Your Birthday (0S)

_1

 

FANFICTION

Tittle:Your Birthday

Author: Shabrina (Anyeol)

Main Cast: Kim So Eun, Kim Sang Bum

Other Cast:Tiffany, Luna, Do Kyung Soo, Kim Jong Dae

Genre: Sad Romance, Hurt

Type:Oneshoot

Disclaimer:Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produsen dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kimbum dan Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.

Your Birthday

{Kau sudah bebas,
Penderitaanmu sudah berakhir,
Dan. . . selamat ulang tahun, sayang}

***

Hari ini tepat tanggal 7 Juli, hari dimana kekasihku berulang tahun.
Kimbum, nama kekasihku.

Aku belum bisa merayakannya sekarang, mungkin nanti sore.
Hm. . . dia tidak akan marah.
Ulang tahunnya kali ini akan sangat jauh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

Sebelumnya aku harus bekerja di toko kue “Soeulcakes Shop”
Toko kue yang tidak jauh dari rumahku.
Seperti biasa aku berjalan kaki untuk sampai kesana.

“Kau sudah sampai, Soeun-ssi?” sapa kerabatku, Tiffany.
Dia bekerja pada bagian kasir. Sedangkan aku bekerja pada bagian dapur.
Emm.. sebagai juru masak kue nya.

Aku tersenyum, “Belum terlambat ‘kan?”

Tiffany menggeleng ringan,
“Belum, aku sudah menyiapkan susu coklat hangat untukmu. Dan . . . selamat beraktivitas Soeun-ssi.”

“Terima kasih, selamat beraktivitas juga Fany-ssi.”

Aku berjalan menuju dapur, lalu memakai pakaian berwarna putih dengan celemek berwarna merah. Tak lupa juga memakai topi.
Sudah banyak yang mulai bekerja ternyata.

“Annyeong Kyungsoo-ssi, Jongdae-ssi, Luna-ssi.”
Aku menyapa mereka, mereka juga kerabatku.

“Annyeong Soeun-ssi.” Balas mereka bersamaan.

“Apa udara diluar sangat dingin, Soeun-ssi? Tidak biasanya kau datang paling akhir.” Tanya Kyungsoo, si ketua juru masak.

Aku meletakkan susu coklat yang baru saja aku minum itu diatas meja.
Menghela nafas, “Tidak juga, mungkin aku kurang bersemangat hari ini,”

“Luna-ssi, bisakah kau memberiku resep kue tart ‘Tiramisu Expresso Fla’ ?” lanjutku.

“Bisa, kebetulan aku sudah mencetak resep kue tart itu. Resepnya ada dikantong tasku bagian kiri. Kau boleh mengambilnya.” Ucap Luna, dia sedang sibuk mencampur semua bahan kue dengan mixer.

“Baiklah.”

“Apa yang akan kau kerjakan, Soeun-ssi?” tanya Jongdae.

“Aku ingin membuat kue untuk ulang tahun kekasihku.”

“Kekasihmu? Kimbum maksudmu?” tanya Jongdae lagi.
Aku mengangguk, Jongdae pasti mengerti apa yang kumaksud.

“Kau akan merayakannya sendirian atau bersama keluarganya?” tanya Kyungsoo sekarang.

“Sendirian mungkin.” Jawabku santai.

“Lalu kau akan merayakannya ‘disana’ ?”

Aku menghembuskan nafas dengan berat. Mereka mendengarnya dan menoleh kearahku.
Sudah kutebak, pasti hari ini mereka akan menghujaniku dengan berbagai macam pertanyaan.
Pertanyaan itu sebenarnya hanya membuatku merasa sedih.

“Sepertinya, sudahlah aku ingin membuat kue tart ini. Maaf jika aku tidak bisa membantu kalian hari ini. Tenang saja jika aku sudah selesai membuat kue tart ini, aku akan membantu kalian.”
Ucapku tersenyum. Mereka mengerti.

.
.
.

{Aku lebih memilih tersenyum walau paksa, daripada harus menangis}

Syukurlah~ kue tart sudah jadi. Terlihat indah dan lezat.
Manis. . . seperti Kimbum.
Seperti ini saja aku sudah meneteskan airmata.
Oh. . kau harus kuat Soeun!
Kubungkus kue tart itu dengan rapi. Berhias serba coklat.
Semakin manis. Benar manis, sungguh.

Ah Kimbum. . aku semakin teringat wajahmu yang tampan dan juga senyummu yang sangat manis.

Teeessss…

Tidak! Aku tidak boleh menangis. Keep strong Kim So Eun!
Harus selalu tersenyum.
Bukankah aku sudah berjanji pada Kimbum, agar selalu tersenyum walau sesulit apapun keadaan.
‘Jaga rapi-rapi airmatamu, Soeun’ itulah pesan Kimbum diwaktu lampau.

Oh Kimbum.. dosakah aku jika mengingkari janji yang kau berikan?
Sungguh, mengingatmu airmataku tidak bisa kujaga dengan rapi.
Maaf. . .

“Soeun-ssi, hari ini hujan. Kau akan tetap merayakan ulang tahunnya?” tanya Tiffany.
Ia menghampiriku yang sedang menatap sendu bungkusan kue tart itu.

Hujan?

Aku mengangguk sambil menoleh kearah jendela.
Benar.. hujan sedikit deras.

“Oh baiklah, Soeun aku ingin membeli beberapa bubble tea diluar. Kau disini saja, sambil menunggu redanya hujan.”

“Oke.. hati-hati Fany-ssi.” Tiffany tersenyum padaku.
Dia sangat cantik, memakai mantel ungu dengan membawa payung berwarna ungu juga.

Ini benar-benar hujan.
Tuhan, terima kasih Kau telah menurunkan hujan sekarang dan hujan diwaktu itu.
Kau sama-sama menurunkan kebahagiaan dua kali diwaktu itu juga.
Hujan diwaktu itu sangat menyenangkan dan membuatku menyukai hujan.

.
.
.

[Flashback]

“Sial! Mengapa harus hujan sekarang?!”

Sekarang tinggal aku seorang yang sedang menunggu datangnya bus dihalte.
Sudah beberapa menit yang lalu aku berdiri dengan menggigil seperti ini.
Sendiri . . tanpa teman.

“Kau jangan pernah membenci hujan.”
Sahut seseorang tiba-tiba. Aku menengoknya.
Dia . . . dia Kimbum!

“Kimbum-ssi, mengapa kau ada disini?” tanyaku.

“Karena aku menyukai hujan, jadi aku menghampirinya.” Jawabnya dengan santai.

“Bukankah hujan yang menghampiri manusia, bukan sebaliknya?” tanyaku tak mengerti dengan ucapan Kimbum.
Dia tersenyum kearahku. Oh . . sungguh manis.

“Itu bagiku, sebagian besar orang di dunia ini mengatakan hal yang sama sepertimu.”
Aku masih belum paham dengan jawaban Kimbum.

Kimbum memberikan telapak tangannya untukku.
Oke.. dengan senang hati aku menerima telapak tangannya.

Oh.. dia mengajakku bermain hujan ditengah jalan.
Disini sepi kendaraan. Jadi, aman-aman saja.

Seragam, tas, dan sepatuku basah.
Ini gila! Ah tidak ini sangat menyenangkan ternyata.

“Sekarang aku menyukai hujan, Kimbum-ssi!!” aku berteriak.

“Yeah!! Aku berhasil membuatmu menyukai hujan!”

“Terima kasih, Kimbum-ssi.”

Kimbum tersenyum senang sambil menggenggam tanganku erat, mengajakku berlari menelusuri hujan.
Sekali lagi, ini sangat menyenangkan.
Disaat itu juga, aku mulai menyukai Kimbum.

.
.
.

Dihari Selanjutnya

Masih sama, aku sendirian menunggu bus dihalte.
Namun, kali ini berbeda. Sambil menunggu bus datang, aku memilih untuk bermain hujan.
Sepatu dan tasku aku sengaja tinggalkan dibangku halte.
So.. let have fun with rain.

Mungkin aku seperti anak kecil yang haus pada hujan.
Hahaha.. aku tidak peduli itu.
Yang terpenting ini sangat menyenangkan.

“Yaa!! Soeun-ssi, apa yang kau lakukan?” teriak Kimbum dari halte.
Tidak biasanya dia memakai payung.

“Kemarilah Kimbum-ssi! Kita bermain hujan bersama lagi!” aku menarik tangannya agar ia mengikuti aktivitasku yang sangat menyenangkan.

“Soeun-ssi, sejak kapan kau bermain hujan disini?”

“Sekitar tiga puluh menit yang lalu.” Jawabku santai.

“Kau gila Soeun-ssi! Tubuhmu sudah menggigil. Berhentilah!”

Sejak kapan Kimbum peduli denganku. Apa dia juga menyukaiku?
Dan…
‘Greeepppp’
Kimbum memelukku tiba-tiba, payung yang dibawanya ia jatuhkan begitu saja.

“Dasar gadis nakal!” ucap Kimbum, dia semakin mengeratkan pelukannya.
Tetap saja, tubuhku tetap menggigil.

“Bagaimana kalau kau sakit nanti? Aku tidak bisa melihatmu bermain hujan disini,”
Aku tersenyum. Kimbum sangat perhatian denganku.

“Inilah impianku.” Lanjut Kimbum. Dia selalu membuatku tak mengerti dengan makna kalimat yang diucapnya.

“Impian? Kau ingin menjadi dewa hujan?” tebakku dengan asal.

“Tidak, yaa ini memang impianku dan sekarang bisa terwujud.”

“Apa maksudmu Kimbum-ssi? Aku tak mengerti.”
Aku melepaskan pelukan yang erat itu. Aku menatap matanya.
Mata yang damai dan indah.

“Impianku adalah aku ingin memeluk orang yang aku cintai ditengah hujan. Dan seperti kukatakan tadi, aku sudah bisa mewujudkannya.”

Aku mengerti sekarang. Dia .. dia mencintaiku?
Oh Tuhan, kau memberiku kebahagiaan lagi bersama turunnya hujan.
Aku tidak percaya.

“Aku mencintaimu, Soeun-ssi.” Dia memelukku kembali.
Aku tersenyum senang.

“Aku juga mencintaimu, Kimbum-ssi.” Sekarang aku membalas pelukannya itu.

Berpelukan bersama orang yang aku cintai ditengah hujan.
Oh~ ini seribu kali lipat lebih menyenangkan.
Dan.. saat itu juga kisah cintaku dengan Kimbum dimulai.

[Flashback End]

.
.
.

Hujan masih bergeming, sudah sedikit reda. Akan cepat basah jika keluar tanpa memakai payung.
Sudah pukul tiga sore. Toko hampir tutup, tinggal menunggu Tiffany datang membawa bubble tea hangat.

“Soeun-ssi, maaf membuatmu menunggu lama. Ini bubble tea hangat rasa coklat kesukaanmu.
Oh iya, dimana Kyungsoo, Jongdae, dan Luna?” tanya Tiffany sambil menata beberapa bubble tea yang baru saja ia beli.

“Tidak masalah, aku justru berterima kasih padamu Fanny-ssi. Em… Kyungsoo dan Jongdae sedang bersantai didapur. Dan Luna, dia baru saja pulang.” Jawabku sambil sesekali menyeruput bubble tea rasa coklat.

“Oh baiklah jika begitu, kau boleh pulang Soeun-ssi.”

Aku mengangguk, “Oh Fany-ssi, toko bunga seberang apakah masih buka?” tanyaku, Tiffany sedang sibuk menutup korden jendela.

“Masih, kebetulan Soeun-ssi disana sedang ada stok paket bunga lili putih yang masih segar. Aku sempat bertanya dengan pemiliknya tadi. Soeun-ssi, kau akan mengunjungi tempat Kimbum?”

“Iya, tapi aku akan membeli bunga terlebih dahulu. Oke, Fanny-ssi terima kasih.
Aku pulang dulu, Annyeong~” aku tersenyum dan membungkukkan badanku.

“Annyeong Soeun-ssi, hati-hati. Payungnya sudah aku sediakan diluar, apa kau juga akan memakai mantel?”

“Emmm.. Boleh juga.”

Sebelumnya aku mampir ketoko bunga seberang. Dan benar kata Tiffany, stok paket bunga lili disini sangat banyak dan masih segar, baunya masih khas.

“Paman, aku pesan satu paket bunga lili putih. Dibungkus rapi dengan diberi pita berwarna coklat.”

“Baiklah. Tunggu sebentar.”

Paman Kwang melayaniku dengan ramah, bagaimana tidak? Aku lah pelanggan setia ditoko bunga ini. Aku juga kenal dengan istri bahkan anak-anaknya. Mereka juga ramah seperti Paman Kwang.
Oh Paman Kwang sedang menghampiriku.

“Ini nak Soeun. Dan ini ada bunga mawar merah muda untukmu.”

“Untukku Paman? Oh harum sekali. Jadi, berapa?”

“Delapan ribu won saja, Soeun.”

“Oh ini. Baiklah, aku pamit dulu Paman. Terima kasih dan selamat beraktivitas kembali.”

“Sama-sama.”

Aku melangkah meninggalkan toko bunga itu. Hujan masih sama, belum berkurang sedikitpun.
Hey! Ini masih pukul setengah empat sore, tapi langit sangat mendung.
Gelap.. seperti pukul enam petang.

Hujan?
Keadaan sudah sangat berbeda sekarang. Sudah tidak ada lagi aku yang bermain hujan didepan halte bus bersama Kimbum. Sudah tidak ada lagi!
Hanya bisa menyorot balik memori itu.
Jujur, aku sangat merindukan memori itu. Aku menggigil namun masih tetap tersenyum cerah.
Jauh berbeda dengan sekarang. Jauh.. jauh sekali.
Mungkin hujan kali ini hanya bisa membuatku menjerit dalam hati. Batinku kelu memandang dan merasakan tetesan hujan.
Jika waktu bisa diputar kembali, aku sungguh menyesal. Aku pernah membenci hujan kala itu.
Kala itu aku tidak mengerti akan indahnya hujan.
Miris.. inilah keadaanku sekarang

Aku mulai berjalan menuju tempat Kimbum sekarang. Dengan menenteng bingkisan kue tart yang tadi pagi aku buat dan satu paket buka lili putih segar.
Surat ucapan ulang tahun!
Yaa.. aku sempat menulisnya.

Angin sudah sampai disini, sempat menusuk sampai ketulangku.
Dingin..
Aku baru sadar jika sedari tadi angin sudah merontokkan beberapa kelopak bunga mawar merah muda itu.
Aneh!
Bunga mawar ini masih sangat segar, mengapa mudah sekali rontok?
Aku tidak boleh mengikuti nasib bunga mawar itu.
Sekencang apapun angin atau badai aku harus tetap berdiri kokoh dengan kedua kakiku.
Sebesar apapun bahkan sesulit apapun keadaan aku harus tetap kuat dan jangan mudah lemah.
Iya! Aku akan selalu merapalkan kalimat itu.

Oh aku sudah sampai disini, ditempat Kimbum yang baru.
Tempat yang abadi untuk Kimbum. Tempat yang mungkin tidak menyenangkan, namun terdapat kehidupan baru disana.
Kita sudah beda alam. Aku masih dibumi dan dia sudah berada di nirwana.
Tempat dimana ia melepaskan semua beban berat yang dijalaninya.
Kimbum kau sudah bebas, kau pasti bahagia disana.

.
.
.

[Flashback]

“Soeun-ssi, aku ingin malam ini kita berjalan-jalan menggunakan sepeda. Tapi,..” pinta Kimbum, malam ini tidak dingin.

“Tapi apa?”

“Kau yang didepan, aku cukup membonceng saja. Bagaimana, Soeun-ssi?”

Mungkin ini firasat atau mungkin ini hanya keinginan konyolnya saja.
Ini sangat aneh. Dan hey! Ini bukan hari kebalikan.

“Kimbum-ssi, mengapa begitu?”

“Tidak ada apa-apa. Aku harap kau mau, Soeun-ssi.”

“Baiklah. Tidak masalah bagiku.”

Aku menangis disepanjang perjalanan. Aku takut, sangat takut.
Aku takut kehilangan Kimbum. Aku tahu mungkin ini permintaannya sebelum dia meninggalkanku untuk selamanya.
Namun, ah aku tidak boleh berpikiran seperti itu.

“Soeun-ssi, apa kau sedang menangis?” tanya Kimbum pelan. Tiba-tiba ia melingkarkan tangannya kepinggangku. Erat sekali, seakan-akan dia tidak mau melepasnya.
Ini hal yang sangat langka. Biasanya seorang wanita yang akan melakukan hal itu.
Tapi ini berbeda.

“Tidak.” Jawabku singkat. Mendengar ia bertanya seperti itu, menggunakan intonasi yang pelan. Aku malah semakin menangis, namun tidak bersuara.

“Soeun-ssi. Bisakah kita turun dibangku taman itu?”

“Iya, baiklah.”

Suhu malam ini mungkin menurun beberapa dejarat.
Mungkin? Atau ini hanya reaksi dari dalam tubuhku saja?
Aku merasakan seolah-olah aku akan kehilangan dia.
Kehilangan Kimbum, orang yang sangat aku cintai.
Kimbum mendekatiku dan meletakkan kepalanya dipahaku.
Aku membelai rambutnya dengan sangat lembut.

Kimbum menatapku,
“Soeun-ssi, kau sudah tau semua penderitaanku. Jika aku pergi apa kau bisa merelakanku?” tanyanya sambil menggenggam erat tanganku.
Tangannya sangat dingin, wajahnya sudah mulai memucat.
Oh Tuhan apakah benar hal ini akan terjadi sebentar lagi?

“Penyakitmu sama seperti penyakit sahabatku dulu. Leukimia, mengapa orang yang aku cintai sama-sama menderita penyakit itu! Mengapa? Tuhan sangat tidak adil, aku tidak bisa merelakanmu pergi Kimbum-ssi. Aku ingin kau selalu disampingku. Aku masih ingin bermain hujan bersamamu. Masih bisakah Kimbum-ssi?”

Airmata sudah berkali-kali menetes, suaraku sudah berbeda, hidungku memerah, badanku menggigil takut dan dingin. Semua menjadi satu
Waktu, aku mohon berhentilah!

“Aku tidak tahu itu Soeun-ssi. Mungkin perjalanan hidupku hanya sampai disini saja. Kau tidak boleh menyalahkan Tuhan. Tuhan itu baik, Tuhan bahkan menyayangimu. Aku bersyukur, karena aku telah dipertemukan dengan orang yang sangat aku cintai, kau Soeun-ssi. Walaupun aku belum sempat membahagiakanmu. Namun aku percaya, Tuhan akan memberikan kebahagiaan untukmu lebih banyak lagi. Percaya padaku.”

“Aku percaya kata-katamu.” Rasa takut itu semakin menyelimutiku.

“Berjanjilah padaku, Soeun-ssi.” Pinta Kimbum, dan suaranya benar-benar lemah.

“Apa itu? Aku akan selalu menepatinya.” Ucapku menahan tangis. Sulit sebenarnya menahan tangis, tapi aku akan berusaha. Aku tidak mau Kimbum menjadi bersedih atau merasa bersalah.

“Berjanjilah padaku, datanglah disaat hari ulang tahunku. Walaupun aku telah tiada didunia ini, tapi aku harap kau bisa datang untuk sekedar mengucapkan kata-kata ‘Selamat ulang tahun’ untukku. Dan selalu jaga rapi-rapi airmatamu. Itu saja, tidak masalah untukmu’kan Soeun-ssi?”

Tangisku benar-benar pecah. Aku belum siap untuk menerima semuanya. Nafasku semakin berat.
Telapak tangan Kimbum menjadi sangat dingin.
Oh Tuhan jangan lakukan ini sekarang, aku mohon.

“Baiklah aku akan berusaha menepati janjimu. Namun, jika kau pergi apa kau bisa membawaku ikut pergi denganmu?” tanyaku gemetar.

“Terima kasih Soeun-ssi. Maaf, aku tidak bisa membawamu pergi bersamaku. Perjalanan hidupmu masih sangat panjang dan masa depanmu akan cerah, Soeun-ssi.”

Kimbum tersenyum pasi, aku tahu dia hanya ingin melihatku tidak bersedih.
Namun percuma, aku akan tetap bersedih dan menangis.
Aku tidak mampu berkata lagi, aku merasa sesak dibagian dada.

“Kimbum-ssi, jika kau sudah lelah kau boleh tidur. Ini saatnya kau melepas semua penderitaanmu. Aku akan menemanimu disini.”

“Kim So Eun.. iya, aku sudah lelah, bolehkah aku tidur dipangkuanmu? Aku sangat mencintaimu Soeun-ssi, terimakasih untuk kebahagian yang telah kau berikan padaku. Maaf dan selamat tinggal Soeun-ssi.”

Belum sempat aku menyaut Kimbum, dia sudah benar-benar memejamkan matanya.
Detak jantungnya perlahan-lahan berhenti, nafasnya sudah tidak bisa dirasakan.
Tuhan, kau benar-benar telah mengambil Kimbum.
Aku berharap Kau menempatkan Kimbum ditempat yang penuh dengan kebahagiaan.

“Aku juga mencintaimu, Kimbum-ssi. Dan.. selamat jalan kekasihku.”
Aku mengecup sekilas keningnya.

Dia sudah tidur untuk selamanya, dia sudah pergi meninggalkanku.
Disaat itu juga, kehidupanku tanpa Kimbum dimulai.
Skenario Tuhan yang baru juga dimulai.

[Flashback End]

.
.
.

“ Selamat ulang tahun Kimbum, kekasihku. Aku berharap kau bisa mendengarnya.”

Aku berlutut disebelah nisan yang bertulis nama‘Kim Sang Bum’

Kuletakkan bunga lili putih itu diatas persinggahan Kimbum.
Masalah kue tart ini, akan aku memakannya bersama angannya nanti.
Aku menangisinya lagi. Bodoh, aku lupa dengan janjinya.

Surat?
Oh aku lupa dengan surat yang sempat kutulis tadi.
Aku meletakkan surat itu didalam bungkusan bunga lili. Entah dia akan membacanya atau tidak..

Tapi, setidaknya.
“Aku sudah menepati janjimu’kan, Kim Sang Bum?”

.
.
.
.
.

[The End]

Posted on Juli 5, 2014, in Uncategorized. Bookmark the permalink. 61 Komentar.

  1. uuaaa sad ending😦
    dr awal baca udah punya firasat buruk, trnyata benar kimbum udah meninggal….. hiks hiks sedih bgt ;(
    tapi salut deh sama soeun dia masih tetap setia sama kimbum meskipun mereka udah berbeda alam…

  2. aigooo… romantisme dibawah hujan itu hanya tinggal kenangan
    π_π

  3. mengharukaaaan , eunnie kasihan ditinggal ma bummie..

    lanjutkan thor … gomawo

  4. Amandha Alvhina Azzahra

    Benar-benar cerita yang penuh Dramatis mengharukan ….
    Cerita tinggal sebuah kenangan saat takdir tak berkenan …
    Ksian sso org yg d cntai’y prgi meninggalkannya

    Sediiiihhhhhhhh Thor ,nva Bum hrz prgi Hik’s

  5. hwaaaaa sedih

  6. sedih😥 kasian sso yg ditinggal bum

  7. sed ending dan itu sangat menyakitkan

  8. 😭 psti nangis klo baca ff bertema kn bgni hiks hiks hiks

  9. hixhixhix…. sdih….q ksian ma mrk…yah byrpun d khdpn krang mrk ga bsa brsm krn prbdaan alm…mga d khdpn lain mrk d prstukan….

  10. Kenapa harus sad ending thor 😭😭

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: