepas jepitan di rambutnya dan mulai berbaring tidur memejamkan mata.

So Eun hanya tinggal dengan pamanya karena kedua orang tua So Eun tewas dalam tsunami di Jepang beberapa tahun lalu. Waktu itu kedua orang tua So Eun sedang bekerja dan So Eun dititipkan pada Kim So Roo, na’as baru saja besok akan pulang musibah itu terjadi.

Kim Su Roo memutuskan menetap di Hua Lian karea desa Hua LIan sangat baik untuk tanaman. Anak Kim So Roo sudah berkeluarga dan menetap di Hongkong meninggalkan Kim So Roo seorang diri di Hua Lian hanya bersama So Eun. Meskipun begitu, anak Kim So Roo masih menjenguk tiga bulan sekali bersama sang anak.
So Eun terbiasa hidup susah dari kecil dan itu jauh lebih bermakna dari pada hidup mewah yang congkak. So Eun tertidur dengan nyenyak hanya dengan kamar apa adanya namun sangat nyaman dan hangat dengan semilir angin dari sela-sela ventilasi.

****
Hari ini merupakan hari pertama Kim Bum masuk ke kampus. Baru saja masuk banyak mahasiswi yang memandang kagum akan ketampananya. Hal seperti ini sudah terbiasa terjadi dalam kehidupan Kim Bum sehingga Kim Bum sangatlah cuek.

Kim Bum jalan seorang diri memasuki kelasnya karena dirinya dan Wang Zi berbeda jurusan. Kim Bum hanya terus berjalan tanpa tengok kanan tengok kiri. Namun ada yang berbeda, disebelah kirinya hati Kim Bum merasa ada yang meniup terasa seperti angin dan rasanya begitu hangat. Karena penasaran Kim Bum menengok sediit kesamping kirinya.

Benar, wanita yang Kim Bum anggap angin beberapa hari yang lalu sedang berada disamping kirinya berhenti mengecek buku yang berada di tanganya apakah sudah lengkap. Kim Bum perhatikan baik-baik apakah benar itu Kim So Eun. “ku rasa sudah lengkap” ujar So Eun membuat Kim Bum melotot sedikit, dunia benar-benar sempit pikirnya.

“wanita angin..” ujar Kim Bum tanpa sadar dan meluruskan pandagannya kedepan namun tidak bergerak berjalan. So Eun langsung menoleh kesebelah kanannya. Dan So Eun sama seperti Kim Bum yang kaget, pria congkak ada disampingnya, sejak kapan? Tanya So Eun dalam hati. Kim Bum ikutan menoleh dan pandangan mereka lagi-lagi beradu. Sepertinya ada angin topan dihati Kim Bum membuat seakan-akan es itu terbelah menjadi puing-puing krystal es yang indah saat ini.

Tidak ada angin kencang, sungguh benar-benar tidak ada saat ini, yang ada hanya semilir angin disisa-sisa musim semi yang akan masuk musim gugur dan dilanjut musim dingin dengan lamban. Namun, dalam diri Kim Bum merasakan terdapat angin yang mengngoyak hatinya begitu kencang dan darahnya berhamburan mengalir deras. So Eun hanya menatap enggan diri Kim Bum.

“So Eun!!!” teriak seseorang dibelakang Kim Bum dan melambaikan tangan nya. Orang itu berlari kecil menghampiri So Eun dan dengan cepat mencium pipi So Eun membuat Kim Bum mengalihkan pandanganya kearah pot bunga didekat kursi halaman kampus itu.

“kau baru tiba sayang?” tanya Wang Zi kekasih So Eun. Kim Bum langsung menatap wajah Wang Zi yang masih memandang So Eun hangat. So Eun hanya tersenyum kecil menjawab pertanyaan itu. kim Bum masih sedikit mengerutkan alisnya dan masih tidak beranjak dari tempat. “oh, Kim Bum. kau belum masuk kelas ternyata.

Kebetulan kau ada disini biar ku kenalkan dirimu dengan So Eun. Ini So Eun kekasihku dirinya kelahiran Seoul sama seperti mu. Dan So Eun, ini Kim Bum anak dari sahabat ayah ku” kata Wang Zi tersenyum namun Kim Bum masih kaku. So Eun yang tadi menaikkan tangan kanan nya untuk berjabat tangan dikendurkan kembali karena Kim Bum justru mengambil permen karet disaku dan memakanya, membuang sampah kesembarang tempat.

Kampus ini cukup ramai dan Kim Bum tidak begitu suka dengan pandangan para wanita yang menatap harap dengan nya. So Eun mencibir dalam hati atas sikap Kim Bum, sombong dan tidak pantas menjadi sosok yang diharapkan. Wang Zi yang menyadari keadaan atas sikap Kim Bum pun mencoba mengalihkan suasana.

“sepertinya jam pelajaran akan dimulai. Sebaiknya kau segera ke kelas mu So Eun dan begitu pula dengan ku dan Kim Bum. Lai (ayo..)” kata Wang Zi.

****
Pelajaran sudah berakhir lima belas menit lalu dan Kim Bum baru akan pulang begitu pun dengan So Eun. Musim semi sudah berkurang dan angin sudah cukup dingin nampaknya akan masuk musim gugur. So Eun berjalan sedikit terburu-buru karena sehabis ini dirinya masih harus bekerja paruh waktu di salah satu tempat pembelanjaan di dekat stasiun subway jiukeshu. Di halaman So Eun berhenti sejenak karena dihadapanya ada sebuah mobil yang parkir sembarangan dan sang pengemudi berdiri di samping pintu mobil itu. Orang itu nampak santai memasang headshet di kedua telinganya dan memakan permen karetnya dengan sesekali dibuat balon dan dipeletuskan.

Universitas Dong Hwa National yang berada di Hua Lian, Taiwan ini sudah cukup sepi hanya tersisa para karyawan-karyawan atau pembersih saja sehingga jika So Eun ingin meminta bantuan sesama pelajar pun sulit, untuk mengadukan sifat Kim Bum.

“permisi, anda menghalangi jalan saya” kata So Eun selembut mungkin. Pria itu memasukkan ponselnya kesaku celana yang tadi di otak-atiknya. Lagi- lagi itu adalah Kim Bum yang membuat So Eun menghembuskan nafas kesal. Kim Bum tidak bisa memungiri jika hatinya tersilir angin lagi. Selalu saja So Eun yang mampu membuat bekuan es dihati Kim Bum tertiup angin hangat yang sepertinya lama-kelamaan akan mencairkan es itu.

“kau bilang apa?” tanya ulang Kim Bum mendekatkan telinganya ke bibir So Eun membuat So Eun mendur selangkah dan kesal, padahal So Eun sedang terburu-buru. Wang Zi hari ini tidak bisa mengantar So Eun pulang karena ada tugas tambahan di fakultas hukumnya itu sehingga So Eun berangkat kerja sendiri tanpa diantar Wang Zi. Kim Bum tersenyum kecil menatap wajah kesal So Eun, ada rasa yang sulit diartikan di hati kecil Kim Bum.

“aku mau lewat” ulang So Eun mencoba menggeser tubuh Kim Bum. So Eun begitu kesal karena jika So Eun kekiri maka Kim Bum kekiri jika ke kanan maka Kim Bum pun akan ke kanan, terus begitu hingga So Eun kesal dan ingin menangis. “apa?” ulang Kim Bum mendekatkan lagi telinganya ke dekat wajah So Eun. Dengan kesal So Eun melepas headshet hitam yang terpasang ditelinga Kim Bum membuat Kim Bum kaget.

“aku bilang aku ingin lewat!!! Kenapa sih kau selalu menyusahkan ku? Aku sudah katakan aku bukanlah dirimu Tuan yang berada diatas dan bisa membuang waktu dengan santai!!” teriak So Eun yang kini wajahnya sudah merah kesal. Sebagian penyapu halaman menengok kearah Soeun yang berteriak itu. kim Bum menegakkan badanya dan menatap mata So Eun yang begitu kesal.

“mana kekasihmu?” tanya Kim Bum menahan lengan So Eun yang hendak melangkah cepat, dengan cepat pegangan dilengan itu dihempaskan kasar oleh So Eun. “dia sibuk sedang ada tugas tambahan” jawab So Eun ketus dan membenarkan sedikit tali ransel yang jatuh kelengan itu. Entah kenapa Kim Bum ingin sekali menantang hatinya untuk tahu sejauh mana wanita ini mampu menghembuskan angin dihatinya yang beku ini.
“apa lagi??!!! Kau itu punya otak atau tidak, hah? Aku harus bekerja jangan menjadi beban dalam langkah ku” kesal So Eun karena Kim Bum tidak melepas genggamannya di lengan kiri So Eun. Kim Bum terlonjak kaget dikatakan tidak memiliki otak, perkataan luar biasa terngiang kencang dan menembus selaput putih di genderang telinganya itu.

Kim Bum menyeret So Eun dan mendudukannya dengan kasar diri So Eun. “kau.. mmmppphhh!!” Kim Bum melumat habis bibir So Eun dan menekan kepala So Eun agar ciuman itu begitu kencang menempel dan terasa panas. So Eun terus memukul dada Kim Bum dan mencoba melepaskan tangan kanan Kim Bum yang menekan kepala bagian belakangnya. Kim Bum mendorong tubuh So Eun hingga posisi mereka miring kesamping membuat dress nya yang memakai petty tipis itu terekspos. “mppph ahh..” suara itu terdengar dalam rontaan So Eun. Bibir So Eun rasanya berdanyat denyut sakit mendapat tekanan ciuman itu. Kim Bum sebenarnya sudah ingin melepaskan ciuman itu, namun hatinya tersa begitu hangat tertiup angin damai saat ciuman itu berlangsung.

So Eun sudah lemas meronta karena dari semalam So Eun hanya makan sedikit dan tenanganya tidaklah sekuat Kim Bum. Kim Bum yang menyadari rontaan tangan So Eun akhirnya melepaskan ciumanya dan meneglap sedikit ujung bibirnya yang terkena darah dari bibir So Eun yang terluka. Kim Bum begitu kaget melihat air mata mengalir di wajah So Eun dan sudut bibir So Eun yang terluka, tidak ada niat sama sekali untuk membuat So Eun terluka awalnya.

Kim Bum mengangkat tangan kanannya dan mencoba mengelap darah itu dibibir So Eun, namun So Eun memalingkan wajahnya ke luar jendela membuat Kim Bum terdiam. Tidak ada suara sama sekali hanya ada suara kecil dari Soeun yang mencoba merapikan buku-bukunya yang berantakan dimobil itu dan membenarkan kakinya karena kaki lutut So Eun akibat luka beberapa hari yang lalu belumlah sembuh, untuk kesekian kalinya Kim Bum terdiam melihat itu.

“aku ingin keluar, tolong buka pintunya” pinta So Eun dingin, matanya menatap kedepan mobil Kim Bum. Kim Bum yang terdiam mau tidak mau membuka kunci pintu itu. Ada rasa yang begitu tertikam saat ini mendera hati Kim Bum, rasa bersalah bukan, rasa takut bukan, tapi sebuah rasa yang begitu menyakitkan. So Eun keluar dan Kim Bum mengikuti untuk keluar

“sayang…!!!” teriak Wang Zi baru saja keluar gedung dan mendapati kekasihnya itu. kim Bum lagi-lagi membuang wajahnya kearah lain, menghilangkan kontak mata antara dirinya dan Wang Zi. “hei, kenapa dengan wajah mu sayang?” tanya Wang Zi lembut mengelus pipi So Eun yang lengket dengan air mata dan mengelus sudut bibir So Eun yng terluka. “apa yang terjadi?” tanya Wang Zi penuh perhtian dan memeluk tubuh So Eun membuat Kim Bum sekali lagi menatap arah lain. Hatinya terasa sakit dan es itu telah menjadi krystal terkoyak oleh angin.

“aku tidak apa-apa Wang Zi, tadi aku makan sesuatu dan bibirku tidak sengaja tergigit lalu aku menangis karena sakit” jawab So Eun membuat Kim Bum mengarahkan pandanganya kearah So Eun yang dipeluk Wang Zi. Ada sebuah rasa yang ingin Kim Bum inginkan, rasa memeluk angin hangat itu.

“apakah seperti itu Kim Bum? apa kau memberikan makanan yang keras pada kekasihku?” tanya Wang Zi mencoba menghibur So Eun. Wang Zi berdiri disamping So Eun dan memeluk pinggang So Eun dari samping membuat Kim Bum sedikit emosi, perasaan yang mengalir begitu saja.

“kurasa seperti itu” jawab Kim Bum cuek dan tersenyum kecil. “baiklah aku akan pulang dengan So Eun. Kau pulang lah duluan dan sampaikan pada ayah dan ibu ku jika aku sibuk dengan So Eun, hehe” kata Wang Zi mulai jalan memeluk pinggang So Eun dari samping. Kim Bum mengepalkan tangannya tidak suka dan dadanya bergemuruh hebat saat melihat tangan putih Wang Zi melingkar di dress biru muda So Eun.
****
Musim gugur telah tiba dan angin sudah sepenuhnya berubah pula. Angin musim gugur tidak sedingin nanti di musim dingin namun cukup dingin bagi kota Hua Lian ini. Banyak tanaman rontok dimusim ini dan matahari sedikit tidak terik mengingat selanjutnya pergantian musim dingin. Pergantian musim menandakan Kim Bum sudah beberapa minggu atau sekitar dua bulan di Hua Lian tinggal bersama Jay Chou dan Andy An. Banyak kesulitan yang dihadapi karena memang Kim Bum sangat dingin.

Wang Zi dan So Eun semakin mesra membuat Kim Bum tidak tahan akan rasa itu, angin yang menjadi penghangat hilang begitu saja dan rasanya tidak rela jika harus dikatakan jujur. Wang Zi sudah tahu apa yang terjadi beberapa bulan lalu tentang kejadian dimobil itu, sebagai seorang pria baik Wang Zi tidak ingin langsung menghantam Kim Bum, berpikir jernih dan mampu menahan emosi itu jauh lebih baik.

Kim Bum sudah sebulan mengejar So Eun dengan berbagai cara agar hati So Eun berlabuh. Memang So Eun sudah mulai dekat dengan Kim Bum, namun sayang sekali disaat Kim Bum ingin menyatakan perasaan nya sore itu sepulang dari kampus, Kim Bum mendengar percakapan antara So Eun dan Wang Zi yang merencanakan pernikahan mereka natal nanti disebuah gereja klasik.

Hati Kim Bum dengan sekejap seperti berada disebuah ruangan kosong yang gelap dan tertutup tanpa udara, semua penuh dengan kesempitan yang rasanya sangat pengap dan sesak sekali, rasa sesak melebihi sakit asma dan lari dikejar paus atau harimau, atau melebihi sesak lari marathon. Tiba-tiba hatinya kehilangan angin yang membantu pernafasan dan kesejukan bagi makhluk hidup. Bagaimana mungkin manusia hidup tanpa angin?? Begitu pun dengan Kim Bum, bagaimana mungin hati Kim Bum mampu bertahan dari So Eun?

Setiap hari Kim Bum menjadi pendiam dan menghindari apapun yang menarik, seperti So Eun sekalipun. Kenyataan beberapa hari yang lalu mengenai ibu kandungnya yang ternyata meninggal sewaktu melahirkannya menjadikan Kim Bum terpuruk dan ayah Kim Bum yang kecelakan beberapa minggu lalu membuat Kim Bum tertikam kini. Namun ayah Kim Bum sudah sedikit pulih kini.

Jay Chou mencoba mendidik Kim Bum sebisanya tanpa paksaan, setiap hari Jay Chou dan Andy An mengajak ngobrol Kim Bum dan Wang Zi. Kim Bum merasakan hilang arah kini, hanya dalam beberapa bulan kehidupan nya sudah terporak pandakan dengan angin cepat tidak terlihat, musim gugur indah namun percuma mata dan hati Kim Bum sepertinya lebih memilih musim dingin.

Kim Bum kini keluar untuk sedikit melupakkan masalahnya dan meluapkan kepengapan dihatinya. Langkah demi langkah jalanan pinggir kota Hua Lian ini dirinya lewati. Langkah Kim Bum terhenti melihat seorang wanita baru saja menyebrang jalan. Hatinya begitu teduh walau hanya melihat wajah wanita itu.

“baru pulang?” sapa Kim Bum menghampiri wanita itu dan tersenyum kecil, bibir itu sudah terbiasa senyum walau kecil sejak sebulan yang lalu. Angin malam musim gugur begitu menusuk membuat So Eun mengeratkan jaketnya ketubuhnya.

“mm, kau sedang apa?” tanya So Eun. wajah So Eun sedikit pucat menahan dingin. “sedang mencoba melupakan mu” jawab Kim Bum jujur membuat So Eun menunduk. Kim Bum memang pernah menyatakan cinta pada So Eun namun rasa itu ditolak diawal musim gugur. “maaf..” ujar So Eun pelan diselingi dengan angin malam.

“sudahlah tidak apa. Kau tahu rasa nya seperti apa hati ku saat ini? Kau itu adalah angin dalam hati ku, bisa kau bayangkan hatiku hidup tanpa angin, rasanya sesak, sulit untuk bernafas walau hanya hembusan kasar” kata Kim Bum menatap langit-langit malam. Sebanarnya So Eun tidaklah bermaksud menolak Kim Bum, hanya saja dirinya tidak tega meninggalkan Wang Zi yang sudah lebih dulu dihatinya dan banyak berkorban untuknya.

Masing- masing dari mereka diam dan sulit untuk memulai obrolan, namun Kim Bum tidak ingin angin ini benar- benar menjadi kaku hingga pada akhirnya sebuah ujaran terlepas. “ sepertinya gerimis. Apakah aku boleh mampir ketempat mu?” tanya Kim Bum kini melepas jaket hitamnya dan menutupi kepala Soeun dari rintikan hujan itu. “tapi rumah ku tidaklah sebagus rumah mu” kata So Eun menatap dada Kim Bum yang menutupi kepalanya itu.

Senyum kecil mengembang dibibir tipis Kim Bum. Malam musim gugur ini tidak cukup baik seperti tadi pagi dan siang. “ayolah jangan seperti itu, aku merasa kedinginan disini. Aku sedang malas pulang karena aku tidak bawa mobil. Lagi pula jarak rumah paman ku jauh dari sini, apakah kau keberatan?” tanya Kim Bum memastikan.

So Eun mengeleng pelan, Kim Bum segera merapatkan diri ikut berteduh dibawah jaket hitam itu dan mereka pun berjalan di malam hari, perasaan mereka berdua tidak menentu namun mereka bungkam untuk menyampaikan maksud hati. Gerimis semakin kencang dan angin mengikuti gerimis ini. Akhirnya mereka tiba dirumah terpencil So Eun yang nampak kusam dari tembok namun tertata rapi dan sopan.

“masuklah, paman ku sedang ke Hongkong diajak anak nya sehingga aku saat ini hanya seorang diri” kata So Eun. Kim Bum mengangguk mengerti dan masuk kedalam rumah So Eun sambil mengibas-ngibaskan jaketnya yang basah, sedangkan So Eun sudah menyalakan saklar listrik dan lampu menyala.

“aku akan mandi dahulu dikamar ku dan kau bisa bersantai sejenak menonton di televisi kecil itu” kata So Eun. So Eun dengan cepat menaiki tangga menuju kamar nya dan membersihkan diri, maklum So Eun baru saja pulang kerja sehabis kuliah tadi.

****
30 menit berlalu akhirnya So Eun sudah nampak rapi dan menemani Kim Bum diruang tengah. Nampak Kim Bum hanya duduk dengan nyaman dan mencari chanel film yang bagus. “kau sudah selesai ternyata” Kim Bum baru menyadari jika So Eun sudah rapi saat duduk disampingnya. Pandangan Kim Bum sedikit nakal memperhatikan paha So Eun yang memakai celana tidur tipis yang pendek.

So Eun mengambil cemilan di meja yang merupakan kue yang terbuat dai sari jeruk. Angin tidak begitu terasa karena rumah So Eun yang memiliki sedikit jendela. Kim Bum diam sama hal nya dengan So Eun. “ku rasa hubungan mu dengan nya sudah sangat jauh” ujar Kim Bum tiba-tiba membuat suasana kembali dingin.

“ne” jawab singkat So Eun memilih diam tidak berkutik disamping Kim Bum, hujan diluar semakin deras namun tidak mengganggu kesunyian dihati mereka masing- masing. “apakah aku benar- benar tidak pernah hadir dihati mu?” tanya Kim Bum pelan menunduk menatap ubin putih itu sama dengan So Eun. Mendengar pertanyaan itu membuat So Eun menatap bahu kesepian Kim Bum. So Eun tahu Kim Bum begitu kesepian sepanjang hidupnya, dirinya pernah diceritakan Jay Chou sewaktu mampir ke rumah Wang Zi. Pada saat itu Kim Bum sedang tidak dirumah.

“aku tidak tahu” jawab So Eun singkat lagi. “boleh aku berbaring di pahamu, aku lelah menanggung ini semua, hanya sejenak saja” pinta Kim Bum menatap mata So Eun membuat So Eun mengangguk dan tersenyum hangat. Kim Bum pun meletakkan kepalanya di antara kedua paha mulus So Eun. So Eun kini dapat merasakan rambut tajam Kim Bum menggelitik pahanya itu. Entah mengapa tangan So Eun kini mengusap lebut rambut Kim Bum, hal itu terjadi begitu saja.

“kenapa kau begitu membenci ayahmu?” tanya So Eun masih mengusap sayang rambut Kim Bum dipahanya. Kim Bum menatap wajah So Eun dan tersenyum namun senyum itu menghilang disaat So Eun membahas ayahnya. “karena dia ibu ku pergi, karena dia pula hidup ku penuh dengan perintah. Cih, seperti anak kecil yang selalu diatur” kata Kim Bum menatap arah lain.

“bagaimana bisa kau tahu mengenai ayah ku?” tanya Kim Bum menatap wajah So Eun kembali. “paman Jay yang bercerita semua nya padaku, termasuk ibu tirimu. Jangan lah membenci mereka berdua, jangan salah kan ayah mu. Semua itu sudahlah takdir kehidupan. Harusnya kau bersyukur dapat terlahir didunia ini untuk bisa membanggakan ibu mu disana. Aku sangat yakin ayah mu tidaklah bermaksud demikian terhadap mu dan kurasa pula ibu tirimu sangat sayang padamu, hanya saja hati beku mu menutupi itu semua” terang So Eun membuat alis Kim Bum berkerut berpikir.

“kau tidak mengerti So Eun” kata Kim Bum masih sangat keras kepala. Tangan So Eun memegang dada Kim Bum membuat Kim Bum memejamkan matanya karena begitu hangat, angin musim panas seperti menembus dirinya padahal saat ini musim gugur. “disini pasti akan terasa indah jika kau tidak egois. Aku memang tidak mengerti, namun setidaknya aku merasakan betapa sayangnya ibumu dan ayahmu terhadap mu” terang So Eun kembali. Mata Kim Bum terbuka dan sedikit kesal.

“tapi dia membuang ku ke sini. Aku benci itu !!” ketus Kim Bum menatap tembok enggan menatap mata So Eun diatasnya. Sentuhan hangat masih bisa dirasakan Kim Bum diujung rambutnya yang diusap So Eun. “tidak, percayalah pada ku Bum, ayahmu dan ibu mu mengirim kau kesini agar kau bisa berubah, hatimu bisa cair dan indah” kata So Eun masih dengan kesabaran. “benarkah?” tanya Kim Bum mulai melunak. Lagi, pandangan mereka bertemu dan saling pandang.

“hmm.. cobalah untuk merubah hati mu” kata So Eun mengangguk. Kim Bum dan So Eun sama- sama tersenyum. Perlahan demi perlahan Kim Bum bangkit duduk namun kontak mata diantara keduanya tidak pernah lepas. Chupp.. Kim Bum memiringkan kepalanya dan meraih bibir So Eun. So Eun menyambut hal itu dengan pelan dan lembut membuat Kim Bum tidak kuasa meminta lebih. Di dorongnya tubuh So Eun hingga terlentang di atas sofa.

Sejenak ciuman itu terhenti karena Kim Bum tahu posisi yang So Eun rasakan kurang nyaman. “dimana kamar mu?” tanya Km Bum sambil tanganya menyelipkan rambut So Eun yang tergerai berantakan. “diatas sebelah kanan” jawab So Eun tersenyum. Kim Bum melanjutkan ciuman itu dan mulai mengangkat tubuh So Eun.

Desahan itu keluar dengan nikmat dan keras dibarengi dengan aturan nafas yang tersenggal senggal. “sssstttt.. ach ach… mmmphhh” terus dan terus desahan seperti itu terlontar. Penutup dari masing- masing tubuh mereka sudah terbang entah kemana. Hujan deras dan angin itu membawa mereka melakukan sesuatu yang sudah bisa kita tebak. “aaahhh… appoh… ssssstttt ach ouch.. ah ah ah” desah mereka selir berganti saat Kim Bum memasukkan bagian sensitifnya ke alat vital So Eun. Genjotan terus terdengar di padu dengan dencitan ranjang itu.

Malam ini mereka benar- benar melakukan itu, sesuatu yang seharusnya tidak terjadi karena akan ada pihak terluka dan dosa berbohong besar.
****
Seminggu telah berlalu mengenai kejadian itu So Eun meminta Kim Bum untuk melupakannya. Semudah itukah So Eun bicara? Menyakitkan bukan? Hati Kim Bum merasa miris dan tidak tahu dikatakan seperti apa. So Eun tidak ingin jika Kim Bum mengingatnya, nanti akan ada hal buruk terjadi.

Hari demi hari keduanya selalu berakting layaknya pemain drama international yang begitu cakap. Wang Zi diam- diam mencurigai sesuatu namun sekali lagi ia hanya bungkam dengan yang terjadi. Tinggal beberapa bulan lagi mereka akan lulus dari S2 dan itu berarti Wang Zi dan So Eun akan menikah. Kim Bum setelah malam itu dan mendengar permintaan So Eun untuk melupakan kejadian itu lebih banyak diam, pandangan tidak menentu, dan hati yang tiba- tiba sesak membuat air mata dengan tiba- tiba menetes dalam kesepihan.

Tidak jauh berbeda dengan Kim Bum, So Eun sama halnya seperti itu. baik Kim Bum dan So Eun sama- sama menyimpan serpihan hati ini. Kim Bum memutuskan hari ini dan seterusnya hanya akan diam dirumah Jay Chou dan mengosongkan hati serta pikiran, ingin mengembalikkan hati bekunya seperti sebelum angin itu menyapu hati es nya.

Didepan Kim Bum melihat So Eun berjalan seorang diri dikoridor kampus yang sepi. Pakaian dress seperti biasa yang dikenakan So Eun selalu membuat hati Kim Bum tersenyum kecil, terpukau. “aku mencintai mu So Eun, dan aku ingin kau menikah dengan ku bukan dengan orang lain” ujar Kim Bum terlepas saat So Eun melintas di hadapannya. Dengan cepat So Eun menghambur kepelukkan Kim Bum membuat Kim Bum terdiam membisu.

“nado, nado saranghae Kim Bum ssi” kata So Eun dengan bahasa koreanya yang sudah ia kuasai dari kecil. Kim Bum membalas pelukkan So Eun dan mengecup tulus pucuk kepala So Eun. Keduanya menjatuhkan air mata perih. Kim Bum melepas pelukan itu dan mencium tulus kening So Eun. Bibir itu masih melekat dikening So Eun sampai sebuah tarikan kasar diterima Kim Bum.

“brengsek…!!!! Buuuk” marah Wang Zi menarik kasar kerah jaket hitam milik Kim Bum dan memukul keras pipi Kim Bum menyebabkan memar dalam seketika. So Eun hanya menutup mulutnya karena terlalu kaget. “kau bajingan.. kau bermaksud merebut so Eun dari ku hah!! Brengsek,,,, buuuk” lagi untuk kedua kalinya hinaan dan pukulan itu Kim Bum terima.

“hentikan Wang Zi, kumohon hentikan!!” teriak So Eun menghentikan tangan Wang Zi yang terkepal kembali terangkat. Kim Bum berdiri tegap kembali dan mengelap kasar sudut bibirnya itu. “kami saling mencintai” papar Kim Bum santai membuat Wang Zi naik darah dan hendak memukul namun segera ditahan lembut oleh tangan So Eun. “ku mohon jangan seperti ini” ujar So Eun lembut.

“ayo kita pulang” kata Wang Zi menarik pinggang So Eun. Kim Bum hendak mengejar namun So Eun menggeleng manatap nya seolah-olah berkata ‘jangan kejar aku’. Kim Bum membuang nafas kesal dan masuk kedalam mobil. Didalam mobil Kim Bum berteriak sekeras kerasnya dan memukul stir dengan keras, membenturkan kepalanya ke stir, terlalu sakit dalam dirinya kini bukan bagian luarnya.

Mengapa cinta ini harus datang disaat yang tidak tepat?? Mengapa cinta ini berlabuh hanya untuk terluka?? Terus Kim Bum berteriak histeris mengungkapkan rasa sakitnya akibat cinta yang hilang bersama angin. Air mata itu sudah melusuhkan wajah tampannya, biarlah lusuh bahkan retak sekalian wajah itu, asalkan sakit dan sesak dihati Kim Bum bisa hilang walau sejenak.

Shi ying wei feng wo neng ai ni (karena angin aku bisa mencintai mu)

****
Sudah sebulan berlalu hal itu, dan itu membuat So Eun lebih diawasi oleh Wang Zi karena beberapa hari yang lalu Wang Zi mendengar pengakuan So Eun mengenai hatinya yang sedikit ada nama Kim Bum. Wang Zi tidak akan sudi So Eun orang yang paling dicintainya jatuh ketangan Kim Bum. Jay Chou sudah mengetahui kisah cinta segitiga ini. Tidak ada yang salah sekalipun jika So Eun berselingkuh pada Kim Bum, yang salah hanyalah angin, mengantarkan waktu berjalan tidak sesuai arah, bahkan takdir pun tidak bersalah.
So Eun sudah benar-benar menjauh dari Kim Bum, hubungan So Eun dan Kim Bum kembali seperti sedia kala tanpa kenal nama atau sekedar hafal muka saja tidak, mereka menganggap tidak pernah kenal dan lupa akan wajah. Ironis, cinta berakhir dalam sekejap seperti angin menyapu pesisiran pantai dengan cepat.

Bulan depan So Eun akan diikat oleh Wang Zi sebelum memasuki semester berikutnya di S2 ini. Hari ini Kim Bum dan So Eun sudah berada ditaman dan ini dipastikan pertemuan mereka terakhir, Kim Bum memutuskan pindah kembali ke Seoul beberapa Minggu kedepan dan tidak akan menginjak di Hua Lian bersama wanita angin ini.

“sepertinya pernikahan mu nanti aku tidak bisa ikut hadir” kata Kim Bum mencoba ramah dan memaksa hati untuk lega, walau tertikam. Wajah keduanya damai walau hanya paksaan semata. Angin bersahabat untuk mendukung pembicaraan mereka. Kim Bum mengalihkan perasaanya dengan mengambil ranting kayu kecil dan dimainkannya.

“tidak apa, kurasa itu menjadi yang terbaik untuk mu. jika sudah sampai di Seoul jangan lupakan aku yah. Hehe” kata So Eun tersenyum, sudut bibirnya tertarik kencang dalam perih. Keduanya saling melempar senyum tanpa air mata walau setetes. “semoga kalian bisa langgeng sampai tua. Kau harus melahirkan banyak anak yang lucu.. zhi dao ma?(mengerti kah?)” kata Kim Bum bergurau sedikit dan memngelus lembut pucuk kepala So Eun. So Eun tersenyum dan mengangguk kecil. “shi, wo zhi dao (ya, saya tahu)”

Tidak ada pelukan hanya jabatan yang menyatu dari masing- masing tangan dingin itu. Angin membawa mereka harus merasakan sakit yang tidak bisa terhapuskan, sekalipun badai. Biarlah angin yang memulai kisah ini menjadi penentu pula dari akhir kisah feng (angin) ini.

****
“kau akan tetap mempertahankan So Eun?” tanya Jay Chou dimalam musim dingin itu sebelum esok hari pernikahan putranya dengan So Eun. Wang Zi sedang sibuk memilih kartu undangan dan tidak terlalu serius mendengarkan Jay Chou bertanya, sifat dingin Kim Bum mewabah pada Wang Zi sepertinya.

“hm, lagi pula untuk apa aku membatalkannya” kata Wang Zi masih sibuk membereskan kartu undangan yang tersisa itu serta berserakan. “batalkan lah, kau tidak bisa melihat diri So Eun, apakah kau tidak peka hah terhadap dirinya?” kata Jay Chou menghentikan laju tangan Wang Zi yang hendak mengambil ponsel.

“tidak akan, aku tidak ingin melakukan itu. Aku akan mengembalikan hati So Eun seutuhnya untuk ku” jawab Wang Zi bersikeras. “dia dan Kim Bum saling mencintai, apakah kau paham maksud kalimat itu?” kata Andy An baru tiba dari dapur dan membawa air mineral. “kalian mendukung kisah mereka dan melupakan kisahku, begitu hah?! Sekalipun itu benar aku tidak akan sudi” lagi- lagi Wang Zi membentak.

Pembicaraan mereka mampu didengar baik oleh Kim Bum yang belum benar- benar tidur dikamarnya.
Malam ini menjadi malam terakhir bagi Kim Bum di Hua Lian karena besok subuh dirinya akan kembali pulang ke Seoul. Disana Kim Bum ingin memperbaki hatinya seperti permintaan So Eun tempo lalu, untuk Kim Bum mencoba mencairkan hatinya. Kelak akan Kim Bum ceritakan pada pasangan hidupnya mengenai wanita angin ini, Kim So Eun sang pemiliknya.

Perdebatan terus terdengar memekakan telinga Kim Bum. Walau sulit, Kim Bum mencoba terpejam membiarkan telinganya yang peka mendengar itu semua.

****
Hari ini akan digelar resepsi sumpah janji untuk pengikatan sepasang makluk Tuhan yang telah dijodohkan didunia. Gereja itu nampak sudah banyak makhluk pembantu melancarkan resepsi terpuji ini dihadapan Tuhan, gereja Thien Siang itu sungguh indah sudah didekorasi keindahan gereja itu tambah indah dengan adanya pohon plum local memanjang disepanjang jalan raya, tempat parkir dan taman peringatan menuju candi Siangde, yang bermekaran disetiap musim dingin seperti saat ini, mengubah seluruh wilayah itu menjadi lautan bunga putih.

Memang sudah nampak beberapa tamu undangan dengan baju dan setelan kebesaranya, terlebih para penjabat yang memang memiliki kedudukan tinggi di kota Hua Lian ini. Wang Zi sengaja memilih gereja ini karena gereja ini dekat dengan beberapa hotel, restoran dan pelayanan pengunjung lainnya berkerumunan di Thien Siang ini. Bahkan ada juga beberapa situs indah disini, seperti candi Siangde, Pagoda Tianfong, jembatan gantung, Wen Thien Siang memorial Park, dan taman plum yang indah.

Suasana hati Wang Zi memanglah riang, tidak dengan So Eun, rasanya begitu membuncah rasa sakit itu sehingga seakan- akan ingin keluar seperti minuman soda yang dikocok dan tutupnya dibuka maka akan memuncrat. Hanya air mata dihati yang tidak mampu dilihat siapa pun kecuali mata hatinya sendiri dan Tuhan sang maha tahu.

Biarlah musim dingin ini membawa angin takdir untuk mengukir sejarah cinta menyakitkan ini, biarlah angin musim dingin ini pula menghanyutkan So Eun kesebuah dermaga yang indah nantinya walau mungkin tidak bisa terkenang.

Gaun putih dengan juntaian mute- mute emas yang indah serta penutup wajah yang indah melengkapi gaun pengantin So Eun. Saat ini So Eun hanya mampu duduk disebuah kursi kecil terbuat dari pohon jati dalam kamar rias pengantin, dihadapanya terdapat cermin yang menampilkan wajah cantiknya dan menyembunyikan hancur hatinya. Senyum kecil di tunjukan So Eun pada cermin itu seolah- olah ingin memberitahukan bahwa hatinya sudahlah remuk. Tinggal beberapa menit lagi takdir cinta ini ditentukan hembusan angin musim dingin.

****
Matahari cukup terang pagi ini membuat seorang pria yang duduk melamun sedari tadi di kuil itu sedikit menyipitkan matanya setelah sekian lama membiarkan air matanya tumpah membuat pipinya begitu kasar. Angin menemani pernafasan sesaknya sejak sedari tadi terduduk hingga air mata itu kering membekas kasar.

Cinta yang sudah pergi masih bisakah untuk diperbaiki? Selalu saja satu pertanyaan yang terus- menerus berkutik dihati Kim Bum yang bila terucap maka pertanyaan itu akan tenggelam dengan deraian air mata. Kim Bum terus berdiri menatap hamparan lahan didepannya itu, disebuah kuil yang dibangun untuk mengenang orang- orang yang meninggal selama pembangunan jalan raya tengah pulau. Mata Kim Bum terus menatap sebuah air terjun yang berada disampingnya dan juga terdapat ngarai hijau yang subur, yang mengingatkan seperti lukisan pemandangan Tiongkok, Klenteng Chang Chun yang memanjang dari jembatan penyangga candi Chan guang barat kemulut terowongan Siarwu. Yang membuat hati Kim Bum sedikit sejuk adalah terlepas dari pandangan air terjun, terdapat jalan setapak yang dikenal karena tebing yang terjal, menurun sejauh 330 meter dibeberapa tempat. Karena alasan ini, maka jalanan itu juga dikenal sebagai “Tianti” atau “Tangga Surgawi”.

Tarikan nafas berat serta hembusan nafas paksaan itu terus- menerus menghantam pernafasan Kim Bum. Memang Kim Bum tidak langsung berangkat ke Bandara namun pergi arah Timur di Hua Lian ini dan pergi kekuil ini. Ditempat ini sudah 1 jam air mata itu mengalir tanpa diperintah. “terlalu sakit.. INI SULIT UNTUK KU!!! AAAKKKKHHHHH!!!” teriak Kim Bum memecahkan keheningan yang dipadu air terjun bersama angin ini.

Sudah waktunya Kim Bum kembali ke bandara dan benar- benar meninggalkan tempat ini. Langkah terlalu berat itu terpaksa Kim Bum angkat. Sebuah hati yang sesak terpaksa harus Kim Bum ukir sebagai kenangan sepanjang masa. Kim Bum sudah berada diluar kuil itu dan langkahnya terhenti dengan berdirinya seorang wanita dihadapanya ini.

“So Eun?” Kim Bum terkejut bukan main, seorang wanita dengan bertelanjang kaki, dan menjinjing gaun pernikahannya yang panjang berdiri tepat dihadapan Kim Bum dan nampak menarik nafas panjang. “A Aku mohon jangan tinggalkan aku” ujar So Eun sudah mampu mengontrol nafasnya itu. Kim Bum masih mengernyitkan alisnya, apakah ini bayangan karena terlalu banyak menangis hingga matanya rabun? Tanya batin Kim Bum.

“kau sungguh So Eun? kau nyata?” tanya Kim Bum lagi. Namun dengan cepat So Eun mencium bibir Kim Bum, chuppp.., dan memeluk pinggang Kim Bum dengan erat lalu menyederkan kepalanya kedalam dada bidang Kim Bum. “aku nyata, sungguh aku benar- benar nyata. Jangan tinggalkan aku”

Flsh back

Seorang pendeta telah berdiri gagah dan siap untuk mengikat janji sepasang pemuda- pemudi saat ini. Para hadirin pun sudah riuh menantikan hal ini. Namun sudah 15 menit berlalu kedua calon pengantin ini tidak nampak juga membuat sebagaian tamu bertanya- tanya dan menimbulkan susana ricuh.

Didalam kamar rias ternyata terjadi keributan antaran Wang Zi, Jay Chou, Andy An dan So Eun. Semua nampak begitu emosi hanya So Eun yang pandangannya kosong. “aku tidak ingin memiliki seorang putra yang pengecut menerima kenyataan!!” ujar Jay Chou dengan nada pelan namun penuh penekanan. Pria yang dimaksud hanya diam mengepalkan kedua tangannya dan wajahnya sudah merah menahan tekanan amarah.

“tapi aku mencintainya. Kalian meminta ku menerima kenyataan apa hah?!” tanya Wang Zi berteriak membuat Jay Chou dan Andy An serta So Eun terkejut serentak. “Wang Zi!! Kau jangan berpura- pura tolol ! kau harusnya tahu bahwa pada kenyataanya So Eun dan Kim Bum saling mencintai. Jangan mempermainkan janji Tuhan” kata Jay Chou membalas teriakan Wang Zi.

“batalkan lah Wang Zi, terimalah kenyataan ini. Ibu memohon pada mu” pinta Andy An melembutkan suasana. So Eun hanya menunduk meremas kedua tanganya, terasa sangat takut terjadi hal yang tidak diinginkan. Wang Zi akhirnya menatap diri So Eun yang menunduk, tidak semudah itu melepas seseorang atau sesuatu yang teramat dicintai.

“tidak akan!!” kekeh Wang Zi mencoba menarik So Eun untuk keluar dan melangsungkan pernikahan. Namun langsung dicegah oleh Jay Chou. “kau bawa Kim Bum kesebuah Kuil yang dekat candi Chan guang disebalah barat. CEPAT!!!” perintah Jay Chou kepada Andy An dan menghalangi diri Wang Zi untuk membawa So Eun.
“tidak!!! Mau dibawa kemana So Eun ku??!!!” teriak Wang Zi mencoba mengejar namun di cegah Jay Chou.

Andy An dan So Eun keluar lewat pintu belakang gereja sehingga tidak ada yang mengetahui kepergiannya itu. Suasana gereja sudah kacau balau namun ada beberapa anak buah Jay Chou mencoba mengalihkan pembicraan sampai Jay Chou selesai menghadapi Wang Zi.

Flash back end

Kim Bum membalas pelukan erat So Eun dan mengecup punggung So Eun yang terbuka itu dan agak sedikit berkeringat karena lari. Kim Bum sangat tergugah hatinya mendengar cerita So Eun dan merasa sangat berterima kasih dengan Jay Chou serta Andy An yang telah mengantar So Eun ketempat ini dan merasakan sangat bersalah pada Wang Zi merebut hati orang yang dicintainya.

“wo ai ni ,zhen ai ni. Wo ke yi ai ni ying wei feng. Ni shi wo de feng. Wo zhen ai ni” ( aku mencintaimu, sangat mencintai mu. aku bisa mencintai mu karena angin. Kau adalah angin ku. Aku sangat mencintai mu). Kim Bum mempererat pelukannya dalam setiap kalimatnya itu.

Jay Chou bisa tahu Kim Bum di kuil ini karena melacak keberadaan Kim Bum dengan jaringan GPRS yang terpasang di ponsel Kim Bum. Jay Chou tahu pasti Kim Bum tidak langsung berangkat ke bandara karena sebelumnya Jay Chou melihat tiket keberangkatan Kim Bum pukul 1 siang.

“shi, Wo zhen ai ni ne” (ya, aku juga sangat mencintai mu). mereka pun berciuman di depan kuil megah itu dengan dekat air terjun yang indah. Ciuman yang dalam namun terkesan manis.

****
5 bulan berlalu dan kini Kim Bum dan So Eun sudah resmi menikah di Seoul. Sebenarnya mereka belumlah boleh menikah, namun apa boleh dikata, So Eun mengandung benih Kim Bum belum pada waktunya. Kim Bum menikah dengan So Eun digereja sederhana dekat dengan perbukitan yang mendampingi, sebuah gereja yang klasik dan ramai dikunjungi didetiap minggunya untuk berdoa.

Wang Zi belum bisa Kim Bum ajak bicara karena Wang Zi sedang di latih oleh Jay Chou bagaimana menjadi seorang yang tidak berlaku egois. Saat ini kabar terakhir yang Kim Bum dengar adalah Wang Zi sedang berada di Amerika.

“sayang, aku bersyukur kau hamil. Bukankah itu berkah?” kata Kim Bum yang baru saja selesai mandi dan menghampiri So Eun yang sedang merapikan seprei. “bagi mu berkah namun tidak bagi ku. Aku harus mengandung disaat- saat kuliah ku” kata So Eun cemberut protes.

“hehe.. biarpun begitu kau senang bukan?” goda Kim Bum mendekati So Eun dan mulai merengkuh pinggang So Eun. So Eun hanya tersenyum tipis membalas tatapan menggoda Kim Bum. “terima kasih kau mencintai ku, mencintai namja sombong ini dan tidak tahu di…” “chuup,,” ucapan Kim Bum terhenti saat bibirnya ditempelkan bibir So Eun.

“jangan bicara seperti itu lagi karena aku tidak suka” kata So Eun melepas ciuman nya. “shi a, wo zhi dao” (baiklah, aku tahu). Chup, ciuman itu dilanjutkan Kim Bum hingga sampai tahap ranjang. So Eun tidak mendapatkan tindihan dari Kim Bum karena Kim Bum menikmati tubuh So Eun dari samping. Memang sedikit menyabalkan bagi Kim Bum yang tidak leluasa menindih tubuh sexy itu, tapi apa daya, ini ulah nya tergoda angin setan bukan??

****
5 tahun telah berlalu dengan sangat bahagia dan kini Kim Bum telah menjadi seorang ayah dari satu orang anak perempuan bernama Kim Hye Ra. Seorang bocah perempuan yang sangat feminim dan selalu ingin melakukan sesuatu di dapur, entah main masak- masakkan atau bermain anak- anakkan, cantik dan feminim seperti So Eun.

Tok tok.. pintu rumah Kim Bum diketuk saat Kim Bum baru akan menyalakan televisi dan bersantai bersama keluarga kecilnya itu, bersama anak dan istri. Han Hyo Jo dan Kim Jong Suk tidak tinggal satu rumah dengan Kim Bum mereka ada di Jepang beberapa bulan ini karena liburan jadi tidak bisa membantu Kim Bum untuk membuka pintu itu.

Kim Bum beranjak dari sofanya dan membuka pintu dipagi cerah ini. “ Wa Wang Zi?” pekik Kim Bum tidak percaya yang meskipun sudah lima tahun berlalu wajah tampan Wang Zi belumlah pudar. Meskipun sedikit terkesan liar dengan anting hitam yang dikenakan Wang Zi namun ketampanan Wang Zi tidak lah berubah.
“hai,, apa kabar. Maaf baru sempat mampir” kata Wang Zi ramah. Dengan cepat Kim Bum mempersilakkan masuk dan didalam tentu saja So Eun kaget bukan main sedangkan Hye Ra masih asik bermain boneka nya.
Suasana jadi begitu kaku pagi ini, masing- masing dari mereka memilih diam mengingat masa lalu itu. Hingga Wang Zi membuka suara, “hmm,, maaf aku terlalu bodoh dulu. Lihat, apakah dia putri kalian?” tanya Wang Zi yang baru menyadari Hye Ra berbicara sendiri bermain boneka- bonekaan. So Eun mengangguk kecil bersamaan dengan Kim Bum.

“hei, sudahlah jangan canggung seperti itu. aku sudah lupa semuanya. Hai adik kecil yang imut” sapa Wang Zi mendekati Hye Ra. Hye Ra hanya mengerutkan kening tanda tidak kenal. “ aku paman Wang Zi teman ayah mu” kata Wang Zi mengerti raut wajah binggung Hye Ra.
“ooooh.. aku Kim Hye Ra si imut kecil. Dan ini boneka kesayanganku bernama Ollae Kim” kata Hye Ra percaya diri dan berdiri di atas sofa sambil tangan kanananya masih menjinjing boneka berambut kuning panjang itu.

Mereka semua pun tertawa benar- benar melupakan masa lalu itu. Wang Zi telah menemukan dambatan hatinya dengan seorang dokter wanita di daerah Beijing bernaman Gui Gui. Sebenarnya Wang Zi sudah pulang ke Taiwan 2 tahun lalu namun Wang Zi masih sibuk dengan hatinya bersama Gui Gui. Bulan depan adalah hari pernikahan Wang Zi dan Gui Gui sehingga So Eun dan Kim Bum serta si little imut ini harus wajib ikut juga.

Harusnya hari ini Hye Ra ikut liburan ke Jepang bersama kedua orang tua Kim Bum, namun sayang sekali Hye Ra demam jadi itu dibatalkan.
Wang Zi banyak bercerita mengenai kisahnya selama di tinggal So Eun. Awalnya memang menyakitkan dan sempat menimbulkan rasa benci didiri Wang Zi terhadap Kim Bum. Namun dengan waktu yang terus bergulir, Wang Zi bisa melupakkan So Eun dengan hadirnya wanita menyebalkan macam Gui Gui. Wang Zi juga bercerita bahwa dirinya tahu So Eun adalah angin dalam kehidupan Kim Bum dari buku harian Kim Bum yang tertinggal di Hua Lian.

“haha.. ni de dui le. So Eun shi wo de feng tian chang di jiu” (kau benar. So Eun adalah angin ku selamanya). Kata Kim Bum tertawa sambil merangkul pinggang So Eun dan mencium pipi So Eun sedangkan Hye Ra di gendong Wang Zi. “paman, kenapa pakai anting? Apakah paman waria?” tanya Hye Ra memegang dan menarik- nari telinga Wang Zi cukup kuat, sepertinya sengaja.

“yak.. aish.. enak saja waria, aku normal tahu. Jangan ditarik nanti telinga paman putus” oceh Wang Zi mulai ribut membuat So Eun dan Kim Bum cekikikan. “lain kali copot, aku tidak suka” kata Hye Ra masih menarik- narik telinga itu. “ya ya ya.. a arrsso” kata Wang Zi dengan bahasa Korea fasihnya yang telah ia pelajari. Muka Wang Zi sudah kusut di buli anak kecil, seorang wanita pula.

“anak kalian menyebalkan” kata Wang Zi mengumpat dan mengarah pada Kim Bum dan So Eun. “itu bagus bukan. Hehehe” kata Kim Bum cengengesan melihat Wang Zi diusili terus. Akhirnya Hye Ra digendong Kim Bum juga karena telinga sebelah Wang Zi sudahlah merah ditarik- tarik.

Semua nampak bercahaya pagi ini, sudah tidak ada lagi angin sesak dan menyakitkan yang menyapu diri dan hati mereka masing- masing.

Angin itu benar- benar memulai kisah yang pahit dan memutuskan yang manis pada takdir yang tidak pernah bisa berubah. Setidaknya angin itu berperan dalam hati…

THE END
Jelekkah ceritanya? Maaf yah kalau kecepetan atau aneh atau bahkan tidak dapet feel.. -_- .,, mohon maaf banget karena auhtornya buat disela-selah sibuk tugas. Hehe.. terima kasih kalian sudah koment…^^

Posted on Agustus 23, 2014, in One Shoot. Bookmark the permalink. 151 Komentar.

  1. Huhu keren banget!!!😢😢😢
    Akhirnya kimbum bisa mendapatkan soeun dan hatinya. Hehehe meskipun ada yang tersakiti. Namun, cinta tidak dapat dipaksakan. Hehehe keren👍👍👍

  2. Bagus banget win.. di tunggu karya selanjutnya

  3. waaaa keren bngt. akhir nya happy ending

  4. Huuaaa~ akhirnya happy ending jg😀

    Cinta kimbum dan soeun berawal dari perselingkuhan, entah itu perselingkuhan atau tidak karena tidak ada kata “kekasih” yg terucap dr mulut keduanya tetapi dr tindakan dan perasaan mereka berdua melakukan perselingkuhan. Untung saja orangtua wanzi mengerti jika kimbum dan soeun saling mencintai jd kimbum dan soeun bisa saling memiliki karena usaha orangtua wanzi yg menyatukan mereka🙂

  5. Wahhh keren bangett sampai terharu bacanyaaa😥
    apalagi pas bumsso bersatuuu ♥

  6. Amandha Alvhina Azzahra

    aiishhh … Lagi lagi Kim Bum di sini menjadi seorang anak yg bikin kedua ortu PUSIIINNNGG ,,,

    Haaa Cieehhh … Saling bersama ,nmun tdak ada sbuah Komitmen ,apakah itu hbgn atw skdr apalah , mngkin lebih jlasnya bsa d bilang HTS x yah antra Sso dan KB ,,
    Tapi krna dg kekuatan cnta mrka akhirnya bersatu mski awal jln yg slah

  7. Kerennnn.pokoke tiap baca ff nya unnie udh ndak bisa koment apa2 selain kerennnnnn. .

  8. Apa yg d ucapakan appa kimbum mnjadi knyataan , hati es yg da d hati kimbum akan mncair jika brtemu dg angin atw wanita yg bisa mncaitkan hatinya , dan itu terbukti krena adanya so eun, hebat

  9. Haha kereeenn banget ceritanya..awal2nya kesel sendiri bacanya tp pas udah bagian sso ngejar kimbum n dia batal nikah eeh jadi semangat lg buat baca😀

  10. Terharu bgt pas so eun tbtb ada di depan kuil :’)

  11. Wahh,, keren qo eon seru crta🙂
    y walaupun agk k’cepetan eon tpi ttep keren qo krya eon😉
    fighting eon dtunggu krya” slanjutnya😀

  12. So eun memang angin dan nafas bagi kim bum dan begitupun kim bum adalah angin dan nafas bagi so eun,begitulah soulmate.

  13. gusti ayu somawati

    , ff nya bagus ….. Romantis .
    Akhir’a sifat kimbum bsa berubah ,karena terkena angin yg bgitu hangat , mencairkan hati kimbum yg beku dan dingin .
    Kim so eun Hebat……….!!!!

    Ff’a bgus , alon alon tapi pas ceritane .
    Pokok e suka ma ff nya.

  14. gusti ayu somawati

    , ff nya bagus ….. Romantis .
    Akhir’a sifat kimbum bsa berubah ,karena terkena angin yg bgitu hangat , mencairkan hati kimbum yg beku dan dingin .
    Kim so eun Hebat……….!!!!

    Ff’a bgus , alon alon tapi pas ceritane .
    Pokok e suka ma ff nya. ….

  15. feelnya dapet bangetttt , keren thor🙂

  16. daebakk….🙂
    Kim Bum bisa berubah karena So Eun🙂
    meski berawal dari perselingkuhan meski tidak ada komitmen tapi ttp aja bisa dibilang selingkuh kali ya..??
    Tapi semua berakhir bahagia..😀

    keren eonnie, feelnya dpt🙂
    sukses terus eonnie!!🙂

  17. Ff’y bnar2….emb sprti mbak iis bilang udah APA LAH APA LAH ^_^
    Hehe pkok’y smangat bwt author win agr tdk bsan2 bkin ff🙂

  18. daebak chingu..
    Akhirnya mereka bersatu dan bersama dengan anak mereka jga..
    Semangat buat ff brunya ya chingu..

  19. keren…. Akhirnya wang zi mau mema’af kan kim bum dan mendapat pengganti sso. Hye ra kenapa paman wang zi ganteng di bilang waria sih ? Hehehe…

  20. hai kak author , aku mau nepatin janji aku buat komen diFF yang udah aku baca. Ini FF pertama yang aku baca karna ketidaksengajaan dan ternyata ceritanya menarik banget😀 dan karena ini , aku jadi ketagihan baca FF disini *padahal tadinya aku gaksuka baca ff karena beberapa ff yang pernah aku baca dulu ceritanya kekanak-kanakan*

    Terus berkarya kak author😉

  21. Akhirx bumppa dpt memiliki sso jga deh n bumsso bsa cepet menikah krena sso tlah mengandung ank bumppa n wang zi akhirx dpt merelakan bumsso bersatu…haha kacian wang zi dbully ma ank bumsso mlah dbilang waria lgi hehe keren bnget critax…..

  22. wahyuning pinarsih

    critanya bgus thor…..
    author win emang top dehhhhhh.

  23. Wow.. Daebak thor critanya,, keren deh pkokx.. Semangat ya thor..🙂

  24. keren dan happy ending

  25. aku tidak menyangka bahwa angun dapat meluluh kan tebing es

  26. hahaaa akuu juga suka couple wang zi am gui di brown sugar macchiatoo
    nicr😉

  27. Keren bgt thor suer. Hehe tetap berkarya Semangat

  28. G pernah bosan bacanya
    Keren….

  29. Wiwid cahyanti bumsso

    Akhirnya bumsso bersatu juga

  30. aaaahhhh awal yg rumitt akhirnya pun bhagia jga sosweet bumsso kyanya lucu tuhh anak bumsso kren bgusss😉

  31. wow daebak… wanita angin yang menyapu pria berhati es🙂 … awalnya aku kasihan sama wang zi, ya secara dia udah lama menjalin hubungan dan udah mau nikah.. dan ternyata wanitanya mencintai lelaki lain😦 … tpi emang gk ada yg salah, karena hati bisa kapan aja berubah dan gk bisa d.paksain🙂 … semuanya berakhir bahagia. haha😀 hye ra jahil banget sama wang zi.

  32. akhirnya happy ending
    dan bumsso bersatu

  33. seruuu
    kim bum awalnya so bgt pas ketemu so eun .tapi akhirnya luluh juga crtanya bagus koq cingu so sweet dah

  34. Happy ending🙂

  35. kasian sma wangzi…kn sayang bnget namja keren kyk gitu disia siain… tpi gpp lah yg pnting semua happy ending terutama bumsso

  36. Cinta yg salah untuk cinta untuk yg sejati

  37. Seneng happy ending
    Walau banyak sad nya gpp …….😊

  38. akhirnya bumsso bersatuu ..
    hppy ending .. yey

  39. Awal mula kedekatan kim bum dan so eun kurang diceritakan lebih jelas. Kenapa so eun bisa suka sama kim bum padahal dulunya benci.
    Overall suka sama ceritanya.. yg penting happy ending hehe

  40. ceritanya sangat keren…. q kra akan sad ending.. egak nyangka so jga mencintai kim bum… akhirnya yg indah

  41. daebakkk…
    akhirnya happy ending.. seneng liat bumsso bersatu..
    karya auditor win (acieh km) mesti keren2 deh,, ditunggu karya selanjutnya..
    semangat…

  42. syukurlah, akhirnya wang zi bisa merelakan so eun buat kim bum,,
    sebenarnya aku ksian sama wang zi. dia sangat mencintai so eun.
    bguslah skrng dia sdh bsa ngelupain so eun

  43. ceritanya bikin baper:(meskipun kasian ama wang zi tpi kan ttep ajj hati ga bisa bhong:( yg penting akhirnya semuanya bahagia dngn kehidupan yg sudah ditntukn oleh takdir:)

  44. Akhirnya lucu, tuh kelakuan anaknya bumsso bikin ngakak, terus berkarya thor semangat.

  45. Fatma Anatasha Moore

    Untung aja ortu wanzi mengerti bumsso saling mencintai dan bumsso pun kembali bersama🙂 HAPPY ENDING😀

  46. seruuu ceritanya:)

  47. d awl q smpt da rsa ksal jg dgn skp smbong’y n brlku tdk baik pda sso eonni…tu mnybalkn tp krn bummpa yg tba” z mrsa nymn n jtuh cnta pda sso eonni q sng yah mskpun da sdkt rsa ksian jg thdp wang zi…n dsaat hr prnkhan sso eonni mbwtku pdih,ssak n tgang dlm wkt tu…huftzz…sykurlh bumsso bsa brsm n mmlki hye ra…;)

  48. kasian wang zhi… sakit bnget rsanya d khiantin bgitu. huhu

  49. Akhirnya so eun bisa merubah sikap kimbum yang super dingin dan judes.
    Meskipun so eun udah jadi milik wang zhi tapi kalo rasa cintanya lebih besar ke kimbum mah gk papa lah ya hehehe
    Dan mereka akhirnya saling mengaku juga walau awalnya sempat saling menyakiti.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: