The Red Umbrella ( OS)

theredumbrella

 

Tittle          : The Red Umbrella

Author        : Fithri Chan

Main Cast   : Kim Bum, Kim So Eun

Other Cast  : Kim Hyun Joong, Jung So Min, etc

Genre                    : Drama, romance, sad, etc

Type           : One Shoot

Backsound  : I Will Protect of You by Kim Jae Joong

 

NB : Jika ada tulisan yang bercetak tebal, itu adalah perkataan So Eun yang ia tuliskan pada note kecil yang selalu ia bawa.

 

Disclaimer : Semua cerita, karakter, setting, alur, dan lain-lain adalah milik dari author. Untuk tokoh utama dan artis pendukung lainnya, itu semua bukan milik author. Melainkan mereka milik orang tua, keluarga, dan masing-masing agensi para artis tersebut. Author hanya menggunakan nama mereka untuk keperluan cerita.

 

 

~~~The Red Umbrella~~~

 

Siang itu Kim Bum tengah sibuk dengan kerjaan dikantornya. Terlihat raut wajahnya yang mulai lelah dengan aktivitasnya itu. Mulutnya pun sering menguap yang menandakan ia memang begitu lelah dan butuh istirahat.

“Huaahhh..! Sungguh melelahkan terus seperti ini!”ujar Kim Bum sambil menguap. Tiba-tiba ada seseorang mengetuk pintu ruang kerjanya.

 

Ttokk..ttokk..ttokk

 

“Nuguya?”teriak Kim Bum.

“Presdir Kim, ada Komisaris Kim ingin bertemu dengan anda sekarang.”tukas sekretaris Cha dari sebrang pintu.

Kim Bum yang mendengar kata “Komisaris Kim” langsung terkejut. Ia dengan sigap membereskan beberapa dokumen yang berantakan diatas meja kerjanya.

“Ehm, bilang padanya untuk menunggu lima menit lagi!”perintah Kim Bum pada sekretaris Cha. Namun entah karena sudah tidak sabar, Komisaris Kim langsung masuk saja ke ruangan Kim Bum tanpa ada perintah dari siapapun.

“Sepertinya kau memang belum siap, Bum-ah!!”ujar seorang pria baya yang tidak lain adalah Ayahnya sendiri dengan tatapan yang sangat tajam.

“Pak Komisaris..”ucap Kim Bum tersenyum kecil.

“Sudahlah jangan banyak berkomentar. Mana, mana laporan keuangan proyek di Gangnam bulan lalu, apa kau sudah menyelesaikannya?!!”ujar Ayah meminta.

“Ehm, itu aa..aku aku belum menyelesaikannya Ayah.”ucap Kim Bum sedikit terbata-bata.

“Sudah Ayah duga. Hmm, baiklah. Tentunya kau masih ingat kan dengan janjimu sendiri?”ujar Komisaris Kim dengan tatapan yang mengancam. Kim Bum hanya terdiam lesu mendengarkan ucapan Ayahnya.

“Kau berjanji, jika kau tidak bisa membuat laporan keuangan proyek di Gangnam sesuai dengan waktu yang Ayah tentukan, kau akan segera memberikan cucu untuk ayah. Benar bukan,?!!”tukas Komisaris Kim.

“Ya, tentu saja aku ingat. Tapi, masalahnya Ayah meminta seorang cucu padaku. Bukankah itu aneh? Sedangkan aku saja saat ini belum menikah.”ucap Kim Bum memasang tampang polosnya.

 

Pppaakkkk..

“Aisshh, appoya!”rintih Kim Bum saat Ayahnya memukul kepalanya dengan sebuah buku kecil.

“Kau ini pura-pura bodoh atau kau memang bodoh sungguhan, hah?! Kau jangan pura-pura tidak mengerti dengan maksud Ayahmu ini. Ayah menginginkan agar kau segera menikah, tahun ini!! Tepatnya saat kau ulang tahun, Ayah ingin melihat calon istrimu datang dalam pesta ulang tahunmu, mengerti?!”tutur Komisaris Kim seraya berlalu pergi dengan wajah yang puas.

“Lihat!! Aku jamin dia akan segera membawakan calon menantu perempuan padaku nanti.”ucap batin Komisaris Kim dengan wajah yang berbinar. Sementara Kim Bum hanya bisa menatap kesal Ayahnya dari jauh.

“Lihat itu! Tamatlah riwayatku sekarang!”ujar Kim Bum dengan wajah yang lesu.

 

Kim Bum POV

Benar saja dugaanku. Ayah akan menagih laporan itu tepat waktu. Ya, itu adalah caranya mendesakku untuk segera menikah. Ayah tahu dengan pasti kalau putranya sangat sulit dibujuk untuk segera menikah. Namun sampai saat ini, belum ada seorang wanita yang bisa menaklukan hatiku. Walaupun diluar sana banyak wanita- wanita cantik yang ingin sekali menjadi kekasihku. Tapi, aku yakin semua wanita itu ingin denganku semata-mata karena melihat harta yang ku punya saja. Entahlah, sepertinya memang sulit mencari seseorang yang bisa menerima aku apa adanya. Aku ingin ada seorang yang bisa mencintaiku dengan tulus tanpa melihat siapa aku. Ya Tuhan, kirimkanlah seorang yang bisa menerimaku dengan tulus.

End Kim Bum POV

 

*theredumbrella

 

Sore pun tiba, Kim Bum tengah bersiap untuk pulang ke rumah. Tiba dilobi kantor, ia beritahu oleh salah seorang anak buahnya kalau mobilnya dibawa pergi oleh suruhan Ayahnya.

 

“Presdir Kim, ini gawat!”ujar anak buahnya tersebut.

“Ada apa?”tanya Kim Bum.

“Mobil Presdir dibawa pergi oleh suruhan Pak Komisaris. Ini ada titipan untukmu darinya.”ucap pria tersebut yang bernama Kang Il Suk sambil memberikan secarik kertas kecil. Kim Bum terkejut bukan main mendengar hal tersebut.

“Mmoya?!! Aisshh..”tukas Kim Bum seraya mulai membaca pesan yang ditujukan padanya.

 

To : Kim Bum-ah

“Halo putraku sayang, untuk sementara waktu mobilmu Ayah sita. Hingga kau dapat mendapatkan apa yang Ayah inginkan saat ulang tahunmu dua pekan depan. Ayah harap kau bisa menerima semua ini dengan baik. Untuk menggantikan mobilmu yang Ayah sita, Ayah telah mempersiapkan skooter motor untuk kau gunakan hingga tiba hari ulang tahunmu. Hwaiting!!!🙂 ”

Salam sayang,

– Abeoji

 

Kim Bum terlihat sangat pusing dengan kelakuan Ayahnya itu. Ia melampiaskan kekesalannya itu dengan berteriak sekeras mungkin.

“A..beo..ji..”teriak Kim Bum keras.

“Aku tidak akan biarkan kau melakukan hal ini padaku..!!”lanjutnya dengan mata yang memerah kesal.

Kim Bum segera melihat nomor kontak Ayahnya lewat ponselnya. Ia langsung menelepon Ayahnya.

 

Ttuutt.. Ttuutt..

“Ya, ada apa?!”ucap Ayahnya disebrang telpon.

“Ada apa? Ayah masih menanyakan hal itu?! Ayah, aku mohon padamu jangan bersikap seperti ini padaku. Iya, aku mengerti dengan apa yang Ayah inginkan. Tapi, bisakah Ayah mengembalikan mobilku sekarang juga..?”ujar Kim Bum memohon.

“Apa kau tidak bisa membaca pesan yang telah Ayah tulis dan aku berikan pada Kang Il Suk, heoh?”ujar Ayah dengan nada yang sedikit meninggi. “Ayah rasa kau sudah mengerti. Sudahlah tidak ada gunanya kau memohon seperti itu. Sampai jumpa dirumah.”lanjut Ayahnya dan langsung menghentikan percakapan.

Ttuutt.. sambungan telepon terputus.

“Ayah, tapi aku..”ujar Kim Bum pelan.

“Arrrghhhh..”teriak Kim Bum sambil mengacak-acak rambutnya.

“Presdir, lalu bagaimana dengan motor skooter itu? Apa kau akan menggunakannya?”ucap Kang Il Suk.

“Buatmu saja, aku tidak mau!!.”ujar Kim Bum seraya pergi berlalu keluar tanpa menggunakan motor skooter yang telah dibelikan Ayahnya. Sementara itu, Kang Il Suk tersenyum bahagia mendengar hal itu.

“Benarkah Presdir, motor itu untukku?.. Kyaa terima kasih banyak!”ujar Kang Il Suk tersenyum bahagia.

 

*theredumbrella

 

Kim Bum tengah duduk di halte menunggu bus datang. Ya, Kim Bum memilih menaiki bus untuk pulang ke rumah dibandingkan harus mengendarai skooter motor yang telah dibelikan oleh Ayahnya. Sudah hampir setengah jam berlalu, namun bus juga belum datang. Kim Bum sudah mulai terlihat bosan.

“Aisshh, lama sekali busnya datang!”ujar Kim Bum kesal.

Tak lama kemudian, terdengar suara hujan yang tiba-tiba turun begitu lebat. Kim Bum mensyukuri hal itu. Namun seketika ia mengingat dengan sebuah kutipan yang pernah ia baca. “Jika hujan turun, saat itulah yang terbaik untuk kau memohon sesuatu.” Kim Bum langsung dengan segera memohon doa.

“Tuhan, Jika memang kau telah mempersiapkan seseorang untukku, aku mohon padaMu, kirimkan seseorang yang baik untukku sekarang. Seseorang yang mau menjadi istriku dengan baik. Aku bersumpah, jika nanti ada seorang wanita yang lewat dihadapanku menggunakan payung merah. Dialah yang akan menjadi istriku. Dan aku bersumpah, akan selalu menjaganya sampai akhir hayatku. Apapun keadaannya.”ujar Kim Bum dengan tangan yang sedang berdoa dan mata yang terpejam.

Setelah Kim Bum mengucapkan hal tersebut, terdengarlah gemuruh petir yang begitu dahsyat. Daun-daun dipepohonan pun melambai ria. Seakan-akan mereka mengetahui apa yang diinginkan Kim Bum. Kim Bum kembali membuka matanya, ia berharap akan ada seorang gadis yang lewat dihadapannya.

 

*theredumbrella

 

Tiga puluh menit berlalu. Satu jam berlalu. Hingga hampir dua jam berlalu, tak ada seorang gadis pun yang lewat menggunakan payung merah seperti apa yang ia mohonkan tadi. Kim Bum sudah hampir kehilangan kesabaran. Ia putus asa. Wajahnya pun terlihat sangat kusut. Hujan pun berhenti. Tak lama kemudian, Kim Bum melihat seorang wanita berparas cantik lewat dihadapannya. Kim Bum terkesima dengan wanita itu. Rambutnya yang terurai panjang dan berwarna hitam berkilau menambahnya terlihat sangat menawan. Wanita itu berjalan pelan sambil membawa beberapa kantong dikedua tangannya. Kim Bum terus memandangi wajah wanita itu dengan seksama.

 

Hujan pun turun kembali. Wanita itu terlihat panik saat air hujan mulai menetes ke wajahnya. Dengan sigap wanita itu mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Kim Bum terus memandangi wanita tersebut. Dan ternyata wanita itu mengeluarkan sebuah payung. Tapi sayang payung yang ia keluarkan berwarna hitam. Entah kenapa Kim Bum langsung lemas saat melihat wanita itu mengeluarkan payung yang berwarna hitam bukannya merah.

“Sudahlah, sepertinya memang bukan dia.”ucap batin Kim Bum berputus asa.

Wanita itu dengan sigap membuka payungnya. Dan hasilnya.. Kim Bum terkejut saat melihat kalau payung yang dipakai wanita tersebut berwarna merah. Hitam adalah warna dari sarung payung tersebut. Kim Bum tersenyum lebar. Ia tidak percaya dengan apa yang telah ia lihat sekarang.

“Ya Tuhan, apakah wanita itu yang kau kirimkan untukku?”ucap batin Kim Bum.

Sementara itu Kim So Eun, wanita yang sejak tadi diperhatikan oleh Kim Bum berlalu pergi menjauh. Kim Bum pun berinisiatif untuk mengikuti So Eun dari belakang.

 

*theredumbrella

 

So Eun terus berjalan menuju sebuah toko yang ada disebrang jalan. Hujan pun mulai berhenti perlahan. So Eun masuk ke dalam toko yang menjual aksesoris dan pernak-pernik hiasan. Sementara itu, Kim Bum sedang bersembunyi dekat pohon sambil mengamati So Eun dari kejauhan.

“Apa gadis itu bekerja disana?”ujar Kim Bum pelan.

“So Eun-ssi, kau sudah tiba?”tanya pemilik toko tersebut. So Eun hanya tersenyum dan mengangguk pelan.

“Ada berapa yang kau bawa hari ini?”tanya lagi pemilik toko tersebut. So Eun langsung memberikan satu kantong plastik kecil yang sedari tadi ia bawa.

“Ouh, jadi hanya ini saja?”tanya lagi pemilik toko tersebut. So Eun mengangguk pelan.

“Baiklah.. Oh iya, ini adalah hasil penjualanmu kemarin. Ambilah.”ucap pemilik toko tersebut sambil menyerahkan beberapa lembar pecahan uang lima puluh ribu dan dua puluh ribu won. So Eun tersenyum sambil menggambil uang tersebut. Tersirat rasa berterima kasihnya pada penjaga toko tersebut.

“Oh ya, besok sepertinya kau tidak perlu datang.”ujar pemilik toko tersebut. Raut wajah So Eun pun berubah menjadi sedih. dengan segera penjaga toko tersebut menjelaskan apa maksud dari ucapannya tadi.

“Kau jangan sedih, aku bukan ingin menyuruhmu untuk berhenti menaruh barang dagangmu disini. Tapi, besok aku dan keluarga akan pergi ke Jepang selama satu minggu. Jadi, toko kami akan ditutup sementara. Kau mengerti kan?”tutur pemilik toko tersebut jelas. So Eun mengangguk pelan dan tersenyum.

“Kau tak usah khawatir, sepulangnya kami dari Jepang kau boleh langsung datang kemari.”ujar pemilik toko itu sambil tersenyum. So Eun mengangguk pelan dan tersenyum. So Eun pun menyerahkan selembar kertas putih yang berisi ucapan terima kasih.

“Terima kasih banyak Ahjussi, semoga kau dan keluargamu selalu dalam lindungan Tuhan. Dan kau serta keluarga dapat menjalani hari di Jepang dengan bahagia.🙂 Sekali lagi, terima kasih banyak Ahjussi.”tulis So Eun pada kertas yang diberikannya pada tuan Han. Sang pemilik toko yang bernama tuan Han itu hanya tersenyum saat membaca note yang diberikan oleh So Eun.

“Ne, semoga kau juga selalu bahagia.”ucap tuan Han tersenyum. So Eun pun mengangguk pelan sambil tersenyum menandakan ia ingin pamit.

“Ne, hati-hati dijalan yah..”ujar tuan Han. So Eun pun berlalu pergi.

 

*theredumbrella

 

Terlihat Kim Bum masih mengamati So Eun dari kejauhan. Kim Bum pun terus mengikuti So Eun. Hingga akhirnya mereka sampai disebuah tempat. Sebuah tempat yang tidak pernah didatangi oleh Kim Bum. Panti Asuhan.

“Untuk apa dia datang kemari? Atau dia memang tinggal disini?”ucap Kim Bum pelan. So Eun merasa ada seseorang yang tengah mengikuti dirinya. Ia pun langsung menengok dan mengidarkan pandangannya ke beberapa arah. Dengan cepat Kim Bum berhasil bersembunyi dibalik semak-semak.

“Dia tidak melihatku kan?”ucap batin Kim Bum khawatir jika So Eun melihat keberadaannya.

So Eun tidak menemukan apa-apa. Ia pun segera masuk ke dalam panti dan bertemu dengan beberapa anak-anak panti. Sementara itu Kim Bum mencoba mengikuti So Eun dan bersembunyi dibalik tembok dekat jendela panti.

Tiba didalam panti, So Eun sudah disambut gembira oleh beberapa anak panti. Terlihat raut wajah So Eun yang begitu bahagia saat berjumpa dengan anak-anak tersebut.

“Kakak So Eun..”sapa anak-anak panti serentak seraya menghampiri So Eun dan ada beberapa yang memeluk So Eun. So Eun hanya tersenyum lebar.

“Wahh, sepertinya kakak membawa sesuatu untuk kami. Apa itu kak?”ujar salah seorang anak panti. So Eun mengangguk pelan. So Eun pun menyuruh untuk duduk anak-anak tersebut dengan cara membentangkan tangannya. Anak-anak panti sudah mengerti apa yang dimaksud So Eun. Dengan cepat anak-anak panti tersebut duduk dengan rapih.

Sementara itu, Kim Bum tengah sibuk mengamati So Eun dari luar jendela. Ada satu hal yang terbesit dipikirannya. “Kenapa sejak tadi gadis itu hanya diam yah? Dia tidak berbicara sama sekali.”ucap batin Kim Bum.

Kim Bum terus mengamati So Eun dan anak-anak panti dari luar. Tak lama kemudian, terlihat So Eun mulai berpamitan kepada anak-anak panti tersebut setelah memberikan beberapa snack ringan dan minuman. So Eun juga berpamitan pada seorang perempuan muda.

“Ya, baiklah kau hati-hati dijalan yah. Terima kasih atas semuanya.”ucap perempuan muda itu yang bernama Jung So Min. So Eun mengangguk pelan dan tersenyum seraya berlalu dari hadapan So Min.

“Dadah.. kak So Eun, sampai jumpa lagi..”teriak anak-anak panti kepada So Eun yang saat itu sudah berada diluar pintu. So Eun pu tersenyum dan melambaikan tangannya. Kim Bum yang saat itu mengetahui So Eun telah pergi, memutuskan masuk ke dalam panti dan menemui perempuan yang tadi sempat berbicara dengan So Eun.

 

“Permisi..”ujar Kim Bum sambil mengetuk pintu pelan. So Min mendengar ada seseorang yang datang, ia segera pergi keluar.

“Iya, ada yang bisa saya bantu?”ujar So Min melihat ada seorang pria dengan penampilan yang begitu rapih berdiri dihadapannya.

“Apa anda adalah pengurus dari panti asuhan ini?”tanya Kim Bum menyelidiki.

“Iya, kau benar. Apa kau mencari seseorang disini?”tanya lagi So Min.

Kim Bum pun menjelaskan kalau kedatangannya karena ada sesuatu yang ingin ia ketahui mengenai wanita yang tadi baru saja pergi dari panti. So Min pun mengajak Kim Bum masuk ke dalam. Mereka pun memulai pembicaraan diruang tengah panti.

“Silahkan duduk!”ujar So Min.

“Terima kasih.”ucap Kim Bum tersenyum.

“Baiklah.. Tadi kau bilang padaku jika kedatanganmu kesini ingin menanyakan perihal Kim So Eun, benar bukan?”tanya So Min.

“Jadi, nama wanita itu Kim So Eun?”tanya Kim Bum.

“Ne, wanita yang kau maksud itu namanya Kim So Eun.”jawab So Min tersenyum. “Tunggu dulu, sepertinya kita belum mengenal satu sama lain. Jung So Min imnida. Kau bisa memanggil dengan panggilan So Min.”ujar So Min melanjutkan.

“Ah ne, aku hampir lupa memperkenalkan diri. Kim Bum imnida.”ujar Kim Bum memperkenalkan.

“Baiklah Kim Bum-ssi, hal apa yang ingin kau tanyakan padaku mengenai So Eun?”tanya So Min. Tampak wajah bingung Kim Bum. Ia bingung harus mulai darimana.

“Ceritakanlah padaku apapun yang kau ketahui tentangnya.”ucap Kim Bum. So Min tersenyum mendengar ucapan Kim Bum.

“Permintaan yang bagus. Baiklah, aku akan memberitahukan semua hal tentangnya jika kau bersedia memberitahuiku apa alasanmu ingin mengetahui banyak hal tentangnya.”ujar So Min yang disambut senyuman oleh Kim Bum. “Beritahu aku apa alasanmu.”ucap So Min melanjutkan. Kim Bum lagi-lagi tersenyum. Ia sendiri pun bingung harus mengatakan alasan apa yang membuatnya ingin mengetahui banyak hal tentang So Eun.

“Jujur saja, aku tidak mempunyai maksud tertentu karena itu akan menjadi hal yang terlalu dini. Kau mengerti kan maksudku, Jung So Min-ssi?”ujar Kim Bum.

“Ehm, baiklah aku rasa kau memang mempunyai niat yang baik terhadap So Eun. Kim So Eun adalah sahabatku sejak kami duduk dibangku sekolah dasar. Sejak disekolah dasar hingga kami masuk universitas, dia adalah satu-satunya sahabat yang paling baik yang aku punya. Kebaikannya itulah yang membuat semua orang senang terhadapnya. Tapi entah kenapa, masih saja ada orang yang menganggapnya aneh dan sangat berbeda dengan yang lainnya.”papar So Min.

“Maksudmu, orang lain menganggapnya aneh karena hal apa? dan ia berbeda dengan yang lainnya itu apa maksudnya?”tanya Kim Bum bingung. So Min pun kembali melanjutkan.

“Diusianya yang sudah menginjak 25 tahun, ia sudah diminta menikah oleh orang tuanya. Karena ayah dan ibunya sudah tua, jadi mereka berharap sebelum mereka pergi, mereka ingin melihat So Eun sudah memiliki seorang yang bisa menjaganya.”tutur So Min mencoba mengalihkan pertanyaan Kim Bum.

“Maksudmu, So Eun harus segera menikah dan mempunyai suami yang bisa menjaganya?”tanya Kim Bum. So Min mengangguk pelan.

“Kau tau, sudah enam bulan terakhir ini ada dua orang laki-laki yang mencoba mencari informasi tentangnya. Dan mereka bilang ingin serius dengan So Eun. Tapi, mereka semua tiba-tiba saja menghilang seperti ditelan bumi. Padahal awalnya mereka sangat bersemangat untuk mengetahui informasi tentang So Eun. Mereka menghilang dan tidak kembali saat mengetahui satu kekurangan So Eun.”tutur So Min jelas.

“Jadi maksudmu, saat mereka mengetahui satu kekurangan So Eun mereka tidak jadi mendekati So Eun, begitu?”tanya Kim Bum memperjelas. So Min menghela napas panjang.

“Ne, itulah mengapa aku tanyakan padamu alasan kenapa kau ingin mendekati So Eun.”ucap So Min.

“Tunggu, aku belum bilang kalau aku ingin mendekatinya. Aku bilang kalau aku ingin mengetahuinya terlebih dahulu. Bukankah itu berbeda? Jadi, sepertinya kau salah paham.”tukas Kim Bum dengan wajah yang ragu.

“Aku mengerti apa maksudmu, Kim Bum-ssi.”ujar So Min.

“Memangnya apa kekurangan So Eun hingga membuat dua laki-laki itu membatalkan niat baiknya?”tanya Kim Bum yang langsung disambut dengan raut sedih So Min.

“Aku sudah berusaha untuk menjodohkan So Eun dengan beberapa temanku dan beberapa teman suamiku, tapi mereka semua tidak ada yang mau. So Eun bisu sejak lahir. Itulah yang membuat mereka menolak So Eun.”ujar So Min dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

 

Degg

Jantung Kim Bum hampir saja berhenti berdetak. Entahlah sepertinya dia belum siap untuk menerima kenyataan. Sekarang Kim Bum tengah dalam perjalanan pulang didalam bus. Kim Bum kembali mengingat percakapannya dengan So Min.

 

Flashback

“Bisu? Jadi So Eun-ssi bisu?”tanya Kim Bum dengan wajah yang begitu terkejut.

“Iya, itulah kekurangannya. Selebihnya menurutku dia adalah orang yang paling sempurna. Dia sudah ku anggap sebagai saudara. Aku sangat menyayanginya. Dan aku tidak akan pernah membiarkannya lagi disakiti oleh orang yang tidak bertanggung jawab.”ujar So Min jelas. “Lalu, apa yang ingin kau ketahui lagi darinya? atau kau sama seperti dua laki-laki itu? Menyerah?”ucap So Min melanjutkan.

“Tidak. Apa aku terlihat seperti ingin menyerah?. Bukankah ini baru awal? Ini kartu namaku. Jika kau ada informasi lebih apapun itu tentangnya, segera beritahu aku. Aku akan memikirkannya kembali.”ujar Kim Bum seraya memberikan So Min kartu namanya. “Kalau begitu, aku pamit pulang. Terima kasih.”ucap Kim Bum melanjutkan seraya membungkuk dan meninggalkan panti.

Sementara itu So Min masih terpaku ditempatnya, dan menatap jauh Kim Bum yang semakin menjauh darinya. So Min pun melihat kartu nama Kim Bum. Entah kenapa kali ini ia benar-benar percaya dengan ucapan Kim Bum.

“Entahlah, laki-laki itu terlihat berbeda. Sepertinya dia akan menepati apa yang telah ia ucap. So Eun-ah, apa dia yang telah dikirimkan Tuhan untukmu???”ucap batin So Min.

 

*theredumbrella

 

Jam sudah menunjukkan pukul 7.30 malam. Kim Bum telah sampai dirumahnya dengan selamat menggunakan bus.

“Aku pulang..”ujar Kim Bum yang lansung disambut sang Ayah dengan senyuman yang sangat lebar.

“Ayah, kau pasti sangat puas kan?”ucap Kim Bum sambil menatap tajam Ayahnya yang sedang duduk tersenyum sambil menonton tv.

“Kenapa? Bukankah Ayah sudah menggantikannya dengan sebuah motor? Kau masih saja terlihat tak terima. Atau kau sudah memberikan motor itu ke orang lain? Ayah sudah mengetahui hal itu!”ujar sang Ayah santai.

“Ya, Ayah benar sekali. Aku sudah memberikannya pada Kang Il Suk. Apa Ayah puas?!”tukas Kim Bum sedikit kesal. Ayahnya pun bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Kim Bum. Ditepuklah dengan pelan bahu Kim Bum oleh sang Ayah.

“Kau harus belajar agar menghargai pemberian dari orang lain nak. Ayah tidak ingin kau melakukan hal yang mungkin akan menyakitkan hati orang lain. Apa yang kau lakukan pada Ayah itu tak apa, karena kau putra Ayah dan Ayah pasti akan selalu memaafkanmu. Tapi jika itu orang lain? Kau harus lebih bisa untuk menghargai. Kau mengerti?!”papar Ayah menasehati. Kim Bum hanya terdiam mendengar nasehat dari Ayahnya.

“Sudahlah, apa kau sudah makan malam? Cepat pergi mandi, kita akan makan malam bersama-sama.”ucap sang Ayah seraya kembali menepuk pelan bahu Kim Bum. Tanpa ada perkataan apapun, Kim Bum segera pergi ke kamarnya dan segera mandi. Ayahnya pun kembali menonton tv.

Setelah makan malam selesai, Kim Bum menemui Ayahnya yang sedang duduk sambil menikmati secangkir teh diteras rumah.

“Ayah, ada yang ingin aku bicarakan.”ucap Kim Bum.

“Duduklah. Lalu, katakan apa yang ingin kau bicarakan.”ujar sang Ayah. Kim Bum pun duduk disamping Ayahnya. Ia mulai pembicaraan.

“Seperti apa calon menantu yang Ayah harapkan?. Aku ingin Ayah jawab jujur padaku.”ujar Kim Bum pelan. Sang Ayah yang saat itu hendak meminum teh, mengurungkan niatnya dan kembali meletakkan cangkir teh tersebut keatas meja dan menatap sendu kearah Kim Bum.

“Apa maksudmu?”tanya Ayahnya yang belum mengerti dengan pertanyaan Kim Bum.

“Maksudku, apa dia harus terlihat sangat sempurna? atau mungkin ia memiliki kekurangan yang mungkin tidak akan pernah orang lain ingin memiliki kekurangan itu. Bagaimana Ayah?”tutur Kim Bum jelas.

“Ayah tidak akan pernah memaksakanmu untuk mendapatkan wanita yang sempurna. Bukankah kita tidak pernah tau siapa yang akan menjadi pasangan kita kelak? Dulu Ayah dan ibumu juga tidak pernah mengetahui kalau kami akan bertemu. Itu semua sudah ada yang mengatur. Kapan, dimana, dan dengan siapa kau bertemu itu semua sudah diatur oleh Tuhan. Jadi, Ayah tidak akan pernah mencampuri urusanmu perihal calon menantu Ayah nanti. Yang terpenting siapapun wanita itu, darimana pun latar belakang wanita itu, apapun kelebihan dan kekurangannya dia bisa membuatmu bahagia dan tentunya dengan cepat dapat memberi Ayah seorang cucu. Kau mengerti?”papar Ayahnya jelas.

“Apapun resikonya? Bukankah Ayah adalah seorang pengusaha terkenal? Lalu, apa kata orang-orang nanti jika seandainya Ayah mempunyai menantu yang tidak sempurna? Maksudku memiliki sedikit kekurangan.”ucap Kim Bum.

“Bukankah semua orang mempunyai kekurangan nak? Ayah rasa itu hanya pernyataan segelintir orang saja.”tukas Ayahnya seraya meminum teh.

“Jadi menurut Ayah, jika kelak aku menemukan wanita yang aku cintai maka Ayah akan langsung merestuinya? Apapun keadaannya?”tanya lagi Kim Bum dengan nada yang sedikit terbata-bata.

“Iya, tentu saja.”jawab Ayahnya tersenyum. Kim Bum tersenyum lebar mendengar jawaban sang Ayah.

“Baiklah, kalau begitu. Ayah tenang saja, dihari ulang tahunku nanti aku akan membawa calon istriku padamu.”ucap Kim Bum bersemangat.

“Apa kau sudah menemukannya? Kapan?”tanya Ayahnya yang kaget mendengar ucapan Kim Bum.

“Ayah tidak perlu tau. Dia akan membuatmu bangga.”ucap Kim Bum tersenyum seraya pergi masuk ke dalam rumah. Ayahnya terlihat bingung dengan ucapan  Kim Bum.

“Apa maksdunya dia berbicara seperti itu.”ujar sang Ayah bingung.

 

*theredumbrella

 

Keesokan harinya…

Pagi ini kimbum telah mendapatkan informasi dari So Min kalau panti asuhannya akan mengadakan sebuah acara untuk menghibur para anak-anak panti. Dan dipastikan So Eun akan hadir diacara panti tersebut. Kim Bum pun memutuskan untuk ijin dari kantor dan mendatangi panti asuhan tersebut.

Setibanya disana, Kim Bum langsung menyambut anal-anak panti dengan begitu bersemangat. Tidak lupa ia membawa beberapa bingkisan yang didalamnya terdapat banyak makanan dan minuman serta mainan anak-anak. Kim Bum pun bermain sepak bola dengan beberapa anak panti laki-laki. Terlihat wajah Kim Bum yang begitu bahagia dan antusias bermain dengan anak-anak panti.

Tak lama kemudian So Eun datang. So Eun langsung menemui So Min yang saat tengah duduk didepan teras panti. Kim Bum yang melihat kedatangan So Eun sempat berhenti sejenak dari aktivitasnya bermain sepak bola. Kim Bum terus memandangi So Eun yang tengah asyik bersama So Min.

Tak lama, ada salah seorang anak panti yang mengagetkan Kim Bum hingga akhirnya ia terjatuh ke tanah. Lantas terdengarlah suara sorak ramai anak-anak panti yang tertawa saat melihat Kim Bum terjatuh. Kim Bum meringis kesakitan dibagian punggungnya. So Eun yang mendengar suara sorak ramai itu pun langsung menghampiri Kim Bum dan menolongnya.

“Terima kasih, Kim So Eun-ssi.”ucap Kim Bum sambil tersenyum sesaat setelah So Eun menolongnya.

Terlihat wajah bingung So Eun saat Kim Bum menyebutkan namanya. “Darimana dia tau namaku?”ucap batin So Eun. So Eun pun menuliskan sesuatu didalam buku kecil yang selalu ia bawa kemana-mana. Dan ia menunjukkan tulisannya pada Kim Bum.

“Darimana kau tau namaku? Kita bahkan belum pernah bertemu dan berkenalan sebelumnya. Apa aku mengenalimu?”tulis So Eun seraya menunjukkan tulisannya pada Kim Bum.

Kim Bum tersenyum setelah membaca tulisan So Eun. Ia pun merebut buku kecil dan pulpen yang ada ditangan So Eun. Kemudian Kim Bum menuliskan sesuatu dihalaman selanjutnya.

“Ne, aku mengenalimu So Eun-ssi🙂 Kau bisa tanyakan pada Jung So Min-ssi. So Eun-ssi, kau terlihat sangat cantik hari ini😀 .”tulis Kim Bum

So Eun hanya diam sesaat setelah membaca tulisan Kim Bum untuknya. Ia pun kembali menghampiri So Min yang tengah asyik menikmati es krim didepan teras panti. Sementara itu Kim Bum hanya bisa menatap So Eun dari kejauhan. Ia pun kembali lagi bermain sepak bola dengan anak-anak panti.

“Sebenarnya siapa pria itu? Sepertinya kalian sudah lama kenal. Lalu, hal apa saja yang sudah kau katakan padanya tentangku?”tulis So Eun dan memberikannya pada So Min.

So Min hanya tersenyum membaca tulisan So Eun. Dia pun menjelaskan semuanya tentang Kim Bum.

“Dia datang kemari, ingin berkenalan denganmu. Dia juga bilang padaku kalau dia ingin berteman dengan kita semua yang ada disini. Aku baru mengenalnya kemarin.”ujar So Min. So Eun hanya menatap sendu So Min.

“Benarkah seperti itu? Kau tidak berbohong kan? Aku tidak mau kejadian yang kemarin terulang kembali. Sepertinya harus lebih berhati-hati, dia kan masih asing buat kita.tulis So Eun.So Min mengiyakan pertanyaan So Eun.

“Kau tau So Eun-ah, sepertinya dia berbeda dari yang lain. Itu terbukti dia datang hari ini saat aku memintanya untuk datang.”bisik So Min pada So Eun. So Eun hanya terdiam mendengar hal tersebut.

 

*theredumbrella

 

Kim Bum tengah beristirahat setelah puas bermain sepak bola bersama anak-anak panti. Terlihat dari wajahnya yang begitu lelah, namun ia begitu senang.

“Aku senang sekali bisa bermain seperti ini bersama kalian.”ucap Kim Bum tersenyum.

“Jika Hyung mau, kita bisa bermain lagi besok.”ujar salah seorang anak laki-laki.

“Iya, tentu saja.”balas Kim Bum tersenyum.

Tak lama, So Min menghampiri Kim Bum dan mengajaknya pergi menemui So Eun yang sedang duduk menikmati udara sore ditaman dekat panti.

“Kau tidak ikut?”tanya Kim Bum.

“Kalau aku ikut, itu sama saja aku tidak memberimu kesempatan untuk jadi lebih dekatnya, bukan?”jawab So Min. Kim Bum tersenyum.

“Oh Ne, arrata. Kalau begitu aku pergi dulu. Terima kasih,Jung So Min-ssi.”ujar Kim Bum seraya tersenyum. So Min mengangguk pelan.

Kim Bum berjalan pelan menuju taman yang jaraknya tidak begitu jauh dari panti. Setelah lima menit berjalan, Kim Bum pun tiba ditaman. Dari kejauhan ia sudah melihat ada sosok perempuan cantik yang tengah duduk dibangku taman dibawah sebuah pohon yang rindang. Kim Bum segera menghampiri perempuan tersebut.

“Sepertinya kau sangat menikmati udara disini.”ujar Kim Bum yang mengagetkan So Eun. Kim Bum langsung duduk disamping So Eun.

“Kau sering pergi kesini yah? So Min yang memberitahuku.”ucap Kim Bum. Sementara itu, So Eun hanya menikmati pemandangan taman yang dipenuhi dengan macam-macam bunga.

Kim Bum pun pergi menuju pohon bunga mawar. Ia memetik setangkai bunga mawar merah. So Eun yang saat itu melihat Kim Bum memetik setangkai mawar merah, langsung bergegas menghampiri Kim Bum dan memukul tangan Kim Bum.

“Kau tidak boleh memetiknya. Itu akan membuatnya menjadi tidak bagus.”tulis So Eun pada buku kecilnya dan memperlihatkannya pada Kim Bum.

“Baiklah, aku minta maaf. Aku sungguh tidak mengetahui hal itu.”ucap Kim Bum sambil tersenyum.

So Eun kembali menuju bangku taman. Dia pun duduk kembali. Kim Bum juga kembali duduk disamping So Eun. Terjadi keheningan antara mereka berdua. Entahlah sepertinya Kim Bum juga bingung harus mulai bicara darimana. Ada hal lucu yang terjadi diantara mereka berdua. Disaat Kim Bum terus memandangi So Eun, So Eun justru mengalihkan pandangannya kearah yang lain. Begitu pula sebaliknya, saat So Eun mulai memandangi Kim Bum, Kim Bum justru mengalihkan pandangannya kearah yang lain.

“Sebenarnya ada apa kau mengikutiku kemari?”tulis So Eun seraya memperlihatkannya pada Kim Bum.

“Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin mengenal lebih dekat denganmu, So Eun-ssi.”ucap Kim Bum.

“Mengenallebih dekat aku? Apa kau mempunyai tujuan yang lain dari itu?”tulis So Eun.

“Tidak ada. Aku hanya ingin mengenalmu lebih dekat dan menjadi temanmu. Kita berteman, apa kau mau?”ujar Kim Bum tersenyum. Sesaat setelah Kim Bum mengucapkan keinginannya untuk berteman dengan So Eun, sontak saja terlihat raut wajah yang bingung pada diri So Eun.

“Jadi, kau ingin kita berteman? Apa alasanmu ingin menjadi temanku? Memangnya kau tidak malu jika harus berteman dengan seorang yang bisu seperti aku? Dan harus membaca tiap kau ingin mengetahui apa yang aku utarakan.”tulis So Eun panjang.

Kim Bum tersenyum setelah membaca apa yang baru saja So Eun tulis untuknya. Ia pun segera berdiri dihadapan So Eun. Tersirat wajah So Eun yang bingung saat melihat Kim Bum berdiri dihadapannya. Seperti sedang berkata, “Apa yang ingin dia lakukan padaku?”. Kim Bum langsung jongkok dihadapan So Eun. So Eun terlihat begitu terkejut.

“Apa yang sedang kau lakukan? Bangunlah! Jangan seperti itu!”tulis So Eun seraya menunjukkan tulisan persis dihadapan wajah Kim Bum.

“Sekarang kau paham bukan, aku ingin mengenalmu lebih dekat. Malu? Kenapa harus malu? Apa yang membuat aku malu jika aku berteman denganmu? Justru aku akan merasa sangat bahagia jika bisa terus bersama denganmu.”ujar Kim Bum seraya kembali duduk disamping So Eun.

“Lalu setelah kau mengenalku lebih dekat, apa yang akan kau lakukan selanjutnya?!”tulis So Eun. Lagi-lagi Kim Bum tersenyum mendengar ucapan So Eun.

“Nanti kau juga akan segera mengetahui hal tersebut.”ujar Kim Bum pelan.

“Sepertinya perkataanku pada So Min adalah sebuah kesalahan. Aku benar-benar ingin terus dekat denganmu, So Eun-ssi.”ucap batin Kim Bum.

 

*theredumbrella

 

“Aku pamit pulang yah. Jaga diri kalian baik-baik. Jika ada waktu lagi, aku akan sering-sering datang kemari.”ujar Kim Bum pada anak-anak panti.

“Yah.. padahal kami masih ingin bermain denganmu hyung. Tapi, hyung harus janji ya jika ada waktu luang akan datang kesini dan bermain lagi bersama kami.”ujar salah seorang anak panti yang bernama Han Se.

“Ne, hyung berjanji pada kalian.”ucap Kim Bum tersenyum.

Ya, memang Kim Bum dan anak-anak panti baru berkenalan pagi tadi. Tapi keakraban mereka terlihat seperti sudah berkenalan lama. Anak-anak merasa senang dengan kedatangan Kim Bum ke panti asuhan mereka, begitu pula Kim Bum yang senang bisa bermain bersama anak-anak panti.

“Kalau begitu, hyung pamit yah. Sampai jumpa lagi anak-anak.”ujar Kim Bum seraya melambaikan tangannya dan pergi menuju mobilnya yang telah siap. Namun langkah kaki Kim Bum terhenti, saat ia mendengar ada seseorang yang memanggil namanya.

“Kim Bum-ssi, tunggu sebentar!”panggil So Min.

Kim Bum pun membalikkan badannya. Dilihatnya So Eun dan So Min tengah berdiri dihadapannya sekarang.

“Ada apa?”tanya Kim Bum dengan tatapannya yang tajam pada So Eun. So Eun yang saat itu mengetahui kalau Kim Bum sedang menatapnya, hanya bisa tertunduk malu. Wajahnya memerah seketika. Kim Bum pun tersenyum lebar.

“Kau tidak ingin berpamitan dengan kami? Jahat sekali kau ini. Heoh!”ucap So Min coba meledek Kim Bum.

“Iya iya, mianhae! Aku pamit ya, So Eun-ssi dan juga So Min-ssi.”ujar Kim Bum dengan mata yang berbinar saat melihat wajah So Eun yang masih tertunduk malu sepertinya.

“Iya, hati-hati dijalan yah.”ucap So Min seraya menyenggol tangan So Eun agar So Eun juga melakukan hal yang sama pada Kim Bum. Sementara itu, So Eun masih saja tertunduk. Ia menganggukan kepalanya.

Entahlah, Kim Bum langsung menggapai buku kecil yang menggantung dileher So Eun. Ia segera menuliskan sesuatu untuk So Eun.

“Kenapa? Kau sepertinya mulai gugup saat melihatku. Aku ingin mengetahui jawabannya saat aku kembali kesini yah, So Eun-ssi Jtulis Kim Bum. Setelah itu Kim Bum menuju mobilnya dan pergi. So Eun hanya bisa menatap mobil Kim Bum yang perlahan pergi menjauh dari hadapannya. Hingga benar-benar mobil Kim Bum tidak terlihat lagi.

“Kenapa? Sepertinya kau tidak rela jika dia pergi? Apa kau mulai menyukai keberadaannya disini?”tukas So Min sambil mencolek dagu So Eun. So Eun tersenyum manis. Wajahnya mulai memerah.

“Benarkah? Sepertinya itu hanya perasaan kau saja. Jangan berlebihan So Min-ah!! :p”tulis So Eun.So Min hanya bisa tersenyum membaca tulisan So Eun.

 

*theredumbrella

 

Keesokan harinya…

“Kemarin kau kemana saja, sampai harus ijin dari kantor?”tanya Ayah pada Kim Bum yang sedang asyik menyantap sarapan pagi.

“Ehm, itu aku ada urusan yang penting jadi harus ijin ayah.”jawab Kim Bum.

“Benarkah? Sepenting apa urusanmu hingga ijin dari kantor, heoh?”tanya lagi Ayah dengan nada seperti orang yang sedang menginterogasi.

“Apa Ayah lupa, aku sedang berusaha untuk mewujudkan keinginanmu. Aku rasa Ayah sudah paham apa maksudku.”tukas Kim Bum sambil meminum segelas susu.

“Berusaha mewujudkan keinginanku? Apakah masalah calon menantu?”tukas Ayah.

“Ehmmmm…”jawab Kim Bum dengan gumaman.

“Siapa gadis itu? Apakah dia temanmu saat SMA atau temanmu saat kuliah? Lalu, siapa namanya?”tanya Ayah. Kim Bum mendesah sedikit kesal dengan pertanyaan Ayahnya yang begitu banyak.

“Hahhhh.. kenapa Ayah ingin tau secepat itu. Aku saja baru mencoba untuk mendekatinya. Huhh.”tukas Kim Bum.

“Baiklah, Ayah tidak akan banyak bertanya tentang gadis itu. Tapi asal kau tau, Ayah tidak ingin gadis itu mau denganmu karena harta yang kau punya. Kau ingat itu?!!”ucap sang Ayah.

“Iya, aku pasti ingat. Aku juga kan tidak suka dengan gadis seperti itu.”ujar Kim Bum seraya bersiap untuk pergi ke kantor.

 

@Kim Corporation

Kim Bum tengah sibuk dengan beberapa dokumen yang harus segera ia selesaikan. Namun entah kenapa, tiba-tiba ia ingat dengan seseorang. Seseorang yang menatapnya sendu saat itu.

“Entahlah, sepertinya aku mulai jatuh hati padanya.”ujar Kim Bum tersenyum. Tak lama ada seseorang mengetuk pintu ruang kerjanya.

Ttokk..ttokk..ttokk

“Siapa?”teriak Kim Bum pelan.

“Ada seseorang yang ingin menemuimu, Presdir Kim.”sahut sekretaris Cha diluar pintu.

“Siapa orang itu?”tanya lagi Kim Bum.

“Bilang saja, laki-laki yang baru saja datang dari Amerika.”ujar pelan seorang pria pada sekretaris Cha.

“Ehm, dia bilang kalau dia baru saja datang dari Amerika.”ujar sekretaris Cha.

“Amerika??”tukas Kim Bum pelan. “Ehmm, cepat suruh dia masuk!”perintah Kim Bum.

“Baiklah.”sahut sekretaris Cha.

Pria itu segera masuk ke dalam ruangan kerja Kim Bum. Tak lama, terdengar suara sorak senang antara Kim Bum dengan pria tersebut.

“Hyung.. kapan kau tiba di Korea?”ujar Kim Bum sambil memeluk Kim Hyun Joong sahabatnya yang juga sudah dianggap kakak oleh Kim Bum.

“Baru saja, sekitar satu jam yang lalu. Aku langsung menemuimu sekarang.”ujar Hyun Joong sambil melepaskan pelukan Kim Bum.

“Oh ya, apa itu benar? Kau telah menemukan seseorang yang pas untukmu, hyung?”tanya Kim Bum.

“Ya, kau benar. Gadis itu telah membuatku tak berkutik.”ucap Hyun Joong seraya melihat-lihat isi ruang kerja Kim Bum

“Siapa gadis beruntung itu? Aku rasa dia memang gadis yang spesial, hingga membuat orang sepertinya jatuh hati padanya. Hehe”tukas Kim Bum meledek Hyun Joong.

“Ya, kau benar. Dia gadis yang sangat spesial.”ujar Hyun Joong tersenyum.

“Kau bertemu dengannya dimana? Apa disesuatu tempat yang romantis?hehe”ucap Kim Bum lagi-lagi meledek  Hyun Joong.

“Aku bertemunya dua bulan yang lalu saat ada pengadaan amal. Dia mengurus sebuah panti asuhan.”ujar Hyun Joong.

“Panti asuhan?”ucap batin Kim Bum. “Apa nama marganya Hyung?”tanya Kim Bum.

“Jung..”jawab Hyun Joong. Kim Bum langsung terkejut ketika ia mendengar nama marga wanita tersebut.

“Hyung, entahlah ini kebetulan atau tidak. Apa gadis itu bernama Jung So Min??”tanya Kim Bum dengan wajah yang begitu penasaran. Terlihat wajah Hyun Joong terkejut pula saat Kim Bum mengetahui nama gadis tersebut.

“Darimana kau tau? Apa kau mengenalnya? Atau kau mencari tau tentangnya?”tanya Hyun Joong dengan wajah yang sedikit tegang.

“Huaahhh..ternyata dunia ini begitu sempit yah. Dan aku rasa Tuhan telah merencanakan semua ini untuk ulang tahunku.”ujar Kim Bum yang membuat Hyun Joong.

“Apa maksudmu?”tanya Hyun Joong.

“Nanti akan ku ceritakan saat jam makan siang.”jawab Kim Bum jelas.

 

*theredumbrella

 

So Eun sedang asyik bermain bersama anak-anak panti. Dia bermain ayunan bersama. Terlihat raut wajah So Eun yang begitu senang. So Min yang saat itu melihat So Eun dari kejauhan pun ikut merasa senang.

“Entahlah, sepertinya So Eun merasakan hal yang berbeda akhir-akhir ini.”ucap batin So Min.

Tak lama terdengar suara mobil yang berhenti dihalaman depan panti. So Min langsung menghampiri mobil tersebut. Sementara So Eun hanya bisa melihat dari kejauhan. Turunlah dua sosok pria yang tidak asing lagi dimata So Min.

“Oppa..”sahut So Min sesaat melihat Hyun Joong turun dari mobil.

“Dan kau.. Kim Bum-ssi, kenapa kalian bisa satu mobil?”ujar lagi So Min saat melihat Kim Bum yang tersenyum kepadanya sesaat turun dari mobil.

“Sepertinya kau mulai terkejut. Aku pun sama halnya seperti kau, So Min-ssi.”ucap Kim Bum sambil tersenyum kecil.

“Nanti akan aku jelaskan, sebaiknya kita masuk ke dalam dulu. Aku sudah membawa banyak bingkisan untuk anak-anak.”ujar Hyun Joong seraya  merangkul bahu So Min dan pergi masuk kedalam panti.

“Anak-anak, cepat kemari! Ada sesuatu buat kalian dari paman Hyun Joong.”teriak So Min pada anak-anak yang saat itu sejak asyik bermain dengan So Eun. So Eun pun memberikan kode agar anak-anak tersebut segera masuk ke dalam panti. Anak-anak pun segera masuk ke dalam panti bersama So Min dan Hyun Joong.

 

Sementara itu, Kim Bum menghampiri So Eun yang tengah seorang diri duduk diatas ayunan. Kim Bum mengayunkan ayunan So Eun dari arah belakang. Hal itu membuat So Eun kaget. Ia pun menoleh ke belakang dan didapatinya sosok Kim Bum tengah tersenyum manis kearahnya. Dengan sigap Kim Bum menarik tali ayunan hingga membuat ayunan berhenti sejenak.

“Apa aku mengagetkanmu? Jika iya, aku minta maaf.”ujar Kim Bum tersenyum. So Eun hanya tertunduk saat Kim Bum ingin memulai pembicaraan dengan So Eun.

“Kenapa? Apa kau takut padaku? Tenang saja, aku ini orang baik-baik. Kau jangan khawatir.”ujar lagi Kim Bum saat So Eun membalikkan posisi duduknya hingga membelakangi Kim Bum. So Eun pun menuliskan sesuatu.

“Ada keperluan apa kau menemuiku? Jika memang tidak terlalu penting, sebaiknya kau pergi ke dalam saja. Tinggalkan aku sendiri disini.”tulis So Eun seraya menyerahkan tulisannya pada Kim Bum.Kim Bum tersenyum sesaat membaca tulisan So Eun. Kim Bum pun menuliskan sesuatu dihalaman selanjutnya.

“Ya, aku ada keperluan denganmu. Apa kau sudah mempunyai jawaban perihal pertanyaanku kemarin sesaat aku pergi dari sini? Aku harap kau sudah mempunyai jawaban untukku, So Eun-ssi Jtulis Kim Bum.So Eun yang membaca tulisan Kim Bum tiba-tiba menjadi malu. Wajahnya mulai memerah. Hal itu membuat Kim Bum semakin ingin menggoda So Eun.

“Lihat itu, wajahmu memerah. Apa kau mulai gugup saat dekat denganku? So Eun-ssi, kau tenang saja aku tidak akan mengatakan hal ini pada orang lain hehe.”bisik Kim Bum pelan tepat ditelinga So Eun. So Eun mendorong Kim Bum agar menjauh dan tidak terlalu dekat dengan dirinya.

“Aku tidak suka jika kau sok akrab denganku! Kau mengerti!”tulis So Eun. Kim Bum lagi-lagi tersenyum. Ia pun kembali melakukan posisi jongkok. So Eun sekarang tepat ada dihadapan Kim Bum begitu pula sebaliknya.

“Aku ingin mengajakmu ke sesuatu tempat. Kau tenang saja, aku sudah memberitahu So Min tentang hal ini.”ujar Kim Bum pelan dengan tatapan yang begitu tajam pada So Eun. So Eun menggelengkan kepalanya yang mengartikan kalau dirinya menolak permintaan Kim Bum.

“Aku mohon padamu.. So Eun-ssi sekali ini saja. Aku janji tidak akan mengecewakanmu. Aku mohon..”ujar Kim Bum pelan dengan gaya cutenya seperti anak kecil yang sedang meminta sebuah permen. “So Eun-ssi, ayolah aku mohon padamu.”ucap lagi Kim Bum memohon.

Terlihat wajah So Eun yang tadinya sedikit jutek berubah menjadi sedikit lunak. Tersirat dari wajahnya kalau dirinya ingin menyetujui hal tersebut. Namun So Eun masih ragu.

“Baiklah.. tapi kau janji kan, hanya sebentar saja?”tulis So Eun seraya menunjukkan tulisannya pada Kim Bum. Kim Bum mengangguk pelan dengan senyuman yang lebar. So Eun pula mengangguk pelan yang mengartikan kalau dirinya setuju dengan permintaan Kim Bum.

“Terima kasih, So Eun-ssi.”ucap Kim Bum sambil mengelus pelan rambut So Eun. So Eun sendiri hanya bisa tertunduk. Sepertinya ia tersentuh dengan perlakuan Kim Bum terhadapnya.

Sementara itu terlihat dari kejauhan So Min dan Hyun Joong yang sedari tadi memperhatikan Kim Bum dan So Eun hanya bisa tersenyum senang.

“Aku tidak menyangka jika akan seperti ini ceritanya.”ujar Hyun Joong pelan.

“Ya, kau benar. Aku harap Kim Bum bisa membuktikan perkataannya. Aku tidak ingin So Eun kembali terpuruk.”ujar So Min dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Hyun Joong pun merangkul So Min. Mereka berdua saling bertatapan, dan kembali menebar senyuman.

 

*theredumbrella

 

Kim Bum dan So Eun sudah tiba disebuah tempat yang begitu asri nan indah. Tempat itu merupakan salah satu objek wisata yang terkenal di Korea. Pulan Jeju. Mereka sudah tiba disana setelah dua jam dalam perjalanan. Terlihat So Eun yang mulai merasa kedinginan. Dengan sigap Kim Bum langsung melepas jasnya dan memasangkannya pada diri So Eun.

So Eun merasa canggung dengan perlakuan Kim Bum terhadapnya. Bahkan mereka sempat saling menatap dengan jarak yang begitu dekat saat Kim Bum memasangkan jasnya pada So Eun yang kedinginan. Kim Bum hanya tersenyum melihat sikap So Eun yang dianggapnya tidak biasa.

“Bagaimana, apa kau suka dengan tempat ini?”tanya Kim Bum sambil membuka pintu mobil disisi So Eun. So Eun mengangguk pelan.

“Kalau begitu, kita harus segera melanjutkan perjalanan. Kajja!”ujar Kim Bum sambil menarik pelan tangan So Eun agar keluar dari mobil. Mereka pun berjalan pelan menuju ke tempat yang dimaksud Kim Bum.

Selang lima menit, mereka pun tiba ditempat yang dimaksud Kim Bum. Sebuah padang bunga kecil-kecil yang berwarna kuning. Bunga itu bernama Boksucho. Tersirat dari wajah So Eun yang begitu senang setibanya ditempat itu. So Eun langsung berlari-larian pelan sambil menyentuh bunga-bunga Boksucho. So Eun tertawa bahagia. Ia merasa tidak pernah sebahagia ini.

“Sangat indah! Aku sangat suka! Terima kasih karena kau sudah membawaku datang kesini, Kim Bum-ssi.”tulis So Eun seraya memberikannya pada Kim Bum. Kim Bum tersenyum membacanya.

“Iya, hal itu yang akan selalu aku lakukan padamu setiap hari. Aku akan selalu membuatmu bahagia berada disisiku.”ujar Kim Bum yang membuat So Eun terbelalak. Matanya menyiratkan seolah-olah ia ingin mengatakan.. “Apa maksudmu berbicara seperti itu?”. Dengan sigap Kim Bum langsung meraih tangan So Eun. So Eun terlihat sangat gugup saat itu.

“Aku tau mungkin ini terlalu cepat. Tapi, aku sudah yakin dengan keputusanku ini So Eun-ssi. Rasa ini datang saat pertama kali aku melihatmu hari itu. Hari dimana kau tengah memakai payung merah saat hujan turun. Saat itu, aku terus memandangimu. Entah mengapa aku yakin, kaulah orang yang dikirim Tuhan untuk menjadi selamanya disisiku.”papar Kim Bum jelas.

Tess..tess

Airmata So Eun mulai menetes. Kim Bum pun melanjutkan lagi perkataannya.

“So Eun-ssi maukah kau menikah denganku?”ucap Kim Bum dengan tatapan yang begitu tajam lagi menyakinkan. So Eun pun melepaskan tangannya dari genggaman Kim Bum. Ia menghapus airmatanya.

“Ada apa denganmu? Kenapa kau bersikap seperti ini padaku? Kau seakan-akan sedang membuatku terbang melayang jauh ke atas sana. Lalu, apa yang membuatmu bisa mengatakan hal itu padaku? Apa kau tidak paham juga!! Aku ini bisu. Bahkan untuk saat ini pun aku harus menuliskan ini untukmu. Kau sempurna, Kim Bum-ssi. Sedangkan aku? Apa iya, ada seorang yang sempurna sepertimu mau denganku yang.. yang bahkan tidak bisa bicara. Sepertinya kau tidak benar-benar kan mengatakan hal itu padaku??”tulis So Eun panjang dengan airmata yang berlinang seraya menyerahkan notenya pada Kim Bum. Kim Bum pun membaca dengan seksama apa yang baru saja So Eun tulis. Ia kembali tersenyum. Kim Bum mendekatkan dirinya pada So Eun.

“Apakah seorang yang sempurna harus dilihat dari tampilan luarnya saja? Kenapa kau tidak mencoba untuk melihat tampilan dalamnya? So Eun-ssi, aku mencintaimu apa adanya.”ucap Kim Bum jelas. So Eun kembali meneteskan airmatanya.

“Aku mohon jangan menangis, So Eun-ssi.”ucap Kim Bum pelan sambil menyeka airmata So Eun.

“Tak apa jika kau tidak bisa menjawabnya sekarang. Aku akan menunggu.”ujar Kim Bum tersenyum. Sementara itu So Eun menatap lirih Kim Bum.

 

*theredumbrella

 

Kim Bum POV

Setelah kepergian aku dengan So Eun dari pulau Jeju, kami memutuskan untuk segera pulang ke rumah karena hari sudah larut. Aku menghubungi So Min untuk menanyai alamat rumah So Eun. So Eun tertidur pulas dalam perjalanan, jadi aku tidak bisa menanyakan itu padanya. Sekarang kami berdua sudah tida didepan rumah So Eun. Rumah yang tidak besar, bahkan menurutku ini terlalu kecil. Aku menatap heran rumah itu. “Apa iya, sekecil inikah rumahnya?”ucapku dalam hati.

Aku mencoba untuk membangunkan So Eun dari tidurnya. Tapi dengan cepat aku mengurunkan niatku untuk membangunkannya. Perlahan aku mengendongnya hingga masuk ke dalam rumah. Sebelum itu, aku harus mengalami banyak pertanyaan dari Ayah dan Ibu So Eun. Lantas, aku jawab dengan tepat dan benar. Aku meminta maaf karena membawa pergi So Eun hingga larut malam. Mereka menerima permohonan maafku.

Sebelum aku beranjak pergi dari rumah So Eun, orang tuanya memintaku untuk tinggal sebentar karena ada yang ingin mereka tanyakan padaku. Aku memenuhi permintaan mereka. Satu demi satu pertanyaan aku jawab dengan baik. Terlihat dari raut wajah mereka yang selalu tersenyum saat mendengar jawabanku. Hingga pada akhirnya, aku memberanikan diri untuk mengatakan niat yang serius dengan So Eun. Kali ini wajah mereka berubah saat aku mengungkapkan niat seriusku pada So Eun. Mereka pun kembali menanyakan banyak hal tentangku. Aku menjawabnya dengan jujur. Mereka terdiam sejenak. Entahlah, sepertinya mereka belum yakin dengan keseriusanku pada So Eun.

Perlahan, aku menceritakan kejadian awal aku bertemu dengan So Eun. Mungkin memang terdengar aneh dan agak sedikit mengada-ada. Tapi, itulah kenyatannya. So Eun adalah satu-satunya wanita yang saat itu memakai payung merah. Mereka mengeritkan dahinya. Terkesan bingung dengan apa yang aku utarakan. Namun perlahan mereka mengerti dengan apa yang aku maksud. Ini benar sungghan. Ini adalah takdir Tuhan. Aku dan So Eun dipertemukan olehNya. Aku tidak mungkin menyakiti hati wanita sebaik dan secantik Kim So Eun. Mereka tersenyum lebar padaku. Begitu pula denganku. Mereka pun memberi restu. Tapi ada satu hal yang belum aku katakan, So Eun belum menjawab permintaanku.

End Kim Bum POV

 

*theredumbrella

 

D-5~~~

Kim Bum POV

Entah apa yang harus aku lakukan lagi. Sudah seminggu terakhir ini aku tidak bertemu dengan So Eun sejak kepergian kami ke pulau Jeju. Sesaat aku berpikir, apa yang aku katakan padanya adalah sebuah kesalahan?. Sudah seminggu terakhir ini So Eun sulit untuk dihubungi. Bahkan So Min sahabat terdekatnya pun tidak tau keberadaan So Eun.

Aku terus mencari informasi kemana perginya So Eun. Hingga pada akhirnya So Min mendapat informasi kalau So Eun dan orang tuanya pergi ke Busan, tempat bibi dan pamannya tinggal. Ada kabar gembira, karena setelah belasan tahun menikah bibi So Eun baru bisa memiliki anak. Jadi kepergian So Eun dan orang tuanya ke Busan untuk menengok keadaan bibi dan pamannya. Hari ini So Eun sudah tiba lagi di Seoul. Aku akan segera menemuinya.

End Kim Bum POV

 

Drrettt..drrett

Kim Bum mendapat sebuah pesan pendek. Terlihat nama So Eun adalah pengirim pesan tersebut.

“Apa kau sibuk? Aku menunggumu ditaman dekat panti.”tulis So Eun. Kim Bum tersenyum bahagia sesaat membaca pesan dari So Eun. Ia pun segera bergegas pergi menuju tempat yang dimaksud So Eun.

 

*theredumbrella

 

@Taman

Setelah setengah jam perjalanan, Kim Bum akhirnya tiba di taman. Dari kejauhan sudah terlihat ada sosok perempuan tengah duduk dibangku tepat dibawah pohon yang rindang. Kim Bum segera menghampiri perempuan itu.

“Apa kau sudah lama menungguku?”sapa Kim Bum yang sedikit mengagetkan So Eun yang tengah termenung sambil melihat hamparan bunga dihadapannya. So Eun tersenyum kecil.

“Coba lihat itu! Kau sudah sering tersenyum akhir-akhir ini.”tukas Kim Bum pelan. So Eun kembali menyeritkan bibirnya. Kim Bum pun duduk disamping So Eun.

“Sekarang, apa yang ingin kau sampaikan padaku? Apa kau sudah mempunyai jawaban yang tepat untukku, So Eun-ah?”ujar Kim Bum dengan tatapan yang dalam.

“Apa kau bisa berjanji padaku? Berjanji kalau kau tidak akan pernah mengecewakan dan meninggalkan aku apapun yang terjadi…”tulis So Eun seraya menyerahkan notenya pada Kim Bum.

Kim Bum pun membacanya. Ia beranjak dari tempat duduknya dan agak menjauh dari tempat duduk So Eun. Terlihat raut wajah So Eun yang sedikit kecewa. “Kenapa dia malah menjauh?”ucap batin So Eun.

Tak lama, Kim Bum kembali ke tempat duduk So Eun. Kim Bum masih terdiam dengan pertanyaan So Eun. Dengan sigap, So Eun merebut kembali note kecilnya dari Kim Bum dan menuliskan sesuatu kembali.

“Kenapa? Kau ragu? Sudah ku duga. Tidak mungkin kau serius dengan pernyataanmu satu minggu yang lalu padaku. Apa sekarang kau sudah mulai tersadar, kalau aku memang sangat tidak berguna.”tulis So Eun dengan airmata yang terus menetes. Ia pun segera memberikan notenya pada Kim Bum. So Eun menundukkan pandangannya saat Kim Bum menatap kearahnya. Ia mencoba untuk menyembunyikan kesedihannya.

Kim Bum pun meneteskan airmatanya sesaat setelah membaca tulisan So Eun. Ia segera beranjak mendekatkan dirinya dengan So Eun. Dibelainya pelan rambut So Eun yang terurai panjang. Disekanya airmata So Eun yang sedari tadi terus menetes. Dikecupnya kening So Eun dengan lembut.

“Kim So Eun-ssi, aku berjanji atas nama Tuhan. Aku tidak akan pernah mengecewakan dan meninggalkanmu apapun yang terjadi. So Eun-ssi, neoreul jeongmal saranghada!”tutur Kim Bum dengan wajah yang penuh keyakinan.

Lagi dan lagi So Eun tidak dapat menahan airmatanya yang terus menetes. Ia pun memperagakan dengan tangannya untuk membalas ucapan Kim Bum. So Eun memegang dadanya dengan tangan kirinya. Setelah itu So Eun membuat sign love melalui jari-jari tangannya dan yang terakhir ia mendaratkan tangan kananya didada Kim Bum. Dan itu mengartikan kalau So Eun juga sangat mencintai Kim Bum. Kim Bum tersenyum bahagia, begitu pula dengan So Eun. Kim Bum menarik So Eun ke dalam pelukannya. Mereka saling memeluk dengan erat.

 

*theredumbrella

 

D-day! 7 Juli 2014

Kim Bum POV

Hari ini tepat hari ulang tahunku. Akhirnya hari ini tiba. Aku sungguh bahagia karena telah mendapatkan apa yang aku inginkan. Seorang wanita yang sangat aku cintai terlebih dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Sebuah pertemuan yang tidak pernah aku duga sebelumnya.

Sekarang, wanita itu sedang berada disampingku. Kami sedang berada diperjalanan menuju kediamanku. Setengah jam yang lalu Ayah sudah menghubungiku. Dia bilang, mereka sudah tidak sabar ingin melihat calon menantunya.

Terlihat wajah tegang dan gugup So Eun. Bahkan peluhnya terbilang cukup banyak. So Eun cemas. Ia takut jika keluargaku tidak bisa menerimanya. Aku pun mencoba untuk menenangkannya. Satu hal yang pasti, aku sangat senang jika dia terus tersenyum.

End Kim Bum POV

 

*theredumbrella

 

Setelah satu jam perjalanan, mereka pun tiba dikediaman keluarga Kim. Terlihat ada beberapa saudara Kim Bum yang telah hadir dalam acara ulang tahunnya yang sederhana. Mereka merayakannya dengan makan malam saja.

Ayah dan Ibunda Kim Bum sudah siap untuk menyambut kedatangan Kim Bum bersama calon istrinya. Mereka pun menghampiri Kim Bum dan So Eun yang saat itu sudah tiba diruangan tengah.

“Selamat ulang tahun putraku sayang, semoga Tuhan memberkatimu nak.”seru sang Ibu dengan pelukan yang hangat pada Kim Bum.

“Terima kasih Ibu.”jawab Kim Bum.

“Selamat ulang tahun putraku, Ayah bangga padamu nak. Tuhan memberkatimu.”seru sang Ayah dengan pelukan yang hangat pada Kim Bum.

“Terima kasih Ayah.”jawab Kim Bum. So Eun terlihat sangat canggung. Ia terus mengamati rumah Kim Bum yang begitu besar dan juga terlihat sangat mewah. Sangat jauh berbeda dengan keadaan rumahnya.

Pandangan Ayah dan Ibu Kim Bum pun tertuju pada sosok wanita yang sedari tadi berdiri disamping Kim Bum. So Eun menundukkan kepalanya memberikan salam pada kedua orang tua Kim Bum. Mereka pun segera pergi menuju ke ruang makan. Disanalah ketidaknyamanan dimulai.

Mereka pun memulai untuk makan malam. Namun sebelum itu, ibunda Kim Bum meminta agar Kim Bum memperkenalkan So Eun pada seluruh keluarganya.

“Semuanya, terima kasih karena sudah datang diacara ulang tahunku.”ucap Kim Bum. Namun sejenak ucapan Kim Bum terhenti saat ia melihat kedatangan Hyun Joong bersama So Min. Kim Bum pun kembali melanjutkan pembicaraannya.

“Kenalkan semuanya, dia Kim So Eun. Calon istriku.”ucap Kim Bum jelas. Sementara itu So Eun hanya duduk dengan memasang wajah yang manis, padahal ia sangat tegang saat itu.

“Kim So Eun, nama yang indah sama seperti dengan orangnya.”ucap Ayah Kim Bum.

“Dia sangat cantik.”ucap salah seorang sepupu Kim Bum yang bernama Kim Jae Bum.

“Ya, kau benar Jae Bum-ah, dia sangat cantik.”ucap salah seorang lainnya yang merupakan juga sepupu Kim Bum bernama Kim Yuri.

Ayah dan Ibunda Kim Bum menghampiri So Eun. Mereka pun menyapa So Eun dengan baik.

“Siapa tadi namamu nak? Kim So Eun, namamu sangat indah nak.”ucap Ibunda Kim Bum sambil membelai pelan rambut So Eun. So Eun tersenyum manis.

“Kalau kami boleh tau, kau tinggal dimana nak? Lalu, apa pekerjaan Ayahmu?”tanya Ayah Kim Bum. So Eun sedikit membelakakan matanya yang menandakan ia terkejut dengan pertanyaan itu. Sontak saja Kim Bum langsung menjawab pertanyaan Ayahnya.

“Dia tinggal di distrik Dongjun No.45B dan Ayahnya adalah seorang supir Bus.”ujar Kim Bum yang membuat seluruh anggota keluarganya dan kedua orang tuanya terkejut. Terlihat raut wajah kedua orang tua Kim Bum yang bingung.

“Apa? Distrik Dongjun? Bukankah itu rumah kalangan bawah..”ucap Kim Yuri keras hingga membuat seluruh pandangan mengarah padanya. Kim Jae Bum pun langsung menyenggol Yuri agar mengecilkan suaranya.

“Pelankan suaramu! Sepertinya akan ada masalah besar.”bisik Kim Jae Bum pelan.

“Iya, iya aku mengerti.”tukas Yuri santai.

Peluh So Eun sudah mengucur saat itu. Dia benar-benar sangat gugup. Matanya menyiratkan seakan-akan ia berkata.. “Apa yang harus aku lakukan? Sepertinya orang tua dan keluarganya tidak akan menyetujui.”. Kim Bum berusaha untuk menenangkan So Eun dengan terus menggenggam erat tangan So Eun.

“Tenang saja, semuanya akan baik-baik saja.”bisik Kim Bum pelan. So Eun pun mendekatkan wajahnya ke dada Kim Bum. Ia seperti sedang menyembunyikan wajahnya, karena saat itu airmatanya mulai menetes.

“Kenapa kau yang menjelaskan semuanya? Ayah ingin, So Eun sendiri yang mengatakan hal itu pada Ayah dan semuanya yang ada disini.”seru sang Ayah. Kim Bum pun menghela napas panjang.

“Bum-ah, apakah So Eun sedang sakit? Kenapa ia tidak berbicara sejak tadi nak?”tanya sang Ibu lembut. So Eun tidak bisa lagi menahan kesedihannya. Ia pun melepaskan genggaman Kim Bum dari tangannya dan berlari pergi keluar.

“So Eun-ah…”teriak Kim Bum pelan saat melihat So Eun berlari keluar.

“Ya! Kenapa dia lari? Apa ada yang salah dengan pertanyaan bibi.”tukas Yuri pelan.

“Sudahlah, kau diam saja.”bisik Jae Bum pada Yuri. Sementara itu So Min dan Hyun Joong mengejar So Eun yang pergi keluar.

“Bum-ah, coba jelaskan pada Ayah sebenarnya apa yang terjadi? Siapa gadis itu sebenarnya? Kenapa ia diam saja..”tanya sang Ayah dengan nada yang sedikit meninggi.

“Ayah dan Ibu ikutlah denganku.. kita bicarakan ini diluar bersama So Eun.”ujar Kim Bum seraya pergi menuju keluar rumah. Ayah dan Ibunya terlihat bingung dengan apa yang terjadi.

“Lihat itu! Kita sama sekali tidak diajak kesana?”tukas Yuri sedikit kesal.

“Sepertinya memang ada yang tidak beres. Ayo kita lihat!”ujar Jae Bum seraya pergi keluar bersama Yuri.

 

*theredumbrella

 

Terlihat So Min sedang menenangkan So Eun yang sedang duduk dibangku teras depan.

“Sudahlah So Eun-ah, tenangkan dirimu. Semuanya akan baik-baik saja.”ujar So Min sambil membelai pelan rambut So Eun. Sementara So Eun masih terus saja menangis. Matanya juga sudah mulai terlihat sembab dan merah.

Tak lama, Kim Bum datang bersama kedua orang tuanya menghampiri So Eun. So Min segera menjauh dari So Eun dan membiarkan Kim Bum untuk berbicara dengan So Eun.

“So Eun-ah..”seru Kim Bum. Mendengar suara Kim Bum yang terdengar begitu dekat, So Eun segera menghapus airmatanya.

“Aku baik-baik saja. Kau tak perlu khawatir.”tulis So Eun seraya menunjukkan pada Kim Bum. Kedua orang tua Kim Bum terkejut saat melihat So Eun memberikan note yang ia pegang kepada Kim Bum.

“Sayang, apakah So Eun seorang tuna wicara?”bisik Ibu pada Kim Bum. Kim Bum mengangguk pelan. Kim Bum pun menjelaskan semuanya pada Ayah dan Ibunya. Terlihat wajah kecewa dari kedua orang tuanya setelah mendengar penjelasan dari Kim Bum. Sementara itu, So Eun hanya menundukkan kepalanya dengan tangan yang menggenggam erat tangan Kim Bum

“Aku harap, kalian bisa menerima apa yang telah aku pilih. Aku sangat mencintainya. Aku sangat mencintai Kim So Eun.”ujar Kim Bum dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Aku tidak peduli dengan kekurangannya atau apapun itu. Aku sudah mempunyai banyak hal, dan aku ingin melengkapinya dengan terus bisa hidup bersamanya.Aku mohon padamu, Ayah, Ibu.. terimalah So Eun. Terimalah So Eun sebagai calon istriku. Aku mohon.. dengan sangat.”ujar Kim Bum melanjutkan. Dan kali ini airmata Kim Bum tidak dapat lagi ia bendung. Tangisnya pun pecah. So Eun semakin mengenggam erat tangan Kim Bum.

Sementara itu disisi lain, So Min sedang menahan airmatanya karena sedih melihat perjuangan So Eun hingga sampai saat ini. Hyun Joong mencoba menenangkan So Min dengan merangkulnya hangat.

Kedua orang tua Kim Bum tidak bisa berkata apa-apa. Mereka bahkan juga sempat meneteskan airmata. Ayah Kim Bum menghampiri So Eun. Perlahan ia membelai lembut rambut So En yang terurai panjang.

“Kemarilah nak, biarkan Ayah memelukmu.”ucap sang Ayah pada So Eun. So Eun terkejut saat mendengar hal tersebut diucapkan sang calon ayah mertua. Kembali tangis So Eun pun pecah. So Eun memulai mendekat pada Ayah Kim Bum, dengan sedikit ragu ia pun memeluk calon ayah mertuanya tersebut. Sementara itu Kim Bum tersenyum bahagia sambil merangkul ibunya.

“Apa Ibu sudah bisa menerima So Eun?”tanya Kim Bum pelan.

“Bukankah Ayah dan Ibu sudah pernah bilang padamu, siapapun dia kami akan menerimanya dengan baik. Walau diawal kami sempat goyah saat mengetahui dia tidak bisa berbicara. Asalkan kau bahagia bersamanya, kami merestui kalian.”ujar Ibunda Kim Bum. Kim Bum tersenyum bahagia mendengar penjelasan Ibunya.

Sementara itu, So Eun masih dalam pelukan calon Ayah mertuanya. Ayah Kim Bum terlihat sudah bisa menerima kekurangan So Eun. So Eun menuliskan sesuatu pada notenya dan ia berikan pada Ayah Kim Bum.

“Terima kasih Ayah, Ibu.. terima kasih banyak Jtulis So Eun.

 

*theredumbrella

 

Kim Bum POV

Bahagia. Aku sangat bahagia karena tepat dihari ulang tahunku yang ke-27 hari ini, aku mendapatkan hadiah yang sangat special dari Tuhan. Seorang calon istri. Aku sangat bersyukur karena bisa dipertemukan oleh gadis yang bernama Kim So Eun. Aku juga sangat bersyukur karena keluargaku dapat menerima So Eun dengan lapang. Terima kasih Tuhan.

Merencanakan sebuah pesta pernikahan yang indah sudah terbesit dipikiranku. Aku berdiskusi dengan So Eun bagaimana tema yang harus kami ambil. Tak lupa, kami juga meminta saran dari So Min dan Hyun Joong. Setelah berkelut memikirkan tema pernikahan kami, akhirnya aku dan So Eun memutuskan untuk mengambil tema “Garden party” sesuai saran dari So Min.

Dua bulan pun berlalu, akhirnya hari ini datang. Tepat pada tanggal 6 September 2014, aku dan So Eun melaksankan resepsi pernikahan sederhana kami. Acara digelar dipelataran rumahku dengan dekorasi bernuansa kebun. Hanya ada beberapa tamu undangan saja yang aku undang, sisanya adalah perwakilan dari keluargaku dan So Eun.

So Eun terlihat sangat cantik dengan gaun putih dengan sedikit taburan Kristal dibeberapa bagian gaunnya. Begitu pula denganku. Bahkan Hyun Joong-hyung memuji karena tampilanku yang sangat menawan.

End Kim Bum POV

Setelah semuanya telah siap, acara pernikahan pun dimulai. Sang pendeta sudah siap dengan segala perlengkapan nikah. Sementara itu, Kim Bum sudah bersiap menanti So Eun yang akan segera datang bersama sang Ayah.

Tak lama terlihat So Eun keluar bersama Ayahnya. Ia berjalan pelan menuju altar bersama sang Ayah. Terlihat rona bahagia dari masing-masing keluarga. Setelah sampai di altar, mereka pun segera mengucapkan janji pernikahan yang dipimpin oleh sang pendeta.

“Saudara Kim Bum, bersediakah anda menerima saudari Kim So Eun sebagai istri anda dikala bahagia atau sedih, dikala sehat atau sakit dan berjanji agar terus menjaganya hingga akhir hayat atas nama Tuhan..?”ujar sang pendeta.

“Ya, saya bersedia.”ucap Kim Bum jelas.

“Saudari Kim So Eun, bersediakah anda menerima saudari Kim Bum sebagai suami anda dikala bahagia atau sedih, dikala sehat atau sakit dan berjanji agar terus menjaganya hingga akhir hayat atas nama Tuhan..?”ujar sang pendeta.

“Ya, saya bersedia.”tulis So Eun pada sebuah buku kecil yang sudah dipersiapkan oleh sang pendeta seraya mengangguk pelan.

“Sekarang kalian sudah sudah resmi sebagai sepasang suami-istri atas nama Tuhan. Semoga Tuhan memberkati kalian berdua. Amin.”tutur sang pendeta.

Kim Bum dan So Eun tersenyum bahagia. Mereka pun saling menautkan cincin dijari mereka masing-masing. Kim Bum memasangkan cincin ke jari manis So Eun, begitu pula sebaliknya. Suara riuh beberapa tamu undangan dan sanak keluarga begitu menggema dan rona bahagia terlihat dari wajah mereka masing-masing.

Dengan cepat beberapa sanak keluarga meneriakkan agar Kim Bum segera memberikan ciuman pada So Eun.

“Ayo kalian tunggu apa lagi.. Bum-ah cepat berikan ciuman padanya!”teriak salah seorang saudara Kim Bum.

“Cium..cium.. cium..”sorak ramai-ramai sanak keluarga Kim Bum dan So Eun. Sementara itu, So Eun tersipu malu begitu pula dengan Kim Bum. Wajah mereka terlihat memerah.

“Heii.. Bum-ah kau tunggu apa lagi, cepat lakukan!!”teriak Hyun Joong begitu keras.

Kim Bum pun dengan cepat menggapai pipi So Eun dan menciumnya. Setelah itu ia mencium tepat dibibir manis So Eun. So Eun yang saat itu belum siap, hanya bisa membelakakan matanya dan berusaha untuk menikmati ciuman sang suami. Semua orang tersenyum bahagia melihat mereka berdua.

 

The End

 

 

Akhirnya selesai juga.. mianhae kalo jelek yah dan ceritanya ga begitu menarik hehe. Jangan lupa kritik & sarannya yah ^^ dan terima kasih bagi yang sudah mau membaca. gomaweo~

By, Fithri Chan

Posted on Juli 5, 2014, in Uncategorized. Bookmark the permalink. 102 Komentar.

  1. Huwaaaa so sweet dan ngena bangett
    Untung ortu kimbum mengijinkan
    Sso selamat yaa^^

  2. terharu bacanya..
    kim bum mau menerima so eun apa adanya.
    ortu kim bum jga menerima so eun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: