All for You

1403994293083_2
All For You
Author: Lyla
Cast: Kim so eun, Kim sang bum
Genre: Sad, Romance, Drama

Type: Oneshoot




Semua cerita, karakter, setting, alur, dll adalah milik dari masing-masing author. Author sama sekali tidak terkait dengan pemilik, pencipta, atau produser dari setiap media apapun. Tidak ada pelanggaran hak cipta dimaksudkan. Untuk tokoh Kim Bum, Kim So Eun, dan artis lainnya, bukan milik author, tapi milik orang tua, keluarga, dan agensi mereka. Author memakai mereka hanya untuk keperluan cerita.

#Januari 2014#
Cinta… banyak sekali arti yang terkandung dari satu kata yang sering disebut oleh banyak orang. CINTA… yaa, kata itu mempunyai banyak makna. Tergantung bagaimana kita mengartikannya. Senang, sedih, marah dan kecewa pun ikut andil didalamnya.
Bagi sebagian orang cinta itu indah, namun sebagian orang lagi mengatakan jika cinta itu menyakitkan. Dan mungkin definisi menyakitkan dari cinta juga dibenarkan oleh gadis cantik yang saat ini tengah berdiri ditengah hamparan tumbuhan ilalang yang menyelimuti tubuhnya. Gadis itu melangkahkan kakinya perlahan demi perlahan, hembusan angin yang menerpa tubuhnya hingga sampai ke tulang – tulangnya pun bahkan tidak dirasanya.

Kim so eun, gadis itu yang saat ini tengah berdiri di hamparan tumbuhan ilalang. Entah apa yang saat ini dirasakan oleh gadis tersebut, hingga membuat kedua matanya tak pernah berhenti mengalirkan butiran – butiran air mata. Kepalanya terasa pusing, pandangan matanya pun seakan menagabur ditambah rasa sakit yang saat ini mendera hatinya. Harusnya semua ini masih bisa diterima So eun dengan hati yang lapang dan bukannya dengan seperti ini. Bukankah jika seperti ini So eun malah akan menyakiti dirinya sendiri.

So eun memejamkan matanya, rasanya saat ini juga gadis itu ingin sekali menghempaskan tubuhnya kedalam sungai atau terjun dari gedung tertinggi yang ada di Seoul agar jiwanya bisa melayang dan tidak akan merasakan rasa sakit yang beberapa bulan ini menghinggapi hatinya. Terlalu berlebihan memang, tapi memang itulah yang saat ini dirasakan oleh So eun. Kenangan masa lalunya di tempat ini bersama dengan pria yang beberapa tahun belakangan mengisi hatinya walaupun hubungan mereka selama ini tidak lebih dari hubungan sebatas persahabatan.

Air mata kembali menerobos pertahanan kelopak matanya, rasa sakit yang ada dihatinya kembali mengusik. Sampai kapan So eun akan merasakan rasa sakit ini. Gadis itu melangkahkan kakinya dengan cepat menuju hamparan rumput hijau dan meninggalkan padang ilalang yang sedari tadi mengelilinginya. Gadis itu menjatuhkan dirinya di padang rumput hijau. So eun bahkan tidak mempedulikan keadaan dressnya yang sedikit kusut karena terduduki. Jangankan untuk mempedulikan keadaan pakaiannya, untuk merasakan kehadiran seseorang yang saat ini sudah berada dibelakangnya pun So eun tidak bisa. Mungkin karena kekalutan pikirannya atau memang ketidak pekaan gadis itu pada sekitar hingga membuat gadis itu tidak menyadari keadaan disekitarnya.

“Aku… mencintaimu.” Gumam So eun, sambil mendekap kedua lututnya dengan kaki yang sedari tadi ditekuknya. Air mata kembali membanjiri kedua pipinya, terlalu deras hingga tidak bisa dihentikan.

~~~
#Oktober 2013#
Padang ilalang yang sangat indah, ditambah hembusan angin yang membuat ilalang – ilalang itu bergoyang benar – benar membuat semua perasaan menjadi damai dan tenang, hanyadengan melihatnya. Mengingat tempat ini tidak banyak yang mengunjungi.

Dua orang yang saat ini sedang berdiri dikelilingi padang ilalang itu tengah merasakan hembusan angin lembut yang menerpa kedua tubuhnya. Dua orang dengan genre berbeda itu saling menautkan jari jemari mereka satu sama lain, seperti tidak ingin saling melepaskan. Sang pria yang sedari tadi memejamkan matanya, kembali membuka matanya dan memperhatikan sang gadis yang saat ini berdiri disampingnya. Ternyata sedari tadi si gadis juga mengikuti apa yang dilakukannya menengadahkan wajahnya keatas dan memejamkan matanya sedikit rapat. Sang pria hanya tersenyum melihat tingkah sang gadis.

Sang gadis membuka matanya, dan memperhatikan tingkah aneh si pria yang saat ini berdiri disampingnya dengan mata yang menatap sang gadis. “Kau memperhatikanku?” pertanyaan dari sang gadis kembali membuat bibir sang pria merekah. Sang pria tidak segera menjawab pertanyaan sang gadis, pria itu masih ingin memandangi wajah cantik yang saat ini ada dihadapannya. “Apa yang kau lihat?” rasa penasaran pada sang gadis masih belum terjawab dan membuat sang gadis semakin penasaran dengan apa yang saat ini sedang diperhatikan oleh pria yang tengah memandanginya.

Pria itu menarik pergelangan tangan sang gadis dan membimbingnya kedalam pelukan sang pria. “Menurutmu apa yang sedang kuperhatikan?” tanya si pria, ketika dirinya sudah berhasil memeluk erat tubuh sang wanita yang pasti tidak akan mengerti dengan pertanyaan yang baru saja keluar dari mulutnya tadi.

Kim so eun, gadis itu tidak menolak pelukan dari pria yang saat ini tengah menguasai tubuhnya dengan pelukan hangat si pria. Rasanya gadis itu juga ingin membalas pelukan si pria tapi tentu saja So eun tidak mempunyai keberanian seperti halnya si pria. “Bisa kau peluk aku juga!” Ada nada memohon yang didengar So eun dari permintaan pria yang saat ini masih betah mendekap tubuh So eun itu.

Dengan hati yang senang dan senyum yang terukir cantik diwajah So eun, gadis itu pun juga melingkarkan tangan mungilnya pada tubuh pria yang saat ini bersamanya. Sama seperti apa yang sebelumnya dilakukan oleh sang pria. “Kau terlihat aneh kim bum-ah..” gumam so eun, sambil mengeratkan pelukannya.

Kim bum tersenyum mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh So eun, gadis yang hampir empat tahun menjadi sahabatnya ini. Entah kenapa sedari tadi kim bum enggan sekali untuk menanggapi atau memberi jawaban akan apa yang dikatakan oleh So eun. Kim bum masih ingin menikmati pelukannya pada tubuh So eun dan aroma tubuh So eun yang benar – benar membuat Kim bum terasa nyaman. Hanya seperti ini saja, sudah membuat Kim bum senang sekarang.

So eun melonggarkan pelukannya dari tubuh kim bum, tapi sayangnya tidak dengan pria itu. Kim bum masih betah meresapi aroma tubuh So eun, sehingga membuat So eun merasa heran dengan sikap Kim bum saat ini. Bukannya So eun bosan memeluk Kim bum, malahan jika diijinkan So eun sangat ingin memeluk tubuh Kim bum setiap hari. Tapi masalahnya saat ini adalah kim bum bersikap tidak wajar, dan So eun ingin tau apa alasannya. “Ada apa denganmu?” tanya So eun sambil melepaskan pelukannya dari tubuh Kim bum, sedikit kasar So eun melepasnya sehingga pelukan Kim bum dari tubuhnya juga terlepas.

Walaupun Kim bum kaget dengan aksi So eun yang secara tiba – tiba tadi, tapi pria itu tidak marah. Kim bum tau kalau gadis yang ada didepannya saat ini pasti sudah jengkel dengan tingkah Kim bum yang sedari tadi hanya diam dan tidak menanggapi apapun yang ditanyakan oleh So eun. “Kau marah?” goda kim bum, sambil melangkahkan kakinya menelusuri padang ilalang, meninggalkan So eun yang masih terheran – heran dengan sikap Kim bum.

“Aneh” gumam So eun masih berdiri ditempatnya.

So eun memperhatikan punggung Kim bum yang sedikit demi sedikit mulai menjauh dari tempatnya berdiri. Aneh, kenapa rasanya So eun tidak bisa menghentikan langkah Kim bum. Pria itu pun juga tidak menoleh kebelakang untuk melihat So eun. Kenapa rasanya So eun tidak rela ketika Kim bum berjalan sendiri tanpa dirinya. Ada rasa khawatir yang sangat besar dalam hati So eun ketika melihat kepergian Kim bum.

“Kau tidak ingin ikut denganku?” suara kim bum membuyarkan lamunan sesaat So eun. Bodohnya So eun, kenapa dirinya harus terdiam dan memikirkan hal – hal aneh. Gadis itu melangkahkan kakinya, sedikit berlari agar dia bisa menyusul langkah Kim bum lebih cepat. Tapi So eun menghentikan langkahnya, ada yang aneh pada sahabatnya itu. Hari ini, kim bum benar – benar berbeda dari yang sebelumnya. Pria itu tidak menghentikan langkahnya kala So eun berlari menghampirinya dan Kim bum bahkan tidak memalingkan wajahnya kebelakang kala mengeluarkan suaranya. Kenapa? Bukankah kim bum selalu marah jika So eun berjalan atau berdiri dibelakangnya, karena menurut Kim bum jika So eun berjalan di belakang pria itu maka Kim bum tidak akan bisa mengawasi atau memperhatikan So eun. Lalu kenapa hari ini Kim bum membiarkan So eun berjalan dibelakangnya.

So eun sadar tubuh Kim bum sudah hampir keluar dari hamparan tanaman ilalang yang mengelilingi mereka. itu berarti So eun benar – benar tertinggal jauh dari Kim bum. So eun segera menggerakkan kakinya, gadis itu berlari dengan sangat kencang sanngat takut jika benar Kim bum akan meninggalkan dirinya. Jantungnya benar – benar berdetak cepat, nafasnya menderu tidak beraturan, gadis itu takut jika dia tidak bisa menyusul Kim bum. Rasanya So eun merasa jika lengah sedikit saja Kim bum bisa pergi darinya.

“Kau membuatku takut.” Tutur So eun ketika tubuhnya menubruk tubuh Kim bum dari belakang sambil memeluk erat pinggang sang pria yang benar – benar membuatnya tidak bisa bernafas akan kehadiran pria tersebut. Jika sebelumnya Kim bum yang enggan melepas pelukannya dari tubuh So eun, kali ini keadaan menjadi berbalik. So eun bahkan lebih erat lagi memeluk Kim bum, seperti tidak ingin membiarkan pria itu bergerak walau hanya sedikitpun.

“Kau membuatku tidak bisa bernafas.”

Sadar dengan kalimat Kim bum, so eun pun segera melepaskan pelukannya dari tubuh Pria tersebut. Bodohnya So eun, bagaimana bisa dia tidak memikirkan hal – hal seperti itu.
“M-maaf”. Gumam So eun, menyadari kebodohannya, sambil menundukkan kepalanya.

Kim bum memutar tubuhnya dan memperhatikan So eun yang menundukkan kepalanya, pria itu tersenyum melihat perubahan sikap sang sahabat. Seperti sebelumnya Kim bum masih tidak ingin memberikan komentar apapun akan apa yang dilakukan oleh So eun.

“Kau membuatku takut… hari ini kau berubah, tidak seperti biasanya. Sedari tadi kau tidak menjawab setiap pertanyaanku. Apa kau sakit? Kenapa menjadi aneh, kenapa membiarkanku berjalan dibelakang? Bukankah kau bilang kau tidak ingin aku berjalan dibelakangmu, kau juga tidak peduli bagaimana lelahnya aku ketika aku berlari mengejarmu. Kau bahkan tidak menoleh sedikitpun padaku.” Dengan sedikit nada jengkel So eun melontarkan kalimat panjangnya, sambil menatap Kim bum dengan perasaan yang tidak terdefinisikan. Gadis itu juga mengalirkan cairan bening dari kedua kelopak matanya.

Kim bum sadar, cepat atau lambat dia harus mengatakan semuanya pada So eun. Gadis ini bahkan bisa menyadari perubahan sikap Kim bum sedari tadi. Betapa jahatnya Kim bum saat ini hingga membuat So eun menitikkan air mata seperti sekarang. Padahal Kim bum sendiri tau bahwa So eun adalah gadis yang sangat ceria dan jarang sekali meneteskan air matanya.
Walaupun gadis itu terlalu sering kelelahan tapi sedikitpun gadis itu tidak pernah mengeluh dan hari ini Kim bum membuat gadis itu meneteskan air matanya. Dalam hati Kim bum berjanji tidak akan pernah menyakiti So eun lagi, kalaupun hari ini dirinya telah melakukannya biarlah ini menjadi kali pertama dan terakhir untuk Kim bum melakukannya.

Kim bum merentangkan kedua tangannya, senyum manisnya masih setia menghiasi wajah tampannya. “Kemarilah…” perintah Kim bum pada So eun, dan tentu saja gadis itu segera menghamburkan tubuhnya kepelukan Kim bum.
“Kau sedang mengejekku ya… aku tau kau aktris yang berbakat, tidak seharusnya kau berakting sekarang.” Goda Kim bum sambil menyentuh hidung So eun.

“Berhenti menggodaku kim bum.” Ucap So eun sedikit kesal dengan kelakuan sahabatnya itu.

“Maaf…” ucap Kim bum sambil melepaskan pelukannya dari tubuh So eun saat ini. Apalagi yang akan dilakukan Kim bum sekarang, pikir So eun ketika melihat wajah Kim bum yang tidak secerah sebelumnya.

Sebenarnya dari awal So eun sudah merasakan keanehan pada diri sang sahabat, gadis itu juga sudah berkali – kali bertanya pada Kim bum. Tapi sayangnya pria itu tidak dengan serius menanggapi pertanyaan yang selalu diajukan So eun padanya. So eun tidak ingin bertanya lagi, gadis itu sudah jerah jika harus bertnya pada sahabatnya ini. Biarkan saja Kim bum yang mengatakannya sendiri, lagipula jika memang ada masalah Kim bum pasti akan menceritakan semuanya pada So eun. Karena memang selama ini Kim bum tidak pernah merahasiakan apapun dari So eun, begitu pula sebaliknya.

“M-maaf” kali ini nada bicara kim bum terdengar lebih pelan, bahkan pria itu menundukkan kepalanya. Tidak berani sedikitpun menatap mata So eun.

So eun menggelengkan kepalanya, tanda dia tidak mengerti akan kesalahan dari sang sahabat. “Tidak ada yang harus kumaafkan. Harusnya aku yang minta maaf padamu, karena bersikap kekanak – kanakan.” Sesal So eun. Mungkin Kim bum seperti ini karena So eun yang bersikap berlebihan. Harusnya memang So eun tidak perlu menuntut apapun dari Kim bum. Memangnya So eun ini siapa, bukankah hubungan keduanya tidak lebih dari Sahabat. Harusnya dari awal So eun paham akan hal itu.

“Seseorang menyatakan cinta padaku, dan aku tidak bisa menolaknya.”

Deg… bagaikan terpental kedalam jurang yang sangat dalam sekali. So eun segera memundurkan tubuhnya, sedikit menjauh dari tubuh Kim bum. Tubuhnya menegang, dan seluruh sendinya terasa kelu. Ini diluar dugaan, benar – benar tidak pernah terlintas dibenak So eun jika Kim bum akan memberitahukan hal semacam ini padanya.

Tidak.. So eun tidak boleh seperti ini, harusnya So eun merasa gembira karena sahabatnya ini akhirnya memiliki kekasih dan bukannya malah menunjukkan sikap yang akan membuat Kim bum merasa aneh. “Itu bagus… Aku senang mendengarnya.” Ucap So eun, tanpa sedikitpun berani memandang wajah Kim bum. So eun terlalu takut untuk melihat sorot mata tajam yang saat ini diberikan Kim bum padanya.

Kim bum menghela nafas panjang. Ini yang tidak disukai Kim bum ketika pria itu harus berkata jujur pada sahabatnya ini, akan masalah yang saat ini sedang dilandanya. Sebelum mengatakannya pun, sebenarnya Kim bum sudah tau jika sahabatnya itu pasti akan mengatakan hal seperti ini. Kalau sudah seperti ini apa lagi yang harus dilakukan oleh Kim bum sekarang. “Aku tidak bisa menolaknya So eun…” ucap kim bum, sedikit memancing reaksi So eun. Ada harapan di hati Kim bum agar sahabatnya itu membuat respon yang menggetarkan hatinya seperti melarang Kim bum untuk menerima cinta dari wanita yang mungkin akan menggantikan posisi So eun dihati Kim bum.

So eun tau Kim bum tidak bisa menolaknya, jika memang seperti itu apalagi yang harus dilakukan oleh So eun. Lenyap sudah harapan So eun untuk menyatakan perasaanya pada Kim bum. Selama ini So eun memang tidak berani mengungkapkan perasaanya pada sang sahabat. So eun mengira Kim bum memang tidak pernah menganggapnya lebih dari seorang sahabat, maka dari itu dia benar – benar tidak ingin merusak hubungan persahabatannya hanya karena perasaan konyolnya itu. Bisa saja jika So eun mengutarakan perasaannya Kim bum akan menjauhi dirinya. Dan So eun tidak ingin Kim bum jauh darinya.

“Sebentar lagi, semua orang akan tau kalau aku akan memiliki kekasih.” Jelas Kim bum, masih ada sedikit harapan untuk Kim bum mengetahui bagaimana perasaan sahabatnya itu pada dirinya. Kim bum bukan pria yang dengan mudahnya menunjukkan perasaannya pada seorang wanita. Bukannya Kim bum tidak mau, karena memang selama ini tidak ada satu wanita pun yang bisa menggetarkan hatinya lagi, kecuali satu gadis yang hanya menganggap Kim bum sebagai sahabat. Dan tentu saja gadis itu adalah So eun.

“Bukankah itu bagus, akhirnya kau memiliki kekasih.” Jawab So eun. nada tenang yang diberikan So eun sebagai jawaban akan kalimat Kim bum, benar – benar membuat pria itu sedikit kecewa.

“Kau tidak marah? Kau tidak sedih?” tanya Kim bum semakin penasaran dengan apa yang dikatakan oleh So eun akan pertanyaan bodoh Kim bum.

Marah… Sedih? Bagaimana bisa So eun menjawab pertanyaan Kim bum itu dengan jawaban “iya”. Apa jika So eun mengatakan bahwa dirinya marah dan sedih maka Kim bum akan menjadi milik So eun. Bermacam – macam pertanyaan mengaliri pikiran So eun saat ini. So eun tidak bisa mengatakan apapun sekarang, pikiranya tidak bisa dikendalikan. Entahlah apa yang harus dijawab oleh So eun saat ini. “Kita pulang sekarang.” Jawab So eun, tidak ada kata lagi yang bisa dikeluarkan So eun kecuali kalimat yang baru saja keluar dari mulutnya.

So eun mulai melangkahkan kakinya menjauhi Kim bum, mungkin dengan seperti ini So eun bisa sedikit bernafas. Jika memang dirinya dan Kim bum memang tidak ditakdirkan menjadi sepasang kekasih mungkin menjadi sahabat seperti sekarang tidak ada salahnya. Yang penting Kim bum masih ada untuk So eun.

Kim bum kehabisan akal untuk meluluhkan hati So eun, gadis itu bahkan tidak memberikan respon positif apapun untuk kelanjutan hubungan mereka kedepannya. Apa gadis ini benar – benar menginginkan Kim bum selalu menjadi sahabatnya selamanya. Tidak ada niatkah dihati So eun untuk menjadikan Kim bum sebagai kekasihnya. Padahal Kim bum sangat menginginkan hubungan keduanya ini bisa menjadi lebih dari sekedar sahabat.

Kim bum masih belum menyerah, pria ini masih ingin mempertahankan gadisnya.. ah, bukan. Bukan gadisnya melainkan sahabatnya. “Aku tidak akan bisa lagi bersama denganmu.” teriak kim bum, ketika mendapati So eun sudah berada jauh didepannya. Tapi tentunya suara Kim bum masih bisa terdengar ditelinga So eun, jika melihat gadis itu saat ini tengah menghentikan langkahnya.

Kim bum tersenyum, masih ada kesempatan batinnya. Pria itu berjalan mendekati sahabatnya yang sekarang hampir dijangkaunya. Sebelum Kim bum menyambung kalimatnya helaan nafas panjang dihembuskannya secara perlahan. “Aku tidak bisa menemanimu lagi. Tidak bisa mendengar ceritamu sesering sekarang. Bahkan aku tidak bisa sering – sering menghubungimu walau hanya sekedar menanyakan kabar ataupun keadaanmu nantinya.” Ada jeda panjang kala Kim bum ingin melanjutkan kalimatnya. Pria itu ingin sedikit mengamati respon apa yang akan diberikan oleh gadis yang ada didepannya saat ini. Kim bum yakin So eun akan merespon kalimat – kalimat yang baru saja diucapkan oleh Kim bum tadi walau respon itu sangat kecil sekali.

Astaga, respon yang diberikan So eun tidak kecil bahkan sangat besar. Kim bum bisa melihat betapa bergetarnya tubuh gadis itu sekarang. Kim bum yakin pipi So eun sekarang pasti sangat basah, mata gadis itu pasti sangat merah. Rasanya Kim bum tidak bisa melanjutkan kalimatnya, tapi apapun yang terjadi Kim bum harus menyelesaikannya saat ini juga.

“Dan bisa saja kedekatan kita saat ini, tidak akan pernah lagi terjadi. Kita tidak bisa memeluk satu sama lain, dan kalaupun kebetulan ketemu kita tidak akan bisa saling bertukar cerita lagi. Apa kau benar ……”

Betapa kejamnya Kim bum sekarang jika pria itu masih berniat melanjutkan penjelasannya. Tidak perlu dijelaskan pun tentu saja So eun akan tau bagaimana keadaannya. Jadi sebelum tubuh So eun benar – benar tidak kuat berdiri lagi, secepat itulah tangan Kim bum memeluk tubuh gadis itu dari belakang. “Hiks…hiks…” isakan memilukan itu akhirnya terdengar juga ditelinga Kim bum saat ini.”Arrggghhhh…. hikss. Hikss.. arrgghhhh.” Teriakan yang tidak terlalu kencang keluar dari mulut kecil So eun. Dan Kim bum hanya sanggup mengeratkan pelukanya pada tubuh sang gadis.

~~~

#Januari 2014#
“Aku benar – benar mencintaimu….” gumam So eun masih dengan posisi yang tidak berubah. So eun bisa membohongi siapapun tapi tentu saja dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Seharusnya dari awal So eun mengungkapkan perasaannya pada Kim bum dan tidak perlu melawan hatinya. Jika seperti ini sudah bisa dipastikan bahwa So eun sendiri lah yang telah menyakiti hatinya dan bukannya Kim bum.

“Hikss…hikss.. hiks… berikan aku kesempatan sekali lagi… hikss.. hiksss”

Tubuh kecil So eun pun akhirnya kembali bergetar kala tangis gadis itu pun kembali pecah. Beruntung sekali tidak ada siapapun ditempat itu, sehingga So eun bebas melakukan apapun yang disukainya termasuk menangis sepuas – puasnya.

Walaupun saat ini So eun mengira dirinya sedang sendirian dipadang rumput itu. Tapi tentu saja pada kenyataannya tidak. Selain So eun, saat ini masih ada seseorang lagi yang berada ditempat itu dan mengamati apapun yang sedang So eun lakukan.

So eun benar – benar menyedihkan sekarang, padahal sudah hampir empat bulan dirinya melalui semuanya sendiri tanpa hadirnya sosok Kim bum dikehidupannya lagi. Dan bukankah selama empat bulan ini So eun sudah terbiasa dengan kesendiriannya lalu kenapa hari ini So eun jadi mengingat pria itu lagi. “Bisakah kita kembali seperti dulu lagi?” teriak So eun.

Siapapun yang telah mendengar teriakan So eun saat ini pasti akan mengira bahwa gadis itu benar – benar sudah gila. Hanya karena ditinggal seorang pria So eun benar – benar seperti kehilangan akal sehatnya. Jika selama enam bulan ini So eun sudah mulai bisa melupakan Kim bum dan menjalani hari – harinya dengan normal,kenapa hari ini so eun tidak bisa.

Terkadang kita memang bisa melupakan apa yang sudah hilang dari hidup kita, tapi tentu saja sesuatu yang hilang itu pasti masih melekat di ingatan kita sampai kapanpun walaupun hanya sedikit. Dan ketika ingatan kita tentang sesuatu yang hilang itu kembali lagi, pastinya akan sangat sulit untuk kembali melupakannya. Seberapa keraspun kita melupakan ingatan yang telah hilang, dan sekarang kembali lagi semuanya akan terasa sia – sia walau hanya untuk dikenang sekalipun karena pada kenyataannya yang hilang akan tetap hilang. Tidak mungkin kita menyesalinya terus menerus, bukankah lebih baik jika kita memperbaiki diri agar apa yang sekarang kita miliki tidak akan pernah hilang kembali.

Rasa sakit yang dialami So eun saat ini tentu saja sangat sakit, apalagi ketika dirinya benar – benar tidak punya siapapun untuk diajak berbagi akan masalahnya saat ini. Jika dulu dia punya,tidak dengan sekarang. So eun benar – benar merindukan sosok itu, sosok pria yang selalu ada dikala So eun sedang dalam keadaan apapun.

“Aku.. membutuhkanmu sekarang… benar – benar membutuhkanmu.” Ucap So eun disela – sela isak tangisnya.

So eun yang sedari tadi membenamkan wajahnya diantara dikedua lutut yang ditekuknya sedikit menggerakkan kepalanya. Ada seseorang di depannya, So eun bisa melihat kaki orang tersebut yang saat ini didepannya. So eun masih belum ingin mengetahui siapa orang tersebut. Gadis ini bahkan tidak peduli apakah orang ini baik atau jahat. Tidak sedikitpun So eun mengangkat wajahnya untuk sekedar melihat siapa orang yang ada dihadapannya sekarang.

Melihat sikap So eun yang tidak mempedulikan kedatangannya orang tersebut segera mengulurkan tangannya, berharap So eun masih mempunyai niat untuk menyambut uluran tangannya. Sampai kapanpun orang tersebut tentu saja tidak ingin melihat keadaan So eun seperti ini. Ini terlalu menyedihkan untuk seorang gadis cantik seperti So eun. “Kau bilang tidak apa – apa.” Ucap orang tersebut, agar mendapat respon dari So eun.

Tidak membutuhkan waktu lama seperti sebelumnya, untuk mendapatkan perhatian dari gadis yang saat ini sedang menangis dihadapannya untuk melihat keberadaannya sekarang. Melihat apa yang saat ini dilakukan oleh gadis itu membuat orang yang tengah mengulurkan tangannya pada So eun tadi sedikit merasa kecewa, walaupun perasaan itu berganti menjadi sedikit lebih senang karena So eun mau meresponnya. Kecewa karena uluran tangannya tidak disambut oleh So eun.

So eun segera mengangkat wajahnya hanya untuk memastikan bahwa suara tadi adalah suara pria yang selama ini dirindukannya. So eun tidak ingin berhalunasi atau menganggap diri sendiri gila. Dan tentu saja ketika matanya sudah yakin dengan sosok yang ada dihadapannya tersebut, gadis itu segera bangkit dari tempatnya dan menghambur kedalam pelukan orang tersebut. So eun bahkan tidak mempedulikan reaksi orang tersebut. Ketika uluran tangannya tidak disambut oleh So eun.

~~~

#November 2013#
Suasana yang tidak terlalu ramai membuat Kim bum dan So eun begitu nyaman membicarakan apapun untuk saat ini. Tempat yang mereka kunjungi saat ini memang tidak banyak dikunjungi oleh orang lain. Keduanya kini dengan santainya mendudukan tubuh mereka diatas batu yang cukup besar sambil menikmati deburan ombak laut yang tidak terlalu besar.

“Agensiku akan memberitahukan hubungan kami pada media, begitu juga dengan Agensinya.” Tutur Kim bum memulai pembicaraan.

So eun menyunggingkan senyumannya, gadis ini harus semakin menguatkan hatinya tidak boleh goyah. Apapun yang terjadi sekarang tentu saja itu semua untuk kebahagiaan bersama. “Itu lebih baik, dari pada kau membohongi semua orang.” Jawab So eun setenang mungkin.

Kim bum menganggukkan kepalanya. Memang lebih baik berterus terang dari pada berbohong dan menimbulkan skandal yang tidak baik. Dalam hati pria itu berharap, kenapa dulu dia dan gadis yang ada disampingnya ini tidak melakukan hal yang sama dan selalu menyangkal kedekatan mereka. keduanya bahkan selalu menutupi kedekatannya dari Media. Sudahlah, Kim bum terlalu pusing untuk memikirkannya kembali.

“Kau pasti sangat bahagia, bisa menjadi kekasihnya.”

Kim bum menolehkan wajahnya pada gadis yang saat ini disampingnya. Kenapa wanita ini tidak sedih sedikitpun ketika mengucapkannya – pikir Kim bum. “Aku sangat bahagia… dan sangat beruntung menjadi kekasihnya.” Jawab Kim bum, mungkin memang harus seperti ini menghadapi gadis seperti So eun. Kim bum memang tidak pernah ada dihati So eun, pria itu berfikir bahwa mungkin apa yang dipilihnya saat ini tidak salah.

“Dia wanita yang cantik, baik dan terkenal… bahkan aku pun tidak akan ada apa – apanya jika dibandingkan dengannya.”

Kim bum semakin tidak mengerti sekarang, gadis ini selalu membuat perasaan Kim bum berubah – ubah. Jika sebelum bertemu dengan gadis ini Kim bum berfikir apa yang dipilihnya ini adalah hal yang benar. Tentu saja sekarang Kim bum sedikit mengalami keraguan dengan apa yang dipilihnya sekarang.

“Aku tidak apa – apa sekarang.” So eun kembali melanjutkan kalimat putus asanya, tidak ada lagi yang bisa dipertahankan. Kim bum sudah menjadi milik orang lain untuk saat ini dan So eun tidak punya keberanian sedikitpun untuk menunjukkan perasaannya. Karena menurut So eun selama ini, gadis itu selalu memberikan tanda pada Kim bum bahwa dirinya sangat menyukai pria itu. Jadi sekarang siapa yang tidak peka, Kim bum atau malah So eun sendiri? “Tapi aku tidak tau, apakah besok aku akan baik – baik saja” batin So eun, sambil menatap Kim bum yang sedari tadi memperhatikannya.

“Terimakasih untuk pujianmu.. kurasa apa yang kau katakan memang benar.” Kim bum sedikit menyunggingkan senyumnya. Pria itu menyukai gadis yang ada di dekatnya ini. So eun selalu bisa mengendalikan emosinya. “Tapi kau lebih dari dia.” Batin Kim bum sambil membelai lembut rambut panjang So eun yang tertiup angin laut.

So eun memegang tangan Kim bum dan menjauhkan tangan Kim bum dari wajahnya. “Kuharap kau tidak melupakanku… kuharap kau masih bisa menjadi sahabatku.” Ada permohonan dalam setiap kalimat yang dikeluarkan So eun. Sepertinya gadis ini masih belum rela melepaskan sahabatnya. Tentu saja semua itu tidak akan mudah mengingat kedekatan yang terjalin diantara Kim bum dan So eun selama ini.

Kim bum tidak menjawab permintaan So eun, tapi dengan anggukan kepala dari pria itu So eun bisa sedikit merasa lega. “Tentu saja aku tidak akan pernah melupakanmu.” Ucap Kim bum sambil mengalihkan perhatiannya pada laut yang terhampar luas dihadapannya sekarang.

“Tapi… tentu saja aku tidak akan bisa berada di dekatmu lagi.” Sambung Kim bum, ada nada khawatir ketika pria itu mengatakannya. Bagaimanapun juga memang tidak akan mungkin untuk Kim bum dan So eun sedekat ini mengingat saat ini Kim bum sudah memiliki kekasih. Bagaimana perasaan wanitanya ketika mengetahui Kim bum masih menjalin hubungan dekat dengan sahabatnya, terlebih Kim bum dan So eun selalu dikabarkan menjalin hubungan walaupun keduanya selalu menepisnya. Tentu saja sekarang Kim bum harus menjaga perasaan kekasihnya, walaupun sebenarnya sangat sulit untuk mengabaikan So eun.

“Bukankah aku sudah mengatakannya.. Aku tidak apa – apa.” Yakin So eun, bagaimanapun apa yang dikatakan Kim bum ada benarnya. Lagipula So eun juga harus menjaga perasaan kekasih Kim bum.

So eun bisa merasakan betapa dinginnya angin laut yang berhembus dan menembus kulitnya ditambah cipratan air yang terbawa ombak, walau tidak membuat basah tubuh So eun tapi dinginnya bisa gadis itu rasakan. Mungkin sekarang hati So eun juga mulai merasa dingin dan sepi mengingat untuk kedepannya tidak akan ada lagi yang mengisi hati itu. Sendiri.. sepi… membayangkannya So eun benar – benar tidak sanggup, bagaimana harus menjalaninya nanti.

So eun merasakan bahu kanannya sedikit berat, dan gadis itu tau apa penyebabnya. Rasanya So eun ingin sekali membelai kepala Kim bum yang saat ini menyandar dipundaknya tapi itu tentu saja tidak akan pernah terjadi lagi. “Biarkan aku bersandar dipundak kecilmu ini sekali lagi, sebelum pria lain melakukannya.” Mohon Kim bum. Entah kenapa Kim bum ingin sekali menikmati nyamannya bersandar dipundak kecil So eun, padahal selama ini Kim bum selalu melakukannya.

Rasanya hati kecil Kim bum sedikit tidak rela jika nantinya ada pria lain yang akan mendekati atau bahkan mencuri hati So eun. Tapi tentu saja Kim bum tidak bisa bersikap egois seperti itu. Apa kim bum tidak tau bagaimana sakitnya So eun saat ini, ketika Kim bum sudah memulai hubungan baru dengan kekasihnya dan akan meninggalkan So eun sendiri. Seharusnya Kim bum bisa merelakan So eun juga mendapatkan kekasih yang bisa menjaga gadis itu seperti Kim bum yang selalu menjaga So eun selama ini.

“Jangan pernah berfikir kau akan sendiri So eun-ah. Mulai sekarang kau harus membuka hatimu untuk seorang pria.”

So eun menghembuskan nafasnya berat, bahkan Kim bum pun bisa merasakan betapa beratnya helaan nafas So eun itu. Selama ini So eun sudah membuka lebar – lebar hatinya untuk seorang pria, tapi apa yang So eun dapat, hanya sebuah kekecewaan. Bagaimana bisa Kim bum masih tidak menyadari perasaanya. “Aku sudah melakukannya…” jawab So eun, ada jeda ketika gadis itu ingin membantah pernyataan Kim bum, tapi So eun mengurungkan niatnya untuk mengatakan bantahannya pada Kim bum.

“Kau sudah melakukannya… kapan? Pada siapa?” ada nada tidak suka ketika Kim bum menanyakannya pada So eun. Pria itu segera bangun dari posisinya dan mencengkram kuat bahu So eun. Seolah menuntut So eun untuk mengatakan semuanya pada Kim bum.

“Kenapa selama ini kau tidak pernah menceritakannya padaku… siapa pria itu? Apa aku mengenalnya? Apa dia juga dari kalangan artis? Atau teman sekampus kita?” pertanyaan beruntun dari Kim bum benar – benar ingin So eun abaikan. Tapi tentu saja itu tidak mungkin bukankah So eun masih mengetahui betapa keras kepalanya sahabatnya itu.

“Tentu saja kau mengenalnya.. pria itu selalu ada ketika aku membutuhkannya.” Jelas So eun, sambil mengembangkan senyumannya. Dan tentu saja hal itu membuat Kim bum kecewa dan kesal.

“Kau bahkan tidak pernah menceritakannya padaku. Aku juga berhak tau siapa pria yang mencuri hati sahabatku ini. Aku harus mengetahui apakah pria itu baik untukmu atau tidak, aku tidak ingin kau memilih orang yang salah…. kau harus..”

“Aku tidak perlu mengenalkannya padamu.. kau sudah mengenalnya dengan baik sebelum aku mengenalnya. Lagi pula, perasaanku itu tidak terbalas. Pria itu sudah menemukan gadis yang lebih pantas untuknya. Gadis yang sangat sempurna, aku bahagia jika pria itu bahagia. Aku tidak apa – apa jika untuk saat ini sendiri…”

“Sudah lupakan saja.” putus So eun, gadis itu tidak ingin berbicara lagi. Dadanya sakit jika harus menjelaskan semuanya pada Kim bum.

Bodoh… Kim bum benar – benar merasa menjadi pria yang paling bodoh sekarang. Apakah mungkin selama ini gadis yang saat ini bersamanya itu memiliki perasaan yang sama dengannya. Apakah pria yang dimaksud oleh So eun adalah Kim bum? Jika memang benar tentu saja Kim bum sangat bodoh mengingat ketidak pekaanya selama ini. Tapi bagaimana jika pria itu bukan Kim bum. Tentu saja, itu akan membuat Kim bum juga terlihat bodoh. Terlalu percaya diri sekali Kim bum jika mengira bahwa pria yang dimaksud So eun saat ini adalah dirinya. “Mungkinkah pria itu…”

“Jangan membahasnya lagi.” Ucap So eun, sebelum Kim bum sempat menyelesaikan kalimatnya.

~~~
#Januari 2014#
Kim bum membalas pelukan So eun, bagaimanapun juga pria itu sangat merindukan dekapan dari sang sahabat. “Jadi apa yang harus kulakukan sekarang?” tanya Kim bum pada dirinya sendiri. Mungkin rasa itu terlalu kuat untuk dipendam didalam hati. Tapi tidak mungkin juga untuk diungkapkan. Lalu bagaimana Kim bum menyikapi perasaanya sekarang.

“Ternyata apa yang kupikirkan benar.” Ucap kim bum sambil membelai lembut rambut So eun. Gadis itu masih betah dengan isak tangisnya dan masih tidak ingin melepas pelukannya pada tubuh So eun.

“Seseorang akan marah jika melihat kita seperti ini.” Sambung Kim bum, sambil melepas pelukan kuat So eun. “Kita tidak bisa lagi saling berpelukan, bukankah aku sudah pernah mengatakannya.” Ujar Kim bum sambil mengamati wajah sedih So eun.

So eun sadar akan posisinya sekarang, dan So eun juga tau bahwa memang dirinya tidak bisa lagi memeluk Kim bum sesuka hatinya. Bagaimana jika kekasih Kim bum mengetahuinya, tentu saja kekasih Kim bum itu akan marah nantinya. “Untuk apa kau kemari?” tanya So eun ketus. Ada nada tidak suka ketika So eun bertanya pada Kim bum saat ini.

Lagi – lagi Kim bum menyunggingkan senyumannya, melihat tingkah gadis yang sudah lama tidak ditemuinya ini. “Memangnya kenapa jika aku kesini? Setiap minggu aku ketempat ini. Aku selalu menyempatkan waktuku untuk mendatangi tempat ini. Memangnya salah, jika aku mendatangi tempat ini?”

So eun menatap mata Kim bum, gadis itu tidak menyangka jika selama ini Kim bum masih sering mengunjungi tempat ini. Bagaimana bisa, bahkan So eun saja tidak pernah lagi mengunjugi tempat ini setelah terakhir kali mereka bertemu waktu itu. Waktu dimana Kim bum mengatakan bahwa ada seseorang yang menyukai pria itu. Dan ini adalah hari pertama So eun menginjakkan kakinya lagi, setelah kejadian itu. “Kau masih sering kesini? Bersama kekasihmu?” ada nada menyelidik dari pertanyaan So eun saat ini.

“lagi – lagi kau menanyakan pertanyaan bodoh.” Goda Kim bum sambil memamerkan senyum terindahnya pada So eun. Pria ini benar – benar ingin membuat So eun marah.

“Jika aku memang membawa kekasihku ketempat ini apa pedulimu? Tempat ini bebas dikunjungi oleh siapapun termasuk aku dan kekasihku.” Sambung Kim bum, kali ini pria itu mengatakannya dengan nada tegas. Bukan nada menggoda lagi yang dikeluarkan Kim bum.

So eun memundurkan tubuhnya, gadis itu sedikit takut dengan tatapan tajam yang diberikan Kim bum saat ini. Hari ini Kim bum berbeda, tidak seperti sebelumnya. Ada baiknya jika So eun meninggalkan pria itu dan kembali ke rumah. Lagi pula jika saat ini So eun bersama dengan Kim bum lagi, akan lebih sulit untuknya melupakan pria itu.

So eun tidak berniat menjawab apapun yang dikatakan oleh Kim bum, gadis itu memilih untuk memutar tubuhnya dan segera berlari meninggalkan Kim bum. Tapi sayang niatnya tersebut masih kalah cepat dengan tarikan Kim bum pada pergelangan tangannya dan membuat So eun harusmengurungkan niatnya. “Kau pikir untuk apa aku datang kemari?” tanya Kim bum, dengan nada tinggi. Sepertinya pria itu sedang marah.

“Lepaskan… aku harus pergi, aku tidak ingin kekasihmu marah jika tau kau bersamaku.” Jawab So eun dengan nada dingin.

“Bukan dirimu yang harus pergi sekarang, tapi aku.” Ucap Kim bum dengan nada datar.

“Aku selalu menunggumu disini, berharap kau masih mau mengunjungi tempat ini. Karena hanya disinilah aku bisa selalu mengawasimu dari kejauhan. Walaupun aku tidak bisa menghubungimu lagi, paling tidak aku masih bisa memastikan bahwa kau baik – baik saja. tapi sekalipun kau tidak pernah datang.” Sambung Kim bum. Pria itu menumpahkan kekesalannya pada So eun. Jadi sekarang siapa yang salah.

“Aku merasa kesepian, merasa sendirian tanpa adanya dirimu. Lalu apa yang harus aku lakukan. Untuk menghubungimu aku tidak punya keberanian. Menerima semuanya pun aku juga tidak mampu. Apalagi jika aku harus mengunjungi tempat – tempat dimana kita pernah mengunjunginya, tentu saja hatiku terasa sakit.” So eun berteriak, gadis itu bahkan merasa dirinya terlalu banyak bicara. Gadis itu juga masih tidak punya keberanian untuk menghadapkan wajahnya agar terlihat oleh Kim bum.

“Aku selalu menunggumu. Terakhir kali aku memutuskan semuanya, ada sedikit harapan dihatiku jika kau menolak keputusanku atau paling tidak kau menyuruhku untuk mempertimbangkannya lagi. Tapi kenyataannya kau menerimanya dengan keadaan baik – baik saja.” jelas Kim bum

So eun membatu, tidak bisa melakukan apapun sekarang. Sekarang gadis itu tau jika ternyata Pria yang ada bersamanya saat ini juga memiliki perasaan yang sama dengannya. Mungkin menurut So eun semuanya sudah terlambat mengingat Kim bum sudah mempunyai kekasih sekarang.

“Aku selalu memperhatikanmu dari jauh, tentu saja aku tidak bisa melepaskanmu karena aku tau kau mencintaiku. Mungkin jika dari awal aku mengetahui perasaanmu dan aku pun lebih berani mengatakan perasaanku padamu semuanya tida akan seperti ini.” Jelas Kim bum

Kim bum berjalan kedepan, mendekati tubuh So eun yang kembali bergetar. Dipeluknya tubuh sang gadis dari belakang. Kim bum memang sangat suka jika memeluk tubuh So eun dari belakang, rasanya pria itu seperti melindungi sang gadis dari apapun. “Sekarang aku akan mencoba melepasmu. Jika saatnya nanti kita bahagia dengan kondisi seperti ini, kita harus bisa saling melupakan semuanya.” Kim bum memberikan jeda pada kalimatnya.

Tubuh So eun bergetar hebat, air matanya pun kini mengenai lengan Kim bum yang melingkar di lehernya. “Jika salah satu diantara kita tidak bisa melepaskan, jangan pernah membohongi diri sendiri dan katakan apa yang kau inginkan darinya.”

“Aku juga akan mencoba melepasmu…” ucap So eun, di sela isak tangisnya.

Kim bum tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh So eun, walaupun berat mereka harus menjalaninya. Bukankah ini pilihan mereka, mereka harus bisa menjalani semunya, berjalan sendiri – sendiri untuk mengetahui bagaimana perasaan mereka yang sebenarnya. Bukankah lebih baik seperti ini dulu, jika memang suatu saat keduanya tidak bisa kehilangan satu sama lain, mereka akan kembali bersama lagi.

Jangan terlalu erat menggenggam apa yang kita suka, karena jika kita menggenggamnya terlalu erat barang itu akan rusak. Dan jangan terlalu renggang menggenggam barang tersebut karena jika kita lengah sedikit saja, barang itu akan jatuh dan diambil orang.
Jika memang suatu saat nanti takdir menentukan barang itu memang milik kita, maka akan kembali kedalam genggaman kita lagi. Jika tidak, tentu saja ada barang lain yang akan lebih baik.

Kim bum melepaskan pelukannya dari tubuh So eun. Pria itu tidak membalikkan tubuh So eun ataupun berniat melihat wajah So eun. Akan terasa sakit dan sulit jika Kim bum melakukannya lebih baik memang seperti ini saja, tidak saling melihat ketika kita harus saling melepas orang yang kita cintai. “Aku pergi.” Ijin Kim bum sambil membalikkan tubuhnya dan mulai meninggalkan So eun.

So eun menyeka air matanya, gadis itu sedikit memaksakan senyumannya. “Sendiri” batin So eun. Tidak boleh ada air mata, harus kuat. So eun harus mampu menjalaninya kesendiriannya tanpa Kim bum. Bukankah pria itu mengatakan jika nanti Kim bum ataupun So eun tidak bisa bertahan mereka akan mengatakannya. So eun harus bisa, tidak boleh menangis lagi. Semuanya akan baik – baik saja. So eun yakin jika perasaannya ini benar maka Kim bum akan kembali padanya. So eun melangkahkan kakinya kedepan, tidak ingin menoleh kebelakang, So eun benar – benar memantapkan langkah kakinya.

Tidak ada yang menoleh kebelakang, baik Kim bum dan So eun benar – benar mantap menentukan jalannya. Jika dengan melangkah sendiri – sendiri mereka bisa mengetahui perasaan masing – masing tentu saja nantinya mereka akan bertemu di titik yang sama. Entah itu dengan pasangan masing – masing juga, atau malah keduanya akan menjadi satu kesatuan.

#Juni 2014#
Seperti biasa So eun selalu melakukan kebiasannya jika berada di tempanya saat ini. memejamkan matanya dan merasakan hembusan angin yang menerpa tubuhnya. Di padang ilalang ini So eun bisa mencurahkan apapun yang ada dihatinya. Rasa sedih, kecewa, marah, cinta dan patah hati.
So eun memang bisa mengumbar senyum dihadapan semua orang walaupun sebenarnya dirinya berada pada titik terberat dalah hidupnya. bukannya So eun tidak mau membagi kesedihannya dengan orang – orang terdekatnya, hanya saja So eun terlalu takut membuat orang – orang yang dicintainya menjadi sedih jika melihat keadaannya.
Seseorang memeluknya dari belakang, sehingga membuat rasa hangat menyelimuti tubuh So eun saat ini. gadis itu membuka matanya, rona merah di pipinya membuat wajahnya terlihat semakin cantik.

“Berhentilah menutup matanya jika berada di dekatku. Bukankah wajahku ini sangat menarik untuk kau lewatkan.”

So eun terkikik geli mendengar godaan dari seorang pria yang saat ini tengah memelukmu. Ini adalah saat – saat yang So eun tunggu sejak dulu. Bersama dengan orang yang dicintainya dan mencintainya. Dulu So eun pernah menyesali kebodohannya yang tidak pernah mengakui perasaannya. Tapi tidak untuk sekarang, So eun akan selalu berusaha menjaga apa yang sudah berada dalam pelukannya. Tidak akan pernah membiarkan pria yang dicintainya ini pergi lagi darinya. Cukup satu kali saja So eun bersikap bodoh seperti dulu.

“Kita pulang… Hari sudah mulai gelap!”

So eun menganggukkan kepalanya, memutar tubuhnya agar bisa menghadap pria yang dicintainya itu. Di tatapnya mata kelam milik sang kekasih. “Aku mencintaimu Kim bum-ah”. Tutur So eun, dan menubrukkan dirinya ke dada kokoh milik Kim bum.

“Aku juga sangat mencintaimu So eun-ah.. tetaplah menjadi milikku, karena aku akan selalu ada untukmu.” Kim bum pun membalas pelukan sang kekasih.

Semuanya itu takdir tuhan, tidak peduli saat ini dirinya berada dimana dan sedang bersama dengan siapa jika memang tuhan menghendaki dua insan untuk saling bersama akan tetap ada waktunya untuk mereka kembali ke rumah yang sudah menjadi tujuan akhir dari hatinya berlabuh.

~~~THE END~~~

Posted on Juni 29, 2014, in One Shoot. Bookmark the permalink. 105 Komentar.

  1. Awal yg sedih namun berakhir dengan happy ending

  2. Yeeee happy ending walau sempat sedih

  3. bumsso sma2 suka.. tp berani ngukapin persaan masing2… walaupun awalnya sedih tetapi happy ending jg ..

  4. ya emang sedih sih ceritanya tapi penasaran ga ada penjelasan sama siapa bumppa pacaran terus kenapa ga bisa nolak…
    terus akhirannya bumppa ttp sma eunni

  5. Akhirnya bumsso bersatu….happy ending

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: